Saturday, June 18, 2016

Mengapa Dua Orang yang Tengkar Saling Diam

Bertengkar dengan teman sepermainan, bertengkar dengan saudara kandung, bertengkar dengan tetangga bahkan orang tua mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalami hal tersebut.

Beberapa diantara kita dapat menyelesaikannya dengan cepat, lama, atau bahkan belum terselesaikan hingga sekarang (semoga kita semua damai selalu).

Pertengakaran membuat kita menjadi saling diam, curiga, adu fisik, bahkan sampai menyebabkan jatuhnya korban. Namun dalam pemaparan kali ini FH tidak akan memaparkan perselisihan yang menyebabkan hingga kontak fisik, melainkan saling diam.

heartsickness
Image: heatsickness [pixabay]

Terlihat pada judul diatas, FH lebih menspesifikan untuk pertengkaran yang terjadi pada dua orang. Sehingga beberapa tips serta pemaparan dibawah ini secara khusus di "rampingkan" untuk dua orang yang kemudian saling diam.

Mengapa mereka saling diam? Mengapa kita pernah bertengkar?


Pertengkaran dapat menyebabkan terputusnya hubungan interpersonal yang dapat menyebabkan konflik. Secara umum, faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik adalah:
  1. Kompetisi, salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
  2. Dominasi, salah satu pihak berusaha mengendalikan yang lain.
  3. Kegagalan, masing-masing berusaha menyalahkan yang lain jika tujuan masing-masing tidak tercapai.
  4. Provokasi, salah satu phak terus menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
  5. Perbedaan Nilai, kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Diantara 5 faktor tersebut, faktor apakah yang menyebabkan kamu pernah bertengkar dengan temanmu, saudara kandungmu, atau orang tuamu?

Semua pertengkaran berawal dari persepsi yang dilahirkan melalui proses berpikir yang melibatkan memori yang diperoleh melalui alat indra.

Dalam salah satu post FH, "4 Tahap Bagaimana kesan pertama terbentuk" pemaparan terbentuknya persepsi hampir sama dengan terbentuknya kesan. Sehingga jika kamu ingin mengetahui lebih banyak tentang bagaimana persepsi terbentuk, silakan klik >disini
.

Salah satu syarat terbentuknya konflik adalah adanya interaksi yang tentunya melibatkan 2 orang atau lebih.

Dalam interaksi selalu terjadi penyampaian dan penerimaan pesan. Entah itu melalui pesan verbal (kata) atau non verbal (Gerak tubuh dan bagaimana seseorang berucap).

Dua orang yang bertengkar


Bayangkan seseorang yang bertengkar dengan temannya, mereka bertengkar karena salah satu diantara mereka ada yang merasa dimanfaatkan.

Kemudian "yang merasa dimanfaatkan" mulai mengutarakan keluh kesah kepada temannya. Setelah selesai mengutarakan keluh kesah, temannya mengatakan "Kamu juga pernah seperti itu, waktu kemarin kamu gini gini dan gini.."

Mereka saling membandingkan kesalahannya masing-masing dan saling menunjukkan bahwa temannya-lah yang paling salah. Namun pertengkaran itu tidak berujung dan membuat mereka saling diam. Siapa yang paling benar, dialah yang menang (kompetisi).

Diam setelah pertengkaran


Biasanya mereka yang saling diam terjadi setelah salah satu atau keduanya saling meledakkan emosi. Masing-masing saling mengetahui bahwasannya mereka diserang sehingga menyebabkan mereka membutuhkan sistem pertahanan untuk menghalau serangan.

Diam dalam konteks ini adalah salah satu bentuk pertahanan setelah energi mereka terkuras akibat saling meledakan emosi pada masing-masing pihak.

Pertahanan kita terhadap dirinya membuat apapun yang mereka katakan menjadi tak bernilai dimata kita. Walaupun dia berkata benar, kita tetap saja sulit untuk menerima perkataannya. 

Orang yang tertutup selalu bersandar pada sumber pesan daripada isi pesan. Siapa orangnya bukan apa makna pesannya.
- Jalaludin Rakhmat -

Diam merupakan indikasi dari orang yang tertutup, mereka tidak mengatakan apapun yang berarti tidak terbuka. Ketertutupan ini merupakan bentuk dari pertahanan. Ada hal yang membuat dia merasa tidak suka terhadap orang lain.

Jika dua orang ini saling bertemu, besar kemungkinan akan terjadi iklim yang defensif. Dan hal ini melatarbelakangi mengapa untuk menyelesaikan masalah pertengkaran kita membutuhkan orang lain sebagai pengantar jalan tengah.

Bermacam-macam penyebab diam


"Indikasi orang yang diam adalah tidak berbicara apapun", kami yakin semua orangpun tahu hal tersebut. Namun FH akan memaparkannya secara lebih dari sekedar "tak mengatakan apapun".

