loading...

Saturday, January 5, 2019

[Pratfall Effect] Berbuat Kesalahan Malah Dianggap Makin Menarik

Setujukah kamu bahwa tiap-tiap dari kita dipastikan pernah melakukan kesalahan, baik kesalahan yang kecil maupun besar, baik yang disengaja maupun tidak? Hemat penulis, tidak ada satu pun manusia yang sempurna di dunia ini, yakni manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Yang ada hanyalah seseorang yang ‘dianggap sempurna’ dimata orang lain, baik karena perilaku, karakter, talenta, kesempurnaan fisik maupun hal lain yang menjadikannya terlihat sempurna tanpa cela.

Tahukah kamu, terdapat sebuah fenomena dimana seseorang yang dianggap unggul atau sempurna dan disukai orang lain, akan lebih disukai lagi ketika Ia melakukan sebuah kesalahan, fenomena tersebut dikenal dengan istilah ‘Pratfall Effect’, kok bisa ya?

Image: Stairs fall [Pixabay]
Secara bahasa, kata ‘pratfall’ berarti kesalahan yang memalukan. Pratfall Effect dipelajari pertama kali oleh seorang Psikolog Sosial asal Amerika bernama Elliot Aronson pada tahun 1966. Ia bereksperimen dengan meminta 48 relawan pria yang dibagi 4 kelompok untuk mendengar rekaman wawancara dengan skenario yang berbeda. Pertama, orang unggul yang menjawab pertanyaan. Kedua, orang biasa yang menjawab pertanyaan. Ketiga, orang unggul yang melakukan suatu kesalahan saat menjawab pertanyaan. Keempat, orang biasa yang melakukan suatu kesalahan saat menjawab pertanyaan. Hasilnya, dari keempat skenario tersebut, orang yang diwawancara pada skenario ketiga dianggap lebih menarik dan berkesan dari pada yang lainnya, yaitu orang unggul yang melakukan kesalahan.

Dilansir dari Savage Facts, seringkali, seseorang yang terlihat sempurna dalam segala hal, dalam artian tidak pernah melakukan kesalahan, secara tidak langsung dapat mengintimidasi banyak orang. Orang-orang disekitarnya akan sedikit merasa ‘terancam’, tidak aman, membandingkan ketidaksempurnaan, kelemahan dan kesalahan-kesalahan dengan diri sendiri. Ketika seseorang yang dianggap ‘manusia super’ itu melakukan kesalahan, orang-orang jadi sadar bahwa Ia tetaplah manusia biasa sama seperti yang lainnya. Orang lain jadi tidak merasa enggan untuk berhubungan dengan orang tersebut.

Pratfall Fffect ini salah satunya terjadi pada seorang aktris film terkenal Jennifer Lawrance, pemeran Katniss Everdeen dalam film The Hunger Games ini dikenal sebagai selebriti hollywood papan atas. Dibalik anggapan kesempurnaan karena talenta dan kecantikannya, Ia juga dikenal karena kesalahannya seperti pernah terjatuh di karpet merah pada perhelatan Oscar 2013, juga cara bicaranya yang kurang hati-hati ketika diwawancara membuatnya lebih disukai. Sehingga Ia mendapat julukan sebagai selebriti yang paling ‘down-to-earth’ karena kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya itu.

Selain Jennifer Lawrance, siapa diantara kamu yang tidak kenal Isyana Sarasvati? Penyanyi dan penulis lagu asal Indonesia ini sempat mengalami insiden yang mungkin dianggap memalukan. Gadis yang dikenal karena kecantikan serta karyanya di dunia musik ini sempat tersandung kabel dan terjatuh diatas panggung saat menjadi tamu spesial di Konser Kahitna, Februari 2016 silam. Menariknya, setelah jatuh Ia secara spontan berpose anggun seperti tak terjadi apa-apa di depan penonton, bahkan Ia justru bercerita di akun instagram pribadinya tentang insiden tersebut. Hal tersebut membuat Isyana dibanjiri komentar-komentar positif dari para penggemarnya.

Eits... Karena adanya fenomena dimana melakukan kesalahan dapat membuat lebih disukai, bukan berarti kita jadi merasa ‘bebas’ untuk melakukan kesalahan, ya. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa hal yang perlu kamu tahu tentang Pratfall Effect,
  1. Pastikan kalau kamu adalah orang ‘kompeten’
    Pratfall Effect ini berlaku sangat baik pada diri seseorang yang dianggap cerdas, kompeten, atau mempunyai kualifikasi tertentu di mata orang lain. Jika seseorang yang dianggap rata-rata, Pratfall Effect mungkin hanya akan berlaku sekali saja. Kesukaan orang lain terhadap orang rata-rata akan menurun setelah ia melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Pada seseorang yang dianggap biasa saja (dibawah rata-rata), Ia lebih cenderung terkena dampak negatif dari kesalahannya.
     
