loading...

Saturday, May 18, 2019

Menyesuaikan Diri Terhadap Perubahan

Layaknya sebuah surat yang ditujukan untukmu, saya menuliskan ini untuk diri saya sendiri. Lihat kan, di sekeliling kita banyak sekali perubahan. Boleh jadi, dalam lima tahun terakhir ini banyak sekali perubahan signifikan, seperti contohnya di jalanan hari ini banyak sekali berkeliaran armada ojek online berjaket hijau yang sibuk mengantar penumpang dan mengantar makanan. Perhatikan, lima tahun kebelakang mungkin kita hanya terheran-heran akan fenomena ini lalu mulai biasa beradaptasi dengan itu semua. Segalanya jadi lebih cepat dan mudah, meski di lain sisi kita tidak tahu kalau banyak pula sistem transportasi lain yang terlupakan bahkan tergantikan.

Gedung
Gambar. Gedung [Pixabay]


Itu hanya contoh kecil, diantaranya masih banyak perubahan lain yang sangat mengubah kita. Bisa jadi, tidak sepenuhnya mengubah secara keseluruhan, tetapi pasti ada setiap pembaruan yang terjadi. Sebagai orang yang menatap setiap pembaruan itu, kita selalu bisa beradaptasi dengan baik karena memang begitulah sifat evolutif yang ditawarkan di tiap generasi. Mau tidak mau, orang-orang tua kita pun sekarang mulai belajar mengoperasikan handphone untuk sekadar memesan ojek online yang lebih praktis dibandingkan harus tetap naik transportasi umum yang belum memadai.

Sekarang begini, pernahkah kamu mendengar sebuah pepatah yang mengatakan “orang biasa terbingung-bingung melihat perubahan, sedangkan orang sukses berhasil membuat perubahan” ? Kurang lebih, begitulah kiranya keadaan kita saat ini. Kalau mau berpikir lebih dalam, mungkin kita yang sudah bersekolah tinggi sebenarnya tahu bahwa perubahan besar-besaran akan terjadi lewat prediksi dan fenomena yang membawa ke arah tersebut. Akan tetapi, apakah kita termasuk ke dalam kumpulan orang yang membuat perubahan? Belum tentu, kalau tidak dikatakan hanya sebagai orang yang bisa beradaptasi saja. Kita tentu mesti bertanya, apa sesuatu yang sudah kita perbuat yang akan menuju pada perubahan itu?

Rhenald Kasali, dalam bukunya yang berjudul Disruption, mengatakan bahwa fenomena perubahan yang banyak terjadi di luar sana mestinya memberikan stimulus agar kita dapat melakukan setidaknya tiga langkah besar yang dapat membuat kita ikut membuat perubahan. Apakah kamu mulai tertarik? Mari kita bahas.

Langkah Perubahan Pertama


Yaitu kemampuan membaca sinyal perubahan (signal of change). Hampir setiap perubahan pasti memberi sinyal sebelum terjadi. Ibaratnya pada setiap bencana alam yang akan terjadi, pasti ada tanda-tanda alam yang mengawalinya seperti perubahan cuaca, temperatur, hingga berpindahnya hewan-hewan menuju ke pemukiman penduduk. Dari sana, tentu kita memahami bahwa selalu ada tanda awal yang tidak sepenuhnya dipahami orang lain dan menganggapnya sebagai pengabaian atau justru sebagai musuh yang mengganggu.

Beberapa orang yang memiliki visi ke depan dianggap sebagai orang yang ‘bercanda’ dan berbicara sesuatu yang tidak relevan. Meski bisa jadi benar bahwa sekarang realitasnya belum sempurna terjadi, tapi gejalanya sudah bisa ditangkap bahkan secara tak sadar sedang dijalani. Contohnya adalah gejala industrialisasi E-Sports yang masih dianggap bukan lahan yang menarik untuk dibahas sebagai rencana strategis bangsa dalam debat pemilihan calon presiden beberapa saat lalu. Setelah dikaji, industri penunjang E-Sports seperti industri teknologi informasi dan industri kreatif juga berada di jalur perkembangan yang pesat sehingga saling berkolaborasi menciptakan ‘economy pie’ yang potensinya sangat besar. Bukankah kita menyangka bahwa dulu main game hanya sekadar memuaskan keinginan, sekarang bahkan bisa jadi lahan bisnis yang besar bahkan diperlombakan di ajang olahraga resmi?

Langkah Perubahan Kedua


Yaitu bersiap untuk pertempuran kompetitif (competitive battles). Konteksnya disini tentu saja bertempur dalam segala mekanisme ekonomi yang digunakan, apakah itu berpemahaman ekonomi bebas, ekonomi berbagi, atau justru ekonomi defensif yang menutup diri dari perubahan. Begitupun senjata pertempuran itu sangat bervariasi, dimulai dari eksplorasi SDA, hingga pengembangan SDM, teknologi, dan pemasaran. Yang memahami ini semua tentu saja yang ‘sedang berperang’ yaitu seperti pemilik usaha kecil, perusahaan, hingga konglomerasi baik di tingkat lokal maupun internasional. Semakin kompetitif sebuah persaingan usaha, semakin banyak alternatif kualitas yang dapat dipilih oleh konsumen namun sekaligus dapat mematikan nadi bisnis para pesaing yang tak siap.

