Saturday, July 22, 2017

Memahami 2 Sistem Cara Berpikir (Fast and Slow Thinking) Dalam Hidupmu

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang sepertinya mudah sekali menyimpulkan sesuatu sedangkan kamu mengetahui bahwa kesimpulannya salah? mengapa mereka begitu yakin terhadap pikirannya? akankahh kamu berkata "sok tau" kepada orang tersebut?

Fenomena Harimu kali ini akan memaparkan mengapa orang dapat begitu mudahnya dan kemudian begitu yakinnya terhadap kesimpulan yang mereka katakan, padahal apa yang dikatakannya belum tentu terbukti benar.

Dengan membawa gagasan utama Daniel Kahneman, Fenomena Harimu. Memahami 2 sistem cara berpikir manusia yang biasa dilakukan sehari-hari.

2 sistem cara berpikir daniel kahneman
Image: Idea [pixabay]

Sekarang, dapatkah kamu menjawab pertanyaan ini?

Rina membeli pasta gigi dan amplop dengan total harga harga Rp. 11.000. Harga pasta gigi 10 ribu rupiah  lebih mahal dari harga amplop. Berapa kah harga amplop?

Jawaban yang kamu pilih menunjukkan salah satu sistem cara berpikir yang kamu gunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kahneman mengatakan bahwa secara umum manusia memiliki 2 sistem cara berpikir yaitu, automatic system (fast thinking) dan deliberative system (slow thinking).

Nah, apakah kamu termasuk orang yang menyelesaikan pertanyaan tersebut dengan fast thiniking atau slow thinking? tahan jawabanmu dan silakan terus membaca :)

Berpikir cepat (automatic system) dan lambat

(deliberative system)


Automatic system/ sistem 1/ fast thinking  merupakan cara berpikir manusia secara intuitif (daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari mendalam), menggunakan usaha berpikir yang rendah, tidak menggunakan faktor relevan lainnya dan cenderung bersifat ikut-ikutan.

Orang begitu mudahnya menarik kesimpulan berdasarkan apa yang dilihatnya atau dirasakannya. Seperti orang yang percaya bahwa jika siapapun yang memakan udang kemudian meminum segelas teh, maka ia akan merasa gatal-gatal. Padahal bukan karena komposisi udang dan teh, melainkan alergi orang yang memakan udang tersebut yang membuat mereka gatal.

Seperti orang yang memperbaiki layar TV yang penuh semut dengan cara menggerbrak di salah satu sisi TV. Dan percaya bahwa dengan menggebrak maka TV nya akan berfungsi seperti semula.

Sedangkan deliberative system/ slow thinking atau sistem 2 merupakan cara berpikir dengan menggunakan usaha yang kuat, berdasarkan alasan, membandingkan dan menggunakan faktor yang relevan. Seperti orang yang menyadari bahwa bumi berputar mengelilingi matahari yang sebelumnya matahari mengelilingi bumi.

Jadi apa jawabanmu untuk pertanyaan diatas?


Jika kamu menjawab Rp. 500 untuk harga amplop, maka kamu menggunakan system 2 untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jika kamu menjawab Rp. 1.000 untuk harga amplop, maka kamu menggunakan system 1 untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Bagaimana jika seseorang menjawab Rp. 500 secara cepat?

Ada kemungkinan ia terbiasa melakukan proses perhitungan. Tingkat kecerdasan yang tinggi. Atau kemungkinan yang lainnya. Berpikir cepat atau lambat tidak berarti salah satunya lebih baik. Hal ini hanya mengarah pada perbandingan kemungkinan yang terjadi.

Jika kamu menggunakan sistem 2 untuk berpikir, kamu memiliki kemungkinan lebih lebih kecil untuk keliru atas jawabanmu. Namun kekurangannya pada sistem 2 ini adalah lebih lama menghabiskan waktu. Begitu juga sebaliknya, kemungkinan keliru dalam menjawab lebih besar ketika menggunakan sistem 1 namun selesai lebih cepat.

