Wednesday, April 6, 2016

4 Tahap Bagaimana Kesan Pertama Terbentuk

Rio, anak 4 tahun berada dirumah sakit menjenguk salah satu pamannya bersama keluarganya. Di lorong rumah sakit, dia mellihat seorang muda berkacamata, berwajah bersih, menggunakan pakaian putih, celana bahan, sepatu yang mengkilap serta berjalan sambil membawa stetoskop.

Rio bertanya kepada ibunya, "bu, yang dipegang orang itu apa?". Ibunya menjawab "oh itu stetoskop nak, kalo meriksa orang sakit, dokter biasanya make itu. Rio mau jadi dokter kaya orang itu?".

Kemudian tiba-tiba seorang bapak dan ibu tua, menghampiri pria muda tersebut. Wajah mereka terlihat sangat panik dan khawatir. Sambil terburu-buru si bapak bertanya pada pria tersebut. "Dok, dimana anak saya yang sejam lalu dibawa kesini?, yang tertabrak dok."

Si pria muda bingung dan kemudian menjawab "maaf pak bu, saya bukan dokter. Istri saya seorang dokter disini, dan saya ingin membawakannya stetoskop karena tertinggal di mobil."

Ibu rio, "Ayo nak, kita buru-buru harus menjenguk paman!"

Dokter
Image: dokter [pixabay]

Apa yang kita peroleh dari cerita diatas?

Apakah Anda juga menyangka bahwa pria muda tersebut adalah seorang dokter? Jika iya, tak apa itu wajar.
Jika Anda menyangka bahwa pria tersebut adalah seorang yang seperti diskenariokan diatas sepertinya Anda memiliki sudut pandang yang luas.

Namun FH tidak akan memaparkan apakah Anda seorang yang memiliki pandangan luas atau umum. Fenomena Harimu akan memaparkan bagaimana kesan pertama seseorang terbentuk.

Ditulisan ini, FH tidak memaparkan bagaimana kita memiliki kesan terhadap warna objek, atau hal yang spesifik seperti membentuk kesan seorang dokter, satpam, manajer bahkan koki.

Yang kita peroleh dari cerita diatas adalah bagaimana seseorang membentuk kesan terhadap suatu objek pengamatannya.

Tahapan seseorang membentuk kesan pertama terhadap objek pengamatan


Kita ambil sample sedikit dari cerita diatas. Seorang ibu melihat pria yang dilihatnya juga oleh Rio yaitu seorang pria muda berkacamata, berwajah bersih,...berjalan sambil membawa stetoskop.

Energi masuk sama dengan energi keluar atau lebih tepatnya ada aksi ada reaksi. Artinya kita tidak akan mengatakan atau bereaksi terhadap sesuatu jika kita tidak menerima aksi dari luar.

#1 Sensor melalui Alat Indra


Dan kita tahu bahwa alat indra adalah hal yang menghubungkan kita dengan dunia luar. Sehingga seharusnya kita telah mendapatkan data dari luar sebelum kita membentuk kesan. Dan pada cerita diatas, semua sebagian data diterimanya melalui penglihatannya.

Menurut para psikolog, alat indra terdiri dari 9 hanya saja kita lebih mengenal 5 diantaranya yang biasa kita sebut dengan panca indra. 9 alat indra tersebut adalah

  1. Penglihatan
  2. Pendengaran
  3. Penciuman
  4. Perasa
  5. Peraba
  6. Vestibular (Keseimbangan)
  7. Kinestetis
  8. Temperatur
  9. Rasa sakit 

Dalam keadaan aktifitas sehari-hari. Kita lebih cenderung menggunakan 5 dari 9 alat indra tersebut. Para peneliti ialah Dr. L.D. Rosenblum, Dr. Harold Stolovitch dan Dr. Erica, meneliti 5 alat indra tersebut untuk mengetahui perbandingan persentase terhadap informasi yang diserap seseorang dalam waktu yang sama.