Inilah yang disebut oleh Rhenald Kasali sebagai fenomena disruptif, yaitu segala yang tergerus oleh perkembangan sekaligus kompetisi yang memaksa pelakunya untuk terus memikirkan pembaruan demi terjaganya stabilitas bisnis yang dimiliki. Ketika tahun 2000-an awal, kita sebagai pengguna internet sangat awam dengan mesin pencari Yahoo namun tak lama setelahnya tumbang oleh Google hingga saat ini. Dulu mungkin kita kenal dengan aplikasi Vimeo atau Snapchat, lalu setelahnya tumbang karena fiturnya diperbarui dengan sangat baik di Instagram. Begitupun televisi sebagai media mainstream yang menayangkan acara musik seperti MTV sekarang bangkrut dan tergerus oleh layanan musik streaming seperti Spotify. Apakah kita sebagai penggunanya merasakan juga perubahan yang sangat cepat itu? Meski banyak dicontohkan banyak sekali lini bisnis yang tumbang, akan selalu ada yang bisa bertahan, contohnya seperti Kompas-Gramedia yang kehilangan oplah koran dan majalah cetak namun menggantinya dengan media berita online dan bisnis surveyor yaitu Litbang Kompas.

Langkah Perubahan Ketiga


Adalah pemilihan rencana strategis (strategic choices). Pada akhirnya, untuk mempertahankan stabilitas bisnis yang ada tentu perusahaan harus mengambil langkah mempertajam (reshape) atau membuat hal baru (create). Masih ingat kan, ketika Facebook yang menukik tajam pamornya lalu melakukan langkah pintar dengan mengakuisisi Instagram dan Whatsapp? Atau yang belum lama ini terjadi di armada ojek online Uber yang diakuisisi oleh Grab? Begitulah, beberapa langkah seperti akuisisi dan joint-venture menjadi langkah perusahaan untuk berubah sekaligus berakselerasi lebih cepat.

Kalaulah memiliki ide yang orisinal sekaligus potensial, maka langkah create tentu bisa diambil seperti contohnya seperti Kitabisa.com yang benar-benar mengadopsi fenomena crowfunding di luar negeri menjadi media yang sekarang terkenal sebagai media crowfunding sekaligus untuk menyumbang dan berbagi dengan pendekatan kultur dan budaya Indonesia. Tentu saja, langkah strategis untuk membuat hal baru ini akan membutuhkan modal yang besar sekaligus kesiapan SDM yang mumpuni. Salah satu kunci menaklukkannya yaitu kolaborasi. ‘If you can’t beat them, join them’ begitulah kira-kira ungkapan untuk berkolaborasi demi menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dalam persaingan bisnis.

Nah, sekalipun kita sekarang masih menjadi orang yang ‘bingung’ akan banyaknya perubahan sekaligus menjadi yang selalu mencoba beradaptasi, tentu saja suatu saat kita akan menjadi orang yang ikut dalam kompetisi ini, entah sebagai pekerja atau pemilik bisnis. Bisa jadi, kita juga akan menjadi orang yang tergantikan apabila kualitas diri sebagai SDM tidak diperbarui dan ditingkatkan. Boleh jadi, beberapa fenomena masa depan sudah memberi tanda-tanda. Pertanyaan lanjutan tentu akan sampai pada kita semua, siapkah kita untuk selalu memperbarui diri?


“Milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi. Entah bagaimana mereka tahu apa yang kamu benar-benar kamu inginkan.
-Steve Jobs

Rekomendasi:

Referensi :
Kasali, Rhenald. 2017. Disruption. Penerbit Kompas Gramedia : Jakarta.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, May 11, 2019

Sisi Postif dan Negatif dari Inflasi

Apakah kamu menyadari bahwa dari tahun ke tahun, harga barang-barang di Indonesia terus naik? Misalnya harga bahan makanan pokok seperti beras, sekitar tahun 2009 harga perkilogramnya kisaran Rp 6.000, tapi ditahun 2019 ini harganya sudah mencapai Rp 12.000/kg, jadi kalau kamu hanya punya uang Rp 6.000 ya hanya bisa membeli ½ kg beras. Tidak hanya bahan makanan pokok, harga permen yang biasa kamu beli diwarung juga ikut naik. Sekitar tahun 2009, dengan uang jajan Rp 1.000 kamu bisa mendapat 10 permen, tapi sekarang ini dengan uang jajan Rp 1.000 kamu hanya mendapat 6 permen. Hmm... semakin mahal ya! Dalam ilmu ekonomi, fenomena kenaikan harga disebut dengan inflasi. Istilah yang sudah tidak asing lagi, bukan?

