Friday, January 5, 2018

Review Buku 9 Summer 10 Autumn : Dari Kota Apel ke The Big Apple

Buku yang akan dibedah kali ini adalah 9 Summer 10 Autumn : Dari Kota Apel ke The Big Apple. Buku ini merupakan autobiografi yang ditulis oleh Iwan Setiawan, anak tukang angkot yang berhasil menjadi Direktur Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York.  Buku ini dirilis dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kisahnya juga sudah difilmkan pada 2013 dengan judul yang sama. Buku ini sangat direkomendasikan sebagai pemompa semangat untuk mencapai resolusi di tahun 2018.

Buku ini dituliskan dengan bahasa sederhana yang ringan. Kisah ini ditulis dari hati dan mampu menyentuh hati sekaligus memberi semangat pembacanya. Buku ini juga tidak cukup tebal hanya 200 halaman sehingga bisa diselesaikan dengan cepat.  Bacaan yang ringan dan membekas di hati.

Kisah ini dimulai dengan Iwan yang dikejar preman sewaktu ingin melihat kembang api yang mewarnai langit New York pada 4 Juli. Ia dipukuli oleh preman itu, namun beruntung dompetnya tidak berhasil diambil. Sejak saat itu, ia memiliki teman bayangan, seorang anak kecil berpakaian seragam merah-putih. Ia bebas menceritakan perjuangan masa kecilnya hingga kuliah dan berhasil bekerja di New York.

One of the deepest memory i have of my childhood involved my parents little house and the drops of rain. Even though there were quite a few leaks in the house and the mountain ir would send chills through our bones. We felt protected. As children, it was exactly what we need from our parents and our home. To be protected, that’s all.”
(Salah satu kenangan terdalam yang kuingat semasa kecil ialah rumah kecil orangtua dan tetesan air hujan. Meski pun banyak kebocoran di rumah dan angin pegunungan yang menusuk hingga ke tulang. Kami merasa terlindungi.  Hal itu yang butuhkan sebagai sebagai seorang anak dari orang tua dan rumah. Merasa terlindungi, itu saja.) Hal 20-21

Iwan yang semasa kecil hidup dalam serba kekurangan tak menyangka bisa merasakan hidup di apartemen di New York. Ia masih asyik menceritakan masa kecilnya kepada anak kecil itu. Teh hangat dan pisang goreng menjadi saksi kehangatan keluarga tersebut. Mereka masih melakukannya hingga sekarang.

As always, yoga class is healing.
 (Seperti biasanya, kelas yoga itu menenangkan) hal 32

Pekerjaan terkadang membuat penat, Iwan mengikuti kelas Yoga untuk menenangkan diri. Ia berjanji bertemu dengan anak kecil itu lagi setelah kelas yoga. Kemudian, ia menceritakan tentang kedua orang tuanya dengan segala kelebihannya.

Kedua orangtuanya adalah penyemangat hidupnya. Ayahnya dengan mudah menerima kenyataan dan memberikan usaha terbaiknya untuk keluarga serta orang-orang di sekitarnya. Ibunya yang sabar dan kuat menghadapi anak-anaknya yang terkadang nakal. Kakak dan adiknya juga mendukung secara emosional maupu finansial. Keluarganya menjadi teladan dan penyemangat untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

I have, in my possession, several major secrets and only on long and lonely night am I able release them.
 (Saya memiliki, dalam kepemilikan saya, beberapa rahasia besar dan hanya pada malam yang panjang dan sepi saya bisa melepaskannya) hal 125

Ia dikelilingi oleh banyak orang yang memercayai dan menyayanginya. Ia yang kadang merasa kesulitan menghadapi perbedaan antara New York dan Malang menjadikan saat-saat menyendirinya untuk merenung dan mengumpulkan asa.

Apa yang telah ia capai saat ini adalah buah usaha keras yang tiada henti dengan memberikan pelayanan terbaik pada klien, melakukan usaha terbaik untuk kehidupan keluarganya yang lebih baik, dan cara bersyukur akan ketetapan-Nya.

Setelah perjuangan panjang, meniti karir dari menjadi analis data hingga menjadi direktur di Nielsen Consumer Research selama 13 tahun. Iwan memilih istirahat sejanak mendaki gunung Rinjani. Disana juga ia mulai melepaskan anak kecil berseragam merah-putih, seseorang yang ia percaya untuk melepaskan penat dan berbagi kisah masa lalunya. Ia mulai bersiap dengan hidup baru dan berdamai dengan masa lalu untuk menggapai masa depan yang lebih baik lagi.

Perhaps here I will finally let go of my black melancholy from the city center, the dust from the long journeys. Here, I will replant the hopes that were once lost, the colorless childhood, or the the dissapointment toward the world. Here, i would lay down my life.
(Mungkin di sinilah akhirnya aku akan melepaskan kemurkaan hitamku dari pusat kota, debu dari perjalanan jauh. Di sini, saya akan menanam kembali harapan yang dulunya hilang, masa kanak-kanak yang tidak berwarna, atau kekecewaan terhadap dunia. Di sini, saya akan menyerahkan hidup saya) hal 197

Alur cerita yang digunakan flashback sehingga pembacanya harus lebih jeli saat membaca. Iwan membawa pembacanya merasakan keistimewaan New York sekaligus berkhayal merasakan masa lalu yang hangat bersama keluarganya di Malang. Iwan membuktikan keterbatasan di masa lalu bisa menjadi cambuk untuk mencapai kesuksesan di masa depan.

Believe and keep moving forward!

Review buku 9 Summer 10 Autumn : Dari Kota Apel ke The Big Apple
Buku 9 Summer 10 Autumn : Dari Kota Apel ke The Big Apple

Referensi :
Setyawan, Iwan. 2011. 9 Summer 10 Autumn From The City of Apples to The Big Apple. Jakarta (ID) : PT Gramedia Pustaka Utama

loading...