Tuesday, January 10, 2017

Memahami Belajar Efektif 1: Learning Pyramid

Pendidikan sangat menentukan diri anak dalam perkembangannya menuju ke arah yang lebih baik, apalagi di era globalisasi yang segala sesuatu dapat berubah dengan serba cepat. Berkat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga banyak orang dapat menciptakan bermacam-macam alat yang canggih.

Irawati Istadi (2005:54) mengungkapkan pendidikan merupakan hal yang penting dalam pertumbuhan individu. Pendidikan adalah semacam investmen untuk menumbuhkan sumber-sumber manusia yang tidak kurang nilainya dari investmen pada pertumbuhan sumber-sumber material.

Fenomena Harimu kali ini memaparkan hal yang berkaitan dengan belajar efektif, bagi kamu yang akan menghadap ujian atau senang akan "belajar" itu sendiri itu sendiriKeep read this and be inspired :)

Esensi Belajar


Sebelum kita mengatahui bagaimana belajar yang efektif, perlu pembaca ingat teori belajar anak TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, itu berbeda, akan tetapi esensi dari belajar adalah memberikan perubahan dalam diri seseorang pada arah yang lebih baik.

“Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian sebagaimana dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola respon, tingkah laku yang baru, yang nyata dalam perubahan keterampilan, kesanggupan, sikap dan kebiasaan.”
 Witherington (1991:2)

Maka dengan demikian belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai suatu pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

Tiga tahap yang biasa ditempuh dalam belajar


Sampai saat ini teori belajar efektif tidaklah mutlak baku dalam satu teori, karena setiap individu terkadang mempunyai cara masing-masing bagaimana belajar efektif, akan tetapi secara umum berikut adalah cara belajar efektif yang digunakan para pakar pendidikan dan psikologi belajar. Menurut Jerone S. Bruner dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:

  1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

    Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Namun tidak selalu "siswa," mereka yang tidak menempuh pendidikan formal pun dapat menerima informasi dari orang lain.

    Kemanapun kamu pergi akan selalu ada informasi mengenai tempat yang kamu tuju. Bertemu dengan siapakah kamu disana, maka informasi yang kamu peroleh seputar pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.

    Surround yourself with people who have dreams, desire anda ambition; They'll help you push for, and realize your own.
     - Kushandwizdom -
    See: Pengaruh orang lain terhadap perkembangan anak
  2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

    Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual. Dibutuhkan ingatan itu sendiri untuk menghubungkan informasi yang satu dengan yang lain sehingga akan saling berkaitan.

    7x3= 21, Kamu tidak akan bisa memperoleh jawaban seperti itu jika kamu tidak mengerti tentang penjumlahan. Karena 7x3 merupakan 7+7+7.
     
  3. Tahap evaluasi
    Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi  yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi

Faktor yang memengaruhi belajar


Secara umum, menurut Muhibbin Syah (2001: 132) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yaitu:

Faktor internal (faktor dari dalam diri), yakni keadaan jasmani dan rohani. Yaitu: aspek fisiologis (jasmani, mata dan telinga) dan aspek psikologis (intelegensi siswa, sikap, bakat, minat dan motivasi).

Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar. Yaitu: lingkungan sosial (keluarga, guru, masyarakat, teman) dan lingkungan non-sosial (rumah, sekolah, peralatan, alam).

Faktor pendekatan belajar (bagi pengajar,) yakni jenis upaya yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran, yang terdiri dari pendekatan tinggi, pendekatan sedang dan pendekatan rendah.

Konsep belajar 5M


Pemerintah selalu mengeluarkan kebijakan-kebijakan serta program pendidikan guna dapat mewujudkan siswa yang pandai dan berkompetensi, salah satunya yaitu perancangan kurikulum sekolah. Ada beberapa kurikulum yang pernah digunakan, diantaranya yang masih di pakai saat ini  adalah kurikulum K13 dan KTSP, semua itu bertujuan guna mendapatkan metode belajar yang efektif.

Dalam dunia pendidikan formal, para tenaga pendidik tentu tidak asing dengan konsep belajar 5M. Bagi kamu yang belum mengetahui konsep ini, berikut penjelasannya.
 
Learning
Image: Learning [pixabay]

  1. Mengamati (Observing)

    Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning), karena metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
     
  2. Menanya (Questioning)

    Dengan pertanyaan maka siswa akan lebih aktif dan dapat berusaha lebih giat lagi untuk menjawab pertanyaan seorang guru tersebut dengan benar,maka dengan menanya seorang siswa akan berusaha lagi. Kemampuan bertanya yang baik merupakan indikasi bahwa kemampuan verbal seseorang telah berkembang dengan baik.
     