Inflasi
Gambar: Inflasi [Pixabay]


Dalam buku seri kebanksentralan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, inflasi diartikan sebagai suatu kecenderungan meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus. ‘Kenaikan harga secara umum’ dan ‘terus-menerus’ adalah dua hal yang menjadi kunci untuk memahami inflasi. Jika kenaikan harga terjadi khusus pada suatu barang tertentu dalam artian tidak diikuti dengan kenaikan harga barang dan jasa lainnya, tidak bisa disebut inflasi. Begitu pula jika kenaikannya hanya terjadi karena faktor musiman misalnya menjelang hari lebaran, tidak disebut inflasi. Meskipun inflasi membuat segalanya lebih mahal, nyatanya inflasi juga mempunyai sisi positif, loh. Dan kamu perlu tahu sisi positif dan negatifnya karena inflasi secara langsung mempengaruhi hidupmu, agar kamu bisa lebih bijak dalam membuat keputusan keuangan yang lebih baik. Berikut sisi negatif dan positif inflasi dirangkum dari situs Go Banking Rates,

Sisi Negatif Inflasi


#1 Harga Barang dan Jasa Naik, Daya Beli Turun

Hampir semua harga naik karena inflasi, mulai dari makanan pokok, peralatan medis, BBM hingga harga sewa juga bisa naik. Artinya, setiap rupiah dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa daripada sebelumnya. Kamu akan mengalami kesulitan keuangan ketika membayar biaya-biaya yang naik jika kamu tidak menerima kenaikan gaji, terutama selama hiperinflasi (tingkat inflasi sangat tinggi yang tidak terkendali). Tidak semua perusahaan menetapkan kebijakan untuk menaikkan upah ketika terjadi inflasi.

#2 Merugikan Kreditur

Bagi kreditur (orang yang memberi pinjaman), inflasi adalah hal yang merugikan. Nilai uang yang mereka terima lebih rendah daripada saat ia meminjamkan uangnya. Begitu juga bagi pemberi sewa misalnya pemilik kos-kosan, dengan uang sewa yang tetap, nilai uang sewa yang diterima akan lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya kecuali ia menaikkan harga sewa.

#3 Terjadinya Penimbunan

Ketika inflasi, terutama selama terjadinya hiperinflasi orang-orang cenderung untuk menimbun barang. Karena mereka menganggap bahwa mungkin harga barang di hari esok akan jauh lebih tinggi, sehingga konsumen ingin membeli barang sebanyak-sebanyaknya sesuai dengan kemampuan hari ini, sebelum besok harganya naik. Penimbunan menyebabkan kekurangan barang-barang seperti kebutuhan rumah tangga. Kamu mungkin akan menemui kekosongan stok pada toko-toko lokal tempatmu membeli kebutuhan.

#4 Nilai Tabungan Semakin Rendah

Inflation is the crabgrass in your savings.
– Robert Orben
(Inflasi adalah hama dari tabunganmu.) –Robert Orben

Menyimpan uang dalam bentuk tabungan baik untuk jangka panjang dan jangka pendek memang relatif aman, resikonya kecil dibandingkan dengan berinvestasi. Namun ketika terjadi tingkat inflasi yang tinggi, tabungan kehilangan nilai setiap tahunnya, dan bisa jadi tingkat keuntungan tabunganmu dibawah tingkat inflasi sehingga daya belinya akan semakin rendah dimasa mendatang. Saat ini, tabungan haji sebesar 35,2 juta cukup untukmu pergi haji, namun 15 tahun mendatang, tidak ada yang tau mungkin biaya pergi haji akan menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih. Jadi jika kamu telah memiliki tabungan sebesar jumlah tersebut di 15 tahun mendatang, kamu tetap belum bisa pergi haji jika hanya mengandalkan tabungan hajimu.

Sisi Positif Inflasi


#1 Kenaikan Upah

Ketika mendorong harga barang dan jasa lebih tinggi, inflasi berkorelasi positif dengan upah. Inflasi sering mendorong kenaikan upah karena perusahaan bersedia membayar lebih ketika ekonomi tumbuh dan biaya hidup karyawan meningkat. Sebuah perusahaan, selain menawarkan gaji yang lebih baik untuk karyawan baru, mereka juga harus memerhatikan kompensasi yang adil bagi karyawan yang telah lama bekerja untuk mempertahankan kinerja yang sudah mereka miliki. Mencari-cari pekerjaan baru ketika inflasi ataupun tetap bekerja di perusahaan lama, keduanya berpeluang untuk menaikkan upahmu asalkan kamu memiliki keterampilan kerja yang relevan dengan perkembangan ekonomi. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua perusahaan mempunyai kebijakan menaikkan upah karyawan saat terjadi inflasi.

#2 Menguntungkan Debitur

Berbanding terbalik dengan kreditur yang merugi, debitur (orang yang menerima hutang) adalah salah satu yang terkena dampak positif dengan adanya inflasi. Karena uang yang ia kembalikan mempunyai nilai yang lebih rendah dibandingkan saat ia meminjam.

#3 Menguntungkan Produsen

Apabila kenaikan biaya produksi lebih rendah daripada keuntungan yang didapatkan, inflasi menguntungkan bagi para produsen. Biasanya produsen akan terdorong untuk meningkatkan jumlah barang untuk diproduksi, sehingga penghasilan produsen pun meningkat. Apalagi jika barang yang diproduksi adalah kebutuhan pokok yang mau tidak mau tetap dikonsumsi oleh masyarakat meskipun harganya naik. Dalam jangka panjang, hal ini juga bisa mempeluas lapangan pekerjaan karena perusahaan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk memproduksi barang dan jasa.

