Monday, December 4, 2017

Review Buku: Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha muda yang patut menjadi teladan bagi para pemuda. Perjuangan hidup dan kerja keras untuk mengubah kehidupan serta mewujudkan cita-citanya dapat kita baca dalam buku biografi ‘Chairul Tanjung Si Anak Singkong’. Buku ini lahir sebagai bentuk syukur atas 50 tahun kehidupannya yang luar biasa.

Buku ini ditulis oleh Tjahja Gunawan Diredja, seorang wartawan harian Kompas. Gaya bahasa yang digunakan gaya sastrawan Ramadhan K.H (Alm) yang berbahasa formal, bertutur yang disertai kerendahan hati. Oleh karena itu, pembaca bisa mersakan soul dari kisah perjuangan Chairul Tanjung yang inspiratif.

Chairul Tanjung dilahirkan di daerah Kemayoran, Jakarta merasakan sulit hidup berpindah-pindah karena keadaan ekonomi yang pasang-surut. Akhirnya, mereka berpindah ke daerah kumuh bernama Gang Abu, Batu Tulis, Jakarta. Sejak kecil, orang tuanya menanamkan prinsip mengutamakan pendidikan untuk lepas dari jerat kemiskinan.

Pola pendidikan yang diterapkan lebih kepada bentuk dan contoh konkret. Ia menganggap semua hal, baik formal maupun informal, merupakan proses pendidikan yang terasa manfaatnya hingga saat buku ini ditulis.

Agar bisa keluar dari kemiskinan, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya. Hal 5

Orangtuanya berusaha keras agar keenam anaknya, termasuk Chairul Tanjung, dapat bersekolah hingga perguruan tinggi. Semangat kedua orang tuanya membuat Chairul Tanjung dapat mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Fakultas Kedokteran Gigi.

Jurusan ini belum begitu terkenal di tahun 1980 an, tapi itu tak menyurutkan semangat Chairul Tanjung untuk breprestasi. Kisah masa kecil dan remajanya yang sulit tak diceritakannya pada teman-teman malah menjadi acuan baginya untuk lebih prestatif.

Tinggal di lingkungan kumuh Gang Abu, dengan berbagai permasalahan dan kesulitan yang saya alami, tidak serta harus diceritakan kepada teman-teman di kampus. Tidak! Ini ranah privacy saya dan segala masalah yang ada harus bisa diselesaikan sendiri. Saya senantiasa harus bisa tersenyum sat bertemu teman-teman di kampus, juga harus dapat menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya saat mereka sesekali menanykan kondisi kehidupan saya. Enggan saya umbar air mata apabila hanya memancing barisan tanya berikutnya. Hal 7

Biaya awal kuliah hasil dari penjualan kain halus ibunya, selanjutnya ia berusaha keras menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi juragan fotokopi hingga penjual alat dan bahan praktikum kedokteran gigi. (Bagaimana ia bisa menjadi juragan fotokopi?)

Aktifitas kuliah dan usaha yang padat tak menyurutkan kepeduliannya pada kegiatan sosial di kampus. Ia berhasil memajukan usahanya hingga keuntungannya berlipat, nilai-nilai di mata kuliahnya baik, dan membuat kegiatan sosial hingga tingkat provinsi di Sumatera Barat dan Timur-Timur. Chairul Tanjung pun menjadi mahasiswa teladan, aktivis, sekaligus pebisnis.

Setelah kuliah, ia dilema ingin mengabdikan diri sebagai dokter Gigi di pedalaman atau menjadi pebisnis. Chairul Tanjung mantap memilih menjadi pebisnis atas saran Pak Arifin, pembantu Dekan III FKG UI bidang Kemahasiswaan pada masa itu. Kemampuan komunikasi serta membangun relasi yang baik sejak masa kuliah membuka CV. Abadi Medical & Dental Supply yang di kala itu lebih berorientasi pada gaya bukan keuntungan. Alhasil, bisnisnya pun merugi dan  tutup. Dari situ Chairul Tanjung belajar bisnis masa kampus berbeda dengan masa pasca kampus.

Kegagalan berbisnis tak menyurutkan semangatnya menjadi pebisnis. Selanjutnya, ia gagal dalam pembuatan pabrik sepatu karena Mr. Wong pemilik pabrik bangkrut. Ia pun menjual mobil sedan miliknya dan kembali menggunakan kendaraan umum. Kemudian, ia mendapatkan pekerjaan  merenovasi pabrik sepatu milik Kasogi. Tak disangka hasil pekerjaannya yang bagus membuat pemilik pabrik sepatu tersebut sehingga ia disarankan untuk membuat pabrik sepatu.

Chairul Tanjung dibantu oleh kedua temannya Untung Sentausa dan Aris Mulyono membuat perusahaan dengan modal pabrik sepatu setengah jadi  milik Mr. Wong dan pinjaman dari bank Exim 150 juta rupiah. Perjalanan tak mudah, mereka tak mendapat order selama 3 bulan. Michael Chiam dikawal dari pagi hingga malam agar mendapatkan pesanan. Akhirnya, mereka mendapat pesanan sandal beach yang sedang digandrungi warga eropa. Keuntungan pun datang. Entahlah, pabrik sepatu pun menjadi pabrik sandal.

Chairul Tanjung yang mumpuni membuat banyak pengusaha percaya padanya. Ia diamanahi mengelola Bank Karman yang sakit parah dan berhasil memajukannya menjadi Bank Mega yang dipercaya banyak nasabah. Ia juga menjadi bank swasta pertama di Indonesia yang mengembangkan bank dengan konsep syariah bernama Bank Mega Syariah.

Ia juga menantang dirinya membuat tontonan televisi bermutu sehingga muncul Trans TV. Ia juga membeli TV7 yang sedang mengalami kerugian menjadikannya TV bermuatan program lokal bernama Trans 7. Awalnya, kedua televisi itu  membuatnya merugi ratusan milyar setiap bulannya hingga ia nyaris putus asa. (Kemudian bagaimana beliau menghadapi hal ini?)

Chairul tanjung juga diamanahi mengelola Carrefour Indonesia. Raksasa retail asal Prancis itu mendatanginya dan menawarkan kerjasama. 40 persen saham dibelinya sehingga Carrefour resmi milik Indonesia. Carrefour sekarang dikenal dengan TransMart dan menjadi pusat perbelanjaan yang inovatif sekaligus edukatif (Seperti apa konsep yang ditawarkan sehingga Carrefour resmi menjadi milik Indonesia?).

Chairul Tanjung yang dikenal supel dan rendah hati ini sudah memiliki puluhan ribu karyawan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia berusaha keras untuk tetap berkarya sebagai tanda syukur dari rahmat yang telah Allah berikan padanya.

Saya bisa seperti ini karena yakin ini kehendak Tuhan. Hasil yang sudah saya capai sekarang merupakan bantuan tangan Tuhan. Tidaklah mungkin perusahaan yang saya kelola bisa tumbuh cepat kalau bukan karena kehendak Tuhan. Karena ini amanah dari Yang di Atas, maka harus saya pertanggungjawabkan. Ya, caranya harus bersyukur. Bagaimana caranya bersyukur? Ya saya harus kerja keras. Saya besarkan perusahaan. Tuhan menghendaki agar saya mengembangkan perusahaan lebih besar agar bisa menampung tenaga kerja lebih banyak dan memberikan kemaslahatan kepada orang banyak. Hal 304

Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong
Image: Buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong
Via Belbuk


Referensi :
Diredja, Tjahja Gunawan. 2012. Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara

loading...