loading...

Saturday, February 16, 2019

Hal Yang Wajib Kamu Ketahui Mengenai Motivasi

Ketika kamu tertarik membaca tulisan ini, barangkali kamu sedang merasa ‘kekurangan’ motivasi ketika menjalani pekerjaan dan karirmu. Ya, tentunya itu bukan gejala yang aneh ditengah banyak sekali tuntutan yang mesti dikerjakan sekaligus dicapai dalam pekerjaan. Atau, siapa tahu apa yang kamu kerjakan dengan susah payah saat ini justru berlawanan dengan passionmu? Lalu mesti bagaimana, sedangkan setir sudah terlalu kaku untuk sekadar diputar, apalagi dibanting. Mau tak mau, seringkali memang kita mesti menyelesaikan apa yang kita kerjakan.

Rasanya tidak cuma kamu sendiri yang mengalami ini, kok. Tetapi, yang sukses diluaran sana bukanlah orang yang selalu memiliki nasib beruntung berada tepat di jalur yang dia inginkan, melainkan orang yang sejatinya bisa bertahan. Tidak jarang di beberapa pekerjaan yang berat dan menantang, masih ada orang yang melakukannya dengan sikap yang sangat baik dan bertanggungjawab. Bagaimana bisa? Kalau saya mengatakan itu dari motivasi tentu bukanlah sebuah rahasia. Nah, yang muncul dari permukaan saat ini adalah ‘apa sih rahasia dari motivasi?’ yang tentunya sering orang ingin kupas isinya daripada hanya sekedar arti kulitnya.

Rahasia Motivasi
Image: Rahasia Motivasi

Motivasi, sebagaimana definisi sebuah benda, akan mengalami pengaruh dari dalam maupun dari luar. Ibarat perangkat lunak, motivasi akan selalu bergantung kualitasnya pada faktor instrinsik dan ekstrinsik yang dialami dari perspektif manusia. Kalaulah bisa dikatakan, motivasi itu sudah tertanam secara alami pada diri manusia selama ia merasa harus merespon dorongan ‘suara hati’nya maupun tekanan dari lingkungan sekitarnya. Dua faktor yang niscaya ini tentu tak bisa seimbang sewaktu-waktu, sebagaimana bentuk keadaan tiap orang yang berbeda-beda. Toh, ada saja orang yang melakukan pekerjaannya dengan senang hati tanpa diminta karena ia menyenanginya, dan ada juga orang yang baru akan berjuang setelah ia merasa tertekan atas pengaruh lingkungan pekerjaannya.

Lalu, bagaimana bila kita sedang berada dalam sisi yang tidak menguntungkan? Taruhlah apa yang sedang kita kerjakan sekarang tidak didukung oleh dorongan intrinsik sedangkan faktor ekstrinsik menekan begitu besar. Oleh karena itu, kita lazim mengalami bentuk reward dan punishment dalam pekerjaan sebab tak semua orang dapat senantiasa bekerja dengan sepenuh hati. Sebuah penghargaan diberikan ketika pekerjaan itu selesai dengan baik, begitupun sebuah hukuman diberikan bila terjadi hal yang sebaliknya. Lalu, apakah itu adalah solusi terbaik untuk menjaga motivasi?

Dilansir dari TED Talks, ada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Sam Glucksberg, seorang professor psikologi dari Universitas Princeton yang menguji seberapa besar faktor reward dan punishment dapat memotivasi sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan. Cara yang ia lakukan yaitu membagi dua kelompok, yaitu kelompok pertama diarahkan untuk mengerjakan sesuatu tanpa hadiah maupun hukuman, sedangkan kelompok kedua diberikan penghargaan berupa uang 5 dolar bila menyelesaikannya dalam waktu cepat dan diantaranya yang paling cepat akan diberikan uang 20 dolar. Apa yang terjadi? Ternyata yang terjadi pada kelompok kedua mereka mengerjakannya 3,5 menit lebih lama daripada kelompok yang pertama.

Bagaimana mungkin kekuatan insentif ternyata memperlama pekerjaan? Pada pekerjaan yang sifatnya mekanistis/birokratif hal ini bisa sesekali bekerja, tetapi untuk pekerjaan yang membutuhkan nalar hal ini menjadikan hasilnya lebih buruk. Kenapa? Karena pekerjaan yang sifatnya mekanistis/birokratif cenderung memiliki solusi tetap sehingga fokus kita tertuju kesana. Tetapi, untuk pekerjaan yang membutuhkan nalar maka hadiah tersebut justru tidak membuat kita fokus dan mengabaikan solusi yang lebih luas.

Maka, kita tentu bertanya-tanya bila sebuah bentuk hadiah dan hukuman tak mampu untuk mengatrol motivasi, maka adakah cara lain? Viktor E Frankl, seorang psikolog kenamaan dari Austria menulis dalam bukunya Man’s Search For Meaning, bahwa cara yang jarang orang ketahui untuk meningkatkan motivasi yaitu dengan memberi makna pada setiap pekerjaan yang kita lakukan. Hal ini ia sebutkan dalam ajarannya yaitu logoterapi, yang diartikan sebagai pencarian menuju makna (will to meaning).