  2. Tidak berlaku pada kesalahan yang disengaja
    Membuat suatu kesalahan memang tidak selalu membuatmu terlihat bodoh. Tetapi, jika kamu terfikir untuk sengaja melakukan kesalahan hanya karena ingin disukai, sebaiknya jangan lakukan. Karena akan terlihat sangat tidak natural dan kamu seperti hanya ingin mendapatkan simpati dari orang lain. Bisa jadi, orang lain justru akan menganggapmu tidak sekompeten yang mereka pikir sebelumnya.
     
  3. Akui kesalahan secara terbuka dan tersenyum
    Jika kamu terlanjur melakukan suatu kesalahan yang terdengar memalukan, tetaplah tenang. Tersenyumlah meski suasana hatimu mungkin sedang berantakan saat itu. Mengutip dari Savage Fact, sebuah senyum bersalah yang lucu dan dapat membuat orang lain tertawa setelah melakukan kesalahan adalah yang dibutuhkan seseorang untuk lebih disukai. Kamu juga bisa belajar dari cara Isyana bagaimana Ia berani mengakui kesalahannya secara terbuka. Sehingga yang ia dapatkan bukanlah komentar negatif tapi justru sebaliknya, dukungan positif dari para penggemarnya.

Pratfall Effect menjadi sesuatu yang ‘melegakan’ terutama bagi kaum Perfeksionis. Kepribadian mereka yang cenderung mendambakan kesempurnaan pada setiap hal yang mereka lakukan, akan mengurangi rasa tegang dan ketakutan mereka bahwa tidak apa-apa untuk sesekali melakukan kesalahan. Mengejar kesempurnaan adalah ilusi.

Perfection' is man's ultimate illusion. It simply doesn't exist in the universe.... If you are a perfectionist, you are guaranteed to be a loser in whatever you do.”
– David D. Burns

(Kesempurnaan adalah khayalan utama manusia. Ini sama sekali tidak ada di alam semesta. Jika kamu perfeksionis, kamu dijamin akan menjadi pecundang dalam apa pun yang kamu lakukan.)

Jangan pernah takut melakukan sesuatu hanya karena takut berbuat salah, takut apa yang kamu lakukan tidak sesempurna yang kamu ekspektasikan. Selama kesalahan itu sifatnya bukan kesalahan yang signifikan seperti terlambat masuk kantor, tidak memenuhi janji dengan orang lain atau kesalahan-kesalahan lain yang sifatnya justru dapat merusak kepercayaan orang lain padamu. Apalagi jika kamu sengaja melakukannya. Namun tetaplah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik dalam hidupmu!


Referensi:
Ehit, Suvigya. The Pratfall Effect. savagefacts
Bernstein, Rebecca. 2017. Interesting Psychological Phenomena: The Pratfall Effect. brescia
brainyquote
azquotes

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, December 15, 2018

Standar Impianmu Terlalu Tinggi? Menjelang Tahun Baru, Yuk Revisi!

Tidak terasa, kita sudah mencapai bulan Desember di pengujung tahun 2018 ini. Saat ini, beberapa diantara kita mungkin punya warisan catatan keinginan, cita-cita, atau target apapun itu yang dibuat di awal tahun. Bagaimana, sudah ditinjau ulangkah? Bagaimana, apakah mayoritas dari daftar keinginan itu sudah tercapai? Kamu mungkin sudah susah payah ya untuk berusaha mencapainya, saya ucapkan selamat atas pencapaiannya :)

Tidak jarang, beberapa orang memang menargetkan peningkatan kualitas hidupnya dari tahun ke tahun ; entah itu dari yang cuma berdoa sambil lalu hingga sampai mencatat dan mewujudkannya dengan penuh waktu. Dalam video yang dipublikasikan oleh akun Youtube Yes Theory, sebanyak 40% orang akan berkemungkinan besar mencapai mimpinya ketika mereka menuliskannya. Nah, saya percaya kalau kamu adalah bagian dari orang-orang yang menuliskan target dan mimpimu. Well done!

Checklist
Image: Checklist [Pixabay]


Sekarang, tentu dalam aktualisasinya, pencapaian itu tidak berjalan mulus dan sempurna. Selain banyak tantangan, kita juga menghadapi banyak distraksi di sepanjang tahun. Beberapa hal yang tak masuk dalam daftar yang kita tulis itu seringkali dikerjakan dalam prioritas mendadak sehingga menjadikan daftar utama menjadi tertunda. Belum lagi soal aspek psikologis manusia seperti naik-turunnya mood, terjangkit malas, hingga melarikan diri dari rutinitas. Semua itu menjadi hal-hal yang membuat target dan mimpi kita tak semuanya tercapai. Kita tentu tahu itu bahwa itu masalah biasa dalam hidup, sebagaimana tak ada yang sempurna, bukan?

