loading...

Saturday, June 8, 2019

Mengenal Tes Kepribadian MBTI, Seberapa Akuratkah?

Pernahkah kamu menemukan kata-kata seperti ‘I’m an ENTJ’, ‘I’m an ISFP personality type’, atau sekedar huruf seperti ‘ESTP’ ‘INTJ dan semacamnya di bio instagram temanmu? Atau barangkali yang tertera di media sosial lainnya. Mungkin sebagian besar dari kamu sudah tahu kalau akronim tersebut merupakan singkatan dari tipe kepribadian, yang artinya menunjukkan kalau pemilik akun adalah seseorang yang memiliki kepribadian berupa tipe tersebut. Mereka tahu tipe kebribadian setelah mengikuti tes psikologi bernama MBTI. Hmm... apa ya arti dari akronim-akronim tersebut dan untuk apa mereka mengikuti tes MBTI?

Gambar. Kepribadian [Pixabay]

MBTI (Myers Briggs Type Indicator) adalah tes psikologi kepribadian yang hingga kini banyak dipakai oleh organisasi atau perusahaan di dunia, loh. Tes yang berupa kuisioner ini dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan putrinya Isabel Briggs Myers. Mereka mengacu pada teori kepribadian berupa konsep introversi dan ekstroversi yang digagas oleh Carl Jung, Bapak Psikologi Analitik. Pada 1920-an Myers dan Briggs mengembangkannya dengan menggunakan akronim empat huruf dalam mengelompokkan kepribadian seseorang.

Untuk Apa Ikut Tes MBTI dan Seberapa Akuratkah?


Tuhan telah menciptakan manusia di dunia ini dengan kepribadian yang berbeda-beda. Coba perhatikan orang-orang disekelilingmu, jangankan antara kamu dan temanmu, kepribadian diantara saudara kandung bahkan saudara kembar pun bisa jadi berbeda. Namun, alih-alih mencoba memahami kepribadian orang lain, sudahkah kamu memahami kepribadian dirimu sendiri? Ya minimal kamu tidak bingung saat mendeskripsikan diri sendiri.

Lebih dari itu, kepribadian adalah salah satu faktor yang memandu tindakan seseorang. Kalau kamu paham kelebihanmu, kamu bisa menggali dan memaksimalkannya untuk berperan dalam masyarakat sesuai dengan bidangmu. Kamu bisa lebih bijaksana dalam bertindak dan jika paham apa kekurangan jadi tahu bagaimana cara mengatasinya. Pada intinya, tes MBTI bertujuan untuk membantumu belajar lebih banyak tentang dirimu. Pemahaman yang mendalam tentang dirimu sendiri akan membuatmu lebih mudah memahami orang lain.

Knowing others is intelligence;
 knowing yourself is true wisdom.
 Mastering others is strength;
 mastering yourself is true power.

– Lao Tzu
Mengenal orang lain adalah kecerdasan;
mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati.
Menguasai orang lain adalah kekuatan;
menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati.

Menurut laman 16Personalities yang menyediakan tes MBTI, tes ini bukanlah pedoman atau jawaban akurat dan pasti, melainkan hanya menggambarkan sebuah kecenderungan. MBTI menggambarkan bagaimana seseorang dengan kepribadian tertentu memengaruhi caranya dalam bertindak. Saat kamu membaca satu demi satu indikator kepribadian yang disebutkan sesuai dengan hasil tes, kamu mungkin tidak akan selalu bilang, “Wah, ini saya banget!”

Perbedaan yang signifikan bahkan bisa terjadi pada orang-orang yang punya tipe kepribadian sama. Namun ketika tes ini banyak digunakan dibanyak negera bahkan untuk keperluan organisasi dan perushaan, kenapa tidak mencobanya? Fenomena Harimu merekomendasikan kamu untuk mengikuti tes di laman 16personalities[dot]com jika kamu berminat mencobanya.

Aspek Kepribadian MBTI


Berikut kami rangkum penjelasan dari aspek-aspek kepribadian tes MBTI:

#1 Aspek Pikiran: Ekstrovert (E) – Introvert (I)

Ekstoversi dan introversi adalah gagasan tertua dalam sejarah teori kepribadian, aspek ini menunjukkan bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan.

Seseorang yang introvert lebih menyukai aktivitas yang soliter (secara sendiri atau sepasang-sepasang, tidak secara kelompok). Seorang introvert cenderung mengandalkan dirinya sendiri serta menikmati kesunyian dan keheningan sebagai cara untuk menyegarkan pikirannya. karena Fokus mereka terletak di dalam drinya sendiri.  Mereka sensitif terhadap stimulus dari luar seperti penglihatan, pendengaran dan penciuman yang membuat mereka menghabiskan waktu sendirian untuk kembali bisa bersemangat.

Sedangkan ekstrovert lebih suka kegiatan-kegiatan secara berkelompok, karena semangat mereka didapat dari interaksi dengan orang lain. Pikiran mereka akan kembali segar apabila mereka menghabiskan banyak waktu untuk berinteraksi dengan banyak orang. Fokus mereka terletak diluar dirinya. Karena mereka tidak sensitif terhadap stimulus dari luar, mereka cenderung mencari stimulus lain dengan cara menghabiskan banyak waktu untuk berkegiatan dan mengobrol.

