Saturday, December 3, 2016

Menemukan Passion? atau Mendapatkan Flow?

Berada dalam suatu keadaan yang membuat diriku tidak memerdulikan apapun kecuali hal yang sedang ku kerjakan. Teman-temanku bilang bahwa aku orang yang jarang tidur, seperti tidak mengenal lelah dan sebagian dari mereka begitu risih melihatku karena sulit untuk diam. Selalu saja ada hal yang dikerjakan. Mungkin aku dalam flow.

Melakukan aktifitas tanpa memikirkan rasa lelah, merasa tertantang dan lupa keadaan sekitar. Pernahkah kamu merasakan hal tersebut? Bagi sebagian orang, orang yang berada dalam kondisi tersebut adalah mereka yang menemukan passion nya—orang yang bekerja karena memang tertarik dengan bidang.

Namun pernahkah kamu sadari bagaimana orang tertarik dengan suatu hal hingga akhirnya label passion merekat pada aktifitas tersebut? 
Fenomena Harimu, menemukan passion? atau mendapatkan flow?
Image: Tangga [pixabay]
Mungkin sebagian besar orang sudah mengenal istilah passion dalam dunia kerja, dan bagi mereka yang telah menemukan tempat kerja yang sesuai dengan passion nya merupakan kebahagiaan tersendiri untuk mereka. 

"Senang rasanya dapat bekerja sesuai passion, senang memiliki hobby yang dibayar."

Selain istilah passion, tahukah kamu akan adanya istilah flow?

Istilah flow digunakan oleh Mihaly Csikzentmihalyi, seorang ahli psikologi dari University of Chicago sebagai suatu kondisi dimana seseorang terhanyut dalam aktifitas yang dilakukannyaketika puncak kemampuan mereka dihadapkan pada suatu tugas yang dibarengi perasaan senang, tertantang dan keterpesonaan.

Mereka yang berada pada kondisi ini tidak menyadari keadaan sekeliling mereka, indra mereka terpusatkan pada hal yang sedang dikerjakan, mereka sepenuhnya terserap dalam pekerjaan itu. Flow adalah keadaan lupa situasi sekitar, namun bukan lamunan dan kekhawatiran.

Mereka tidak termotivasi atas apa yang akan mereka peroleh ketika menyelesaikan pekerjaan tersebut, ataukah mereka akan berpikir gagal atau berhasil. Kenikmatan atas aktifitas mereka sendiri yang memotivasi mereka.Yang dihadapannya adalah suatu tantangan atas puncak kemampuannya saat itu, terselesaikan tugas dapat membuat kemampuannya semakin meningkat, jika gagal mereka akan mencoba lagi untuk itu.

"Tampaknya orang berkonsentrasi paling baik apabila tuntutan yang ditujukan kepada mereka lebih daripada yang biasa. Apabila tuntutan terlampau ringan, orang menjadi bosan. Apabila tuntutan terlalu berat untuk ditangani, mereka cemas. Flow terjadi dalam zona amat tipis antara kebosanan dan kecemasan."
- Mihaly Csikzentmihalyi -


Bagaimana untuk mendapatkan flow


Kami rasa jarang orang yang mendapati kondisi ini dikarenakan lebih sering terdengarnya keluhan dibandingkan rasa syukur. Untuk mendapati kondisi ini, dibutuhkan rintangan yang lebih berat ketika keterampilan seseorang meningkat—apapun keterampilannya.

Namun yang sulit adalah menentukan rintangan yang diberikan tidak melebihi puncak kemampuannya saat itu. Setelah tugas telah terselesaikan dengan baik, kemudian tingkatkan kesulitan tugas tersebut sesuai dengan pencapaian yang telah dilewati (see image: tangga)

Jika tugas yang diberikan kepada mereka terlampau sulit (tidak berdasarkan pencapaian mereka sebelumnya) maka mereka akan mudah menyerah, kecuali jika reward yang akan mereka terima begitu menggiurkan. [see: 4 kuadran membuat orang bergerak pada gangguan sulit mengatakan tidak kepada orang lain.]

Kemudian berkaitan dengan keterampilan, setiap manusia memiliki ranah keterampilannya yang lebih unggul. Ada yang lebih terampil dalam bersosialisasi, berhitung, merangkai kata, mengkordinasikan gerak tubuh atau memahami ruang dan bidang. Kondisi flow berkaitan dengan keterampilan yang lebih unggul pada masing-masing pribadi tersebut karena bagi kami, setiap orang adalah ahli dalam ranahnya masing-masing.