Tapi kamu bisa menyelesaikan suatu persoalan dengan lebih cepat dan tingkat kekeliruan yang lebih rendah. Kamu harus terus mengasah otakmu. Baca mengenai hal ini, special articles for you:

Sinkronisasikan dalam hidup


Sekarang, apa yang terjadi jika pertanyaan itu berhadiah satu unit rumah namun hanya boleh satu kali dalam menjawab. Maka akan banyak orang yang menggunakan system 2 untuk berpikir. Mereka akan sangat berhati-hati untuk menjawab dan jika menemukan jawabannya, mereka akan berpikir ulang untuk memastikan.

Saat ini, kita dituntut untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan serba cepat dengan kemungkinan resiko kesalahan yang kecil. Apakah ini berarti kita tidak diizinkan untuk merenung, membandingkan dan berusaha berpikir lebih dalam?

Kita selalu diizinkan melakukan proses merenung, membandingkan atau berusaha berpikir. Hanya saja, dalam situasi tertentu  kita tidak diizinkan menghabiskan beberapa menit untuk proses mengambil keputusan, oleh karena itu dibutuhkan kesimpulan sekejap, naluri, atau intuisi dan dengan mengembangkan ketrampilan diri.

Naluri bisa saja salah, dan berpikir terlalu lama dengan membandingkan banyak faktor juga memiliki kemungkinan salah. Namun yang terpenting, jangan takut mencoba karena ada kemungkinan salah. Keep productive :)

Referensi:
Gladwell, Malcolm. 2001. “Blink: kemampuan berpikir tanpa berpikir”. Pt. Gramedia Pustaka Utama
Kahneman, Daniel._____________ . “Thinking Fast and Slow”. vk.com. Diakses: 6 Juli 2015

Wednesday, July 19, 2017

Pengaruh Sugesti: Fenomena Efek Placebo dan Nocebo

Pernahkah kamu mendengar bahwa kekuatan pikiran memiliki pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia? Salah satu bentuk kekuatan pikiran tersebut adalah sugesti. Sugesti menurut KBBI adalah pendapat yang dikemukakan atau pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang.

Kekuatan pikiran ini dipandang oleh para ahli psikologi sebagai anugerah luar biasa yang dimiliki manusia. Bahkan, tokoh yang sangat berpengaruh seperti Mahatma Gandhi pun berkata,

Your beliefs become your thoughts.  Your thoughts become your words.  Your words become your actions.  Your actions become your habits.  Your habits become your values.  Your values become your destiny.
(Keyakinanmu menjadi pikiranmu, pikiranmu menjadi kata-katamu, kata-katamu menjadi tindakanmu, tindakanmu menjadi kebiasaanmu, kebiasaanmu menjadi nilai-nilaimu, nilai-nilaimu menjadi takdirmu.”)

Pengaruh sugesti dalam kehidupan ditunjukkan dengan adanya fenomena efek placebo (placebo effect) dan nosebo (nocebo effect). Istilah umum yang digunakan untuk fenomena ini adalah ‘prediksi yang dapat direalisasikan sendiri’.

Kata ‘plasebo’ berasal dari bahasa Latin ‘placere’ yang secara harfiah berarti ‘Saya akan menyenangkan’. Menurut definisi konvensional, plasebo adalah ‘obat palsu’ tanpa zat aktif secara farmakologis. Efek plasebo bisa diartikan dimana suatu masukan menjadi kebenaran karena adanya pengaruh keyakinan dan kepercayaan dalam diri yang positif.

Sebaliknya, ‘nocebo’ secara harfiah berarti ‘Saya akan menyakiti’. Nosebo merupakan ketiadaan dari plasebo, dimana keyakinan dan kepercayaan dalam diri yang negatif.

Pengaruh Sugesti Placebo dan Nocebo
Image: Do not give up [Pixabay]

Fenomena Efek Plasebo dalam Pengobatan Medis


Salah satu efek plasebo dalam pengobatan medis adalah karena adanya pengaruh sugesti positif. Misalnya, dua kelompok pasien diberi sejenis obat berupa pil oleh dokter, satu kelompok diberi obat yang memang mengandung unsur obat sedangkan sekelompok lain diberi atau obat pura-pura berupa pil yang hanya berisi gula (tidak mengandung unsur obat).