  3. Menalar (Associating)

    Pengalaman-pengalaman yang tersimpan dalam memori otak itu berelasi atau berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia atau dengan kata lain proses asosiasi. Penalaran ini dimaksudkan untuk proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
     
  4. Mencoba (Experimenting)

    Hasil belajar akan terekam dalam memori peserta didik apabila diberi kesempatan untuk melakukan, mencoba atau mengalami tentu lebih memberikan nilai lebih dari hanya sekedar mendengarkan, karena aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
     
  5. Mengkomunikasikan (Communicating)

    Dalam bentuk sederhana menkomunikasikan berarti mempersentasikan atau menunjukkan hasil pekerjaan kepada publik, secara lisan maupun tulisan atau dengan karya lainnya karena dengan menyajikan kita akan dapat mengetahui hasil dari semua pembelajaran

Konsep belajar 5M terhadap learning pyramid


5M merupakan sebuah konsep belajar efektif yang dapat digunakan oleh siapapun, karena konsep tersebut merupakan dasar konstruksi berfikir ilmiah, ketika melewati proses tersebut maka kebenaran atau kesimpulan yang di peroleh merupakan kebenaran yang paling mendekati yang bisa dijadikan sebuah rujukan.

Untuk lebih memudahkan kamu memahami ini, berikut Fenomena Harimu menyajikan infographic seputar persentase kemungkinan daya serap informasi seseorang memahami apa yang dipelajarinya dengan berbagai metodeLearning Pyramid.

Learning Pyramid
Image: Learning Pyramid
  
Our life merupakan mekanisme belajar, manusia tidak berhenti melakukan proses pembelajaran selama individu tersebut mampu berinteraksi. Dengan demikian beberapa tahapan pembelajaran yang efektif dapat kita jadikan landasan dalam berbagai kehidupan, bukan hanya sekedar di bangku sekolah, tapi dilingkungan sosial, karena hasil pemikiran, pembelajaran yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula.

I see and I forget.
I hear and I remember.
I do and I understand.

- Confucius -


Referensi:
Bahtra, Fathan. 2013. Pengertian apa itu 5M. Bahtrafathan. Diakses 2 Januari 2017
Eksa, Yanuaria. 2014. Fase-fase Belajar menurut para Ahli. yanuariaeksa. Diakses: 2 Januari 2017
Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak (Jakarta: Pustaka Inti, 2005), hal 54
Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda Karya
Withirington, H.C. 1991. Psikologi Pendidikan, terj. M. Bukhori, Jakarta: Rineka Cipta
Yunus, Mas. 2015. Implementasi Pembelajaran Saintifik 5M. Kompasiana. Diakses 3 Januari 2017

Sunday, January 8, 2017

Merasa Cemas? Tiga Hal yang perlu Kamu Ketahui saat Merasa Cemas!

Lita - dengan kegalauannya karena akan menghadapi UN, nafsu makan menurun drastis yang padahal jauh sebelum menjelang UN perutnya seakan tak pernah kenyang segala makanan masuk dari yang ringan bentuk cemilan sampai bakso, cuangki dan lain-lain. Hanya buku latihan UN yang terus bersamanya.

Mungkin kamu pernah mengalami masa-masa itu. Bahkan salah seorang teman kami, dua hari sebelum pelaksanaan UN kesehatannya menurun dan sempat dipanggilkan dokter pribadi untuk mengcek kesehatannya. Begitu dahsyatnya cemas yang menyelimutinya hingga membuat ia seperti itu.

Fenomena Harimu, Tiga hal yang perlu kamu ketahui saat merasa cemas!

Worried
Image: Worried girl [pixabay]

Menurut Kaplan, Sadock dan Grebb (dalam buku fitri Fauziah&Julianti Widuri 2007:73) kecemasan merupakan respon terhadap situasi yang mengancam, dan merupakan sesuatu yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.

kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun, namun cemas yang berlebihan, apalagi sudah menjadi gangguan akan menghambat fungsi seseorang dalam aktifitas sehari-hari.

Sedangkan menurut pendapat ahli lain menjelaskan bahwa kecemasan sebagai keadaan yang emosional fisiologis, perasaan yang tegang yang tidak menyenangkan dan perasaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi (Nevid dkk, 2003).