Presentase Informasi
Image: Presentase Informasi


Para peneliti tersebut hanya meneliti 5 dari 9 alat indra. Dan sampai sekarang FH belum mendapatkan data mengenai sisanya. Namun inti dari bagian ini adalah Alat indra sebagai gerbang awal kita membentuk kesan terhadap objek.

#2 Penyimpanan informasi di otak


Saat kita pertama kalinya melihat dokter (mungkin di TV, buku gambar, atau bertemu langsung sewaktu balita), para dokter hampir selalu terlihat rapih, pakaian yang terlihat dominan putih, dan menggunakan jubah putih.

Ini adalah proses perekaman informasi dari luar melalui alat indra.  proses ini adalah tahap pertama dari memori.

Kemudian yang selanjutnya adalah proses penyimpanan. Semua data tersebut tersimpan di otak yang suatu hari kita akan mencocokkannya kembali.
Pengkategorian Informasi
Image: Pengkategorian Informasi


Semakin bertambahnya usia kita melihat para pemuka agama terlihat rapih, dan berpakaian putih. Ternyata kita juga melihat ahli kimia yang sedang bekerja di laboratorium terlihat rapih dan berpakaian putih.

Kita tidak lagi dengan kata kunci "jubah, putih, rapih," selalu dikategorikan kedalam dokter.
Laksana searching di mbah google. Kata kunci "jubah, putih, rapih," sudah menghasilkan hasil pencarian yang bermacam-macam.

Untuk memunculkan kesan dokter. Kata kunci yang digunakan harus lah lebih spesifik. Seperti, putih, jubah, stetoskop, pasien, rumah sakit, perawat, profesi, rapih dan lain-lain.

Dan semakin banyak kata kunci yang digunakan, maka hasilnya semakin akurat.

Mendapatkan kata kunci dalam jumlah banyak


Untuk menyelesaikan suatu persolan, kita lebih suka para pakar menyelesaikan permasalahan tersebut untuk kita. Karena mereka telah melewati banyak pengalaman sehingga menyelesaikan masalah dengan mudah.

Mereka memiliki banyak informasi dan data sebagai "kata kunci" dari pengalaman-pangalaman mereka. Sebelum mereka menjadi pakar, mereka adalah sama seperti kita yang sebelumnya tidak tahu apa-apa.

Untuk menjadi seoarang pakar, Anda harus membiarkan diri Anda memulai langkah pertama Anda. Tidak cukup penting seberapa lama pengalaman yang kamu miliki, yang terpenting adalah seberapa kualitas pengalaman yang telah kamu lewati.

Jika seorang guru memiliki pengalaman selama 10 tahun, setiap minggunya dia mengajar 1 hari dan setiap harinya tidak lebih dari 1 jam. Bandingkan dengan seorang guru yang memiliki pengalaman selama 10 tahun, namun setiap minggunya dia mengajar 6 hari dan setiap harinya dia mengajar 3 jam.

Jika kita meminta mereka membuat biodata, mungkin kita tidak memiliki perbedaan spesifik antara keduanya karena mereka menulis "telah berpengalaman selama 10 tahun."

Hasil adalah bagian terpenting dari pencapaian seluruh aspek kehidupan kita, Namun kita tetap fokus pada proses.
Tweet: Hasil adalah bagian terpenting dari pencapaian seluruh aspek kehidupan kita, Namun kita tetap fokus pada proses.


Sehingga, inti dari sub bab ini adalah kesan pertama terbentuk dari kecocokan informasi dari luar dengan masa lalu seseorang. Semakin Anda berpengalaman, semakin akurat Anda menebak.

Firasat yang menjanjikan adalah firasat yang menyentuh bidang yang anda ketahui, meskipun hanya sedikit menyentuh bidang tersebut. Inilah yang membuat pakar menjadi "penebak" yang baik.

#3 Mengolah informasi bersama bumbu Memori.


