Sunday, December 18, 2016

Pesan Moral yang dapat Kamu Ambil dari Fobia [Cherophobia]

Setiap orang tentu ingin merasa bahagia, apalagi mereka yang merasa hidupnya selalu dipenuhi tekanan serta masalah yang tidak ada habis-habisnya. Kebahagiaan seperti menjadi hal yang langka yang banyak orang ingin selalu raih hal tersebut.

Banyak buku yang memberikan tips "bagaimana menjadi bahagia" namun sampai saat ini kami belum pernah menemukan buku "bagaimana mengatasi bahagia," terdengar aneh, bagaimana mungkin orang harus mengatasi bahagia mereka sedangkan bahagia adalah hal yang paling banyak dicari oleh semua orang.

Walaupun seperti itu, tahukah kamu beberapa orang tidak ingin merasakan bahagia bukan karena mereka tidak menginginkan bahagia tersebut, melainkan mereka meyakini setelah kebahagiaan ini mereka akan menghadapi kesulitan. See, coba perhatikan video dibawah ini:


Seorang kakak yang tidak ingin kehilangan kelucuan adiknya. Seharusnya dia berbahagia saat itu—menikmati kelucuan adiknya. Namun yang dipikirkannya justru masa depan adiknya yang menurutnya tidak selucu sekarang. Jika kakaknya itu tidak bisa merasakan kebahagiaan saat itu, dan kemudian adik kecilnya tumbuh, mungkin kakaknya akan menyesal karena kehilangan kelucuan adiknya lagi.

Jadi, kapan kakak perempuannya merasa bahagia?? 

Fenomena ini mirip dengan fobia yang disebut sebagai Cherophobia. Ya, kami katakan mirip karena kami tidak bisa mengatakan secara pasti orang itu memiliki fobia ini atau itu—karena kami bukan ahli. :)

Namun, untuk kamu ada hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari fobia ini. Fenomena Harimu, pesan moral yang dapat kamu ambil dari Cherophobia.

Cherophobia, mengapa fobia?


Sebelum membahas apa itu cherophobia kita terlebih dahulu mengatahui arti dari phobia. Untuk dapat memahami dengan jelas, berikut arti secara etimologi dan termenologi.

Image: Siap disuntik? [pixabay]

Menurut kamus ilmiah pupuler “fobi” yaitu kecendrungan perasaan seseorang yang ditandai dengan rasa takut yang berlebihan, sekalipun objek yang ditakuti tidak ada alasan yang jelas. Dengan demikian fobia adalah rasa takut yang berlebihan ( Prima pena 2006).

Sedangkan defenisi fobia menurut kamus psikologi adalah suatu ketakutan yang kuat, terus menerus dan irasional dengan ditimbulkan oleh suatu perangsang atau situasi khusus, seperti suatu ketakutan yang abnormal terhadap tempat tertentu.

Sementara kartini kartono (dalam buku Abnormal 1989:112) mendefinisikan fobia sebagai ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasional tidak bisa dikontrol terhadap suatu situasi terhadap objek tertentu.

Semua phobia adalah ketakutan yang tak beralasan, yang bertalian dengan perasaan bersalah atau pun malu, ditekan, kemudian berubah takut pada suatu yang lain, dengan begitu terpendamlah konflik atau frustasi yang dialaminya. Jadi phobia adalah rasa takut yang berlebihan kepada suatu hal atau fenomena yang membuat hidup seseorang yang menderitanya terhambat.

Sedangkan untuk faktor penyebabnya secara umum menurut Kartini Kartono adalah yaitu phobia dapat disebabkan oleh suatu pengalaman ketakutan yang hebat yang pernah dialami, pengalaman asli ini dibarengi rasa malu dan rasa  bersalah kemudian semua ditekan untuk melupakan kejadian-kejadian tersebut.

Dan jika mengalami stimulus yang sama akan timbul respon yang bersyarat kembali, sungguhpun peristiwa pengalaman yang asli sudah dilupakan, respon-respon ketakutan hebat selalu timbul kembali meski ada usaha-usaha untuk menekan dan melenyepkan respon tersebut

Cherophobia, mengapa chero?


Cherophobia terdiri dari dua kata yaitu “Chero”  adalah emosi ketenangan atau kebahagiaan, “phobia” adalah perasaan cemas atau takut yang berlebihan.dengan demikian Cherophobia adalah rasa takut akan kebahagiaan, kenyaman, dan suatu keadaan yang memungkinkan dirinya merasa bahagia, seseorang yang mengidap penyakit ini merasa enggan bahkan tidak mau untuk bertindak dan mengambil keputusan menjadi bahagia.

Apakah kasus cherophobia ini sebagai sesuatu yang dianggap normal, tentu jawabannya tidak, cherophobia dapat dikatakan sebagai suatu yang abnormal dan kasus yang langka, karena secara umum emosi manusia mengharapkan kebahagiaan.

Yang dapat kamu ambil dari Cherophobia


Sejenak dan mensyukuri apa yang anda rasakan saat ini, dengan kondisi fisik yang sempurna, mata yang melihat, kaki yang masih bisa melangkah dan tangan yang bisa bergerak, bahkan kecerdasan dan paras yang anggun. Rasa ketidakpuasan selalu ada dalam diri setiap individu.

Open your eyes guys! Tidak selamanya orang lepas dari permasalahan hidup, jika kamu berbahagia saat ini. Nikmati kebahagiaan tersebut serta syukuri dan bersiaplah untuk tantangan selanjutnya yang melupakanmu untuk merasa bahagia. Dan disaat itu tiba, bersemangatlah, juga tetap bersyukur. Jikalaupun tertatih-tatih, cukuplah bersabar.

