Monday, October 15, 2018

Sudah Menikah Namun Tidak Kunjung Kaya, Mengapa?

Perihal pernikahan memang hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Apalagi ditengah maraknya pernyataaan di media sosial yang ditujukan untuk para jomblowan-jomblowati agar menyegerakan menikah, salah satu yang digembor-gemborkan adalah bahwa menikah bisa membuat kaya. Namun, pernahkah pertanyaan semacam ini terlintas dipikiranmu,

“Jika menikah memang dapat membuat kaya, mengapa ya banyak pasangan yang sudah menikah namun hidupnya tetap susah?”


Perhatikan orang-orang disekelilingmu, apakah mereka semua yang sudah menikah, sekarang menjadi kaya, atau dengan kata lain, kekayaan dan pendapatanmu semakin meningkat? Jika kamu adalah pasangan yang telah menikah, apakah kekayaan dan pendapatanmu sekarang jauh lebih meningkat daripada saat kalian masih sendiri?

Ketika kamu dan pasanganmu telah melangkah menuju bahtera rumah tangga namun masih sangat kesulitan dalam finansial, hal pertama yang bisa dilakukan adalah introspeksi, mungkin selama ini ada hal-hal yang salah dan perlu diperbaiki dalam kehidupan pernikahan kalian.

Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa kesalahan yang kemungkinan besar menjadi sebab mengapa pasangan yang sudah menikah tidak juga kaya,

kesalahan menikah
Image: Kesalahan Menikah [pixabay]


#1 Kesalahan Sebelum Menikah


  • Salah Niat

    Dalam buku ‘You Are What You Think’ yang ditulis oleh Abdul Azis Khafia, niat merupakan bagian yang membentuk kekuatan hati. Siapapun yang memiliki niat, ia akan memiliki energi untuk mewujudkannya. Untuk itu, niat menikah yang salah akan berpengaruh besar terhadap kekuatan dan energi dalam memperjuangkan kehidupan pernikahan.

    Jika tujuanmu menikah hanya untuk mengejar kekayaan, kamu mudah stres dan tak pernah merasa puas. Kamu bisa saja melakukan segala cara agar mendapat lebih banyak uang, serta menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak perlu. Niat yang salah menjauhkanmu dari kebaikan-kebaikan dalam kehidupan berumah tangga.

    Untuk itu, niatkanlah menikah sebagai ibadah, sebagai upaya untuk mencapai ridha Pencipta dengan lebih banyak berbuat kebaikan bersama, saling mengasihi dan membahagiakan. Ingatlah bahwa kehidupan di dunia ini sementara. Jangan jadikan perihal duniawi seperti kekayaan sebagai tujuan utama.

  • Salah Persepsi

    Dalam buku ‘Nikah Aja Biar Kaya’ karya Nafi’ah Al Ma’rab, dikatakan bahwa kaya bukan hanya soal materi tapi juga mental. Lemahnya ekonomi rumah tangga, salah satu penyebabnya bisa jadi karena tidak bersyukur. Harta benda yang begitu banyak kita miliki namun tak pernah disyukuri, rasanya tidak berarti apa-apa. Habis begitu saja.

    Mungkin kita pernah melihat keluarga yang dulunya hidup dalam kegemilangan ekonomi, namun tidak lama mereka jatuh, kehidupannya berubah 180 derajat. Diantara mereka ada yang stres sampai bunuh diri. Mereka memiliki persepsi yang salah tentang harta. Pandanglah harta sebagai sarana atau alat untuk lebih banyak berbuat kebaikan. Jangan memandang harta sebagai kekayaan pribadi yang dihabiskan untuk kepentingan sendiri. Semakin banyak harta yang kamu dapatkan, semakin banyak kebaikan yang harus kamu dan pasanganmu lakukan. 

  • Salah Pilih

    Telah disinggung di artikel sebelumnya bahwa kekayaan seseorang yang meningkat setelah menikah tidak lepas dari faktor ‘dengan siapa ia menikah’. Maka, sangat penting bagi kita untuk menetapkan kriteria pasangan sebelum menikah.

    Menurut Nasarudin Latif dalam buku ‘Ilmu Perkawinan: Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga’ secara psikologis seseorang yang mendapat pasangan sesuai dengan keinginannya akan sangat membantu dalam proses sosialisasi menuju tercapainya kebahagiaan keluarga.

    Proses mencari jodoh memang tidak bisa dilakukan secara asal-asalan dan soal pilihan jodoh sendiri merupakan setengah dari suksesnya perkawinan. Namun, lebih baik tidak langsung menyimpulkan bahwa kamu salah pilih pasangan. Ingatlah bahwa tidak ada pasangan yang 100% ideal. 

#2 Kesalahan Setelah Menikah


  • Tidak Dewasa

    Kedewasaan adalah salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu pernikahan, salah satunya dalam hal finansial. Ilmu Psikologi memandang kedewasaan sebagai suatu fase pada kehidupan manusia yang menggambarkan telah tercapainya keseimbangan mental dan pola pikir dalam setiap perkataan dan perbuatan.

