Thursday, May 18, 2017

Komunikasi Membela Diri yang sering ditemui dalam Kehidupan Sehari-hari

Komunikasi merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dalam berinteraksi di kehidupan sehari-hari. Dalam berinteraksi, manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk bisa menjalin komunikasi dengan baik. Adalah hal yang wajar apabila manusia menginginkan segala sesuatu dalam hidupnya berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun. Namun kenyataannya, keinginan tersebut merupakan hal yang mustahil.

Dalam berkomunikasi pun, tidak selalu berjalan secara lancar dan efektif. Ketidakefektifan tersebut bisa disebabkan oleh perbedaan penafsiran antara sender (komunikator/yang menyampaikan pesan) dengan receiver (komunikan/yang menerima pesan), ataupun karena adanya cara penyampaian yang salah.

Perubahan emosi yang tidak menentu dalam diri manusia bisa juga mempengaruhi bahkan menghambat proses komunikasi tersebut. Padahal, komunikasi merupakan proses yang sangat penting dan berpengaruh terhadap keberlangsungan interaksi antar manusia.

Dalam proses komunikasi, disaat manusia merasa tidak nyaman atau terdesak dalam situasi yang dianggap tidak menyenangkan, seringnya manusia melakukan pertahanan berupa tindakan membela diri (defensiveness).

Fenomena Harimu, komunikasi membela diri yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Komunikasi membela diri
Image: Komunikasi membela diri [pixabay]

Mengapa kita membela diri?


Pamela Regan, dalam buku Close Relationship menyatakan bahwa,

"When faced with a partner’s criticism and contempt, it is difficult for the other partner not to become defensive."

(Ketika menghadapi kecaman dan penghinaan lawan bicara, sulit bagi lawan bicara lain untuk tidak membela diri.)

"Defensiveness refers to feeling victimized, unfairly treated, or attacked by the partner, particularly during times of conflict or disagreement."

(Membela diri mengacu pada merasa dijadikan sebagai korban, mendapat perlakuan tidak adil, atau diserang oleh lawan bicara, khususnya selama terjadinya konflik atau ketidaksetujuan.)

Tindakan ini merupakan hal yang manusiawi, meskipun tidak semua hal yang manusiawi dapat diterima atau dibenarkan.

5 Indikasi yang sering dilakukan


James Coan dan John Allen dalam Handbook of Emoticon Elicitation and Assesment membagi defensiveness kedalam lima indikator yaitu the "yes-but," cross-complaining, minimization, excuses serta aggressive defenses:

  1. The "yes-but."
    Merupakan indikator yang paling umum terjadi dalam membela diri. Sebuah pernyataan yang memulai dengan persetujuan yang berlangsung sebentar namun sangat cepat berakhir dalam sebuah ketidaksetujuan, "Ya, bla bla bla, tapi, bla bla bla…"
     
  2. Cross-Complaining
    Indikator membela diri dengan cara segera mengalihkan pada kondisi-kondisi lain agar pembicaraan beranjak dari bahasan yang sebelumnya ke bahasan yang lain. Cenderung menghindari diri agar tidak lagi disalahkan.
     
  3. Minimization
    Bentuk membela diri ini adalah mencoba meminimalisir keluhan dengan menegaskan bahwa masalah yang dikeluhkan bukanlah hal yang seharusnya menjadi masalah utama. Meskipun seseorang memang bersalah, ia melakukan pembelaan seolah-olah ia tetap ada benarnya.
     
  4. Excuses
    Dimana membela diri dengan menghindari atau melemparkan tanggung jawab atau kesalahan pada sesuatu yang lain atau orang lain bukan kepada receiver. Sehingga, "banyak alasan!" menjadi kata yang sering terpintas oleh Receveir.
     
  5. Aggressive Defenses
    Seringkali bentuk membela diri ini menegaskan sesuatu dengan agresif, penolakan yang berapi-api dan terdengar kekanak-kanakan.

Contoh Percakapan dalam Berkomunikasi yang Mengandung Defensiveness


Percakapan dibawah ini merupakan contoh dua orang yang saling membela dirinya masing-masing.

Woman: "Ini bukan salahku kita kehabisan susu. Saya tidak bisa bertanggung jawab atas semua hal kecil dalam rumah. (Mengandung indikator aggresive defenses, "Ini bukan salahku.")

Man: "Saya tidak bisa pergi ke toko karena bos saya menyuruh saya lembur sehingga saya tidak punya waktu untuk pergi." (Mengandung indikator Excuses, dimana melemparkan tanggung jawab pada orang lain)

Woman: "Baik, jika saja kamu ingat untuk membuatkanku daftar belanja, kita tidak akan kehabisan barang-barang yang kita butuhkan." (Mengandung indikator cross-complaining, dimana mengalihkan pembicaraan pada hal lain)

Man: "Hey, ini bukanlah akhir dari dunia. Kita selalu bisa mempunyai telur untuk sarapan sebagai pengganti sereal." (Mengandung indikator minimization, dimana adanya usaha untuk meminimalisir keluhan)

Woman: "Baik, itu benar. Saya tidak pergi ke toko tapi itu karena saya menunggu kamu memberikan daftar belanja." (Mengandung indikator the "yes-but", dimana menyatakan persetujuan namun langsung menyatakan alasan untuk membela diri)

Man: "Lagipula saya tidak pernah berkata saya akan pergi ke toko"

Woman : "Ya, kamu mengatakannya!" (Mengandung indikator aggressive defenses, berapi-api dan bersifat kekanak- kanakan)

Man : "Tidak, aku tidak mengatakannya!" (Mengandung indikator aggressive defenses, berapi-api dan bersifat kekanak- kanakan)

Membela diri dalam komunikasi tidak hanya dilakukan pada komunikasi verbal tapi juga nonverbal, seperti tindakan merengek atau meninggi-rendahkan suara, merubah posisi tubuh, memperlihatkan gerak gerik tubuh seperti melipat lengan di dada dan memberikan senyuman palsu.

Sama halnya dengan stonewalling, dalam SPAFF (Specific Affect Coding System) komunikasi defensiveness bernilai -2. Negatif pada nilai tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan pembelaan diri memiliki potensi merusak hubungan dengan orang lain.

Mengakui kesalahan bagi mereka yang berbuat salah merupakan langkah yang lebih baik daripada berusaha membela diri agar tidak terlihat bersalah. Namun dibeberapa kondisi, membela diri dapat dibenarkan hanya jika orang tersebut dalam kondisi yang memang "benar."

Seseorang yang dituduh melakukan perbuatan curang padahal dia tidak melakukan hal tersebut, maka lazim orang tersebut melakukan aggresive defenses. Walaupun secara komunikasi hal tersebut dapat berpotensi merusak interaksi, namun jika ia memang tidak melakukannya maka kebenaran itu patut dipertahankan.

Referensi:
Regan, Pamela. 2011. Close Relationship. New York-London: Routledge.
James A. Coan dan John J.B. Allen. 2007. Handbook of Emotion Elicitation and Assessment (Series in Affective Science). Oxford: Oxford University Press.