Mungkin tak cukup sampai disitu. Kamu mesti bisa mendeterminasi apa saja penyebab targetmu jadi mandek di suatu waktu. Barangkali teori dari Vilvredo Pareto atau yang dikenal dengan Hukum Pareto dapat membantumu untuk mewujudkan target selanjutnya. Mudahnya begini, menurut Pareto, ada angka 20% dari prioritas utama kita yang mesti kita kerjakan untuk mencapai angka 80% dari kesuksesan/kepuasan kita. Nah, jadi fenomena yang ada bila dikaitkan ke teori itu adalah kita mesti mendahulukan prioritas kita yang paling genting dan penting sebesar 20%, untuk nantinya dapat membantu kita merasa mencapai 80% dari keseluruhan target. Masuk akal? Ini tentu hanya soal prioritas. Bahwa benar, dari keseluruhan daftar target yang kita buat tidak semuanya penting. Dari sedikit yang paling terpenting, bila itu sudah dilakukan dan terwujud, maka rasanya seakan dapat mewakili keberhasilan target yang tidak terlalu penting.

Akan tetapi, ternyata ada permasalahan lain lagi yang mungkin terasa. Pernahkah bertanya apakah standar yang kita tetapkan dalam daftar target itu terasa terlalu tinggi sehingga kita bahkan tak mampu mencapainya? Mungkin bukan kamu saja yang merasa seperti itu, ketika sudah merencanakan lalu bekerja keras tetapi hasil tak kunjung maksimal. Apakah betul kita hanya membutuhkan penambahan kuantitas target demi ingin selalu meningkat, atau kita cukup mengoptimalkan target yang sederhana dengan menambah kualitasnya? Mungkin itu yang seringkali kita lupa, bahwa ajang awal tahun kita gunakan hanya untuk berlomba-lomba menuliskan sebanyak mungkin target tanpa mengukur dulu kemampuan diri kita sejauh mana.

Paul Thagard, dalam tulisannya yang dipublikasikan Psychology Today, mengatakan bahwa kita berkemungkinan untuk menurunkan standar target dan impian kita bila orang lain yang memilikinya juga gagal untuk mewujudkannya. Terdengar aneh? Mungkin bagi orang yang skeptis akan menyangka bahwa ini adalah langkah mundur untuk mewujudkan target. Tetapi menurut Paul, langkah menurunkan standar ini adalah sebuah proses yang masuk akal untuk merevisi target personal kita agar selalu berjalan sesuai dengan realitas dan kemampuan yang kita miliki.

Ada sebuah teori yang disampaikan oleh seorang psikolog Amerika yaitu Carl Rogers, yang berkenaan dengan fenomena tidak sesuainya target impian kita terhadap realitas yang kita punya. Hal ini disebut olehnya sebagai ketidaksebidangan (incongruity), yaitu ketika adanya perbedaan penilaian dari penerimaan kita sendiri sesuai realitas (real self)  terhadap penerimaan kita terhadap keinginan masyarakat, norma, budaya, atau yang lebih luas (ideal self).

Menurut Rogers, definisi ideal self ini merupakan sesuatu yang tidak riil, sesuatu yang tak pernah bisa dicapai, dan standar-standar itu takkan bisa kita penuhi. Kenapa begitu? Karena real self merupakan gambaran tentang “saya sebagaimana adanya”, sedangkan ideal self merupakan gambaran tentang “saya sebagaimana seharusnya”. Tampak jelas kan perbedaannya?

Standar impian dengan pertimbangan faktor intrinsik dan ekstrinsik


Nah, dari sini kita hal itu bisa kita perbesar kedalam faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Yang pertama yaitu faktor intrinsik, bisa jadi hal yang membuat kita menulis target impian yang tinggi karena kita terperangkap ‘narsisme’, yaitu ketika kita sibuk meyakinkan orang lain kalau kita mampu padahal sejatinya kita benci untuk mengakui bahwa kita belum mampu mencapainya. Selain itu, hal teknis seperti tidak konsisten dan takut gagal juga membuat hal itu jadi benalu dalam diri meskipun kita sudah menuliskan target yang begitu tinggi.

Sedangkan yang kedua yaitu faktor ekstrinsik, seperti terlecut oleh capaian prestasi orang lain yang bahkan belum tentu sama bidangnya dengan kita. Begitu juga soal timeline hidup orang lain yang seakan lancar saja, sehingga kitapun ingin menyerupainya padahal kita tak pernah tahu seberapa besar kemampuan juga usaha keras orang lain itu untuk mencapainya. Satu lagi, kadang kita merasa terlecut untuk menargetkan impian lebih tinggi karena melihat orang lain yang sudah melakukannya terlihat bahagia. Padahal, kita sendiri sebenarnya kalau semua orang punya caranya masing-masing untuk menjadi bahagia, iya kan? Begitulah, faktor ideal self yang sudah dijelaskan diatas sangat berhubungan dengan penilaian kita terhadap masyarakat, sementara kita sering lupa sejauh mana realitas diri yang kita punya.