    Pasangan yang telah dewasa adalah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga, tahu bagaimana cara bijak menyikapi masalah-masalah yang timbul, serta mengetahui, memahami dan memenuhi hak dan kewajiban satu sama lain. 

  • Sikap dan kebiasaan yang salah dalam mengelola keuangan

    Dilansir dari dream.co.id, inilah beberapa kesalahan dalam mengelola keuangan yang membuat kamu tidak juga kaya,
    1. Penghasilanmu meningkat, tetapi anggaran belanja juga meningkat
    2. Kamu hanya fokus ke masa sekarang, tidak ke masa depan
    3. Kamu berpikir belum waktunya untuk menabung dan berinvestasi
    4. Kamu tidak melakukan pencatatan keuangan
    5. Kamu tidak punya skala prioritas, mudah tergiur untuk membeli barang- barang baru yang tidak begitu diperlukan
    6. Tidak memiliki perencanaan keuangan yang jelas
     
  • Kurang komunikasi

    Seberapa benar pun niat, sikap, kedewasaan dan perencanaan keuangan yang telah disusun, rumah tangga tidak akan bisa sukses tanpa komunikasi. Dalam proses pembagian peran dan tanggung jawab keluarga, yang terpenting adalah komunikasi. Sejak awal berkeluarga, tentukan siapa yang akan mengelola keuangan keluarga, tunjuk siapa yang akan menjadi manager keuangan keluarga.

    Berbagilah dengan pasanganmu, peran dan tanggung jawab apa saja yang kalian sepakati bersama. Kesepakatan ini perlu untuk menghindari terjadinya konflik dan tumpang tindih. Dalam pelaksanaanya, tentu tidak akan selalu berjaan mulus. Untuk itu, diperlukan keterbukaan dengan pasangan agar tidak saling curiga. |

    Diperlukan kesabaran yang luas untuk berkompromi. Misalnya, ada tugas suami yang suatu ketika tidak bisa dihandle, maka istri bisa menggantikannya, atau sebaliknya.

Jika kamu dan pasangan telah berusaha maksimal namun kekayaanmu belum juga meningkat. Atau jika kamu telah berupaya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin menjadi sebab kamu dan pasangan masih sulit dalam finansial. Bersabarlah, tetaplah berpikir positif bahwa mungkin Tuhan hanya sedang mengujimu. Setiap manusia di dunia tidak lepas dari ujian, bukan? Jangan biarkan harapan dan impianmu dan pasangan untuk lebih sejahtera dalam finansial hilang begitu saja!

Hope is important because it can make the present moment less difficult to bear. If we believe that tomorrow will be better, we can bear a hardship today.
~ Thich Nhat Hanh

(Harapan itu penting karena bisa membuat sesuatu tidak terlalu sulit untuk ditanggung.  Jika kita percaya bahwa besok akan lebih baik, kita dapat menanggung kesulitan hari ini.)


Referensi:
Briscoe, Krishann. 2013. 25 Marriage Quotes to Encourage You During Tough TImes In Your Marriage. Babble
Khafia, Abdul Azis. You Are What You Think’. 2016. Jakarta: PT Grasindo.
Latif, Nasarudin. Ilmu Perkawinan: Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga. 2001. Bandung: Pustaka Hidayah.
AL-HUKAMA. The Indonesian Journal of Islmaic Law Volume 06, Nomor 02, Desember 2016. Ghufron, Muh. Maknda Kedewasaan dalam Perkawinan. Academia
Ramdania. 2015. Ini 8 Alasan kenapa anda tetap misikin. dream 
Al Ma’rab, Nafi’ah. Nikah Aja Biar Kaya. 2018. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Friday, October 5, 2018

Manfaat Menikah Membuat Mereka Lebih Kaya dan Sukses, Bagaimana?

‘Menikahlah, maka kamu akan kaya!’

Sering kamu mendengar seruan semacam itu? Bahwa katanya, pernikahan adalah gerbang menuju kekayaan. Bahwa dengan menikah, kekayaan seseorang akan meningkat. Lalu, setujukah kamu dengan pernyataan-pernyataan semacam itu?

Menikah merupakan salah satu keputusan terbesar dalam hidup. Dan tidak bisa dipungkiri, perihal finansial berperan penting baik menjadi sebab atau akibat dari menikah. Maksudnya, kemapanan dalam finansial seringkali menyebabkan seseorang mantap untuk menikah, dan seringkali menikah mengakibatkan finansial seseorang meningkat. Seperti pernyataan Pamela Smock, seorang profesor sosiologi di University of Michigan,

“The evidence shows that getting married increases wealth and income,”
- Pamela Smock
(Bukti menunjukkan bahwa menikah meningkatkan kekayaan dan pendapatan.)

