Friday, November 10, 2017

[False Consensus Effect] Alasan Mengapa Orang Suka Membenarkan Anggapannya

Pernahkah kamu pergi menonton film horor yang sangat menakutkan? Apakah kamu berpikir bahwa semua yang sedang menonton bersamamu saat itu juga pasti menganggap film tersebut menakutkan?

Padahal, kamu bisa saja keliru, bagi mereka, belum tentu film tersebut menakutkan, bisa jadi menurut mereka justru biasa saja. Kamu cenderung melebih-lebihkan bahwa orang lain pasti mempunyai pikiran yang sama denganmu. Dalam psikologi sosial, hal tersebut dikenal dengan False Consensus Effect atau efek konsensus palsu.

Efek konsensus palsu terjadi saat kita keliru menghubungkan keyakinan kita tentang sesuatu pada populasi yang lebih besar. Efek konsensus palsu membuat seseorang percaya bahwa nilai dan gagasan mereka sendiri adalah ‘normal’ dan mayoritas orang memiliki pendapat yang sama.

Argumentasi
Image: Argumentasi [Pixabay]

Pada tahun 1977, psikolog sosial dari Universitas Stanford, Profesor Lee Ross melakukan penelitian yang berfokus pada ‘bias dalam penilaian dan pengambilan keputusan manusia’, yang membuat seseorang salah menafsirkan perilaku masing-masing dan yang menciptakan hambatan penyelesaian dalam sengketa dan pelaksanaan kesepakatan damai.

Dalam penelitian tersebut, peserta diminta membaca situasi dimana terjadi konflik, kemudian peserta diminta mengatakan dua cara alternatif untuk menanggapi situasi tersebut. Mereka diminta melakukan tiga hal:

  1. Menebak pilihan mana yang akan dipilih orang lain
  2. Mengatakan pilihan mana yang mereka pilih sendiri 
  3. Menjelaskan ciri orang yang kemungkinan akan memilih masing-masing dari kedua pilihan tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menganggap bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama seperti mereka, terlepas dari yang mana pilihan yang mereka pilih sendiri. Ini memvalidasi fenomena efek konsensus palsu, di mana seseorang berpikir bahwa orang lain juga akan berpikir dengan cara yang sama, bahkan saat mereka sebenarnya tidak melakukannya.

Ketika peserta diminta untuk menggambarkan ciri-ciri orang-orang yang kemungkinan akan membuat pilihan yang berbeda dengan pilihan mereka sendiri, peserta membuat prediksi ekstrem, bahwa kepribadian mereka yang tidak sepemikiran, sangat berlawanan dengan kepribadiannya sendiri.

Salah satu fenomena efek konsensus palsu


Ada sekelompok wanita dengan jumlah 5 orang berjalan di sebuah kampus. Seorang laki-laki yang terlihat menarik mendatangi mereka dan meminta nomor telepon mereka. Maggie, salah satu wanita dalam kelompok tersebut, menanggapi dan menolak permintaan laki-laki tersebut, 'Tidak, terima kasih.' Maggie mengatakan bahwa mereka semua mempunyai pacar dan tidak dibenarkan jika memberikan nomor telepon mereka kepada orang asing.

Namun, Lindsay, salah satu temannya tidak setuju kalau memberikan nomor teleponnya kepada orang asing itu tidak dibenarkan, meskipun mereka mempunyai pacar. Maggie Kaget, Maggie bertanya kepada temannya yang lain apakah mereka setuju dengan dia atau Lindsay. Nyatanya hanya satu teman lain dalam kelompok tersebut yang setuju dengan Maggie. Apa yang baru saja dialami Maggie disebut sebagai efek konsensus palsu (false consensus effect).

Maggie berpikir bahwa pendapat, sikap dan keyakinannya sesuai dengan pendapat, sikap dan keyakinan teman-teman sekelompoknya. Maggie telah membandingkannya dengan teman-temannya.


Ketika kita memiliki keyakinan tertentu, kita cenderung memperkirakan bahwa kepercayaan tersebut juga diyakini oleh orang lain, terutama orang-orang terdekat kita seperti keluarga dan sahabat.

Bagaimana efek konsensus palsu bekerja?


Ketika kita mencoba untuk memperkirakan kemungkinan sesuatu, kita cenderung melihat contoh-contoh yang muncul dalam pikiran dengan sangat mudah. Asumsi ini wajar, pikiran manusia membuat kesimpulan berdasarkan satu atau beberapa contoh.

Contoh:
Pernahkan kamu melihat singa tertidur secara langsung? kemudian jika saat ini singa tersebut ada dihadapanmu (tanpa penghalang dan masih tertidur) Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu berlari atau bersembunyi sedangkan singa tersebut hanya tertidur? Ya, kita semua telah mendapatkan contoh bahwa singa itu berbahaya. Film memberikan contoh yang dapat membuat kita menyimpulkan hal tersebut.

Jika kamu mencoba menentukan apakah orang lain memiliki kepercayaan sepertimu, mungkin kamu akan memikirkan orang-orang yang paling mirip denganmu, seperti keluarga dan temanmu, dan kemungkinan besar mereka berbagi banyak kesamaan denganmu.

Orang yang paling banyak menghabiskan waktu dengan kita, seringkali cenderung memiliki pendapat dan kepercayaan yang sama, bahkan perilakunya sama. Karena itu, kita mulai berpikir bahwa cara berpikir kita adalah sama dengan orang-orang terdekat kita. Menurutmu, hanya orang yang sangat berbeda dari mereka yang akan membuat pilihan yang berbeda.


The reality is that most people don't like to be wrong, so they surround themselves with people and information that confirm their beliefs.” –Jim Taylor Ph.D
(Kenyataannya adalah kebanyakan orang tidak suka salah, jadi mereka mengelilingi diri mereka dengan orang dan informasi yang mengkonfirmasi keyakinan mereka.) – Jim Taylor Ph.D

Mempercayai bahwa orang lain sama seperti kita adalah baik untuk harga diri kita. Hal ini memungkinkan kita untuk merasa ‘normal’ dan menjaga pandangan positif tentang diri kita sendiri dalam kaitannya dengan orang lain. Agar merasa nyaman dengan diri kita sendiri, kita termotivasi untuk berpikir bahwa orang lain sama seperti kita.

Jika kita mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting atau merasa percaya diri dengan pandangan kita sendiri, tingkat konsensus palsu cenderung lebih kuat. Artinya, kita cenderung menganggap lebih banyak orang setuju dengan kita. Semakin tinggi tingkat keyakinan seseorang akan sesuatu, semakin besar populasi yang ia anggap memiliki keyakinan yang sama.

Referensi:
Cherry, Kendra. What Is the False Consensus Effect? Why We Assume Others Think the Same Way We Do. 2017.verywell                            
False Consensus Effect: Definition & Example,study
Ross’ False Consensus Effect Experiments. explorable
Taylor, Jim. Cognitive Biases v.s. Common Sense. 2011. psychologytoday

loading...