loading...

Saturday, July 13, 2019

Tips Terbaik Gaya Hidup Minimalis

Berbicara tentang gaya hidup, ada yang sedang dielu-elukan dikalangan milennial: gaya hidup minimalis. Katanya, menerapkan gaya hidup minimalis akan membuat manusia jauh lebih bahagia. Memangnya seperti apa sih?

Kalau kamu mengetikkan kata ‘minimalis’ di pencarian google, hasil teratas yang akan banyak kamu temukan adalah tentang konsep desain rumah yang identik dengan warna putih, sedikit barang namun terkesan mahal. Merambah sebagai konsep gaya hidup, minimalis juga masih tentang menyedikitkan barang-barang yang tidak begitu diperlukan. Konsep tersebut menjadi tren seiring dengan larisnya buku berjudul ‘The Life-Changing Magic of Tidying Up’, seni berbenah ala Jepang yang ditulis oleh Marie Kondo.

Gaya Hidup Minimalis
Gambar. Gaya Hidup Minimalis [Pixabay]

Awalnya saya kira, menerapkan gaya hidup minimalis adalah hanya tentang seni berbenah barang seperti yang menjadi fokus pada buku Marie Kondo tersebut. Nyatanya tidak hanya itu, terinspirasi dari serial Podcast Subjective berjudul ‘Hidup Minimalis: 7 Hal Penting Dalam Hidup Yang Perlu Lo Kurangin’ milik Iqbal Hariadi di Spotivy, saya terinspirasi untuk membagikan pengetahuan yang didapat melalui tulisan ini, bahwa gaya hidup minimalis tidak melulu tentang barang, namun tentang banyak hal.

“Jika kamu punya sedikit opsi dalam hal apapun, kamu lebih mudah untuk fokus ke hal yang spesifik yang paling penting.”
– Iqbal Hariadi, penulis dan influencer.


Berikut 7 hal yang dirangkum dari isi podcast tersebut,

#1 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi aplikasi


Hal pertama yang perlu dikurangi dalam menerapkan gaya hidup minimalis ada pada ponsel kita sendiri. Coba hitung, berapa kali kita mengecek ponsel dalam sehari? Berapa lama kita menghabiskan waktu dengan ponselmu? Bahkan, ponsel mungkin menjadi benda yang terakhir kali kita pegang sebelum tidur dan pertama kali kita cari saat bangun tidur. Iya, kan?

Semakin canggih teknologi, ponsel menawarkan media penyimpanan yang semakin besar, ditunjang dengan beragam aplikasi yang bisa diunduh sangat mudah. Hal itu menyebabkan kita kalap mengunduh berbagai aplikasi. Namun, coba cek, apakah semua aplikasi yang ada pada ponsel benar-benar kita gunakan?

Berilah jeda 2 minggu misalnya, jika ada aplikasi yang sama sekali digunakan, hapuslah, sedikitkan pilihan aplikasi. Simpanlah yang hanya benar-benar kita butuhkan dan menunjang aktivitas.

#2 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi notifikasi


Satu ponsel bisa memuat beragam akun media sosial mulai dari Facebook, Instagram, Path, Pinterest, twitter, WhatsApp, Line hingga Youtube. Alih-alih tak mau ketinggalan informasi, kita mengaktifkan notifikasi semua akun tersebut di ponsel. Temanmu mengunggah instagram stories, notifikasi muncul, temanmu menyukai foto yang baru saja kamu unggah, notifikasi muncul dan ponselmu terus berbunyi. Duh, hal itu bisa membuat kamu tidak fokus beraktivitas! Selalu ingin membuka ponsel untuk sekadar mengecek tiap notifikasi. Dalam podcastnya, Iqbal Hariadi menghimbau agar hanya mengaktifkan notifikasi yang sangat penting saja misalnya pada WhatsApp. Selebihnya, matikan. Mengurangi notifikasi berarti kita mengurangi gangguan yang muncul dari ponsel yang sering membuat susah fokus. Mengurangi notifikasi juga berati mengurangi jumlah grup seperti di WhatsApp, Line, Telegram dan lainnya.

#3 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi scroll tanpa tujuan


Pernah tidak sewaktu lagi bosan, kamu membuka instagram, scrolling lini masa dari atas hingga terus kebawah. Tidak terasa tahu-tahu sudah lebih dari 3 jam. Pertama kamu melihat unggahan teman yang sedang liburan di pantai, kedua kamu membaca berita tentang politik, ketiga melihat informasi terbaru tentang artis korea dan begitu seterusnya. Sadar tidak sih, saat itu otak kamu terlalu banyak menerima informasi yang berlainan? Loncat dari hal yang satu ke hal lainnya tanpa jeda. Setelah membaca tulisan ini, tetapkan tujuan sebelum membuka media sosial. Apa informasi yang ingin kamu dapat? Hentikan scrolling setelah informasi itu sudah kamu dapat. Waktumu bisa digunakan untuk melakukan hal lain yang lebih produktif.

#4 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi pakaian


Pertanyaan tentang, “Hari ini mau pakai baju apa ya?” adalah pertanyaan yang cukup memakan waktu, berpikir terlalu lama di depan lemari baju hanya untuk menentukan pilihan, bayangkan kalau kamu melakukannya setiap hari, berapa banyak waktu yang telah kamu habiskan? Tips sederhana dari saya agar tidak perlu berpikir setiap hari, rencanakan untuk seminggu kedepan tentang baju apa yang akan kamu kenakan, mulai dari atasan hingga bawahan. Letakkan di satu tempat secara berurutan.