Penelitian yang Menunjukkan Bahwa Menikah Meningkatkan Kekayaan dan Pendapatan


#1 Penelitian Jay Zagorsky

Pada tahun 1985 hingga 2000, Jay Zagorsky dari Ohio University pernah melakukan penelitian yang melibatkan 9.000 orang. Hasilnya, Ia membuktikan setidaknya dua hal,

Pertama, pernikahan membuat seseorang lebih kaya daripada sekedar menggabungkan kekayaan kedua pasangan tersebut. Bahwa setiap orang yang menikah, rata-rata memperoleh jumlah kekayaan dua kali lipat, bahkan bisa empat kali lipat.

Kedua, pernikahan menjadi faktor yang menjadikan kekayaan seseorang meningkat, sekitar 4% setiap tahun.

#2 Data BLS America

Menurut data BLS (Bureau of Labor Statistics) Amerika yang diamati para penulis Atlantik, pasangan menghabiskan rata-rata 6,9% dari pendapatan tahunan mereka untuk kesehatan mereka, sementara pria lajang hanya menghabiskan 3,9% dan wanita lajang menghabiskan 7,9%. Untuk tempat tinggal, pasangan menghabiskan rata-rata 23,9% dari pendapatan tahunan mereka, dibandingkan dengan pria lajang yang menghabiskan 30,3% dan wanita lajang yang menghabiskan 39,8%. Dengan menggabungkan sumber daya dan membagi biaya, orang yang sudah menikah memiliki kelebihan pada semua jenis pengeluaran sehari-hari yang dapat menghasilkan penghematan besar.

Setelah menikah mereka menggabungkan pendapatan dan berbagi biaya. Misalnya biaya dalam membeli peralatan rumah tangga, mereka hanya perlu membeli satu mesin cuci, satu kendaraan untukdigunakan berdua, sisanya digunakan untuk keperluan lain, hal tersebut memungkinkan mereka membangun kekayaan lebih cepat daripada yang masih lajang atau bercerai, karena pendapatan seseorang yang masih lajang tidak digabung dengan pendapatan pasangan untuk membiayai sesuatu.

#3 Penelitian W. Bradford Wilcox dan Robert Lerman

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh W. Bradford Wilcox, direktur National Marriage Project di University of Virginia, dan Robert Lerman, seorang profesor ekonomi di American University, menunjukkan bahwa pria mendapat gaji yang lebih besar ketika mereka menikah dibandingkan dengan rekan mereka yang masih lajang.

Menurut hasil studi, pria sudah menikah yang berusia antara 28-30 tahun berpenghasilan sekitar $ 15,900 lebih per tahun dalam pendapatan perorangan dibandingkan dengan rekan seusianya yang lajang, sementara pria sudah menikah antara 44-46 tahun menghasilkan $ 18.800 lebih banyak daripada pria lajang pada usia yang sama.

Pernikahan
Image: Pernikahan [Pixabay]

Selain membagi biaya, faktor yang menyebabkan kekayaan pasangan bisa meningkat adalah pasangan dapat membagi tanggung jawab dengan cara yang menguntungkan secara finansial. Misalnya, pria yang sudah menikah dapat bekerja 12 jam dalam sehari untuk menyenangkan atasannya, agar dipromosikan. Ia dan istrinya membagi tugas rumah tangga agar kehidupan mereka lebih maju secara finansial.

Dan kekayaan seseorang yang meningkat setelah menikah tidak lepas dari faktor ‘dengan siapa ia menikah’, Banyak pria dan wanita yang dipelajari dalam penelitian Zagorsky merasa bahwa mereka perlu memiliki keamanan finansial untuk menikah, seperti pekerjaan yang stabil atau tabungan yang cukup untuk mengadakan pernikahan dan resepsi.

Wanita menginginkan pria yang memiliki jenis pekerjaan yang membuat pria menjadi pencari nafkah utama. Seringkali, faktor latar belakang pendidikan, religiusitas, kemapanan dalam tanggung jawab dijadikan pertimbangan penting dalam memilih pasangan hidup yang akan dinikahi.

Bagaimana bisa? Begini, logika sederhananya, menurut Ahmad Rifai Rifan dalam bukunya yang berjudul ‘Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk’, kita hidup di dunia ini sudah dijatah rezekinya oleh Tuhan. Namun rezeki tersebut bisa terhalang oleh beberapa hal seperti rasa malas atau gengsi. Setelah menikah, kita dituntut agar bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Nah, tuntutan tanggung jawab menafkahi itulah yang akan menghapus rasa malas dan gengsi. Kita akan berusaha sangat keras karena sudah ada keluarga yang sedang menanti nafkah dari kita.

Menurut Zagorsky, tentu saja peningkatan kekayaan karena pernikahan hanya berlaku untuk pernikahan yang berhasil. Penelitiannya menemukan bahwa pasangan yang bercerai kekayaan mereka cenderung turun drastis, hal tersebut membuat mereka lebih buruk daripada mereka yang masih lajang dan belum pernah menikah. Untuk itu, Zagorsky berpesan,

 “Jika kamu ingin benar-benar meningkatkan kekayaan, menikahlah dan pertahankan!

