Wednesday, July 20, 2016

5 Kondisi Sebelum Kebiasaan Buruk Terjadi

Beberapa orang memiliki kebiasaan buruk yang membuat dirinya dan orang lain disekitarnya merasa terganggu. Kebiasaan seperti menggigit kuku, tidur setelah makan, atau makan sambil berdiri yang beberapa diantara kita sering melakukan hal tersebut. Apakah kamu menyadari kebiasaan burukmu?

Fenomena Harimu melalui tulisan ini, mencoba memaparkan 5 kondisi yang membuat orang melakukan aktifitas yang biasa dia lakukan. Dengan kata lain kebiasaan yang dipengaruhi kondisi lingkungan atau dirinya sendiri.

kebiasaan buruk
image: kebiasaan buruk [pixabay]


Entah itu kebiasaan buruk atau baik, bahwa 40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan, melainkan kebiasaan. (Duke University, 2006)

Disini kami tidak memaparkan cara mengubah kebiasaan buruk secara langsung. Kami juga tidak bisa mengubah kebiasaanmu melalui tulisan ini. Namun kami mencoba mengidentifikasikan kondisi yang membuat kebiasaan tersebut sering kamu lakukan.

Diadopsi dari sebuah karya Charles Duhigg dengan bukunya "the power of habit." Berikut 5 kondisi yang menjadi salah satu faktor sebelum kebiasaan buruk terjadi:


Kondisi #1 Perhatikan lokasi


Mungkin kamu pernah mendengar seseorang mengatakan "saya mah kalo dirumah  nggk pernah kaya gini, paling disini aja disekolah." Atau mungkin sebaliknya. Jika kamu memiliki kebiasaan buruk, bayangkan dimana biasa kamu melakukan hal tersebut.

Lokasi menjadi salah satu kondisi yang membuat orang melakukan kebiasaannya. Seperti kebiasaan buruk yang selalu dilakukan dirumah namun tidak ditempat lain.

"kenapa ya kalo dirumah itu bawa'annya pengen makaaaan terus?!" mungkin kamu juga pernah mendengar pernyataan ini. Jika iya benar dirumah, diruang mana kebiasaan itu sering terjadi? Kemudian perhatikan 4 kondisi yang lain. Apakah benar hanya lokasi? atau sebenarnya kondisi yang lain yang membuatmu melakukan kebiasaanmu.

Kondisi #2 Perhatikan waktu


Siang, sore, malam atau pagi? Pukul berapa kebiasaan itu terjadi? Waktu erat kaitannya dengan circadian rhythm atau jam tubuh. Yaitu kondisi tubuh menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada pada waktu.

Seperti halnya jam 12 siang saat terik, tubuh kita dalam keadaan lemah terutama jantung sehingga kita membutuhkan makan siang serta menghindari aktivitas berat. Jam 7 hingga 9 pagi, waktunya tubuh mendapatkan nutrisi. Disarankan oleh para praktisi kesehatan bahwa sebelum beraktifitas hendaknya manusia menyantap sarapan pagi.

Jam 5 hingga jam 7 pagi, tubuh menaruh perhatian lebih pada usus besar. Oleh karena itu buang air setiap pagi adalah baik dan disarankan minum air putih karena bisa melancarkan fungsi usus besar.

Identifikasi  kebiasaanmu, apakah setiap kebiasaan yang kamu lakukan selalu dilakukan pada waktu yang sama? jika tidak, maka bukan pengaruh waktu melainkan pengaruh kondisi lain.

Kondisi #3 Rasakan emosional dalam diri


Apa yang kamu rasakan sebelum kebiasaan itu dilakukan? Apakah merasa bosan? Kesal? Sedih? Pernah mendengar orang yang memiliki kebiasaan makan tak terkendali ketika kesal dengan orang lain?

Saat merasa sedih atau depresi mungkin seseorang akan menuju tempat yang biasa ia kunjungi untuk menikmati kesedihan bersama sesepoinya angin laut.

Kondisi emosional akan memicu hormon yang dihasilkan oleh otak. Seperti dalam keadaan stress, otak akan menghasilkan hormon cortisol sehingga kita menjadi pemurung kemudian yang dapat memicu datangnya penyakit lain.

Kemudian beberapa diantara kita mengatasinya dengan rokok, minuman keras, bahkan obat terlarang dan menjadikannya kebiasaan saat kondisi emosi sedang tertekan. Mungkin hal tersebut dapat menurunkan tingkat stress namun sayangnya hanya sebatas hal tersebut.

Video dibawah ini sedikit menjelaskan bagaimana rokok hanya dan memang hanya menurunkan tingkat stess sesaat.


Kondisi #4 Bersama Orang Lain


Saat kamu melakukan kebiasaan itu, sedang bersama siapakah kamu? seorang wanita menjadi lebih sering menjaga kondisi rambutnya saat bersama si dia. Atau memerhatikan jilbabnya lebih sering jika hanya bersamanya sehingga menjadi kebiasaan atas diri sendiri.

Seseorang yang ingin tampil menarik pada lawan jenisnya secara tidak sadar gerak tubuhnya menjaga penampilannya dan hal ini adalah wajar.

Pada kondisi ini, orang lain menjadi tolak ukur dari apa yang kita lakukan yang kemudian kita bereaksi dari reaksi mereka. Maksud kami, ada hal yang ingin kita peroleh dari kehadirannya seperti "perhatiannya."