Seorang anak yang secara alamiah berbakat musik atau olah gerak, misalnya, akan lebih mudah masuk ke dalam flow pada bidang tersebut daripada di bidang yang kurang mampu ditanganinya.
 - Daniel Goleman -

Flow menuju passion

Perhatikan kutipan Mark Cuban dibawah ini:
  1. When you work hard at something you become good at it.
  2. When you become good at doing something, you will enjoy it more.
  3. When you enjoy doing something, there is a very good chance you will become passionate or more passionate about it
  4. When you are good at something, passionate and work even harder to excel and be the best at it, good things happen.


Sebagian besar orang memiliki kesulitan dalam memahami bakat yang dimilikinya dan terkadang orang yang mengetahui bakatnya namun sayangnya kondisi lingkungannya sangat sulit menerima bakatnya [seperti seorang yang berbakat menari, namun dilarang orang tuanya karena anggapan tari tidak membawanya sukses.]

Kutipan Mark Cuban diatas mengajarkan bahwa kerja keras dapat membuahkan hasil sebesar kerja keras yang dikerahkan. Bahkan Malcolm Gladwell merepresentasikan kesuksesan sebagai sesuatu yang dapat diraih ketika kerja keras telah dikerahkan selama 10.000 jam.

Dan ketika kerja keras telah dikerahkan selama 10.000 jam, saat itulah kamu menjadi unggul. Apa yang kamu kerjakan menjadi lebih mudah dan jika itu memberikan reward untukmu maka besar kemungkinan hari-harimu selanjutnya akan dipenuhi dengan kegiatan tersebut. Dan saat itu jualah orang-orang disekelilingmu berpikir bahwa passion mu adalah bidang tersebut.

Referensi:
Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. 2016. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


Saturday, November 26, 2016

Menjadi Mahir setelah 10.000 Jam

Waktu bergulir
Detik, menit, jam, satuan kehidupan
Kisah dan warna warni nya berganti
Keringat beserta duka nya, guru masa depan
Kuantitas waktu berikan peran pada harapan dan keahlian
Memulai, mencari, mempraktekan dan gapai harapan

Apa yang bisa kamu dapat dengan 10.000 rupiah?  bisa beli minuman botol? atau cuma bisa beli es cendol?  Mungkin bagi sebagian orang saat ini 10.000 rupiah sudah dipandang kecil, namun bagaimana dengan 10.000 jam? Nah, Fenomena Harimu kali ini akan membahas "10.000 jam" yang dapat membuatmu menjadi seorang ahli.

Fenomena Harimu, menjadi mahir setelah 10.000 jam.

Gagasan 10.000 jam ini dikemukakan oleh seorang jurnalis sekaligus penulis bernama Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul “outliers.” Di dalam gagasannya  tersebut dijelaskan bahwa setiap orang dapat menjadi sangat mengagumkan, atau lebih menonjol dibanding orang lain di bidang yang sama dengan berlatih, mempraktekan dan menekuni suatu bidang. Secara singkatnya dapat menjadi ahli di bidang tertentu.

Dengan latihan dan praktek selama 10.000 jam menandakan bahwa kita bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk dapat menguasai sesuatu. Tak peduli kita terlahir, dengan bakat tertentu atau tidak, namun usaha lah yang dapat mengubah kita, dalam artian, dari tidak bisa – menjadi mahir atau ahli.

Penghargaan
Image: Penghargaan [pixabay]


Kisah kemahiran setelah menempuh 10.000 jam


Kisah kesuksesan The Beatles dan Bill Gates membuktikan teori ini. Pada awalnya, The Beatles merupakan band rock di perguruan tinggi yang dapat dibilang performanya dan prestasinya kurang baik. Bahkan tidak ada orang yang mengenal nama band-nya. Namun The Beatles memulai untuk menunjukan penampilannya di Jerman. Semakin banyak jam tayang mereka membuat The Beatles terlatih dan ahli. Bahkan sekarang namanmya terkenal sebagai band internasional band dijuluki band sepanjang masa.

