Friday, January 15, 2016

Bagaimana Topik Pembicaraan Mendadak Berubah

Pernahkah kita mengobrol bersama teman-teman lalu menyadari bahwa topik pembicaraan telah berubah?

"Ih, tadi tuh perasaan lagi ngomongin ini, kenapa jadi ngomongin yang lain?"
Setelah itu mereka sadar, lalu kebingungan dan menertawakan keanehan tersebut.

Sebenarnya topik pembicaraan tidak benar - benar mendadak berubah. Hanya saja banyak orang yang tidak sadar saat berlangsungnya perubahan topik.

Saya bersama 2 orang teman saya saat itu menaiki bus menuju stasiun. Didalam perjalanan saya duduk bersama orang lain sedangkan 2 orang teman saya duduk bersama diseberang. Didalam bus saya terbiasa menulis banyak hal di buku catatan saya, tentang sekeliling saya.

Memahami apa yang terjadi dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Saya adalah salah satu orang yang suka penasaran terhadap banyak hal, kelemahan dari sifat ini adalah cepat bosan disatu bidang.

Beberapa waktu kemudian didalam bus, dua orang teman saya sedang membicarakan topik proses perekrutan kerja. Saat itu perhatian saya menjadi tertuju pada pembicaraan mereka. beberapa lama kemudian saya baru menyadari bahwa topik pembicaraan mereka telah berubah menjadi kehidupan saat dikampus.

Bagaimana mereka mengubah topik pembicaraan mereka?


What are we talking about

Setiap interaksi membutuhkan:
  • Penyampai pesan
  • Penerima pesan
  • Efek
  • Media
  • Isi pesan
dan tahapan perubahan topik pembicaraan dimulai dari:

Penyampai Pesan

Berawal dari seseorang yang berperan sebagai penyampai pesan. Setiap awal terjadinya interaksi, penyampai pesan harus ada keinginan untuk menyampaikan pesan kemudian disampaikan melalui media

Media  

Media yang digunakan dalam interaksi tidak hanya sebatas mulut. Anggota tubuh yang lainnya juga dapat berperan sebagai media penyampai pesan. Kemudian perangkat elektronik, surat, dan lain-lain juga dapat digunakan sebagai media.


Isi Pesan

Apa yang diinginkan penyampai terhadap penerima disampaikan pada isi pesan. Isi pesan dapat berupa pertanyaan, perintah, dan pernyataan. Sekarang coba bayangkan teman kamu memerintahkan kamu untuk menutup pintu.  Kemudian, apa yang terjadi pada kamu?

Penerima Pesan

Saat pesan tersebut diterima melalui media pancra indra, barulah proses berpikir terjadi.


Efek

Disinilah terjadi perkembangan topik pembicaraan saat pesan mulai diterima oleh penerima pesan. Apakah efek pesan tersebut terhadap penerima? Sekarang coba perhatikan dibawah ini.

Proses perubahan topik pembicaraan
Image: Tiga cara berpikir



Pesan disampaikan yang kemudian diterima oleh penerima pesan.
Penerima pesan akan menggambarkan pesan berdasarkan database memorinya. Akan ada beberapa kesamaan antara pesan yang diterima dengan yang tergambar pada otak. Jika kita menerima pesan tentang "Kayu" maka kita akan menggambarkan hal yang berkaitan dengan kayu.
Gambaran pesan tersebut kemudian dibawa pada proses berpikir yang terbagi menjadi 3 bagian.
Setelah  menghasilkan respon pesan baru yang merupakan hasil dari proses berpikir. Disinilah peran penerima berubah menjadi penyampai pesan. 
Kahneman (2002) membagi automatically thinking menjadi 2 bagian yaitu sistem 1 dan sistem 2. Sistem 1 adalah proses berpikir cepat, berdasarkan intuisi, tidak bergantung pada faktor yang relevan, dan tanpa usaha lebih. Dan sistem 2 merupakan proses berpikir lambat, penuh perhitungan, bergantung faktor yang relevan, berdasarkan alasan dan penuh usaha.

Thinking socially merupakan proses berpikir secara sosial. Kita adalah individu sosial yang dipengaruhi oleh pilihan sosial, jaringan sosial, identitas sosial, dan norma-norma sosial. Banyak orang yang peduli dengan apa yang orang lain lakukan disekitarnya, bagaimana cara mereka menyesuaikan dalam kelompok dan mereka meniru tingkah laku secara hampir tidak sadar (otomatis). 

Selain itu, masyarakat sosial secara tidak sadar dipengaruhi oleh ekspektasi sosial, penerimaan sosial, pola dari kelompok, kepedulian dalam kelompok dan norma-norma sosial. Imformasi lebih jauh berkaitan dengan pengaruh orang lain terhadap seseorang dapat kamu temui pada "Pengaruh Orang Lain terhadap Perkembangan Manusia."

Pada Thinking with mental models, manusia membuat pilihan dan menafsirkan pengalaman mereka berdasarkan situasi dan budaya. Mental model terbentuk dari pemahaman mereka tentang apa yang benar, apa yang secara alamiah, dan kemungkinan apa yang terjadi pada hidup. Mental models datang dari bagian kognitif interaksi sosial yang sering disebut sebagai kebudayaan. Kebudayaan mempengaruhi keputusan manusia dalam bertindak karena didalamnya terdapat arti dan makna.

Sekarang coba perhatikan contoh dibawah ini.  
Contoh cara berpikir
Image: Contoh 3 cara berpikir

Kemana Arah Topik Pembicaraan?

Setiap pelaku interaksi dapat mengarahkan pembicaraan pada topik yang diinginkan, namun terkadang beberapa orang lupa untuk meluruskan kembali ke topik pembicaraan awal. Dalam suasana santai, orang tidak akan mempertimbangkan topik pembicaraan yang terjadi, namun akan berbeda jika dalam suasana serius, atau formal. Oleh karena itu suasana formal dibutuhkan moderator yang bertugas meluruskan topik agar tidak menyimpang.

Dalam interaksi, banyak orang yang tidak sepenuhnya sadar dalam mengarahkan topik. Lawan bicara dapat mempengaruhi dalam berpikir dan bertindak. Dalam contoh diagram "baju" diatas, kemungkinan apa yang terjadi jika kamu berbicara bersama orang tua? mungkin mereka akan mengatakan "beli baju dimana?", "Berapa harganya", "Emang bagus?" dan sebagainya. Jika lawan bicara adalah seseorang yang fokus terhadap budaya atau agama mungkin mereka akan mengatakan "Itu baju sopan kan?", "Bajunya tidak melanggarkan?" dan sebagainya.
 
Setiap kata dapat memberikan sebuah gambaran, apa yang tergambar akan memberikan aksi. Jadi berhati-hati dengan sesuatu yang diucapkan agar tidak memberikan aksi yang tidak diharapkan. Semoga hari-hari kita lebih berkualitas dari hari sebelumnya.

 

Referensi:
Kahneman, Daniel
(2002). Thinking fast and slow. [e-book]
Laswell, Harold. Daftar definisi komunikasi. (wikipedia, diakses tanggal 10 januari 2016)
World Bank Group. World Development Report 2015. (worldbank, diakses  12 Desember 2015)