#4 Suku Bunga Investasi Naik

Saat kamu ingin menginvestasikan uangmu, hal utama yang kamu pertimbangkan adalah besarnya keuntungan, kan? Ketika terjadi inflasi, kamu bisa mendapatkan pengembalian uang yang lebih tinggi dalam portofolio investasimu. Inflasi menyebabkan suku bunga investasi naik, maka keuntungan yang kamu dapatkan pun naik. Itulah sebabnya jika kamu mempertimbangan potensi keuntungan dari uang yang kamu simpan untuk tujuan jangka panjang, investasi adalah tempat yang lebih menguntungkan daripada tabungan karena tidak tergerus oleh tingkat inflasi.

Nah, sekarang sudah tahu kan bahwa inflasi juga mempunyai sisi positif. Setiap orang merasakan dampak yang berbeda, sebagian bisa merasa diuntungkan, sebagian lainnya bisa juga dirugikan.

Rekomendasi:

Referensi:
Suseno dan Siti Aisyah. Inflasi. 2009. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.
Sarbour, Harita. 2017. 10 Effects of Inflation — and How to Protect Your Money Now. [gobankingrates]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Sunday, April 28, 2019

Bagaimana Seseorang Dapat Merasakan Jatuh Cinta

Jatuh cinta itu rumit. Kalimat ini saya mulai sebab hampir tidak ada rumusan pasti yang dapat menjelaskan cinta, apalagi soal jatuh cinta. Bisa dikatakan, segala hal tentang cinta adalah berupa simbol-simbol abstrak terpisah yang dapat dirangkai oleh siapapun untuk menjadi “persamaan”nya sendiri. Bahkan, bila merujuk pada seorang ahli yang mendeskripsikan cinta pun sejatinya itu muncul menurut sudut pandangnya sendiri, bisa jadi berbeda betul dengan apa yang kita alami. Sebab, cinta bukanlah suatu koefisien yang dapat disepakati. Di lain sisi, menjabarkan rasa cinta yang abstrak ini justru akan membuka banyak sudut pandang lain yang akan mengayakan khazanah pemikiran kita.

Jatuh CInta
Gambar: Jatuh Cinta [Pixabay]


Sebagaimana diketahui, rasa jatuh cinta agaknya hanya bisa dijelaskan oleh manusia. Bisa jadi, istilah jatuh cinta hanya dapat dimengerti oleh manusia sebagai bahasa alami non-verbal yang begitu universal. Agaknya, semua makhluk terlihat memberi dan merasakan cintapun sebab manusialah yang memberikan persepsi terhadapnya. Seperti contohnya, induk kucing menyusui dan menjilati anaknya, kita anggap itu sebagai perilaku mencintai. Semestinya, kucing tidak mengerti apa itu definisi cinta sebab perbuatan itu hanyalah dorongan naluri berupa afeksi. Dan, bilapun benar bahwa itu memang salah satu dorongan untuk mencintai, maka perbedaannya adalah makhluk lain tidak pernah menyatakan cinta seperti yang dilakukan oleh manusia. Mereka mencintai hanya dengan melakukan, tidak dengan menyatakan secara verbal. Kadang, kita sendiri merasa bahwa orang lain yang kita kasihi itu belum sepenuhnya cinta pada kita bila Ia belum menyatakannya, bukan?

Sebenarnya, perasaan cinta pada diri kita bila dijelaskan dari sisi sains tentu tidak jauh berbeda dengan doronga naluri makhluk hidup lain meskipun tentu saja manusia akan memiliki sisi yang paling kompleks. Menurut Helen Fischer, seorang antropolog biologis, dilansir dari Elsevier mengungkapkan bahwa rasa cinta merupakan sebuah adiksi yang menyenangkan sekaligus penting bagi umat manusia. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan pemindaian otak menggunakan teknologi fMRI (functional magnetic resonance imaging) diketahui bahwa perasaan cinta mengaktifkan bagian otak yaitu nucleus accumbens dan ventral tegmental area (VTA) yang secara langsung bertanggung jawab atas distribusi dopamine yang menyebabkan meningkatkan energi, motivasi, dan kelekatan terhadap orang yang dicintai, mirip seperti terkena perilaku adiksi.

Menurut Fischer, perasaan romantis dari mencintai dapat mempengaruhi kebiasaan individual kita. Bahkan, diketahui dari hasil pemindaian otak akan muncul reaksi berbeda bila kita memaknai cinta seperti pada situasi sedang jatuh cinta atau justru ketika cintanya ditolak. Senada dengan itu, mengalami cinta yang romantis adalah sebuah mekanisme untuk manusia dapat mengenali dan memahami bagaimana caranya mendapatkan pasangan yang dapat dicintainya seumur hidup. Hal itu berkaitan dengan naluri bertahan hidup manusia sejak zaman dulu untuk bertahan hidup dan memberi pengaruh pada orang lain, khususnya pasangan yang ia cintai.