Begitupun dengan Bill Gates. Bill Gates bersama dengan rekannya Allen, dua orang yang sukses dibidang pemograman. Mereka sebelumnya mencuri – curi waktu untuk dapat berlatih komputer dan pemograman hingga akhirnya, mereka dapat menjadi ahli dan kemudian membuat perusahaan microsoft inc, atas jasa nya kita sekarang dapat menggunakan komputer di kehidupan kita sehari – hari.

The Beatles maupun Bill Gates menghabiskan waktu nya sebanyak 10.000 jam untuk dapat menguasa bidang tertentu yang pada akhirnya dapat membawa mereka menuju gerbang kesuksesan.

Kesuksesan lainnya:
Nama Tahun lahir Awal umur
Achmad Zaki 1986 11 tahun
Rio Haryanto 1993 6 tahun
Taufik Hidayat 1981 7 tahun
Isyana Sarasvati 1993 7 tahun
*sumber: biografiku.com

"Awal umur" adalah awal umur mereka saat pertamakalinya dikenalkan dengan bidang yang mereka geluti hingga saat ini. Seperti Achmad Zaki sebagai pendiri bukalapak yang telah dikenali pemograman oleh pamannya pada usia 11 tahun.

Jadi, Apakah kamu ingin mengikuti jejak orang – orang sukses? apakah cita – citamu? Atau bidang apa yang ingin kamu kuasai? TEKUNI BIDANG TERSEBUT! berlatihlah dan fokus. Tidak ada yang tidak bisa di raih. Kalau pepatah bilang “tak akan lari gunung di kejar, ilmu dicari melalui belajar” tentunya belajar pada konteks ini adalah belajar dengan berlatih, berlatih secara terus menerus, berlatih lah sebanyak 10.000 jam.

Kalkulasi sederhana


"Ketika Mendengar kata 10.000 jam, terasa banyak sekali, 1 hari saja 24 jam, ini 10.000 jam loh? Bisa tidak ya saya berlatih sebanyak itu?"

Mari kita sederhanakan pemikiran kita tentang 10.000 jam. 10.000 jam itu kita bisa bagi bagi atau kita cicil kok.

Contoh nya: Misalnya kamu ingin mahir berbahasa Inggris, siapkan waktu empat jam dalam sehari untuk berlatih bahasa Inggris, entah itu mendengarkan lagu, membaca teks bahasa Inggris, dan mempraktekan bicara. Tapi tetap harus terus menerus dan konsisten dilakukan setiap hari ("bisa ala biasa.")

Dengan 4 jam sehari maka kamu menghabiskan waktu 32 jam dalam satu minggu.
10.000 jam dibagi 32 jam = 312,5 minggu.
1 bulan = 4 minggu, 312,5 minggu / 4 minggu = 78 bulan.
1 tahun 12 bulan jadi teman FH membutuhkan waktu 6,5 tahun untuk menjadi mahir di bidang bahasa inggris. Jadi, biarkan dirimu untuk memulai :)

Bagaimana kalau kita sudah berlatih tapi tetap tidak jadi mahir dalam bidang tersebut? don’t worry guys,  coba flash back apakah belajar teman FH sudah memenuhi teori 10.000 jam? (keep forward, and face it like a master)

"Gambaran yang muncul dari berbagai penelitian ini adalah perlunya latihan selama 10.000 jam untuk memeroleh keahlian yang dibutuhkan demi menjadi seorang ahli kelas dunia—dalam hal apa pun."
- Daniel Levitin -

Kesimpulannya adalah teori 10.000 jam ini menjelaskan bahwa diri kita membutuhkan waktu 10.000 jam untuk berlatih agar dapat menguasai sesuatu dan mahir dalam bidang tersebut. Kita perlu beberapa sikap seperti fokus, konsisten, dan kerja keras secara terus menerus.

Teori ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa sebetulnya manusia dapat membentuk (ingin ahli dibidang apakah kita) dengan menjalankan sikap-sikap yang telah disebutkan tadi selama 10.000 jam. So, reach your goals guys! Good luck for you all ;)

Referensi

Admin. 2015. Praktek dan Berlatih 10.000 Jam, Teori Malcolm Gladwell menggapai Sukses. Ikhtisar. Diakses: 20 November 2016
Deckers, Erik. 2012. What Malcolm Gladwell Really Said About The 10.000 Hour Rule. Problogservice. Diakses: 20 November 2016
Gladwell, Malcolm. 2015. Outliers. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Negara, Chandra Putra. 2016. Kekuatan Fokus!! hukum 10000 Jam. Succesbefore30. Diakses: 20 November 2016

Monday, November 14, 2016

[Fenomena Efikasi Diri] Mengapa Orang ingin Keluar dari Pekerjaan Setelah Merasa Bersalah

“Riani, ikut ke ruangan saya!” Dengan segera Riani berdiri dari mejanya, tangan nya gemetar, muka nya pucat seketika. Ia jalan menuju ruangan Pak Dino.

