Sunday, September 9, 2018

Shiny Object Syndrom: Salah Satu Penyebab Usaha Maksimal Namun Tidak Kunjung Sukses

Pernahkah kamu mengalami ‘Shiny Object Syndrome' (SOS)?

"apa'an tuh?"

Tanda bahwa kamu terkena Shiny Object Syndrome adalah jika kamu memiliki daftar ide tetapi tidak ada yang kamu eksekusi, ketika kamu cenderung mengejar sesuatu yang baru daripada tetap fokus pada apa yang sedang kamu kerjakan, terus-menerus merencakan tujuan baru tetapi tidak pernah bisa berkomitmen menyelesaikannya sampai akhir. Kamu sering melompat dari satu tujuan ke tujuan berikutnya daripada bertahan dengan apa yang kamu kerjakan sampai selesai.

Misalnya, kamu sebagai seseorang yang bercita-cita menulis sebuah buku, kamu mempunyai ide untuk menulis novel fiksi bergenre horor. Kamu membuat konsep lalu mulai menulis, namun ditengah perjalananmu merangkai cerita, kamu merasa kesulitan. Lalu kamu merasa perlu mengganti genre cerita. Tidak lama, kamu membuat konsep baru, mulai membuat cerita bergenre romance dengan alasan bahwa novel bergenre romance sangat laris di pasaran. Lagi-lagi, ditengah perjalanan menulis cerita tersebut, kamu berfikir bahwa ada yang salah dengan keputusanmu, merasa tidak bisa menyelesaikan novel. Kamu lalu berubah pikiran, mempunyai ide untuk membuat cerita bergenre lain lagi, fantasy, misalnya. Sampai pada akhirnya, tidak ada satu novelpun yang berhasil kamu tulis.

Atau, kamu yang bercita-cita menjadi pengusaha, Shiny Object Syndrom membuatmu tidak pernah fokus mengembangkan satu bidang usaha yang telah kamu mulai jalankan. Berkali-kali berganti mulai dari bidang fashion, kuliner, kosmetik, sampai biro perjalanan. Terlalu banyak ide produk dan jasa ‘menyilaukan’ yang ingin kamu geluti. Hasilnya, tidak ada satupun usahamu yang bertahan hingga bertahun-tahun. Ide-ide bisnis baru yang lebih menyilaukan, lebih booming di dunia maya, dengan mudah mengalihkan perhatianmu. Terlalu banyak opsi yang ‘berkeliaran’ dipikiranmu.

Ciri-ciri kalo kamu terkena shiny object syndrom


Dirangkum dari personalexcellence.co, pada intinya, masalah dengan Shiny Object Syndrome adalah adanya gangguan. Selalu tertarik pada ide, cara dan tujuan baru. Meninggalkan tugas-tugas penting dalam proses meraih tujuan yang lebih dulu ditetapkan. Ketika kamu terus-menerus terganggu, beberapa masalah yang terjadi adalah,

Pertama, kamu tidak pernah menyelesaikan sesuatu. Itu karena kamu selalu mencari sesuatu yang baru, daripada menyelesaikan rencanamu saat ini.

Kedua, kamu menghabiskan terlalu banyak waktu pada ide, cara dan tujuan baru, yang 95% adalah informasi yang membuat tidak fokus, daripada mengeksekusi langkah-langkah yang telah disusun pada tujuan yang lebih dulu ditetapkan.

Ketiga, kamu menjadi ‘master of none’. Itu karena kamu tidak menggunakan waktumu untuk menjadi seorang ahli dalam suatu hal. Kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hanya menjadi seorang ‘pemula’, selalu saja mempelajari dasar-dasar dari hal-hal yang dianggap lebih menakjuban, mengagumkan dan menjanjikan. Tidak pernah beranjak dari seorang pemula menjadi menengah, apalagi seorang expert.

gagal
Image: fail [pixabay]

Ingin mengatasi shiny object sindrom? simak 4 tips berikut ini


1. Yang Baru Tidak Selalu Lebih Baik
Pahamilah bahwa sesuatu yang baru, tidak selalu berarti lebih baik. Namun, untuk mengatasi Shiny Object Syndrom, bukan tentang mengabaikan setiap hal baru. Di dunia saat ini, penting untuk tetap mengetahui tren dan pembaruan. Namun, ketika semua yang kamu lakukan adalah hanya mengikuti tren, kamu hanya membuang-buang waktu, yang seharusnya kamu gunakan untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah kamu mulai lebih dulu. Howard Washington Thurman, penulis, filsuf, teolog, dan pendidik menyatakan dalam kutipannya,

Don’t ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world needs is people who have come alive.”