#2 Aspek Energi: Intuitive (N) – Observant (S)

Bagaimana cara seseorang melihat dunia dan memposes informasi dari sekitar ditunjukkan dalam aspek ini.

Seorang yang intuitive sangat imajinatif, lebih tertarik pada ide dan hal-hal baru. Mereka seringkali menanyakan tentang kesan dari apa yang mereka alami dan lakukan. Mereka senang memikirkan kemungkinan-kemungkinan , membayangkan masa depan dan hal-hal yang abstrak.

Seseorang dengan aspek observant (dalam istilah lain disebut sensing) cenderung pragmatis, lebih tertarik pada fakta dan hal-hal praktis yang dapat diamati. Mereka fokus pada kenyataan yang sedang terjadi atau pada apa yang mereka pelajari dari panca indera mereka di masa lalu. Tidak seperti seorang intuitive, seorang observant lebih baik berurusan dengan objek konkret yang telah dicoba dan diuji daripada kemungkinan akan hal-hal yang abstrak.

#3 Aspek Alam: Thinking (T) – Feeling (F)

Aspek alam menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan dan mengatasi emosi. Dalam membuat keputusan, individu thinking lebih memprioritaskan logika dan argumen rasional. Mereka lebih mengandalkan kepala daripada hati dan menekankan efisiensi daripada kerja sama. Dalam mengatasi emosi mereka cenderung mengesampingkan perasaan dan mempunyai motto, “Apapun yang terjadi, kamu harus bersikap tenang,” Kesuksesan profesional lebih penting daripada prinsip dan cita-cita.

Sedangkan aspek feeling membuat seseorang lebih mengikuti kata hati. Mereka lebih suka bekerja sama daripada bersaing. Mereka berpandangan kalau seharusnya tak takut untuk mendengarkan perasaan yang terdalam dan membagikannya pada dunia. Mereka berjuang mati-matian mempertahankan apa yang diyakini, karena itu prinsip lebih penting bagi mereka.

#4 Aspek Taktik: Judging (J) – Prospecting (P)

Aspek ini menunjukkan bagaimana kita memandang perencanaan dan opsi yang tersedia. Individu judging sangat teliti dan terorganisir. Mereka lebih suka semuanya berjalan sesuai rencana, tidak terbuka pada tantangan dan opsi tak terduga. Mereka lebih menyukai struktur dan perencaan daripada spontanitas.

Sebaliknya, individu prospecting lebih santai dan fleksibel terhadap tantangan yang tak terduga. Mereka pandai berimprovisasi, bersedia ‘melompat’ ke opsi lain yang tidak ada dalam daftar rencana. Mereka sadar bahwa hidup penuh dengan kemungkinan-kemungkinan lain.

Umumnya, tes-tes MBTI hanya mengidentifikasi 4 aspek, namun dalam 16personalities, ada aspek tambahan berupa aspek identitas.

#5 Aspek Identitas: Assertive (-A) – Turbulent (-T)

Aspek ini menopang keempat aspek lainnya diatas, menunjukkan seberapa percaya dirikah seseorang pada kemampuan dan keputusannya. Seseorang yang assertive adalah individu yang percaya diri dan tahan terhadap stres, mereka tak mau terlalu khawatir juga tak memaksakan diri sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Menurut mereka, apa yang dilakukan ya sudah dilakukan, tak ada gunanya untuk menganalisis. Mereka cnderung merasa puas dengan hidup mereka.

Sedangkan seseorang yang turbulent sadar diri dan peka terhadap stres. Mereka cenderung perfeksionis dan sangat bersemangat untuk terus meningkat. Mereka bersedia untuk berganti pekerjaan jika merasa terjebak dalam pekerjaan saat ini, mereka meluangkan waktu untuk berpikir menegani arah kehidupan mereka selanjutnya.

Dalam MBTI, kamu akan diidentifikasi bahwa dirimu memiliki satu dari 16 jenis kepribadian. Namun tidak ada kepribadian yang ‘terbaik’ atau ‘lebih baik’ daripada yang lainnya. MBTI tak dirancang untuk itu. Ingatlah bahwa MBTI bertujuan membantu agar kamu belajar banyak tentang dirimu sendiri, bukan untuk membandingkan satu dengan yang lainnya.

Referensi
[16personalities]
Cherry, Kendra. 2019. An Overview of the Myers-Briggs Type Indicator. [verywellmind]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Monday, June 3, 2019

Jodoh, Ditunggu Atau Dikejar?

Tidak terasa, Hari Raya Idul Fitri 1440 H tinggal menghitung hari. Berbagai tradisi seperti mudik, memakai baju baru, makan ketupat hingga bagi-bagi THR menjadi khas tersendiri saat lebaran. Sampai-sampai, pertanyaan ‘kapan menikah’ juga seolah menjadi tradisi karena sering sekali terlontar khususnya pada momen berkumpul di hari lebaran. Mereka yang masih lajang, baik laki-laki maupun perempuan mungkin merasa kikuk juga mendapat pertanyaan semacam itu, datang dari orang tua, keluarga besar, teman-teman yang sudah lama tak berjumpa hingga tetangga rumah. Bagi kamu yang lajang, sudah siapkah menanggapi pertanyaan semacam itu?