Menariknya, dalam penelitiannya Fischer mengaitkan aspek biologis secara hormonal dengan aspek psikologis secara sikap dan kepribadian seseorang dalam mencintai. Menurutnya ada empat sikap yang sangat terkait dengan empat hormon yang dominan dalam merespon perasaan cinta, yaitu dopamine, serotonin, testosteron, dan estrogen. Empat kutub tersebut dapat dijabarkan :

  1. Seseorang yang dominan dengan hormon dopamine yang berkaitan dengan sikap pengambilan resiko, pencari sensasi dan rasa penasaran, serta berenergi tinggi dapat disebut sebagai kepribadian “penjelajah” ;
     
  2. Seseorang yang dominan dengan hormon serotonin yang berkaitan dengan sikap konformitas akan norma sosial, tidak ingin bersinggungan, mengikuti aturan, serta menghargai keharmonisan dapat disebut dengan kepribadian “pembangun” ;
     
  3. Seseorang yang dominan dengan hormon testosterone yang berkaitan dengan sikap analitis, logis, langsung, keras kepala, serta skeptic dapat disebut dengan kepribadian “pemimpin”
     
  4. Seseorang yang dominan dengan hormon estrogen yang berkaitan dengan sikap empati, sangat baik dalam pergaulan, serta intuitif dan dipercaya dapat disebut dengan kepribadian “perunding”.

Dari sisi holistiknya, tentu itu tidaklah cukup untuk menjelaskan dimensi arti jatuh cinta yang sesungguhnya. Berangkat dari sisi sains, dorongan mencintai disebabkan oleh hormon dan reaksi otak tentu saja tidak serta-merta membedakan manusia dengan hewan sekalipun. Dibutuhkan pendekatan secara psikologis, sosial, bahkan budaya untuk memahami kenapa manusia bisa merasa jatuh cinta. Mengutip tulisan Noam Shpancer yang dilansir dari Psychology Today, ternyata yang mempengaruhi kita dalam mencari pasangan hidup adalah peran dalam kehidupan sosial.

Menurut Shpancer, beberapa hal yang disumbangkan oleh berkembangnya lingkungan sosial yang memengaruhi perasaan cinta, diantaranya adalah kepribadian dan karakter. Untuk lebih mudah merasakan jatuh  cinta, karakter yang paling berpotensi memberikan ketertarikan pada lawan jenisnya adalah karakter yang cerdas dan mampu bergaul, serta memiliki ambiensi hangat dan ceria. Ada juga asas similaritas, dimana kita cenderung mudah mencintai orang yang berkarakter mirip dengan kita. Hal itu disebabkan karena kita dapat lebih mudah berkomunikasi, mengerti, memahami, sekaligus memercayai orang yang kita ingin cintai.

Semakin lama, lapis-lapis sosial itu semakin kompleks dan memengaruhi kita, seperti contohnya tentang pandangan fisik (tentang warna kulit dan ras tertentu), kemapanan, tingkat pendidikan, kedudukan sosial di masyarakat, hingga pilihan agama. Bisa jadi juga ada pengaruh budaya lainnya yang sifatnya sangat khusus dan lokal, yang hanya bisa dipahami oleh budaya masyarakat tertentu. Itulah kenapa, soal cinta-mencintai yang semestinya universal malah cenderung rumit bila dikaitkan dengan kultur dan budaya yang mengikutinya. Terlebih, ditambah soal mitos-mitos pelarangan misalnya seperti suku ini tidak boleh berpasangan dengan suku itu, begitupun soal suku tertentu dianggap lebih baik dari suku lainnya.

Meski begitu, berbagai macam rumusan maupun teori tentang cinta-mencintai tidak menjadikan itu sebagai aturan baku. Manusia dikaruniai akal pikir untuk memahami dari mana perasaan cintanya itu ditinjau dari sisi saintifik maupun sosial, namun mestinya menjadikan hal tersebut sebagai asumsi yang dapat membantu. Setelahnya, yang menentukannya tentu saja pilihan dan cara kita sendiri dalam memaknai rasa cinta, juga menjatuh-cintakan diri pada sosok yang menurut kita ialah yang paling baik dan cocok terlepas dari berbagai paradigma sosial yang ada.

Agaknya ada satu benang merah yang bisa dilihat dari rumitnya perasaan cinta, yaitu kita bisa memilih dan memaknai cinta itu dengan kesadaran yang kita miiliki secara penuh sebagai seorang manusia. Selamat jatuh cinta!

“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”

- Sudjiwo Tedjo

Rekomendasi:

Referensi :
Levine, David. 2014. Anthropologist and love expert Helen Fisher on the mysteries of love. [Elsevier]
Shpancer, Noam. 2014. Laws of Attraction: How Do We Select a Life Partner? [Psychologytoday]



Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, April 13, 2019

Bagaimana Mencapai Kemudahan Kerja Dengan Kerja Cerdas?