“Jangan bertanya apa yang dunia butuhkan. Tanyakan apa yang membuat hidupmu menjadi lebih hidup, dan lakukanlah. Karena apa yang dibutuhkan dunia adalah orang-orang yang hidupnya menjadi lebih hidup (dengan tujuannya).”

2. Belajar dari Proses Orang Lain
Ada banyak ide yang menyilaukan di dunia online seperti munculnya deretan StartUp baru, produk baru, dan layanan baru. Tapi lihatlah perjalanan mereka yang lebih dulu melakukannya. Meskipun orang-orang mungkin menyombongkan betapa hebatnya produk atau layanan yang mereka ciptakan, tidak semuanya harus kamu ciptakan juga.

Meskipun sebuah startup dapat menjanjikan kepada dunia tentang apa yang dapat dilakukan oleh produk dan jasa mereka, dalam prosesnya bisa jadi memunculkan masalah-masalah baru, bisa jadi tidak bertahan lama. Pelajari proses yang dilalui orang lain, tidak semua cara yang mereka pakai itu harus kamu tiru.

3. Menilai Kecocokan Hal Baru dengan Tujuanmu
Sebelum beralih ke ide atau cara baru, nilailah kecocokannya dengan tujuan dalam pekerjaan, usaha dan kehidupanmu. Jangan ikuti apa yang dilakukan orang lain hanya karena itu hal ter-booming sekarang, karena belum tentu bisa bertahan lama. Bertanyalah pada diri sendiri,

-    Apakah hal baru tersebut yang benar-benar saya butuhkan dan masuk dalam prioritas hidup saya?
-    Apakah itu akan menambah nilai pada pekerjaan, usaha dan hidup saya?
-    Apakah dampak positif dan negatifnya jika saya menetapkan dan menjalani hal baru tersebut?

4. Meminimalisir Sumber Gangguan
Cara terbaik untuk mengelola gangguan dari hal-hal yang menyilaukan, bukan sekedar menerapkan disiplin, tetapi dengan mengelola sumber-sumber gangguan. Ketika kamu terus dibanjiri email berlangganan tentang penawaran bisnis baru, apalagi tidak relevan dengan tujuan dan prioritasmu. Hal itu mengganggu kefokusan dan mengacaukan pikiran. Terlalu banyak sumber informasi yang masuk, terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak ‘beban’.

Di media sosial, salah satu yang bisa kamu lakukan adalah menyaring akun-akun yang kamu ikuti. Hanya ikuti akun-akun yang memberikanmu banyak informasi relevan dengan bidang yang kamu tekuni, minimalisir kenggotaanmu di grup facebook, whatsapp, atau line.

Namun, perlu kamu garis bawahi, hal-hal baru yang menyilaukan tidak selalu buruk dan mengganggu fokusmu. Kita harus tetap terbuka pada perubahan dan pembaruan. Tapi, jangan lupa untuk menelaah lebih jauh, apakah hal baru tersebut adalah sebuah peluang yang perlu kita ambil, atau hanya hal menyilaukan yang menipu?

Investasikan sebagian besar waktu kita untuk mencapai tujuan, menyaring hal-hal baru yang relevan dengan tujuan kita. Buatlah rencana dan tujuan, fokus, lalu berkomitmenlah untuk mencapainya, menyelesaikan dengan baik apa yang telah kita mulai.


Referensi:
Chua, Celestine. The Shiny Object Syndrome: How to Stay Focused and Stop Getting Distracted. personalexcellence
Why Shiny Object Syndrome Is Sometimes a Good Thing. problogger


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, September 1, 2018

Cara Terbaik Menggunakan Media Sosial Sebagai Pendukung Kesuksesanmu

Coba renungkan serta jawab untuk diri sendiri, apa saja yang sering kamu lakukan ketika membuka akun media sosialmu?

Jawabanmu?? mengisi waktu luangkah??

Apakah hanya melihat-lihat postingan terbaru teman-temanmu di instagram mengenai Out Of The Day mereka, atau sekedar memberikan like dan komentar kepada para selebgram yang kamu ikuti?

Apakah kamu yakin menggunakan media sosial untuk hal-hal tersebut memberikan manfaat, minimal untuk dirimu sendiri?