Sederhana dalam mengelompokkan rasa cemas


Dalam keseharian kita setiap detik perasaan ini selalu berubah rubah, sepintas senang ceria melihat pemandangan kota dimalam hari dari atas mobil dijalan layang, namun tak lama kemudian rasa itu berubah ketika dihadapkan pada antrian kendaraan yang meumpuk seperti ular yang tak terlihat dimana kepalanya, kemudiaan jarum hjam yang terasa cepat berjalan, lebih lebih lagi telpon yang berdering acara makan malam bersama keluarga dan calon mertua yang sebentar lagi akan di mulai diretoran daerah kemang. Begitulah emosi manusia, ada "sejuta" emosi yang bisa berubah dalam tiap detiknya.

Kartini Kartono (2006:45) membagi kecemasan menjadi beberapa bagianyaitu:
  • Kecemasan Ringan

    Kecemasan ringan dibagi dalam dua kategori yaitu kecemasan ringan sebentar dan kecemasan ringan lama, kecemasan ringan dapat bermamfaat bagi kepribadian seseorang, karena kecemasan ringan dapat menjadi tantangan bagi individu untuk menjadi bisa dalam mengatasinya.

    Kecemasan yang muncul sebentar adalah kecemasan yang wajar pada individu akibat situasi yang mengancam dan individu tersebut tidak mampu mengatasinya, kecemasan ini akan bermanfaat bagi dirinya untuk menjadi lebih berhati hati dalam menghadapi situasi situasi yang sama yang membuatnya  cemas dikemudian hari.

    Kecemasan ringan yang lama adalah kecemasan yang bisa diatasi, akan tetapi karena individu tersebut tidak segera mengatasinya sehingga kecemasan itu mengendap lama dalam dirinya.
  • Kecemasan Berat.

    Kecemasan berat adalah kecemasan yang berakar secara mendalam dalam diri seseorang. Kecemasan ini dapat menghambat perkembang kepribadian seseorang. Kecemasan ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu kecemasan berat sebentar dan lama.

    Kecemasan berat sebentar dapat menyebabkan traumatis bagi seseorang yang mengalaminya jika menghadapi situasi yang sama sebelumnya.

    Sedangkan kecemasan berat lama bisa merusak kepribadian individu, semakin lama berlangsung akan semakin merusak kognisi individu tersebut, bahkan menyebabkan penyakit seperti darah tinggi,atau percepatan darah.
Gambar dibawah ini mengimplementasikan pengelompokkan diatas.
4 quadran cemas
4 kuadran Cemas
Gambar diatas hanyalah persepsi kami terhadap rasa cemas dalam ranah pendidikan sekolah. How about you?

So mengapa cemas itu muncul?


Mengapa cemas itu muncul dalam diri kita, apakah karena kita merasa senang, dapat hadiah, dapat uang banyak atau kebalikannya karena kehilangan sesuatu dan lain sebagainya, Zakiyah Darajat (Kholil Lur Rochman, 2010:167) mengemukakan beberapa penyebab timbulnya kecemasan yaitu:

Rasa cemas yang timbul akibat adanya bahaya yang mengancam dirinya, kecemasan ini lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya terlihat jelas dalam fikiran.

Cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.

Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak berhubungan dengan apapun yang terkadang disertai dengan rasa takut yang mempengaruhi keseluruhan kpribadiannya.

Beberapa contoh kejadian berikut sebagai bentuk penegasan mengapa cemas itu muncul, ketika kita lupa untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru atau dosen, dipagi hari dalam perjalanan hati kita begitu bercengkrama, “aduh gimana nih, gk ngerjain tugas tar bakalan kena omelan, diberdirikan, atau di olok-olok ma yang lain” perasaan cemas yang berkecamuk ini sebagai respon karena adanya sesuatu yang akan mengancam dirinya.

Tiga hal yang perlu kamu garis bawahi.


Cemas merupakan hasil dari pemikiran terhadap masa depan kamu yang diakibatkan oleh hal yang kamu buat saat ini. Hal ini berarti sangat bergatung pada "PIKIRANMU."

Ketika kamu merasa cemas, berarti kamu memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi setelah kamu menjalani aktifitas "saat ini." Memikirkan hal tersebut membutuhkan waktu dan energi tersendiri saat berpikir sehingga menurunkan tingkat produktifitas kamu. Silakan pikirkan kemungkinan yang terjadi namun juga pikirkan hal yang harus dilakukan saat kemungkinan itu terjadi.

