Thursday, July 28, 2016

Fenomena Membohongi Diri Sendiri untuk Kelompok

Apakah kita benar-benar ingin mengatakannya? Apakah yang kita katakan berdasarkan "niat" atau sekedar menginginkan "perhatian" dari dunia luar? Mungkin judul yang kami gunakan terlalu berlebihan atau terdengar asing. Namun, fenomena membohongi diri sendiri untuk orang lain merupakan salah satu fenomena yang setiap orang hampir sering melakukannya.

Benarkah demikian? Kita sering diajarkan oleh orang tua kita bahwa berbohong merupakan hal yang tercela. Di sekolah dasarpun guru kita mengajarkan hal tersebut. Pengetahuan pada masa lalu kita telah kita bawa hingga saat ini. Tanpa sudut pandang baru, kita tetap mengatakan bahwa berbohong adalah buruk.

Jika benar bahwa berbohong itu buruk, apakah:
  1. Kamu akan mengatakan yang sebenarnya jika susu yang telah kamu terima terlalu sedikit dari yang biasa kamu minum sedangkan tuan rumah telah menyediakannya untukmu?
  2. Kamu akan mengatakan bahwa baju yang kamu terima tidak seindah yang kamu bayangkan padahal seorang temanmu yang telah memberikan pakaian itu untukmu?
  3. Kamu akan mengatakan dihadapannya bahwa aroma mulut temanmu sangat tidak sedap?
Ya kita cenderung memilih berbohong. Kita tidak membuat komplain tentang susu yang diterima terlalu sedikit, mengatakan bahwa "nggk suka" dengan baju yang kamu terima, dan kita lebih memilih diam. Seolah-olah kita sedang menggunakan topeng.

Topeng
Image: topeng (Pixabay) 

Fenomenena Harimu berlatarbelakangkan pengalaman kami terhadap pernyataan:
  1. Berbohong termasuk perbuatan tercela.
  2. Jangan sembunyikan dirimu dibalik topeng.
  3. Jadilah manusia yang terbuka, bukan tertutup.
mencoba memaparkan bagaimana kita sebaiknya menggunakan pernyataan diatas berkaitan dengan fenomena membohongi diri sendiri untuk kelompok. Sudut pandang kami serta beberapa referensi yang kami peroleh, inilah sudut pandang kami. check it out!

Kebohongan putih



Wejangan susu, hadiah pakaian dari teman kita, dan memilih diam tentang aroma mulut mereka adalah beberapa contoh dari kebohongan putih. Apakah ada kebohongan hitam layaknya ilmu putih dan ilmu hitam?

Berbeda dengan kebohongan yang biasa kita dengar seperti "kebohongan itu sifat yang kurang terpuji". Tahukah kamu ada yang disebut dengan white lies (kebohongan putih)?

White lies lebih memusatkan perhatian pada si pendengar agar efeknya tidak menyakiti hati si pendengar dan lebih mengorbankan diri sendiri (pelaku white lies).

  1. Kita tidak mengatakan rumah teman kita lebih buruk dari rumah kita karena kita tahu hal tersebut akan menyakiti hatinya.
  2. Kita tidak mengatakan bahwa hal yang disampaikan oleh atasan kita adalah sesuatu yang salah, padahal hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang kita percaya.
  3. Bahkan kita justru meng-iya-kan pernyataan teman kita yang sedang mencurahkan isi hatinya padahal kita tahu hal tersebut tidak sesuai dengan keyakinan kita.
Kita cenderung "men-support" mereka dengan membiarkan kata demi kata mereka mengalir tanpa sanggahan. Kita mengorbankan nilai yang kita percaya karena untuk menghindari sakit hati mereka yang bahkan dapat menyebabkan perdebatan hingga konflik. Kita ingin menjaga hubungan kita sebaik mungkin dengan orang lain dengan cara mengikuti arus.

Aku hanya mengikuti arus, tak berani melakukan sesuatu yang membahayakan keamananku. Tapi lucunya, keamananku saat ini terancam karena aku mengikuti arus.
Mary Jane (Tokoh dalam buku "Fish!")


Apakah white lies itu baik?


Segala sesuatu memiliki tempat dan takarannya masing-masing. Kita dapat mengatakan bahwa menggunakan alchohol itu diperbolehkan jika digunakan untuk keperluan medis. Memakan daging kambing tidak diperbolehkan jika seseorang memiliki darah tinggi.