Menjadi pengguna media sosial yang pasif, dalam artian hanya melihat-lihat postingan orang lain, hanya akan menyebabkan emosional dalam diri kita naik turun, 3 kali scroll down mungkin suasana hatimu bisa 3 kali mengalami perubahan, senang dipostingan pertama, ngeri serta penasaran dipostingan kedua dan mungkin jengkel dipostingan ketiga.

Germany Kent, seorang jurnalis Amerika, mantan ratu kecantikan, pengarang, aktris, sekaligus pengusaha, memaparkan pandangannya dalam sebuah kutipan,

If you are on social media, and you are not learning, not laughing, not being inspired or not networking, then you are using it wrong.

"Jika kamu berada di media sosial, dan kamu tidak belajar, tidak tertawa, tidak terinspirasi atau tidak membangun jaringan, maka kamu salah menggunakannya."

Nah, bagaimana sih agar kita menggunakan media sosial dengan benar? Mempelajari sesuatu, mendapatkan inspirasi, serta membangun jaringan didalamnya. Agar media sosial menjadi bermanfaat untuk kita gunakan sehingga waktu yang kita habiskan untuk aktif di media sosial pun tidak terbuang percuma. Dikutip dari berbagai sumber, berikut Fenomena Harimu rangkum 5 hal yang bisa kamu lakukan untuk membuat media sosial menjadi sangat bermanfaat,

sukses media sosial
Image: Media Social [Pixabay]

Cara #1 Bagikan konten positif


Daripada hanya mengunggah foto-foto selfiemu untuk sekedar mempercantik feed instagram, atau update status facebook tentang lagu yang kamu dengarkan, akan lebih bermanfaat jika kamu membagikan konten-konten positif.

Bisa berupa quote motivasi dari para tokoh ternama, kisah-kisah inspirasi hidup yang membangun. Siapa tau, bukan hanya kamu yang termotivasi serta terinspirasi dari konten tersebut, tapi orang-orang di lingkaran pertemanan media sosialmu juga. Jauh lebih bermanfaat, bukan?


Cara #2 Tunjukan potensi diri


Setiap manusia lahir dengan potensi yang ada pada dirinya. Di zaman milennial ini, saatnya kamu tunjukkan pada dunia tentang potensi yang kamu miliki, jangan lagi menyembunyikannya untuk dirimu sendiri. Jika kamu punya potensi dalam design grafis, perlihatkan designmu. Biarkan orang lain mengetahui bahwa kamu memiliki kemampuan di bidang tersebut.

Bagi kamu yang punya kemampuan dalam menulis, bagikan tulisan-tulisanmu di media sosial.  Jika kamu bisa membuat bermacam-macam kerajinan tangan, abadikan dan unggah hasil karyamu, bagikan juga tips-tips dalam membuatnya.

Begitu juga jika kamu berpotensi dalam memasak, mendesain interior atau bidang apapun. Agar lebih maksimal, bagikan secara konsisten. Jika karyamu dikritik oleh orang lain, jadikan itu sebagai masukan yang membangun, menjadikan karyamu lebih baik lagi.


Cara #3 Share hobby


Media sosial mampu menghubungkan kita dengan semua orang dari berbagai belahan dunia. Kamu bisa memanfaatkannya dengan bergabung bersama komunitas dalam bidang yang kamu sukai. Contohnya, bagi kamu yang hoby fotografi, kamu bisa bergabung di komunitas fotografi. Mulai dari komunitas lokal, nasional bahkan internasional.

Biasanya, suatu komunitas memiliki program kerja seperti diskusi secara online dan offline, seminar, pelatihan serta gathering. Selain bisa bertukar pikiran, menambah wawasan, meningkatkan kemampuan, jaringan pertemananmu jadi semakin luas, informasi terkait kompetisi dan peluang terkait hobimu juga lebih mudah kamu ketahui.


Cara #4 Promosi, atau Me-review produk dan Jasa


Jika kita punya bisnis, media sosial menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengenalkan dan mempromosikan produk dan jasa. Betapa tidak, pada sebuah toko fisik, pelanggan dibatasi oleh akses lokasi serta waktu (jam buka-tutup), sedangkan bisnis online, bisa diakses oleh semua orang di seluruh dunia, selama 24 jam.

Atau, kamu bisa memanfaatkan keaktifanmu di media sosial dengan mereview produk atau brand tertentu. Siapa tau, kamu punya kesempatan untuk menjadi seorang influencer atau brand ambassador. Untuk menjadi influencer, kamu bisa menekuni bidang yang kamu sukai. Bidang itulah yang akan kamu bagikan kontennya secara konsisten di media sosialmu.