Kedua kelompok tersebut tidak diberitahu bahwa salah satu kelompok diberikan bukan obat sesungguhnya. Ternyata pada kedua kelompok tersebut menunjukkan efek yang signifikan ke arah penyembuhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh sugesti bisa memengaruhi sel-sel untuk menstabilkan unsur-unsur kimiawi dalam tubuh manusia.

Dalam hal ini, efek plasebo bekerja, masukan dari dokter mengenai obat yang dapat menyembuhkan menjadi kebenaran, karena adanya pengaruh keyakinan dan kepercayaan yang positif pada kedua kelompok tersebut.

Efek plasebo menunujukkan bahwa kekuatan pikiran adalah faktor terpenting dalam fungsi tubuh manusia. Karena dengan kemampuan menciptakan atau menghapuskan gejala, efek obat sebenarnya dapat digantikan oleh hanya dengan kekuatan pikiran.

Secara umum, manusia percaya bahwa kondisi psikologis dapat memengaruhi kondisi fisiologisnya. Adanya pengaruh positif dari suatu obat karena orang percaya bahwa obat dapat menyembuhkan penyakit, meskipun jika obat tersebut tidak memiliki khasiat apapun.


Fenomena Efek Nosebo dalam Pengobatan Medis


Pasien yang mengalami efek nosebo ketika diberi obat biasanya memiliki riwayat pengobatan dengan diagnosa yang buruk sehingga pasien tidak yakin bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan penyakitnya. Ini berarti harapan dalam diri pasien rendah dan mau tidak mau, dapat berakibat buruk pada diri pasien.

Dokter bedah tidak akan mau menangani pasien yang yakin bahwa mereka tidak akan sembuh dan akan mati karena penelitian yang telah dilakukan pada pasien-pasien operasi yang menganggap bahwa mereka akan mati, hampir semuanya benar-benar mati.

Fenomena Efek Plasebo-Nosebo dalam Sehari-hari


Keyakinan hanyalah pikiran yang diulang-ulang dengan perasaan yang melekat kuat pada pikiran. Jika kita percaya bahwa diri kita sehat, rejeki berlimpah, dihargai orang, dan hidup bermakna maka alam bawah sadar kita akan bergerak menciptakan realitas diri seperti keyakinan yang kita percayai.

Sama halnya dengan obat tanpa khasiat namun dapat menyembuhkan orang. Keyakinan yang kuat terhadap sesuatu yang positif mampu memengaruhi sel-sel dalam tubuh kita untuk berubah menjadi positif.

Sebaliknya, kalimat sederhana seperti: “saya akan pilek jika minum es”, “saya sulit sekali menurunkan berat badan”, atau “saya tidak bisa menghasilkan uang”, adalah keyakinan yang negatif (efek nosebo). Meyakini sesuatu yang negatif juga akan berdampak negatif dalam kehidupan kita.

Sebelum tahun 1954, ahli fisiologi, dokter dalam bidang olahraga, dan ilmuwan peneliti menyatakan bahwa tidak mungkin untuk menciptakan prestasi lari cepat 1 mil dengan waktu kurang dari 4 menit jika dilihat dari faktor struktur tulang dan kekuatan otot manusia.

Keyakinan itu dipercayai oleh para atlet pelari pada waktu itu. Namun seorang mahasiswa kedokteran dari Universitas Oxford bernama Roger Bannister, tidak mau mempercayai mitos tersebut. Ia berlatih keras dengan semangat dan kemauan yang luar biasa sampai pada akhirnya ia memecahkan rekor lari 1 mil dengan kecepatan  3 menit 59,4 detik. Keyakinan yang dipercayai oleh sebagian besar ilmuwan dan atlet selama bertahun-tahun dapat dipatahkan oleh cara kerja efek plasebo dari Roger Bannister ini.