Tidak hanya menikah, namun pertahankan juga pernikahannya. Namun, Zagorsky menyatakan bahwa tujuan menikah agar kaya adalah ide yang buruk. Jadi, alangkah lebih baik jika tujuan utamanya bukan untuk kaya, namun untuk cinta dan kebahagiaan. Kebahagiaan merayakan cinta dalam pernikahan salah satunya akan mengarah pada kekayaan finansial pasangan.

Kebahagiaan bisa meningkatkan produktifitas, lebih kreatif dan tentunya tanggung jawab yang lebih besar setelah menikah.


Referensi:
Allison Linn. 2016. Why married people tend to be wealthier: It's complicated. today
Landes, Luke. 2018. Does Getting Married Increase Wealth and Income?. consumerismcommentary
Rachel Gillett. 2016. 7 Ways Being Married Makes You More Successful. businessinder
Rif'an, Ahmad Rifa'i , Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk. 2011. Jakarta: Elexmedia Komputindo


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Friday, September 21, 2018

Yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Orang Tuamu Tidak Mendukung Imipanmu

Setiap dari kita pasti mempunyai impian bukan? Dalam mewujudkannya, selain membutuhkan motivasi diri dan keyakinan yang kuat, dukungan dari orang-orang terdekat sangatlah penting. Tapi, bagaimana jadinya kalau orang tuamu, sebagai orang terdekat justru menentangnya?

Mereka tidak menyetujui, tidak mendukung bahkan cenderung mengintervensi tanpa ada kompromi. Mereka punya rencana lebih bagus tentang masa depanmu yang harus kamu ikuti. Emosi kita cenderung lebih rumit ketika melibatkan keluarga. Kamu mungkin memiliki pandangan sebelumnya bahwa keluarga harus selalu melindungi, mendukung, dan mendorongmu. Ketika keluarga tidak se-ideal yang kamu harapkan, kamu merasa terluka.

Stop domino
Image: Stop [Pixabay}

Misalnya, kamu punya impian menjadi seniman, langkah yang mau kamu ambil adalah kuliah di fakultas seni, tapi orang tuamu tidak setuju, mereka justru ingin kamu kuliah di fakultas lain. Orang tua mu menentang rencanamu tersebut.

Atau misalnya kamu yang punya cita-cita menjadi pengusaha, setelah lulus kuliah kamu memutuskan untuk tidak bekerja dan memilih untuk merintis usaha. Namun orang tuamu justru ingin kamu menjadi PNS atau pegawai BUMN. Orang tuamu tidak mendukung jalur yang kamu mau, sama sekali. Nah, apa sih yang sebaiknya kamu lakukan jika hal semacam itu kamu alami?

Berikut fenomena harimu merangkum beberapa hal yang sebaiknya kamu lakukan ketika orangtuamu tidak mendukung impianmu, bersumber dari personalexcellence.co,

Pahami Kekhawatiran Orang Tua


Tanyakan pada dirimu sendiri, “Mengapa orang tua menolak rencana dan impianmu?” Pola pikir yang sangat umum dikalangan orang tua di Asia adalah mereka merasa khawatir bahwa sebuah jalan hidup yang dipilih tidak potensial di masa depan, khawatir sebuah karir tidak akan menghasilkan pendapatan yang baik dan stabil. Mengapa itu penting? Karena stabilitas keuangan memang penting.

Banyak hal dalam hidup (pilihan tempat tinggal, kehidupan sehari-hari, dan pilihan hidup) bergantung pada uang. Mungkin tidak sepenuhnya benar. Kemungkinan besar, mereka melihat, mendengar dari orang tua lain atau dari berita.kalau masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan itu karena faktor ketidakstabilan keuangan.

Bicaralah Pada Orang Tua


Bicaralah pada mereka, jika belum ada hasil, coba lagi. Memahami kekhawatiran orang tuamu adalah langkah pertama yang penting untuk ‘menjembatani’ perbedaan pandangan tersebut. Terapkan tips ini,

Jangan terkesan menuduh seperti berkata, “Kalian selalu tidak setuju dengan semua yang saya lakukan!” atau “Pikiran kalian begitu tertutup!” Namun, Bertanyalah, ”Bisakah kalian menjelaskan kenapa tidak setuju?” Dengarkan penjelasan mereka dengan baik.

Hilangkan kekhawatiran mereka. Jelaskan secara detail rencana-rencanamu agar mereka tahu bahwa kamu memilihnya bukan karena iseng namun kamu sudah memikirkannya dengan matang. Jelaskan bagaimana cara menjaga keuangan agar tetap stabil, apa rencana cadangan jika rencanamu tidak berhasil.

Berikan mereka pandangan baru bahwa kamu tumbuh di zaman yang berbeda dari mereka. Misalnya tentang mereka yang tumbuh di dunia dimana tidak ada komputer dan internet, tidak mempelajari bahasa internasional, dimana keduanya membuat setiap generasi mempunyai perilaku dan pola pikir yang berbeda. Jelaskan bahwa sebuah karir bukan sekedar keuangan yang stabil, tapi ada hal lain seperti kepuasan dan kebahagiaan pribadi.