Jodoh
Gambar. Jodoh [Pixabay]

“Santai saja, toh jodoh kan sudah diatur oleh Tuhan,” Hmm... alih-alih berkata bahwa Tuhan telah mengatur segalanya termasuk jodohmu, apakah datangnya jodoh cukup ditunggu saja?

Menunggu Jodoh Bukan Berarti Berdiam Diri


Jodoh memang telah diatur oleh Tuhan. Mungkin kamu pernah mendengar bahwa jodoh akan datang diwaktu yang tepat, kadang kedatangannya dengan cara unik yang tak disangka-sangka oleh manusia. Namun, bukan berarti kita hanya menunggu kedatangannya dengan berdiam diri. Logikanya, kalau ada seseorang yang malas-malasan, menunggu dengan berdiam diri saja dirumah berharap jodoh akan mengetuk pintu rumah dengan sendirinya, apakah mungkin? Mungkin saja jika memang orang tuanya berinisiatif menjodohkan anaknya. Namun tak semua orang tua punya melakukannya. Segalanya memang telah diatur oleh Tuhan, namun sebagai manusia kita tetap wajib berupaya semaksimal mungkin.

Terlalu Mengejar Jodoh Membuatmu Tidak Objektif


Kalau menunggu bukanlah solusi, apakah sebaiknya kita mengejar jodoh? Hmm... sebagai makhluk sosial pada dasarnya kodrat manusia memang membutuhkan orang lain, salah satunya yaitu kebutuhan untuk membersamai dan dibersamai oleh pasangan hidup. Menurut penulis, kebutuhan tersebut sebenarnya tidak serta merta membuat seseorang tergesa-gesa ingin bertemu jodohnya, namun di era digital sekarang ini, kita mudah sekali terprovokasi oleh postingan-postingan di media sosial seperti foto-foto penikahan dan seruan tentang jodoh. Akibatnya kita jadi merasa seperti dikejar-kejar ‘deadline’ untuk segera mengakhiri masa-masa sendiri.

Dikutip dari laman Life Hack, mengejar jodoh bisa mengurangi kemampuanmu dalam bersikap objektif tentang orang yang kamu temui. Jika objektifitas berkurang, kamu jadi tidak bisa membedakan siapa orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupmu. Karena kamu terlalu ‘ngoyo’ mencari jodoh, kamu jadi terlalu mudah berasumsi bahwa kalau ada seseorang yang bersikap baik dan mengistimewakanmu adalah jodohmu.

Asumsi itu muncul bukan karena kamu merasa benar-benar serasi dengannya, tapi karena kamu memang mendambakan sosok jodoh, siapa pun yang datang ya kamu anggap berjodoh denganmu. Maka lahirlah istilah bahwa ‘cinta itu buta’, karena mengejar jodoh dapat membuat kita tidak bisa menilai secara sehat tentang orang lain. Keburukan perangai dianggap wajar, Segala perbedaan dimaklumi. Sehingga tak jarang berujung pada ketidakharmonisan hubungan dalam jangka waktu yang lama. Semakin besar harapan kepada orang yang kita inginkan sebagai jodoh, semakin besar risiko kekecewaan yang akan dihadapi ketika kamu merasa tak semuanya sesuai harapan.

Bukan Menunggu, Bukan Juga Mengejar


Seringkali, jodoh justru datang ketika seseorang tidak menunggu juga tidak mengejar. Saat kamu tidak mencari seseorang untuk dicintai, saat itulah seseorang cenderung hadir. Kok bisa? Ketika kamu fokus untuk memantaskan diri, tidak hanya membuat kamu menjadi seseorang yang lebih baik, namun juga membuat kamu menjadi sosok idaman sebagai pasangan hidup. Dalam dirimu jadi terpancar kepercayaan diri yang dapat menarik hati seseorang. Dua manusia yang jatuh cinta karena takdir lebih mengesankan daripada karena mencari-cari pasangan hidup.

Bersabar dalam memantaskan diri adalah kunci untuk menemukan orang yang tepat. Karena sekali lagi, mengejar jodoh membuat kamu rentan jatuh cinta pada orang yang salah. Biarkan segalanya berjalan secara natural, nikmati saja masa-masa sendirimu dengan bahagia. Diri kamu yang santai, percaya diri dan selalu terlihat positif akan menarik perhatian lawan jenis.

Selesaikan Urusan Dengan Dirimu Sendiri


Ada yang lebih penting daripada sekedar memikirkan apakah jodoh harus ditunggu atau dikejar, yaitu menyesaikan urusan dengan diri sendiri.

“Untuk setiap orang yang merencanakan hidup bersama dengan orang lain, selesaikanlah urusanmu terhadap dirimu sendiri terlebih dahulu.”

– Kurniawan Gunadi


Menyelesaikan urusan dengan diri sendiri paling tidak berarti kita telah selesai dengan tiga hal berikut,

Pertama, selesai dengan masa lalu. Artinya kamu sudah berhasil mengikhlaskan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Termasuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kamu tidak lagi punya dendam dan luka yang masih mengaga karena kejadian menyakitkan yang pernah dialami di masa lalu. Kamu fokus ke masa depanmu, fokus pada bagaimana agar hidupmu kedepannya jauh lebih bahagia, lebih bermakna.