Referensi:
Michele Therapies. The mind body connection placebo-nocebo. 2014. michele-therapies. Diakse: 13 Juli 2017
Yunus. Mindset Revolution: Optimalisasi Potensi Otak Tanpa Batas. 2014. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher.
Sugianto, Edi. Placebo, The Power of Believing. 2012. naqsdna. Diakses: 13 Juli 2017

Tuesday, July 11, 2017

7 Kebiasaan Efektif Karya Stephen Covey Membuatmu Meyikapi Keadaan Menjadi Lebih Dewasa

Setiap manusia memiliki jumlah waktu yang sama dalam sehari yakni 24 jam, juga memiliki jumlah hari yang sama yakni 7 hari dalam seminggu. Tapi, tidak setiap manusia bisa menggunakan waktunya secara efektif.

Kata ‘efektif’ sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah,

1 ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya);   2 dapat membawa hasil; berhasil guna (usaha, tindakan).”

Dalam hal ini, menggunakan waktu secara efektif dapat diartikan menggunakan waktu yang dimiliki agar memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Keefektifan waktu yang digunakan salah satunya dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan.

Gabungan dari kebiasaan-kebiasaan ini akan membentuk karakter seseorang yang akan berpengaruh terhadap keberhasilannya. Jika ingin berhasil dalam bidang apapun, manusia harus menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif, yaitu dengan cara merubah kebiasaan (meninggalkan kebiasaan buruk dan mempertahankan kebiasaan baik).

We are what we repeatedly do, success is not an action but a habit.
 - Aristotle -

(Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali, keberhasilan bukanlah tindakan tapi  kebiasaan.)

Berikut Fenomena Harimu paparkan 7 kebiasaan manusia efektif yang dilansir dari unggahan Youtube ‘The 7 Habits of Highly Effective People by Stephen Covey - Animated Book Review

Produktifitas tempat kerja
Image: Workplace [Pixabay]

Kebiasaan Efektif 1# Jadilah Proaktif


Menjadi proaktif artinya menyadari dan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan sehingga dapat merasakan dampaknya secara langsung pada diri kita sendiri. Kebalikan dari proaktif adalah reaktif, yaitu selalu fokus pada hal-hal yang tidak dapat mereka kendalikan, orang-orang reaktif lebih sering mengeluh daripada mengubah kondisi tersebut dengan cara mencari solusinya.

Pada kasus kemacetan misalnya, orang yang reaktif lebih suka mengeluhkan jalanan yang macet, bahkan menyalahkan pengguna jalan lain ataupun pemerintah. Padahal, yang dilakukan tersebut tidak akan mengubah apapun.

Justru sebaliknya, orang proaktif tidak suka mengeluh apalagi menyalahkan orang lain atau pemerintah, ia fokus untuk mencari solusi dari adanya kemacetan. Misalnya dengan cara berangkat lebih pagi agar tidak terjebak kemacetan atau memilih untuk menggunakan kendaraan umum dan berjalan kaki sehingga bisa membantu mengurangi kemacetan. Atau bila memungkinkan, memberikan solusi pada pemerintah.

Intinya, orang proaktif cenderung fokus pada apa yang bisa mereka kendalikan.

Kebiasaan Efektif 2# Merujuk pada Tujuan Akhir


Segala sesuatu dalam kehidupan kita dibuat dua kali yakni pikiran dan fisik. Kita menciptakannya pertama-tama dalam pikiran kemudian mengerjakannya secara fisik. Pikiran adalah bagian dari kepemimpinan pribadi, pengendalian dari kehidupan yang kita miliki.

Sebagai contoh, jika orang lain bertanya kepadamu, "Apa hal terpenting bagimu?" Jawaban paling umum yang akan kita katakan adalah mengenai kesejahteraandan hubungan kita dengan keluarga. Kita tidak akan pernah mengatakan, “menonton televisi”, bukan? Namun berapa banyak dari kita yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada merencanakan masa depan, pergi berolahraga secara teratur atau menumbuhkan lingkungan keluarga yang sehat?

Bagaimana sebenarnya kita mengalokasikan waktu kita ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan katakan tadi. Tidak sinkron dari apa yang diucapkan, apa yang diangankan, apa yang diimpikan atau rencanakan dengan aktifitas yang dilakukan.

Hal yang bisa kita lakukan adalah mengembangkan pernyataan misi, filosofi atau paham pribadi. Ini akan membantumu fokus pada apa yang kamu inginkan yaitu ‘menjadi’ (karakter), ‘mengerjakan’ (kontribusi dan pencapaian) dan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip atas dasar keadaan dan apa yang dikerjakan olehmu.