Diam yang kita ketahui tidak menghendaki seseorang berkomunkasi secara verbal, namun komunikasi dapat terlihat dalam bentuk non verbal.

Sehingga dibawah ini beberapa indikasi orang yang diam secara verbal namun ada pesan yang disampaikan oleh dirinya secara non verbal. Berikut bebeberapa indikasi berdasarkan ekspresi emosi dasar manusia:

Expression
Image: Anger, Fear, Disgust, & Sad Expression. [pixabay]

  • Menjadi diam karena  dominasi
    Ada pesan yang bersifat menyerang atau akan menyerang. Hal ini seperti perang dingin dimana masing-masing pihak atau salah satu pihak merasa dirinya terancam dan mencoba saling menyerang. Hal in termasuk dalam kategori anger. Ciri-ciri secara umum:
    1. Bibir saling menekan dan mengecilkan.
    2. Bagian mata putih lebih terlihat pada sisi bawah.
    3. Sedikit menunduk namun mata tetap mengikat objek.
    4. Alis (bagian luar) sedikit mirng seperti titiknya berpusat pada antara kedua bolah mata.
  • Menjadi diam karena menolak
    Ada pesan yang bersifat tidak menginginkan hadirnya orang lain dihadapannya karena bentuk ketidaksesuaian dirinya terhadap orang tersebut namun tidak berarti takut. Hal ini termasuk dalam kategori disgust. Ciri-ciri secara umum:
    1. Terlihat lekukan atau garis antara hidung dengan pipi
    2. Muka dikerutkan berpusat pada bagian atas hidung dibawah antara kedua mata.

  • Menjadi diam karena menyesal dan putus asa.
    Ada pesan yang bersifat membandingkan masa lalu dengan masa kini. Sedangkan keputusasaan terbentuk dari rasa tak berdaya serta merasa rentan. Kedua hal ini termasuk dalam kategori emosi kesedihan. Dan keduanya dapat menyebabkan seseorang menjadi diam. Ciri-ciri secara umum:
    1. Ujung bibir sedikit ditekuk kebawah.
    2. Sedikit menunduk
    3. Pandangan sedikit melihat kebawah dan hilang fokus
    4. Kelopak mata bagian atas sedikit terjatuh (sedikit menutupi bola mata)
    5. Bagian dalam alis sedikit terangkat.

  • Menjadi diam karena takut
    Ada pesan yang bersifat menghindari orang lain namun tidak termasuk dalam kategori disgust. Effect dari rasa takut adalah perasaan ingin selamat dan kebiasaan yang terbentuk adalah melarikan diri. Ciri-ciri secara umum:
    1. Ujung bibir sedikit tertarik sejajar (horizontal).
    2. Kelopak mata atas terangkat.
    3. Kelopak mata bawah tegang.
    4. Alis terangkat dan saling menarik.
Semua kategori diatas dapat kamu temukan dalam emotion wheel yang tersedia pada "memahami peran pribadi manusia sebagai makhluk yang diciptakan."

Kesimpulan: mengapa dua orang yang tengkar saling diam

Mereka diam (bukan introvert) karena mereka tidak menginginkan orang lain mengetahui informasi apapun yang ada pada dirinya.

Sedangkan orang yang terbuka akan mengatakan apapun tanda bahwasannya dia percaya pada orang itu.

Berarti ketidakpercayaan seseorang terhadap orang lain menyebabkan orang itu menjadi cenderung tertutup. Dia tidak menginginkan informasi yang ada pada dirinya diketahui orang lain.

Ketidakpercayaan merupakan salah satu penyebab seseorang cenderung tertutup.
Tweet: Ketidakpercayaan merupakan salah satu penyebab seseorang menjadi cenderung tertutup.

Perlu diketahui, unsur dari percaya adalah:
  1. Ada situasi yang menimbulkan resiko.
  2. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.
  3. Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
Sehingga orang yang diam karena tidak percaya mengetahui bahwasannya orang lain telah membuatnya memeroleh resiko, dan telah berakibat kurang baik baginya.

Ingat, konteksnya diam ini terjadi setelah mereka bertengkar dan saling "meledakkan" emosi. Bukan diam karena kekhawatiran akan rusaknya kedekatan seseorang dengan orang lain. Seperti seseorang yang ingin kembali berbaikan namun sulit untuk mendekati orang yang ingin diajaknya berbaikan.

Referensi:
Allan, Patrick (2014). Find the Perfect Word for Your Feelings with This Vocabulary Wheel. lifehacker Diakses: 18 April 2015
Gottman, John M., James A. Coan (2006). The Specific Affect Coding System. (researchgate, diakses 28 Juli 2015)
Rakhmat, Jalaludin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset Bandung >>Dapatkan bukunya

loading...