Thursday, May 19, 2016

Mengapa Kita Merindukan Orang Lain

Hal yang biasa kita ketahui ketika merindukan orang lain ialah dikarenakan mereka adalah orang yang kita sayangi atau cintai. Kita jauh dari mereka dan menginginkan keberadaan mereka dekat dengan kita.

Mereka memberikan hal yang membuat kita merasa bahagia sehingga kita ingin mengenangnya kembali. Kita berharap kebahagiaan seperti saat itu dapat terjadi juga pada saat sekarang.

Namun anehnya, bahkan kita pernah merindukan orang lain yang padahal mereka sudah berada dihadapan kita. Kita merindukan mereka yang seperti dahulu, bukan mereka yang sekarang. Atau dalam fenomena yang biasa kita dengar, "kamu sudah tidak seperti dulu, kamu yang sekarang bukan kamu, saya rindu kamu yang dulu."

Fenomena Harimu, dilatarbelakangi keberadaan sang penulis yang jauh dari kampung halaman dan mulai merasakan rindu. Serta beberapa buku dan artikel yang pernah saya baca. Terinspirasi dan mencoba memaparkan mengapa kita sebagai manusia merindukan keberadaan orang lain.

Miss
Image: missing [pixabay]

Sebagai manusia yang memiliki emosi


Emosi yang dimaksud bukanlah "marah, geram, kesal" atau sejenis. Yang kami maksud adalah manusia makhluk yang emosional. Mereka berekspresi dan saling bertukar pesan informasi dan "rasa /perasaan" dalam interaksi antara manusia.

Manusia memiliki 6 emosi dasar secara global, yaitu salah satunya adalah kesedihan. Kesedihan disebabkan merasa hilang atau berkurang suatu hal yang menurut kita penting dan menyebabkan kita kembali menyusun kepingan hal yang tersisa.

Saat merindukan orang lain seperti orang tua, teman, atau suami/istri, kita menyusun kembali hal yang kita miliki berkaitan dengan orang tersebut. Kita melihat foto mereka. Beberapa diantara kita "menyusun" dengan memutar musik, sebuah benda kenangan, atau bahkan aroma parfum.

Intinya setiap orang melakukan apapun yang menurutnya dapat meningkatkan keberadaan seseorang tersebut dengan cara menyusun hal yang tersisa yang dimilikinya.

Selain itu, handphone atau smartphone menjadi benda yang paling favorit. HP dapat meningkatkan keberadaan seseorang seperti mendekatkan yang jauh [dan menjauhkan yang dekat (Kata banyak orang)].

Diatas adalah hal yang kita lakukan ketika kita merindukan orang lain. Namun dibawah ini FH mengkhususkan "bagaimana perasaan rindu tersebut hadir pada kita." Berikut hipotesis kami:

#1 Kita merindukan orang lain secara tidak sengaja "terpancing" melalui alat indra yang kita miliki.


Semua bentuk kegiatan berpikir bermula dari alat indra yang dilanjutkan dengan memori. Kita tidak menyadari bagaimana kita secara tiba-tiba merindukan orang lain. "Kok, tiba-tiba saya kangen... [bla bla bla]", mungkin kalimat itulah yang biasa kita dengar.

Namun beberapa diantara kita juga mengetahui hal yang dapat menyebabkan dirinya merasa kangen. "film ini ngingetin saya dengan dengan dia, jadi pengen ketemu dia." atau "aroma rendangnya seperti masakan ibu saya, jadi kangen rumah.."

Apa yang ia lihat, yang ia dengar, cium, rasa, atau raba  mengingatkan dirinya akan masa lalunya. 5 hal inilah yang kita ketahui sebagai panca indra. Namun beberapa psikolog mengatakan bahwa alat indra yang dimiliki manusia berjumlah 9 (temperatur, keseimbangan tubuh, kinetetis, dan rasa sakit.)

Segala hal yang berkaitan dengan ingatan, selalu didahului oleh hal yang ditangkapnya dari lingkungan [serta melalui seluruh alat indra yang kita miliki.]

Kemudian bagaimana perasaan rindu yang muncul secara tiba-tiba, dalam keadaan kita termenung, melamun, atau "bengong"?

#2 Karena perhatian kita tidak terfokuskan pada suatu hal


Beberapa diantara kita mengetahui bahwa untuk melupakan orang lain, kita harus disibukkan oleh aktifitas yang menyenangkan. Dan kemudian kita menjadi terfokuskan pada aktifitas tersebut dan otak kita tidak bekerja untuk masa lalu.

Kita juga mengetahui bahwa beberapa orang yang sibuk, workaholic, atau sukses dalam karirnya hampir selalu melupakan pasangan atau anaknya. Pertimbangan mereka ketika mengutakan kesibukannya dikarenakan penghargaan (reward) yang diperoleh lebih tinggi, kesibukan yang dilihatnya sebagai tantangan, lebih nyaman pada kesibukannya, dan desakan target/ deadline (pressure). 