Beri tahu kalau rencanamu tidak menakutkan, tunjukkan pada mereka contoh orang-orang yang mengejar jalur yang serupa dan berhasil (jika perlu kumpulkan kliping koran, print out dari situs berita).

Sedikit bicara, banyak aksi


Semua yang sudah kamu bicarakan kepada orangtuamu, tidak ada gunanya jika  tidak ada hasil. Jika kamu sudah mencoba berbicara namun mereka tidak mendengarkan, optimalkan usahamu untuk mencapai impian.

“At a stage in life, you learn to talk less. That is, let your works do the talking. Hence, work hard in silence. The evidence will be clear for all to see.”
–    Oscar Bimpong: Media Persona, Inspirational Speaker and an Entrepreneur.


(Pada suatu tahap dalam hidup, kamu belajar untuk mengurangi bicara. Artinya, biarkan aksimu yang bicara. Oleh karena itu, bekerja keraslah dalam keheningan. Pembuktian akan jelas bagi semua orang untuk dilihat.

Biarkan hasil yang menunjukkan pada mereka bahwa jalan yang kamu pilih itu tepat. Gunakan setiap luka yang kamu terima sebagai ‘amunisi’ untuk memacu diri sendiri, agar mencapai hasil yang lebih besar. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu pantas mendapatkan kepercayaan dari mereka.

Perlihatkan Pencapaian-Pencapaian Kecilmu


Orang tuamu tidak akan tahu pencapaian dari rencana yang telah kamu mulai kecuali kamu memperlihatkannya. Setiap kamu berhasil mencapai sesuatu meskipun kecil, tunjukkan saja. Misalnya kamu yang merintis usaha, ketika kamu berhasil menjual produk, mendapatkan respon yang baik dari konsumen, mendapatkan tawaran kerjasama dari orang lain, atau kamu diwawancarai oleh sebuah media karena kerja kerasmu, beri tahu mereka. Ketika mereka mengetahui pencapaianmu, mereka tidak perlu mengkhawatirkan rencana dan impianmu lagi.

Libatkan Mereka


Tunjukkan pada mereka mengenai hal-hal yang kamu pelajari, libatkan mereka dalam prosesnya. Orang tua cenderung menolak apa yang mereka tidak tahu, ketika mereka mengetahui lebih banyak tentang jalan yang kamu lalui untuk mencapai impian, mereka akan paham bahwa impianmu tidak menakutkan. Bahkan mereka tidak akan lagi memaksakan kehendak, menjadi lebih memahami dan mendukung impianmu.

Tunjukkan Perkembangan Hidupmu


Tunjukkan pada orangtuamu kalau kamu dapat memenuhi kebutuhan meskipun mengikuti jalur yang berbeda dengan mereka. Hal terakhir yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan hal baik dari jalur yang kamu pilih adalah bahwa kamu masih hidup, hari demi hari, meskipun melakukan apa yang berbahaya dan menakutkan bagi mereka.

Akan lebih baik lagi jika hidupmu semakin berkembang, bahagia setiap hari, bertanggung jawab atas hidupmu, sehingga rencana-rencanamu akan menjadi semakin jelas untuk dicapai, membawamu pada perubahan yang positif. Hal tersebut menunjukkan kalau kamu adalah telah dewasa dan bijak, bisa melakukan segalanya dengan baik tanpa intervensi mereka.

Dari semua tips diatas, ingatlah bahwa orangtuamu menyayangimu. Jika mereka tidak sayang, mereka tidak akan peduli dengan risiko berbahaya dari rencana-rencana dalam impianmu. Jadi, jangan membenci mereka.

Semua usaha yang kamu lakukan untuk membuat pikiran mereka terbuka tentu butuh waktu. Namun ketika mereka melihat kesuksesan di jalur yang kamu jalani, kamu bahagia. puas melakukannya finansialmu mulai stabil, mereka akan sadar kalau kamu bukan lagi seorang anak kecil yang selalu butuh campur tangan mereka. Saat itulah mereka mulai lepas tangan dan memberi kamu ruang untuk tumbuh menjadi dirimu sendiri.



Referensi:
Carver, Melissa. What to Do When Your Family Doesn’t Support Your Goals. Chopra
Chua, Celestine. What to Do When Your Parent Doesn’t Support Yur Goals. PersonnalExcellence
goodreads


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Sunday, September 9, 2018

Shiny Object Syndrom: Salah Satu Penyebab Usaha Maksimal Namun Tidak Kunjung Sukses

Pernahkah kamu mengalami ‘Shiny Object Syndrome' (SOS)?

"apa'an tuh?"

