Tuesday, January 10, 2017

Memahami Belajar Efektif 1: Learning Pyramid

Pendidikan sangat menentukan diri anak dalam perkembangannya menuju ke arah yang lebih baik, apalagi di era globalisasi yang segala sesuatu dapat berubah dengan serba cepat. Berkat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga banyak orang dapat menciptakan bermacam-macam alat yang canggih.

Irawati Istadi (2005:54) mengungkapkan pendidikan merupakan hal yang penting dalam pertumbuhan individu. Pendidikan adalah semacam investmen untuk menumbuhkan sumber-sumber manusia yang tidak kurang nilainya dari investmen pada pertumbuhan sumber-sumber material.

Fenomena Harimu kali ini memaparkan hal yang berkaitan dengan belajar efektif, bagi kamu yang akan menghadap ujian atau senang akan "belajar" itu sendiri itu sendiriKeep read this and be inspired :)

Esensi Belajar


Sebelum kita mengatahui bagaimana belajar yang efektif, perlu pembaca ingat teori belajar anak TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, itu berbeda, akan tetapi esensi dari belajar adalah memberikan perubahan dalam diri seseorang pada arah yang lebih baik.

“Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian sebagaimana dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola respon, tingkah laku yang baru, yang nyata dalam perubahan keterampilan, kesanggupan, sikap dan kebiasaan.”
 Witherington (1991:2)

Maka dengan demikian belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai suatu pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

Tiga tahap yang biasa ditempuh dalam belajar


Sampai saat ini teori belajar efektif tidaklah mutlak baku dalam satu teori, karena setiap individu terkadang mempunyai cara masing-masing bagaimana belajar efektif, akan tetapi secara umum berikut adalah cara belajar efektif yang digunakan para pakar pendidikan dan psikologi belajar. Menurut Jerone S. Bruner dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:

  1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

    Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Namun tidak selalu "siswa," mereka yang tidak menempuh pendidikan formal pun dapat menerima informasi dari orang lain.

    Kemanapun kamu pergi akan selalu ada informasi mengenai tempat yang kamu tuju. Bertemu dengan siapakah kamu disana, maka informasi yang kamu peroleh seputar pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.

    Surround yourself with people who have dreams, desire anda ambition; They'll help you push for, and realize your own.
     - Kushandwizdom -
    See: Pengaruh orang lain terhadap perkembangan anak
  2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)

    Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual. Dibutuhkan ingatan itu sendiri untuk menghubungkan informasi yang satu dengan yang lain sehingga akan saling berkaitan.

    7x3= 21, Kamu tidak akan bisa memperoleh jawaban seperti itu jika kamu tidak mengerti tentang penjumlahan. Karena 7x3 merupakan 7+7+7.
     
  3. Tahap evaluasi
    Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi  yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau masalah yang dihadapi

Faktor yang memengaruhi belajar


Secara umum, menurut Muhibbin Syah (2001: 132) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat kita bedakan menjadi tiga macam, yaitu:

Faktor internal (faktor dari dalam diri), yakni keadaan jasmani dan rohani. Yaitu: aspek fisiologis (jasmani, mata dan telinga) dan aspek psikologis (intelegensi siswa, sikap, bakat, minat dan motivasi).

Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar. Yaitu: lingkungan sosial (keluarga, guru, masyarakat, teman) dan lingkungan non-sosial (rumah, sekolah, peralatan, alam).

Faktor pendekatan belajar (bagi pengajar,) yakni jenis upaya yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran, yang terdiri dari pendekatan tinggi, pendekatan sedang dan pendekatan rendah.

Konsep belajar 5M


Pemerintah selalu mengeluarkan kebijakan-kebijakan serta program pendidikan guna dapat mewujudkan siswa yang pandai dan berkompetensi, salah satunya yaitu perancangan kurikulum sekolah. Ada beberapa kurikulum yang pernah digunakan, diantaranya yang masih di pakai saat ini  adalah kurikulum K13 dan KTSP, semua itu bertujuan guna mendapatkan metode belajar yang efektif.

Dalam dunia pendidikan formal, para tenaga pendidik tentu tidak asing dengan konsep belajar 5M. Bagi kamu yang belum mengetahui konsep ini, berikut penjelasannya.
 
Learning
Image: Learning [pixabay]

  1. Mengamati (Observing)

    Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning), karena metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
     
  2. Menanya (Questioning)

    Dengan pertanyaan maka siswa akan lebih aktif dan dapat berusaha lebih giat lagi untuk menjawab pertanyaan seorang guru tersebut dengan benar,maka dengan menanya seorang siswa akan berusaha lagi. Kemampuan bertanya yang baik merupakan indikasi bahwa kemampuan verbal seseorang telah berkembang dengan baik.
     
  3. Menalar (Associating)

    Pengalaman-pengalaman yang tersimpan dalam memori otak itu berelasi atau berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia atau dengan kata lain proses asosiasi. Penalaran ini dimaksudkan untuk proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
     
  4. Mencoba (Experimenting)

    Hasil belajar akan terekam dalam memori peserta didik apabila diberi kesempatan untuk melakukan, mencoba atau mengalami tentu lebih memberikan nilai lebih dari hanya sekedar mendengarkan, karena aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
     
  5. Mengkomunikasikan (Communicating)

    Dalam bentuk sederhana menkomunikasikan berarti mempersentasikan atau menunjukkan hasil pekerjaan kepada publik, secara lisan maupun tulisan atau dengan karya lainnya karena dengan menyajikan kita akan dapat mengetahui hasil dari semua pembelajaran

Konsep belajar 5M terhadap learning pyramid


5M merupakan sebuah konsep belajar efektif yang dapat digunakan oleh siapapun, karena konsep tersebut merupakan dasar konstruksi berfikir ilmiah, ketika melewati proses tersebut maka kebenaran atau kesimpulan yang di peroleh merupakan kebenaran yang paling mendekati yang bisa dijadikan sebuah rujukan.

Untuk lebih memudahkan kamu memahami ini, berikut Fenomena Harimu menyajikan infographic seputar persentase kemungkinan daya serap informasi seseorang memahami apa yang dipelajarinya dengan berbagai metodeLearning Pyramid.

Learning Pyramid
Image: Learning Pyramid
  
Our life merupakan mekanisme belajar, manusia tidak berhenti melakukan proses pembelajaran selama individu tersebut mampu berinteraksi. Dengan demikian beberapa tahapan pembelajaran yang efektif dapat kita jadikan landasan dalam berbagai kehidupan, bukan hanya sekedar di bangku sekolah, tapi dilingkungan sosial, karena hasil pemikiran, pembelajaran yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula.

I see and I forget.
I hear and I remember.
I do and I understand.

- Confucius -


Referensi:
Bahtra, Fathan. 2013. Pengertian apa itu 5M. Bahtrafathan. Diakses 2 Januari 2017
Eksa, Yanuaria. 2014. Fase-fase Belajar menurut para Ahli. yanuariaeksa. Diakses: 2 Januari 2017
Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak (Jakarta: Pustaka Inti, 2005), hal 54
Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda Karya
Withirington, H.C. 1991. Psikologi Pendidikan, terj. M. Bukhori, Jakarta: Rineka Cipta
Yunus, Mas. 2015. Implementasi Pembelajaran Saintifik 5M. Kompasiana. Diakses 3 Januari 2017