Karenanya, yuk revisi target impian kita! Sesuaikanlah dengan kapabilitas yang kamu punya untuk saat ini, agar hidupmu dapat terjalani dengan mindset berupa real self, bukan karena tekanan masyarakat yang menginginkan kamu menjadi sosok ideal. Bermimpilah dengan jalanmu sendiri, karena kamu memiliki realitas yang berbeda dengan orang lain. Selamat menghadapi tahun yang baru dengan impianmu dan tetap semangat ya!

Walaupun ambisimu besar, langkah pertamamu haruslah dimulai dari yang terkecil
– Yes Theory

Recommended post:
Referensi :
[1] Boeree, C. George. 2010. Personality Theories. Yogyakarta : Prismasophie
[2] Thagard, Paul. 2018. When All Else Fails, Lower Your Standards. Psychology Today : psychologytoday
[3] Yes Theory (Youtube) : youtube


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Wednesday, December 12, 2018

[Diderot Effect] Alasan Membeli Karena Ingin Bukan Karena Butuh

Pernah tidak sih, kamu membeli suatu barang yang sebetulnya tidak begitu kamu butuhkan? Atau bahkan, tidak hanya satu tetapi banyak barang. Misalnya, suatu hari kamu pergi ke mall dimana rencana awalmu hanya mau membeli sepatu baru, karena sepatumu yang lama sudah tidak layak pakai lagi. Kamu menemukan sepatu berwarna biru yang cocok dan segera membelinya. Kemudian membeli baju, tas juga jam tangan yang warnanya serasi dengan sepatu biru itu. Padahal sebetulnya kamu tidak begitu memerlukan barang-barang selain sepatu itu. Kira-kira kenapa ya kamu terdorong untuk membeli barang-barang lainnya?

Supermarket diderot effect
Image: Supermarket Diderot Effect [Pixabay]

Jika kamu berpikir bahwa dorongan membeli barang-barang itu dikarenakan faktor eksternal berupa kecerdasan penjual mendisplay barang sehingga menarik minatmu, atau karena adanya diskon yang membuatmu tergiur, kamu benar. Namun dalam pandangan psikologi, ada sebuah faktor internal dalam diri kita yang menyebabkan kita termotivasi untuk membeli barang-barang tambahan diluar kebutuhan utama, hal tersebut dikenal dengan istilah ‘Diderot Effect’.

Seorang filsuf, penggagas efect diderot


Seorang filsuf asal Prancis bernama Denis Diderot hidup dalam kemiskinan sepanjang hidupnya, meskipun tidak kaya ia dikenal sebagai salah satu penggagas dan penulis Encyclopedie, saat itu merupakan salah satu ensiklopedia paling komprehensif. Tahun 1765, kondisi finansial Diderot berubah membaik sejak Ratu Rusia, Catherine the Great menawarkan membeli perpustakaan Diderot seharga 1000 Poundsterling Inggris.

Tak lama setelah itu, Diderot mendapat hadiah mantel mahal dari temannya. Ketika melihat kondisi rumahnya, secara spontan ia membandingkan mantel dengan perabotan di rumahnya, ia merasa mantel itu terlalu bagus dikelilingi perabotan rumahnya yang usang. Ia sesuatu yang mengganjal pikirannya,

All is now discordant. No more coordination, no more unity, no more beauty..

– Denis Diderot
(Semuanya sekarang terlihat janggal. Tidak ada lagi koordinasi, tidak ada lagi kesatuan, tidak ada lagi keindahan.)

Berawal dari kejanggalannya itu, ia terdorong untuk membeli beberapa barang baru untuk mengganti perabotan rumahnya yang sudah usang. Ia mendekor rumahnya dengan patung-patung indah, membeli karpet baru dari Damaskus, meja dapur baru, cermin baru, dan kursi baru yang terbuat dari kulit untuk mengganti kursi lamanya yang terbuat dari jerami. Semuanya perabotannya telah disesuaikan dengan keindahan mantel barunya agar terlihat serasi.

Tak lama setelah itu Diderot menyesal karena ia justru terlilit hutang. Ia menulis penyesalannya dalam sebuah esai berjudul ‘Regrets for my Old Dressing Gown’

“Aku adalah pemilik mantel tua. Aku menjadi budak dari mantel yang baru”

Secara sederhana, efek diderot dapat diartikan bahwa ketika kita memiliki barang baru, akan mengarahkan kita untuk membeli lebih banyak barang baru lainnya. Pada akhirnya, kita membeli barang-barang yang sebelumnya tidak terlalu kita butuhkan. Diderot juga berpendapat, dewasa ini pembelian suau barang bukan lagi bertujuan secara fungsional, tetapi lebih dari itu, merupakan peluang untuk mengekspresikan diri.

Misalnya dalam membeli busana, tujuannya bukan lagi untuk sekedar menutupi tubuh, namun untuk mengekspresikan diri, menujukkan identitas. Kita memilih busana berdasarkan apa yang paling cocok dengan diri kita, apa yang kita ingin orang lain menilai tentang diri kita. Begitu juga saat membeli barang-barang lainnya seperti kendaraan dan perabotan rumah tangga. Itu artinya, pembelian suatu barang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, tapi memuaskan keinginan.

Bagaimana mengantisipasi efek dedirot?


Dalam hidup, kita memiliki kecenderungan alami untuk memenuhi dan memperbanyak. Kita jarang untuk menyederhanakan, menghilangkan, atau mengurangi. Kecenderungan alami kita selalu menambah, meningkatkan, dan membangun. Membeli barang baru memang bisa menimbulkan kepuasan dan kesenangan pribadi. Namun, ketika kita membeli sesuatu secara berlebihan, akan berdampak buruk salah satunya bagi kesehatan finansial kita. Kita perlu belajar untuk mengontrol pembelian. Berikut Fenomena Harimu paparkan beberapa tipsnya,

  1. Beli Satu, Berikan Satu
    Setiap kali kamu membeli sesuatu yang baru, sumbangkan sesuatu yang lama. Misalnya setelah kamu membeli TV baru, daripada memindahkan TV lama ke ruangan lain dan tidak begitu terpakai, berikan saja TV lamamu kepada orang lain. Atau setelah kamu membeli baju, sumbangkan baju-baju lamamu yang masih layak pakai. Hal ini untuk mencegah jumlah barang dirumahmu bertambah atau bertumpuk.
     
  2. Berhenti Berlangganan
    Terlalu banyak berlangganan email dari perusahaan komersial dapat memicu keinginan untuk terus berbelanja. Untuk itu, berhentilah berlangganan katalog dari mereka. Juga berhentilah mengikuti terlalu banyak akun-akun online shop di media sosial seperti facebook dan instagram. Dan untuk mencegah kamu membeli barang di mall karena tergiur diskon dan harga promo, carilah tempat selain mall ketika kamu mengadakan pertemuan dengan orang lain.
     
  3. Paksa Diri
    Keinginan untuk berbelanja tidak hanya datang dari berlangganan email dan media sosial. Lingkungan pertemanan juga seringkali membuat kita tergiur untuk membeli sesuatu, misalnya karena rasa tidak enak kita terpaksa membeli sesuatu dari teman kita yang menawarkan dagangannya. Memang tidak ada salahnya, tetapi akan menjadi masalah ketika sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Sesuaikan dengan skala prioritas kebutuhanmu.

    Tidak ada cara yang lebih ampuh selain memaksa diri kita untuk tidak selalu menuruti segala keinginan. Ingatlah bahwa keinginan tidak pernah ada batasnya
    . Setelah satu keinginan terpenuhi, selalu ada keinginan baru dan lebih tinggi lagi. Yang perlu kamu sadari, keinginan bukanlah sesuatu yang harus selalu kamu penuhi, keinginan hanyalah pilihan. Utamakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bukan memuaskan keinginan. Vivienne Westwood, seorang perancang busana dan pengusaha asal Inggris, berpesan pada kita semua,

“Buy less. Chose well. Make it last.”

-Vivienne Westwood

(Beli lebih sedikit. Pilih dengan baik. Bertahanlah.)

Recommended post:

Referensi:
Clear, James. The Diderot Effect: Why We Want Things We Don’t Need — And What to Do About It. jamesclear
Becker, Joshua. Understanding the Diderot Effect (and How To Overcome It). becomingminimalist
Regrets for my Old Dressing Gown, or A warning to those who have more taste than fortune. marxists

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, December 8, 2018

Begini Pengaruh Otak Terhadap Tingkat Kepuasan Manusia

Apakah kamu pernah bertanya, kenapa sih manusia itu jarang puas? Barangkali itu hal yang berlaku umum dimana hampir semua orang merasa bahwa ia akan terus menerus mencari apa yang memuaskannya di dalam hidup. Terlepas bahwa dalam kondisi temporer bahwa ia pasti menemukan kepuasan, setelah itu ternyata manusia tidaklah berhenti disana. Cenderung setelah itu, manusia merasa “lupa” bahwa ia pernah puas dan terus-menerus mencari segala hal yang memuaskannya.

Kepuasan tentu berarti luas. Bisa dikatakan, kepuasan yang bernilai material-lah yang dapat mewakili secara umum, misalnya kesehatan, kebercukupan bahan makanan, dan kekayaan. Bila dengan memilikinya orang-orang merasa puas, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kesemuanya itu merupakan faktor kebahagiaan. Benarkah ada korelasi antara tingkat kepuasan dengan kebahagiaan? Lalu, bagaimana biologi dan psikologi dapat mengaitkan satu faktor dengan yang lainnya?

Bagian otak old brain atau reptilian brain


Pernahkah kamu mendengar istilah ‘otak tua’ atau ‘otak reptil’? Ya, ternyata istilah itu benar-benar ada. Otak tua merupakan bagian otak yang disebut inti pusat yang bentuknya mirip pada semua vertebrata (spesies bertulang belakang), termasuk manusia. Disebut sebagai otak tua karena proses evolusinya dapat ternyata dapat ditelusuri kembali sejak 500 juta tahun ke struktur paling primitif yang dapat ditemui pada spesies non-manusia.

Bagian struktur utama dari inti pusat ini adalah medulla, pons, dan serebelum. Selain itu penampang utama yang mendukung diantaranya formasi retikular, thalamus, dan hipotalamus. Sepertinya beberapa istilah otak di atas tidak begitu asing, kan? Nah, bagian otak mana yang mengatur tingkat kepuasan manusia? Ternyata, ia adalah hipotalamus.

Bagian otak yang berukuran seruas jari ini terletak tepat dibawah thalamus. Walaupun sangat kecil, hipotalamus memegang peran sangat penting untuk menjaga suhu tubuh sekaligus memonitor jumlah nutrisi di dalam sel. Dalam kasus menjaga suhu tubuh, hal ini disebut homeostasis yaitu proses dimana hipotalamus bekerja untuk menjaga suhu lingkungan di dalam tubuh tetap seimbang. Selain itu, hipotalamus juga memegang tanggungjawab untuk meregulasi perilaku bagi kebertahanan hidup dasar dari manusia, seperti makan, perlindungan diri, juga kebutuhan seksual.

Kepuasan
Image: Kepuasan [pixabay]

Beranjak dari biologi menuju psikologi, sifat dari kerja hipotalamus berupa homeostasis tadi sangat berhubungan dengan teori kebutuhan defisit atau D-needs yang diciptakan oleh psikolog Abraham Harold Maslow. Dalam teorinya, Maslow menyebut bahwa empat kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan cinta dan rindu, serta kebutuhan harga diri ternyata diatur oleh cara kerja homeostasis yang dipegang oleh hipotalamus ini.

Maslow memberikan pandangan bahwa bila orang merasa kekurangan sesuatu, maka ia akan merasa defisit dan merasa sangat membutuhkannya. Tetapi bila sesuatu itu sudah didapatkan, maka orang tidak akan merasakan apa-apa lagi. Contoh paling mudah adalah ketika kita merasa haus. Bila kita sangat haus, tentu saja kita membutuhkan air minum. Akan tetapi, setelah kita minum dan dahaga kita hilang, maka kita tidak membutuhkan lagi air minum sampai rasa haus itu datang lagi.

Begitulah pengibaratan kerja dari homeostatis yaitu sebagai pengatur suhu, dimana fungsi kerjanya akan selesai bila suhu yang dibutuhkan tercapai -untuk kemudian bekerja lagi bila suhunya bergejolak. Maslow memperluas cakupannya pada teori D-needs karena sifatnya yang berupa insting (instinctold), yang artinya sudah ada pada manusia sejak ia lahir. Dengan kata lain, insting sangat berkaitan dengan fungsi ‘otak tua’ yang sudah dijelaskan.

Lalu, bagaimana kita menakar kepuasan?


Yuval Noah Harari, dalam bukunya berjudul Sapiens, menjelaskan salah satu parameter yang dapat diukur pada kepuasan adalah bagian dari kesejahteraan subjektif (subjective well-being), yaitu kebahagiaan yang didapat karena perasaan nikmat atau kepuasan jangka panjang dari yang orang alami sepanjang hidupnya.

Walaupun definisi puas atau nikmat dari tiap orang berbeda-beda, tapi yang tak dapat dielakkan adalah  hal ini sangat berkorelasi dengan performa dari kebugaran fisik kita, terutama fungsi otak sebagai penerjemahnya sehingga menimbulkan sensasi yang memuaskan. Bila otak kita sehat dan berfungsi baik, maka sebenarnya kita akan dapat mencapai kepuasan dan merasa berbahagia.

Harari menyebutnya dengan istilah kebahagiaan kimiawi, yaitu ketika kesejahteraan subjektif itu ternyata ditentukan oleh sistem kompleks saraf, neuron, sinapsis, hingga berbagai zat kimiawi di dalam tubuh seperti serotonin, dopamine, dan oksitosin. Menurut Harari, kepuasan itu datang pada manusia karena lonjakan rasa nikmat di dalam tubuh mereka.

Ia mengibaratkan dalam contoh kasus ketika manusia mendapatkan kenaikan jabatan di pekerjaannya. Orang itu dapat melompat kegirangan sebenarnya tidak bereaksi terhadap jabatan itu, melainkan karena bereaksi terhadap hormon yang melonjak dari dalam tubuhnya, juga sinyal listrik yang menyambar pada bagian otaknya. Hingga begitu, maka orang itu merasakan bahwa betapa bahagianya naik jabatan karena fisik -terutama otaknya- berfungsi dengan baik.

Apakah segalanya terasa masuk akal sekarang? Itulah sebabnya otak ternyata mampu mengatur kebahagiaan kita, bahkan hal yang sifatnya tak terukur seperti jatuh cinta. Bila dijelaskan secara kebahagiaan kimiawi, perasaan jatuh cinta diterjemahkan oleh otak dalam bentuk stimulus dopamine dan serotonin di dalam tubuh. Hal ini banyak berkaitan dengan teori D-needs yang disebutkan Maslow, dimana manusia mencari apa yang menurutnya kurang sehingga suatu saat ia merasa puas karena tubuhnya memberi sinyal bahwa hal itu sudah tercukupi.
 

Merasa puas dengan apa yang sudah kita miliki jauh lebih penting daripada memperoleh lebih banyak hal daripada apa yang kita inginkan.
-Yuval Noah Harari.


Lalu, bagaimana kita dapat mengambil inti dari permasalahan ketidakpuasan manusia ini? Coba kamu pikirkan, bahwa sebenarnya pemuasan segala hal akan menemui batasnya. Bila kita lapar, kita tentu akan mencari makan -akan tetapi bila kita sudah tidak lapar, maka kita tentu saja berhenti makan. Karenanya, ada batas tertentu dari tubuh kita yang menakar rasa puas. Meskipun diberikan asupan terus-menerus, bila sudah melewati tingkat kepuasan itu maka sebenarnya kita sudah tidak merasakan apa-apa sampai apabila hal itu berkurang dan hilang.

Tentu akan sama pengibaratannya dengan apa yang kita cari di dunia ini sebagai objek kepuasan dan kebahagiaan. Memiliki uang banyak, gelar tinggi, dapat berkeluarga, hingga memiliki posisi penting memang dapat memberikan rasa puas dan bahagia. Tetapi bila sudah mencapai tingkat tertentu bahkan melebihinya, maka hal itu cenderung tidak berarti apa-apa.

Oleh karenanya, kepuasan itu betul subjektif menurut apa yang kita butuhkan. Begitulah sepatutnya kita tak membandingkan yang kita miliki terhadap orang lain, karena tentu saja respon tubuh kita berbeda dalam memberikan maknanya.

Harari juga menuliskan, bahwa para nabi, penyair dan filsuf sudah menyadari sejak ribuan tahun yang lalu tentang apa arti dari kebahagiaan dalam definisi rasa syukur. Berfokuslah terhadap apa yang kita butuhkan dan yang kita sudah miliki, bukan dengan terus-menerus menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang hanya kita inginkan. Bersyukurlah, lalu berbahagialah.


Referensi :
[1] Sternberg, Robert J. 2008. Psikologi Kognitif, Edisi Keempat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
[2] Boeree, C. George. 2010. Personality Theories. Yogyakarta : Prismasophie
[3] Harari, Yuval Noah. 2014. Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta : Kelompok Penerbit Gramedia (KPG)

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Monday, December 3, 2018

Bingung Mencari Ide? Konsep Dasar Mendapatkan Ide Kreatif

Pernahkah kamu mendapatkan ide yang seketika membuat matamu terbuka dan kata "oh" terucap dari mulutmu? Momen eureka ini begitu menggembirakan, membuatmu senang karena menjadi harapan yang nantinya bisa menyelesaikan masalahmu atau meningkatkan kualitas hidupmu.

Ide terbentuk dari berbagai macam pengetahuan yang pernah dipelajari oleh si penggagas ide. Semakin banyak kamu mempelajari hal baru, kamu semakin berpeluang mendapatkan ide yang brilian.

Oleh karena itu, banyak dari kita yang menyarankan bahwa untuk mendapatkan ide maka kamu harus tenang, jalan-jalan, berkeliling, menonton film, membaca buku, atau mengunjungi pameran seni bahkan menghayal.

"Why is it I always get my best ideas while shaving?"
- Albert Einstein
(Mengapa saya selalu mendapatkan ide terbaik saat bercukur?, - Albert Einstein)

Dari aktifitas yang telah kamu lakukan, kamu akan mendapatkan data-data yang kemudian disortir oleh otakmu, sesuai kebutuhan penyelesaian masalah yang sedang kamu hadapi.

Data-data yang telah tersortir dan dianggap penting akan disusun, dipadukan, dicampur aduk sampai akhirnya ide tersebut terbentuk. Ide yang sudah terbentuk tidak berarti benar atau salah, sesuai atau melenceng dari penyelesaian masalah atau pencapaian yang sedang kamu raih.

Sebagai contoh, kamu memiliki impian menjadi seorang pengusaha sukses dengan produk yang bisa mengajak orang lain untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan. Kemudian kamu mendapatkan ide yaitu membuat gelang yang dapat difungsikan menjadi kantung layaknya kantong kresek.

Sepintas mungkin hal tersebut terdengar aneh dan "bagaimana mungkin?", namun hal tersebut benar-benar terlah terjadi. Produksi berlangsung bersama teman-temanmu, sesi penjualan dilakukan dan selang beberapa minggu kamu baru menyadari bahwa minat pasar begitu rendah dan potensi produk yang kamu ciptakan juga rendah.


Kamu mendapatkan ide hanya sampai teknis bagaimana produk itu terbentuk tapi tidak melibatkan data potensi pasar dalam idemu. Akhirnya tujuan kamu menjadi pengusaha produk ramah lingkungan tertunda atau bahkan terhenti.

Tentu kita sering mendengar untuk menjadi sukses, kita akan menemui kegagalan bertubi-tubi. Aksi kemudian gagal, kita melakukan evaluasi kembali beraksi, akhirnya menemukan kemajuan dan selang beberapa waktu kemudian gagal kembali.

Saat kamu belajar untuk bangkit dari kegagalanmu, pembelajaran yang kamu lakukan adalah bertujuan mendapatkan data yang memantik ide baru yang akan kamu gunakan untuk keluar dari zona kegagalan saat ini. Ketika kamu berhasil, bersiaplah akan tiba pada zona kegagalan yang baru.

"Sejauh mana kamu berhasil menembus sekat sekat kegagalan itu?"

Dua kunci utama untuk mendapatkan ide adalah "data berupa bahan ide" dan "metode pengolahan data tersebut." Tentunya hal tersebut hanya dapat kamu peroleh dalam proses belajar.

Data disekitarmu begitu banyak, kamu melihat, mendengar, menghirup aromanya merupakan data. Namun bagaimana cara kamu menangkap data yang ada disekitarmu hanya dapat dilakukan ketika kamu telah belajar. Semakin jauh kamu belajar, semakin mudah kamu menangkap datanya.

Kemudahan menangkap data dikarenakan kamu tau cara pengolahan data tersebut walaupun hanya secara sebatas garis besar. Cara pengolahan data ini berpeluang lebih besar ketika kamu membaca buku, dikelilingi dengan orang-orang yang telah berpengalaman, atau mempelajari apapun disekitar kamu.

Awali dengan pertanyaan setidaknya untuk diri sendiri. Sebaiknya tidak memunculkan pertanyaan terus menerus sebelum setiap pertanyaan sebelumnya terjawab, hal itu hanya akan membebani pikiranmu dan jatuhnya, kamu akan mengeluhkan pusing.

Planning first before action, kemudian eksekusi, lakukan uji coba, disana kamu akan menemukan trial and error. Kami yakin banyak orang yang memiliki ide yang luar biasa, ide yang belum pernah dihadirkan sebelumnya. Tapi mengapa hal tersebut tidak direalisasikan?

Excuse,...
Desakan orang-orang terdekat?
Sulit meninggalkan yang digadang-gadang sebagai "kepastian"?
Modal materi dan ilmu?

Jika memang hal tersebut yang manjadikan alasan kamu no action, then setidaknya rencanakan sejelas-jelasnya. Time framming and mapping. Menekan harga ketika eksekusi ide dapat dilakukan riset atau survey terkait dengan ide yang akan dibangun. Apakah ide tersebut sesuai dengan khalayak yang dibutuhkan?

Ide, Rencana dan Aksi
Image. Ide, Rencana dan Aksi [Pixabay]

Orang yang sukses akan menemui kegagalan, begitupun sebaliknya. Tidak ada orang yang menjalani hidupnya lancar bak air yang mengalir didalam pipa paralon yang lurus dan panjang. Yang membedakan mereka yang terlihat sukses bagi kita dengan kesuksesan sementara adalah konsistensi mereka untuk terus belajar dan bertumbuh.

Recommended post:

Referensi:
Ide Saja Tidak Cukup, Butuh Kesiapan Lebih sebelum Menghadap ke Investor. dailysocial
Ditkoff, Mitch. 2010. 50 Awesome Quotes on the Power of Ideas. ideachampions

Penulis FH Rijal
Penulis konten: Rijal
"Anak teknik yang juga belajar psikologi, suka hal yang berkaitan dengan komputer, dan seorang ambivert."