Wednesday, December 7, 2016

[The Asch Conformity] Eksperimen yang Menjelaskan Mengapa Kamu Mengikuti Orang Lain

Liburan akhir tahun merupakan hari-hari yang paling dinanti oleh semua orang, dari mulai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar sampai dengan mereka yang di perguruan tinggi, dan tak mau ketinggalan juga mereka yang bekerja diperkantoran.

Oleh mereka kesempatan ini dijadikan sebagai agenda rutin untuk menuju tempat wisata. Tak ketinggalan juga Ritaadikku yang masih duduk di bangku kuliah semester awal. Dia jauh-jauh hari sudah merencanakan agenda liburan bersama teman-temannya. Sebelumnya, dia pernah bercerita kepadaku kalau ada beberapa tempat yang akan menjadi pilihan destinasi teman-temannya di tahun ini, yaitu Bali, Raja ampart, dan Singapura.

Namun, ditahun ini ada yang aneh dalam persiapan Rita. Entah mengapa kali ini ia terlihat tidak bersemangat, "Rit..! Lu gk semangat gitu sih.. kan mau liburan ma temen-temen lu, harusnya seneng dong..! daripada kakak nih akhir tahun cuma nikmati Monas kalo nggk ancol doang!"
Gumanku pada Rita adiku yang manja, “huft,,, iya ni kak, abisnya pilihan teman-teman Singapura, kata mereka sih biar kren gtu keluar negeri, so aku kan uda pernah kesingapur, yah tapi mau gak mau aku ikut mereka deh. Terus juga temanku Rena, bilang ke aku sebenernya dia nggk mau liburan ke singapura tapi dia tuh suka ikut-ikutan apa kata temen aja.” demikian jawab adiku dengan bibir cemberut miring kiri tak beraturan.

Kamu mungkin banyak mengalami hal-hal yang kejadiannya hampir sama dengan yang dialami Rita diatas, dimana seorang individu menyerah pada pilihan mayoritas meskipun keyakinan akan kebebenaran individu tersebut tidak seperti mereka.

Hal semacam itu cukup sering terjadi seperti, menentukan gaji yang akan kamu terima ketika HRD bertanya "berapa gaji yang kamu inginkan?" atau memilih menu makanan saat berkumpul dengan teman-teman ("Sayaa..., samain aja kaya kamu deh,") atau kejadian yang memang di setting untuk fenomena ini (mengikuti tingkah laku orang sebelumnya) yang dapat kamu lihat pada tulisan ini.

Keep read it, and feel your emotions :) fenomena harimu, Eksperimen asch conformity "fenomena ikut-ikutan teman."

Follow
Image: Where we will go? [pixabay]
 

Mengapa mengikuti teman (eksperimen Asch)


Dalam pandangan psikologi dikenal adanya penyesuaian diri, penyesuaian diri juga dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).

Kelompok merupakan faktor yang paling mudah mempengaruhi individu, bahkan sebuah kelompok dapat merubah sebuah teori kebenaran. dalam istilah sosiologi adalah kebenaran mayoritas, yaitu suatu kebenaran karena kekuatan kelompok mayoritas.

Kinloch berpendapat bahwa kelompok orang yang disebut sebagai mayoritas adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan, menganggap dirinya normal dan memilik derajat lebih tinggi. Sedangkan kelmpok lain yang dianggap sebagai kelompok minoritas adalah mereka yang tidak memiliki kekuasaan, dianggap lebih rendah karena memiliki ciri tertentu: cacad secara fisik ataupun mental sehingga mereka mengalami eksploitasi dan diskriminasi. (Kinloch, 1979: 38)

Tokoh lain yang membahas mengenai besarnya pengaruh kelompok yang kuat adalah Gramsci tentang teori hegemoni, Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Istilah conformity ini sering digunakan untuk menunjukkan kesepakatan untuk posisi mayoritas, disebabkan baik oleh keinginan untuk 'cocok' atau disukai (normatif) atau karena keinginan untuk menjadi benar (informasi), atau hanya untuk menyesuaikan diri dengan peran sosial (identifikasi).