Tanda bahwa kamu terkena Shiny Object Syndrome adalah jika kamu memiliki daftar ide tetapi tidak ada yang kamu eksekusi, ketika kamu cenderung mengejar sesuatu yang baru daripada tetap fokus pada apa yang sedang kamu kerjakan, terus-menerus merencakan tujuan baru tetapi tidak pernah bisa berkomitmen menyelesaikannya sampai akhir. Kamu sering melompat dari satu tujuan ke tujuan berikutnya daripada bertahan dengan apa yang kamu kerjakan sampai selesai.

Misalnya, kamu sebagai seseorang yang bercita-cita menulis sebuah buku, kamu mempunyai ide untuk menulis novel fiksi bergenre horor. Kamu membuat konsep lalu mulai menulis, namun ditengah perjalananmu merangkai cerita, kamu merasa kesulitan. Lalu kamu merasa perlu mengganti genre cerita. Tidak lama, kamu membuat konsep baru, mulai membuat cerita bergenre romance dengan alasan bahwa novel bergenre romance sangat laris di pasaran. Lagi-lagi, ditengah perjalanan menulis cerita tersebut, kamu berfikir bahwa ada yang salah dengan keputusanmu, merasa tidak bisa menyelesaikan novel. Kamu lalu berubah pikiran, mempunyai ide untuk membuat cerita bergenre lain lagi, fantasy, misalnya. Sampai pada akhirnya, tidak ada satu novelpun yang berhasil kamu tulis.

Atau, kamu yang bercita-cita menjadi pengusaha, Shiny Object Syndrom membuatmu tidak pernah fokus mengembangkan satu bidang usaha yang telah kamu mulai jalankan. Berkali-kali berganti mulai dari bidang fashion, kuliner, kosmetik, sampai biro perjalanan. Terlalu banyak ide produk dan jasa ‘menyilaukan’ yang ingin kamu geluti. Hasilnya, tidak ada satupun usahamu yang bertahan hingga bertahun-tahun. Ide-ide bisnis baru yang lebih menyilaukan, lebih booming di dunia maya, dengan mudah mengalihkan perhatianmu. Terlalu banyak opsi yang ‘berkeliaran’ dipikiranmu.

Ciri-ciri kalo kamu terkena shiny object syndrom


Dirangkum dari personalexcellence.co, pada intinya, masalah dengan Shiny Object Syndrome adalah adanya gangguan. Selalu tertarik pada ide, cara dan tujuan baru. Meninggalkan tugas-tugas penting dalam proses meraih tujuan yang lebih dulu ditetapkan. Ketika kamu terus-menerus terganggu, beberapa masalah yang terjadi adalah,

Pertama, kamu tidak pernah menyelesaikan sesuatu. Itu karena kamu selalu mencari sesuatu yang baru, daripada menyelesaikan rencanamu saat ini.

Kedua, kamu menghabiskan terlalu banyak waktu pada ide, cara dan tujuan baru, yang 95% adalah informasi yang membuat tidak fokus, daripada mengeksekusi langkah-langkah yang telah disusun pada tujuan yang lebih dulu ditetapkan.

Ketiga, kamu menjadi ‘master of none’. Itu karena kamu tidak menggunakan waktumu untuk menjadi seorang ahli dalam suatu hal. Kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hanya menjadi seorang ‘pemula’, selalu saja mempelajari dasar-dasar dari hal-hal yang dianggap lebih menakjuban, mengagumkan dan menjanjikan. Tidak pernah beranjak dari seorang pemula menjadi menengah, apalagi seorang expert.

gagal
Image: fail [pixabay]

Ingin mengatasi shiny object sindrom? simak 4 tips berikut ini


1. Yang Baru Tidak Selalu Lebih Baik
Pahamilah bahwa sesuatu yang baru, tidak selalu berarti lebih baik. Namun, untuk mengatasi Shiny Object Syndrom, bukan tentang mengabaikan setiap hal baru. Di dunia saat ini, penting untuk tetap mengetahui tren dan pembaruan. Namun, ketika semua yang kamu lakukan adalah hanya mengikuti tren, kamu hanya membuang-buang waktu, yang seharusnya kamu gunakan untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah kamu mulai lebih dulu. Howard Washington Thurman, penulis, filsuf, teolog, dan pendidik menyatakan dalam kutipannya,

Don’t ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world needs is people who have come alive.”

“Jangan bertanya apa yang dunia butuhkan. Tanyakan apa yang membuat hidupmu menjadi lebih hidup, dan lakukanlah. Karena apa yang dibutuhkan dunia adalah orang-orang yang hidupnya menjadi lebih hidup (dengan tujuannya).”

2. Belajar dari Proses Orang Lain
Ada banyak ide yang menyilaukan di dunia online seperti munculnya deretan StartUp baru, produk baru, dan layanan baru. Tapi lihatlah perjalanan mereka yang lebih dulu melakukannya. Meskipun orang-orang mungkin menyombongkan betapa hebatnya produk atau layanan yang mereka ciptakan, tidak semuanya harus kamu ciptakan juga.