Tentu saja, setiap bagian pekerjaan yang kita lakukan di dunia ini akan menuntut pengorbanan, baik fisik maupun psikis. Tak jarang, ada perasaan menderita bila kita melakukan hal yang kita tidak senangi. Bila sudah sampai pada pertanyaan ‘untuk apa semua yang saya lakukan ini?’,menurut Frankl kita sudah menuju pada tahapan kehampaan eksistensial, dimana kita beranjak pada pemikiran supra-makna dan makin berkonflik dengan naluri kita untuk keluar dari penderitaan tersebut. Tak jarang, banyak orang yang berani keluar dari karir yang ia bertahun-tahun hanya untuk mencari sesuatu yang kurang di dalam hidupnya.

Hal ini disebut oleh Frankl sebagai fenomena noodinamika, dimana sewaktu-waktu dalam upaya pencarian makna hidup itu manusia mengalami ketegangan batin, dengan kata lain bisa dilihat pada naik turunnya motivasi dalam diri manusia. Tetapi menurut Frankl, hal itu merupakan sebuah hal normal dan merupakan prasyarat bagi tercapainya kesehatan mental. Maka, kita tak usah risau bahwa sewaktu-waktu motivasi kita terhambat di tengah jalan, sebagaimana itu adalah proses untuk kesehatan mental kita sendiri.

Beranjak dari situ, Frankl juga menulis bahwa untuk menemukan makna salah satu jalannya yaitu dengan menjalani penderitaan dengan berani. Bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan takkan dijalani dengan mudah, bahkan ketika jalan yang kita tuju sudah sesuai dengan yang kita inginkan. Kuncinya, adalah jalani saja walaupun berat sebab disitulah kita bisa menemukan makna dari apa yang kita kerjakan. Inilah dorongan intrinsik yang nantinya akan kembali menaikkan motivasi kita.

Sebuah contoh, ketika kamu sedang malas mengerjakan skripsi, maka cara terbaik untuk terus menjaga motivasi adalah menyadari bentuk tanggungjawabmu disana dan menjalani setiap langkahnya walau berat. Seringkali akan muncul ‘tenaga baru’ yang tak disangka-sangka bila sudah menjalani fase malasnya. Maka, untukmu yang sedang mengalami penurunan motivasi, cobalah untuk berpikir bahwa ini adalah proses yang akan membuatmu jadi lebih baik di masa depan. Pepatah mengatakan, takkan ada jalan pintas untuk sebuah pengalaman. Jadi, bagaimana kalau mulai sekarang atur mindsetmu untuk berjuang saja sepenuh hati? Semoga tak hanya hasil yang kamu dapatkan, melainkan makna besar dibalik itu yang akan menjadikan hidupmu lebih bernilai.
Tetap semangat ya!

“Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesediahan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya.”

-Viktor E Frankl.

Recommended post:

Referensi:
[1] Dan Pink, The Puzzle of Motivation. TED Talks. [ted]
[2] Frankl, Victor E. 2017. Man’s Search For Meaning. Mizan Media Utama : Bandung.

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, February 9, 2019

Psikologis Kakak Beradik Terhadap Lingkungan Keluarga

Untukmu yang terlahir bukan sebagai anak tunggal alias mempunyai saudara baik kakak maupun adik, pernahkah kamu merasakan pertentangan yang lebih dari sekedar bertengkar karena berebut mainan sewaktu kecil? Misalnya sebagai anak sulung, kamu merasa memikul tanggung jawab yang berat sebagai kakak, yang dituntut menjadi panutan adikmu. Atau sebagai anak bungsu, kamu merasa kurang dihargai karena tidak mendapatkan kepercayaan untuk menjalani banyak hal, sebesar yang orangtuamu berikan pada kakakmu. Tetapi dibalik itu, kakak atau adikmu sekaligus menjadi orang yang paling menguatkanmu ketika kamu lemah.

Image: Saudara Kandung [Pixabay]

Nyatanya, hubungan antar saudara tidak sesederhana bertengkar karena berebut remote televisi kemudian akur dan bermain bersama kembali. Hubungan saudara adalah hal yang kompleks, seperti yang disampaikan Jeffrey Kluger ketika menjadi pembicara di TED Talk,

“There may be no relationship that effects us more profoundly, that's closer, finer, harder, sweeter, happier, sadder, more filled with joy or fraught with woe than the relationship we have with our brothers and sisters.”
–Jeffrey Kluger.

(Mungkin tidak ada hubungan yang memengaruhi kita lebih dalam, lebih dekat, lebih baik, lebih sulit, lebih manis, lebih bahagia, lebih sedih, lebih terisi oleh sukacita atau dukacita daripada hubungan yang kita miliki dengan saudara-saudari kita.)

Secara umum, kita tahu bahwa cara orang tua mendidik akan memengaruhi kepribadian dan perilaku kita, tetapi menurut Psikolog bernama Dorothy Rowe, kita sering mengabaikan kalau hubungan adik-kakak juga ikut memberi pengaruh. Ya, dalam pandangan psikologi, istilah ‘Sibling Bond’ atau ikatan kakak-adik bisa menjadi ikatan yang penuh kasih sayang dan menguatkan, tetapi bisa juga menjadi ikatan yang menyebabkan kebencian dan persaingan. Hal itu disebabkan oleh adanya fenomena urutan kelahiran dan favoritisme diantara orang tua dan anak. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa fenomena yang sering terjadi dalam ikatan kakak-adik.