Kedua, selesai dengan impian pribadi. Selesai dengan impian bukan berarti kamu tak boleh lagi punya impian. Ketika sudah mempunyai pasangan, kamu bukan lagi mementingkan dirimu sendiri. Ingin travelling sendirian ke luar kota dan keluar negeri, ingin fokus menyelesaikan pendidikan, mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan skill, melatih kepekaan sosial dengan menjadi volunteer, membeli sesuatu yang telah lama diidamkan dan keinginan lainnya, sebaiknya kamu realisasikan dulu selagi masih sendiri. Karena prioritas hidup kamu akan bergeser setelah kamu memiliki pasangan nanti. Juga, manfaatkanlah masa sendirimu untuk belajar banyak hal, menggali potensi, memaksimalkan kemampuan dengan berprestasi.

Ketiga, selesai dengan ego. Kalau kamu belum bisa mengendalikan emosi, mudah marah, mudah tersinggung atas hal-hal kecil, mudah kecewa dan putus asa pada keadaan, tidak menerima pendapat orang lain,  bisa jadi kamu memang belum selesai dengan dirimu sendiri. Belajarlah untuk bisa mengelola emosimu. Pahamilah dulu dirimu sendiri, karena itu adalah kunci untuk bisa memahami orang lain terutama pasanganmu nanti.

Jadi, sebelum menginginkan jodoh datang, sudahkah kamu memantaskan diri dan selesai dengan dirimu sendiri?

Rekomendasi:

Referensi:
Spain, Kara. ____.  Why You Only Find Love When You Stop Looking For It. [Lifehack]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Cara Terbaik Menyikapi [Bukan Mengatasi] Gangguan Panik

Hampir setiap orang pasti pernah merasakan kepanikan. Dalam proses biologis, tubuh manusia sebenarnya secara normal memberikan respon atas segala pengaruh baik itu dari dalam maupun luar tubuhnya. Mengacu pada proses evolusi, kepanikan juga merupakan salah satu dampak dari bentuk pertahanan diri secara psikologis. Hanya saja, sebagian orang terlahir dengan takaran rasa panik yang lebih besar daripada orang lain, bahkan secara saintifik bisa dibuktikan.

Pada masalah tertentu, bagi orang biasa kebanyakan mungkin dapat dihadapi dengan tidak terlalu panik, tetapi bagi sebagian orang yang paniknya berlebihan bahkan gejala itu bisa dianggap keterlaluan hingga dapat terasa ‘menyerang’ lewat fisik maupun psikisnya. Apakah salah satu dari sebagian orang itu adalah kamu? Kalau memang betul bahwa dari sebagian orang itu salah satunya adalah kamu, jangan berkecil hati.

Kamu hanya perlu tahu bagaimana cara menyikapi panikmu. Tetapi, pertanyaan selanjutnya yang muncul tentu saja “bagaimana cara menyikapi paniknya, sementara sebelum masalah itu diselesaikan malah diambil alih duluan oleh serangan rasa panik?” Kalau begitu, langkah terdekat agar kamu dapat mengenalinya adalah dengan mengetahu apa saja gejalanya, kapan ia biasanya muncul, dan bagaimana cara menyikapinya. Mari kita mulai.

Panik
Gambar. Panik [Pixabay]

Menurut kajian psikolog, serangan rasa panik itu dialami oleh setidaknya satu diantara lima orang di dunia ini dalam hidupnya. Yang terdata, kasus serangan panik itu sudah menimpa lebih dari 65 juta orang di Amerika Serikat saja, belum ditambah dari negara lain. Pada umumnya, gejala serangan panik itu adalah semacam turunan dari rasa takut yang persepsional, dan terlihat dari gejala fisik seperti naiknya jumlah detak jantung, berkeringat, gemetaran, suhu badan panas dingin, pusing, bahkan bisa lebih dari itu. Meski itu adalah bagian gejala umum dari banyak penyakit, ternyata serangan panik bukan dikategorikan sebagai penyakit. Ia hanyalah salah satu bagian yang memancing reaksi fisik akibat mekanisme psikis yang belum terkontrol dengan baik.

Kalau kita bertanya, kapan rasa panik itu muncul? Tentu saja, ada dua kondisi yakni diketahui (expected) dan tidak diketahui (unexpected). Kondisi panik yang diketahui biasanya merujuk pada pengalaman sebelumnya bahwa bila melakukan suatu hal maka dapat menyebabkan panik, misalnya ketika kita ditinggal sendirian di tengah keramaian konser, diminta untuk maju mempresentasikan laporan di depan kelas, atau ketika mengetahui deadline suatu pekerjaan sudah hampir mepet.

Lain lagi dengan kondisi panik yang muncul oleh sebab yang tidak diketahui, biasanya ini yang sangat aneh dan sulit dijelaskan karena dalam kondisi tertentu tetiba merasa panik, entah karena merasa adanya ‘keterbatasan, atau ketidakmampuan’ ketika mengerjakan sesuatu. Nah, kedua kondisi ini biasanya mengakibatkan ekses fisik yang sudah dijelaskan sebelumnya sehingga membuat gejala panik itu justru terasa lebih menyerang diri dibandingkan permasalahan yang muncul itu sendiri.

