Thursday, November 3, 2016

Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain (Fenomena Halo Effect)

Vanessa menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas menyala merah terang di perempatan alun-alun pusat kota. Terlihat 86 detik waktu yang tersisa untuk dapat menginjak pedal gasnya kembali. Sembari menunggu, entah mengapa orang-orang yang melintas dihadapannya menjadi perhatian tersendiri untuknya.

Berkali-kali mengetukkan jari telunjuk kanan pada kemudi mobil hingga suatu fenomena membuat ketukannya terhenti. Pupil mata Vanessa melebar pada detik ke-28, dilihatnya seorang pria diikuti 3 orang anak jalanan dan gadis kecil yang menarik tangannya sambil menunjuk penuh semangat seperti ada yang ingin mereka tuju dengan segera.

Pria yang dilihatnya memiliki kulit bersih kuning langsat, postur tubuh yang ideal, rambut yang bersih dan jam tangan sport yang melilit ditangan kiri. Tingkah laku mendukung paras yang dimiliki, pria itu tertawa asik bersama dengan ketiga orang anak yang mengkutinya.

Kecuali gadis kecil itu, “ice cream..! ice cream..!” suara imut berteriak antusias.

Dengan tanpa melepaskan perhatiannya pada pemuda tersebut, Vanessa bergumam kagum. “Cakep banget.., lucu.., baik.., ramah.., perhatian, hahhh (menghela nafas) gue banget..”


Fenomena Harimu, Halo effect in your daily life.

Dari apa yang kita lihat kita dapat memberikan penilaian terhadap karakter, sifat atau intelegensi seseorang. Orang yang sedang jatuh cinta sering memandang si doi sebagai sosok yang "sempurna" [walaupun si doi memiliki kekurangan sepertinya hal tersebut tidak digubris.]

Atau ketika kita bertemu orang yang pandai berbicara maka kita cenderung menilai dia itu orang yang lebih cerdas dari kebanyak orang yang kita temui [yang padahal kecerdasan itu beragam.] Nah, Penilaian yang seperti itu dinamakan dengan “halo effect.”

So, what is halo effect?


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Edward L. Thorndike pada tahun 1920, Halo effect merupakan penilaian baik atau buruk terhadap terhadap suatu subjek. Biasanya, seseorang tidak menilai suatu subjek itu dengan dua penilaian sekaligus, baik dan buruk, tapi hanya salah satu saja.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Solomon Asch, menurutnya ketertarikan merupakan sebuah sikap penentu seseorang untuk memberi penilaian yang baik terhadap suatu subjek. Dengan kata lain, orang yang menarik atau good-looking pasti akan dinilai memiliki kepribadian atau karakteristik yang baik juga.

Jika disimpulkan dari kedua pengertian di atas. Hallo effect atau yang dikenal dengan sebutan “physical attractiveness stereotype” atau stereotip ketertarikan fisik adalah salah satu jenis bias kognitif terhadap cara kita menilai dari fisik seseorang, yang mempengaruhi perasaan dan pemikiran kita tentang karakteristik seseorang tersebut. Salah satu contohnya adalah, kita mungkin saja berfikir bahwa perempuan yang cantik tidak akan melakukan kriminal.

Halo effect
Image: Fact vs Media [pixabay]


Ketika kita dengar sebuah berita di televisi tentang seorang motivator atau artis  melakukan kejahatan, kita mungkin akan kaget. Karena penilain kita terhadap seseorang yang atraktif cenderung selalu baik. Padahal menurut penelitian lain, orang dengan fisik yang menarik dinilai dapat memiliki sikap sombong, tidak jujur dan memanfaatkan fisik mereka untuk memanipulasi orang lain.

Halo effect juga merupakan penilain terhadap sikap yang diinginkan oleh seorang individu, untuk menciptakan penilaian bias terhadap orang lain. Sebagai Contoh, saya suka orang yang rajin, jadi saya akan menilai orang yang rajin, pasti dia adalah orang yang baik, padahal disisi lain orang tersebut dapat memiliki karakter yang kurang baik, misalnya dia suka buang sampah sembarangan atau tidak sopan.

Pengaruh Halo Effect di kehidupan kita sehari - hari


Pengaruh Halo dapat terlihat pada aktifitas belajar mengajar di sekolah. Contohnya adalah seorang anak yang baik dan penurut di kelas akan dinilai sebagai anak yang rajin, pintar dan cerdas oleh gurunya.

Ketika halo efek ini terjadi, maka penilaian guru tersebut dapat berdampak pada pemberian score atau nilai pada siswa dikelas.  Efek halo ini juga dapat terjadi sebaliknya, yaitu siswa menilai gurunya. Guru yang ramah akan dinilai menarik, cantik dan menyenangkan.

Pengaruh halo effect di dunia kerja dapat terjadi kepada penilaian supervisor terhadap bawahan. Penilaian supervisor ini tertuju pada hanya satu aspek saja. Sebagai contoh bawahan yang bekerja secara antusias maka akan dinilai lebih baik oleh supervisornya, padahal mungkin saja bawahannya memiliki kekurangan akan kemampuan dan pengetahuannya.

Akui bahwa disetiap aspek kehidupan selalu ada sisi yang berlawan.


Halo effect terhadap para pencari kerja. Ketika seseorang pelamar kerja memiliki sikap yang menyenangkan maka akan dinilai sebagai pribadi yang cerdas, pintar dan qualified.

Lalu, halo effect ini juga terjadi ketika kita memutuskan film apa yang akan kita tonton di bioskop. Kita akan menilai bahwa pemainnya akan menentukan kualitas filmnya.

Now, we come to our conclusion. Jadi, kesimpulannya adalah Halo effect merupakan salah satu bias kognitif yang membuat kita menilai suatu subjek tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, melainkan hanya terhadap satu aspek saja dan mempengaruhi penilain kita terhadap keseluruhan aspek.

Referensi:
___.___. Pengertian halo effect. Pengertianmenurutparaahli. Diakses 26 Oktober 2016
___.___. Efek halo. wikipedia. Diakses: 26 Oktober 2016
Cherry, Kendra. 2016. What is the halo effect. Verywell. Diakses: 26 Oktober 2016