Pernyataan misi pribadi memberikan kita suatu pusat tumpuan yang tidak berubah. Sehingga dapat menjadi kendali ketika terjadi ketidaksesuaian antara pikiran dan fisik kita.

Kebiasaan Efektif 3# Dahulukan yang Utama


Mendahulukan yang utama berarti melakukan manajemen waktu, dimana merupakan keahlian penting untuk manajemen pribadi. Inti sari manajemen waktu adalah mengelola dan melaksanakan prioritas. Salah satu tahapan dalam metode manajemen waktu yang telah dikembangkan adalah:

  1. Catatan dan checklist (untuk mengenali berbagai kebutuhan);
  2. Kalendar dan buku agenda (untuk menjadwalkan acara dan aktivitas); 
  3. Memprioritaskan, memperjelas nilai-nilai (untuk menyatukan perencanaan harian dengan sasaran);
  4. Mendisiplinkan diri -atas ketiga hal tersebut.

Kebiasaan Efektif 4# Berpikir Menang-Menang


Berhentilah memikirkan segalanya sebagai permainan menang-kalah. Bagimu untuk menang, orang lain tidak harus kalah. Berpikir menang-menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan dan didasarkan pada sikap saling menguntungkan antara semua pihak yang bersangkutan.

Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung –dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Seperti halnya win-win solution.

Jabat tangan
Image: Handshake [pexels]

Kebiasaan Efektif 5# Berusaha untuk Mengerti, Baru Minta Dimengerti


Ketika orang lain bicara, kita selalu ‘mendengar’ pada satu dari empat level: mengabaikan, pura-pura, mendengar dengan selektif, atau mendengar dengan penuh perhatian. Kita harus menggunakan yang kelima (bentuk tertinggi dari mendengar) yaitu mendengar dengan empati.

Mendengar dengan empati adalah mendengar dengan seksama untuk mengetahui kerangka referensi dan perasaan orang lain. Kamu mesti mendengar dengan telinga, mata dan hatimu. Karena manusia sangat membutuhkan daya tahan psikologis - untuk dimengerti, diteguhkan, disahkan dan dihargai, sebelum menjadi daya tahan fisik.

Jika kamu memfokuskan untuk mengerti, kamu bisa saja terpengaruh, dan ini adalah kunci untuk mempengaruhi orang lain. Semakin banyak menghargai orang lain, mereka akan menghargai kamu semakin banyak juga.

Kebiasaan Efektif 6# Wujudkan Sinergi


Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga –bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah serta memanfaatkan  peluang.

Tim atau keluarga yang sinergis adalah yang dapat memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya hasilnya lebih besar, mereka kejar kerjasama yang kreatif, jika didimensikan dalam matematika, maka seperti ini:
  • Bersinergi (1 + 1 = 3 atau lebih)
  • Sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2)
  • Tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½)
  • Sekedar kerja bersama (1 + 1 = 2)
Sebagai contoh, seorang penjual baso dan seorang penjual minuman yang awalnya bedagang masing-masing suatu hari memutuskan bersinergi untuk berjualan di depan sekolah swasta. Dengan bersinergi, penjual baso tidak perlu mengeluarkan modal tambahan dan menggaji tenaga baru untuk mengadakan minuman bagi para pelanggan yang membeli basonya. Sebaliknya, penjual minuman mendapatkan keuntungan juga yakni pelanggan penjual baso otomatis akan membeli minumannya ketika membeli baso.

Kebiasaan Efektif 7# Asah Gergajimu!


Kebiasaan yang ketujuh ini berkaitan dengan keseimbangan pembaharuan diri sehingga kebiasaan baik lainnya bisa tumbuh dan berkembang. Cobalah kamu datang kepada seseorang yang bekerja di perkayuan untuk menggergaji pohon. Mereka sedang bekerja dengan sangat lelah bejam-jam. Ajaklah agar mereka berhenti sejenak untuk mengasah gergaji. Mereka akan menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk menajamkan gergaji, saya sedang sibuk menggergaji!”