Menurut psikolog, ada dua respon yang biasanya selalu kita ambil ketika berhadapan dengan rasa panik yaitu dengan cara lawan-atau-lari (fight-or-flight). Ketika kita memilih untuk ‘melawan’ panik, akan sangat terasa membebani psikis dan justru dapat mengakibatkan ekses fisik yang membahayakan. Sementara, bila kita memilih ‘melarikan diri’ dari panik, justru rasa panik itu akan membesar layaknya bola salju yang menggelinding dari ketinggian puncak. Dua cara ternyata itu bukanlah cara yang terbaik untuk menghadapi panik. Lantas apa?

Ternyata cara terbaik adalah dengan ‘menyikapi’ panik itu sendiri. Bagian dari ‘menyikapi’ disini adalah membiasakan diri untuk mengontrol persepsi buruk akan sesuatu yang diperkirakan yang akan terjadi -padahal belum tentu terjadi, sehingga akhirnya dapat mengontrol pula ekses fisik yang dapat memperburuk situasi. Mari jawab dengan jujur, apakah kamu selama ini merasa panik karena memang permasalahan yang dihadapi itu sulit diatasi, atau karena reaksi panik itu sendiri yang membuatnya menjadi terasa lebih buruk? Bisa jadi muncul dari keduanya, tetapi yang seringkali memperburuk situasi adalah ketakutan kita akan rasa panik, bukan karena respon normal kita akan suatu masalah.

Coba pikirkan, anggap saja diri kamu itu sebagai sebuah radar. Sebagai mekanisme pertahanan, radarmu itu selalu menyala dan memberitahu hal apa saja yang menjadi ancaman. Bila radarmu itu melakukan seluruh pemindaian pada segala hal yang mengancam dan tidak mengancam, bukankah itu akan cepat membuat radarmu menjadi rusak? Begitulah keadaan tubuhmu ketika dalam situasi ‘melawan’ (fight) tadi. Tetapi akan berbahaya pula jika kamu tidak menyalakan radarmu, maka kemungkinan adanya hal mengancam akan semakin besar, pun begitulah jika keadaan tubuhmu dalam situasi ‘melarikan diri’ (flight).

Hal terbaik adalah mengalibrasi ulang radarmu, dengan mengetahui dan memplot variabel yang mengancam dan mengabaikan variabel bukan ancaman. Dengan begitu, radarmu akan berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya, itulah ketika tubuhmu dalam situasi ‘menyikapi’ rasa panik yang datang tersebut. 

Perbuatan ‘menyikapi’ rasa panik juga bisa dilakukan dengan afirmasi positif. Ketika kamu sudah tahu bahwa gejala panik mulai menyelimuti pikiran hingga tubuhmu, tekankan pada pikiran bahwa itu adalah reaksi normal dan bisa dikendalikan, terutama bila rasa panik itu muncul berdasarkan pengalaman sebelumnya yang sama persis. Pada dasarnya, kebanyakan yang kita takutkan itu tidak terjadi -sebab kalaupun terjadi, itu sejatinya dimulai dari pikiran kita yang menganggap itu berpotensi terjadi. 

Selain itu, untuk meminimalisasi gejala panik yang membesar, kamu juga bisa mengambil latihan kontrol diri. Ini akan bekerja untuk pekerjaan yang sifatnya expected, seperti contoh mempresentasikan laporan di depan kelas tadi. Cara paling mudahnya, ya latihan berbicara di hadapan orang secara terus-menerus. Lama kelamaan, perasaan nervous yang berujung anxiety tadi bisa berkurang bahkan hilang.

Satu hal lagi yang penting untuk mengurangi pengaruh gejala panik yang besar itu adalah dengan mengadopsi gaya hidup sehat. Untuk kategori gejala panik yang sudah berskala menengah, ada baiknya untuk terus berolahraga dan mengonsumsi panganan yang sehat. Misalnya, mulailah tekuni yoga untuk mengontrol nafas serta detak jantung sehingga efek rasa panik yang mengakibatkan sesak nafas akan sangat turun drastis. Apabila badanmu sehat, bukan tidak mungkin bahwa gejala panik yang mempengaruhi tubuh dapat berkurang secara signifikan. Adapun bila gejala panik tersebut sudah lama dan menahun, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental.

Bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati. Tahukah, hampir sebagian besar dari banyak penyakit dan gangguan pada tubuh berasal dari otak (pikiran, persepsi) dan perut (metabolisme). Oleh karena itu, penting untuk kita ‘menyikapi’ gejala panik lewat pikiran kita sendiri, serta berpola hidup sehat agar segalanya dapat terkendali dengan baik.

Quotes :
“Menghadapi gejala yang tidak normal dengan reaksi ketidaknormalan, adalah sesuatu yang normal”
-Viktor E Frankl, Psikolog

Rekomendasi:

Referensi :
Barlow, D. H. (2002). Anxiety and its disorders: The nature and treatment of anxiety and panic (2nd ed.). New York, NY: Guilford Press
Emamzadeh, Arash. 2018. Managing Panic Attacks: The Technique of Riding the Wave. [psychologytoday]


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, May 25, 2019

Sedih dan Ingin Menangis? Kesedihan Jangan Ditahan!

