Saturday, July 22, 2017

Memahami 2 Sistem Cara Berpikir (Fast and Slow Thinking) Dalam Hidupmu

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang sepertinya mudah sekali menyimpulkan sesuatu sedangkan kamu mengetahui bahwa kesimpulannya salah? mengapa mereka begitu yakin terhadap pikirannya? akankahh kamu berkata "sok tau" kepada orang tersebut?

Fenomena Harimu kali ini akan memaparkan mengapa orang dapat begitu mudahnya dan kemudian begitu yakinnya terhadap kesimpulan yang mereka katakan, padahal apa yang dikatakannya belum tentu terbukti benar.

Dengan membawa gagasan utama Daniel Kahneman, Fenomena Harimu. Memahami 2 sistem cara berpikir manusia yang biasa dilakukan sehari-hari.

2 sistem cara berpikir daniel kahneman
Image: Idea [pixabay]

Sekarang, dapatkah kamu menjawab pertanyaan ini?

Rina membeli pasta gigi dan amplop dengan total harga harga Rp. 11.000. Harga pasta gigi 10 ribu rupiah  lebih mahal dari harga amplop. Berapa kah harga amplop?

Jawaban yang kamu pilih menunjukkan salah satu sistem cara berpikir yang kamu gunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kahneman mengatakan bahwa secara umum manusia memiliki 2 sistem cara berpikir yaitu, automatic system (fast thinking) dan deliberative system (slow thinking).

Nah, apakah kamu termasuk orang yang menyelesaikan pertanyaan tersebut dengan fast thiniking atau slow thinking? tahan jawabanmu dan silakan terus membaca :)

Berpikir cepat (automatic system) dan lambat

(deliberative system)


Automatic system/ sistem 1/ fast thinking  merupakan cara berpikir manusia secara intuitif (daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari mendalam), menggunakan usaha berpikir yang rendah, tidak menggunakan faktor relevan lainnya dan cenderung bersifat ikut-ikutan.

Orang begitu mudahnya menarik kesimpulan berdasarkan apa yang dilihatnya atau dirasakannya. Seperti orang yang percaya bahwa jika siapapun yang memakan udang kemudian meminum segelas teh, maka ia akan merasa gatal-gatal. Padahal bukan karena komposisi udang dan teh, melainkan alergi orang yang memakan udang tersebut yang membuat mereka gatal.

Seperti orang yang memperbaiki layar TV yang penuh semut dengan cara menggerbrak di salah satu sisi TV. Dan percaya bahwa dengan menggebrak maka TV nya akan berfungsi seperti semula.

Sedangkan deliberative system/ slow thinking atau sistem 2 merupakan cara berpikir dengan menggunakan usaha yang kuat, berdasarkan alasan, membandingkan dan menggunakan faktor yang relevan. Seperti orang yang menyadari bahwa bumi berputar mengelilingi matahari yang sebelumnya matahari mengelilingi bumi.

Jadi apa jawabanmu untuk pertanyaan diatas?


Jika kamu menjawab Rp. 500 untuk harga amplop, maka kamu menggunakan system 2 untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jika kamu menjawab Rp. 1.000 untuk harga amplop, maka kamu menggunakan system 1 untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Bagaimana jika seseorang menjawab Rp. 500 secara cepat?

Ada kemungkinan ia terbiasa melakukan proses perhitungan. Tingkat kecerdasan yang tinggi. Atau kemungkinan yang lainnya. Berpikir cepat atau lambat tidak berarti salah satunya lebih baik. Hal ini hanya mengarah pada perbandingan kemungkinan yang terjadi.

Jika kamu menggunakan sistem 2 untuk berpikir, kamu memiliki kemungkinan lebih lebih kecil untuk keliru atas jawabanmu. Namun kekurangannya pada sistem 2 ini adalah lebih lama menghabiskan waktu. Begitu juga sebaliknya, kemungkinan keliru dalam menjawab lebih besar ketika menggunakan sistem 1 namun selesai lebih cepat.

Tapi kamu bisa menyelesaikan suatu persoalan dengan lebih cepat dan tingkat kekeliruan yang lebih rendah. Kamu harus terus mengasah otakmu. Baca mengenai hal ini, special articles for you:

Sinkronisasikan dalam hidup


Sekarang, apa yang terjadi jika pertanyaan itu berhadiah satu unit rumah namun hanya boleh satu kali dalam menjawab. Maka akan banyak orang yang menggunakan system 2 untuk berpikir. Mereka akan sangat berhati-hati untuk menjawab dan jika menemukan jawabannya, mereka akan berpikir ulang untuk memastikan.

Saat ini, kita dituntut untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan serba cepat dengan kemungkinan resiko kesalahan yang kecil. Apakah ini berarti kita tidak diizinkan untuk merenung, membandingkan dan berusaha berpikir lebih dalam?

Kita selalu diizinkan melakukan proses merenung, membandingkan atau berusaha berpikir. Hanya saja, dalam situasi tertentu  kita tidak diizinkan menghabiskan beberapa menit untuk proses mengambil keputusan, oleh karena itu dibutuhkan kesimpulan sekejap, naluri, atau intuisi dan dengan mengembangkan ketrampilan diri.

Naluri bisa saja salah, dan berpikir terlalu lama dengan membandingkan banyak faktor juga memiliki kemungkinan salah. Namun yang terpenting, jangan takut mencoba karena ada kemungkinan salah. Keep productive :)

Referensi:
Gladwell, Malcolm. 2001. “Blink: kemampuan berpikir tanpa berpikir”. Pt. Gramedia Pustaka Utama
Kahneman, Daniel._____________ . “Thinking Fast and Slow”. vk.com. Diakses: 6 Juli 2015