"Semakin Anda berpengalaman semakin akurat Anda menebak" dan kemudian menjadikan Anda keras kepala karena Anda lebih tua serta telah memiliki banyak pengalaman.

Para orang tua sering menasehati anaknya berdasarkan pengalaman mereka, sehingga "kamu jangan mengambil keputusan seperti itu, itu tidak benar, bapak/ibu udah banyak pengalaman soal yang begitu."

Anak itu sebaiknya tidak menentang, karena orang tua tersebut tidak salah namun hanya saja penyampaian yang kurang tepat.

kata "jangan" adalah salah satu paket praktis untuk menjelaskan pengalaman masa lalu.

Sebaiknya orang tua tersebut melihat latar belakang anaknya mengapa dia melakukan atau berkata ini itu, setelah itu jelaskan masa lalu yang serupa dengan permasalahan tersebut. Bandingkan kedua kubu tersebut dengan kondisi saat ini. Ambil setiap hal dari kedua kubu yang sesuai dengan kondisi saat ini.

Terdengar mudah, namun saya yakin tidak semudah ini. Namun yang jelas, orang tua dapat melihat sudut pandang anaknya terhadap suatu permasalahan dan bagitu pula anaknya dapat melihat sudut pandang orang tuannya.

Hal ini menjadikan pandangan mereka luas, lebih terbuka, dan mengerti satu sama lain.

Kegiatan berpikir secara realistis


Salah satu macam dari kegiatan berpikir adalah berpikir secara realistik. Didalam kegiatan tersebut, seseorang akan berpikir apakah dia berpikir secara deduktif, induktif, atau evaluatif.

Saya melihat dan mendengar kisah orang-orang sukses selalu dididik keras oleh para orang tuanya. Kalau begitu saya akan mendidik anak saya dengan keras, agar dia sukses dimasa depannya.

Hal ini disebut berpikir secara deduktif yaitu dari umum ke khusus.

Anak saya bisa sukses di kelas karena saya mendidiknya dengan kasih sayang, saya tidak menyuruh paksa dia belajar atau men"cengkok"nya dengan aktifitas les tambahan. Sebaiknya jika anak Anda ingin sukses, jangan dididik mereka dengan keras. Lihatlah anak saya.

Hal ini disebut berpikir secara induktif yaitu dari khusus ke umum.

Anak saya bisa sukses karena dia laki-laki yang belajar apa yang seharusnya dilakukan laki-laki melalui saya sebagi mentor nya. Karena saya seorang pria, saya harus mendidiknya menjadi laki-laki yang siap menghadapi berbagai masalah. Menjadikannya kuat, dan dapat memimpin keluarganya kelak.

Dan istri saya harus mendidiknya dengan kasih sayang seorang ibu, yang membuat anak laki-laki saya dapat memahami perempuan serta sosial. Dan figure ibunya akan menjadi standar dirinya dalam mencari pendamping hidupnya.

Pendamping hidup pilihan anak saya, harus lebih baik dari sosok ibunya atau setidaknya mirip dengan ibunya.

Sedangkan jika anak saya seorang perempuan, dia harus belajar memahami pria dari saya. Saya harus memberikannya contoh bahwa seorang pria yang baik harus bertanggung jawab, berani, dan bisa memimpin.

Sehingga anak perempuan saya akan memilih pendamping hidup seperti ayahnya atau bahkan lebih baik dari ayahnya.

Sedangkan istri saya akan mendidiknya menjadi seorang ibu yang baik. Dia harus belajar menjadi seorang yang "menyembuhkan". Lembut tutur katanya, bertanggung jawab terhadap suami, dan juga menjadi contoh untuk perempuan yang lain.

Hal ini disebut berpikir secara evaluatif yaitu berpikir kritis berdasarkan pertimbangan kondisi serta informasi yang tersedia, tepat atau tidaknya suatu gagasan.