Setiap orang di dunia ini ingin bahagia, termasuk kamu, kan? Mustahil ada orang yang ingin hal-hal menyedihkan terjadi dalam hidupnya. Tapi nyatanya, kehidupan memang tak selalu membahagiakan, ada saat-saat dimana kamu menghadapi permasalahan hidup yang membuatmu merasa sedih bahkan seringkali sampai menangis. Karena tak ingin diketahui orang lain, mungkin kita sering menahan kesedihan, menahan air mata agar tak jatuh di hadapan orang lain, takut dianggap lemah dan cengeng. Tak jarang kita juga tidak jujur pada diri sendiri, menyangkal perasaan sedih yang kita alami. Merasa malu pada diri sendiri jika menangisi kejadian-kejadian menyedihkan. Hmm.... Apakah menahan kesedihan adalah hal yang baik?

Kesedihan
Gambar. Kesedihan [pixabay]

Menurut penelitian yang dilakukan oleh David Barlow dan Steven Hayes, salah satu penyebab utama dari banyaknya masalah psikologis adalah kebiasaan menahan emosi, salah satunya emosi kesedihan. Kok bisa? Dirangkum dari laman Psych Central, berikut Fenomena Harimu jelaskan mengapa emosi kesedihan tidak boleh ditahan:

#1 Menahan kesedihan berarti menahan bahagia


Menahan kesedihan berarti memaksakan diri selalu merasa baik-baik saja disaat mengalami hal yang menyedihkan. Padahal, kesedihanmu tidak hilang begitu saja hanya karena kamu tidak mengakuinya, loh. Justru, saat kamu menahan perasaan sedih, kemampuan kamu untuk merasakan bahagia juga jadi berkurang. Ketika kamu menemui hal yang menyenangkan, kamu jadi tidak secara secara reflek merasa bahagia. Perasaan bahagiamu jadi tertahan karena kamu sebelumnya mencoba menahan perasaan sedih.

#2 Menahan kesedihan membuat masalah lain muncul


Ketika kamu merasa bisa menangani kesedihan dengan cara menahannya, mungkin kamu akan merasa kuat untuk sementara waktu. Namun, suatu saat perasaan sedih itu akan mencari cara agar terluapkan dari dirimu, ibaratnya ia mencari jalan agar bisa keluar dari dalam dirimu secara paksa, dan mungkin jadi kamu tidak dapat mengatasinya. Perasaan sedih yang tidak selesai akan membuat kamu justru bereaksi berlebihan atas hal-hal yang seharusnya mudah kamu atasi. Misalnya, kamu jadi gampang marah karena hal-hal sepele, lalu sedih dan menangis tanpa sebab.

#3 Menahan kesedihan membuat hal buruk berkembang dan berbahaya


Alih-alih berharap kesedihan akan hilang, hal itu justru berbahaya. Menahan kesedihan memberimu keuntungan jangka pendek yang dibayar dengan rasa sakit jangka panjang. Ketika kamu menghindari emosi kesedihan, kamu layaknya orang yang sedang stres lalu memutuskan untuk meminum minuman keras. Mungkin minuman itu bekerja, tapi esoknya ketika kesedihanmu datang lagi, kamu minum lagi, begitu seterusnya. Bagi pecandu alkohol dan pecandu narkoba, mengindari perasaan menyedihkan atau menyakitkan adalah kebiasaan yang tidak aneh, mereka mencari zat yang dapat menghilangkan rasa sakit mereka secara instan. Pada akhirnya, zat tersebut merusak diri mereka sendiri. Tidak hanya merusak kondisi psikologis, tapi juga psikis mereka. Menahan perasaan menyakitkan akan menimbulkan yang lebih menyakitkan dari perasaan itu sendiri.

4# Menahan kesedihan membuatmu kehilangan hidup


Ya, mengenai emosi, perlu kamu pahami bahwa emosi adalah bagian alami dari pengalaman hidup manusia. Ketika kamu menghindari emosi salah satunya kesedihan, kamu kehilangan sebagian dari apa yang membuat kamu utuh sebagai manusia. Kamu juga seperti membangun tembok di sekeliling, menghalangi kamu berhubungan nyata dengan orang lain. Tiak peduli seberapa banyak dan pedulinya orang-orang disekelilingmu, lama-lama kamu akan cenderung merasa terisolasi dan selalu kesepian.

Ekspresi Kesedihan Mengarah Pada Kekuatan


Entah bagaimana, dalam budaya kita, mengalami kesedihan sering disamakan dengan menjadi lemah tidak tak produktif, seolah-seolah ketika kita merasa sedih selama satu menit itu adalah berbahaya. Mungkin banyak juga dari kita yang berpikir ada yang salah dengan diri kita ketika sedih, kita jadi cemas, merasa konyol karena merasa sedih karena suatu hal yang kecil. Pada akhirnya kita berupaya menyingkirkan kesedihan itu secara paksa, tidak merasa perlu untuk bercerita pada siapa pun.