And see, another post from us:
We wish you enjoy :)
Thank's :)

Referensi
Kartini Kartono 2006. Psikologi Wanita 1, Mengenal Gadis Remaja&Wanita Dewasa. Bandung: Mkamur Maju
Kholil Lur Rochman, 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: Fajar Media Press
Nevid, J.S Rathus, S.A &Green, B. 2003. Psikologi Abnormal Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Fitri Fauziah & Julianty Widuri, 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI Press

Sunday, December 18, 2016

Pesan Moral yang dapat Kamu Ambil dari Fobia [Cherophobia]

Setiap orang tentu ingin merasa bahagia, apalagi mereka yang merasa hidupnya selalu dipenuhi tekanan serta masalah yang tidak ada habis-habisnya. Kebahagiaan seperti menjadi hal yang langka yang banyak orang ingin selalu raih hal tersebut.

Banyak buku yang memberikan tips "bagaimana menjadi bahagia" namun sampai saat ini kami belum pernah menemukan buku "bagaimana mengatasi bahagia," terdengar aneh, bagaimana mungkin orang harus mengatasi bahagia mereka sedangkan bahagia adalah hal yang paling banyak dicari oleh semua orang.

Walaupun seperti itu, tahukah kamu beberapa orang tidak ingin merasakan bahagia bukan karena mereka tidak menginginkan bahagia tersebut, melainkan mereka meyakini setelah kebahagiaan ini mereka akan menghadapi kesulitan. See, coba perhatikan video dibawah ini:


Seorang kakak yang tidak ingin kehilangan kelucuan adiknya. Seharusnya dia berbahagia saat itu—menikmati kelucuan adiknya. Namun yang dipikirkannya justru masa depan adiknya yang menurutnya tidak selucu sekarang. Jika kakaknya itu tidak bisa merasakan kebahagiaan saat itu, dan kemudian adik kecilnya tumbuh, mungkin kakaknya akan menyesal karena kehilangan kelucuan adiknya lagi.

Jadi, kapan kakak perempuannya merasa bahagia?? 

Fenomena ini mirip dengan fobia yang disebut sebagai Cherophobia. Ya, kami katakan mirip karena kami tidak bisa mengatakan secara pasti orang itu memiliki fobia ini atau itu—karena kami bukan ahli. :)

Namun, untuk kamu ada hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari fobia ini. Fenomena Harimu, pesan moral yang dapat kamu ambil dari Cherophobia.

Cherophobia, mengapa fobia?


Sebelum membahas apa itu cherophobia kita terlebih dahulu mengatahui arti dari phobia. Untuk dapat memahami dengan jelas, berikut arti secara etimologi dan termenologi.

Image: Siap disuntik? [pixabay]

Menurut kamus ilmiah pupuler “fobi” yaitu kecendrungan perasaan seseorang yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan, sekalipun objek yang ditakuti tidak ada alasan yang jelas. Dengan demikian fobia adalah rasa takut yang berlebihan ( Prima pena 2006).

Sedangkan defenisi fobia menurut kamus psikologi adalah suatu ketakutan yang kuat, terus menerus dan irasional dengan ditimbulkan oleh suatu perangsang atau situasi khusus, seperti suatu ketakutan yang abnormal terhadap tempat tertentu.

Sementara kartini kartono (dalam buku Abnormal 1989:112) mendefinisikan fobia sebagai ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional tidak bisa dikontrol terhadap suatu situasi terhadap objek tertentu.

Semua phobia adalah ketakutan yang tak beralasan, yang bertalian dengan perasaan bersalah atau pun malu, ditekan, kemudian berubah takut pada suatu yang lain, dengan begitu terpendamlah konflik atau frustasi yang dialaminya. Jadi phobia adalah rasa takut yang berlebihan kepada suatu hal atau fenomena yang membuat hidup seseorang yang menderitanya terhambat.

Sedangkan untuk faktor penyebabnya secara umum menurut Kartini Kartono adalah yaitu phobia dapat disebabkan oleh suatu pengalaman ketakutan yang hebat yang pernah dialami, pengalaman asli ini dibarengi rasa malu dan rasa  bersalah kemudian semua ditekan untuk melupakan kejadian-kejadian tersebut.

Dan jika mengalami stimulus yang sama akan timbul respon yang bersyarat kembali, sungguhpun peristiwa pengalaman yang asli sudah dilupakan, respon-respon ketakutan hebat selalu timbul kembali meski ada usaha-usaha untuk menekan dan melenyepkan respon tersebut

Cherophobia, mengapa chero?