Hal ini erat kaitannya dengan fenomena flow, suatu kondisi seseorang yang tidak menyadari kerja kerasnya karena terlampau mencintai aktifitasnya.

Mereka yang sibuk lupa pada tanggung jawab mereka, walaupun mereka mengatakan "saya bertanggung jawab, saya mengerjakan tugas-tugas kantor untuk menafkahi keluarga. Jika tidak ada saya, keluarga makan apa?" namun tanggung jawab tidak hanya sebatas kalimat tersebut.

Seorang suami sebagai pemimpin keluarga yang berarti punya sifat kepemimpinan yang dapat mempengaruhi keluarganya untuk menjalani hidup yang baik untuk masa depan keluarganya, bukan sebatas hanya sebagai pencari uang.

Disisi lain, mereka yang disibukkan dalam karirnya dapat membuatnya melupakan masa lalu. Lebih tepatnya seluruh tubuhnya fokus pada apa yang ia kerjakan saat itu, dan saat itu jugalah dirinya tidak memberikan kesempatan untuk mengingat masa lalu.
 

Sibuk berkelanjutan dapat menjadikan seseorang "move on" dengan sukses.
 Tweet: Sibuk yang berkelanjutan dapat menjadikan seseorang


#3 Kita tidak mengingat apapun selain "rasa/sensasi" saat bersama orang-orang yang kita rindukan.


Jika saya bertanya, mengapa kamu merindukan mereka? mungkin kamu menjawab, "karena mereka orangnya asik, karena mereka membuat saya bahagia dan bebas." Pertanyaan selanjutnya, mengapa mereka bisa membuat kamu merasa bebas? atau mengapa kamu bisa mengatakan asik untuk mereka? "hmm... nggk tau, yaa.. ngerasa enak aja dekat dengan mereka."

Ketika bertemu dan kemudian berpisah, orang sangat kecil kemungkinan mengingat kalimat apa yang diucapkan, bagaimana dia bertingkah laku, atau bagaimana tampilan mereka. Kita hanya mengingat sensasi yang dimunculkan oleh orang tersebut.

Ini yang menyebabkan kita merasa senang atau waspada jika bertemu kembali dengan orang. Siapa penyanyi idolamu? mengapa kamu mengidolakannya? "karena mereka memiliki suara yang bagus, lagunya enak-enak, penampilannya selalu memukau, wajahnya cantik dll."

Atau, siapa yang kamu anggap seseorang yang paling berwibawa? mengapa kamu memilih dia? "karena dilihat dari pakaiannya, cara berjalannya, suaranya." Apa yang ia pakai? memang seperti apa berjalannya? suara yang bagaimana?

Jika kita lihat jawaban diatas, tidak ada satupun yang menjelaskan secara pasti dan rinci mengapa dia mengidolakan penyanyi atau kewibawaan seseorang.

Seperti halnya dengan rindu. Kita tak tahu pasti mengapa kita merindukan orang tersebut. Yang kita tahu adalah dirinya dapat membuat kita merasa menjadi diri kita, memberikan rasa nyaman serta aman, dan membuat kita bahagia.

Kesimpulan: mengapa kita merindukan orang lain


Karena kita memunculkan hormon bahagia seperti endorfin, serotonin, dopamin, dan eksitosin sehingga kita memeroleh emosi "kebahagiaan". Karena bahagia dapat membuat orang menjadi ketagihan dan menyebabkan candu.

Kemudian orang menginginkan kembali emosi "kebahagiaan" nya yang menurutnya dapat dimunculkan oleh seseorang yang dapat membuatnya bahagia.

Namun jika orang tersebut tidak memeroleh kebahagiaannya bersama orang [yang dapat membuatnya bahagia seperti waktu] itu. Dia akan merasa sedih dan mulai mecoba menyusun berbagai macam hal yang dapat membuatnya merasa bahagia bersama orang tersebut.

Kemudian dia melihat foto, menghubungi orang tersebut, atau bahkan bepergian untuk bertemu. Inilah rindu.

puzzle
Image: puzzle [pixabay]

Tambahan: merindukan orang lain tidak selalu mereka yang sahabat dekat, orang tua, atau pasangan hidup yang jalinan interaksinya sudah cukup lama.

Kita juga dapat merindukan orang lain yang padahal kita baru bertemu dengannya pertama kali. Kita tertarik padanya saat kesan pertama. Bagaimana kesan pertama terbentuk?

Referensi:
Edwards, Van Vanessa. 2014. How Your Emotions Are Contagious. Youtube. Diakses: 18 Mei 2015
Rakhmat, Jalaludin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset Bandung >>Dapatkan bukunya

2 comments

Semoga segera dipertemukan mbak :)

Balas June 25, 2016 at 8:29 PM