Tuesday, August 1, 2017

[Eksperimen Bobo Doll] Alasan Mengapa Anak Harus Diberikan Contoh yang Baik

Pernahkah kamu mendengar pernyataan bahwa anak-anak adalah seorang ‘peniru ulung’? Anak-anak cenderung menirukan sesuatu melalui apa yang ia lihat, dengar dan rasakan.

Sebelumnya, Fenomena Harimu telah menerbitkan artikel mengenai anak yaitu 'Pengaruh orang lain terhadap perkembangan anak' dan 'Anak di usia 5 tahun pertamanya' yang merupakan faktor lain mengapa anak mudah meniru sehingga kita dihadapan mereka harus memberikan contoh yang baik.

Meniru adalah hal yang wajar. Hal ini dikarenakan, proses belajar tidak hanya secara fisik seperti belajar menari dan berkendara, tapi juga secara psikis (non fisik), dan meniru adalah salah satu proses belajar secara psikis melalui pembelajaran sosial (Social Learning).

Social Learning atau Observational Learning ini dicetuskan oleh psikolog bernama Albert Bandura. Pembelajaran sosial diartikan bahwa seseorang belajar melalui pengamatan, imitasi, dan pemodelan.

Pembelajaran sosial ini menggabungkan antara pengaruh kognitif, perilaku dan lingkungan. Bandura melakukan observasi mengenai pembelajaran sosial ini pada anak-anak yang dikenal dengan eksperimen boneka bobo (bobo doll experiment).

Most human behavior is learned observationally through modeling: from observing others, one forms an idea of how new behaviors are performed, and on later occasions this coded information serves as a guide for action.” – Albert Bandura

(Sebagian besar perilaku manusia dipelajari secara observasi melalui pemodelan: dari pengamatan orang lain, seseorang membentuk gagasan tentang bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada kesempatan selanjutnya informasi ini berfungsi sebagai panduan tindakan.)

Anak dan Boneka
Image: Anak dan boneka.  [Pixabay]

Eksperimen bobo doll pada anak

Albert Bandura mengemukakan bahwa proses pembentukan perilaku ditentukan oleh faktor kognitif dan faktor sosial.

Dalam eksperimen Bandura terhadap Boneka Bobo tersebut memperjelas bahwa perilaku dapat dibentuk hanya dengan menonton model. Bandura melakukan penelitian pada sejumlah Taman Kanak-Kanak yang dibagi atas tiga kelompok.

Setiap kelompok menonton sebuah film dimana seseorang (model) sedang menyerang dengan cara memukuli boneka plastik seukuran orang dewasa yang disebut ‘Boneka Bobo’,
  1. Kelompok pertama, penyerang (model) setelah selesai memukuli boneka, diberi permen, minuman ringan dan dipuji karena telah melakukan tindakan agresif.
  2. Kelompok kedua, penyerang (model) setelah selesai memukuli boneka, diberi hukuman karena telah berprilaku agresif.
  3. Kelompok ketiga, penyerang (model) tidak dihukum ataupun diberi hadiah, artinya tidak ada konsekuensi atas tindakan agresif yang dilakukannya.
Setelah menonton model tersebut, anak-anak dibiarkan sendiri berada di ruangan yang penuh mainan, termasuk boneka bobo. Mereka diamati melalui cermin satu arah. Hasilnya, anak-anak pada kelompok pertama dan ketiga lebih sering meniru perilaku model dibandingkan dengan anak-anak pada kelompok kedua.

Kesimpulan dari eksperimen tersebut, anak-anak belajar dari perilaku model melalui observasi, yakni melihat sendiri yang dilakukan model. Apa yang dilihat atau dialami oleh seseorang akan disimpan dalam pikirannya sebagai bentuk kognitif.

Kemudian memori tersebut akan menjadi referensi baginya, dan bila ia berada dalam situasi yang sama ia akan cenderung mengulanginya.