Cherophobia terdiri dari dua kata yaitu “Chero”  adalah emosi ketenangan atau kebahagiaan, “phobia” adalah perasaan cemas atau takut yang berlebihan.dengan demikian Cherophobia adalah rasa takut akan kebahagiaan, kenyaman, dan suatu keadaan yang memungkinkan dirinya merasa bahagia, seseorang yang mengidap penyakit ini merasa enggan bahkan tidak mau untuk bertindak dan mengambil keputusan menjadi bahagia.

Apakah kasus cherophobia ini sebagai sesuatu yang dianggap normal, tentu jawabannya tidak, cherophobia dapat dikatakan sebagai suatu yang abnormal dan kasus yang langka, karena secara umum emosi manusia mengharapkan kebahagiaan.

Yang dapat kamu ambil dari Cherophobia


Sejenak dan mensyukuri apa yang anda rasakan saat ini, dengan kondisi fisik yang sempurna, mata yang melihat, kaki yang masih bisa melangkah dan tangan yang bisa bergerak, bahkan kecerdasan dan paras yang anggun. Rasa ketidakpuasan selalu ada dalam diri setiap individu.

Open your eyes guys! Tidak selamanya orang lepas dari permasalahan hidup, jika kamu berbahagia saat ini. Nikmati kebahagiaan tersebut serta syukuri dan bersiaplah untuk tantangan selanjutnya yang melupakanmu untuk merasa bahagia. Dan disaat itu tiba, bersemangatlah, juga tetap bersyukur. Jikalaupun tertatih-tatih, cukuplah bersabar.

Fenomema cherophobia merupakan cermin dalam kehidupan ini, bahwa manusia merupakan mahluk dinamis yang bergantung pada apa yang ada disekitarnya dan perlu di topang oleh ilmu pengatahuan sebagai motor yang dapat menghantarkan pada kehidupan yang baik.

Bercermin pada orang yang lebih baik, kaya, tampan dan sebagainya sebagai cambuk motivasi, menghargai diri sendiri saat memandang yang lebih rendah sebagai wujud syukur anda terlahir begitu sempurna dan mulia.

Kehidupan yang dinamis akan mengalami berbagai proses sosial yang akan melahirkan keadaan dan kondisi yang berbeda di setiap prosesnya, terkadang anda diatas lalu dibawah, sedih lalu menjadi bahagia, dengan demikian perdalam pengatahuan dan sadari bahwa semua itu merupakan dinamika kehidupan sebagai manusia.

Bagaimana menghadapi si Cherophobia


Berbagai kemunngkinan bisa saja terjadi, bagaimana kalau kamu bertemu dengan seseorang yang telah divonis memiliki fobia ini? beberapa analisa yang dapat menjadi pelajaran dalam menghadapi seseorang yang mengalami cherophobia, yaitu sebagai berikut;
  • Berikanlah sebuah penghargaan sebagai wujud akan keberadaan dirinya di tengah kehidupan bersama orang yang ada disekitarnya. Dalam poin ini pembaca memberikan contoh riil bahwa dalam kebahagiaan itu selalu ada orang yang mendukung di sekitarnya dan tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
  • Memuji ketika dirinya mampu melakukan perbuatan yang baik, meskipun perbuatan tersebut sebenarnya hal yang sederhana bagi orang yang normal. Pujian dapat menjadi stimulus dan dalam waktu tertentu menjadi doktrin dalam kpribadiannya. Poin ini mengacu pada ilmu psikologi tentang bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk karakter individu
.

Pilihan dalam tindakan yang mengarah pada pengambilan keputusan untuk menjadi bahagia merupakan sebuah prestasi besar, dan mereka yang menggapai prestasi besar tersebut seringkali menjadi teladan yang baik juga mudah mempengaruhi orang lain (menjauhkan dari orang yang psimistis terhadap kebahagiaan) serta memberikan penghargaan sebagai alat untuk membangun motivasi.
So, to gain your awareness kami menyarankanmu untuk membaca:
Check it out :)

Referensi:

Kartono. Kartini. 1889. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju
Miller, Alex. 2014. Sadie doesn't want her brother to grow up. Youtube. Diakses: 16 Desember 2016 
Tim Prima Pena 2006. Kamus Ilmiah Pupuler Edisi Lengkap. Surabaya: Gitamedia Press.

Wednesday, December 7, 2016

[The Asch Conformity] Eksperimen yang Menjelaskan Mengapa Kamu Mengikuti Orang Lain

Liburan akhir tahun merupakan hari-hari yang paling dinanti oleh semua orang, dari mulai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar sampai dengan mereka yang di perguruan tinggi, dan tak mau ketinggalan juga mereka yang bekerja diperkantoran.