Fenomema cherophobia merupakan cermin dalam kehidupan ini, bahwa manusia merupakan mahluk dinamis yang bergantung pada apa yang ada disekitarnya dan perlu di topang oleh ilmu pengatahuan sebagai motor yang dapat menghantarkan pada kehidupan yang baik.

Bercermin pada orang yang lebih baik, kaya, tampan dan sebagainya sebagai cambuk motivasi, menghargai diri sendiri saat memandang yang lebih rendah sebagai wujud syukur anda terlahir begitu sempurna dan mulia.

Kehidupan yang dinamis akan mengalami berbagai proses sosial yang akan melahirkan keadaan dan kondisi yang berbeda di setiap prosesnya, terkadang anda diatas lalu dibawah, sedih lalu menjadi bahagia, dengan demikian perdalam pengatahuan dan sadari bahwa semua itu merupakan dinamika kehidupan sebagai manusia.

Bagaimana menghadapi si Cherophobia


Berbagai kemunngkinan bisa saja terjadi, bagaimana kalau kamu bertemu dengan seseorang yang telah divonis memiliki fobia ini? beberapa analisa yang dapat menjadi pelajaran dalam menghadapi seseorang yang mengalami cherophobia, yaitu sebagai berikut;
  • Berikanlah sebuah penghargaan sebagai wujud akan keberadaan dirinya di tengah kehidupan bersama orang yang ada disekitarnya. Dalam poin ini pembaca memberikan contoh riil bahwa dalam kebahagiaan itu selalu ada orang yang mendukung di sekitarnya dan tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
  • Memuji ketika dirinya mampu melakukan perbuatan yang baik, meskipun perbuatan tersebut sebenarnya hal yang sederhana bagi orang yang normal. Pujian dapat menjadi stimulus dan dalam waktu tertentu menjadi doktrin dalam kpribadiannya. Poin ini mengacu pada ilmu psikologi tentang bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk karakter individu
.

Pilihan dalam tindakan yang mengarah pada pengambilan keputusan untuk menjadi bahagia merupakan sebuah prestasi besar, dan mereka yang menggapai prestasi besar tersebut seringkali menjadi teladan yang baik juga mudah mempengaruhi orang lain (menjauhkan dari orang yang psimistis terhadap kebahagiaan) serta memberikan penghargaan sebagai alat untuk membangun motivasi.
So, to gain your awareness kami menyarankanmu untuk membaca:
Check it out :)

Referensi:

Kartono. Kartini. 1889. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju >>Dapatkan bukunya
Miller, Alex. 2014. Sadie doesn't want her brother to grow up. Youtube. Diakses: 16 Desember 2016 
Tim Prima Pena 2006. Kamus Ilmiah Pupuler Edisi Lengkap. Surabaya: Gitamedia Press.

4 comments

woww.... ada ya ternyata pobiabahagia... syukurlah kayake aku enggak kayak gitu

Balas December 21, 2016 at 3:09 PM

nggk nyangka juga ya mbak, hehe

Balas December 22, 2016 at 4:52 PM
Anonymous delete

Salam, saya mengalami cherophobia. Walaupun saya tidak pernah ke pakar untuk mengesahkanny,tapi semakin saya membesar, keadaan phobia saya semakin teruk. Sukar untuk saya terima bahawa saya layak berbahagia. Malah sekarang, saya tidak boleh melihat kebahagiaan orang lain kerna itu akan buat saya merasa sedih dan kecewa. Sukar juga untuk saya mengubah dan mengubati phobia ini. Saya cenderung merasa ingin melindungi orang2 yang saya sayang dan orang sekeliking saya. Saya malah jadi anti dengan cinta dan lelaki kerna saya merasa saya akan membawa kesedihan kepada mereka. Saya merasa tiada sesiapa didunia yang dapat menerima saya kerna sedari kecil juga saudara dan org yang mengenali saya sering menyisihkan saya malah saya trauma apabila mereka pernah memanggil saya sbg seorang yang tidak berguna. Saya trauma akan kejadia tersebut dan ia merupakan kekecewaan terbesar saya didalam hidup. Saya mengalami beberapa kekecewaan dan trauma lainnya yang membuat saya merasa putus asa dlm mencapai bahagia. Saya merasa tidak kira bagaimana kuat saya mencuba, hasilnya masih sama. Saya hanya membawa kesedihan. Sukar untuk saya bercerita, mungkin kamu juga tidak faham . Saya inginkan pertolongan untuk mengatasinya, tapi saya takut jika saya bahagia, saya terpaksa mengorbankan kebahagiaan orang lain. Saya rela sendiri asalkan yang lainnya mampu bahagia. ��

Balas May 13, 2017 at 1:55 AM

Betul adanya kami tidak begitu paham kondisi keadaanmu sekarang. Bahagia adalah salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia dan itu sangat penting, sama pentingnya dengan merasa sedih, marah, terkejut,takut,dll.

Dan cara untuk mencapai emosi itu pun beragam.

Setiap orang layak mendapatkan emosi tersebut namun perlu diperhatikan cara mendapatkannya.

Cobalah untuk berinteraksi dengan lingkungan baru, menyendiri ditempat yang menyejukkan serta penuh dengan sensasi alam, berolahraga karena hal itu dapat menurunkan hormon "stress".

Jika ada hal yang ingin dibahas lebih lanjut,silakan masuk kemenu "Hubungi" Silakan isi kolom yang tersedia.

Semoga hal ini bisa meringankan bebanmu

Balas May 14, 2017 at 8:53 AM