Percobaan conformity


Percobaan konformitas Asch adalah sebuah percobaan yang diadakan oleh Solomon Asch pada tahun1951 untuk melihat sejauh mana kekuatan konformitas dalam suatu kelompok terhadap individu. Para partisipan bersama dengan "partisipan palsu" diberikan pertanyaan yang mudah dengan jawaban yang sangat jelas namun sebanyak 37 dari total 50 partisipan mengikuti jawaban dominan yang salah.

Ketika para partisipan diwawancara selepas percobaan, sebagian besar dari mereka mengaku tidak percaya pada jawaban dominan namun tetap menjawab salah karena takut dianggap aneh atau dicemooh. Sedangkan sebagian kecil dari mereka berkata kalau mereka benar-benar mengira bahwa jawaban "partisipan palsu" adalah benar.

Singkatnya adalah Conformity  merupakan jenis pengaruh sosial yang menyebabkan perubahan kesadaran, keyakinan bahkan perilaku agar sesuai dengan kelompok.

Hal ini seperti seorang guru yang bertanya (dengan jawaban dua pilihan) kepada murid satu-satu secara berurutan sesuai tempat duduk, jawaban murid dua orang pertama adalah yang menentukan jawaban murid selanjutnya.


Menyesuaikan diri sebagai manfaat untuk diri


Penyesuaian yang baik merupakan salah satu modal untuk menjadikan anda seseorang yang sukses, khususnya dalam menghadapi pengaruh dari kelompok yang lebih besar atau membawa dan menerima tantangan diri anda pada conformity, entah di tengah masyarakat, di lingkungan belajar dan dunia kerja. Tidaklah bijak terlahir menjadi seekor kucing anggora dari rahim singa, dan setidaknya jika itu ada maka jadilah seakan akan dia anak singa untuk sementara waktu. 

Maka dalam hal ini kita perlu mengingat bahwa kemampuan seseorang dalam bergaul, dan membangun teman sejawat atau  rekan kerjasama (network and marketing) bukan semata mata karena mereka tampan atau cantik begitu juga mereka yang kaya atau miskin, melainkan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Hidup jangan melawan arus.
Namun tetap butuh pegangan.
Agar tidak terhanyut.

Point of conformity


Conformity merupakan jenis pengaruh sosial yang menyebabkan perubahan kesadaran, keyakinan bahkan perilaku agar sesuai dengan kelompok. Conformity itu penting dalam kehidupan sehari hari, dan dalam mengambil keputusan atau pilihan harus cerdas, analisis dan observatif.

Baca juga yang mungkin dapat menginspirasikanmu:

Referensi :
Cherry, Kendra. 2016. What Is the Social Comparison Process?. Verywell. Diakses: 4 desember 2016
Johnson, Paulie. 2015. Would You Fall For That? Will People Stop Eating When The Light Goes on? - WYFFT? Diakses: 6 Desember 2016 
Kamanto Sunato, “Hubungan Antarkelompok,” Pengantar Sosiologi, , (Edisi Revisi.; Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 2004), hmn.142, mengutip Kinloch (1979: 3-10)
McLeod, S. A. 2007. What is Conformity?. Simplypsychology. Diakses: 4 desember 2016
Nezar Patria, Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999) hal. 116 

2 comments

teman itu banyak manfaatnya, tapi kalau sudah sampai menghilangkan jatidiri kita, duhhh...enggak sehat lagi deh pertemanannya

oiya, Mas...apa ini pula yang menyebabkan kantuk dan kemalsan menulat ya? hahaha...sepele tampaknya, tapiii klo teman kita malas, buktinya kita bisa kesentrum ikutan malas

Balas December 7, 2016 at 10:26 PM

Betul mbak, berpegang teguh pada prinsip membuat kita tidak terhanyut. Hehe

Kalau menguap memang dapat menular mbak walaupun kita hanya melihatnya. Tapi kalau kantuk, saya belum pernah denger hal itu bisa menular.

Di beberapa artikel disebutkan bermalas-malasab dapat menular mbak, tapi sayapun belum tahu pasti hal tersebut hehe. (kudu banyak belajar lagi.)

Tapi kalau menurut pengalaman pribadi, malas juga dapat menular mbak hehe.

Balas December 8, 2016 at 9:38 PM