Kalau kamu sekarang berposisi sebagai generasi Z yang gemar sekali berjargon “bekerjalah lebih cerdas”, percayalah kalau itu semua merupakan warisan paradigma masyarakat dunia yang terus berkembang. Memang, pada generasi X bahkan generasi milenial sekalipun sangat akrab dengan pekerjaan yang menuntut kerja keras, seperti menjadi petani, nelayan, hingga karyawan pabrik. Pemikiran mereka memang cenderung diwarnai oleh pengaruh persona fisik, semakin kuat fisikmu maka itu akan menunjang kerja kerasmu. Memang itu tidak salah, tetapi relevansinya agak mulai berkurang popularitasnya semenjak memasuki milenium kedua terutama sejak dimulainya abad internet.

Kerja Cerdas
Gambar. Kerja Cerdas [Pixabay]


Sekarang banyak orang berbicara bagaimana caranya untuk terus bekerja cerdas, sebab kita sudah diwarisi kemajuan luar biasa, terutama di bidang teknologi yang sudah begitu efisien. Barangkali melakukan pekerjaan yang dulunya membutuhkan tenaga dan waktu seperti mencari referensi dan intisari dari sebuah buku, kini hanya bermodalkan ongkang kaki dan sedikit gerakan jari lewat Google untuk mendapatkan hasil yang sama, dengan harga yang lebih murah dan terselesaikan dalam waktu yang sangat cepat. Apakah itu dapat dikatakan sebagai bekerja cerdas?

Menurut kami, mungkin seharusnya tidak, karena yang dimaksud dengan cerdas disini sebenarnya mengacu pada apakah ada sesuatu yang memicu perkembangan dari cara kita berpikir dan meramu solusi dari permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Teknologi tinggi tentu sangat membantu, tetapi pikiran kitalah yang semestinya semakin cerdas.

Kalaulah mengerjakan hal keren seperti misalnya merakit drone dengan bantuan informasi dari internet di hari ini, rasanya mungkin cenderung biasa saja. Tetapi, seseorang yang berada pada tahun 225 SM yang sudah mampu menciptakan teknologi rantai untuk membantu pekerjaannya, maka bisa dikatakan dia adalah seseorang yang bekerja cerdas. Lalu, apa parameter yang dapat dibandingkan dari bekerja keras dan bekerja cerdas? Tentu saja, ada dua hal yang berbeda yakni kemampuan fisik dan satunya lagi kecerdasan pikiran. Dari sini, apakah sesungguhnya kedua hal ini patut dipertentangkan?

Tai Lopez, seorang pebisnis digital, dalam interviewnya di Youtube memaparkan teori miliknya yang berhubungan dengan sikap seseorang yang sukses. Menariknya, ia membagi teorinya dalam empat blok besar yang menunjang satu sama lain untuk mencapai hasil yang optimal. Mencacah dalam empat bagian sebesar masing-masing 25%, begini menurutnya cara menjadi bersikap untuk sukses ;

  • 25% pertama, jadilah perfeksionis. Maksudnya adalah dalam setiap pekerjaan, maka lakukanlah yang terbaik menurut standar yang dimiliki. Setelahnya, selalu cek dan ricek pekerjaan tersebut agar mendapatkan letak kesalahan yang dapat segera diperbaiki.
     
  • 25% kedua, jadilah terorganisasi. Maksudnya adalah selalu menempatkan tiap pekerjaan dalam skala prioritasnya, juga waktu-waktu terbaiknya. Sebab, kita tak dapat melakukan semua hal dalam satu waktu. Membuatnya dalam bagan atau jadwal akan sangat membantu.
     
  • 25% ketiga, tetaplah bekerja keras. Sikap bekerja keras tentu tak dapat dihapus, sebab di era serba mudah ini penyakit yang menjangkiti kita justru adalah kemalasan itu sendiri. Menjalani proses dan belajar berdisiplin, adalah beberapa contoh dari karakter pekerja keras yang tetap relevan hingga kapanpun.
     
  • 25% keempat, berlakulah bijaksana. Untuk dapat berlaku bijak, maka dibutuhkan pengalaman. Mendapatkan pengalaman, berarti menuntut kita untuk langsung mengalami dan tak bisa diwakili oleh jalan pintas bahkan ilmu dan teknologi sekalipun. Maka, tetaplah membaca buku, temui guru dan mentor, atau jelajahilah tempat baru untuk menemukan banyak pengalaman yang membantu kita menjadi lebih bijak dalam bersikap.

Setelah mengetahui teori karakter sukses di atas, tentunya kamu sudah diasupi oleh ilmu yang baru, kan? Maka inilah nutrisi untuk bekerja cerdas. Tetapi apakah ilmu saja cukup? Tentu tidak, karena setelahnya justru petualangan itu baru dimulai dengan cara tetap bekerja keras merintisnya dari nol dan menjalani tiap prosesnya. Rasa-rasanya tak ada yang banyak berubah dari cara menjadi sukses, orang-orang sukses kekinian pun tak luput dari bekerja keras -tentu saja, dengan cara yang cerdas. Lalu, adakah cara untuk menyelaraskan keduanya dalam keseharian? Mungkin beberapa tips sederhana ini dapat membantu kamu, diantaranya ;

#1 Minimalkan distraksi


Distraksi, tak melulu hal yang mengganggu. Justru, distraksi adalah hal yang seringkali menyenangkan yang dalam taraf tertentu menjadi sebuah gangguan. Distraksi juga bisa jadi muncul ketika kita terlalu lama mengambil jeda dari pekerjaan yang dijalankan sehingga ketika memulai kembali rasanya jadi susah fokus. Susah susah gampang sih untuk mengenalinya. Solusinya, kenali distraksimu. Barangkali untuk generasi Z tentu saja tak jauh dari gadget, kan? Coba atur dan jauhi beberapa waktu agar fokusmu dapat terjaga.