Ruangan pimpinannya terasa begitu dingin menyelimuti kulit Riani, Mungkin suhu ruangan itu dibawah 18 derajat celcius atau bahkan kurang.

Wangi segar jeruk nipis dari pengharum ruangan menyatu dengan suasana ruangan khas Pak Dino, serta pencahayaan yang baik, rapi dan bersih.

Otak Riani berputar, menerka - nerka apa yang akan terjadi pada nya. Jantungnya dag dig dug, pimpinannya yang dinilai tegas itu memanggil Riani untuk yang kesekian kalinya. Riani – fresh graduate yang baru menginjakan kaki di dunia pekerjaan.

Di tengah lamunan nya, tiba-tiba terdengar suara pimpinannya dengan nada yang agak sedikit tinggi.
“Riani, kalo laporan kamu kaya gini, gausah bikin laporan! Informasi apa yang bisa saya ambil dari sini!”
Riani hanya bisa menunduk dan meminta maaf atas hasil kerja nya yang kurang maksimal, "kalau bikin apa - apa itu jangan asal."

“Iya mohon maaf pak, saya akan berusaha memperbaikinya." Namun begitu, hati Riani mengeluh. “lagi-lagi kena tegor. Hari-hari ku bagai tragedi. Setiap kali aku menyelesaikan suatu pekerjaan rasanya selalu saja salah.  Atasan ku marah - marah, rekan kerja ku menilai rendah. Apakah orang sepertiku tak dipilih oleh tuhan untuk memiliki kemampuan?”

Riani – dinilai sebagai orang yang kurang teliti dan ceroboh atas kesalahannya. Sejak saat itu Riani jadi pemurung dan setiap tugas yang ia dapatkan membuatnya merasa tertekan. Dan kemudian berfikir bahwa perkejaannya tidak cocok dengannya dan memilih mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Fenomena Harimu, Efikasi diri; mengapa seseorang ingin keluar dari pekerjaannya setelah melakukan kesalahan.

Efikasi diri
Image: Efikasi diri [Pixabay]
Banyak faktor yang menyebabkan karyawan mengundurkan diri sebagai pekerja di perusahannya, namun efikasi diri yang rendah menjadi salah satu faktor terutama bagi mereka lulusan baru (fresh graduate.)

Seperti kisah Riani diatas, dia memiliki tingkat “self efficacy” yang rendah kemudian rekan dan atasan Riani malah membuat efikasi dirinya nya semakin menurun. So, what is efficacy and how can we deal with self efficacy problem?

Istilah Self Efficacy atau efikasi diri diungkapkan pertama kali oleh Albert Bandura dalam penelitiannya pada tahun 1994. Self efficacy sendiri diartikan sebagai kepercayaan diri terhadap kemampuan yang kita miliki atau rasa optimis dalam diri kita untuk mencapai kesuksesan, menyelesaikan pekerjaan / tugas, atau menghasilkan keuntungan. Self efficacy ini menentukan cara seseorang untuk merasa, berpikir dan memotivasi dirinya sendiri.

Orang dengan efikasi diri yang tinggi akan memiliki prestasi yang lebih tinggi. Karena setiap tugas yang sulit akan dinilai nya sebagai tantangan untuk dikuasai. Mereka akan memiliki komitmen yang tinggi untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.  Apabila seseorang dengan self efficacy tinggi ini gagal dalam tugasnya, maka ia akan cepat bangkit.

Berbanding terbalik dengan orang yang memiliki self efficacy rendah atau orang yang ragu akan kemampuannya. Ia akan menilai suatu tugas yang sulit adalah ancaman dan ia pun akan menghindarinya.

Ia tidak memiliki komitmen untuk menyelesaikan tugas nya dengan baik karena ia “terperangkap” pemikiran negatif nya, bahwa ia tidak mampu untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehingga orang – orang seperti ini cenderung pasrah dengan hasil yang kurang baik, tanpa adanya usaha untuk memperoleh hasil yang lebih memuaskan.

Faktor mempengaruhi Efikasi diri seseorang?

  1. Pengalaman diri sendiri
    Memiliki pengalaman yang sukses dalam mengerjakan suatu tugas akan meningkatkan kepercayaan diri kita di dalam bidang tersebut. Namun sebaliknya, apabila kita mengalami kegagalan yang berulang, maka efikasi diri kita akan menurun.

  2. Pengalaman orang lain
    Semakin kita kagum dengan orang tersebut, semakin sering orang itu melakukan hal yang sama  mengenai keberhasilannya dalam menyelesaikan suatu tugas, membuat kita terpacu dan berfikir bahwa kita juga mampu seperti dirinya.
     
  3. Ajakan secara verbal
    Dengan mendengarkan saran, ajakan, bimbingan atau arahan dari orang tua, guru, atasan, atau pelatih dapat memperkuat keyakinan kita bahwa kita memiliki kemampuan untuk berhasil. Kita mengenalnya sebagai dorongan dari orang lain.

  4. Emosi dan fisiologis
    Emosi dapat mempengaruhi tingkat self efficacy kita. Misalnya, depresi, dapat “meredam” rasa percaya diri akan kemampuan kita. Stress atau ketegangan juga dapat membuat kinerja kita menjadi buruk, sedangkan, emosi positif dapat meningkatkan kepercayaan diri kita, dan dapat meningkatkan keterampilan kita. 

Meningkatkan efikasi diri


Seperti yang dikatakan oleh seorang Psikolog bernama James Maddux menyarankan kita untuk memvisualisasikan atau menilai diri kita memiliki performa kerja yang baik atau berhasil dalam suatu tugas. Diperlukannya sugesti kalau kita mampu untuk mengerjakan sesuatu dengan baik.

Membaca buku atau menyaksikan video kisah kisah orang yang sukses dari kegagalannya. Dengan begitu, kita dapat mempelajari bagaimana orang lain bangkit dari kegagalan, dan kita dapat mengaplikasikan nya di kehidupan kita. Setidaknya kita tahu mereka gagal karena pernah mencoba.

Sebisa mungkin untuk tidak merasa rendah diri ketika kita gagal dalam sesuatu. Bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan dan menilai diri kita bodoh. Kegagalan merupakan self reminding kita bahwa usaha yang kita kerahkan belum maksimal dan memang kita belum terbiasa dengan hal tersebut. Kita dalam proses belajar.

Jadikan kegagalan sebagai pemacu diri untuk lebih baik memotivasi diri dan yakinkan diri sendiri bahwa diri kita mampu melakukan tugas yang sulit sekalipun. Jalan keluarnya adalah belajar dan berusaha. Pernah dengar tentang kekuatan mengatakan “saya bisa”? mengatakan kalimat ini dapat menjadi sebuah booster bagi kita untuk memotivasi diri dan meningkatkan self efficacy kita.

Kesimpulan fenomena efikasi diri


Efikasi diri merupakan kepercayaan diri akan kemampuan seseorang yang melibatkan empat faktor yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, ajakan secara verbal dan emosi dan fisiologis.

Adapun ada beberapa cara yang dapan meningkatkan kepercayaan diri kita seperti membayangkan kita mampu, memotivasi diri, membaca biografi orang sukses dan menjadikan kegagalan sebagai awal keberhasilan. Dibawah ini kami hadirkan video yang semoga dapat memotivasi anda, terutama bagi kamu yang belum berumur 25 tahun. Check it out ;)



Referensi:
Akhtar, Miriam. ___. Self efficacy the power of can. Positivepsychology. Diakses: 4 November 2016
Bandura, A. (1994). Self-efficacy. In V. S. Ramachaudran (Ed.), Encyclopedia of human behavior (Vol. 4, pp. 71-81). New York: Academic Press. (Reprinted in H. Friedman [Ed.], Encyclopedia of mental health. San Diego: Academic Press, 1998)
ToffeeDev. 2015. Pesan dari Jack Ma. youtube. Diakses 6 November 2016

Wednesday, November 9, 2016

Fenomena The Sunk Cost Effect, "sayang kalo dibuang"