Proses anak dalam meniru contoh model


Menurut Bandura, manusia tidak langsung meniru begitu saja, namun memikirkan konsekuensi atas perilaku yang akan ia tiru. Apakah akan berdampak positif pada dirinya atau sebaliknya. Proses meniru ini terdiri atas empat tahap:

  1. Perhatian
    Dalam mempelajari sesuatu, kita perlu memerhatikan. Dalam observasi boneka bobo, anak-anak memerhatikan dengan seksama apa yang dilakukan model terhadap boneka bobo.

  2. Pengingat
    Dalam mempelajari sesuatu diperlukan kemampuan untuk menyimpan informasi yang dipelajari. Dalam observasi boneka bobo, anak-anak berusah mengingat bagaimana cara model memukuli boneka bobo.

  3. Pengulangan
    Pengulangan adalah tahap di mana seseorang meniru perilaku yang dipelajari dari model. Setelah mempelajari perilaku, manusia akan menjadiknnya referensi untuk digunakan nanti. Ketika anak-anak dibiarkan sendiri berada di ruangan yang penuh mainan, termasuk boneka bobo.

    Mereka melakukan pengulangan berupa tindakan agresif seperti memukul boneka bobo. Bahkan dengan kreativitas mereka, mereka bukan hanya memukul dengan tangan kosong namun menggunakan mainan yang ada di dalam ruangan.

  4. Motivasi
    Agar seseorang berhasil mempelajari tingkah laku, mereka harus memiliki keinginan untuk mempelajarinya terlebih dahulu. Tanpa motivasi, telah terbukti bahwa seseorang akan cepat kehilangan tingkah laku yang telah mereka pelajari.

    Terbukti pada observasi boneka bobo dalam kelompok pertama, anak-anak bertindak agresif pada boneka bobo seperti apa yang mereka amati sebelumnya, bahkan pada kelompok pertama mereka cenderung lebih agresif karena adanya penguatan berupa ‘penghargaan’ yang akan diberikan pada mereka.

    Pada kelompok kedua, bukannya mendapatkan motivasi, jutru mereka mendapatkan ancaman berupa hukuman, sehingga mereka merasa ‘dihalangi’ untuk berperilaku agresif, jadi tidak sesering kedua kelompok lainnya dalam mengulangi keagresifannya.

    Pahami bagaimana orang dapat menuruti perintah orang lain pada artikel 'Sulit mengatakan tidak pada orang lain.'


Contoh penerapan teori kognitif dalam fenomena sehari-hari


Pembentukan perilaku melalui observasi perilaku orang lain tejadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya.
Eksperimen Bobo doll Contoh Baik Untuk Anak
Image: Anak meniru orang tua. [Pixabay]
  • Seorang anak yang mengobservasi perilaku orang tuanya ketika diantar ke sekolah. Anak tersebut melihat orang tuanya tidak mentaati rambu lalu lintas, maka tidak mengherankan bahwa ketika anak mengendarai sendiri, mereka dengan mudah akan melanggar rambu lalu lintas.

  • Anak-anak yang terbiasa melihat perilaku orang dewasa yang membuang sampah sembarangan baik di sekolah maupun di lingkungan rumah, maka dengan sendirinya ketika mereka ingin membuang sampah, akan membuang sampah dimana-mana, tidak pada tempat sampah yang tersedia.

Sebenarnya, pembelajaran sosial ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, orang dewasa pun sama. Namun pada anak-anak dampaknya lebih besar karena mereka belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.

Bagaimana orang dewasa mengikuti orang lain? tentunya ada faktor lain seperti "banyaknya orang yang melakukan hal tersebut". Penelitian ini telah dilakukan oleh Solomon Asch dalam eksperimennya 'The Asch Conformity Experiment'.

Dan dalam dunia marketing khususnya periklanan pertelevisian, untuk memikat orang lain mereka menggunakan teknik yang disebut Bandwagon.

Referensi:
Waruwu, Adelise. Membangun Budaya Berbasis Nilai, Panduan Pelatihan Bagi Trainer. 2010. Kanisius: Yogyakarta.
Science Report. The Modeling Process of Social Learning Theory. http://science-report.net.