Meskipun sebuah startup dapat menjanjikan kepada dunia tentang apa yang dapat dilakukan oleh produk dan jasa mereka, dalam prosesnya bisa jadi memunculkan masalah-masalah baru, bisa jadi tidak bertahan lama. Pelajari proses yang dilalui orang lain, tidak semua cara yang mereka pakai itu harus kamu tiru.

3. Menilai Kecocokan Hal Baru dengan Tujuanmu
Sebelum beralih ke ide atau cara baru, nilailah kecocokannya dengan tujuan dalam pekerjaan, usaha dan kehidupanmu. Jangan ikuti apa yang dilakukan orang lain hanya karena itu hal ter-booming sekarang, karena belum tentu bisa bertahan lama. Bertanyalah pada diri sendiri,

-    Apakah hal baru tersebut yang benar-benar saya butuhkan dan masuk dalam prioritas hidup saya?
-    Apakah itu akan menambah nilai pada pekerjaan, usaha dan hidup saya?
-    Apakah dampak positif dan negatifnya jika saya menetapkan dan menjalani hal baru tersebut?

4. Meminimalisir Sumber Gangguan
Cara terbaik untuk mengelola gangguan dari hal-hal yang menyilaukan, bukan sekedar menerapkan disiplin, tetapi dengan mengelola sumber-sumber gangguan. Ketika kamu terus dibanjiri email berlangganan tentang penawaran bisnis baru, apalagi tidak relevan dengan tujuan dan prioritasmu. Hal itu mengganggu kefokusan dan mengacaukan pikiran. Terlalu banyak sumber informasi yang masuk, terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak ‘beban’.

Di media sosial, salah satu yang bisa kamu lakukan adalah menyaring akun-akun yang kamu ikuti. Hanya ikuti akun-akun yang memberikanmu banyak informasi relevan dengan bidang yang kamu tekuni, minimalisir kenggotaanmu di grup facebook, whatsapp, atau line.

Namun, perlu kamu garis bawahi, hal-hal baru yang menyilaukan tidak selalu buruk dan mengganggu fokusmu. Kita harus tetap terbuka pada perubahan dan pembaruan. Tapi, jangan lupa untuk menelaah lebih jauh, apakah hal baru tersebut adalah sebuah peluang yang perlu kita ambil, atau hanya hal menyilaukan yang menipu?

Investasikan sebagian besar waktu kita untuk mencapai tujuan, menyaring hal-hal baru yang relevan dengan tujuan kita. Buatlah rencana dan tujuan, fokus, lalu berkomitmenlah untuk mencapainya, menyelesaikan dengan baik apa yang telah kita mulai.


Referensi:
Chua, Celestine. The Shiny Object Syndrome: How to Stay Focused and Stop Getting Distracted. personalexcellence
Why Shiny Object Syndrome Is Sometimes a Good Thing. problogger


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, September 1, 2018

Cara Terbaik Menggunakan Media Sosial Sebagai Pendukung Kesuksesanmu

Coba renungkan serta jawab untuk diri sendiri, apa saja yang sering kamu lakukan ketika membuka akun media sosialmu?

Jawabanmu?? mengisi waktu luangkah??

Apakah hanya melihat-lihat postingan terbaru teman-temanmu di instagram mengenai Out Of The Day mereka, atau sekedar memberikan like dan komentar kepada para selebgram yang kamu ikuti?

Apakah kamu yakin menggunakan media sosial untuk hal-hal tersebut memberikan manfaat, minimal untuk dirimu sendiri?

Menjadi pengguna media sosial yang pasif, dalam artian hanya melihat-lihat postingan orang lain, hanya akan menyebabkan emosional dalam diri kita naik turun, 3 kali scroll down mungkin suasana hatimu bisa 3 kali mengalami perubahan, senang dipostingan pertama, ngeri serta penasaran dipostingan kedua dan mungkin jengkel dipostingan ketiga.

Germany Kent, seorang jurnalis Amerika, mantan ratu kecantikan, pengarang, aktris, sekaligus pengusaha, memaparkan pandangannya dalam sebuah kutipan,

If you are on social media, and you are not learning, not laughing, not being inspired or not networking, then you are using it wrong.

"Jika kamu berada di media sosial, dan kamu tidak belajar, tidak tertawa, tidak terinspirasi atau tidak membangun jaringan, maka kamu salah menggunakannya."

Nah, bagaimana sih agar kita menggunakan media sosial dengan benar? Mempelajari sesuatu, mendapatkan inspirasi, serta membangun jaringan didalamnya. Agar media sosial menjadi bermanfaat untuk kita gunakan sehingga waktu yang kita habiskan untuk aktif di media sosial pun tidak terbuang percuma. Dikutip dari berbagai sumber, berikut Fenomena Harimu rangkum 5 hal yang bisa kamu lakukan untuk membuat media sosial menjadi sangat bermanfaat,

sukses media sosial
Image: Media Social [Pixabay]

Cara #1 Bagikan konten positif


Daripada hanya mengunggah foto-foto selfiemu untuk sekedar mempercantik feed instagram, atau update status facebook tentang lagu yang kamu dengarkan, akan lebih bermanfaat jika kamu membagikan konten-konten positif.