Fenomena Persaingan Saudara Kandung


Dibalik hubungan kedekatan antar saudara terdapat perselisihan yang terjadi secara alami. Neil Bush, saudara kandung dari presiden Amerika yang ke 46, George W Bush menyatakan bahwa Ia kehilangan kesabaran karena seringkali dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Mungkin, kita juga pernah mengalami hal yang sama, dibandingkan dalam hal prestasi, misalnya.

Setelah dilahirkan, kita cenderung melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang tua kita, menentukan apa ‘nilai jual’ terkuat kita yang dapat menarik perhatian kedua orang tua. Para ilmuwan menyebut hal ini sebagai proses ‘identifikasi’. Kita mengidentifikasi diri sebagai anak yang lucu, anak yang cantik, anak yang cerdas atau anak berprestasi misalnya dengan menjadi seorang atlet. Sayangnya, kadang-kadang orang tua mencemari proses identifikasi anaknya. Misalnya hanya anak yang berprestasi yang diberi apresiasi oleh mereka sehingga perselisihan akan terjadi antar saudara.

Kabar baiknya, perselisihan yang terjadi dirumah, secara tidak langsung mengajarkan cara menghindari konflik dan penyelesaian konflik. Kita belajar kapan harus membela diri, kapan harus mundur. Kita juga belajar tentang cinta, kesetiaan, kejujuran, berbagi, perhatian, juga kompromi. Hal-hal tersebut akan sangat berguna untuk menghadapi kehidupan di masa mendatang, ketika sudara kandung bahkan tidak tinggal bersama lagi.

Fenomena Urutan Kelahiran (Birth Oder + Parenting = Behaviour)


Dr. Kevin Leman, seorang psikolog sekaligus penulis buku The Birth Order Book: Why You Are the Way You Are (Revell) yang memelajari urutan kelahiran sejak 1967, percaya kalau rahasia perbedaan kepribadian dipengaruhi oleh urutan kelahiran dan bagaimana cara orang tua memperlakukan mereka.

#1 Anak Sulung

Anak pertama menjadi eksperimen pertama kedua orang tuanya, diasuh dengan penuh perhatian dan ketat dengan aturan, menyebabkan secara alami anak sulung akan menjadi anak yang perfeksionis. Ia berusaha selalu membuat senang orang tuanya. Ia cenderung ambisius dan mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai seseorang yang berprestasi. Anak sulung lebih cenderung untuk mengambil posisi kepemimpinan. Dalam survei pada 2007 terhadap 1.582 kepala eksekutif, 43% melaporkan bahwa mereka adalah anak pertama. Namun, tidak selalu benar bahwa anak yang pertama kali lahir dari rahim ibunya akan secara otomatis tumbuh menjadi seorang pemimpin.

#2 Anak Tengah

Menurut seorang terapis bernama Meri Wallace, anak tengah sering merasa ditinggalkan dan merasa seperti, “Yah, aku bukan yang tertua, juga bukan yang termuda. Siapalah aku?”

Berada diantara seorang kakak dan adik, membuat anak tengah memiliki sifat pemberontak. Kalau menurut Kluger, anak tengah adalah sebuah ‘teka-teki’, seringkali kepribadian mereka sulit diartikan karena mungkin adalah campuran dari perilaku kakak dan adiknya. Saat dewasa, anak tengah adalah seseorang yang fokus pada hubungan, ia dapat menjadi negosiator hebat yang dapat mendamaikan antar pihak yang berbeda.

#3 Anak Bungsu

Anak bungsu cenderung menjadi yang paling semangat dan mencintai kebebasan. Ibaratnya, mereka adalah yang dilahirkan untuk ‘menulis ulang peraturan’. Mereka cenderung lebih pemberontak daripada anak tengah, lebih lucu, intuitif dan kharismatik. Karena sikap dan pembawaannya itu, anak bungsu saat dewasa mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang artis, seniman bahkan komedian.

Fenomena Anak Favorit Orang Tua


Sebagai editor senior di majalah TIME, Kluger pernah mengutip sebuah penelitian bahwa 70% Ayah dan 65% Ibu memiliki ‘anak favorit’ setidaknya pada salah satu anak. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap pilih kasih pada anak yang menjadi favoritnya masing-masing. Hal itu disebut dengan favoritisme. Favoritisme bukanlah sepenuhnya kesalahan orang tua, itu terjadi secara alami. Pada umumnya, seorang Ayah cenderung menjadikan anak perempuan terakhir sebagai favoritnya. Sedangkan seorang Ibu cenderung menjadikan anak laki-laki pertama sebagai yang paling disukainya.

Entah bagaimana, jika anak yang berbeda lawan jenis dengan orang tuanya, misal anak perempuan dengan Ayahnya dan mereka mirip secara temperamen, akan membuat Ayahnya lebih mencintainya daripada anak yang lain. Ayah yang seorang pengusaha, akan menyukai putrinya yang berpandangan kuat tentang dunia dan mempunyai ketertarikan pada bisnis. Juga seorang Ibu yang sensitif, akan menyukai putranya yang seorang penyair dibandingkan anak lainnya.

Menurut Kluger, ikatan saudara adalah cinta abadi. Orang tua kita meninggalkan kita terlalu cepat, sedangkan pasangan dan anak-anak kita datang terlambat. Saudara kandung adalah satu-satunya yang bersama kita dalam seluruh perjalanan hidup kita. Karena itu jika kita memiliki saudara kandung dan tidak memanfaatkan ikatannya adalah kebodohan utama. Jika hubungan kita dengan kakak/adik rusak dan perlu diperbaiki, maka perbaikilah. Jika hubungannya baik-baik saja, maka  buatlah hubungan kita dengan mereka menjadi lebih baik lagi. Gagal melakukannya adalah seperti memiliki ribuan hektar lahan pertanian subur tapi  tidak pernah menanamnya. Hidup ini singkat, terbatas, dan itu dimainkan untuk disimpan. Saudara kandung mungkin salah satu dari panen terkaya pada waktu yang kita miliki di sini.

“Life is short, it's finite, and it plays for keeps. Siblings may be among the richest harvests of the time we have here.”

–Jeffrey Kluger

(Hidup ini singkat, terbatas, dan harus siap dengan segala konsekuensinya. Saudara kandung mungkin salah satu dari panen terkaya pada waktu yang kita miliki di sini.)

Recommended post:

Referensi:
Kluger, Jeffrey. 2011. The Sibling Bond. [TED]
Voo, Jocelyn. __. How Birth Order Affects Your Child's Personality and Behavior. [Parents]
Greenwood, Chelsea. 2018. Firstborn children are more likely to be CEOs, and other things your birth order can predict about your future. [Businessinsider]

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, February 2, 2019

Cara Terbaik Menyikapi Hoax

Membaca judul diatas, sepertinya ini adalah pertanyaan kita bersama yang sangat berhubungan dengan banyak sekali kejadian yang terjadi di masyarakat. Mungkin juga sebagian dari kita sudah mendengar apa itu hoaks, bahkan tanpa sengaja mungkin pernah menjadi bagian dari pelaku atau korban hoaks. Tidak hanya di media massa, bahkan hoaks pun banyak menyebar di kalangan akademisi. Tetapi, kita tentu masih bingung bagaimana cara menyikapi hoaks agar tak menjadi pelaku maupun korban?

Mari kita mulai dengan memahami lebih jauh apa itu hoaks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoaks memiliki arti yaitu berita bohong. Sementara dalam Kamus Oxford, hoaks berarti penipuan yang membahayakan. Nah, dari pengertian itu tentu kita tahu persis bahwa hoaks sungguh berbahaya, terlebih di saat ini banyak sekali saluran-saluran informasi yang sulit diverifikasi kebenarannya sehingga mengakibatkan kesimpangsiuran di masyarakat. Sebenarnya, kenapa sih fenomena hoaks ini muncul?

Surat kabar
Image: surat kabar [pixabay]


Dilansir dari Elsevier, Max Goldman yang merupakan seorang ahli pengembangan dari senseaboutscience.org memaparkan alasan kenapa orang-orang menyebarkan hoaks karena sebagian besarnya ingin mengambil perhatian dari orang di sekitarnya. Kabar yang aneh dan sensasional akan membuat orang-orang banyak membicarakannya dan tentu saja dapat menjadi keuntungan bagi penyebar hoaks. Bentuk yang paling banyak mengambil atensi saat ini tentu saja penyalahgunaan gambar atau video yang dimanipulasi sedemikian rupa hingga menimbulkan kegegeran di media sosial hingga cepat menyebar karena sifatnya yang viral. Bila sudah seperti itu, biasanya penyebar hoaks akan mendapat keuntungan dari sorotan media konvensional yang memiliki banyak pengikut.

Apakah fenomena hoaks dapat dikatakan baru ada sejak era media sosial? Tentu tidak, dengan asumsi bahwa terjadinya misinformasi akan berpotensi terjadi dikarenakan beberapa faktor, diantaranya karena lebih kuatnya opini yang terlanjur berkembang, fakta yang tidak tergali secara lebih dalam, serta tidak adanya klarifikasi yang dapat meluruskan hoaks tersebut. Salah satu contoh hoaks di era sebelum media sosial terdokumentasi pada tahun 1686 di Inggris Raya, dimana terdapat selebaran surat kabar yang mengajak masyarakat Inggris untuk menonton pertunjukan memandikan singa di Menara London -dan hal itu tidak pernah terjadi.

Boleh jadi, sejak jaman dulu juga sebenarnya banyak sekali hoaks yang menyebar di masyarakat dan sangat berpengaruh besar karena minimnya akses informasi dan sarana pendukungnya. Orangtua kita dahulu mungkin masih mengandalkan siaran radio dan membaca koran untuk menerima informasi, hanya sebagian kecil yang memiliki akses ke siaran televisi. Tentu pada masa itu agak sulit untuk mengonfirmasi apakah berita yang diterima itu hoaks atau tidak dikarenakan minimnya akses juga sedikitnya sumber alternatif berita lain yang isinya dapat dibandingkan, selain juga karena ada faktor saluran informasi yang dibatasi dan dikontrol pada era sebelum reformasi.

Apakah kamu tahu hoaks paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia? Salah satunya adalah sejarah dari Surat Perintah Sebelas Maret atau dikenal dengan Supersemar, yakni sebuah surat sakti yang kabarnya dikeluarkan oleh Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966 yang menginstruksikan Mayjen Soeharto (yang kelak menjadi presiden) untuk “mengambil alih situasi keamanan yang buruk” pasca terjadinya pemberontakan G-30S PKI. Sampai saat ini, dokumen asli dari Supersemar tidak pernah tersimpan di Lembaga Arsip Nasional RI hingga menimbulkan banyak spekulasi dan berkembangnya teori konspirasi baik dari para sejarawan, ahli hukum, hingga masyarakat biasa. Hal ini berefek pada banyaknya sumber berita yang tidak jelas kebenarannya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan akibat terlalu banyaknya opini publik tentang peristiwa tersebut.

Kembali ke pertanyaan di awal, bagaimana cara kita untuk menyikapi banyaknya informasi hoaks yang ada di sekeliling kita? Pertama-tama, mulailah dengan memahami konteks informasi. Bila itu berbentuk berita, maka usahakan kita mampu untuk mengidentifikasi linimasa waktunya. Bila sudah sesuai, maka kemudian kita mesti melihat seperti apa bentuk berita yang disampaikan. Lebih lanjut, kita mesti tahu kredibilitas si penyampai berita, apakah dari sumber terpercaya atau sumber yang tidak jelas asalnya? Disitulah kecerdasan kita dalam memahami konteks berita akan diuji karena tak semua berita yang benar sesuai fakta akan naik ke permukaan dan mudah diterima. Hal itu disebabkan karena bentuk informasi yang viral biasanya bersifat bombastis, nyeleneh, dan lebih mengambil atensi publik sehingga berefek mengubur fakta sesungguhnya dari berita itu sendiri.

Selain itu, kita juga mesti memahami fenomena bias konfirmasi, dimana kita patut menghindari informasi yang hanya mendukung pendapat yang kita sukai secara pribadi dan mengabaikan alternatif fakta yang lain. Oleh karena itu, lebih baik bila kita menelusuri aneka pemberitaan yang lain sebagai pembanding, seperti membaca portal berita yang lebih beragam selain dari yang seringkali kita baca agar informasi yang kita miliki dapat lebih berimbang. Bila sudah begitu, maka biasanya kita akan lebih mudah menyaring informasi mana yang paling akurat.

Apabila kita mengetahui suatu hoaks dari sebuah informasi, maka ada baiknya kita melaporkannya agar dapat diklarifikasi oleh yang berwenang. Contohnya, seperti yang dilakukan oleh Dinas Kominfo provinsi Jawa Barat yang meluncurkan akun Instagram @jabarsaberhoaks dimana para pembaca media sosial dapat melaporkan hoaks apa saja yang mereka temui di media sosial untuk nantinya dapat diklarifikasi. Hal ini adalah langkah baik dari hadirnya pemerintah dalam mengurangi potensi buruk dari hoaks yang disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Juga dalam hal ini, pembaca informasi yang cerdas juga diwadahi untuk berpartisipasi dalam memberantas hoaks yang banyak berseliweran di media sosial maupun media konvensional.

Nah, apakah kamu sudah termasuk pembaca informasi yang cerdas? Maka, hindarilah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, pahami konteksnya lebih dulu lalu kemudian laporkan hoaks pada pihak yang berwenang. Yuk, berantas hoaks bersama-sama!

“Mari jadikan Jawa Barat damai, kondusif, dan dijauhi dari berita yang meresahkan dan memecah-belah”

- Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat

Recommended post:


Referensi:
Hilten, Lucy Goodchild van. 2015. Science hoaxes: Why do we fall for them – and who benefits?. [Elsevier]
Liputan6. 2017. Darimana asal usul hoax?. [Liputan6]
Wikipedia. April Fools' Day. [Wikipedia]
Wikipedia. Surat Perintah Sebelas Maret. [Wikipedia]
Instragram @jabarsaberhoaks

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Sunday, January 27, 2019

[Hawthorne Effect] Yang Diharapkan Karyawan Di Tempat Kerjanya

Jika kamu adalah seorang karyawan atau pegawai, bagaimana sikapmu ketika atasan sedang mengawasimu saat bertugas? Kamu melaksanakan tugas-tugas dengan baik seperti hari-hari biasanya saat kamu sedang tidak diawasi atasan, atau kamu saat itu bekerja dengan lebih baik karena merasa ada ‘tuntutan’ untuk bersikap baik di depan atasanmu itu?

Dalam ilmu psikologi, ada sebuah fenomena dimana seseorang cenderung mengubah perilaku mereka ketika sadar kalau mereka sedang diamati, fenomena tersebut dikenal dengan istilah ‘Hawthorne Effect’. Gillespie mendefinisikannya sebagai berikut,

It is the tendency of people being observed, as part of a research effort, to behave differently than they otherwise would.

– Gillespie.

(Kecenderungan orang yang diamati, sebagai bagian dari penelitian, adalah berperilaku berbeda dari yang seharusnya.)

Perubahan perilaku tersebut biasanya mengarah pada hal yang positif. Ketika kamu bekerja lebih keras dan kinerjamu lebih baik karena kamu sadar sedang dinilai oleh orang lain, bisa jadi kamu mengalami fenomena tersebut.

Fenomena Hawthorne Effect pada Penelitian Industri


Penamaan istilah pada fenomena Hawthorne Effect bukan diambil dari nama penelitinya, melainkan nama tempat dimana eksperimen dilakukan. Tahun 1924 dan 1932, seorang profesor di Harvard Business School bernama Elton Mayo melakukan penelitian di perusahaan listrik Western Electric’s Hawthorne Works. Ia meneliti bagaimana perubahan pada kondisi fisik tempat kerja berpengaruh pada kinerja karyawan perusahaan itu.

Penelitiannya yang paling terkenal pada kondisi fisik tempat kerja adalah mengenai  tingkat cahaya dalam gedung, bahwa apakah menambah atau mengurangi cahaya akan membuat kinerja karyawan menjadi lebih baik. Hasilnya, produktivitas karyawan meningkat, tidak hanya saat cahaya ruangan ditingkatkan (lebih terang), tetapi juga ketika cahaya ruangan dikurangi (lebih gelap). Tapi, apakah produktivitas karyawan terus meningkat setelah itu? Sayangnya, tidak. Produktivitas karyawan kemudian menurun setelah penelitian sudah selesai dilakukan.

Pekerja
Image: Pekerja [Pixabay]

Tahun 1955, Henry A. Landsberger mencoba menganalisis eksperimen Mayo tersebut. Ia meneliti produktivitas karyawan di suatu perusahaan dari aspek psikologis, berupa waktu istirahat dan jam kerja. Ketika waktu istirahat dihilangkan dan jam kerja justru diperpanjang, produktivitas karyawan bukannya menurun, malah meningkat. Kenapa ya? Sejak itu, kesimpulan dalam sebuah penelitian dinilai menjadi bias. Mengapa hampir semua perubahan yang dilakukan dalam rangka mengambil kesimpulan pada penelitian menyebabkan kinerja meningkat? Secara logika, bukankah karyawan seharusnya merasa tertekan dan kinerjanya cenderung menurun ketika tidak diberi waktu istirahat sedikitpun?

Dari penelitian tersebut, Landsberger mengambil kesimpulan bahwa ada sebuah fenomena dibalik hasil penelitian-penelitian tersebut yaitu Hawthorne Effect. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa hal tentang Hawthorne Effect

#1 Mengubah Perilaku Karena Merasa Diperhatikan

Dalam pekerjaan, orang-orang seringkali bekerja lebih keras dan kinerjanya akan lebih baik ketika sadar bahwa mereka sedang menjadi perhatian. Mereka sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh peneliti sehingga menuntut diri mereka untuk melakukan yang terbaik (kasarnya, berpura-pura baik). Terlepas dari serangkaian perubahan yang sengaja diciptakan untuk meneliti mereka.

#2 Mengubah Perilaku karena Merasa Istimewa

Orang-orang yang menjadi bagian dari penelitian, merasa menjadi orang yang istimewa karena terpilih menjadi objek penelitian, dan mereka senang dengan itu. Mereka secara halus akan mengubah perilaku mereka di depan peneliti. Seringkali, jawaban-jawaban yang mereka berikan ketika ditanya oleh peneliti pun bukan jawaban yang natural, alias dilebih-lebihkan.

#3 Peningkatan Kinerja Bersifat Sementara

Baik pada penelitian yang dilakukan Mayo maupun Landsberger, kinerja karyawan meningkat terus hanya dalam masa penelitian itu berlangsung. Ketika penelitian telah selesai, kinerja karyawan mulai menurun. Landsberger mendefinisikan Hawthorne Effect ini sebagai peningkatan jangka pendek dalam sebuah penelitian.

#4 Hawthorne Effect Menjadi Pertimbangan dalam Penelitian

Efek ini banyak dibahas dalam buku psikologi, terutama dalam psikologi industri dan organisasi. Efek ini nyataya juga menjadi pertimbangan besar dalam penelitian medis. Akan menjadi masalah besar ketika hasil penelitian medis menjadi bias, menjadi diragukan kevalidannya. Hawthorne Effect ini dianggap menimbulkan respon terapi yang berlebihan, lebih tinggi dibanding respon yang sebenarnya dirasakan oleh pasien.

Dilansir dari Alomedika, salah satu studi uji klinis dari American College of Rheumatology (ACR) mengalami bias tersebut. Kesimpulan dari uji klinis yang dilakukan kepada 246 pasien Artitis Rematik (AR) bahwa selama penelitian berlangsung, perbaikan nyeri terjadi sebesar 51,7%, sedangkan setelah penelitian selesai, menjadi menurun hingga 39,7%. Hal tersebut terjadi diperkirakan karena adanya Hawthorne Effect dimana pasien merasa istimewa dan diperhatikan sehingga memberi respon yang berlebihan.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai peneliti jika ingin meminimalisir terjadinya Hawthorne Effect dalam penelitian? Hmm... beberapa cara ini yang bisa kamu lakukan,

Pertama, kamu bisa menerapkan teknik obsevasi naturalistik, dimana kamu bersikap seolah-olah objek penelitian tidak sedang diteliti. Teknik ini dapat minimalisir kesadaran mereka sebagai orang yang istimewa dan yang terpilih dalam penelitianmu.

Kedua, nyatakan kepada mereka sebagai objek penelitian bahwa tanggapan mereka dalam penelitian ini bersifat rahasia atau anonim. Dengan itu, mereka mungkin akan lebih sedikit mengubah perilaku, mereka tidak perlu berlebihan dan berpura-pura dalam meberikan respon karena mereka merasa tidak akan dinilai dari respon yang mereka berikan. Mungkin, kedua cara itu bisa membantumu mendapatkan kesimpulan yang tidak bias dan lebih valid dalam penelitian.

Atau, jika kamu ingin mengetahui perubahan mana yang bisa diterapkan ditempat kerjamu tanpa melakukan penelitian sendiri, kamu bisa mengambil beberapa contoh dari survey-survey yang telah dilakukan orang lain. Berikut Fenomen Harimu rangkum beberapa hal yang diharapkan pekerja agar termotivasi dan lebih produktif bekerja, dilansir dari website Forbes dan The Balance Careers,

  1. Lingkungan kerja fleksibel (menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan seperti mendukung sistem kerja jarak jauh, penetapan hari libur dan cuti)
  2. Tujuan bekerja jelas (tidak hanya untuk digaji tapi juga untuk berkontribusi pada masyarakat)
  3. Pemberian rasa hormat (kepercayaan untuk melakukan tugas tanpa selalu diawasi.
  4. Pemberian apresiasi (pengakuan berupa pujian atas prestasi di depan umum dan pemberian penghargaan)
  5. Adanya budaya mentoring (pengembangan pengetahuan dan keterampilan berupa pelatihan-pelatihan, juga diberikan kesempatan untuk menjadi mentor bagi yang lain).

Recommended post:

    Referensi:
    Cherry, Kendra. 2018. The Hawthorne Effect and Behavioral Studies. [verywellmind]
    Shuttleworth, Martyn. 2009. Hawthorne Effect. [explorable]
    [Goodtherapy]
    Darmawan, Josephine. Waspadai Efek Hawthorne. [Alomedika]
    Serna, Lucian. 2017. Is Hawthorne Effect Merely a Behavior Alteration?. [luckscout]
    Heathfield, Susan M. 2019. What Employees Want From Their Workplace. [thebalancecareers]
    Kohll, Alan. 2018. What Employees Really Want At Work. [forbes]



    Penulis FH Widya
    Penulis konten: Widya
    "Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti denga

    Saturday, January 19, 2019

    [Proxemics] Memahami Pesan Dibalik Jarak Antar Manusia

    Barangkali kita pernah bertanya, kenapa sih manusia menciptakan jarak? Salah satu pengaruhnya karena memang kita berlaku sebagai homo socius, manusia yang bersosial. Tetapi apakah kita menyadari bahwa kita sendirilah yang menciptakan jarak? Ya, karena kita memiliki persepsi terhadap orang maupun lingkungan yang kita hadapi.

    Meskipun setiap orang berbeda-beda dalam merespon persepsi lingkungan terluarnya, pada dasarnya manusia akan menuruti ‘arus besar’ yang tercipta di sekitarnya (semisal budaya dan kultur lokal) yang membentuk persepsinya terhadap ruang yang lebih besar. Bisa dikatakan, semakin besar ruang dan jarak yang dihadapi, maka nantinya akan menjadi representasinya sendiri, baik itu negatif maupun positif.

    "Budaya tidak dapat dibuat, melainkan berevolusi seperti manusia."
    -Edward T. Hall]

    Bila kita mencitrakan diri kita sebagai orang Indonesia, apa yang terlintas dalam benak kamu? Tentu saja contohnya semacam persepsi yang sudah diwariskan turun-temurun, positifnya seperti sifatnya ramah dan terbuka, negatifnya adalah suka menggosip dan tidak tepat waktu. Apakah kamu merasa relate dengan persepsi itu?

    Begitu juga dengan jarak, sebab ia sangat bergantung dari persepsi. Manusia cenderung membuat jarak yang benar-benar menjadi pembatas atas interaksi yang ia buat. Ternyata, hal tersebut sudah dikaji dan menjadi ilmiah berkat adanya penelitian yang dapat diadaptasikan ke dalam angka dan sifatnya kuantitatif sehingga orang-orang dapat mengerti apa definisi jarak itu sesungguhnya. Ilmu itu bernama Proxemic, yaitu sebuah studi yang mempelajari persepsi manusia terhadap jarak dan ruang dalam pengaruhnya terhadap berkomunikasi. Salah satu penggagasnya yaitu Edward T. Hall, seorang antropolog asal Amerika Serikat.

    Menurut kajian dalam ilmu Proxemic, jarak atau ruang memiliki fungsi yang dibutuhkan oleh manusia. Yang pertama yaitu soal keamanan, dimana kita harus meyakini bahwa setiap orang tidak akan menyerang kita dengan mengejutkan. Yang kedua, yaitu soal komunikasi dimana dengan jarak tertentu akan membantu kita untuk berkomunikasi sesuai yang kita butuhkan. Yang ketiga, yaitu soal afeksi dimana dengan jarak yang disepakati seseorang untuk menjalin keakraban. Yang keempat yaitu soal ancaman, dimana kita suatu kali dapat memproteksi diri kita sendiri dari ancaman atau memilih untuk mengancam dan mengganggu ruang yang dimiliki seseorang.

    Proxemics
    Image: Variasi jarak antar manusia [Pixabay]

    Mari kita kupas satu persatu soal fungsi dengan zonasi jarak yang digagas oleh Edward T. Hall berdasarkan penelitiannya yang dilakukan di Amerika Utara. Yang pertama, bersifat paling luas yaitu zona publik (berjarak >3 meter), disini umumnya kita sebagai manusia dapat memahami dan melihat jelas wajah, tubuh, dan intonasi bicara orang lain seperti contohnya ketika sedang menghadiri perkuliahan di aula umum, atau khutbah shalat Jum’at yang ada di masjid. Dengan jarak seperti ini, kita dapat merasa bahwa orang-orang yang berbicara di depan panggung atau mimbar dapat mempengaruhi kondisi psikologis kita meskipun tidak signifikan sebab sifatnya yang konvergen atau menyebar, juga karena tidak bersifat eksklusif. Jadi, zona publik ini dapat dikatakan sebagai zona jarak dan persepsi antar manusia yang paling umum dan biasa.

    Yang kedua yaitu zona sosial (berjarak 1,5-3 meter), disini umumnya kita dapat merasakan secara jelas penggambaran sosok orang yang cukup dekat dengan kita. Ini juga jarak yang cocok pada pertemanan sebaya, relasi, atau kolega. Kondisi psikologis dapat berefek cukup signifikan karena jarak yang sudah cukup menyempit, contohnya seperti kita mengikuti perkemahan pramuka atau rapat kerja di kantor. Disini, pembicaraan kita soal hal penting jadi cukup memungkinkan meski belum bisa untuk tempat berbagi rahasia.

    Yang ketiga yaitu zona personal (berjarak 0,5-1,5 meter), disini umumnya kita akan dapat merasakan atau menyentuh teritori orang lain, dan mengartikan secara verbal dari interaksi yang dilakukan. Singkatnya, pada zona inilah kita dapat menjadi orang lain sebagai teman dekat, seperti contohnya ketika sedang berkumpul dengan teman satu geng atau keluarga besar. Kondisi psikologis yang dirasa tentu signifikan sebab di jarak ini kita dapat menjangkau orang lain secara fisik dan merupakan jarak yang cukup aman untuk berbagi rahasia.

    Yang keempat dan terakhir yaitu zona intim (berjarak <0,5 meter), disini merupakan jarak terdekat yang dapat dirasakan oleh manusia, sebab sifatnya yang mampu mengakomodasi sentuhan fisik dan jiwa sekaligus. Bisa dikatakan, jarak ini adalah jarak yang membutuhkan ‘kepercayaan’ yang tinggi sehingga sangat berpengaruh paling signifikan terhadap kondisi psikologis seperti contohnya pada keluarga inti (antara orangtua dan anak) atau pada pasangan yang terkasih. Jarak inilah yang menjadi satu-satunya cara memahami dengan jelas bagaimana kondisi emosi seseorang, juga jarak yang paling aman untuk berbagi rahasia.

    Nah, dari penjabaran teori komunikasi menurut Hall di atas, apakah menurutmu teori  jarak dan ruang berpengaruh terhadap komunikasi di zaman sekarang? Seperti yang kita tahu bahwa jarak dan ruang sudah dapat dirintangi dengan teknologi, yang asalnya berjauhan bisa jadi berdekatan karena sudah saling terhubung lewat media sosial. Apakah teori itu masih relatable?

    Menurut artikel yang ditulis oleh Chhavi Shrivastava dipublikasikan di Medium, bahwa proxemic di dalam media sosial juga mengadaptasikan hal yang sama. Dalam berbagai jenis media sosial di masa kini, ada beberapa pilihan media sosial yang diperuntukkan untuk membuat zonasi jarak juga pada aktivitas follow-memfollow. Tentu saja, semakin dekat kita dengan seseorang, maka semakin eksklusif pilihan media sosial yang digunakan, misalnya lewat direct message personal atau grup kecil.

    Pada akhirnya, manusia memang menciptakan jarak dan ruang sesuai dengan kebutuhannya, terutama untuk berkomunikasi. Di lain hal, jarak dan ruang justru dipangkas dengan kehadiran teknologi, tetapi naluri manusia jelas takkan pernah terganti. Dengan jarak dan ruang, begitupun persepsi, manusia secara ‘sehat’ dapat mengelompokkan yang mana yang terbaik untuk lingkungan psikologisnya. Bagaimana menurutmu, apakah kamu juga melakukan zonasi jarak yang sama di kehidupan nyata maupun di media sosial?

    Recommended post:

    Referensi:
    [1] Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi : Edisi 3, Richard West, Lynn H. Turner. 2008. Salemba Komunika, Jakarta.
    [2] Shrivastava, Chhavi. 2017. 7. Social media proxemics, anyone??. Medium

    Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
    "Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."