Sayangnya, memendam kesedihan seorang diri justru akan membuat kesedihan kita itu ‘tumbuh’ dan berubah menjadi depresi. Padahal, Ketika kita mulai merasa nyaman dengan kesedihan kita yang kecil, itu membuat kita akan dapat menangani kesedihan-kesedihan lain yang lebih besar. Jika kita berani mengakui kesedihan kita dengan bercerita kepada orang yang tepat, kesedihan yang kita rasakan akan berkurang meskipun mereka hanya sekadar mendengarkan. Berani jujur pada diri sendiri dan orang lain akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah.

Jadi, mengatasi kesedihan agar tidak berkepanjangan bukan berarti menahannya, ya! Jika kamu sedang sedih, nikmatilah sesaat rasa sedih itu, biarkan ia terluapkan dari dalam dirimu. Jika kamu membutuhkan telinga orang lain untuk didengar, berbagilah kepada seseorang yang kamu percaya.

Cry. Forgive. Learn. Move on. Let your tears water the seeds of your future happiness.

― Steve Maraboli

(Menangis. Memaafkan. Belajar. Berpindah. Biarkan air matamu menyirami benih kebahagiaan masa depanmu.)

Jika dirasa perlu menangis maka menangislah! Biarkan air matamu jatuh membawa pergi kesedihan dari dalam dirimu.

Rekomendasi:

Referensi :
Russell, Candyce Ossefort. 2018. Are You Sad? Express It: You’ll Feel Better (And More Alive). [Medium]
Smith, Kurt. 2019. Why you should express your sadness. [Psychcentral]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, May 18, 2019

Menyesuaikan Diri Terhadap Perubahan

Layaknya sebuah surat yang ditujukan untukmu, saya menuliskan ini untuk diri saya sendiri. Lihat kan, di sekeliling kita banyak sekali perubahan. Boleh jadi, dalam lima tahun terakhir ini banyak sekali perubahan signifikan, seperti contohnya di jalanan hari ini banyak sekali berkeliaran armada ojek online berjaket hijau yang sibuk mengantar penumpang dan mengantar makanan. Perhatikan, lima tahun kebelakang mungkin kita hanya terheran-heran akan fenomena ini lalu mulai biasa beradaptasi dengan itu semua. Segalanya jadi lebih cepat dan mudah, meski di lain sisi kita tidak tahu kalau banyak pula sistem transportasi lain yang terlupakan bahkan tergantikan.

Gedung
Gambar. Gedung [Pixabay]


Itu hanya contoh kecil, diantaranya masih banyak perubahan lain yang sangat mengubah kita. Bisa jadi, tidak sepenuhnya mengubah secara keseluruhan, tetapi pasti ada setiap pembaruan yang terjadi. Sebagai orang yang menatap setiap pembaruan itu, kita selalu bisa beradaptasi dengan baik karena memang begitulah sifat evolutif yang ditawarkan di tiap generasi. Mau tidak mau, orang-orang tua kita pun sekarang mulai belajar mengoperasikan handphone untuk sekadar memesan ojek online yang lebih praktis dibandingkan harus tetap naik transportasi umum yang belum memadai.

Sekarang begini, pernahkah kamu mendengar sebuah pepatah yang mengatakan “orang biasa terbingung-bingung melihat perubahan, sedangkan orang sukses berhasil membuat perubahan” ? Kurang lebih, begitulah kiranya keadaan kita saat ini. Kalau mau berpikir lebih dalam, mungkin kita yang sudah bersekolah tinggi sebenarnya tahu bahwa perubahan besar-besaran akan terjadi lewat prediksi dan fenomena yang membawa ke arah tersebut. Akan tetapi, apakah kita termasuk ke dalam kumpulan orang yang membuat perubahan? Belum tentu, kalau tidak dikatakan hanya sebagai orang yang bisa beradaptasi saja. Kita tentu mesti bertanya, apa sesuatu yang sudah kita perbuat yang akan menuju pada perubahan itu?

Rhenald Kasali, dalam bukunya yang berjudul Disruption, mengatakan bahwa fenomena perubahan yang banyak terjadi di luar sana mestinya memberikan stimulus agar kita dapat melakukan setidaknya tiga langkah besar yang dapat membuat kita ikut membuat perubahan. Apakah kamu mulai tertarik? Mari kita bahas.

Langkah Perubahan Pertama


Yaitu kemampuan membaca sinyal perubahan (signal of change). Hampir setiap perubahan pasti memberi sinyal sebelum terjadi. Ibaratnya pada setiap bencana alam yang akan terjadi, pasti ada tanda-tanda alam yang mengawalinya seperti perubahan cuaca, temperatur, hingga berpindahnya hewan-hewan menuju ke pemukiman penduduk. Dari sana, tentu kita memahami bahwa selalu ada tanda awal yang tidak sepenuhnya dipahami orang lain dan menganggapnya sebagai pengabaian atau justru sebagai musuh yang mengganggu.