Oleh mereka kesempatan ini dijadikan sebagai agenda rutin untuk menuju tempat wisata. Tak ketinggalan juga Ritaadikku yang masih duduk di bangku kuliah semester awal. Dia jauh-jauh hari sudah merencanakan agenda liburan bersama teman-temannya. Sebelumnya, dia pernah bercerita kepadaku kalau ada beberapa tempat yang akan menjadi pilihan destinasi teman-temannya di tahun ini, yaitu Bali, Raja ampart, dan Singapura.

Namun, ditahun ini ada yang aneh dalam persiapan Rita. Entah mengapa kali ini ia terlihat tidak bersemangat, "Rit..! Lu gk semangat gitu sih.. kan mau liburan ma temen-temen lu, harusnya seneng dong..! daripada kakak nih akhir tahun cuma nikmati Monas kalo nggk ancol doang!"
Gumanku pada Rita adiku yang manja, “huft,,, iya ni kak, abisnya pilihan teman-teman Singapura, kata mereka sih biar kren gtu keluar negeri, so aku kan uda pernah kesingapur, yah tapi mau gak mau aku ikut mereka deh. Terus juga temanku Rena, bilang ke aku sebenernya dia nggk mau liburan ke singapura tapi dia tuh suka ikut-ikutan apa kata temen aja.” demikian jawab adiku dengan bibir cemberut miring kiri tak beraturan.

Kamu mungkin banyak mengalami hal-hal yang kejadiannya hampir sama dengan yang dialami Rita diatas, dimana seorang individu menyerah pada pilihan mayoritas meskipun keyakinan akan kebebenaran individu tersebut tidak seperti mereka.

Hal semacam itu cukup sering terjadi seperti, menentukan gaji yang akan kamu terima ketika HRD bertanya "berapa gaji yang kamu inginkan?" atau memilih menu makanan saat berkumpul dengan teman-teman ("Sayaa..., samain aja kaya kamu deh,") atau kejadian yang memang di setting untuk fenomena ini (mengikuti tingkah laku orang sebelumnya) yang dapat kamu lihat pada tulisan ini.

Keep read it, and feel your emotions :) fenomena harimu, Eksperimen asch conformity "fenomena ikut-ikutan teman."

Follow
Image: Where we will go? [pixabay]
 

Mengapa mengikuti teman (eksperimen Asch)


Dalam pandangan psikologi dikenal adanya penyesuaian diri, penyesuaian diri juga dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).

Kelompok merupakan faktor yang paling mudah mempengaruhi individu, bahkan sebuah kelompok dapat merubah sebuah teori kebenaran. dalam istilah sosiologi adalah kebenaran mayoritas, yaitu suatu kebenaran karena kekuatan kelompok mayoritas.

Kinloch berpendapat bahwa kelompok orang yang disebut sebagai mayoritas adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan, menganggap dirinya normal dan memilik derajat lebih tinggi. Sedangkan kelmpok lain yang dianggap sebagai kelompok minoritas adalah mereka yang tidak memiliki kekuasaan, dianggap lebih rendah karena memiliki ciri tertentu: cacad secara fisik ataupun mental sehingga mereka mengalami eksploitasi dan diskriminasi. (Kinloch, 1979: 38)

Tokoh lain yang membahas mengenai besarnya pengaruh kelompok yang kuat adalah Gramsci tentang teori hegemoni, Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Istilah conformity ini sering digunakan untuk menunjukkan kesepakatan untuk posisi mayoritas, disebabkan baik oleh keinginan untuk 'cocok' atau disukai (normatif) atau karena keinginan untuk menjadi benar (informasi), atau hanya untuk menyesuaikan diri dengan peran sosial (identifikasi).

Percobaan conformity


Percobaan konformitas Asch adalah sebuah percobaan yang diadakan oleh Solomon Asch pada tahun1951 untuk melihat sejauh mana kekuatan konformitas dalam suatu kelompok terhadap individu. Para partisipan bersama dengan "partisipan palsu" diberikan pertanyaan yang mudah dengan jawaban yang sangat jelas namun sebanyak 37 dari total 50 partisipan mengikuti jawaban dominan yang salah.

Ketika para partisipan diwawancara selepas percobaan, sebagian besar dari mereka mengaku tidak percaya pada jawaban dominan namun tetap menjawab salah karena takut dianggap aneh atau dicemooh. Sedangkan sebagian kecil dari mereka berkata kalau mereka benar-benar mengira bahwa jawaban "partisipan palsu" adalah benar.

