Monday, September 25, 2017

[Bystander Effect] Contoh Fenomena Kurangnya Kepedulian Sosial

Apabila seseorang mengalami keadaan darurat di tengah keramaian, apakah kamu berpikir bahwa orang-orang dalam keramaian pasti akan segera menolong orang tersebut?

Terjatuh atau terjadi sesuatu yang membahayakan, misalnya. Tanpa orang tersebut perlu berteriak minta tolong berkali-kali, apakah kamu yakin mereka akan dengan sigap menolong orang tersebut?


Bytander effect
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bibb Latane dan John Darley membuktikan bahwa jumlah waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengambil tindakan menolong orang lain dalam situasi darurat dan mencari bantuan tergantung pada berapa banyak orang yang berada dalam situasi tersebut.

Kasus bystander effect: Kitty Genovese


Pada 13 Maret 1964, Kitty Genovese, berusia 28 tahun pulang dari tempat kerja. Saat ia mendekati pintu apartemen, dia diserang dan ditikam oleh seorang pria bernama Winston Moseley.

Meskipun ada teriakan minta tolong berulang kali dari Kitty, tidak satu pun dari sekitar 38 orang di gedung apartemen terdekat yang mendengar tangisannya memanggil polisi untuk melaporkan kejadian tersebut.

Sampai pada akhirnya seorang tetangga meneriaki si penjahat hingga Winston melarikan diri dari tempat kejadian dan membiarkan gadis itu merangkak ke apartemennya. Juga, seorang tetangga lainnya menelepon polisi dan ambulan.

Namun sayangnya ia meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit. Serangan pertama dimulai pukul 3.20 pagi, tapi baru jam 3.50 pagi ada yang menghubungi polisi.

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing."
– Edmund Burke

(Satu-satunya hal yang diperlukan untuk kemenangan kejahatan adalah apabila orang baik tidak melakukan apa-apa.)

Apa yang menyebabkan efek bystander muncul


Dari kasus pembunuhan Kitty, diketahui bahwa 38 tetangga Kitty ada Saat pembunuhan terjadi namun mereka semua memilih untuk tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan Kitty.

Dilansir dari situs psychrod, setidaknya ada 3 alasan utama mengapa orang-orang (saksi) cenderung tidak cepat bertindak ketika orang lain (korban) mengalami keadaan darurat,

Alasan 1# Difusi tanggung jawab

Difusi tanggung jawab adalah fenomena pengaruh sosial yang terkait dengan rasa tanggung jawab seseorang (saksi) kejadian untuk membantu korban ketika ada lebih banyak saksi yang hadir.

Artinya, karena ada saksi lain dalam keadaan darurat yang terjadi, seseorang tidak merasa memiliki banyak tekanan untuk melakukan tindakan, karena tanggung jawab untuk mengambil tindakan dianggap dibagi di antara semua saksi yang ada.

Mereka merasa bahwa saksi lain akan merespon keadaan darurat tersebut dengan memberikan bantuan yang sesuai untuk korban.

Dalam kasus Kitty, banyak dari 38 saksi melaporkan bahwa mereka percaya bahwa mereka menyaksikan ‘pertengkaran seorang kekasih’, dan tidak menyadari bahwa wanita muda tersebut sebenarnya telah dibunuh.

Alasan 2# Penerimaan perilaku

Ketika terjadi keadaan darurat, para saksi sering melihat ke saksi lain dalam keramaian untuk mengetahui apa yang terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan.

Ketika seorang saksi melihat tidak ada saksi lain yang melakukan tindakan, hal tersebut seperti mengirimkan sebuah sinyal bahwa mungkin tidak ada tindakan apapun yang dibutuhkan.

Artinya, mereka menyimpulkan bahwa korban tidak membutuhkan bantuan. Ketika seseorang menjadi saksi yang menolong pertama kali, mereka ragu apakah pertolongan mereka itu benar-benar dibutuhkan dan dapat diterima.

Sering kali mereka khawatir tindakan mereka akan memperburuk keadaan atau membahayakan dirinya sendiri jika situasinya dianggap berbahaya.

Dari kasus Kitty, ketika tidak ada satu pun tetangga yang bertindak, tetangga yang lain mengira Kitty masih bisa menangani masalahnya sendiri. Ketika ada seorang tetangga yang bertindak dengan meneriaki si penjahat, barulah ada tetangga lain yang menghubungi polisi dan ambulan.

Dan juga mungkin ada tetangga yang menyadari bahwa Kitty sedang dalam bahaya, namun karena tidak mau terlibat bahaya, ia memilih diam saja.

Alasan 3# Perbedaan Budaya

Beberapa penelitian telah menganalisis bahwa budaya berperan penting dalam menentukan apakah saksi akan membantu atau tidak ketika terjadi keadaan darurat. Masyarakat individualis memiliki ikatan yang longgar di antara para anggotanya.

Sedangkan masyarakat non-individualis terbukti memiliki ikatan yang lebih dekat, sehingga mereka cenderung lebih menyadari dan cepat bertindak ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Kasus Kitty terjadi di apartemen dimana penghuninya cenderung individualis dan tertutup sehingga ikatan yang ada tidak begitu kuat.

Bagaimana mereka dapat menolong orang lain dengan segera?


Ketika kamu berada di posisi seseorang yang mengalami keadaan darurat, tentu kamu sangat berharap orang lain segera menolongmu, bukan? Menurut John Darley, tindakan yang bisa dilakukan korban untuk meminta bantuan orang lain adalah,

Jelaskan kesulitan, Ketika kamu dalam keadaan darurat, jelaskan pada orang lain di sekitarmu bahwa kamu sedang kesulitan dan membutuhkan bantuan.

Misalnya saat kakimu tiba-tiba tidak bisa untuk berjalan, “Saya telah memutar pergelangan kaki saya dan saya tidak dapat berjalan, saya butuh bantuan."
Hal ini akan mengatasi bystander effect akibat penerimaan perilaku.

Piih seseorang secara spesifik, Pilihlah orang yang spesifik untuk diminta bantuan, “Kamu yang di sana, dapatkah kamu membantu saya?" Lakukan kontak mata dan tanyakan pada seseorang itu secara khusus untuk mendapatkan bantuan.

Dengan mempersonalisasikan permintaanmu, akan menjadi jauh lebih sulit bagi orang untuk menolakmu. Hal ini akan mengatasi bystander effect akibat difusi tanggung jawab.

Related post

Referensi :
Cherry, Kendra. Why Bystanders Sometimes Fail to Help. 2017. verywell
Rodarte, Brandon. The Bystander Effect: Reactions and Causes. 2015. psychrod

loading...