Padahal, mengambil waktu untuk mengasah gergaji. kamu bisa bekerja lebih cepat dan tanpa kesulitan.  Dengan melakukan pembaharuan diri, artinya memperbaharui empat dimensi dari sifat alamimu - fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional.

kebiasaan efektif ke-7 ini telah kami paparkan juga pada artikel Biarkan Dirimu Memulai Sesuatu.

Kebiasaan 1, 2 dan 3 adalah sesuatu yang berhubungan dengan diri pribadi (internal). Kebiasaan ini wujud kemenangan pribadi yang diperlukan untuk berkembangnya karakter pribadi.

Kebiasaan 4, 5 dan 6 adalah wujud kemenangan publik, kebiasaan ini juga berupa kerjasama dan komunikasi yang baik.

Kebiasaan ke 7 adalah pembaharuan diri dalam bentuk: spiritual, mental, fisik dan sosial/emosional, yang semuanya memerlukan perawatan dan pertumbuhan.

Ingin tahu lebih dalam karya stephen covey ini? Dapatkan bukunya dengan mengklik link dibawah ini:

Referensi:
FightMediocry. 2015. The 7 Habits of Highly Effective People by Stephen Covey - Animated Book Review. Youtube. Diakses: 8 Juli 2016
Rahardjo, Sumargi. 2008. Ringkasan Padat 7 Habits of Highly Effective People. MGI /Personal-Enhanced Public Project.
Badan Pusat Statistik. Pdf: Tujuh (7) Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif. pusdiklat. Diakses: 6 Juli 2017

Sunday, July 9, 2017

55 Kutipan Inspiratif Untuk Perspektif yang Lebih Baik

Perilaku orang pada dasarnya adalah penyesuaian kebutuhan dirinya terhadap lingkungan sekitar. Orang berperilaku dipengaruhi oleh lingkungan kemudian menyesuaikan terhadap kebutuhan diri.

Pemenuhan kebutuhan selalu berhubungan dengan nafsu manusia untuk memenuhi hal tersebut. Tidak seperti hewan yang tidak memiliki akal, manusia memiliki akal yang dapat berperan sebagai "pengontrol" nafsu.

Hal ini seperti dilarang makan, walaupun seseorang merasa lapar namun karena ia bertugas sebagai pengantar makanan dan yang sedang diantarnya adalah paket kue untuk konsumen. Maka orang berakal tidak akan memakan paket tersebut. Ia akan memakan makanan yang lain. Tentunya hal ini seperti akal berperan dapat mengontrol nafsu manusia.

Jika orang tersebut tidak berakal, saat ia lapar maka ia akan memakan paket tersebut. Kemudian ia akan dipecat, tidak mendapatkan upah yang bisa jadi lebih mengancam dari pada ketika saat ia merasa lapar.

Orang semakin berakal saat ia belajar. Kita diajari oleh orang tua untuk tidak mengambil hak orang lain, diajari untuk bertanggung jawab. Oleh guru disekolah kita diajarkan berbagai macam mata pelajaran. Buku yang kita baca juga menambah wawasan serta sudut pandang dalam memahami hal.

Kamu juga dapat memperoleh pembelajaran dari masalah yang sedang dihadapi. Sayangnya bukan masalah yang membuat orang berkembang melainkan "bagaimana" orang menyikapi masalah tersebut.

Hal ini tentunya lebih membawa kita lebih "sadar diri" atau dalam sifatnya "kesadaran diri." Sehingga kesadaran diri yang rendah dapat ditingkatkan dengan belajar, apapun pembelajarannya yang dapat membuatmu memiliki perspektif yang lebih baik juga menginspirasi kamu. 

Fenomena Harimu meyajikan file berupa pdf yang dapat kamu peroleh secara gratis yang merupakan kumpulan kutipan inspiratif berjumlah 55 kutipan.

College Students
Image: College Students [pixabay]

Daniel Goleman yang kaya akan gagasan emosional, Barry Gorden dengan gagasan kecerdasan daya ingat, Charles Duhigg penulis buku fenomenal The Power Habit, Allan & Barbara Pease yang juga memberikan wawasan interaksi dan masih banyak lagi para ahli yang membuat kami berterimakasih atas gagasannya yang dapat tertuang dalam file ini.