Fauri: "Kertas-kertas bekas ini mau dibuang kemana fri?"
Alfri: "Oh itu jangan dibuang! mending kamu bersihin yang dideket tempat tidur saya aja dulu!"
Fauri: "Kenapa nggk dibuang? ini kertas yang waktu itu kamu salah bikin laporan kan?"
Alfri: "Iya, itukan masih bisa dipake dibagian belakangnya. Kan masih putih tuh, biasanya untuk coret-coretan."
Fauri: "hmm, kontrakan kamu kayanya penuh barang fri mending dibuang aja. Terus ini bantal yang kamu beli dua tahun yang lalu kayanya udah nggk pernah dipake."
Alfri: "Oh yaudah kita cuci yang itu."
Fauri: "Emang kapan terakhir kamu cuci?"
Alfri: "Udah lama si, lupa, hehe.."
Fauri: "Waduhh, mendingan dicuci terus disumbangin deh."
Alfri: "Jangan ri, barangkali ada temen yang nginep. Itu bisa dipake nanti setelah dicuci."
Fauri: "Oh yaudah. Charger HP ini dibuang aja ya. kayanya udah nggk bisa dipake."
Alfri: "Jangan ri, mau saya otak atik. Siapa tau ada yang bisa diambil didalemnya."
Fauri: "(Tunjukan padaku, barang apa yang bisa aku keluarkan dari tempat ini?) oke.."

Fenomena harimu, sayang kalo dibuang.

Mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalami kondisi tersebut. Sepertinya sulit sekali menyingkirkan barang diruangan pribadi karena beranggapan bahwa barang itu masih dibutuhkan padahal sejauh yang kita tau, barang tersebut tidak pernah terpakai semenjak rusak atau tidak disukai lagi. Kahneman menyebutnya sebagai The Sunk Cost.

The Sunk cost effect merupakan kecenderungan manusia untuk menginvestasikan usaha, uang, atau waktu namun menghasilkan buah pemikiran yang keliru.

Mempertahankan sesuatu yang pernah dibeli


Alfri beranggapan bahwa barang yang pernah dibelinya akan memberikan manfaat kepadanya walaupun dikemudian hari sudah tidak disukai atau rusak dia tetap beranggapan suatu saat akan bermanfaat.

Dan sekarang barang yang dimilikinya hanya berfungsi memenuhi ruangannya. Padahal semakin banyak dirinya menumpuk barang dapat menyebabkan ruang gerak dan jarak pandang terganggu, maka hasilnya hanya akan membuatnya lebih stress.

Fitriani
"Ketika saya kos dulu, saya beli mie instan 1 dus untuk stock satu bulan di tempat kos saya *ceritanya pengen hemat. Hehe, Tapi setelah saya beli dan saya pikir - pikir lagi, bahwa makan mie terlalu sering tidak baik untuk kesehatan. Dan pada akhirnya, saya tetap saja memakan mie tersebut karena saya sudah membelinya"


Contoh lainnya adalah: Ketika kita membeli barang, seperti pakaian. Setiap ada model terbaru, kita ingin memilikinya. Kemudian kita beli pakaian tersebut. Pakaian yang kita miliki sebelumnya, menjadi tidak terpakai lagi. Tapi sayang untuk dibuang, karena pakaian nya masih bagus, masih muat dan yang terpenting "kita beli pakaian itu pakai uang, kita kan tidak ingin buang buang uang". Alhasil pakaian - pakaian tersebut hanya menumpuk, menuhin lemari kita.

"Kagok" Tanggung dikit lagi


Fandi mengerjakan laporan mata kuliah kewarganegaraan, di kertas HVS tulis tangan. Dosen memerintahkannya untuk memakai garis tepi kiri sepanjang 2 cm dan sisanya 1 cm. Sudah 6 lembar dia menulis dan baru menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya tidak sesuai dengan perintah dosen.

Kepalang tanggung karena tinggal 2 lembar lagi. Fandi melanjutkan aktifitasnya. Dan akhirnya Fandi mengulang tugasnya lagi karena dosennya tidak menerima tugasnya. Fandi menyadari kesalahannya setelah 6 lembar menulis, namun tetap melakukan kesalahannya untuk 2 lembar selanjutnya. Mungkin kita pun pernah berada dalam situasi kurang lebih seperti fandi, kepalang tanggung karena sudah dilakukan. Dan ini termasuk dalam the sunk cost effect.