Sampai sini referensi kesan terbentuk berdasarkan apa yang dilihatnya setiap hari apa yang orang lain lakukan (deduktif), berdasarkan referensi figure salah seorang bahkan sedikit orang (induktif), atau berdasarkan analisa yang sering dilakukan setiap hari seperti para pakar (evaluatif).

#4 Pembentukan Kesan


Seperti halnya adonan kue yang diolah, sebuah kue harus dibentuk sesuai yang diinginkan pembuat agar usaha yang dilakukannya memiliki hasil yang disebut "kue" itu sendiri.

Berawal dari alat indra, kemudian dimasukkan kedalam otak. Diolah bersama informasi yang baru diterimanya dengan memori masa lalunya. Setelah itu menjadi referensi kesan.

Pembentukan kesan berkaitan dengan waktu hingga akhirnya kesan tersebut benar-benar terbentuk.
Seorang peneliti, Peter Turner ketua Experian Credit Expert mengatakan bahwa kesan pertama dihitung dari awal perjumpaan hingga menit kedua.

Malcolm Gladwell dalam bukunya (blink) mengatakan bahwa kesan pertama terbentuk saat 2 detik pertama. Jika kita gabungkan keduanya, Itu berarti kesan pertama terbentuk dari 2 detik pertama hingga menit kedua.

Diceritakan oleh Malcolm, seseorang mengaku memiliki patung dari abad ke enam sebelum masehi. Kemudian mendatangi sebuah museum di california, dan pihak mueseum melakukan penelitian terhadap patung tersebut.

Setelah diteliti, mereka berkesimpulan bahwa patung tersebut memang asli. Dan akhirnya pihak museum pun membelinya.

Kemudian suatu hari saat patung tersebut dipamerkan, pemahat profesional serta pakar sejarawan datang dan melihat patung tersebut. Kesan pertama yang dilihat pakar terhadap patung tersebut adalah "segar".

Bagaimana mungkin sebuah patung yang dibuat ribuan tahun yang lalu dapat dikatakan "segar" seolah olah patung tersebut baru tercipta beberapa bulan.

Pihak museum yang khawatir kemudian melakukan penelitian ulang hingga 14 bulan. Dan akhirnya terbukti bahwa patung tersebut palsu.

Untuk meneliti sebuah patung, para pakar tidak menggunakan waktu hingga berbulan-bulan untuk mengetahui keaslian patung tersebut. Mereka hanya mengandalkan kesan pertama.

Mengapa dua detik hingga dua menit?


Setiap hasil pasti melalui proses, dan proses selalau membutuhkan waktu dan usaha. Ketika otak kita telah berpengalaman, tentunya kita tidak membutuhkan usaha yang ekstra untuk mencapai hasil tersebut.

Para pakar mungkin lebih sering mencapai 2 detik tersebut, karena mereka telah berpengalaman. Sedangkan kita, membutuhkan waktu hingga 2 menit untuk mendapatkan kesan.

Dan sayangnya, kesan yang kita bentuk biasa tidak lebih akurat dari para ahli walaupun menggunakan waktu yang lama

Selama 2 menit, mata kita tetap terbuka untuk mengamati objek. Informasi terus masuk selama waktu tersebut membuat otak kita mengolah lagi dan lagi. Hal tersebut semakin menguatkan kesan yang kita bentuk dalam otak kita.

Hal ini berkaitan dengan proses yang berulang-ulang, hingga akhirnya kesan itu sampai benar-benar terbentuk. Sebelum dua detik pertama, kita sudah mendapatkan informasi melalui alat indra kita kemudian memprosesnya. Hanya saja hasilnya masih tidak berbentuk.

Mungkin jika dianalogikan seperti halnya membangun sebuah bangunan, batu bata adalah informasi baru, memori adalah pondasinya, semakin batu bata itu tertumpuk berdasarkan pondasi yang menahannya maka suatu saat akan terlihat seperti apa bangunan tersebut.

Setelah kesan terbentuk, informasi akan tetap terus masuk dan informasi tersebut hanya akan menjadi properti yang mendukung bangunan.