Bisa berupa quote motivasi dari para tokoh ternama, kisah-kisah inspirasi hidup yang membangun. Siapa tau, bukan hanya kamu yang termotivasi serta terinspirasi dari konten tersebut, tapi orang-orang di lingkaran pertemanan media sosialmu juga. Jauh lebih bermanfaat, bukan?


Cara #2 Tunjukan potensi diri


Setiap manusia lahir dengan potensi yang ada pada dirinya. Di zaman milennial ini, saatnya kamu tunjukkan pada dunia tentang potensi yang kamu miliki, jangan lagi menyembunyikannya untuk dirimu sendiri. Jika kamu punya potensi dalam design grafis, perlihatkan designmu. Biarkan orang lain mengetahui bahwa kamu memiliki kemampuan di bidang tersebut.

Bagi kamu yang punya kemampuan dalam menulis, bagikan tulisan-tulisanmu di media sosial.  Jika kamu bisa membuat bermacam-macam kerajinan tangan, abadikan dan unggah hasil karyamu, bagikan juga tips-tips dalam membuatnya.

Begitu juga jika kamu berpotensi dalam memasak, mendesain interior atau bidang apapun. Agar lebih maksimal, bagikan secara konsisten. Jika karyamu dikritik oleh orang lain, jadikan itu sebagai masukan yang membangun, menjadikan karyamu lebih baik lagi.


Cara #3 Share hobby


Media sosial mampu menghubungkan kita dengan semua orang dari berbagai belahan dunia. Kamu bisa memanfaatkannya dengan bergabung bersama komunitas dalam bidang yang kamu sukai. Contohnya, bagi kamu yang hoby fotografi, kamu bisa bergabung di komunitas fotografi. Mulai dari komunitas lokal, nasional bahkan internasional.

Biasanya, suatu komunitas memiliki program kerja seperti diskusi secara online dan offline, seminar, pelatihan serta gathering. Selain bisa bertukar pikiran, menambah wawasan, meningkatkan kemampuan, jaringan pertemananmu jadi semakin luas, informasi terkait kompetisi dan peluang terkait hobimu juga lebih mudah kamu ketahui.


Cara #4 Promosi, atau Me-review produk dan Jasa


Jika kita punya bisnis, media sosial menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengenalkan dan mempromosikan produk dan jasa. Betapa tidak, pada sebuah toko fisik, pelanggan dibatasi oleh akses lokasi serta waktu (jam buka-tutup), sedangkan bisnis online, bisa diakses oleh semua orang di seluruh dunia, selama 24 jam.

Atau, kamu bisa memanfaatkan keaktifanmu di media sosial dengan mereview produk atau brand tertentu. Siapa tau, kamu punya kesempatan untuk menjadi seorang influencer atau brand ambassador. Untuk menjadi influencer, kamu bisa menekuni bidang yang kamu sukai. Bidang itulah yang akan kamu bagikan kontennya secara konsisten di media sosialmu.


Cara #5 Follow Akun yang Mendukung Kebermanfaatanmu di Media Sosial


Hindari mem-follow akun-akun yang tidak bermanfaat seperti akun gosip yang hanya membicarakan seputar selebriti, atau akun yang bermuatan konten negatif. Penuhi beranda media sosialmu dengan postingan dari akun berkonten positif, berkaitan dengan potensi, hobi dan bidang yang kamu geluti. Selain bisa banyak mengambil ilmu dari mereka, bukan tidak mungkin kalau suatu saat kamu mendapatkan tawaran bekerja sama dengan mereka.

Dalam bermedia sosial, setiap orang punya motif dan tujuan. Sebelum melakukan 5 hal tersebut. Yakinkan dulu diri kita untuk memiliki tujuan yang baik, untuk merasakan manfaat sekaligus menebar manfaat kepada pengguna media sosial lainnya. Sehingga media sosial bisa menjadi ‘ladang pahala’ bagi kita. Dengan melakukan 5 hal tersebut, kita juga sekaligus membangun ‘self branding’ (citra diri) pada masyarakat.

What you post online speaks VOLUME about who you really are. POST with intention. REPOST with caution.
– Germany Kent.

(Apa yang kamu posting secara online, berbicara tentang siapa kamu sebenarnya. POSTING dengan niat. REPOST dengan hati-hati.) – Germany Kent.

Ibaratnya, orang lain sedikit banyak bisa mengenal siapa kita, dari kesan yang kita bangun melalui konten yang kita bagikan di media sosial. Tidak jarang, perusahaan atau lembaga saat ini bahkan menjadikan media sosial pelamar sebagai pertimbangan dalam proses rekruitmen kerja.

Referensi:
Good Reads, goodreads
Good Reads, goodreads

Recommended post: 6 Alasan Mengapa HP atau Smartphone menjadi Benda yang Paling Favorit

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."
loading...