Thursday, August 11, 2016

[Fenomena Stonewalling] Pengaruh Sikap Jutek atau Cuek Dikehidupan Sehari-hari (+Infographic)

Mungkin istilah stonewalling begitu asing di telinga kita. Tapi tahukah kamu bahwa fenomena ini cukup sering terjadi didalam kehidupan kita?

Di"kacang"in itulah kata yang biasa kita gunakan untuk menggantikan istilah stonewalling. (Kenapa tidak menggunakan kata "kacang" atau di"cuek"in?)

[Saya rasa kamu yang membaca ini pernah menghadapi kejadian seperti ini] Ketika kamu sedang berbicara dengan temanmu panjang lebar dan [sedihnya] temanmu tidak mengatakan apapun. Bahkan meresponnya dengan pernyataan yang tidak ada kaitannya dengan apa yang kamu ucapkan.


Levina: "Has, kemarin waktu mata kuliah matematika dasar, di kelas kita ada hal yang nggk diduga-duga tau. Kelas kita kedatangan murid dari program pertukaran pelajar kampus kita dengan kampus dari inggris. Dia cowok tinggi, putih terus ganteng banget tau has, keliatannya pinter soalnya dia make kacamata terus tubuhnya juga ideal. Apalagi pas denger suaranya, kan dia make bahasa inggris tuh waktu ngenalin ke kita. Suaranya berat banget. Pokoknya cowok banget lah."

Hasna: (ngitung soal kalkulus)

Levina: "Eh, Has.."

Hasna: "Oh iya, temenin saya belanja yu beli buku sama kalkulator"

Levina: ["Tadi gue ngomong sama siapaaaaa???"']

Fenomena Harimu, fenomena stonewalling dikehidupan sehari-hari. (check it out)

Apa itu stonewalling?


Stonewalling difungsikan untuk mengkomunikasikan keengganan si pelaku stonewalling untuk mendengar atau merespon si penyampai pesan. [Apakah contoh Levina diatas merupakan stonewalling?]

Contoh diatas bukanlah fenomena stonewalling. Seseorang yang tidak merespon saat diajak bicara padahal si pendengar sedang merasa bosan juga bukan fenomena stonewalling.

Seperti halnya rasa kantuk atau seseorang yang sedang merasa sedih. Hal tersebut juga bukan fenomena stonewalling. [Jadi, seperti apa yang termasuk fenomena stonewalling?]

Kata kuncinya adalah "keengganan." Si pendengar sebenarnya mendengar apa yang diucapkan oleh si penyampai pesan. Dia sedang tidak dalam keadaan mengantuk, suasana yang bosan, atau bahkan sedih.

Dia hanya tidak ingin mendengar dari apa yang diucapkan oleh orang itu kepadanya. Artinya dia melakukan stonewalling hanya untuk orang tersebut namun tidak untuk orang lain. Ini faktor pengaruh manusia, bukan dari dalam dirinya.

Ciri-ciri stonewalling


Agar lebih memudahkan kamu dalam memahami ini, berikut kami paparkan ciri-ciri (indikasi) yang termasuk dalam stonewalling.

Pertama, Pelaku stonewalling melakukan aktivitas yang sepele untuk menghindari kontak dengan pembicara. Ketika seseorang sedang berbicara, kemudian pendengar mengalihkan perhatiannya pada hal yang kecil.

Perhatian pada objek-objek disekitarnya, memainkan hp, memainkan jari-jari, membersihkan kuku jari, atau melihat-lihat objek yang bergerak sedikit/ringan.

Perilaku yang ditunjukkan pendengar (stonewalling) tidak dikarenakan oleh kemalasan si pendengarnya itu sendiri. Melainkan mencoba mengkomunikasikan ketidakinginannya untuk memerhatikan si pembicara.

"saya tidak ingin berada disini sekarang, dan saya tidak ingin mendengarkanmu" mungkin kurang lebih seperti itulah yang coba mereka komunikasikan kepada mereka.

Kedua, si pelaku stonewalling tidak menggunakan kata validasi atau hanya menggunakan satu persetujuan verbal atau bahkan non verbal seperti, "he'eh, ya, he'emm, dll."

Sedikit pergerakan pada wajah, apalagi mirroring atau kontak mata dengan pembicara. Seperti si pendengar membuat dinding diantara mereka.

Ketiga, pernah menemukan adegan seseorang yang banyak berbicara kemudian ditatap sekilas oleh temannya kemudian "orang yang banyak omong" itu langsung diam?

Monitoring gaze
Image: Monitoring Gaze [pixabay]

Indikasi yang ketiga disebut dengan monitoring gaze. Seseorang yang bicaranya mengganggu orang lain kemudian diam hanya dengan tatapan tajam. Seperti kita berbicara banyak di sebuah perpustakaan kemudian kita diingatkan untuk diam oleh penjaga perpustakaan.

Menatap dan sedikit menunduk namun dengan tatapan yang lurus langsung mengarah kepada orang yang menurutnya mengganggu. Seorang wanita tua dengan kacamata persegi panjang kecil, duduk disebuah meja dengan beberapa tumpukan buku dan dari kejauhan wanita tersebut menatap si pembicara (pengganggu suasana).

Ya, monitoring gaze (tatapan memantau) termasuk dalam indikasi stonewalling dan tatapan yang dilakukan terkadang tidaklah terus menerus melainkan hanya sesaat. Ingat kata kuncinya stonewalling adalah "ketidakinginan." Ketidakinginan untuk mendengar apalagi merespon si pembicara.

Pengaruh stonewalling terhadap interaksi manusia


Dalam SPAFF (Specific Affect Coding System). Stonewalling memiliki nilai negatif dalam interaksi. Nilai yang ditetapkan dalam SPAFF untuk stonewalling adalah -2. Ya, dalam SPAFF sebuah interaksi memiliki nilai. Apakah interaksi tersebut bersifat membangun atau merusak.

Kode Spaff
Image: Kode SPAFF

Interaksi yang berpotensi merusak bernilai negatif sedangkan yang membangun bernilai nilai positif. Artinya semakin sering seseorang berperilaku yang mengindikasikan stonewalling, maka hal tersebut akan berpotensi merusak hubungan antara dia dan orang lain.


Referensi:
Coan, James A., dan John M. Gottman. 2007. The Specific Affect Coding System (SPAFF). ResearchGate. Diakses: 28 Agustus 2015

loading...