Monday, August 7, 2017

Hindari 5 Kategori Anggapan yang Kurang Baik Ini Ketika Berbicara!

Pernahkah kamu mendengar orang yang begitu mudahnya mengatakan "pasti!", "tidak mungkin!" atau "mustahil!"?

Kamu adalah seorang anggota dari suatu organisasi dan dalam suatu rapat, kamu memberikan ide atas permasalahan yang sedang dihadapi. Kamu begitu yakin dengan ide mu, bahkan kamu memiliki data autentik untuk mendukung ide.

Dan tidak lama salah seorang dalam rapat mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap idemu. kamu menjelaskan lebih rinci, masih dalam emosi yang begitu yakin, dan ia masih mengatakan hal yang serupa. Ia tetap menolak idemu.

Kamu tidak merasa begitu yakin dengan alasan orang tersebut. Alasannya tidak masuk akal dan ia mengabaikan data yang kamu bawa. Bagaimana perasanmu?

Fenomena Harimu kali ini akan memaparkan 5 kategori anggapan yang kurang baik, yang mematahkan segala kemungkinan yang ada.

Anggapan
Image: Mendengar [Pixabay]

Cukup sering orang-orang beranggapan dengan mengatakan “pasti”, ”tidak pernah”, “coba aja kalo”, dan sebagainya. Apakah ini baik? Begitu mudahnya mereka mengatakan hal tersebut seolah-olah ia telah mengalami kejadian yang sama dan hal itu berlaku juga bagi kita.

Entah karena masalalunya. Mereka menjadi lebih tahu atau mereka pernah tahu. Tapi sekali lagi, apakah pengalaman mereka juga selalu berlaku sama untuk orang lain?

Maksud kami, kondisi kita sekarang tidak selalu seperti apa yang pernah dialami orang lain — namun bukan berarti kita menolak masukan mereka. Kita tetap harus belajar dari pengalaman orang lain kemudian kita sesuaikan dengan kondisi kita saat ini.

Sebaiknya orang juga tidak memaksakan hasil pembelajaran pengalamannya kepada orang lain. Solita Sarwono mengkategorikan judgement/ penilaian/ anggapan ini kedalam 5 kategori.

Sehingga, bagi kamu yang telah membaca artikel ini sampai habis. Hindari 5 kategori beranggapan yang kurang baik ini ketika kamu berbicara.


Anggapan 1# Assuming Inflexibility (Asumsi yang tidak fleksibel)


  1. “kamu tidak akan pernah bisa menyelesaikan tugas itu, kalo tidak memakai sepatu kulit.”
  2. “Pasti orang lain juga bakalan nyontek buat ngerjain itu.”
  3. “Pasti sore nanti hujan, soalnya sekarang panas banget.”
    Kata kuncinya adalah “pasti”, “Tidak akan pernah”,dan  “nggk mungkin”. Seolah-olah meramalkan hal yang pasti akan terjadi.

    Dalam beberapa kondisi penggunaan kata pasti di benarkan dan hal tersebut bergantung pada kalimat yang diucapkan. Seperti

    "Kiamat pasti akan terjadi."
    "Orang yang hidup pasti akan mengalami kematian."

    Penggunaan kata pasti yang tidak dibenarkan adalah ketika kemungkinan yang lain dapat terjadi dan ia tidak menanggapi kemungkinan-kemungkinan tersebut. "Kamu tidak akan pernah memiliki rumah jika tidak mau kredit." padahal bisa saja ia beli rumah secara langsung kontan.

    Anggapan 2# Blame Placing (Menyalahkan)


    1. “Kenapa kamu malah milih yang kuning? Coba aja kalo kamu milih yang biru, pasti pelanggan kita makin banyak.”
    2. “Coba aja kamu bisa kerja ditempat itu, kayanya bakalan bahagia hidup kita.”
    3. “Kalo aja kamu nggk milih-milih pekerjaan, sekarang kita bisa belanja untuk keperluan rumah tangga kita.”
      Kata kuncinya adalah “coba aja kalo”, dan “kalo aja kamu”. Orang menyalahkan pilihan orang lain karena kondisi yang disebabkannya kurang baik. Ia merasa jika saja orang lain melakukan apa yang dilakukannya, hal itu akan membuat keadaan menjadi lebih baik.