#2 Catat prioritasmu dalam kuadran


Ada penemuan cukup menarik yang berkembang saat ini untuk mencatat prioritas dengan bentuk kuadran. Coba tarik garis bujur dan lintang untuk membentuk sebuah diagram cartesius, dan kini sudah terbagi empat segi/kuadran yang siap diisi oleh prioritas. Coba pilih satu sisi paling atas sebelah kanan untuk mencatat kuadran 1 (penting, genting) untuk mengirisi pekerjaan penting yang paling segera untuk dilakukan. Boleh juga menambahkan warna merah sebagai asosiasi ‘deadline’ disana. Lanjutkan ke sisi selanjutnya untuk mencatat kuadran 2 (penting, tidak genting) untuk pekerjaan penting yang bisa longgar waktunya. Lanjutkan ke kuadran 3 (tidak penting, genting) biasanya yang isinya hal aktivitas keseharian yang tidak terlalu penting tetapi harus segera dilakukan, misalnya seperti mencuci baju dan menjemurnya. Lalu, terakhir isi kuadran 4 (tidak penting, tidak genting) berupa pekerjaan yang bisa dilakukan kapan saja tetapi tetap mesti dicatat agar tak serta merta dilupakan.

#3 Atur waktumu sendiri


Tips ini mungkin sangat tepat untuk orang yang bisa dengan bebas memilih waktu bekerjanya. Bahkan, kalaupun ternyata sistem untuk bekerja sudah diatur oleh orang lain, nyatanya kita tetap dapat mengatur waktu yang ada menjadi tetap tepat guna. Pertama-tama, lihat karakter diri kita sendiri, dengan maksud apakah kita adalah orang yang lebih senang bekerja dalam proses dan langkah-langkah kecil dari awal, atau justru kita adalah orang yang cocok untuk menunda hingga menuju batas waktu dan menyelesaikannya saat itu juga.

Bagi orang yang mengambil contoh pertama, ada baiknya memang menganggarkan waktu untuk dapat mencicil sedikit demi sedikit pekerjaannya meskipun kadangkala justru terkesan tanggung. Berbeda dengan langkah kedua yang mungkin membutuhkan waktu fokus yang lebih lama karena tekanan untuk menyelesaikan tugasnya sudah meninggi menjelang waktu akhir penyelesaian. Memang, keduanya memiliki karakter yang berbeda tetapi tujuannya tetap sama yaitu menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Kamu memilih tipe yang mana?

Jadi, sebenarnya bekerja keras dan bekerja cerdas itu bukanlah hal yang dipertentangkan, ya. Justru itu adalah irisan terpenting dari banyak segi karakter orang yang sukses. Bagaimana, siap untuk bekerja keras dan bekerja cerdas dari sekarang?

"Persiapan terbaik untuk pekerjaan yang baik esok hari adalah melakukan pekerjaan baik hari ini."
- Elbert Hubbard

Recommended post:

Sumber :
[1] Tai Lopez : 7 Practical Way to Rewire Your Brain [youtube]


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, April 6, 2019

Menabung Konvensional Atau Investasi? Pertimbangkan Hal Berikut Ini!

Menabung adalah hal yang seharusnya tidak asing dilakukan bagi kita. Banyak dari kita yang sejak kecil telah diajarkan untuk menyisihkan sebagian uang yang dimiliki untuk ditabung. Oleh keluarga, mungkin kita dibiasakan untuk menyisihkan sebagian uang jajan di celengan. Di sekolah formal juga dibiasakan untuk rutin menabung yang dikelola oleh guru kita. Pelestarian budaya ‘gemar menabung’ sejak dini di Indonesia semakin didukung dengan maraknya produk-produk tabungan yang ditawarkan berbagai lembaga keuangan bank yang mudah dimiliki oleh anak-anak. Menabung sejak dini seringkali disebut sebagai investasi yang bertujuan untuk kesejahteraan finansial dimasa mendatang. Benarkah bahwa menabung merupakan bagian dari investasi?

When you use the word just saving and investing, people, really 90-some percent of people, think it’s exactly the same thing,”

–Dan Keady

(Ketika kamu menyebut kata menabung dan investasi, 90 persen orang-orang berpikir keduanya adalah hal yang sama.)  –Dan Keady, Keplala Strategi Perencanaan Keuangan di sebuah perusahaan publik asal Amerika Serikat yang bergerak di jasa keuangan

