Wednesday, November 9, 2016

Fenomena The Sunk Cost Effect, "sayang kalo dibuang"

Fauri: "Kertas-kertas bekas ini mau dibuang kemana fri?"
Alfri: "Oh itu jangan dibuang! mending kamu bersihin yang dideket tempat tidur saya aja dulu!"
Fauri: "Kenapa nggk dibuang? ini kertas yang waktu itu kamu salah bikin laporan kan?"
Alfri: "Iya, itukan masih bisa dipake dibagian belakangnya. Kan masih putih tuh, biasanya untuk coret-coretan."
Fauri: "hmm, kontrakan kamu kayanya penuh barang fri mending dibuang aja. Terus ini bantal yang kamu beli dua tahun yang lalu kayanya udah nggk pernah dipake."
Alfri: "Oh yaudah kita cuci yang itu."
Fauri: "Emang kapan terakhir kamu cuci?"
Alfri: "Udah lama si, lupa, hehe.."
Fauri: "Waduhh, mendingan dicuci terus disumbangin deh."
Alfri: "Jangan ri, barangkali ada temen yang nginep. Itu bisa dipake nanti setelah dicuci."
Fauri: "Oh yaudah. Charger HP ini dibuang aja ya. kayanya udah nggk bisa dipake."
Alfri: "Jangan ri, mau saya otak atik. Siapa tau ada yang bisa diambil didalemnya."
Fauri: "(Tunjukan padaku, barang apa yang bisa aku keluarkan dari tempat ini?) oke.."

Fenomena harimu, sayang kalo dibuang.

Mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalami kondisi tersebut. Sepertinya sulit sekali menyingkirkan barang diruangan pribadi karena beranggapan bahwa barang itu masih dibutuhkan padahal sejauh yang kita tau, barang tersebut tidak pernah terpakai semenjak rusak atau tidak disukai lagi. Kahneman menyebutnya sebagai The Sunk Cost.

The Sunk cost effect merupakan kecenderungan manusia untuk menginvestasikan usaha, uang, atau waktu namun menghasilkan buah pemikiran yang keliru.

Mempertahankan sesuatu yang pernah dibeli


Alfri beranggapan bahwa barang yang pernah dibelinya akan memberikan manfaat kepadanya walaupun dikemudian hari sudah tidak disukai atau rusak dia tetap beranggapan suatu saat akan bermanfaat.

Dan sekarang barang yang dimilikinya hanya berfungsi memenuhi ruangannya. Padahal semakin banyak dirinya menumpuk barang dapat menyebabkan ruang gerak dan jarak pandang terganggu, maka hasilnya hanya akan membuatnya lebih stress.

Fitriani
"Ketika saya kos dulu, saya beli mie instan 1 dus untuk stock satu bulan di tempat kos saya *ceritanya pengen hemat. Hehe, Tapi setelah saya beli dan saya pikir - pikir lagi, bahwa makan mie terlalu sering tidak baik untuk kesehatan. Dan pada akhirnya, saya tetap saja memakan mie tersebut karena saya sudah membelinya"


Contoh lainnya adalah: Ketika kita membeli barang, seperti pakaian. Setiap ada model terbaru, kita ingin memilikinya. Kemudian kita beli pakaian tersebut. Pakaian yang kita miliki sebelumnya, menjadi tidak terpakai lagi. Tapi sayang untuk dibuang, karena pakaian nya masih bagus, masih muat dan yang terpenting "kita beli pakaian itu pakai uang, kita kan tidak ingin buang buang uang". Alhasil pakaian - pakaian tersebut hanya menumpuk, menuhin lemari kita.

"Kagok" Tanggung dikit lagi


Fandi mengerjakan laporan mata kuliah kewarganegaraan, di kertas HVS tulis tangan. Dosen memerintahkannya untuk memakai garis tepi kiri sepanjang 2 cm dan sisanya 1 cm. Sudah 6 lembar dia menulis dan baru menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya tidak sesuai dengan perintah dosen.

Kepalang tanggung karena tinggal 2 lembar lagi. Fandi melanjutkan aktifitasnya. Dan akhirnya Fandi mengulang tugasnya lagi karena dosennya tidak menerima tugasnya. Fandi menyadari kesalahannya setelah 6 lembar menulis, namun tetap melakukan kesalahannya untuk 2 lembar selanjutnya. Mungkin kita pun pernah berada dalam situasi kurang lebih seperti fandi, kepalang tanggung karena sudah dilakukan. Dan ini termasuk dalam the sunk cost effect.

Investasi untuk merasakan sakit


Sepertinya terdengar bodoh (bagaimana mungkin orang mengeluarkan uangnya, usaha atau waktunya untuk menyakiti dirinya.) Karena sifat manusia ingin menghindari kegagalan, orang sering terus menghabiskan waktu, usaha, atau uang untuk mencoba dan memperbaiki apa yang tidak bekerja bukannya memotong kerugian mereka dan pindah.

Depressed woman
Image: Depressed woman [pixabay]

So how to overcome "the sunk cost effect"?


Alangkah lebih baiknya apabila kita mempertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Pada situasi tertentu, keputusan yang cepat bukan merupakan keputusan yang terbaik. Sama hal nya dengan jika kita ingin, sebelum kita membeli sesuatu kita harus lebih mendahulukan kebutuhan dari pada keinginan.

See..

Lalu bagaimana kalau kita terlanjur, terbuai oleh sunk cost? Kamu bisa melakukan gerage sale agar barang - barang yang menumpuk tersebut berkurang, dan kamu dapat meraup rupiah dari situ, walaupun uang yang kamu keluarkan tidak sebanding dengan apa yang kamu dapatkan.

Atau solusi lain dengan menyumbangkan barang - barang yang menumpuk tersebut kepada orang yang membutuhkan, dapat menambah nilai terhadap barang tersebut, bisa saja barang tersebut berguna untuk orang lain.

Sunk cost salah satu bias kognitif kita yang mempengaruhi keputusan yang kita ambil. Keputusan yang diambil disasarkan pada cara berfikir kita yang cepat dan emosional, tanpa pertimbangan rasional dan fakta. Sunk cost dapat merugikan kita karena uang yang telah kita keluarkan tidak dapat ditarik lagi, dan tumpukan barang dapat menambah tingkat stress kita.

Kita dapat mencegah Sunk cost ini dengan mempertimbangkan matang matang setiap keputusan yang kita ambil, khusus nya keputusan untuk membeli, harus didasarkan pada kebutuhan bukan hanya keinginan semata. That’s all.

Referensi:
Davidson, Michael.___.How the sunk cost fallacy makes you act stupid. lifehack. Diakses: 8 November 2016
Rouse, Margaret. 2013. What is sunk cost effect? techtarget, Diakses: 6 November 2016

loading...