      Orang percaya bahwa pilihannya lebih baik daripada apa yang telah orang lain pilih. Padahal kalaupun orang lain memilih berdasarkan perintahnya, hal tersebut belum tentu lebih menguntungkan.

      Jika kondisi kurang menguntungkan maka ia menyalahkan, jika kondisi biasa-biasa saja bahkan menguntungkan namun ia diam.

      Menang sendiri
      Image: I'am right [pixabay]

      Anggapan 3# Dichotomizing (Dikotomisasi)


      1. “Zaman sekarang kalo enggak curang tuh, enggak bakalan sukses, yang ada malah mati kelaparan. Sok mending kelaparan atau sukses?”
      2. “Udah… pake aja baju yang ini biar keterima kerja, sok mending nganggur atau kerja?”
      3. “kalau kita nambahin ini di dagangan kita, dagangan kita lebih awet dan nggk rugi. Siapasih didunia ini yang mau rugi? Enggak adakan?”
        Tidak berkompromi terhadap pilihan, mereka memberi pilihan yang memaksa pendengar untuk memilih apa yang diinginkan oleh penyampai pesan. Paksaan memberikan tekanan, semakin dipaksa maka semakin tertekan yang artinya pendengar akan menjadi defensif atau pasrah mengikuti penyampai pesan.


        Sebaiknya tidak memberikan pilihan melainkan meminta pendapat seperti “Bagaimana?”

        Anggapan 4# Punctuating (Menyela)


        Lina: “kamu sih nyuruh saya milih yang ini, ternyata enggak sesuai sama warna bajunya”
        Sani: “Lohh kan kamu juga yang pengen beli sepatu ini, kamu sendiri yang bilang bagus”
        Lina: “Gara- gara kamu kali, kamu dari tadi bilang sepatu ini bagus.”

        Berbeda dengan blame placing, orang tidak ingin disalahkan dan menyela bukan karena kesalahannya yang mengakibatkan hal buruk terjadi. Orang beranggapan "aku masih benar hanya saja jika...."

        Anggapan 5# Failure to test assumption (Kesalahan menguji asumsi)


        Ayah     : ”mau jadi apa kamu kalo masuk kelas seni lukis? Enggak bakalan sukses, siapa coba orang kita yang bisa sukses lewat lukis?”
        Restu    : ”ih buktinya temennya mamah itu bisa sampe keluar negeri?”
        Ayah     : “emang siapa?”
        Restu    : "itu yang rumahnya di kecamatan sebelah, yang deket pantai. Beliaukan orang kita juga pah”
        Ayah   : “udah pokoknya jangan sampe kelas lukis, mending kelas yang lain selain seni lukis. Mau jadi apa kamu?!”

        Mungkin kelas seperti matematika dan bahasa lebih dibutuhkan oleh banyak industri yang mengakibatkan kelas lain mejadi lebih rendah peminat, mereka beranggapan bahwa kelas yang paling banyak dibutuhkan industri memiliki peluang sukses lebih besar.

        Kemudian bagaimana dengan bakat manusia yang beragam?


        Itulah 5 kategori anggapan yang dinilai kurang baik yang dapat membuat percakapan menjadi destruktif dan tentunya mempengaruhi hubunganmu dengan orang lain. Hindari 5 kategori anggapan ini dan jadilah contoh teladan yang baik untuk orang disekitarmu.
        Enjoy :)

        Referensi:
        Pambayun, Ellys Lestari. 2012. Communication Quotient. Jakarta: Rosda >> Dapatkan Bukunya

        loading...