Investasi
Gambar: Investasi

Banyak orang menganggap bahwa menabung dan investasi adalah dua hal yang sama atau bahwa menabung adalah bagian dari investasi, karena keduanya memang sama-sama sebuah kegiatan menyimpan uang di tempat yang dianggap aman. Namun, sebenarnya keduanya adalah hal yang berbeda. Dari segi definisi, menurut situs Wall Street Mojo, menabung adalah menyisihkan uang secara bertahap, biasanya ke dalam rekening bank untuk keadaan darurat keuangan yang tak terduga. Sedangkan investasi adalah proses menggunakan uang dengan tujuan membuatnya tumbuh. Lalu, antara menabung dan investasi, manakah yang lebih baik? Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa hal yang harus kamu ketahui sebelum kamu memutuskan untuk menabung atau berinvestasi,

Pertimbangan 1# Tetapkan Tujuan


Menabung dilakukan oleh seseorang ketika ia memiliki tujuan jangka pendek dan siap digunakan kapan saja. Artinya, uang tabungan tersebut bisa diambil dalam waktu dekat, biasanya dalam kurun waktu 0-5 tahun. Misalnya, kamu punya rencana untuk berlibur ke luar negeri akhir 2020 mendatang, maka kamu perlu menyisihkan sebagian penghasilanmu setiap bulannya agar mencapai jumlah yang dibutuhkan untuk berlibur. Atau jika kamu punya sederet impian yang ingin kamu wujudkan dalam waktu kurang dari 5 tahun seperti membeli gadget atau kendaraan, pergi umrah atau menikah maka menabung bisa menjadi pilihan yang tepat.

Investasi dilakukan ketika seseorang memilki tujuan jangka panjang, dengan harapan untuk mencapai tujuan utama dimasa depan. Artinya, uang yang ditabung tidak akan digunakan dalam waktu dekat, biasanya dalam kurun waktu lebih dari 5 tahun. Misalnya setelah berumah tangga kamu punya rencana untuk menyekolahkan anak 7 tahun kedepan, atau bahkan berencana untuk menguliahkannya 17 tahun kedepan maka investasi adalah pilihan yang tepat karena jika hanya menabung, nilai uang yang kamu tabung bisa jadi akan jauh lebih rendah pada tahun-tahun mendatang. Sedangkan jika diinvestasikan, nilai uangmu akan naik sesuai dengan tingkat inflasi yang terjadi.

Pertimbangan 2# Pertimbangkan Kemudahan Akses


Rekening tabungan memberimu kemudahan untuk dicairkan, artinya uang tabunganmu bisa dengan mudah kamu ambil saat kamu membutuhkannya. Atau saat kamu ingin mengambilnya karena keadaan darurat. Tabungan umumnya bersifat likuid. Meski saat ini banyak juga produk tabungan yang memberi batasan waktu tertentu untuk bisa diambil seperti deposito, bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu.

Sedangkan investasi tidak bersifat likuid, ketika kamu menginvestasikan uangmu, kamu tidak mudah mengambilnya dengan cepat dibandingkan dengan tabungan. Biasanya, semakin lama uangmu berada dalam investasi, semakin tinggi keuntungan yang bisa kamu dapatkan namun tergantung pada instrumen investasi yang dipilih.

Pertimbangan 3# Pertimbangkan Potensi Keuntungan


Dalam menabung, kamu bisa saja memperoleh keuntungan namun nilainya rendah. Hal ini sebanding dengan tingkat resiko yang ada. Ketika kamu memilih untuk menabung uangmu di celengan atau dirumah, kamu tidak mendapat keuntungan sama sekali karena memang tidak ada resiko. Berbeda dengan investasi, investasi memiliki potensi keuntungan yang lebih tinggi daripada tabungan karena memang resikonya lebih tinggi dari tabungan. Dan uang yang kamu investasikan nilainya akan naik seiring berjalannya waktu.

Pertimbangan 4# Resiko


Menabung hampir tak memiliki resiko sekalipun kamu menabung di bank. Karena apabila suatu saat terjadi kebangkrutan pada bank dimana kamu menabung, bank menjamin bahwa uangmu tetap aman dan kembali padamu. Ada juga produk menabung yaitu deposito yang memiliki resiko rendah dan keuntungannya lebih besar daripada tabungan biasa namun tetap tidak lebih tinggi dari investasi.

Berinvestasi selalu melibatkan resiko. Dalam berinvestasi khususnya saham, tidak menjamin uangmu akan aman 100%, ada kemungkinan kamu akan kehilangan sebagian atau bahkan keseluruhan dari nominal uang yang kamu investasikan bila perusahaan tempatmu berinvestasi mengalami kebangkrutan. Resiko pada investasi beragam tergantung instrumen investasinya.

Nah, setelah mempertimbangkan beberapa hal tersebut, kamu bisa menentukan akan menabung atau berivestasi karena keduanya sama-sama baik, juga sama-sama perlu dan penting untuk dilakukan. Dengan memiliki tabungan, ibaratnya kamu sudah siap menjalani hidupmu sampai lima tahun mendatang. Dan dengan investasi, ibaratnya kamu sedang mempersiapkan masa depanmu yang jauh lebih baik dari yang kamu jalani saat ini. Selamat menabung dan selamat berinvestasi!

Recommended post:
 

DAFTAR PUSTAKA
Waingankar, Roshan. ___. Investment vs Savings. [wallstreetmojo]
___. ___. Compare some of the differences between saving and investing. [handsonbanking]
___. ___. Saving vs. Investing. [wellsfargo]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."