Yang dalam pikiran kita dianggap logis adalah refleksi kepercayaan-kepercayaan kita sendiri dan pedoman kita sendiri.
- Philip Houston -

Kutipan diatas adalah salah satu kutipan yang berada pada file PDF. Philip Houston adalah seorang mantan anggota CIA yang merupakan salah satu orang terbaik di dunia dalam membaca perilaku.

Uraian untuk kutipan tersebut adalah orang yang mengatakan logis tidak mutlak pernyataannya dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu. Selalu ada kemungkinan. Orang yang dengan mudahnya mengatakan “masuk akal” sebenarnya adalah “masuk akal” menurut dirinya sendiri atau menurut beberapa orang.

Beberapa kutipan kami uraikan agar dapat memberikan penjelasan lebih dalam.

Sebarkan jika dirasa bermanfaat untuk kamu juga orang-orang sekitarmu. Untuk orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangi kamu agar dapat memahami lebih baik dari sebelumnya.

Jika ada hal yang ingin kamu tanyakan, kamu dapat mengunjungi menu hubungi atau berkomentar dibawah postingan ini.

https://goo.gl/paFwTX
Free Download 55 Kutipan Inspiratif
Feel Success :)

Monday, July 3, 2017

4 Tahap Agar Tidak Terlalu Sayang

Setiap orang yang pernah berpasangan atau memiliki hubungan dekat pernah mendapati konflik yang terkadang dapat membuat mereka lepas hubungan. Dimulai dari saling mengenal, saling menyukai, saling sayang dan kemudian beberapa pasangan kembali terpisah.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, semua orang mengetahui hal tersebut. Ada perpisahan yang disepakati oleh kedua pihak atau lebih juga ada pula perpisahan yang diputuskan oleh salah satu pihak.

Perasaan yang diputuskan oleh salah satu pihak biasanya menyisakan emosi amarah, sedih, bahkan takut. Ia masih bergantung secara emosional, mudahnya ia masih menyayangi orang tersebut, masih mencintai, masih ingin melewati masa-masa menyenangkan, atau ingin kembali kepada masa menyenangkan.

Ia merindukan orang itu, jika ia sedih hingga berlarut maka ia depresi. Bagi kamu yang terlanjur sayang kepada orang lain dan ingin menjadi seseorang yang tidak selalu bergantung secara emosional terhadap "dia." you must read this article!

Fenomena Harimu, 4 Tahap Agar Tidak Terlalu Sayang

4 Tahap agar tidak terlalu sayang
image: Kesendirian [pixabay]

Tahap 1# Ekspresikan Perasaan


Kamu harus mengekspresikan perasaanmu. Kamu dapat bercerita dengan sahabatmu tentang masalahmu, menangis jika itu diperlukan, yang intinya adalah rasa sakit tersebut tidak untuk dipendam. Perasaan yang terpendam akan lebih terasa melegakan ketika hal tersebut diekpresikan.

Sehingga hal pertama yang sebaiknya kamu lakukan ketika merasa sedih adalah mengekspresikan kepada hal yang dapat membuat kamu menjadi tidak begitu merasa terbebani. Tidak membuatmu menjadi lebih down, yang membuatmu menjadi lebih semangat untuk kedepannya.

Oleh karena itu, perlunya sahabat baik, teman baik, keluarga atau siapapun orang yang dapat mendengar ekspresimu. Lebih baik kamu berada disekeliling orang-orang yang dapat men-support kamu, atau setidaknya ada seseorang

Kamu juga dapat mengekspresikannya melalui shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir atau meditasi hingga hatimu menjadi lebih tenang.

Tahap 2# Lihat Sekeliling!


Setelah kamu mengekspresikan sebagian atau [bahkan lebih baik] seluruh perasaanmu, maka kurang lebih kamu akan merasa lelah. Kamu butuh istirahat dan memang perlu untuk diistirahatkan walaupun bagi sebagian orang itu sulit.

Setelah itu sibukkan dirimu, ubah persepsimu atas kasih sayang yang kamu miliki. Apakah kamu akan terus merasa murung dan mengabaikan orang-orang yang menyayangi kamu seperti halnya orang tua, sahabat, atau saudara kandung hanya karena satu orang?