Beberapa orang yang memiliki visi ke depan dianggap sebagai orang yang ‘bercanda’ dan berbicara sesuatu yang tidak relevan. Meski bisa jadi benar bahwa sekarang realitasnya belum sempurna terjadi, tapi gejalanya sudah bisa ditangkap bahkan secara tak sadar sedang dijalani. Contohnya adalah gejala industrialisasi E-Sports yang masih dianggap bukan lahan yang menarik untuk dibahas sebagai rencana strategis bangsa dalam debat pemilihan calon presiden beberapa saat lalu. Setelah dikaji, industri penunjang E-Sports seperti industri teknologi informasi dan industri kreatif juga berada di jalur perkembangan yang pesat sehingga saling berkolaborasi menciptakan ‘economy pie’ yang potensinya sangat besar. Bukankah kita menyangka bahwa dulu main game hanya sekadar memuaskan keinginan, sekarang bahkan bisa jadi lahan bisnis yang besar bahkan diperlombakan di ajang olahraga resmi?

Langkah Perubahan Kedua


Yaitu bersiap untuk pertempuran kompetitif (competitive battles). Konteksnya disini tentu saja bertempur dalam segala mekanisme ekonomi yang digunakan, apakah itu berpemahaman ekonomi bebas, ekonomi berbagi, atau justru ekonomi defensif yang menutup diri dari perubahan. Begitupun senjata pertempuran itu sangat bervariasi, dimulai dari eksplorasi SDA, hingga pengembangan SDM, teknologi, dan pemasaran. Yang memahami ini semua tentu saja yang ‘sedang berperang’ yaitu seperti pemilik usaha kecil, perusahaan, hingga konglomerasi baik di tingkat lokal maupun internasional. Semakin kompetitif sebuah persaingan usaha, semakin banyak alternatif kualitas yang dapat dipilih oleh konsumen namun sekaligus dapat mematikan nadi bisnis para pesaing yang tak siap.

Inilah yang disebut oleh Rhenald Kasali sebagai fenomena disruptif, yaitu segala yang tergerus oleh perkembangan sekaligus kompetisi yang memaksa pelakunya untuk terus memikirkan pembaruan demi terjaganya stabilitas bisnis yang dimiliki. Ketika tahun 2000-an awal, kita sebagai pengguna internet sangat awam dengan mesin pencari Yahoo namun tak lama setelahnya tumbang oleh Google hingga saat ini. Dulu mungkin kita kenal dengan aplikasi Vimeo atau Snapchat, lalu setelahnya tumbang karena fiturnya diperbarui dengan sangat baik di Instagram. Begitupun televisi sebagai media mainstream yang menayangkan acara musik seperti MTV sekarang bangkrut dan tergerus oleh layanan musik streaming seperti Spotify. Apakah kita sebagai penggunanya merasakan juga perubahan yang sangat cepat itu? Meski banyak dicontohkan banyak sekali lini bisnis yang tumbang, akan selalu ada yang bisa bertahan, contohnya seperti Kompas-Gramedia yang kehilangan oplah koran dan majalah cetak namun menggantinya dengan media berita online dan bisnis surveyor yaitu Litbang Kompas.

Langkah Perubahan Ketiga


Adalah pemilihan rencana strategis (strategic choices). Pada akhirnya, untuk mempertahankan stabilitas bisnis yang ada tentu perusahaan harus mengambil langkah mempertajam (reshape) atau membuat hal baru (create). Masih ingat kan, ketika Facebook yang menukik tajam pamornya lalu melakukan langkah pintar dengan mengakuisisi Instagram dan Whatsapp? Atau yang belum lama ini terjadi di armada ojek online Uber yang diakuisisi oleh Grab? Begitulah, beberapa langkah seperti akuisisi dan joint-venture menjadi langkah perusahaan untuk berubah sekaligus berakselerasi lebih cepat.

Kalaulah memiliki ide yang orisinal sekaligus potensial, maka langkah create tentu bisa diambil seperti contohnya seperti Kitabisa.com yang benar-benar mengadopsi fenomena crowfunding di luar negeri menjadi media yang sekarang terkenal sebagai media crowfunding sekaligus untuk menyumbang dan berbagi dengan pendekatan kultur dan budaya Indonesia. Tentu saja, langkah strategis untuk membuat hal baru ini akan membutuhkan modal yang besar sekaligus kesiapan SDM yang mumpuni. Salah satu kunci menaklukkannya yaitu kolaborasi. ‘If you can’t beat them, join them’ begitulah kira-kira ungkapan untuk berkolaborasi demi menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dalam persaingan bisnis.

Nah, sekalipun kita sekarang masih menjadi orang yang ‘bingung’ akan banyaknya perubahan sekaligus menjadi yang selalu mencoba beradaptasi, tentu saja suatu saat kita akan menjadi orang yang ikut dalam kompetisi ini, entah sebagai pekerja atau pemilik bisnis. Bisa jadi, kita juga akan menjadi orang yang tergantikan apabila kualitas diri sebagai SDM tidak diperbarui dan ditingkatkan. Boleh jadi, beberapa fenomena masa depan sudah memberi tanda-tanda. Pertanyaan lanjutan tentu akan sampai pada kita semua, siapkah kita untuk selalu memperbarui diri?


“Milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi. Entah bagaimana mereka tahu apa yang kamu benar-benar kamu inginkan.
-Steve Jobs

Rekomendasi:

Referensi :
Kasali, Rhenald. 2017. Disruption. Penerbit Kompas Gramedia : Jakarta.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."