Kategori pembentukan kesan


FH memahami teori pembentukan kesan yang pernah disampaikan oleh Jalaludin Rakhmat dalam buku Psikologi komunikasi bahwa kesan yang terbentuk akan masuk kedalam salah satu dari 3 kategori.

  1. Stereotyping, contoh dokter diatas merupakan kesan yang termasuk dalam kategori stereotyping. Sepertinya dia seorang dokter, sepertinya "kamu bekerja di didang pertahanan dan keamanan, apakah kamu tentara?"

  2. Implicit personality Theory, suatu kesan yang sulit untuk diungkapkan, kita hanya mengetahui bahwa sepertinya dia pria yang baik, atau "entah mengapa saya merasa nyaman berada didekatnya".

  3. Atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud dan karakteristik orang lain dengan melihat para perilaku yang tampak. (Baron dan Byrne, 1979:56). Sepertinya dia akan melakukan hal yang kurang baik, sepertinya "dia melakukan hal tersebut karena ini dan itu".


Peninjauan ulang secara singkat.

4 Tahap kesan terbentuk
Image: 4 Tahap Kesan Terbentuk

Kesan pertama terbentuk dari informasi yang diterima melalui alat indra, kemudian masuk kedalam memori, informasi tersebut di proses dan menghasilkan kesan.

Tambahan, memori kita tidak mengusahakan untuk mengingat objek kemudian memunculkannya kembali seperti menghafal sebuah list dengan mudah. Pada kesan lebih cenderung bersifat bawah sadar.

Semakin lama dalam menentukan kesan mengindikasikan proses yang lama, informasi yang terus masuk serta pemrosesannya lagi dan lagi akan menguatkan bentuk kesan. (Kuat tidak berarti benar atau salah)

Bagaimana Anda memasukkan kategori tersebut? hal itu berdasarkan bagaimana Anda berpikir.

Semoga pemaparan ini bermanfaat bagi kita semua untuk tidak "meremehkan" kesan sehingga kita lebih memerhatikan penampilan. Ingat, memerhatikan penampilan tidak berarti trend modern.

Namun baik atau burukkah pengaruh tersebut pada masyarakat yang melihatnya, kesan apakah yang dibentuk oleh masyarakat dan itulah (pentingnya pengaruh) yang melatarbelakangi dibentuknya Fenomena Harimu.

Masih belum puas dengan artikel ini?
Kami merekomendasikan buku Psikologi Komunikasi dibawah ini yang menjadi referensi sebagian besar dalam tulisan ini.

Psikologi Komunikasi
Click picture to get a book

Sinopsis:

Dengan komunikasi, kualitas hidup kita, hubungan kita dengan sesama manusia dapat ditingkatkan dan diperbaiki. Ditambah dengan pendekatan psikologi, menjadi lebih menarik. Psikologi menukik ke dalam proses yang mempengaruhi perilaku kita dalam komunikasi, membuka "topeng-topeng" kita, dan menjawab pertanyaan "mengapa".

Bagi yang ingin memperbaiki komunikasi yang kita lakukan, buku ini memberi tinjauan yang lengkap tentang psikologi komunikasi, yang mencakup manusia komunikan, sistem komunikasi intrapersonal, interpersonal, komunikasi massa, psikologi komunikator dan psikologi pesan.




Referensi:
Ekasari, Eya. 2011. Kesan pertama terbentuk dalam waktu 119 detik. Wolipop[dot]com. diakses 3 april 2016
Gorden, Barry, M.D., Ph.D., dan Lisa Berger. 2006. Memori Inteligen.  Jakarta: Esensi erlangga group
Gladwell, Malcolm. 2009. Blink: Kemampuan Berfikir tanpa berfikir. Jakarta: gramedia
Hurt, jeft. 2012. our Senses Are Your Raw Information Learning Portals. velvetchainsaw. Diakses 6 maret 2016
Rakhmat, Jalaludin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset Bandung