Dan yang paling penting, sekali waktu sempatkanlah berbenah. Buka lemarimu lalu renungkan apakah semua baju benar-benar masih sering kamu pakai? Jika ada pakaian yang sama sekali tidak dipakai lagi, keluarkan. Baju-baju yang masih layak pakai bisa kamu sumbangkan. Yang tidak layak pakai bisa kamu buang.

#5 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi belanja


Ditengah munculnya berbagai market place yang memudahkan belanja secara online membuat manusia menjadi konsumtif. Memang, terkadang bagi sebagian orang, berbelanja bisa membuat senang. Walaupun rasa senang tersbut hanya dirasakaan sesaat. Terlalu banyak membeli barang-barang juga bisa membuat rumah makin sesak. Kadar kebahagiaan seseorang bisa menurun jika melihat rumah yang penuh dengan barang. Belum lagi, tawaran-tawaran cashback yang menggiurkan setelah gajian. Tips dari Iqbal, kurangilah belanja. Setelah ada pemasukan, langsung alokasikan untuk dana kebaikan misalnya zakat, setelah itu alokasikan untuk membayar hutang jika ada, masukkan ke tabungan dan sisanya baru untuk belanja.

#6 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi komplen


Untuk hal yang satu ini lebih kepada pola pikir. Ibaratnya, hidup hanya ada dua pilihan: 0 atau 1. Setiap kita pasti punya masalah dalam hidup, tapi pilihannya hanya ada dua: komplen atau cari solusi. Contoh sederhananya, misalnya skripsi kamu tidak kelar-kelar, kamu bisa saja menyalahkan dosen yang sulit ditemui dan referensi yang tidak memadai dari kampus. Tapi pilihan ada ditanganmu: terus fokus pada masalah tersebut atau berusaha lebih keras untuk menyelesaikannya. Atau misalnya kamu fresh graduate yang masih menganggur, kamu bisa saja menyalahkan sistem perekrutan di Indonesia yang masih kental dengan praktik nepotisme dan suap, atau kamu memilih untuk berikir lebih kreatif dengan mengambil job freelance, berdagang, mendirikan start up ataupun usaha lainnya.

Pilihan untuk menerapkan gaya hidup minimalis dan lebih bahagia ada ditanganmu, kan? Semoga tulisan ini bisa membantu.

Rekomendasi:

Referensi :
Spotivy. Podcast Subjective. Iqbal Hariadi. 2018. ‘Hidup Minimalis: 7 Hal Penting Dalam Hidup Yang Perlu Lo Kurangin’


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, June 29, 2019

Percaya Diri dan Sombong, Apa Bedanya?

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saya rasa setiap orang sepakat bahwa percaya diri merupakan sikap positif yang sangat penting untuk dimiliki. Termasuk kamu, kan? Percaya diri merupakan modal utama yang akan mengantarkan seseorang mencapai kesuksesan hidup, baik dalam pendidikan, karir maupun bermasyarakat. Berbagai konten mengenai pentingnya sikap percaya diri serta cara untuk meningkatkannya tersebar luas di banyak website, media sosial, juga di buku-buku.

Bahkan, banyak sekali lembaga yang menyelenggarakan seminar dan pelatihan kepercayadirian yang biayanya relatif mahal. Namun terkadang, memiliki sikap percaya diri yang berlebihan justru mengarah kepada sikap sombong. Misalnya dalam berkompetisi, alih-alih meyakinkan diri untuk memenangkan sebuah perlombaan, malah jadi menyepelekan finalis lain, menganggapnya tak ada yang lebih baik dari dirinya.

There is a really great difference between confidence and pride. When you re confident, it s like, I can do this. But when you re proud, it s like Only I can do this.

- Aakanksha Kesarwani


(Ada perbedaan yang sangat besar antara percaya diri dan bangga/sombong. Ketika kamu percaya diri, rasanya seperti, "Saya bisa melakukan ini." Tetapi ketika kamu bangga/sombong, itu seperti "Hanya saya yang bisa melakukan ini.")
Aakanksha Kesarwani

Agar sikap percaya diri tidak kebablasan menjadi sikap sombong, bagaimana ya cara membedakannya? Hmm... Berikut Fenomena Harimu rangkum perbedaan percaya diri dan sombong,

Percaya Diri Atau Sombong
Gambar. Percaya Diri [Pixabay]

#1 Perbedaan dalam Ucapan


Perbedaan paling mendasar dapat dilihat dari cara seseorang dalam berkata. Orang yang sombong berkata kalau Ia paling unggul diantara yang lain, dalam artian berkata kalau orang lain lebih rendah darinya, entah status sosialnya, entah kemampuannya, entah ilmunya. Semua yang ada pada diri orang lain dibilang tak jauh lebih baik daripada apa yang ada pada dirinya. Biasanya, sebenarnya sikap sombong tersebut justru hanya untuk menutupi perasaan rendah diri mereka saat berhadapan dengan orang lain. Mereka gemar mengkritik orang lain bahkan didepan umum. Mereka merasa lebih baik kalau mereka bebicara dengan nada merendahkan. Sedangkan orang yang percaya diri tidak ingin menyinggung perasaan orang lain termasuk merendahkannya melalui ucapan. Mereka justru bisa melihat bahwa potensi yang ada pada orang lain dan membantu mereka dalam mengembangkannya.

#2 Perbedaan dalam Sikap


Sikap orang percaya diri dan orang sombong tentu berbeda. Orang sombong menganggap Ia selalu lebih baik. Biasanya tercermin dari sikapnya yang tak mau mendengarkan orang lain, termasuk menerima masukan dan kritik. Kalau menemui kesulitan atau keadaan yang tidak diinginkan, mereka mudah menyalakan orang lain, bukannya introspeksi diri. Orang percaya diri tidak begitu, Ia mungkin mengkritik dan memberi masukan tapi dengan bahasa yang tidak menyakiti, tidak juga didepan umum. Mereka menganggap bahwa orang lain sama baiknya dengan dirinya. Ketika berbuat salah, mereka tak sungkan untuk meminta maaf. Melakukan kesalahan bukanlah hal yang memalukan bagi mereka.

#3 Perbedaan dalam Memandang Diri Sendiri


Selain memiliki kelebihan, setiap orang memiliki kekurangan, bukan? Namun yang terpenting adalah bagaimana cara seseorang mengatasi kekurangan tersebut. Nah, bagi yang sombong, jangankan mengatasi kekurangan, mengakui kekurangannya pun mereka tidak mau. Mereka cenderung keras kepala, merasa bahwa mereka sempurna tanpa cela. Sedangkan bagi yang percaya diri, kekurangan bukanlah sesuatu yang harus ditutupi. Mereka lebih fokus ke bagaimana cara mereka mengatasi kekurangan tersebut. Mereka tak mudah dipatahkan semangatnya, bukan karena sombong tapi karena merasa nyaman dengan diri sendiri.

#4 Perbedaan dalam Berkomunikasi


Kalau kamu mengobrol dengan orang yang memiliki sikap sombong, mereka biasanya akan mengoceh tentang dengan siapa mereka berteman, orang-orang hebat yang mereka kenal, keunggulan-keunggulan mereka bahkan ketika kamu tidak bertanya. Mereka melakukannya bukan untuk memotivasi dan berbagi pengalaman, tapi untuk menunjukkan pada orang lain kalau mereka yang terhebat dan selalu bisa dibanggakan. Sikap sombong membuatnya selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan, padahal mungkin ilmunya kurang, namun gengsi. Sedangkan sikap percaya diri membuat seseorang tidak perlu malu jika memang tak bisa selalu menjawab semua pertanyaan. Ada kalanya ilmu mereka memang belum cukup untuk menjawab suatu pertanyaan.

#5 Perbedaan dalam Bermasyarakat


Merasa malas tidak sih kalau berhadapan dengan orang sombong? Dicaci maki, disalahkan, direndahkan, dipandang sebelah mata tidak enak bukan? Berhubungan dengan mereka berpotensi membuat kita sakit hati. Mereka cenderung hanya mementingkan diri sendiri. Biasanya orang-orang jadi enggan berhubungan dengannya, Ia bisa kehilangan kesetiaan dari timnya.

Sementara itu, orang-orang akan senang berhubungan dengan orang yang percaya diri. Aura positif mereka terpancar dari caranya berbicara, bersikap dan bermasyarakat. Karena menghargai orang lain, orang lain juga lebih menghargai mereka. Sikap percaya diri membuat seseorang tidak akan mengorbankan hubungan pertemanan dan persaudaraan hanya untuk membuat mereka sukses.

#6 Perbedaan dalam Kontak Mata


Dalam berkomunikasi secara langsung, kontak mata adalah hal penting. Sikap percaya diri membuat seseorang melakukan kontak mata dengan lawan bicara, kamu akan dibuat seolah-olah pembicaraan kamu begitu penting dan didengar. Biarpun saat itu kamu tak hanya sedang berdua dengannya. Sedangkan, orang yang sombong cenderung tak melakukan kontak mata pada lawan bicara, ia lebih sering melihat ke arah yang lain, bukan padamu. Kamu jadi merasa tak dihargai jika berbicara dengan mereka, merasa tak didengar karena tatapan mata mereka kemana-mana, tidak fokus pada lawan bicaranya, bahkan seringkali memotong pembicaraan.

Adanya perbedaan antara sikap sombong dan percaya diri berasal dari sesuatu yang menjadi akar dari sikap tersebut. Kesombongan seperti mekanisme pertahanan yang ada pada pikiran alam bawah sadar seseorang agar tak dikritik. Sedangkan kepercayadirian berasal dari optimisme dan mental yang sehat, bukan karena takut dikritik, tapi karena mereka memang berpikiran positif. Kalau menurutmu, apalagi yang membedakan sikap sombong dan percaya diri?

Perlu kamu ingat bahwa tulisan ini tak bertujuan untuk menghakimi orang lain apakah Ia percaya diri atau sombong. Tapi, tulisan ini untuk mengoreksi diri kita sendiri, menjadi bahan evaluasi untuk kita agar tidak memiliki sikap percaya diri berlebihan yang telah kelewat batas menjadi sikap sombong

Rekomendasi:

Referensi :
Houston, Jennifer. 2014. Ways to Tell the Difference Between Being Arrogant and Being Confident. [womanitely]
Gallo, Carmine. 2010. 10 ways to tell if you’re confident — or arrogant. [theladders]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, June 8, 2019

Mengenal Tes Kepribadian MBTI, Seberapa Akuratkah?

Pernahkah kamu menemukan kata-kata seperti ‘I’m an ENTJ’, ‘I’m an ISFP personality type’, atau sekedar huruf seperti ‘ESTP’ ‘INTJ dan semacamnya di bio instagram temanmu? Atau barangkali yang tertera di media sosial lainnya. Mungkin sebagian besar dari kamu sudah tahu kalau akronim tersebut merupakan singkatan dari tipe kepribadian, yang artinya menunjukkan kalau pemilik akun adalah seseorang yang memiliki kepribadian berupa tipe tersebut. Mereka tahu tipe kebribadian setelah mengikuti tes psikologi bernama MBTI. Hmm... apa ya arti dari akronim-akronim tersebut dan untuk apa mereka mengikuti tes MBTI?

Gambar. Kepribadian [Pixabay]

MBTI (Myers Briggs Type Indicator) adalah tes psikologi kepribadian yang hingga kini banyak dipakai oleh organisasi atau perusahaan di dunia, loh. Tes yang berupa kuisioner ini dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan putrinya Isabel Briggs Myers. Mereka mengacu pada teori kepribadian berupa konsep introversi dan ekstroversi yang digagas oleh Carl Jung, Bapak Psikologi Analitik. Pada 1920-an Myers dan Briggs mengembangkannya dengan menggunakan akronim empat huruf dalam mengelompokkan kepribadian seseorang.

Untuk Apa Ikut Tes MBTI dan Seberapa Akuratkah?


Tuhan telah menciptakan manusia di dunia ini dengan kepribadian yang berbeda-beda. Coba perhatikan orang-orang disekelilingmu, jangankan antara kamu dan temanmu, kepribadian diantara saudara kandung bahkan saudara kembar pun bisa jadi berbeda. Namun, alih-alih mencoba memahami kepribadian orang lain, sudahkah kamu memahami kepribadian dirimu sendiri? Ya minimal kamu tidak bingung saat mendeskripsikan diri sendiri.

Lebih dari itu, kepribadian adalah salah satu faktor yang memandu tindakan seseorang. Kalau kamu paham kelebihanmu, kamu bisa menggali dan memaksimalkannya untuk berperan dalam masyarakat sesuai dengan bidangmu. Kamu bisa lebih bijaksana dalam bertindak dan jika paham apa kekurangan jadi tahu bagaimana cara mengatasinya. Pada intinya, tes MBTI bertujuan untuk membantumu belajar lebih banyak tentang dirimu. Pemahaman yang mendalam tentang dirimu sendiri akan membuatmu lebih mudah memahami orang lain.

Knowing others is intelligence;
 knowing yourself is true wisdom.
 Mastering others is strength;
 mastering yourself is true power.

– Lao Tzu
Mengenal orang lain adalah kecerdasan;
mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati.
Menguasai orang lain adalah kekuatan;
menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati.

Menurut laman 16Personalities yang menyediakan tes MBTI, tes ini bukanlah pedoman atau jawaban akurat dan pasti, melainkan hanya menggambarkan sebuah kecenderungan. MBTI menggambarkan bagaimana seseorang dengan kepribadian tertentu memengaruhi caranya dalam bertindak. Saat kamu membaca satu demi satu indikator kepribadian yang disebutkan sesuai dengan hasil tes, kamu mungkin tidak akan selalu bilang, “Wah, ini saya banget!”

Perbedaan yang signifikan bahkan bisa terjadi pada orang-orang yang punya tipe kepribadian sama. Namun ketika tes ini banyak digunakan dibanyak negera bahkan untuk keperluan organisasi dan perushaan, kenapa tidak mencobanya? Fenomena Harimu merekomendasikan kamu untuk mengikuti tes di laman 16personalities[dot]com jika kamu berminat mencobanya.

Aspek Kepribadian MBTI


Berikut kami rangkum penjelasan dari aspek-aspek kepribadian tes MBTI:

#1 Aspek Pikiran: Ekstrovert (E) – Introvert (I)

Ekstoversi dan introversi adalah gagasan tertua dalam sejarah teori kepribadian, aspek ini menunjukkan bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan.

Seseorang yang introvert lebih menyukai aktivitas yang soliter (secara sendiri atau sepasang-sepasang, tidak secara kelompok). Seorang introvert cenderung mengandalkan dirinya sendiri serta menikmati kesunyian dan keheningan sebagai cara untuk menyegarkan pikirannya. karena Fokus mereka terletak di dalam drinya sendiri.  Mereka sensitif terhadap stimulus dari luar seperti penglihatan, pendengaran dan penciuman yang membuat mereka menghabiskan waktu sendirian untuk kembali bisa bersemangat.

Sedangkan ekstrovert lebih suka kegiatan-kegiatan secara berkelompok, karena semangat mereka didapat dari interaksi dengan orang lain. Pikiran mereka akan kembali segar apabila mereka menghabiskan banyak waktu untuk berinteraksi dengan banyak orang. Fokus mereka terletak diluar dirinya. Karena mereka tidak sensitif terhadap stimulus dari luar, mereka cenderung mencari stimulus lain dengan cara menghabiskan banyak waktu untuk berkegiatan dan mengobrol.

#2 Aspek Energi: Intuitive (N) – Observant (S)

Bagaimana cara seseorang melihat dunia dan memposes informasi dari sekitar ditunjukkan dalam aspek ini.

Seorang yang intuitive sangat imajinatif, lebih tertarik pada ide dan hal-hal baru. Mereka seringkali menanyakan tentang kesan dari apa yang mereka alami dan lakukan. Mereka senang memikirkan kemungkinan-kemungkinan , membayangkan masa depan dan hal-hal yang abstrak.

Seseorang dengan aspek observant (dalam istilah lain disebut sensing) cenderung pragmatis, lebih tertarik pada fakta dan hal-hal praktis yang dapat diamati. Mereka fokus pada kenyataan yang sedang terjadi atau pada apa yang mereka pelajari dari panca indera mereka di masa lalu. Tidak seperti seorang intuitive, seorang observant lebih baik berurusan dengan objek konkret yang telah dicoba dan diuji daripada kemungkinan akan hal-hal yang abstrak.

#3 Aspek Alam: Thinking (T) – Feeling (F)

Aspek alam menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan dan mengatasi emosi. Dalam membuat keputusan, individu thinking lebih memprioritaskan logika dan argumen rasional. Mereka lebih mengandalkan kepala daripada hati dan menekankan efisiensi daripada kerja sama. Dalam mengatasi emosi mereka cenderung mengesampingkan perasaan dan mempunyai motto, “Apapun yang terjadi, kamu harus bersikap tenang,” Kesuksesan profesional lebih penting daripada prinsip dan cita-cita.

Sedangkan aspek feeling membuat seseorang lebih mengikuti kata hati. Mereka lebih suka bekerja sama daripada bersaing. Mereka berpandangan kalau seharusnya tak takut untuk mendengarkan perasaan yang terdalam dan membagikannya pada dunia. Mereka berjuang mati-matian mempertahankan apa yang diyakini, karena itu prinsip lebih penting bagi mereka.

#4 Aspek Taktik: Judging (J) – Prospecting (P)

Aspek ini menunjukkan bagaimana kita memandang perencanaan dan opsi yang tersedia. Individu judging sangat teliti dan terorganisir. Mereka lebih suka semuanya berjalan sesuai rencana, tidak terbuka pada tantangan dan opsi tak terduga. Mereka lebih menyukai struktur dan perencaan daripada spontanitas.

Sebaliknya, individu prospecting lebih santai dan fleksibel terhadap tantangan yang tak terduga. Mereka pandai berimprovisasi, bersedia ‘melompat’ ke opsi lain yang tidak ada dalam daftar rencana. Mereka sadar bahwa hidup penuh dengan kemungkinan-kemungkinan lain.

Umumnya, tes-tes MBTI hanya mengidentifikasi 4 aspek, namun dalam 16personalities, ada aspek tambahan berupa aspek identitas.

#5 Aspek Identitas: Assertive (-A) – Turbulent (-T)

Aspek ini menopang keempat aspek lainnya diatas, menunjukkan seberapa percaya dirikah seseorang pada kemampuan dan keputusannya. Seseorang yang assertive adalah individu yang percaya diri dan tahan terhadap stres, mereka tak mau terlalu khawatir juga tak memaksakan diri sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Menurut mereka, apa yang dilakukan ya sudah dilakukan, tak ada gunanya untuk menganalisis. Mereka cnderung merasa puas dengan hidup mereka.

Sedangkan seseorang yang turbulent sadar diri dan peka terhadap stres. Mereka cenderung perfeksionis dan sangat bersemangat untuk terus meningkat. Mereka bersedia untuk berganti pekerjaan jika merasa terjebak dalam pekerjaan saat ini, mereka meluangkan waktu untuk berpikir menegani arah kehidupan mereka selanjutnya.

Dalam MBTI, kamu akan diidentifikasi bahwa dirimu memiliki satu dari 16 jenis kepribadian. Namun tidak ada kepribadian yang ‘terbaik’ atau ‘lebih baik’ daripada yang lainnya. MBTI tak dirancang untuk itu. Ingatlah bahwa MBTI bertujuan membantu agar kamu belajar banyak tentang dirimu sendiri, bukan untuk membandingkan satu dengan yang lainnya.

Referensi
[16personalities]
Cherry, Kendra. 2019. An Overview of the Myers-Briggs Type Indicator. [verywellmind]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Monday, June 3, 2019

Jodoh, Ditunggu Atau Dikejar?

Tidak terasa, Hari Raya Idul Fitri 1440 H tinggal menghitung hari. Berbagai tradisi seperti mudik, memakai baju baru, makan ketupat hingga bagi-bagi THR menjadi khas tersendiri saat lebaran. Sampai-sampai, pertanyaan ‘kapan menikah’ juga seolah menjadi tradisi karena sering sekali terlontar khususnya pada momen berkumpul di hari lebaran. Mereka yang masih lajang, baik laki-laki maupun perempuan mungkin merasa kikuk juga mendapat pertanyaan semacam itu, datang dari orang tua, keluarga besar, teman-teman yang sudah lama tak berjumpa hingga tetangga rumah. Bagi kamu yang lajang, sudah siapkah menanggapi pertanyaan semacam itu?

Jodoh
Gambar. Jodoh [Pixabay]

“Santai saja, toh jodoh kan sudah diatur oleh Tuhan,” Hmm... alih-alih berkata bahwa Tuhan telah mengatur segalanya termasuk jodohmu, apakah datangnya jodoh cukup ditunggu saja?

Menunggu Jodoh Bukan Berarti Berdiam Diri


Jodoh memang telah diatur oleh Tuhan. Mungkin kamu pernah mendengar bahwa jodoh akan datang diwaktu yang tepat, kadang kedatangannya dengan cara unik yang tak disangka-sangka oleh manusia. Namun, bukan berarti kita hanya menunggu kedatangannya dengan berdiam diri. Logikanya, kalau ada seseorang yang malas-malasan, menunggu dengan berdiam diri saja dirumah berharap jodoh akan mengetuk pintu rumah dengan sendirinya, apakah mungkin? Mungkin saja jika memang orang tuanya berinisiatif menjodohkan anaknya. Namun tak semua orang tua punya melakukannya. Segalanya memang telah diatur oleh Tuhan, namun sebagai manusia kita tetap wajib berupaya semaksimal mungkin.

Terlalu Mengejar Jodoh Membuatmu Tidak Objektif


Kalau menunggu bukanlah solusi, apakah sebaiknya kita mengejar jodoh? Hmm... sebagai makhluk sosial pada dasarnya kodrat manusia memang membutuhkan orang lain, salah satunya yaitu kebutuhan untuk membersamai dan dibersamai oleh pasangan hidup. Menurut penulis, kebutuhan tersebut sebenarnya tidak serta merta membuat seseorang tergesa-gesa ingin bertemu jodohnya, namun di era digital sekarang ini, kita mudah sekali terprovokasi oleh postingan-postingan di media sosial seperti foto-foto penikahan dan seruan tentang jodoh. Akibatnya kita jadi merasa seperti dikejar-kejar ‘deadline’ untuk segera mengakhiri masa-masa sendiri.

Dikutip dari laman Life Hack, mengejar jodoh bisa mengurangi kemampuanmu dalam bersikap objektif tentang orang yang kamu temui. Jika objektifitas berkurang, kamu jadi tidak bisa membedakan siapa orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupmu. Karena kamu terlalu ‘ngoyo’ mencari jodoh, kamu jadi terlalu mudah berasumsi bahwa kalau ada seseorang yang bersikap baik dan mengistimewakanmu adalah jodohmu.

Asumsi itu muncul bukan karena kamu merasa benar-benar serasi dengannya, tapi karena kamu memang mendambakan sosok jodoh, siapa pun yang datang ya kamu anggap berjodoh denganmu. Maka lahirlah istilah bahwa ‘cinta itu buta’, karena mengejar jodoh dapat membuat kita tidak bisa menilai secara sehat tentang orang lain. Keburukan perangai dianggap wajar, Segala perbedaan dimaklumi. Sehingga tak jarang berujung pada ketidakharmonisan hubungan dalam jangka waktu yang lama. Semakin besar harapan kepada orang yang kita inginkan sebagai jodoh, semakin besar risiko kekecewaan yang akan dihadapi ketika kamu merasa tak semuanya sesuai harapan.

Bukan Menunggu, Bukan Juga Mengejar


Seringkali, jodoh justru datang ketika seseorang tidak menunggu juga tidak mengejar. Saat kamu tidak mencari seseorang untuk dicintai, saat itulah seseorang cenderung hadir. Kok bisa? Ketika kamu fokus untuk memantaskan diri, tidak hanya membuat kamu menjadi seseorang yang lebih baik, namun juga membuat kamu menjadi sosok idaman sebagai pasangan hidup. Dalam dirimu jadi terpancar kepercayaan diri yang dapat menarik hati seseorang. Dua manusia yang jatuh cinta karena takdir lebih mengesankan daripada karena mencari-cari pasangan hidup.

Bersabar dalam memantaskan diri adalah kunci untuk menemukan orang yang tepat. Karena sekali lagi, mengejar jodoh membuat kamu rentan jatuh cinta pada orang yang salah. Biarkan segalanya berjalan secara natural, nikmati saja masa-masa sendirimu dengan bahagia. Diri kamu yang santai, percaya diri dan selalu terlihat positif akan menarik perhatian lawan jenis.

Selesaikan Urusan Dengan Dirimu Sendiri


Ada yang lebih penting daripada sekedar memikirkan apakah jodoh harus ditunggu atau dikejar, yaitu menyesaikan urusan dengan diri sendiri.

“Untuk setiap orang yang merencanakan hidup bersama dengan orang lain, selesaikanlah urusanmu terhadap dirimu sendiri terlebih dahulu.”

– Kurniawan Gunadi


Menyelesaikan urusan dengan diri sendiri paling tidak berarti kita telah selesai dengan tiga hal berikut,

Pertama, selesai dengan masa lalu. Artinya kamu sudah berhasil mengikhlaskan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Termasuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kamu tidak lagi punya dendam dan luka yang masih mengaga karena kejadian menyakitkan yang pernah dialami di masa lalu. Kamu fokus ke masa depanmu, fokus pada bagaimana agar hidupmu kedepannya jauh lebih bahagia, lebih bermakna.

Kedua, selesai dengan impian pribadi. Selesai dengan impian bukan berarti kamu tak boleh lagi punya impian. Ketika sudah mempunyai pasangan, kamu bukan lagi mementingkan dirimu sendiri. Ingin travelling sendirian ke luar kota dan keluar negeri, ingin fokus menyelesaikan pendidikan, mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan skill, melatih kepekaan sosial dengan menjadi volunteer, membeli sesuatu yang telah lama diidamkan dan keinginan lainnya, sebaiknya kamu realisasikan dulu selagi masih sendiri. Karena prioritas hidup kamu akan bergeser setelah kamu memiliki pasangan nanti. Juga, manfaatkanlah masa sendirimu untuk belajar banyak hal, menggali potensi, memaksimalkan kemampuan dengan berprestasi.

Ketiga, selesai dengan ego. Kalau kamu belum bisa mengendalikan emosi, mudah marah, mudah tersinggung atas hal-hal kecil, mudah kecewa dan putus asa pada keadaan, tidak menerima pendapat orang lain,  bisa jadi kamu memang belum selesai dengan dirimu sendiri. Belajarlah untuk bisa mengelola emosimu. Pahamilah dulu dirimu sendiri, karena itu adalah kunci untuk bisa memahami orang lain terutama pasanganmu nanti.

Jadi, sebelum menginginkan jodoh datang, sudahkah kamu memantaskan diri dan selesai dengan dirimu sendiri?

Rekomendasi:

Referensi:
Spain, Kara. ____.  Why You Only Find Love When You Stop Looking For It. [Lifehack]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Cara Terbaik Menyikapi [Bukan Mengatasi] Gangguan Panik

Hampir setiap orang pasti pernah merasakan kepanikan. Dalam proses biologis, tubuh manusia sebenarnya secara normal memberikan respon atas segala pengaruh baik itu dari dalam maupun luar tubuhnya. Mengacu pada proses evolusi, kepanikan juga merupakan salah satu dampak dari bentuk pertahanan diri secara psikologis. Hanya saja, sebagian orang terlahir dengan takaran rasa panik yang lebih besar daripada orang lain, bahkan secara saintifik bisa dibuktikan.

Pada masalah tertentu, bagi orang biasa kebanyakan mungkin dapat dihadapi dengan tidak terlalu panik, tetapi bagi sebagian orang yang paniknya berlebihan bahkan gejala itu bisa dianggap keterlaluan hingga dapat terasa ‘menyerang’ lewat fisik maupun psikisnya. Apakah salah satu dari sebagian orang itu adalah kamu? Kalau memang betul bahwa dari sebagian orang itu salah satunya adalah kamu, jangan berkecil hati.

Kamu hanya perlu tahu bagaimana cara menyikapi panikmu. Tetapi, pertanyaan selanjutnya yang muncul tentu saja “bagaimana cara menyikapi paniknya, sementara sebelum masalah itu diselesaikan malah diambil alih duluan oleh serangan rasa panik?” Kalau begitu, langkah terdekat agar kamu dapat mengenalinya adalah dengan mengetahu apa saja gejalanya, kapan ia biasanya muncul, dan bagaimana cara menyikapinya. Mari kita mulai.

Panik
Gambar. Panik [Pixabay]

Menurut kajian psikolog, serangan rasa panik itu dialami oleh setidaknya satu diantara lima orang di dunia ini dalam hidupnya. Yang terdata, kasus serangan panik itu sudah menimpa lebih dari 65 juta orang di Amerika Serikat saja, belum ditambah dari negara lain. Pada umumnya, gejala serangan panik itu adalah semacam turunan dari rasa takut yang persepsional, dan terlihat dari gejala fisik seperti naiknya jumlah detak jantung, berkeringat, gemetaran, suhu badan panas dingin, pusing, bahkan bisa lebih dari itu. Meski itu adalah bagian gejala umum dari banyak penyakit, ternyata serangan panik bukan dikategorikan sebagai penyakit. Ia hanyalah salah satu bagian yang memancing reaksi fisik akibat mekanisme psikis yang belum terkontrol dengan baik.

Kalau kita bertanya, kapan rasa panik itu muncul? Tentu saja, ada dua kondisi yakni diketahui (expected) dan tidak diketahui (unexpected). Kondisi panik yang diketahui biasanya merujuk pada pengalaman sebelumnya bahwa bila melakukan suatu hal maka dapat menyebabkan panik, misalnya ketika kita ditinggal sendirian di tengah keramaian konser, diminta untuk maju mempresentasikan laporan di depan kelas, atau ketika mengetahui deadline suatu pekerjaan sudah hampir mepet.

Lain lagi dengan kondisi panik yang muncul oleh sebab yang tidak diketahui, biasanya ini yang sangat aneh dan sulit dijelaskan karena dalam kondisi tertentu tetiba merasa panik, entah karena merasa adanya ‘keterbatasan, atau ketidakmampuan’ ketika mengerjakan sesuatu. Nah, kedua kondisi ini biasanya mengakibatkan ekses fisik yang sudah dijelaskan sebelumnya sehingga membuat gejala panik itu justru terasa lebih menyerang diri dibandingkan permasalahan yang muncul itu sendiri.

Menurut psikolog, ada dua respon yang biasanya selalu kita ambil ketika berhadapan dengan rasa panik yaitu dengan cara lawan-atau-lari (fight-or-flight). Ketika kita memilih untuk ‘melawan’ panik, akan sangat terasa membebani psikis dan justru dapat mengakibatkan ekses fisik yang membahayakan. Sementara, bila kita memilih ‘melarikan diri’ dari panik, justru rasa panik itu akan membesar layaknya bola salju yang menggelinding dari ketinggian puncak. Dua cara ternyata itu bukanlah cara yang terbaik untuk menghadapi panik. Lantas apa?

Ternyata cara terbaik adalah dengan ‘menyikapi’ panik itu sendiri. Bagian dari ‘menyikapi’ disini adalah membiasakan diri untuk mengontrol persepsi buruk akan sesuatu yang diperkirakan yang akan terjadi -padahal belum tentu terjadi, sehingga akhirnya dapat mengontrol pula ekses fisik yang dapat memperburuk situasi. Mari jawab dengan jujur, apakah kamu selama ini merasa panik karena memang permasalahan yang dihadapi itu sulit diatasi, atau karena reaksi panik itu sendiri yang membuatnya menjadi terasa lebih buruk? Bisa jadi muncul dari keduanya, tetapi yang seringkali memperburuk situasi adalah ketakutan kita akan rasa panik, bukan karena respon normal kita akan suatu masalah.

Coba pikirkan, anggap saja diri kamu itu sebagai sebuah radar. Sebagai mekanisme pertahanan, radarmu itu selalu menyala dan memberitahu hal apa saja yang menjadi ancaman. Bila radarmu itu melakukan seluruh pemindaian pada segala hal yang mengancam dan tidak mengancam, bukankah itu akan cepat membuat radarmu menjadi rusak? Begitulah keadaan tubuhmu ketika dalam situasi ‘melawan’ (fight) tadi. Tetapi akan berbahaya pula jika kamu tidak menyalakan radarmu, maka kemungkinan adanya hal mengancam akan semakin besar, pun begitulah jika keadaan tubuhmu dalam situasi ‘melarikan diri’ (flight).

Hal terbaik adalah mengalibrasi ulang radarmu, dengan mengetahui dan memplot variabel yang mengancam dan mengabaikan variabel bukan ancaman. Dengan begitu, radarmu akan berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya, itulah ketika tubuhmu dalam situasi ‘menyikapi’ rasa panik yang datang tersebut. 

Perbuatan ‘menyikapi’ rasa panik juga bisa dilakukan dengan afirmasi positif. Ketika kamu sudah tahu bahwa gejala panik mulai menyelimuti pikiran hingga tubuhmu, tekankan pada pikiran bahwa itu adalah reaksi normal dan bisa dikendalikan, terutama bila rasa panik itu muncul berdasarkan pengalaman sebelumnya yang sama persis. Pada dasarnya, kebanyakan yang kita takutkan itu tidak terjadi -sebab kalaupun terjadi, itu sejatinya dimulai dari pikiran kita yang menganggap itu berpotensi terjadi. 

Selain itu, untuk meminimalisasi gejala panik yang membesar, kamu juga bisa mengambil latihan kontrol diri. Ini akan bekerja untuk pekerjaan yang sifatnya expected, seperti contoh mempresentasikan laporan di depan kelas tadi. Cara paling mudahnya, ya latihan berbicara di hadapan orang secara terus-menerus. Lama kelamaan, perasaan nervous yang berujung anxiety tadi bisa berkurang bahkan hilang.

Satu hal lagi yang penting untuk mengurangi pengaruh gejala panik yang besar itu adalah dengan mengadopsi gaya hidup sehat. Untuk kategori gejala panik yang sudah berskala menengah, ada baiknya untuk terus berolahraga dan mengonsumsi panganan yang sehat. Misalnya, mulailah tekuni yoga untuk mengontrol nafas serta detak jantung sehingga efek rasa panik yang mengakibatkan sesak nafas akan sangat turun drastis. Apabila badanmu sehat, bukan tidak mungkin bahwa gejala panik yang mempengaruhi tubuh dapat berkurang secara signifikan. Adapun bila gejala panik tersebut sudah lama dan menahun, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental.

Bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati. Tahukah, hampir sebagian besar dari banyak penyakit dan gangguan pada tubuh berasal dari otak (pikiran, persepsi) dan perut (metabolisme). Oleh karena itu, penting untuk kita ‘menyikapi’ gejala panik lewat pikiran kita sendiri, serta berpola hidup sehat agar segalanya dapat terkendali dengan baik.

Quotes :
“Menghadapi gejala yang tidak normal dengan reaksi ketidaknormalan, adalah sesuatu yang normal”
-Viktor E Frankl, Psikolog

Rekomendasi:

Referensi :
Barlow, D. H. (2002). Anxiety and its disorders: The nature and treatment of anxiety and panic (2nd ed.). New York, NY: Guilford Press
Emamzadeh, Arash. 2018. Managing Panic Attacks: The Technique of Riding the Wave. [psychologytoday]


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."