Investasi untuk merasakan sakit


Sepertinya terdengar bodoh (bagaimana mungkin orang mengeluarkan uangnya, usaha atau waktunya untuk menyakiti dirinya.) Karena sifat manusia ingin menghindari kegagalan, orang sering terus menghabiskan waktu, usaha, atau uang untuk mencoba dan memperbaiki apa yang tidak bekerja bukannya memotong kerugian mereka dan pindah.

Depressed woman
Image: Depressed woman [pixabay]

So how to overcome "the sunk cost effect"?


Alangkah lebih baiknya apabila kita mempertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Pada situasi tertentu, keputusan yang cepat bukan merupakan keputusan yang terbaik. Sama hal nya dengan jika kita ingin, sebelum kita membeli sesuatu kita harus lebih mendahulukan kebutuhan dari pada keinginan.

See..

Lalu bagaimana kalau kita terlanjur, terbuai oleh sunk cost? Kamu bisa melakukan gerage sale agar barang - barang yang menumpuk tersebut berkurang, dan kamu dapat meraup rupiah dari situ, walaupun uang yang kamu keluarkan tidak sebanding dengan apa yang kamu dapatkan.

Atau solusi lain dengan menyumbangkan barang - barang yang menumpuk tersebut kepada orang yang membutuhkan, dapat menambah nilai terhadap barang tersebut, bisa saja barang tersebut berguna untuk orang lain.

Sunk cost salah satu bias kognitif kita yang mempengaruhi keputusan yang kita ambil. Keputusan yang diambil disasarkan pada cara berfikir kita yang cepat dan emosional, tanpa pertimbangan rasional dan fakta. Sunk cost dapat merugikan kita karena uang yang telah kita keluarkan tidak dapat ditarik lagi, dan tumpukan barang dapat menambah tingkat stress kita.

Kita dapat mencegah Sunk cost ini dengan mempertimbangkan matang matang setiap keputusan yang kita ambil, khusus nya keputusan untuk membeli, harus didasarkan pada kebutuhan bukan hanya keinginan semata. That’s all.

Referensi:
Davidson, Michael.___.How the sunk cost fallacy makes you act stupid. lifehack. Diakses: 8 November 2016
Rouse, Margaret. 2013. What is sunk cost effect? techtarget, Diakses: 6 November 2016

Thursday, November 3, 2016

Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain (Fenomena Halo Effect)

Vanessa menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas menyala merah terang di perempatan alun-alun pusat kota. Terlihat 86 detik waktu yang tersisa untuk dapat menginjak pedal gasnya kembali. Sembari menunggu, entah mengapa orang-orang yang melintas dihadapannya menjadi perhatian tersendiri untuknya.

Berkali-kali mengetukkan jari telunjuk kanan pada kemudi mobil hingga suatu fenomena membuat ketukannya terhenti. Pupil mata Vanessa melebar pada detik ke-28, dilihatnya seorang pria diikuti 3 orang anak jalanan dan gadis kecil yang menarik tangannya sambil menunjuk penuh semangat seperti ada yang ingin mereka tuju dengan segera.

Pria yang dilihatnya memiliki kulit bersih kuning langsat, postur tubuh yang ideal, rambut yang bersih dan jam tangan sport yang melilit ditangan kiri. Tingkah laku mendukung paras yang dimiliki, pria itu tertawa asik bersama dengan ketiga orang anak yang mengkutinya.

Kecuali gadis kecil itu, “ice cream..! ice cream..!” suara imut berteriak antusias.

Dengan tanpa melepaskan perhatiannya pada pemuda tersebut, Vanessa bergumam kagum. “Cakep banget.., lucu.., baik.., ramah.., perhatian, hahhh (menghela nafas) gue banget..”


Fenomena Harimu, Halo effect in your daily life.

Dari apa yang kita lihat kita dapat memberikan penilaian terhadap karakter, sifat atau intelegensi seseorang. Orang yang sedang jatuh cinta sering memandang si doi sebagai sosok yang "sempurna" [walaupun si doi memiliki kekurangan sepertinya hal tersebut tidak digubris.]