Atau mungkin hal yang bersifat lebih biologis seperti seseorang yang selalu bersin ketika hanya bersama orang itu. Saya sendiri pernah merasakan moment seperti ini. Dimana hidung saya selalu merasa gatal jika bersama orang itu, saya sering menggosok-gosokkan hidung namun saya suka. :D

Perhatikan kebiasaan buruknya. Jika kamu melakukan kebiasaan buruk tanpa adanya orang lain disekitar kamu dan jika selalu seperti itu, maka ini adalah kondisi yang sesuai untuk kebiasaan tersebut. Artinya ketika kondisi ini terjadi, maka kebiasaan juga akan dilakukan.

Kondisi #5 Tindakan yang berlangsung tepat sebelumnya


Apa yang kamu lakukan sebelum kebiasaan tersebut kamu lakukan? Setelah makan kemudian minum. Ya, memang itulah seharusnya. Atau setelah makan kamu merokok, atau setelah minum manis dan dingin kamu akan merasa lapar?

Kondisi ini pernah saya dapati pada pengalaman saya sewaktu SMA. Dan baru menyadarinya saat menulis tulisan ini. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan scroll down :D

Pengalaman mengatasi kebiasaan buruk


Sewaktu SMA, saya memiliki kebiasaan meminum minuman berenergi, berelektrolit, manis, bahkan bersoda. Hampir setiap hari [atau bahkan setiap hari] saya selalu mengkonsumsi salah satu minuman tersebut.

Saya meminum minuman itu selalu pada sore hari sepulang dari aktifitas baris berbaris. Karena PBB itu melelahkan dan mungkin doktrin dari iklan juga yang "katanya" dengan produk minumannya dapat menyegarkan tubuh sehingga saya merasa minuman itu benar-benar menyegarkan.

Beristirahat setelah latihan, berteduh, sambil meminum minuman "menyegarkan" seperti kepuasan tersendiri menurut saya saat itu. ("Legaaaaa rasanya..")

Segarnya tubuh membuat saya merasa ketagihan untuk meminumnnya lagi disore hari setelah latihan. Karena kenginan yang kuat, dengan mengendarai sepeda motor sm*sh biru melalui lika liku jalan berkunjung ke minimarket untuk sekedar membeli minuman.

Setiap hari setelah latihan selalu seperti itu. Karena jadwal yang padat serta aktivitas yang berat ditambah dengan kebiasaan buruk. Hingga suatu hari saya sakit parah dan orang tua saya melarang untuk membeli minuman lagi.

Pelajaran seperti itu membuat saya sadar akan bahaya mengkonsumsi minuman berkemasan. Kemudian saya beralih pada minuman manis seperti teh manis [dan hanya sejauh teh manis].

Semenjak itu kebiasaan meminum minuman elektrolit, soda, atau berenergi sudah mulai jarang dilakukan. Namun tidak mengurangi keinginan saya mengunjungi minimarket untuk membeli minuman manis sebelum pulang kerumah.

Pertengahan kelas dua SMA, kami (saya dan teman-teman menjadi pengurus organisas) mulai jarang melakukan baris berbaris. Kami hanya melatih, mengatur, serta mengurus sehingga aktvitas yang dilakukan lebih ringan hanya saja jadwal lebih padat [serta pikiran].

Saya bersama teman-teman selalu berkumpul di lapangan atau dikantin. Sari sore hari hingga menjelang gelap bahkan hingga bintang sudah mulai bertebaran untuk hanya sekedar bercanda setelah kepenatan mengurusi tugas sekolah dan organisasi.

Dan saat itu juga, saya sudah jarang berkunjung ke minimarket untuk membeli minuman. Kebiasaan meminum minuman kemasan botol sudah tidak dilakukan dan keinginan untuk membeli juga tidak sekuat dahulu.

Dan saya baru menyadarinya sekarang saat menulis tulisan ini.

Bagaimana ini terjadi?


Jika melihat kondisi tepat sebelum saya membeli minuman tersebut dalam kondisi yaitu aktifitas berat yang saya lakukan sebelumnya (5) dan dilakukan di sore hari (2).

Jika kebiasaan saya terjadi karena waktu disore hari, maka tidak ada kaitannya dengan aktfitas ringan atau berat yang saya lakukan. Artinya setiap sore saya pasti membeli minuman entah apapun kondisi saya saat itu.

Kemudian kita liat, jika kebiasaan saya terjadi karena aktifitas berat. Maka waktu tidak memengaruhi kebiasaan saya. Artinya hanya aktifitas yang memicu saya melakukan kebiasaan tersebut.

Sehingga berdasarkan kisah di atas, identifikasi kondisi sebelum kebiasaan buruk terjadi adalah aktifitas yang tepat dilakukan sebelumnya (5).

Sekarang kita perhatikan kunci yang dipaparkan oleh charless:

"Untuk mengubah kebiasaan, kita harus mempertahankan tanda yang lama dan ganjaran yang sama namun menyisipkan rutinitas baru."

Saya mendapati tanda yang lama adalah latihan saya (aktifitas yang berlangsung sebelumnya) dan hal yang ingin saya peroleh (ganjaran) dari kebiasaan buruk saya adalah rasa segar pada tubuh.

Kemudian rutinitas apa yang saya ubah?


Perubahaan rutinitas
Image: Perubahan rutinitas

Saya mengubah rutinitas yang selalu pergi ke minimarket setelah selesai latihan, menjadi berkumpul dan bercanda bersama teman-teman. Setelah selesai latihan, saya tidak langsung pulang melainkan mengubah rutinitas untuk selalu berkumpul.

Ganjaran yang saya peroleh sama, yaitu saya merasa segar karena canda tawa bersama teman-teman saya. cukup minum air putih dan terkadang minuman manis dari kantin.


Referensi:
AsapSCIENCE. 2013. Your Brain on Crack Cocaine. Youtube. Diakses: 18 Juli 2016
Duhigg, Charles. 2006. “The Power of Habit”. Duke University