Singkatnya adalah Conformity  merupakan jenis pengaruh sosial yang menyebabkan perubahan kesadaran, keyakinan bahkan perilaku agar sesuai dengan kelompok.

Hal ini seperti seorang guru yang bertanya (dengan jawaban dua pilihan) kepada murid satu-satu secara berurutan sesuai tempat duduk, jawaban murid dua orang pertama adalah yang menentukan jawaban murid selanjutnya.

Selain itu, video dibawah ini memberikan contoh bagaimana perilaku orang sebelumnya dapat mempengaruhi orang lain bertindak.


Got it? :)

Menyesuaikan diri sebagai manfaat untuk diri


Penyesuaian yang baik merupakan salah satu modal untuk menjadikan anda seseorang yang sukses, khususnya dalam menghadapi pengaruh dari kelompok yang lebih besar atau membawa dan menerima tantangan diri anda pada conformity, entah di tengah masyarakat, di lingkungan belajar dan dunia kerja. Tidaklah bijak terlahir menjadi seekor kucing anggora dari rahim singa, dan setidaknya jika itu ada maka jadilah seakan akan dia anak singa untuk sementara waktu. 

Maka dalam hal ini kita perlu mengingat bahwa kemampuan seseorang dalam bergaul, dan membangun teman sejawat atau  rekan kerjasama (network and marketing) bukan semata mata karena mereka tampan atau cantik begitu juga mereka yang kaya atau miskin, melainkan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Hidup jangan melawan arus.
Namun tetap butuh pegangan.
Agar tidak terhanyut.

Point of conformity


Conformity merupakan jenis pengaruh sosial yang menyebabkan perubahan kesadaran, keyakinan bahkan perilaku agar sesuai dengan kelompok. Conformity itu penting dalam kehidupan sehari hari, dan dalam mengambil keputusan atau pilihan harus cerdas, analisis dan observatif.

Baca juga yang mungkin dapat menginspirasikanmu:

Referensi :
Cherry, Kendra. 2016. What Is the Social Comparison Process?. Verywell. Diakses: 4 desember 2016
Johnson, Paulie. 2015. Would You Fall For That? Will People Stop Eating When The Light Goes on? - WYFFT? Diakses: 6 Desember 2016 
Kamanto Sunato, “Hubungan Antarkelompok,” Pengantar Sosiologi, , (Edisi Revisi.; Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 2004), hmn.142, mengutip Kinloch (1979: 3-10)
McLeod, S. A. 2007. What is Conformity?. Simplypsychology. Diakses: 4 desember 2016
Nezar Patria, Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999) hal. 116 


Saturday, December 3, 2016

Flow, Gerbang menuju Passion dalam Dunia Kerja

Berada dalam suatu keadaan yang membuat diriku tidak memerdulikan apapun kecuali hal yang sedang ku kerjakan. Teman-temanku bilang bahwa aku orang yang jarang tidur, seperti tidak mengenal lelah dan sebagian dari mereka begitu risih melihatku karena sulit untuk diam. Selalu saja ada hal yang dikerjakan. Mungkin aku dalam flow.

Melakukan aktifitas tanpa memikirkan rasa lelah, merasa tertantang dan lupa keadaan sekitar. Pernahkah kamu merasakan hal tersebut? Bagi sebagian orang, orang yang berada dalam kondisi tersebut adalah mereka yang menemukan passion nya—orang yang bekerja karena memang tertarik dengan bidang.

Namun pernahkah kamu sadari bagaimana orang tertarik dengan suatu hal hingga akhirnya label passion merekat pada aktifitas tersebut? 
Fenomena Harimu, menemukan passion? atau mendapatkan flow?
Image: Tangga [pixabay]
Mungkin sebagian besar orang sudah mengenal istilah passion dalam dunia kerja, dan bagi mereka yang telah menemukan tempat kerja yang sesuai dengan passion nya merupakan kebahagiaan tersendiri untuk mereka. 

"Senang rasanya dapat bekerja sesuai passion, senang memiliki hobby yang dibayar."

Selain istilah passion, tahukah kamu akan adanya istilah flow?

Istilah flow digunakan oleh Mihaly Csikzentmihalyi, seorang ahli psikologi dari University of Chicago sebagai suatu kondisi dimana seseorang terhanyut dalam aktifitas yang dilakukannyaketika puncak kemampuan mereka dihadapkan pada suatu tugas yang dibarengi perasaan senang, tertantang dan keterpesonaan.

