Monday, November 14, 2016

[Fenomena Efikasi Diri] Mengapa Orang ingin Keluar dari Pekerjaan Setelah Merasa Bersalah

“Riani, ikut ke ruangan saya!” Dengan segera Riani berdiri dari mejanya, tangan nya gemetar, muka nya pucat seketika. Ia jalan menuju ruangan Pak Dino.

Ruangan pimpinannya terasa begitu dingin menyelimuti kulit Riani, Mungkin suhu ruangan itu dibawah 18 derajat celcius atau bahkan kurang.

Wangi segar jeruk nipis dari pengharum ruangan menyatu dengan suasana ruangan khas Pak Dino, serta pencahayaan yang baik, rapi dan bersih.

Otak Riani berputar, menerka - nerka apa yang akan terjadi pada nya. Jantungnya dag dig dug, pimpinannya yang dinilai tegas itu memanggil Riani untuk yang kesekian kalinya. Riani – fresh graduate yang baru menginjakan kaki di dunia pekerjaan.

Di tengah lamunan nya, tiba-tiba terdengar suara pimpinannya dengan nada yang agak sedikit tinggi.
“Riani, kalo laporan kamu kaya gini, gausah bikin laporan! Informasi apa yang bisa saya ambil dari sini!”
Riani hanya bisa menunduk dan meminta maaf atas hasil kerja nya yang kurang maksimal, "kalau bikin apa - apa itu jangan asal."

“Iya mohon maaf pak, saya akan berusaha memperbaikinya." Namun begitu, hati Riani mengeluh. “lagi-lagi kena tegor. Hari-hari ku bagai tragedi. Setiap kali aku menyelesaikan suatu pekerjaan rasanya selalu saja salah.  Atasan ku marah - marah, rekan kerja ku menilai rendah. Apakah orang sepertiku tak dipilih oleh tuhan untuk memiliki kemampuan?”

Riani – dinilai sebagai orang yang kurang teliti dan ceroboh atas kesalahannya. Sejak saat itu Riani jadi pemurung dan setiap tugas yang ia dapatkan membuatnya merasa tertekan. Dan kemudian berfikir bahwa perkejaannya tidak cocok dengannya dan memilih mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Fenomena Harimu, Efikasi diri; mengapa seseorang ingin keluar dari pekerjaannya setelah melakukan kesalahan.

Efikasi diri
Image: Efikasi diri [Pixabay]
Banyak faktor yang menyebabkan karyawan mengundurkan diri sebagai pekerja di perusahannya, namun efikasi diri yang rendah menjadi salah satu faktor terutama bagi mereka lulusan baru (fresh graduate.)

Seperti kisah Riani diatas, dia memiliki tingkat “self efficacy” yang rendah kemudian rekan dan atasan Riani malah membuat efikasi dirinya nya semakin menurun. So, what is efficacy and how can we deal with self efficacy problem?

Istilah Self Efficacy atau efikasi diri diungkapkan pertama kali oleh Albert Bandura dalam penelitiannya pada tahun 1994. Self efficacy sendiri diartikan sebagai kepercayaan diri terhadap kemampuan yang kita miliki atau rasa optimis dalam diri kita untuk mencapai kesuksesan, menyelesaikan pekerjaan / tugas, atau menghasilkan keuntungan. Self efficacy ini menentukan cara seseorang untuk merasa, berpikir dan memotivasi dirinya sendiri.

Orang dengan efikasi diri yang tinggi akan memiliki prestasi yang lebih tinggi. Karena setiap tugas yang sulit akan dinilai nya sebagai tantangan untuk dikuasai. Mereka akan memiliki komitmen yang tinggi untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.  Apabila seseorang dengan self efficacy tinggi ini gagal dalam tugasnya, maka ia akan cepat bangkit.

Berbanding terbalik dengan orang yang memiliki self efficacy rendah atau orang yang ragu akan kemampuannya. Ia akan menilai suatu tugas yang sulit adalah ancaman dan ia pun akan menghindarinya.

Ia tidak memiliki komitmen untuk menyelesaikan tugas nya dengan baik karena ia “terperangkap” pemikiran negatif nya, bahwa ia tidak mampu untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehingga orang – orang seperti ini cenderung pasrah dengan hasil yang kurang baik, tanpa adanya usaha untuk memperoleh hasil yang lebih memuaskan.