Cara #5 Follow Akun yang Mendukung Kebermanfaatanmu di Media Sosial


Hindari mem-follow akun-akun yang tidak bermanfaat seperti akun gosip yang hanya membicarakan seputar selebriti, atau akun yang bermuatan konten negatif. Penuhi beranda media sosialmu dengan postingan dari akun berkonten positif, berkaitan dengan potensi, hobi dan bidang yang kamu geluti. Selain bisa banyak mengambil ilmu dari mereka, bukan tidak mungkin kalau suatu saat kamu mendapatkan tawaran bekerja sama dengan mereka.

Dalam bermedia sosial, setiap orang punya motif dan tujuan. Sebelum melakukan 5 hal tersebut. Yakinkan dulu diri kita untuk memiliki tujuan yang baik, untuk merasakan manfaat sekaligus menebar manfaat kepada pengguna media sosial lainnya. Sehingga media sosial bisa menjadi ‘ladang pahala’ bagi kita. Dengan melakukan 5 hal tersebut, kita juga sekaligus membangun ‘self branding’ (citra diri) pada masyarakat.

What you post online speaks VOLUME about who you really are. POST with intention. REPOST with caution.
– Germany Kent.

(Apa yang kamu posting secara online, berbicara tentang siapa kamu sebenarnya. POSTING dengan niat. REPOST dengan hati-hati.) – Germany Kent.

Ibaratnya, orang lain sedikit banyak bisa mengenal siapa kita, dari kesan yang kita bangun melalui konten yang kita bagikan di media sosial. Tidak jarang, perusahaan atau lembaga saat ini bahkan menjadikan media sosial pelamar sebagai pertimbangan dalam proses rekruitmen kerja.

Referensi:
Good Reads, goodreads
Good Reads, goodreads

Recommended post: 6 Alasan Mengapa HP atau Smartphone menjadi Benda yang Paling Favorit

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Monday, August 13, 2018

Mengapa Kita Berfikir Orang Lain Lebih Sukses?

Di era digital ini, adakah diantara kamu yang tidak memiliki satupun akun di media sosial? Entah itu Facebook, Twitter, Path, atau Instagram. Hampir setiap dari kita pasti memilikinya.

Apa yang kamu rasakan ketika melihat pencapaian teman-temanmu yang mereka bagikan di lini masa media sosial? Mungkin banyak dari kita yang merasakan emosi positif seperti ikut bahagia, terinspirasi serta menjadikannya sebuah motivasi.

Namun pernahkah kamu sekaligus merasakan emosi negatif seperti rendah diri? Kamu jadi membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupanmu. 

Seperti saat kamu melihat unggahan teman-temanmu di media sosial mengenai kesuksesan mereka dalam karir, perjalanan mereka keliling dunia kebahagiaan mereka dalam percintaan, sedangkan sampai saat ini kamu belum meraihnya, apakah kamu pernah berfikir bahwa teman-temanmu jauh lebih sukses daripada dirimu?

Donnalynn Civello, seorang pelatih intuisi kehidupan di Amerika, berbicara  dengan kliennya mengenai fenomena tersebut,

Klien    : “Facebook membuat saya merasa sangat sedih tentang hidup saya. Saya  pikir saya melakukannya dengan baik, lalu saya melihat semua hal menakjubkan yang dilakukan orang lain, saya jadi berpikir, 'Tuhan, saya seorang pecundang', ”

Donna    : “Mengapa kamu membandingkan dirimu dengan orang lain? Kamu tidak menjalani hidup mereka, kamu menjalani hidupmu.”

Klien    : “Saya tahu, tetapi hal itu tidak banyak membantu, saya tetap membandingkan diri saya dengan mereka ketika melihat semua kesuksesan mereka. Itu membuat saya gelisah."

Mengapa kita bisa berpfikir seperti itu?


Dirangkum dari berbagai sumber, inilah alasan mengapa media sosial seringkali membuat kita berfikir kalau orang lain lebih sukses daripada diri kita,


#1. Keinginan Membandingkan (Teori Perbandingan Sosial)

Dalam teori ini, perbandingan sosial menjadi bagian alami dan penting bagi manusia. Meski kita tahu kalau menggunakan media sosial dapat membuat kita tidak nyaman, gelisah atau tertekan, kita masih saja melihat-lihat unggahan orang lain seperti di facebook atau instagram, kita penasaran apakah orang-orang telah meraih sesuatu yang kita harapkan untuk kita raih pula. Ada keinginan dalam diri manusia untuk mengukur kemajuan, membandingkan kesuksesan dirinya dengan yang lain.


Thomas Mussweiler, seorang profesor perilaku organisasi di London Business School menyatakan bahwa mengaitkan informasi tentang orang lain dengan diri kita adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari,

"Inevitably, we relate information about others to ourselves,"

Pada dasarnya, hal ini merupakan cara yang sehat untuk mengukur kemajuan kita dalam kehidupan, menjadi motivasi bagi diri untuk lebih maju lagi. Tapi sayangnya akan menjadi masalah ketika kita membandingkan ‘versi diri kita’ dengan ‘versi orang lain’ yang dianggap jauh lebih sempurna, jauh lebih sukses daripada diri kita.

Yang merugikan adalah membuat perbandingan yang terlalu jauh jangkauannya, misalnya seorang akuntan yang membandingkan pencapaian dirinya dengan pencapaian seorang CEO.


#2. Melihat Apa yang Memang Ingin diperlihatkan Orang Lain

Media sosial digunakan sebagai platform agar kita tetap terhubung dengan orang-orang yang dekat dan yang jauh, seperti dengan keluarga dan teman. Mengunggah sesuatu mulai dari apa yang sedang kita rasakan sampai pada akhinnya menjadi platform untuk berbagi momen yang paling berarti, luar biasa dan unik.

Hal tersebut bukan hanya didorong oleh keinginan untuk ‘disukai’ tapi juga karena kita berfikir orang-orang akan mencari akun kita seperti mantan pacar, rekan kerja baru ataupun teman lama.

Orang lain lebih sukses
Image: like on social media [pixabay]

Kita ingin membuat mereka semua menjadi terkesan. Tentu kita tidak akan mengunggah sesuatu yang memperlihatkan kekurangan atau kemunduran yang kita alami dalam hidup, bukan?

Apa yang diunggah oleh seseorang, itulah yang ia ingin perlihatkan kepada teman-temannya di media sosial. Ini berhubungan dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan (Teori Hierarki Kebutuhan Manusia).


Mengingat media sosial fungsinya memang sebagai tempat untuk berbagi informasi. Tidak heran kalau media sosial dijadikan tempat untuk pamer atau menunjukkan pencapaian yang selama ini telah diraih.

Ketika kamu melihat kesuksesan yang diraih orang lain di media sosial, kamu berisiko membandingkan kehidupanmu yang tampaknya dangkal dengan orang-orang yang hidupnya tampaknya mengagumkan, yang dapat membuat kita merasa rendah diri.



#3. Ketidakstabilan Diri

Seberapa berpengaruhnya media sosial bukan dari berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk itu, namun bagaimana kita menggunakannya secara bijak.

"Ketika kami menggunakan media sosial hanya untuk melihat postingan orang lain secara pasif, kebahagiaan kami menurun," kata Emma Seppaelae, penulis buku The Happines Track: How To Apply The Science of Happiness to Accelerate Your Success.

Menurutnya, hal tersebut membuat kita lupa untuk menikmati hidup. Tetapi jika kita menggunakannya untuk berkontribusi, berbagi, dan berinteraksi maka dapat memiliki efek sebaliknya.


Referensi:
Civello, Donnalynn. 3 Ways to Conquer Social Media Envy and Manifest Your Own Success. 2017. observer
Friedlander, Jamie. Why Social Media Is Ruining Your Self-Esteem—and How to Stop It. 2016. success
Rebecca Webber, 2017. The Comparison Trap. psychologytoday


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."
 

Wednesday, August 8, 2018

Kriteria Suami Idaman Para Wanita, Seperti Apa?

Mendapatkan pasangan hidup yang ideal merupakan keinginan setiap wanita. Tentu keinginan setiap wanita berbeda-beda dalam menentukan seperti apa sosok ‘suami idaman’ mereka. Namun apakah suami idaman wanita hanya diukur dari kemapanan dan ketampanan seperti streotip yang selama ini berlaku dalam masyarakat?
Suami idaman wanita
Image: Wedding [pixabay]
Berikut fenomena harimu merangkum hasil survey mengenai suami idaman wanita, yang dikutip dari laman Sunday Express.

#1 Memiliki sense of humor


Berada dalam urutan pertama, kriteria ini mendapatkan polling sebesar 52 persen.

Sense of humor adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan humor sebagai cara menyelesaikan masalah, keterampilan menciptakan humor, serta kemampuan menghargai atau menanggapi humor. Secara psikologis, humor dapat menolong individu saat menghadapi kesukaran.

Pria yang memiliki sense of humor yang baik pantas saja menjadi kriteria suami idaman, ia dianggap mampu diandalkan untuk mencairkan suasana dalam berbagai situasi. Ia adalah kualitas manusia yang sangat berharga untuk membantu memahami ketidaksesuaian, termasuk ketika terjadi konflik dalam hubungan cintanya.

“Like a welcome summer rain, humor may suddenly cleanse and cool the earth, the air and you.”
- Langston Hughes, American Poet
(Seperti hujan musim panas yang menyambut, humor dapat tiba-tiba membersihkan dan mendinginkan bumi, udara, dan Anda.) - Langston Hughes. Penyair asal Amerika.

#2 Pendengar yang baik


Mendengar merupakan salah satu dari empat jenis dasar komunikasi. Berdasarkan fakta, seseorang cukup banyak menghabiskan waktu belajar untuk membaca, menulis, dan berbicara. Akan tetapi, jarang atau bahkan tidak sama sekali mereka belajar bagaimana cara mendengar yang baik.

Kodrat wanita sebagai makhluk yang cenderung lebih banyak berbicara dari pria, membuatnya menginginkan sosok suami yang bisa menjadi pendengar yang baik untuknya. Kriteria ini mendapatkan polling sebesar 49 persen yang  menempati urutan kedua sebagai suami idaman.


#3 Menunjukkan kedekatan dengan keluarga di depan publik


Wanita menyukai pria yang berani menunjukkan kedekatan dengan keluarganya di depan publik, terutama dengan Ibunya.

Menurut Dr. William Pollack, seorang professor psikologi dari Universitas Havard, pria yang dekat dengan ibunya tidak akan enggan untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan dan mengganti popok bayi tanpa mengernyitkan mata.

Disamping itu, wanita suka diperlakukan istimewa di depan umum, jika dengan keluarganya saja pria tidak malu menunjukkan kedekatan dengan keluarganya, mengapa tidak kepada wanita sebagai pasangan hidupnya nanti?

#4 Memiliki kecerdasan teknologi


Seiring dengan perkembangan zaman, setiap tahunnya kita disuguhkan dengan penemuan-penemuan teknologi terbaru. Sebagai manusia yang berakal, kita dituntut untuk melek teknologi.

Pria dengan kecerdasan teknologi, cenderung dapat meningkatkan kompetensi dan produktivitasnya, mereka dianggap lebih kreatif dan inovatif. Hal tersebut berpengaruh terhadap karir dan relasi sosialnya.


Wanita mengidamkan sosok suami seperti itu karena mau tidak mau, perkembangan teknologi banyak mengubah aspek dalam kehidupan.

Tentu wanita tidak mau kerepotan membersamai pria yang gagap teknologi karena tidak bersifat terbuka terhadap perkembangan zaman, bukan? Kriteria ini mendapatkan polling sebesar 39 persen.

#5 Memiliki pesona atau daya tarik tersendiri


Manusia, baik pria atau wanita memiliki ‘charm’ atau daya tarik tersendiri. Dikutip dari laman Dosen Psikologi, psikologi dalam cinta menyatakan meskipun pasangan memiliki kekurangan namun pasti ada 1 saja kelebihan yang membuat pasangannya merasa jatuh cinta. 

Pria yang memiliki daya tarik, membuat wanita menanggap pria tersebut benar-benar suami idaman yang diinginkannya, dimana ia berbeda dengan pria yang lain.  Misalnya, pria yang memiliki suara lebih dalam lebih dianggap menarik atau berkesan bagi wanita daripada pria yang memiliki suara yang tinggi.

Pada dasarnya, wanita butuh sosok suami dengan kelebihan yang bisa dibanggakan. Karakteristik ini mendapatkan polling sebesar 40 persen.

#6 Berpenampilan menarik


Tidak bisa dipungkiri, penampilan fisik menjadi hal penting yang dipertimbangkan wanita dalam memilih pasangan hidup. Hal ini berkaitan dengan yang dinamakan ‘Halo Effect’ dimana manusia cenderung melihat seseorang yang berpenampilan menarik sebagai sosok yang baik-baik.


Dengan kata lain, penampilan pria yang menarik, sedikit banyak menimbulkan persepsi dari orang lain dalam menentukan sifat yang lebih spesifik, seperti luwes dalam bergaul, baik hati, disenangi banyak orang. Karena itulah pria berpenampilan menarik mendapatkan polling sebesar 34 persen.

Bagaimana, sebagai wanita, apakah kriteria suami idaman diatas juga merupakan yang kamu tetapkan dalam mencari sosok suami? Atau jika kamu laki-laki, apakah kriteria suami idaman tersebut sudah melekat dalam dalam dirimu?

Nyatanya, jika merujuk pada survey tersebut, kemapanan dan ketampanan bukanlah kriteria utama suami idaman bagi para wanita. Namun, setiap wanita memiliki criteria suami idaman menurut versinya masing-masing.


Referensi:
Sunday Express. 2016. Is This YOUR Idea of The Perfect Man? Ideal Partner Revealed in New Survey. Express
Hughes, Langston. Brainy Quote.
Fahri. 2013. etheses
Pratiwi, Rahayu. 5 Kelebihan Bila Anak Laki-laki Dekat Dengan Ibunya. theasianparent
Anindyajati, Maharsi. Mereduksi "Halo Effect" dan "Devil Effect". ppm-manajemen
Dosen Psikologi, 13 Fakta Psikologi Tentang Jatuh Cinta. 2017. Dosenpsikologi

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Tuesday, July 31, 2018

Pernah Merasakan Dejavu? Ini Penyebab dan Penjelasannya

Pernahkah kamu mengalami dejavu? Keadaan dimana kamu merasa familiar dengan keadaan disekitarmu, seolah-olah kamu pernah mengalami kejadian yang sama persis seperti di masa lalu. Menurut Brown, sekitar dua pertiga penduduk memiliki setidaknya satu pengalaman dejavu dalam hidup mereka. Mungkin, kamu salah dari mereka yang pernah mengalaminya, bahkan tidak hanya sekali.

“Déjà vu involves a strong feeling that an experience is familiar, despite sensing or knowing that it never happened before. Most people have experienced déjà vu at some point in their life, but it occurs infrequently, perhaps once or twice a year at most.”
- Krishna KumariChalla, Founder, Science Communication Network at Sci-Art Lab

(Dejavu melibatkan perasaan yang kuat sebuah pengalaman familiar, meskipun merasakan atau mengetahui bahwa pengalaman itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Kebanyakan orang pernah mengalami dejavu dalam kehidupan mereka, tetapi jarang, mungkin sekali, atau paling banyak dua kali dalam setahun)

Kata dejavu berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘already seen’ (telah melihat atau telah menyaksikan). Pencetus kata ‘déjà vu’ pertama kali pada tahun 1876 adalah Emile Boirac, seorang psikolog berkebangsaan Prancis.

Ia menuliskan istilah tersebut dalam bukunya yang berjudul ‘L'Avenir des Sciences Psichyques’. Dejavu merupakan sebuah fenomena di mana seseorang mengalami fantasi seolah-olah ia sudah pernah melihat pada masa lampau suatu peristiwa yang sedang dialaminya pada hari ini.

Seorang psikoterapis dari Indonesia, Indra Majid, memaparkan bahwa dejavu merupakan gejala gangguan mental pada memori atau daya ingat. Menurutnya, dejavu masuk kedalam kategori paramnesia, yakni suatu ingatan palsu. Ketika merasakan dejavu, individu mengalami ingatan palsu terhadap pengalaman baru, merasa sangat mengenali sistuasi baru yang sesungguhnya belum pernah dikenalnya.

Berikut penyebab orang mendapatkan fenomena dejavu

Kali ini, fenomenaharimu akan membantu kamu memahami mengapa seseorang bisa mengalami dejavu.

#1. Gangguan Akses Memori

Hal ini dicetuskan oleh seorang psikolog terkemuka, Sigmund Freud. Ia menyimpulkan bahwa fenomena dejavu terjadi akibat adanya gangguan akses memori pada otak manusia, yakni terjadinya lompatan memori alam pikiran bawah sadar ke wilayah alam pikiran sadar manusia.

Manusia memiliki alam pikiran bawah sadar yang komposisinya lebih dominan dibandingkan dengan alam pikiran sadar. Setiap sesuatu yang dirasakan manusia baik oleh indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan pengecap, terekam ke dalam memori jangka panjang manusia yang terletak di wilayah alam bawah sadar. Informasi tersebut tidak secara sadar diingat oleh manusia.


Gangguan mengakses memori pada pikiran manusia tersebut menyebabkan terjadinya lompatan-lompatan memori dari alam bawah sadar ke alam pikiran sadar manusia. Pada saat itulah manusia merasa kalau peristiwa atau keadaan yang sedang dialami, sudah pernah ia alami sebelumnya.

#2. Perhatian terpecah

Ketika perhatian seseorang terfokus pada informasi yang dianggapnya lebih penting, ia cenderung mengabaikan informasi lain yang didapat oleh panca indera sehingga perhatiannya terpecah. Ketika ia sudah tidak begitu fokus pada informasi yang tadinya dianggap lebih penting, maka semua informasi yang sebelumnya terabaikan oleh pikiran sadar, mulai direkam dan disimpan pada pikiran bawah sadar.

Semua informasi mengenai sesekeliling yang tersimpan akan ‘terpanggil keluar’ sehingga sesorang merasa lebih familiar. Dalam teori yang dipaparkan oleh Aalan Brown ini, disimpulkan bahwa dejavu tidak berhubungan dengan kejadian dimasa lalu dalam rentang waktu yang lama, tetapi informasi tersebut adalah informasi baru yang tepanggil keluar, yaitu ketika pikiran seseorang sedang rileks.

#3. Proses Ganda

Robert Efron menganalisa bahwa fenomena dejavu tidak hanya sebatas pada pikiran bawah sadar, tetapi lebih mendalam pada analisis fungsi otak manusia. Informasi yang masuk ke otak melewati lebih dari satu jalur (jalur ganda). Lobus temporal (salah satu dari empat lobus dalam otak) yang terletak pada otak sebelah kiri bertanggung jawab menyaring informasi yang masuk.

Informasi yang masuk pertama langsung diproses oleh lobus temporal, sedangkan informasi kedua yang masuk akan tertunda karena berputar melewati otak sebelah kanan lebih dulu. Jika tertundanya lebih lama dari waktu normalnya, otak akan mencatat informasi yang salah dengan menganggapnya sebagai informasi peristiwa dimasa lalu yang telah pernah terjadi sebelumnya.

Sesaat sebelum mengalami dejavu

Kamu dan temanmu berdiskusi di sebuah restoran tentang masalah yang rumit. Pikiran kalian fokus pada permasalahan diskusi, tanpa disadari, sejak mulai masuk restoran, kalian mulai merekam keadaan restoran. Namun karena manusia memiliki alam pikiran bawah sadar yang komposisinya lebih dominan dibandingkan dengan alam pikiran sadar, keadaan restoran hanya terekam dalam pikiran bawah sadar kalian. Ditambah dengan adanya penundaan pada proses ganda penerimaan informasi.

Dejavu
Image: Deja Vu [Pixabay]

Saat berhenti diskusi dan mulai merasa rileks sambil menyantap makanan, tiba-tiba kalian merasakan sensasi seolah-olah keadaan di restoran sekarang ini sudah pernah dialami sebelumnya. Pada saat itu, terjadi lompatan-lompatan dari memori bawah sadar ke wilayah pikiran sadar (teori gangguan akses memori). Kalian merasakan dejavu dari peristiwa yang kalian kira memang pernah terjadi dimasa lalu yang padahal, itu adalah kilasan informasi yang direkam panca indera kalian beberapa menit lalu.

Pikiran sadar kalian hanya tidak menyadarinya karena terfokus pada diskusi tadi yang dianggap lebih penting. Informasi tentang keadaan di restoran ‘terpanggil keluar’ karena kamu dan temanmu telah merasa rileks, seperti teori yang dipaparkan dalam perhatian terpecah.

Dikutip dari DiVa Portal, fenomena dejavu ini tampaknya sedikit lebih sering terjadi pada sore dan malam hari. Dejavu merupakan kebalikan dari Jamais Vu, dimana individu merasa asing terhadap sisuasi yang justru pernah dikenalnya.

Referensi:
Fikri, Mumtazul. 2014. Psikologi Belajar Berbasis Pedagogis. Banda Aceh: Nourhas Publishing
KumariChalla, Krishna. Is deja vu phenomenon is real or an imagination it has nothing concerned with reality?. Quora
Majid, Indra. Gejala Gangguan Psikologis: Memahami Ciri Gangguan Mental Pada Manusia. psikoterapis
Redgård, Rickard. Scientific Theories on the Déjà Vu Phenomenon. School of Humanities and Informatics. University of Skövde, Sweden. [diva-portal]

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

loading...