Sama halnya dengan berbohong yaitu jika untuk menjaga silaturahmi, dengan syarat tidak merugikan orang lain, bukan untuk kesenangan diri sendiri dan bukan karena kesenangan diri sendiri. Maka hal tersebut diperbolehkan. (Ingat! harus memiliki keinginan untuk tidak mengulangi tindakan yang membuat kita berbohong)

Berbohong yang tidak dibenarkan adalah berbohong dengan mengambil keuntungan dari orang lain (ketidaktahuan dan ketidakpahaman) untuk dimanfaatkan oleh si pembohong seperti rasa aman, atau kesenangan.

Dan white lies adalah baik jika tidak sampai pada contoh point ke-3 pada sub bab "kebohongan putih" diatas. Kita berdiam diri jika melihat yang salah karena kita tak mampu untuk membenarkan hal tersebut maka itu tidak disalahkan. Namun jika sampai meng-iya-kan padahal kita tahu itu salah, kami rasa merekalah yang dimaksud "yang bermuka dua".

Bedakan berbicara untuk perhatian dengan berbicara untuk niat


Apakah kita berbicara dengan orang lain berdasarkan hal yang benar-benar ingin kita ucapkan (niat) atau hanya untuk mendapatkan perhatian mereka? Nasehat ini kami peroleh dari seorang pembicara bernama Monica Lewinsky. Beberapa pernyataannya yang menjadi perhatian kami adalah:

Situs gosip/ Media gosip. Sebuah pasar telah muncul dimana penghinaan publik adalah komoditas (sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan) dan rasa malu adalah industri.
 -Monica Lewinsky

"Kemudian apa hubungannya dengan tema kali ini?" Kami meyakini bahwa orang yang menggosip sesuatu itu bukan karena niat mereka untuk gossip. Mereka ingin orang lain memerhatikan mereka yang kemudian perhatian mereka digunakan untuk "kesengan" mereka. Dan "kesenangan" ini lah yang mereka anggap sebagai kebahagiaan mereka.

Sama halnya seseorang yang berbuat jahat, bukan karena mereka menginginkan kejahatan itu melainkan kondisi awal yang memaksa mereka yang kemudian hasil dari kejahatan mereka adalah dirasa menguntungkan bagi mereka.

Mereka membohongi diri mereka sendiri, mulut mereka menolak apa yang hati niatkan. Mereka berbicara untuk mendapatkan perhatian orang lain.

Pernahkah kamu berada disuatu kondisi yaitu berkumpul bersama teman-temanmu kemudian mulai dalam suatu pembicaraan yang menurutmu tema yang dibicarakan bertentangan dengan nilai-nilai yang kamu percaya? Sedangkan dengan tema tersebut teman-temanmu tertawa melepas penat stress kesibukan mereka?

Kemudian apa yang kamu tanggapi? hanya ikut dalam canda tawa mereka? atau justru menambahkan agar tema yang dibicarakan semakin kental? Kamu tahu bahwa itu bertentangan dengan nilai yang baik, apakah kamu akan menghentikan tema pembicaraan itu?

Jika seseorang menanggapi tema tersebut dengan menambahkan agar "kental" dan dia tahu bahwa itu adalah salah, maka dia berbicara untuk perhatian kelompok. Dia merasa dengan menambahkan sesuatu yang membuat orang lain tertawa adalah hal yang membahagiakan.

Kamipun menyadari cukup sulit untuk mengatasi hal ini, kamipun masih sering berbicara untuk perhatian dan berbicara untuk niat adalah lebih sering pada tulisan-tulisan kami bukan saat kami berinteraksi langsung dengan orang lain.

Banyak orang yang mengatakan "gimana kitanya aja, ambil positifnya buang negatifnya" namun hal yang bersifat teknis tetap perlu dihadirkan dalam kehidupan kita. Berikut sudut pandang kami yang lain yang membantu kamu mendapatkan sudut pandang baru untuk memperbaiki diri.
  1. Memahami peran pribadi manusia sebagai makhluk yang diciptakan
  2. Pengaruh orang lain dalam perkembangan manusia

"(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung."
[Ali 'Imran 173]

Referensi:
Houston, Philip, Mike Floyd, dkk. 2013. Spy The Lie. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama >>Dapatkan bukunya
Lewinsky, Monica. 2015. The Price of Sahme. Youtube. Diakses: 26 Juli 2016
Lundin, Stephen C., Harry Paul, dan John Christenses. 2006. Fish! Cara luar biasa meningkatkan moral dan hasil kerja. Jakarta: Elexmedia Komputindo.