Faktor mempengaruhi Efikasi diri seseorang?

  1. Pengalaman diri sendiri
    Memiliki pengalaman yang sukses dalam mengerjakan suatu tugas akan meningkatkan kepercayaan diri kita di dalam bidang tersebut. Namun sebaliknya, apabila kita mengalami kegagalan yang berulang, maka efikasi diri kita akan menurun.

  2. Pengalaman orang lain
    Semakin kita kagum dengan orang tersebut, semakin sering orang itu melakukan hal yang sama  mengenai keberhasilannya dalam menyelesaikan suatu tugas, membuat kita terpacu dan berfikir bahwa kita juga mampu seperti dirinya.
     
  3. Ajakan secara verbal
    Dengan mendengarkan saran, ajakan, bimbingan atau arahan dari orang tua, guru, atasan, atau pelatih dapat memperkuat keyakinan kita bahwa kita memiliki kemampuan untuk berhasil. Kita mengenalnya sebagai dorongan dari orang lain.

  4. Emosi dan fisiologis
    Emosi dapat mempengaruhi tingkat self efficacy kita. Misalnya, depresi, dapat “meredam” rasa percaya diri akan kemampuan kita. Stress atau ketegangan juga dapat membuat kinerja kita menjadi buruk, sedangkan, emosi positif dapat meningkatkan kepercayaan diri kita, dan dapat meningkatkan keterampilan kita. 

Meningkatkan efikasi diri


Seperti yang dikatakan oleh seorang Psikolog bernama James Maddux menyarankan kita untuk memvisualisasikan atau menilai diri kita memiliki performa kerja yang baik atau berhasil dalam suatu tugas. Diperlukannya sugesti kalau kita mampu untuk mengerjakan sesuatu dengan baik.

Membaca buku atau menyaksikan video kisah kisah orang yang sukses dari kegagalannya. Dengan begitu, kita dapat mempelajari bagaimana orang lain bangkit dari kegagalan, dan kita dapat mengaplikasikan nya di kehidupan kita. Setidaknya kita tahu mereka gagal karena pernah mencoba.

Sebisa mungkin untuk tidak merasa rendah diri ketika kita gagal dalam sesuatu. Bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan dan menilai diri kita bodoh. Kegagalan merupakan self reminding kita bahwa usaha yang kita kerahkan belum maksimal dan memang kita belum terbiasa dengan hal tersebut. Kita dalam proses belajar.

Jadikan kegagalan sebagai pemacu diri untuk lebih baik memotivasi diri dan yakinkan diri sendiri bahwa diri kita mampu melakukan tugas yang sulit sekalipun. Jalan keluarnya adalah belajar dan berusaha. Pernah dengar tentang kekuatan mengatakan “saya bisa”? mengatakan kalimat ini dapat menjadi sebuah booster bagi kita untuk memotivasi diri dan meningkatkan self efficacy kita.

Kesimpulan fenomena efikasi diri


Efikasi diri merupakan kepercayaan diri akan kemampuan seseorang yang melibatkan empat faktor yaitu pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, ajakan secara verbal dan emosi dan fisiologis.

Adapun ada beberapa cara yang dapan meningkatkan kepercayaan diri kita seperti membayangkan kita mampu, memotivasi diri, membaca biografi orang sukses dan menjadikan kegagalan sebagai awal keberhasilan. Dibawah ini kami hadirkan video yang semoga dapat memotivasi anda, terutama bagi kamu yang belum berumur 25 tahun. Check it out ;)



Referensi:
Akhtar, Miriam. ___. Self efficacy the power of can. Positivepsychology. Diakses: 4 November 2016
Bandura, A. (1994). Self-efficacy. In V. S. Ramachaudran (Ed.), Encyclopedia of human behavior (Vol. 4, pp. 71-81). New York: Academic Press. (Reprinted in H. Friedman [Ed.], Encyclopedia of mental health. San Diego: Academic Press, 1998)
ToffeeDev. 2015. Pesan dari Jack Ma. youtube. Diakses 6 November 2016

loading...