Mereka yang berada pada kondisi ini tidak menyadari keadaan sekeliling mereka, indra mereka terpusatkan pada hal yang sedang dikerjakan, mereka sepenuhnya terserap dalam pekerjaan itu. Flow adalah keadaan lupa situasi sekitar, namun bukan lamunan dan kekhawatiran.

Mereka tidak termotivasi atas apa yang akan mereka peroleh ketika menyelesaikan pekerjaan tersebut, ataukah mereka akan berpikir gagal atau berhasil. Kenikmatan atas aktifitas mereka sendiri yang memotivasi mereka.Yang dihadapannya adalah suatu tantangan atas puncak kemampuannya saat itu, terselesaikan tugas dapat membuat kemampuannya semakin meningkat, jika gagal mereka akan mencoba lagi untuk itu.

"Tampaknya orang berkonsentrasi paling baik apabila tuntutan yang ditujukan kepada mereka lebih daripada yang biasa. Apabila tuntutan terlampau ringan, orang menjadi bosan. Apabila tuntutan terlalu berat untuk ditangani, mereka cemas. Flow terjadi dalam zona amat tipis antara kebosanan dan kecemasan."
- Mihaly Csikzentmihalyi -


Bagaimana untuk mendapatkan flow


Kami rasa jarang orang yang mendapati kondisi ini dikarenakan lebih sering terdengarnya keluhan dibandingkan rasa syukur. Untuk mendapati kondisi ini, dibutuhkan rintangan yang lebih berat ketika keterampilan seseorang meningkat—apapun keterampilannya.

Namun yang sulit adalah menentukan rintangan yang diberikan tidak melebihi puncak kemampuannya saat itu. Setelah tugas telah terselesaikan dengan baik, kemudian tingkatkan kesulitan tugas tersebut sesuai dengan pencapaian yang telah dilewati (see image: tangga)

Jika tugas yang diberikan kepada mereka terlampau sulit (tidak berdasarkan pencapaian mereka sebelumnya) maka mereka akan mudah menyerah, kecuali jika reward yang akan mereka terima begitu menggiurkan. [see: 4 kuadran membuat orang bergerak pada gangguan sulit mengatakan tidak kepada orang lain.]

Kemudian berkaitan dengan keterampilan, setiap manusia memiliki ranah keterampilannya yang lebih unggul. Ada yang lebih terampil dalam bersosialisasi, berhitung, merangkai kata, mengkordinasikan gerak tubuh atau memahami ruang dan bidang. Kondisi flow berkaitan dengan keterampilan yang lebih unggul pada masing-masing pribadi tersebut karena bagi kami, setiap orang adalah ahli dalam ranahnya masing-masing.

Seorang anak yang secara alamiah berbakat musik atau olah gerak, misalnya, akan lebih mudah masuk ke dalam flow pada bidang tersebut daripada di bidang yang kurang mampu ditanganinya.
 - Daniel Goleman -

Flow menuju passion

Perhatikan kutipan Mark Cuban dibawah ini:
  1. When you work hard at something you become good at it.
  2. When you become good at doing something, you will enjoy it more.
  3. When you enjoy doing something, there is a very good chance you will become passionate or more passionate about it
  4. When you are good at something, passionate and work even harder to excel and be the best at it, good things happen.


Sebagian besar orang memiliki kesulitan dalam memahami bakat yang dimilikinya dan terkadang orang yang mengetahui bakatnya namun sayangnya kondisi lingkungannya sangat sulit menerima bakatnya [seperti seorang yang berbakat menari, namun dilarang orang tuanya karena anggapan tari tidak membawanya sukses.]

Kutipan Mark Cuban diatas mengajarkan bahwa kerja keras dapat membuahkan hasil sebesar kerja keras yang dikerahkan. Bahkan Malcolm Gladwell merepresentasikan kesuksesan sebagai sesuatu yang dapat diraih ketika kerja keras telah dikerahkan selama 10.000 jam.

Dan ketika kerja keras telah dikerahkan selama 10.000 jam, saat itulah kamu menjadi unggul. Apa yang kamu kerjakan menjadi lebih mudah dan jika itu memberikan reward untukmu maka besar kemungkinan hari-harimu selanjutnya akan dipenuhi dengan kegiatan tersebut. Dan saat itu jualah orang-orang disekelilingmu berpikir bahwa passion mu adalah bidang tersebut.

Referensi:
Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. 2016. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama