loading...

Saturday, April 13, 2019

Bagaimana Mencapai Kemudahan Kerja Dengan Kerja Cerdas?

Kalau kamu sekarang berposisi sebagai generasi Z yang gemar sekali berjargon “bekerjalah lebih cerdas”, percayalah kalau itu semua merupakan warisan paradigma masyarakat dunia yang terus berkembang. Memang, pada generasi X bahkan generasi milenial sekalipun sangat akrab dengan pekerjaan yang menuntut kerja keras, seperti menjadi petani, nelayan, hingga karyawan pabrik. Pemikiran mereka memang cenderung diwarnai oleh pengaruh persona fisik, semakin kuat fisikmu maka itu akan menunjang kerja kerasmu. Memang itu tidak salah, tetapi relevansinya agak mulai berkurang popularitasnya semenjak memasuki milenium kedua terutama sejak dimulainya abad internet.

Kerja Cerdas
Gambar. Kerja Cerdas [Pixabay]


Sekarang banyak orang berbicara bagaimana caranya untuk terus bekerja cerdas, sebab kita sudah diwarisi kemajuan luar biasa, terutama di bidang teknologi yang sudah begitu efisien. Barangkali melakukan pekerjaan yang dulunya membutuhkan tenaga dan waktu seperti mencari referensi dan intisari dari sebuah buku, kini hanya bermodalkan ongkang kaki dan sedikit gerakan jari lewat Google untuk mendapatkan hasil yang sama, dengan harga yang lebih murah dan terselesaikan dalam waktu yang sangat cepat. Apakah itu dapat dikatakan sebagai bekerja cerdas?

Menurut kami, mungkin seharusnya tidak, karena yang dimaksud dengan cerdas disini sebenarnya mengacu pada apakah ada sesuatu yang memicu perkembangan dari cara kita berpikir dan meramu solusi dari permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Teknologi tinggi tentu sangat membantu, tetapi pikiran kitalah yang semestinya semakin cerdas.

Kalaulah mengerjakan hal keren seperti misalnya merakit drone dengan bantuan informasi dari internet di hari ini, rasanya mungkin cenderung biasa saja. Tetapi, seseorang yang berada pada tahun 225 SM yang sudah mampu menciptakan teknologi rantai untuk membantu pekerjaannya, maka bisa dikatakan dia adalah seseorang yang bekerja cerdas. Lalu, apa parameter yang dapat dibandingkan dari bekerja keras dan bekerja cerdas? Tentu saja, ada dua hal yang berbeda yakni kemampuan fisik dan satunya lagi kecerdasan pikiran. Dari sini, apakah sesungguhnya kedua hal ini patut dipertentangkan?

Tai Lopez, seorang pebisnis digital, dalam interviewnya di Youtube memaparkan teori miliknya yang berhubungan dengan sikap seseorang yang sukses. Menariknya, ia membagi teorinya dalam empat blok besar yang menunjang satu sama lain untuk mencapai hasil yang optimal. Mencacah dalam empat bagian sebesar masing-masing 25%, begini menurutnya cara menjadi bersikap untuk sukses ;

  • 25% pertama, jadilah perfeksionis. Maksudnya adalah dalam setiap pekerjaan, maka lakukanlah yang terbaik menurut standar yang dimiliki. Setelahnya, selalu cek dan ricek pekerjaan tersebut agar mendapatkan letak kesalahan yang dapat segera diperbaiki.
     
  • 25% kedua, jadilah terorganisasi. Maksudnya adalah selalu menempatkan tiap pekerjaan dalam skala prioritasnya, juga waktu-waktu terbaiknya. Sebab, kita tak dapat melakukan semua hal dalam satu waktu. Membuatnya dalam bagan atau jadwal akan sangat membantu.
     
  • 25% ketiga, tetaplah bekerja keras. Sikap bekerja keras tentu tak dapat dihapus, sebab di era serba mudah ini penyakit yang menjangkiti kita justru adalah kemalasan itu sendiri. Menjalani proses dan belajar berdisiplin, adalah beberapa contoh dari karakter pekerja keras yang tetap relevan hingga kapanpun.
     
  • 25% keempat, berlakulah bijaksana. Untuk dapat berlaku bijak, maka dibutuhkan pengalaman. Mendapatkan pengalaman, berarti menuntut kita untuk langsung mengalami dan tak bisa diwakili oleh jalan pintas bahkan ilmu dan teknologi sekalipun. Maka, tetaplah membaca buku, temui guru dan mentor, atau jelajahilah tempat baru untuk menemukan banyak pengalaman yang membantu kita menjadi lebih bijak dalam bersikap.

Setelah mengetahui teori karakter sukses di atas, tentunya kamu sudah diasupi oleh ilmu yang baru, kan? Maka inilah nutrisi untuk bekerja cerdas. Tetapi apakah ilmu saja cukup? Tentu tidak, karena setelahnya justru petualangan itu baru dimulai dengan cara tetap bekerja keras merintisnya dari nol dan menjalani tiap prosesnya. Rasa-rasanya tak ada yang banyak berubah dari cara menjadi sukses, orang-orang sukses kekinian pun tak luput dari bekerja keras -tentu saja, dengan cara yang cerdas. Lalu, adakah cara untuk menyelaraskan keduanya dalam keseharian? Mungkin beberapa tips sederhana ini dapat membantu kamu, diantaranya ;

#1 Minimalkan distraksi


Distraksi, tak melulu hal yang mengganggu. Justru, distraksi adalah hal yang seringkali menyenangkan yang dalam taraf tertentu menjadi sebuah gangguan. Distraksi juga bisa jadi muncul ketika kita terlalu lama mengambil jeda dari pekerjaan yang dijalankan sehingga ketika memulai kembali rasanya jadi susah fokus. Susah susah gampang sih untuk mengenalinya. Solusinya, kenali distraksimu. Barangkali untuk generasi Z tentu saja tak jauh dari gadget, kan? Coba atur dan jauhi beberapa waktu agar fokusmu dapat terjaga.

#2 Catat prioritasmu dalam kuadran


Ada penemuan cukup menarik yang berkembang saat ini untuk mencatat prioritas dengan bentuk kuadran. Coba tarik garis bujur dan lintang untuk membentuk sebuah diagram cartesius, dan kini sudah terbagi empat segi/kuadran yang siap diisi oleh prioritas. Coba pilih satu sisi paling atas sebelah kanan untuk mencatat kuadran 1 (penting, genting) untuk mengirisi pekerjaan penting yang paling segera untuk dilakukan. Boleh juga menambahkan warna merah sebagai asosiasi ‘deadline’ disana. Lanjutkan ke sisi selanjutnya untuk mencatat kuadran 2 (penting, tidak genting) untuk pekerjaan penting yang bisa longgar waktunya. Lanjutkan ke kuadran 3 (tidak penting, genting) biasanya yang isinya hal aktivitas keseharian yang tidak terlalu penting tetapi harus segera dilakukan, misalnya seperti mencuci baju dan menjemurnya. Lalu, terakhir isi kuadran 4 (tidak penting, tidak genting) berupa pekerjaan yang bisa dilakukan kapan saja tetapi tetap mesti dicatat agar tak serta merta dilupakan.

#3 Atur waktumu sendiri


Tips ini mungkin sangat tepat untuk orang yang bisa dengan bebas memilih waktu bekerjanya. Bahkan, kalaupun ternyata sistem untuk bekerja sudah diatur oleh orang lain, nyatanya kita tetap dapat mengatur waktu yang ada menjadi tetap tepat guna. Pertama-tama, lihat karakter diri kita sendiri, dengan maksud apakah kita adalah orang yang lebih senang bekerja dalam proses dan langkah-langkah kecil dari awal, atau justru kita adalah orang yang cocok untuk menunda hingga menuju batas waktu dan menyelesaikannya saat itu juga.

Bagi orang yang mengambil contoh pertama, ada baiknya memang menganggarkan waktu untuk dapat mencicil sedikit demi sedikit pekerjaannya meskipun kadangkala justru terkesan tanggung. Berbeda dengan langkah kedua yang mungkin membutuhkan waktu fokus yang lebih lama karena tekanan untuk menyelesaikan tugasnya sudah meninggi menjelang waktu akhir penyelesaian. Memang, keduanya memiliki karakter yang berbeda tetapi tujuannya tetap sama yaitu menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Kamu memilih tipe yang mana?

Jadi, sebenarnya bekerja keras dan bekerja cerdas itu bukanlah hal yang dipertentangkan, ya. Justru itu adalah irisan terpenting dari banyak segi karakter orang yang sukses. Bagaimana, siap untuk bekerja keras dan bekerja cerdas dari sekarang?

"Persiapan terbaik untuk pekerjaan yang baik esok hari adalah melakukan pekerjaan baik hari ini."
- Elbert Hubbard

Recommended post:

Sumber :
[1] Tai Lopez : 7 Practical Way to Rewire Your Brain [youtube]


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, April 6, 2019

Menabung Konvensional Atau Investasi? Pertimbangkan Hal Berikut Ini!

Menabung adalah hal yang seharusnya tidak asing dilakukan bagi kita. Banyak dari kita yang sejak kecil telah diajarkan untuk menyisihkan sebagian uang yang dimiliki untuk ditabung. Oleh keluarga, mungkin kita dibiasakan untuk menyisihkan sebagian uang jajan di celengan. Di sekolah formal juga dibiasakan untuk rutin menabung yang dikelola oleh guru kita. Pelestarian budaya ‘gemar menabung’ sejak dini di Indonesia semakin didukung dengan maraknya produk-produk tabungan yang ditawarkan berbagai lembaga keuangan bank yang mudah dimiliki oleh anak-anak. Menabung sejak dini seringkali disebut sebagai investasi yang bertujuan untuk kesejahteraan finansial dimasa mendatang. Benarkah bahwa menabung merupakan bagian dari investasi?

When you use the word just saving and investing, people, really 90-some percent of people, think it’s exactly the same thing,”

–Dan Keady

(Ketika kamu menyebut kata menabung dan investasi, 90 persen orang-orang berpikir keduanya adalah hal yang sama.)  –Dan Keady, Keplala Strategi Perencanaan Keuangan di sebuah perusahaan publik asal Amerika Serikat yang bergerak di jasa keuangan

Investasi
Gambar: Investasi

Banyak orang menganggap bahwa menabung dan investasi adalah dua hal yang sama atau bahwa menabung adalah bagian dari investasi, karena keduanya memang sama-sama sebuah kegiatan menyimpan uang di tempat yang dianggap aman. Namun, sebenarnya keduanya adalah hal yang berbeda. Dari segi definisi, menurut situs Wall Street Mojo, menabung adalah menyisihkan uang secara bertahap, biasanya ke dalam rekening bank untuk keadaan darurat keuangan yang tak terduga. Sedangkan investasi adalah proses menggunakan uang dengan tujuan membuatnya tumbuh. Lalu, antara menabung dan investasi, manakah yang lebih baik? Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa hal yang harus kamu ketahui sebelum kamu memutuskan untuk menabung atau berinvestasi,

Pertimbangan 1# Tetapkan Tujuan


Menabung dilakukan oleh seseorang ketika ia memiliki tujuan jangka pendek dan siap digunakan kapan saja. Artinya, uang tabungan tersebut bisa diambil dalam waktu dekat, biasanya dalam kurun waktu 0-5 tahun. Misalnya, kamu punya rencana untuk berlibur ke luar negeri akhir 2020 mendatang, maka kamu perlu menyisihkan sebagian penghasilanmu setiap bulannya agar mencapai jumlah yang dibutuhkan untuk berlibur. Atau jika kamu punya sederet impian yang ingin kamu wujudkan dalam waktu kurang dari 5 tahun seperti membeli gadget atau kendaraan, pergi umrah atau menikah maka menabung bisa menjadi pilihan yang tepat.

Investasi dilakukan ketika seseorang memilki tujuan jangka panjang, dengan harapan untuk mencapai tujuan utama dimasa depan. Artinya, uang yang ditabung tidak akan digunakan dalam waktu dekat, biasanya dalam kurun waktu lebih dari 5 tahun. Misalnya setelah berumah tangga kamu punya rencana untuk menyekolahkan anak 7 tahun kedepan, atau bahkan berencana untuk menguliahkannya 17 tahun kedepan maka investasi adalah pilihan yang tepat karena jika hanya menabung, nilai uang yang kamu tabung bisa jadi akan jauh lebih rendah pada tahun-tahun mendatang. Sedangkan jika diinvestasikan, nilai uangmu akan naik sesuai dengan tingkat inflasi yang terjadi.

Pertimbangan 2# Pertimbangkan Kemudahan Akses


Rekening tabungan memberimu kemudahan untuk dicairkan, artinya uang tabunganmu bisa dengan mudah kamu ambil saat kamu membutuhkannya. Atau saat kamu ingin mengambilnya karena keadaan darurat. Tabungan umumnya bersifat likuid. Meski saat ini banyak juga produk tabungan yang memberi batasan waktu tertentu untuk bisa diambil seperti deposito, bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu.

Sedangkan investasi tidak bersifat likuid, ketika kamu menginvestasikan uangmu, kamu tidak mudah mengambilnya dengan cepat dibandingkan dengan tabungan. Biasanya, semakin lama uangmu berada dalam investasi, semakin tinggi keuntungan yang bisa kamu dapatkan namun tergantung pada instrumen investasi yang dipilih.

Pertimbangan 3# Pertimbangkan Potensi Keuntungan


Dalam menabung, kamu bisa saja memperoleh keuntungan namun nilainya rendah. Hal ini sebanding dengan tingkat resiko yang ada. Ketika kamu memilih untuk menabung uangmu di celengan atau dirumah, kamu tidak mendapat keuntungan sama sekali karena memang tidak ada resiko. Berbeda dengan investasi, investasi memiliki potensi keuntungan yang lebih tinggi daripada tabungan karena memang resikonya lebih tinggi dari tabungan. Dan uang yang kamu investasikan nilainya akan naik seiring berjalannya waktu.

Pertimbangan 4# Resiko


Menabung hampir tak memiliki resiko sekalipun kamu menabung di bank. Karena apabila suatu saat terjadi kebangkrutan pada bank dimana kamu menabung, bank menjamin bahwa uangmu tetap aman dan kembali padamu. Ada juga produk menabung yaitu deposito yang memiliki resiko rendah dan keuntungannya lebih besar daripada tabungan biasa namun tetap tidak lebih tinggi dari investasi.

Berinvestasi selalu melibatkan resiko. Dalam berinvestasi khususnya saham, tidak menjamin uangmu akan aman 100%, ada kemungkinan kamu akan kehilangan sebagian atau bahkan keseluruhan dari nominal uang yang kamu investasikan bila perusahaan tempatmu berinvestasi mengalami kebangkrutan. Resiko pada investasi beragam tergantung instrumen investasinya.

Nah, setelah mempertimbangkan beberapa hal tersebut, kamu bisa menentukan akan menabung atau berivestasi karena keduanya sama-sama baik, juga sama-sama perlu dan penting untuk dilakukan. Dengan memiliki tabungan, ibaratnya kamu sudah siap menjalani hidupmu sampai lima tahun mendatang. Dan dengan investasi, ibaratnya kamu sedang mempersiapkan masa depanmu yang jauh lebih baik dari yang kamu jalani saat ini. Selamat menabung dan selamat berinvestasi!

Recommended post:
 

DAFTAR PUSTAKA
Waingankar, Roshan. ___. Investment vs Savings. [wallstreetmojo]
___. ___. Compare some of the differences between saving and investing. [handsonbanking]
___. ___. Saving vs. Investing. [wellsfargo]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, March 30, 2019

Ingin Mengatur Keuangan? Kamu Wajib Memahami Konsep Keuangan Robert Kiyosaki

Bisa dibilang, berbicara soal uang adalah salah satu hal yang paling sensitif dalam kehidupan sehari hari. Bagaimana tidak, uang adalah salah satu motif dan alasan untuk orang mendapatkannya bahkan dengan cara berebut. Yuval Noah Harari, dalam bukunya Sapiens, mengatakan bahwa uang bahkan memiliki kekuatan yang setara dengan pengaruh kekuasaan sebab menurutnya uang meminta kita mempercayai bahwa orang lain memiliki sesuatu. Meskipun pada dasarnya fungsi uang adalah sebagai alat tukar, pemaknaan uang lebih kepada sebuah produk psikologis dimana uang adalah sistem kesaling-percayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan.

Image: Koin [Pixabay]


Segaris dengan pengaruh uang, maka apabila orang mampu menyimpan hingga menimbunnya sehingga dapat dikatakan orang itu menjadi kaya. Logika yang terbalik pun sama, apabila orang itu terlihat kaya maka dapat dikatakan ia memiliki banyak uang. Tentu tidak salah, tetapi cukup keliru bila digali lebih dalam. Seperti pemikiran orang umum, sesuatu yang disebut kekayaan biasanya diukur dari seberapa besar pemasukan atau pendapatan yang dimiliki oleh seseorang, katakanlah gaji atau keuntungan usaha. Atau, kekayaan juga biasanya diukur dari seberapa banyak harta benda yang dimiliki atau ditunjukkan oleh orang tersebut. Bagaimana, mungkin kita sering terperangkap dengan pemikiran seperti itu kan? Tetapi, bila andaikan pemasukan besar diimbangi bahkan dilebihi oleh pengeluaran yang juga besar, apakah orang tersebut juga disebut kaya? Tentu tidak.

Sebelum bercerita lebih jauh, mari kenali uang sebagai salah satu pola variabel. Bila manusia dapat dikatakan sebagai variabel terikat dan uang sebagai variabel bebas (karena nilainya yang berubah-ubah), maka untuk menjadikannya terkendali kita membutuhkan variabel kontrol. Nah, variabel bersangkutan adalah financial management. Tentu saja, hal ini tidak diajarkan secara umum bahkan kalaupun ada maka biasanya hanya dipelajari secara mendalam di dunia perkuliahan pada jurusan akuntansi atau ekonomi. Padahal, ilmu financial management akan sangat berguna oleh siapapun dan apapun pekerjaannya sebab segalanya sekarang ditakar pada nilai uang.

Sekarang mari kita berpikir, apakah kita hanya akan sekadar mengontrol pemasukan kita yang seadanya agar tetap dapat mengalokasikan pengeluaran dengan terkendali? Atau pada kasus lain justru berkeinginan melipatgandakan pemasukan agar tidak terlalu menderita akibat banyaknya hal-hal yang tak mampu terpenuhi? Boleh jadi, dua hal itu adalah dorongan utama dalam mengaplikasikan ilmu keuangan. Setelah mengetahui kondisi aktual keuangan kita sendiri  maka kita akan mulai bertanya bagaimana cara kita mengontrol pengeluaran sementara di lain sisi kita juga ingin melipatgandakan pemasukan?

Robert T. Kiyosaki, dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, memberikan pandangan menarik terkait ilmu financial management yang paling mendasar. Untuk dapat mengaplikasikannya, kita harus mengetahui apa itu definisi aset dan liabilitas. Menurut Robert, sesuatu yang dinamakan aset adalah sesuatu yang memiliki nilai dan konsisten mendatangkan keuntungan dari sana. Apakah aset mesti berbentuk barang? Tidak juga, sesuatu yang sifatnya immateriil pun dapat menjadi aset selama konteksnya dapat memberikan nilai dan mendatangkan keuntungan, misalnya seperti desain sebuah merk atau resep masakan tradisional. Berkebalikan dengan aset, maka yang disebut liabilitas adalah sesuatu yang memiliki nilai tetapi justru berkurang nilainya seiring waktu. Istilahnya yang umum dikenal mengenai fenomena penurunan nilai ini yaitu depresiasi, yang biasanya hanya dialami oleh benda yang bersifat barang (materiil) seperti rumah, kendaraan, alat elektronik, dsb.

Lalu pertanyaannya, apakah benda seperti rumah dan kendaraan tidak dapat didefinisikan sebagai aset? Belum tentu, apabila ia tidak mendatangkan atau melipatgandakan keuntungan bagi kita. Bila kita membeli kendaraan dan hanya menggunakannya sehari-hari, menurut Robert itu hanyalah liabilitas sebab kendaraan itu akan berkurang nilainya dan menyedot pemasukan kita dengan sejumlah biaya perawatan. Namun, bila kendaraan itu digunakan untuk sebuah usaha dan dari usaha itu mampu mendatangkan pemasukan baru, maka dapatlah kendaraan itu dikatakan sebagai aset. Sudah mengerti kan, bedanya?

Kembali ke permasalahan awal, cara untuk mengatur keuangan untuk pemasukan yang stabil sebenarnya sangat mudah ditemui dari banyak referensi, terutama soal mengatur pencatatan pemasukan dan pengeluaran (yang lebih mudahnya disebut dengan cashflow). Dari pencatatan itu, sebenarnya kita sudah tahu pola pengeluaran kita sehingga kita nantinya bisa mengatur prioritas untuk mendahulukan kebutuhan yang mana dulu yang ingin kita penuhi tiap bulannya. Dalam pelaksanaannya, tentu saja butuh konsistensi mengingat banyak biaya tak terduga keluar karena tidak tercatat sehingga terjadi kerugian/mandek sebelum pemasukan kembali datang di periode selanjutnya. Kunci dari pengaturan keuangan sebenarnya adalah ketepatan proporsi dari kebutuhan, sehingga dengan penghasilan secukupnya pun kebutuhan dapat terpenuhi dengan baik.

Lalu, apabila kita berniat untuk melipatgandakan pemasukan diluar dari pencatatan keuangan bulanan biasa bagaimanakah caranya? Robert Kiyosaki memperkenalkan empat kuadran yang terkenal dalam bukunya yaitu kuadran E (Employee, pegawai), kuadran S (Self-Employed, tenaga ahli/self-preneur), kuadran B (Business Owner, pengusaha) dan kuadran I (Investor, penanam saham). Dari sana, kita dapat melihat bahwa kita berada di kuadran mana berdasarkan kondisi karir dan keuangan yang kita miliki. Menurut Robert, untuk melipatgandakan pemasukan kita mesti berpikir seperti seorang investor dimana mereka membangun aset dan itu akan menuntun pada penghasilan pasif. Sisihkan beberapa persen dari pemasukan kita tiap bulan dan mulailah menabung untuk mendapatkan aset yang menjanjikan, contohnya seperti menabung logam mulia, deposito, atau reksadana. Yang paling disarankan oleh Robert tentu saja berinvestasi  pada bentuk wirausaha dan pemasaran jaringan.

Bagaimanapun nantinya cara kita mengatur keuangan, hal yang mesti dipatuhi adalah memastikan bahwa pengeluaran tak lebih besar daripada pemasukan. Dengna mampu mengontrol pengeluaran, kita sudah menjadi sesoerang yang ‘kaya’. Selanjutnya, dari sisihan pemasukan yang mengendap itu tentu dapat kita jadikan modal untuk membangun aset yang nantinya berpotensi untuk menjadikan kita ‘lebih kaya’. Bagaimana, sudah tertarik untuk lebih mendalami ilmu keuangan?


“Bila hanya bekerja keras saja, uang anda tak akan pernah menciptakan kekayaan. Anda harus mengambil kendali pada sumber penghasilan anda. Berinvestasilah.”

- Robert T. Kiyosaki, dalam Rich Dad Poor Dad.

Recommended post: Cash Flow Sebagai Cara Dasar Mengelola Keuangan Pribadi dan Keluarga

Referensi :
[1] Kiyosaki, Robert T. 2002. Rich Dad Poor Dad,  Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
[2] Harari, Yuval Noah. 2017. Sapiens, Penerbit KPG : Jakarta.

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, March 23, 2019

Cash Flow Sebagai Cara Dasar Mengelola Keuangan Pribadi dan Keluarga

Bagi kamu yang bekerja, tanggal muda di setiap bulan biasanya adalah saat-saat yang menggembirakan, bukan? Saat dimana kamu menerima kompensasi berupa gaji dari tempatmu bekerja. Kalau baru gajian, apakah kamu sering ‘kalap’ langsung menggunakannya untuk membeli barang-barang yang kamu inginkan? Lalu, baru sampai pertengahan bulan, uang di dompetmu kok sudah hampir habis. Boro-boro bisa menabung, untuk makan sampai akhir bulan saja dirasa pas-pasan. Hampir selalu begitu setiap bulannya. Kok bisa, ya? Hmm... Kalau itu yang kamu alami, cashflow keuangan pribadimu tidak sehat, artinya ada yang salah dalam caramu mengelolanya.

Coins
Image: Coins [Pixabay]


Cash flow (arus kas) adalah gambaran mengenai aliran kas berupa uang yang masuk (cash in flow) dan uang yang keluar (cash out flow). Ketika jumlah pemasukanmu lebih besar daripada jumlah pengeluaran, maka arus kas keuanganmu positif (positive cashflow). Tapi jika jumlah pemasukanmu lebih kecil daripada jumlah pengeluaran, maka cashflow keuanganmu negatif (negative cashflow). Arus kas yang negatif bisa terjadi bermula dari kamu yang tidak mempunyai perencanaan keuangan, tidak merencanakan sejak awal untuk apa saja seharusnya uangmu digunakan sehingga aliran uangmu pun tidak jelas muaranya.

Pentingnya Cash Flow Untuk Membangun Kekayaanmu


Menurut Peter Dunn, seorang perencana keuangan profesional, mengontrol arus kas keuangan adalah bentuk tanggung jawab secara finansial. Arus kas merupakan hal paling mendasar agar kita bisa mengelola keuangan dengan baik. Berlaku untuk pengelolaan keuangan pribadi maupun bisnis. Untuk itu, kita harus bisa memahami kemanakah uang kita mengalir?

Seringkali, orang-orang mengabaikan konsep ini terutama bagi mereka yang menghasilkan lebih banyak uang. Semakin banyak uang yang dihasilkan, semakin mereka mengabaikan pengelolaan arus kas ini. Sebanyak apapun uang yang dihasilkan seseorang, nyatanya tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kekayaan. Sebanyak apapun profit yang dihasilkan perusahaan, tidak selalu berarti bahwa perusahaan tersebut sehat, bisnis bisa bangkrut jika arus kasnya tidak dikontrol dengan baik. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa alasan mengapa arus kas begitu penting bagimu,

Arus Kas Memperjelas Kemana Uangmu Pergi


Pernahkah kamu bertanya, mengapa orang lain yang penghasilannya tak jauh beda denganmu bisa membeli barang-barang mewah atau liburan ke luar negeri, sedangkan kamu tidak bisa? Mengapa uang mereka cukup untuk melakukan itu semua sedangkan uangmu tidak? Bisa jadi, mereka mengelola arus kas keuangan mereka dengan baik, sedangkan kamu bahkan tidak tau kemana uangmu pergi.

Mau memperbaiki pengelolaan arus kasmu? Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah melacak semuanya:

  • Catat pemasukanmu, arus kas masuk mulai dari gaji, bonus, tunjangan dan lainnya yang masuk ke rekening atau dompetmu. Kamu juga harus mencatat setiap tanggal berapa kamu menerimanya.
     
  • Catat pengeluaranmu, arus kas keluar mulai dari pengeluaran sehari-hari, pembayaran cicilan hutang, asuransi dll yang keluar dari rekening atau dompetmu. Catat secara detail tanggal setiap pengeluarannya. Jika kamu mempunyai cicilan yang harus dibayarkan, sesuaikan dengan waktu jatuh tempo agar kamu tahu berapa yang harus kamu sisihkan dan pada tanggal berapa setiap bulannya kamu harus membayar.

Mengetahui dari mana saja uangmu berasal, berapa banyak yang digunakan dan kapan semua itu perlu diurus sangatlah penting. Jika kamu tidak memiliki pelaporan tentang bagaimana uangmu mengalir dalam keuanganmu, kamu akan lebih mudah membuat kesalahan.

Arus Kas Membantu Memperbaiki Keuanganmu yang Kacau


Setelah kamu melakukan pencatatan arus kas dan membandingkan antara pemasukan dan pengeluaran, kamu bisa mendapatkan gambaran apakah selama ini pengelolaan keuanganmu sehat atau tidak. Ketika laporan arus kasmu negatif, adalah tanda peringatan dini yang sangat baik untuk masalah keuanganmu yang akan datang (di bulan-bulan kedepannya). Arus kas mengingatkan kamu bahwa beberapa perubahan perlu dilakukan, terutama dalam hal meminimalisir pengeluaran.

Untuk memperbaikinya, kategorikan mana yang merupakan pengeluaran produktif (pengeluaran yang tujuannya untuk membeli aset) dan mana yang pengeluaran konsumtif (pengeluaran yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makanan, pakaian, kosmetik). Jangan-jangan, selama ini uangmu lebih banyak mengalir ke pengeluaran konsumtif.

Lalu buatlah prioritas kebutuhanmu, apakah dari pengeluaran konsumtif tersebut benar-benar memenuhi keutuhan atau sekedar memuaskan keinginan.

Arus Kas dapat Membangun Kekayaanmu


Laporan arus kas bukanlah solusi dari semua persoalan keuanganmu, tapi arus kas adalah ‘alat’ untuk membangun kekayaan. Arus kas dapat membantumu menentukan keputusan-keputusan terkait finansial. Misalnya, setelah kamu sudah bisa meminimalisir dan menentukan skala prioritas pengeluaran, lama-lama nilai surplus keuanganmu semakin tinggi dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Lalu kamu mengalirkan uang tersebut untuk berinvestasi, juga untuk membeli aset-aset produktif untuk berbisnis, hasil investasi menjadikanmu semakin kaya.

Your cash flow statement won’t tell you if you will become a millionaire or not, but it can tell you if you are on the right path – hint: you can’t build wealth if you are running on a deficit,
– Ryan Guina


“Laporan arus kas tidak akan memberi tahumu apakah kamu akan menjadi seorang jutawan atau tidak, tetapi itu dapat memberi tahu jika kamu berada di jalan yang benar (petunjuk): Kamu tidak dapat membangun kekayaan jika kamu mengalami defisit.”

Dalam mengontrol arus kas. Ingatlah kalau tujuanmu adalah untuk meningkatkan kondisi keuangan agar kamu dapat dengan mudah menghadapi tantangan-tantangan dalam jangka panjang di masa depan. Laporan arus kas keuanganmu adalah salah satu alat yang dapat membantu kamu menemukan jalan itu.

Referensi:
Dunn, Peter. 2014. The importance of understanding cash flow. [Petetheplanner]
Miranda. ___. The Importance of Cash Flow Management. [financialhighway]
Kyith. 2017. Your Personal Cash Flow Statement – The Complete Guide. [investmentmoats]
Guina, Ryan. 2019. How to Create a Personal Cash Flow Statement. [cashmoneylife]
Hamm, Trent. 2017. Personal Cash Flow and You. [thesimpledollar]
 

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, March 16, 2019

Mana yang lebih sukses, si Early Birds atau si Night Owl?

Sebagian besar dari kita mungkin belum terlalu menyadari fungsi dan perspektif lain dari Matahari. Semenjak sekolah, kita tentu berfokus pada fungsi matahari dari sisi biologi, yaitu kaitannya sebagai salah satu sumber abiotik yang mempengaruhi ekosistem biotik di bumi. Atau, dari sisi geografi seperti bagaimana matahari memengaruhi cuaca dan iklim di seluruh penjuru dunia. Hanya sedikit yang kita ketahui tentang fungsi matahari dari sisi etnologi, dimana matahari dipandang berbeda dari kebudayaan manusia di tiap daerah seperti contohnya pada suku Inca di Peru yang memiliki festival pemujaan terhadap matahari. Juga, dari sisi religi seperti pengaruh besar matahari sebagai inti dari ajaran agama Shinto di Jepang.

Bagaimana, menarik kan? Matahari sebagai bintang utama yang diorbit oleh anggota tata surya ternyata memiliki banyak fungsi, kiasan, sekaligus makna yang dipahami oleh manusia dari berbagai jaman. Yang sangat berhubungan dengan manusia tentu aspek antropologi dan aspek psikologi, tentang bagaimana manusia memandang matahari secara tidak langsung sebagai acuan waktu untuk melakukan sesuatu yang memengaruhi hidupnya. Terlebih, hal itu akan multikompleks bila mengkaji pandangan dan budaya manusia yang dianugerahi matahari berlimpah (iklim tropis) bila dibandingkan dengan yang sedikit sinar matahari (iklim subtropis.)

Pergantian siang dan malam yang disebabkan oleh matahari cukup krusial dan menjadi pembeda dalam bagaimana manusia memulai aktivitasnya. Menyadur dari Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 73, disana dijelaskan bahwa Allah menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat bergantian terus-menerus agar manusia bersyukur. Pada dasarnya, hal itu mengacu pada fungsi sinar matahari sebagai jam baku aktivitas manusia sejak masa prasejarah bahkan hingga kini. Tetapi setelah munculnya era listrik, perilaku dan aktivitas manusia berubah jauh hingga ‘menabrak’ jam biologis berdasar matahari yang sudah berlaku sejak dulu. Apakah itu berhubungan dengan psikologis manusia saat ini?

Early Birds vs Night Owl Secara Psikologis Pelakunya


Kembali ke judul, apakah ada hubungannya antara pergeseran aktivitas manusia yang saat ini berada di dikotomi pagi dan malam? Sudah banyak penelitian tentang hal ini terutama yang secara gamblang membagi karakter orang berdasarkan kebiasaannya beraktivitas saat pagi atau malam. Bila terbiasa memulai aktivitas saat pagi maka asosiasinya adalah seperti burung perkutut yang sibuk berkicau di saat pagi hari, sedangkan asosiasi sebaliknya adalah si burung hantu yang membelalak ketika malam hari.

Tempat Tidur
Image: Tempat Tidur [Pixabay]

Seperti yang dipublikasikan oleh Stolarski dalam Frontier in Psychology, hal tersebut diistilahkan sebagai chronotypes, dimana sebagian besar orang yang memiliki salah satu kesamaan atau ketertarikan akan berkumpul dan membuat persepsi akan perkumpulannya tersendiri. Meski bukan dianggap sebuah komunitas, orang-orang yang aktif di pagi hari akan menyamakan persepsinya terhadap aktivitas maupun kebiasaannya ketika pagi hari, bahkan hingga nanti soal pilihan karir, begitupun terjadi sebaliknya pada orang-orang yang aktif di malam hari. Apabila seseorang belum punya kecenderungan untuk lebih sering aktif pada pagi atau malam hari, dapat disebut bahwa ini tipe chronotypes yang netral.

Ada pula anggapan bahwa chronotypes ini dipengaruhi oleh gen, seperti yang dijabarkan oleh Michael J. Berus dalam Psychology Today, bahwa genetika seseorang cukup berpengaruh pada ritme dan siklus jam biologis tubuh. Disebutkan dalam penelitiannya bahwa 60% dari populasi umum memiliki varian DNA yang disebut adenin (A), dan 40% lainnya memiliki varian DNA yang disebut guanin (G). Sebagaimana tiap individu memiliki dua set kromosom DNA, maka ada perkombinasi dimana 48% dari populasi memiliki gen kombinasi A-G, 36% dari populasi memiliki gen A-A dan 16% dari populasi memiliki gen G-G. Setelahnya dijabarkan bahwa pemilik gen A-A memiliki cenderung bertipe sebagai early birds dan pemilik gen G-G cenderung bertipe sebagai night owl, sedangkan pemilik gen kombinasi A-G masuk dalam kondisi tidak berkecenderungan ke salah satunya.

Meski tampak sangat berbeda dari sudut pandang genetika, sebenarnya dua tipe chronotypes ini bukanlah tipe manusia yang memiliki fisik dan kejiwaan yang otomatis berbeda. Pada dasarnya, itu hanya mewarnai karakter manusia tersebut saat ia memilih berkecenderungan dan terbiasa untuk kapan memulai aktivitasnya sehingga akhirnya dapat memengaruhi sifat individunya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Vinita Mehta dalam Psychology Today, ada tiga perbedaan mendasar antara dua tipe chronotypes ini.

  • Yang pertama ialah tentang kepribadian, dimana orang yang beraktivitas saat malam lebih cenderung memiliki persona ‘gelap’ bila dibadingkan dengan orang yang beraktivitas pagi. ‘Gelap’ disini dapat diartikan memiliki bawaan yang dipengaruhi oleh kondisi yang mendukung saat malam hari, seperti sikap melankolisme. Oleh dorongan sikap melankolisme itu, puisi atau lagu romantis biasanya lebih cocok dibuat juga didengar saat malam hari.
     
  • Yang kedua adalah mengenai kreativitas, dimana menurut studi bahwa orang yang beraktivitas  saat malam cenderung lebih kreatif dan memiliki nilai tinggi dari sisi fleksibilitas, kestabilan, dan orisinalitas. Hal ini tentu didukung oleh suasana malam hari yang cenderung tenang, sehingga menyebabkan pikiran dapat lebih fokus dan tidak tegang.
     
  • Sementara yang ketiga adalah mengenai ketepatan waktu, dimana orang yang beraktivitas saat pagi lebih cenderung tepat waktu dibandingkan yang beraktivitas saat malam. Hal itu tentunya dapat dimaklumi sebab di waktu pagi orang-orang memiliki atmosfer bekerja yang cepat dan enerjik, juga kebanyakan dari kita sudah terbiasakan untuk datang tepat waktu saat bersekolah di pagi hari.

Maka, kembali ke pertanyaannya, siapakah yang lebih sukses? Tentu dari kita memiliki argumen masing-masing sesuai dengan kecenderungan chronotypes yang kita miliki. Jawaban paling tepat dan masuk akal adalah untuk menjawab bagaimana menjadi sukses itu ketika kita mengetahui pole position kita berada dimana dan akan sangat bergantung pada pilihan karir yang kita inginkan. Pada dasarnya, sukses adalah bauran hasil dari sikap konsisten sekaligus kerja keras, sedangkan warna kepribadian seseorang akan melengkapi bagian besar dari proses menjadi sukses tersebut.

Oleh karena itu, meski berbeda cara pandang dan kebiasaan, si Early Birds maupun si Night Owl dapat menemukan kesuksesan dengan caranya masing-masing, tergantung darimana ia bisa memosisikan peran dan karirnya di kehidupan. Bila sudah menemukan kecenderungan lebih aktif di pagi hari, maka temukanlah karir yang mendorong kamu untuk produktif di pagi hari, begitupun juga sebaliknya. Di jaman yang serba-modern ini, segala alternatif pekerjaan sudah sangat banyak sehingga tak ada alasan bagi kita untuk tidak sukses dengan warna kepribadian yang kita miliki.

“Tidak ada rahasia dari kesuksesan. Itu adalah hasil dari persiapan, kerja keras, dan belajar dari kesalahan.”

- Colin Powell

Recommended Post:

Sumber :
[1] Jocz, P., Stolarski, M., & Jankowski, K. S. (2018). Similarity in chronotype and preferred time for sex and its role in relationship quality and sexual satisfaction. Frontiers in Psychology, 9, 443.
[2] Breus, Michael J. 2012. Early Bird or Night Owl? It’s In Your Genes. [Psychologytoday]
[3] Mehta, Vinita. 2015. 3 Key Differences Between Evening and Morning People. [Psychologytoday]

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."