Atau ketika kita bertemu orang yang pandai berbicara maka kita cenderung menilai dia itu orang yang lebih cerdas dari kebanyak orang yang kita temui [yang padahal kecerdasan itu beragam.] Nah, Penilaian yang seperti itu dinamakan dengan “halo effect.”

So, what is halo effect?


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Edward L. Thorndike pada tahun 1920, Halo effect merupakan penilaian baik atau buruk terhadap terhadap suatu subjek. Biasanya, seseorang tidak menilai suatu subjek itu dengan dua penilaian sekaligus, baik dan buruk, tapi hanya salah satu saja.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Solomon Asch, menurutnya ketertarikan merupakan sebuah sikap penentu seseorang untuk memberi penilaian yang baik terhadap suatu subjek. Dengan kata lain, orang yang menarik atau good-looking pasti akan dinilai memiliki kepribadian atau karakteristik yang baik juga.

Jika disimpulkan dari kedua pengertian di atas. Hallo effect atau yang dikenal dengan sebutan “physical attractiveness stereotype” atau stereotip ketertarikan fisik adalah salah satu jenis bias kognitif terhadap cara kita menilai dari fisik seseorang, yang mempengaruhi perasaan dan pemikiran kita tentang karakteristik seseorang tersebut. Salah satu contohnya adalah, kita mungkin saja berfikir bahwa perempuan yang cantik tidak akan melakukan kriminal.

Halo effect
Image: Fact vs Media [pixabay]


Ketika kita dengar sebuah berita di televisi tentang seorang motivator atau artis  melakukan kejahatan, kita mungkin akan kaget. Karena penilain kita terhadap seseorang yang atraktif cenderung selalu baik. Padahal menurut penelitian lain, orang dengan fisik yang menarik dinilai dapat memiliki sikap sombong, tidak jujur dan memanfaatkan fisik mereka untuk memanipulasi orang lain.

Halo effect juga merupakan penilain terhadap sikap yang diinginkan oleh seorang individu, untuk menciptakan penilaian bias terhadap orang lain. Sebagai Contoh, saya suka orang yang rajin, jadi saya akan menilai orang yang rajin, pasti dia adalah orang yang baik, padahal disisi lain orang tersebut dapat memiliki karakter yang kurang baik, misalnya dia suka buang sampah sembarangan atau tidak sopan.

Pengaruh Halo Effect di kehidupan kita sehari - hari


Pengaruh Halo dapat terlihat pada aktifitas belajar mengajar di sekolah. Contohnya adalah seorang anak yang baik dan penurut di kelas akan dinilai sebagai anak yang rajin, pintar dan cerdas oleh gurunya.

Ketika halo efek ini terjadi, maka penilaian guru tersebut dapat berdampak pada pemberian score atau nilai pada siswa dikelas.  Efek halo ini juga dapat terjadi sebaliknya, yaitu siswa menilai gurunya. Guru yang ramah akan dinilai menarik, cantik dan menyenangkan.

Pengaruh halo effect di dunia kerja dapat terjadi kepada penilaian supervisor terhadap bawahan. Penilaian supervisor ini tertuju pada hanya satu aspek saja. Sebagai contoh bawahan yang bekerja secara antusias maka akan dinilai lebih baik oleh supervisornya, padahal mungkin saja bawahannya memiliki kekurangan akan kemampuan dan pengetahuannya.

Akui bahwa disetiap aspek kehidupan selalu ada sisi yang berlawan.


Halo effect terhadap para pencari kerja. Ketika seseorang pelamar kerja memiliki sikap yang menyenangkan maka akan dinilai sebagai pribadi yang cerdas, pintar dan qualified.

Lalu, halo effect ini juga terjadi ketika kita memutuskan film apa yang akan kita tonton di bioskop. Kita akan menilai bahwa pemainnya akan menentukan kualitas filmnya.

Now, we come to our conclusion. Jadi, kesimpulannya adalah Halo effect merupakan salah satu bias kognitif yang membuat kita menilai suatu subjek tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, melainkan hanya terhadap satu aspek saja dan mempengaruhi penilain kita terhadap keseluruhan aspek.

Referensi:
___.___. Pengertian halo effect. Pengertianmenurutparaahli. Diakses 26 Oktober 2016
___.___. Efek halo. wikipedia. Diakses: 26 Oktober 2016
Cherry, Kendra. 2016. What is the halo effect. Verywell. Diakses: 26 Oktober 2016