Friday, December 8, 2017

[Return Trip Effect] Mengapa Perjalanan Pulang Terasa lebih Cepat daripada Pergi

Ketika melakukan perjalanan ke suatu tempat, seringkali perjalanan saat pergi terasa lebih lama daripada perjalanan saat pulang. Apakah kamu juga pernah merasakannya? Jika ya, maka kamu tidak sendiri.

Banyak orang yang mengalami fenomena ini yang dikenal dengan ‘return trip effect’ (efek perjalanan pulang). Teori perjalanan pulang adalah fenomena psikologis dimana perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan pergi, padahal jarak dan waktu yang ditempuh sama saja. Berikut fenomena harimu paparkan mengapa efek perjalanan pulang bisa terjadi.

Return trip effect
Image: Trip [Pixabay]

Otak sudah familiar dengan kondisi jalan


Alasan ini mengacu pada teori familiaritas yang dicetuskan pada tahun 1950. Teori ini berlaku pada jalan asing yang belum sering kita lalui. Familiaritas (merasa akrab) adalah teori tertua dalam return trip effect, diteliti pada tahun 1950-an.

Logikanya, saat perjalanan pergi, otak kita masih ‘asing’ dengan kondisi jalan, memori otak terfokus pada jalan dan objek-objek yang kita lewati sehingga perjalanan terasa lebih lambat. Sedangkan saat perjalanan pulang, meski melalui jalur yang sama, otak kita sudah tidak merasa asing, sudah merasa akrab (familiar) dan memahami kondisi jalan.

Dan kemudian teori ini ditentang oleh Niels can de Ven.

Antara persepsi–ekspektasi–realita


Alasan ini mengacu pada teori yang dicetuskan oleh Niels van de Ven pada tahun 2011, cenderung mengkritik teori familiaritas. Menurutnya, jika efek perjalanan pulang terjadi karena otak yang masih asing atau sudah familiar dengan kondisi jalan, maka hal ini tidak berlaku dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang, karena objek yang terlihat baik saat pergi maupun pulang hanyalah sekumpulan awan.

Nyatanya para penumpang pesawat masih mengalami efek perjalanan pulang. Menurut Niels, efek perjalanan pulang terjadi karena adanya persepsi dan ekspektasi dari seseorang itu sendiri.

"Often we see that people are too optimistic when they start to travel, So you start the return journey, and you think, 'Wow, this is going to take a long time,
–Niels van de Ven.
(Seringkali kita melihat orang-orang terlalu optimis saat memulai perjalanan, dan ketika perjalanan berakhir, kamu berfikir ‘Wow, ini akan memakan waktu lama’) –Niels van de Ven.

Niels melakukan dua penelitian, penelitian pertamanya menguji efek perjalanan kembali dari sebuah perjalanan bus. Di sini, 57 wanita mengatakan bahwa perjalanan dalam perjalanan pulang lebih pendek. Studi pertamanya menyimpulkan bahwa semakin banyak peserta berpikir bahwa perjalanan awal akan memakan waktu lebih lama, semakin mereka merasa perjalanan pulang memakan waktu lebih lama.

Penelitian kedua Niels menguji perjalanan sepeda dengan 93 siswa dan rute yang tidak diketahui. Mereka secara acak ditugaskan ke dalam kelompok 5-10 orang dan harus melakukan perjalanan di dua rute yang berbeda, sama dengan waktu dan jarak yang sama. Mereka menyatakan bahwa rute dalam perjalanan pulang adalah rute yang lebih pendek.

Ketika perjalanan pergi, seseorang akan optimis akan cepat sampai tujuan, sehingga perjalanan terasa lebih lama daripada yang diharapkan. Sedangkan saat perjalanan pulang, seseorang tidak seoptimis ketika pergi.

Kita sering melebih-lebihkan berapa lama perjalanan pulang akan berlangsung dan tidak mengharap akan cepat sampai, sehingga perjalanan terasa lebih cepat. Kesimpulannya, teori Niels ini adalah keterkaitan antara persepsi–ekspektasi–realita.

Mengkhawatirkan waktu


Alasan ini salah satunya mengacu pada teori Richard A. Block, bahwa keinginan seseorang untuk cepat sampai membuat kita terlalu berkonsentrasi pada waktu yang dihabiskan dalam perjalanan, sehingga terasa lebih lama.

Hal ini diperkuat oleh peneliti lain bahwa kita ingin menghabiskan banyak waktu di tempat tujuan, kita khawatir waktu kita di tempat tujuan akan berkurang, terpotong karena perjalanan pergi yang lama. Karena terlalu khawatir, kita cenderung terus mengecek jam tangan atau ponsel, waktu berjalan terasa lebih lambat saat perjalanan pergi. Sedangkan saat pulang, kita tidak mengkhawatirkan waktu.

“Although it is exactly the same distance, feels in many cases shorter than going there because time is not that important and so our attention is diverted or distracted by events occurring around us," 
–Dan Zakay, psychologist.

(Meski jaraknya sama persis, terasa dalam banyak kasus (perjalanan pulang) lebih pendek daripada perjalanan pergi, karena waktu (saat perjalanan pulang) tidak begitu penting sehingga perhatian kita dialihkan atau terganggu oleh kejadian yang terjadi di sekitar kita). –Dan Zakay, psikolog.

Bagaimanapun, perasaan kita tentang berapa banyak waktu yang terlewat adalah subjektif, mudah bias oleh hal lain yang terjadi di sekitar kita, seperti suasana hati kita atau apa yang sedang kita lakukan saat itu.

Seperti ketika kita sedang terlambat, kita cenderung terus-menerus mengecek jam tangan, waktu saat itu terasa begitu lambat. Gagasan ini sesuai dengan pepatah lama, ‘Panci yang diawasi tidak pernah mendidih,’ dan ‘waktu berlalu saat kamu bersenang-senang.’ '

Ini juga membantu menjelaskan fenomena waktu yang sepertinya melambat saat kehidupan kita berisiko. Hal ini juga terjadi dalam ingatan kita: Bila kita lebih memperhatikan periode waktu tertentu, kita cenderung mengingat bahwa periode waktu itu lebih lama.

Referensi :
Marsoum, Amanes. Return Trip Effect: Fenomena Psikologis yang Paling Sering Kamu Alami. 2016. inovasee
Stromberg, Joseph. The Return Trip Effect: Why The Trip Home Always Feels Shorter Than The Trip There. 2015. vox
Swanson, Ana. The science behind why the return-trip always feels shorter than the trip there. 2015. washingtonpost

loading...