Hal ini bukan berarti kamu harus mengabaikan orang yang telah menyakitimu, silaturahmi harus tetap berjalan walaupun itu sulit. Yang akan kamu fokuskan adalah kemurungan pada dirimu. Saat kamu murung, atau depresi, maka kamu telah mengorbankan harapan orang-orang yang menyayangi kamu untuk melihatmu bahagia.

Kamu yang biasanya menjadi penyegar emosional orang-orang yang menyayangimu, kemudian mereka kehilangan penyegar tersebut. Mereka yang menyayangimu tidak ingin melihatmu murung. Kamu dapat mengekspresikan kesedihanmu, namun jika kesedihanmu itu berlanjut hal itu hanya membuat orang lain disekitarmu merasa seperti kehilanganmu.

Lihat sekelilingmu!
  • Mengapa kamu harus terlahir?
  • Apa tujuan hidupmu?
  • Apa yang diharapkan orang tuamu atas kamu?
  • Apa yang diharapkan orang-orang yang saat ini menyayangimu atas kamu?
  • Apakah kamu akan tetap seperti ini sampai akhir atau berusaha "bersinar" hingga akhirmu?
Your choice

Tahap 3# Sibuk dan Fokus!


Sibukkan dirimu, biarkan kesibukannmu mengambil alih apa yang otak kamu pikirkan. Kamu harus tenggelam dalam aktifasmu. Sebisa mungkin mendapatkan flow. Hal ini berguna mencegah kamu untuk kembali memikirkan orang tersebut yang tentunya mencegah kamu galau.

Rasa sakit "tidak disebabkan oleh rasa sakit itu sendiri namun disebabkan oleh peniliaian anda atasnya, dan anda puny akekuatan untuk dibangkitkan pada setiap saat."
- Marcus Aurelius -

Akan lebih baik jika kesibukanmu dapat menghasilkan reward seperti apresiasi dari keluarga, teman-teman, banyak orang, materi, atau peningkatan popularitas. Reward yang seperti itu dapat membuat orang seperti merasa "ketagihan."

Dan tetaplah rendah hati, hal ini dapat meningkatkan peluang bertemu dengan seseorang yang akan menikah denganmu. More Kindness, more attractive and keep strong.

Reward seperti itu dapat berguna menjaga konsistensi atas aktifitas yang kamu lakukan. Sangat jarang orang [bahkan kami pun belum pernah] yang dapat begitu konsisten melakukan sesuatu yang padahal hal yang ia lakukan tidak menghasilkan reward sama sekali.

Jika ia begitu konsisten terhadap sesuatu, ia memiliki pandangan jauh tersendiri bahwasannya dengan aktiftasnya yang ia geluti akan menghasilkan reward yang begitu besar [yang terkadang banyak sebagian orang yang melihatnya seperti aktifitas sia-sia.]

Agar Tidak Terlalu Sayang 4# Percaya


Percaya bahwa seseorang telah dipersiapkan untuk bersanding denganmu. Kamu perlu tampil menarik yang berarti tidak berarti penampilan fisik namun juga penyikapanmu terhadap lingkungan sekitarmu. Kindness is attractive. Kebaikan adalah daya tarik. Ya, siapa orang yang tidak ingin memiliki teman atau kenalan yang begitu baik padanya?

"Jodoh enggak kemana," jadi let it flow. Kemurunganmu hanya akan membuatmu jauh dari kata menarik. Pasrahkan jodoh hanya kepada Allah. Lakukan sebisa mungkin untuk kebaikan kamu dan lngkunganmu. More kindness, more attractive and keep strong.

Overall, cara pandangmu menyikapi lingkungan akan memengaruhi perasaanmu. Sebagian besar hal yang kita rasakan bukankah berasal dari apa yang kita alat indra kita tangkap?


Orang tidak akan cukup kuat untuk berdiri sendiri atau percaya bahwa dirinya tidak akan terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Karena manusia adalah makhluk sosial, berkelompok, dan emosional.

Referensi:
Goleman, Daniel. 2007. Social Intelligence. Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama