loading...

Wednesday, December 12, 2018

[Diderot Effect] Alasan Membeli Karena Ingin Bukan Karena Butuh

Pernah tidak sih, kamu membeli suatu barang yang sebetulnya tidak begitu kamu butuhkan? Atau bahkan, tidak hanya satu tetapi banyak barang. Misalnya, suatu hari kamu pergi ke mall dimana rencana awalmu hanya mau membeli sepatu baru, karena sepatumu yang lama sudah tidak layak pakai lagi. Kamu menemukan sepatu berwarna biru yang cocok dan segera membelinya. Kemudian membeli baju, tas juga jam tangan yang warnanya serasi dengan sepatu biru itu. Padahal sebetulnya kamu tidak begitu memerlukan barang-barang selain sepatu itu. Kira-kira kenapa ya kamu terdorong untuk membeli barang-barang lainnya?

Supermarket diderot effect
Image: Supermarket Diderot Effect [Pixabay]

Jika kamu berpikir bahwa dorongan membeli barang-barang itu dikarenakan faktor eksternal berupa kecerdasan penjual mendisplay barang sehingga menarik minatmu, atau karena adanya diskon yang membuatmu tergiur, kamu benar. Namun dalam pandangan psikologi, ada sebuah faktor internal dalam diri kita yang menyebabkan kita termotivasi untuk membeli barang-barang tambahan diluar kebutuhan utama, hal tersebut dikenal dengan istilah ‘Diderot Effect’.

Seorang filsuf, penggagas efect diderot


Seorang filsuf asal Prancis bernama Denis Diderot hidup dalam kemiskinan sepanjang hidupnya, meskipun tidak kaya ia dikenal sebagai salah satu penggagas dan penulis Encyclopedie, saat itu merupakan salah satu ensiklopedia paling komprehensif. Tahun 1765, kondisi finansial Diderot berubah membaik sejak Ratu Rusia, Catherine the Great menawarkan membeli perpustakaan Diderot seharga 1000 Poundsterling Inggris.

Tak lama setelah itu, Diderot mendapat hadiah mantel mahal dari temannya. Ketika melihat kondisi rumahnya, secara spontan ia membandingkan mantel dengan perabotan di rumahnya, ia merasa mantel itu terlalu bagus dikelilingi perabotan rumahnya yang usang. Ia sesuatu yang mengganjal pikirannya,

All is now discordant. No more coordination, no more unity, no more beauty..

– Denis Diderot
(Semuanya sekarang terlihat janggal. Tidak ada lagi koordinasi, tidak ada lagi kesatuan, tidak ada lagi keindahan.)

Berawal dari kejanggalannya itu, ia terdorong untuk membeli beberapa barang baru untuk mengganti perabotan rumahnya yang sudah usang. Ia mendekor rumahnya dengan patung-patung indah, membeli karpet baru dari Damaskus, meja dapur baru, cermin baru, dan kursi baru yang terbuat dari kulit untuk mengganti kursi lamanya yang terbuat dari jerami. Semuanya perabotannya telah disesuaikan dengan keindahan mantel barunya agar terlihat serasi.

Tak lama setelah itu Diderot menyesal karena ia justru terlilit hutang. Ia menulis penyesalannya dalam sebuah esai berjudul ‘Regrets for my Old Dressing Gown’

“Aku adalah pemilik mantel tua. Aku menjadi budak dari mantel yang baru”

Secara sederhana, efek diderot dapat diartikan bahwa ketika kita memiliki barang baru, akan mengarahkan kita untuk membeli lebih banyak barang baru lainnya. Pada akhirnya, kita membeli barang-barang yang sebelumnya tidak terlalu kita butuhkan. Diderot juga berpendapat, dewasa ini pembelian suau barang bukan lagi bertujuan secara fungsional, tetapi lebih dari itu, merupakan peluang untuk mengekspresikan diri.

Misalnya dalam membeli busana, tujuannya bukan lagi untuk sekedar menutupi tubuh, namun untuk mengekspresikan diri, menujukkan identitas. Kita memilih busana berdasarkan apa yang paling cocok dengan diri kita, apa yang kita ingin orang lain menilai tentang diri kita. Begitu juga saat membeli barang-barang lainnya seperti kendaraan dan perabotan rumah tangga. Itu artinya, pembelian suatu barang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, tapi memuaskan keinginan.

Bagaimana mengantisipasi efek dedirot?


Dalam hidup, kita memiliki kecenderungan alami untuk memenuhi dan memperbanyak. Kita jarang untuk menyederhanakan, menghilangkan, atau mengurangi. Kecenderungan alami kita selalu menambah, meningkatkan, dan membangun. Membeli barang baru memang bisa menimbulkan kepuasan dan kesenangan pribadi. Namun, ketika kita membeli sesuatu secara berlebihan, akan berdampak buruk salah satunya bagi kesehatan finansial kita. Kita perlu belajar untuk mengontrol pembelian. Berikut Fenomena Harimu paparkan beberapa tipsnya,

  1. Beli Satu, Berikan Satu
    Setiap kali kamu membeli sesuatu yang baru, sumbangkan sesuatu yang lama. Misalnya setelah kamu membeli TV baru, daripada memindahkan TV lama ke ruangan lain dan tidak begitu terpakai, berikan saja TV lamamu kepada orang lain. Atau setelah kamu membeli baju, sumbangkan baju-baju lamamu yang masih layak pakai. Hal ini untuk mencegah jumlah barang dirumahmu bertambah atau bertumpuk.
     
  2. Berhenti Berlangganan
    Terlalu banyak berlangganan email dari perusahaan komersial dapat memicu keinginan untuk terus berbelanja. Untuk itu, berhentilah berlangganan katalog dari mereka. Juga berhentilah mengikuti terlalu banyak akun-akun online shop di media sosial seperti facebook dan instagram. Dan untuk mencegah kamu membeli barang di mall karena tergiur diskon dan harga promo, carilah tempat selain mall ketika kamu mengadakan pertemuan dengan orang lain.
     
  3. Paksa Diri
    Keinginan untuk berbelanja tidak hanya datang dari berlangganan email dan media sosial. Lingkungan pertemanan juga seringkali membuat kita tergiur untuk membeli sesuatu, misalnya karena rasa tidak enak kita terpaksa membeli sesuatu dari teman kita yang menawarkan dagangannya. Memang tidak ada salahnya, tetapi akan menjadi masalah ketika sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Sesuaikan dengan skala prioritas kebutuhanmu.

    Tidak ada cara yang lebih ampuh selain memaksa diri kita untuk tidak selalu menuruti segala keinginan. Ingatlah bahwa keinginan tidak pernah ada batasnya
    . Setelah satu keinginan terpenuhi, selalu ada keinginan baru dan lebih tinggi lagi. Yang perlu kamu sadari, keinginan bukanlah sesuatu yang harus selalu kamu penuhi, keinginan hanyalah pilihan. Utamakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bukan memuaskan keinginan. Vivienne Westwood, seorang perancang busana dan pengusaha asal Inggris, berpesan pada kita semua,

“Buy less. Chose well. Make it last.”

-Vivienne Westwood

(Beli lebih sedikit. Pilih dengan baik. Bertahanlah.)

Recommended post:

Referensi:
Clear, James. The Diderot Effect: Why We Want Things We Don’t Need — And What to Do About It. jamesclear
Becker, Joshua. Understanding the Diderot Effect (and How To Overcome It). becomingminimalist
Regrets for my Old Dressing Gown, or A warning to those who have more taste than fortune. marxists

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, December 8, 2018

Begini Pengaruh Otak Terhadap Tingkat Kepuasan Manusia

Apakah kamu pernah bertanya, kenapa sih manusia itu jarang puas? Barangkali itu hal yang berlaku umum dimana hampir semua orang merasa bahwa ia akan terus menerus mencari apa yang memuaskannya di dalam hidup. Terlepas bahwa dalam kondisi temporer bahwa ia pasti menemukan kepuasan, setelah itu ternyata manusia tidaklah berhenti disana. Cenderung setelah itu, manusia merasa “lupa” bahwa ia pernah puas dan terus-menerus mencari segala hal yang memuaskannya.

Kepuasan tentu berarti luas. Bisa dikatakan, kepuasan yang bernilai material-lah yang dapat mewakili secara umum, misalnya kesehatan, kebercukupan bahan makanan, dan kekayaan. Bila dengan memilikinya orang-orang merasa puas, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kesemuanya itu merupakan faktor kebahagiaan. Benarkah ada korelasi antara tingkat kepuasan dengan kebahagiaan? Lalu, bagaimana biologi dan psikologi dapat mengaitkan satu faktor dengan yang lainnya?

Bagian otak old brain atau reptilian brain


Pernahkah kamu mendengar istilah ‘otak tua’ atau ‘otak reptil’? Ya, ternyata istilah itu benar-benar ada. Otak tua merupakan bagian otak yang disebut inti pusat yang bentuknya mirip pada semua vertebrata (spesies bertulang belakang), termasuk manusia. Disebut sebagai otak tua karena proses evolusinya dapat ternyata dapat ditelusuri kembali sejak 500 juta tahun ke struktur paling primitif yang dapat ditemui pada spesies non-manusia.

Bagian struktur utama dari inti pusat ini adalah medulla, pons, dan serebelum. Selain itu penampang utama yang mendukung diantaranya formasi retikular, thalamus, dan hipotalamus. Sepertinya beberapa istilah otak di atas tidak begitu asing, kan? Nah, bagian otak mana yang mengatur tingkat kepuasan manusia? Ternyata, ia adalah hipotalamus.

Bagian otak yang berukuran seruas jari ini terletak tepat dibawah thalamus. Walaupun sangat kecil, hipotalamus memegang peran sangat penting untuk menjaga suhu tubuh sekaligus memonitor jumlah nutrisi di dalam sel. Dalam kasus menjaga suhu tubuh, hal ini disebut homeostasis yaitu proses dimana hipotalamus bekerja untuk menjaga suhu lingkungan di dalam tubuh tetap seimbang. Selain itu, hipotalamus juga memegang tanggungjawab untuk meregulasi perilaku bagi kebertahanan hidup dasar dari manusia, seperti makan, perlindungan diri, juga kebutuhan seksual.

Kepuasan
Image: Kepuasan [pixabay]

Beranjak dari biologi menuju psikologi, sifat dari kerja hipotalamus berupa homeostasis tadi sangat berhubungan dengan teori kebutuhan defisit atau D-needs yang diciptakan oleh psikolog Abraham Harold Maslow. Dalam teorinya, Maslow menyebut bahwa empat kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan cinta dan rindu, serta kebutuhan harga diri ternyata diatur oleh cara kerja homeostasis yang dipegang oleh hipotalamus ini.

Maslow memberikan pandangan bahwa bila orang merasa kekurangan sesuatu, maka ia akan merasa defisit dan merasa sangat membutuhkannya. Tetapi bila sesuatu itu sudah didapatkan, maka orang tidak akan merasakan apa-apa lagi. Contoh paling mudah adalah ketika kita merasa haus. Bila kita sangat haus, tentu saja kita membutuhkan air minum. Akan tetapi, setelah kita minum dan dahaga kita hilang, maka kita tidak membutuhkan lagi air minum sampai rasa haus itu datang lagi.

Begitulah pengibaratan kerja dari homeostatis yaitu sebagai pengatur suhu, dimana fungsi kerjanya akan selesai bila suhu yang dibutuhkan tercapai -untuk kemudian bekerja lagi bila suhunya bergejolak. Maslow memperluas cakupannya pada teori D-needs karena sifatnya yang berupa insting (instinctold), yang artinya sudah ada pada manusia sejak ia lahir. Dengan kata lain, insting sangat berkaitan dengan fungsi ‘otak tua’ yang sudah dijelaskan.

Lalu, bagaimana kita menakar kepuasan?


Yuval Noah Harari, dalam bukunya berjudul Sapiens, menjelaskan salah satu parameter yang dapat diukur pada kepuasan adalah bagian dari kesejahteraan subjektif (subjective well-being), yaitu kebahagiaan yang didapat karena perasaan nikmat atau kepuasan jangka panjang dari yang orang alami sepanjang hidupnya.

Walaupun definisi puas atau nikmat dari tiap orang berbeda-beda, tapi yang tak dapat dielakkan adalah  hal ini sangat berkorelasi dengan performa dari kebugaran fisik kita, terutama fungsi otak sebagai penerjemahnya sehingga menimbulkan sensasi yang memuaskan. Bila otak kita sehat dan berfungsi baik, maka sebenarnya kita akan dapat mencapai kepuasan dan merasa berbahagia.

Harari menyebutnya dengan istilah kebahagiaan kimiawi, yaitu ketika kesejahteraan subjektif itu ternyata ditentukan oleh sistem kompleks saraf, neuron, sinapsis, hingga berbagai zat kimiawi di dalam tubuh seperti serotonin, dopamine, dan oksitosin. Menurut Harari, kepuasan itu datang pada manusia karena lonjakan rasa nikmat di dalam tubuh mereka.

Ia mengibaratkan dalam contoh kasus ketika manusia mendapatkan kenaikan jabatan di pekerjaannya. Orang itu dapat melompat kegirangan sebenarnya tidak bereaksi terhadap jabatan itu, melainkan karena bereaksi terhadap hormon yang melonjak dari dalam tubuhnya, juga sinyal listrik yang menyambar pada bagian otaknya. Hingga begitu, maka orang itu merasakan bahwa betapa bahagianya naik jabatan karena fisik -terutama otaknya- berfungsi dengan baik.

Apakah segalanya terasa masuk akal sekarang? Itulah sebabnya otak ternyata mampu mengatur kebahagiaan kita, bahkan hal yang sifatnya tak terukur seperti jatuh cinta. Bila dijelaskan secara kebahagiaan kimiawi, perasaan jatuh cinta diterjemahkan oleh otak dalam bentuk stimulus dopamine dan serotonin di dalam tubuh. Hal ini banyak berkaitan dengan teori D-needs yang disebutkan Maslow, dimana manusia mencari apa yang menurutnya kurang sehingga suatu saat ia merasa puas karena tubuhnya memberi sinyal bahwa hal itu sudah tercukupi.
 

Merasa puas dengan apa yang sudah kita miliki jauh lebih penting daripada memperoleh lebih banyak hal daripada apa yang kita inginkan.
-Yuval Noah Harari.


Lalu, bagaimana kita dapat mengambil inti dari permasalahan ketidakpuasan manusia ini? Coba kamu pikirkan, bahwa sebenarnya pemuasan segala hal akan menemui batasnya. Bila kita lapar, kita tentu akan mencari makan -akan tetapi bila kita sudah tidak lapar, maka kita tentu saja berhenti makan. Karenanya, ada batas tertentu dari tubuh kita yang menakar rasa puas. Meskipun diberikan asupan terus-menerus, bila sudah melewati tingkat kepuasan itu maka sebenarnya kita sudah tidak merasakan apa-apa sampai apabila hal itu berkurang dan hilang.

Tentu akan sama pengibaratannya dengan apa yang kita cari di dunia ini sebagai objek kepuasan dan kebahagiaan. Memiliki uang banyak, gelar tinggi, dapat berkeluarga, hingga memiliki posisi penting memang dapat memberikan rasa puas dan bahagia. Tetapi bila sudah mencapai tingkat tertentu bahkan melebihinya, maka hal itu cenderung tidak berarti apa-apa.

Oleh karenanya, kepuasan itu betul subjektif menurut apa yang kita butuhkan. Begitulah sepatutnya kita tak membandingkan yang kita miliki terhadap orang lain, karena tentu saja respon tubuh kita berbeda dalam memberikan maknanya.

Harari juga menuliskan, bahwa para nabi, penyair dan filsuf sudah menyadari sejak ribuan tahun yang lalu tentang apa arti dari kebahagiaan dalam definisi rasa syukur. Berfokuslah terhadap apa yang kita butuhkan dan yang kita sudah miliki, bukan dengan terus-menerus menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang hanya kita inginkan. Bersyukurlah, lalu berbahagialah.


Referensi :
[1] Sternberg, Robert J. 2008. Psikologi Kognitif, Edisi Keempat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
[2] Boeree, C. George. 2010. Personality Theories. Yogyakarta : Prismasophie
[3] Harari, Yuval Noah. 2014. Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta : Kelompok Penerbit Gramedia (KPG)

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Monday, December 3, 2018

Bingung Mencari Ide? Konsep Dasar Mendapatkan Ide Kreatif

Pernahkah kamu mendapatkan ide yang seketika membuat matamu terbuka dan kata "oh" terucap dari mulutmu? Momen eureka ini begitu menggembirakan, membuatmu senang karena menjadi harapan yang nantinya bisa menyelesaikan masalahmu atau meningkatkan kualitas hidupmu.

Ide terbentuk dari berbagai macam pengetahuan yang pernah dipelajari oleh si penggagas ide. Semakin banyak kamu mempelajari hal baru, kamu semakin berpeluang mendapatkan ide yang brilian.

Oleh karena itu, banyak dari kita yang menyarankan bahwa untuk mendapatkan ide maka kamu harus tenang, jalan-jalan, berkeliling, menonton film, membaca buku, atau mengunjungi pameran seni bahkan menghayal.

"Why is it I always get my best ideas while shaving?"
- Albert Einstein
(Mengapa saya selalu mendapatkan ide terbaik saat bercukur?, - Albert Einstein)

Dari aktifitas yang telah kamu lakukan, kamu akan mendapatkan data-data yang kemudian disortir oleh otakmu, sesuai kebutuhan penyelesaian masalah yang sedang kamu hadapi.

Data-data yang telah tersortir dan dianggap penting akan disusun, dipadukan, dicampur aduk sampai akhirnya ide tersebut terbentuk. Ide yang sudah terbentuk tidak berarti benar atau salah, sesuai atau melenceng dari penyelesaian masalah atau pencapaian yang sedang kamu raih.

Sebagai contoh, kamu memiliki impian menjadi seorang pengusaha sukses dengan produk yang bisa mengajak orang lain untuk lebih peduli terhadap isu lingkungan. Kemudian kamu mendapatkan ide yaitu membuat gelang yang dapat difungsikan menjadi kantung layaknya kantong kresek.

Sepintas mungkin hal tersebut terdengar aneh dan "bagaimana mungkin?", namun hal tersebut benar-benar terlah terjadi. Produksi berlangsung bersama teman-temanmu, sesi penjualan dilakukan dan selang beberapa minggu kamu baru menyadari bahwa minat pasar begitu rendah dan potensi produk yang kamu ciptakan juga rendah.


Kamu mendapatkan ide hanya sampai teknis bagaimana produk itu terbentuk tapi tidak melibatkan data potensi pasar dalam idemu. Akhirnya tujuan kamu menjadi pengusaha produk ramah lingkungan tertunda atau bahkan terhenti.

Tentu kita sering mendengar untuk menjadi sukses, kita akan menemui kegagalan bertubi-tubi. Aksi kemudian gagal, kita melakukan evaluasi kembali beraksi, akhirnya menemukan kemajuan dan selang beberapa waktu kemudian gagal kembali.

Saat kamu belajar untuk bangkit dari kegagalanmu, pembelajaran yang kamu lakukan adalah bertujuan mendapatkan data yang memantik ide baru yang akan kamu gunakan untuk keluar dari zona kegagalan saat ini. Ketika kamu berhasil, bersiaplah akan tiba pada zona kegagalan yang baru.

"Sejauh mana kamu berhasil menembus sekat sekat kegagalan itu?"

Dua kunci utama untuk mendapatkan ide adalah "data berupa bahan ide" dan "metode pengolahan data tersebut." Tentunya hal tersebut hanya dapat kamu peroleh dalam proses belajar.

Data disekitarmu begitu banyak, kamu melihat, mendengar, menghirup aromanya merupakan data. Namun bagaimana cara kamu menangkap data yang ada disekitarmu hanya dapat dilakukan ketika kamu telah belajar. Semakin jauh kamu belajar, semakin mudah kamu menangkap datanya.

Kemudahan menangkap data dikarenakan kamu tau cara pengolahan data tersebut walaupun hanya secara sebatas garis besar. Cara pengolahan data ini berpeluang lebih besar ketika kamu membaca buku, dikelilingi dengan orang-orang yang telah berpengalaman, atau mempelajari apapun disekitar kamu.

Awali dengan pertanyaan setidaknya untuk diri sendiri. Sebaiknya tidak memunculkan pertanyaan terus menerus sebelum setiap pertanyaan sebelumnya terjawab, hal itu hanya akan membebani pikiranmu dan jatuhnya, kamu akan mengeluhkan pusing.

Planning first before action, kemudian eksekusi, lakukan uji coba, disana kamu akan menemukan trial and error. Kami yakin banyak orang yang memiliki ide yang luar biasa, ide yang belum pernah dihadirkan sebelumnya. Tapi mengapa hal tersebut tidak direalisasikan?

Excuse,...
Desakan orang-orang terdekat?
Sulit meninggalkan yang digadang-gadang sebagai "kepastian"?
Modal materi dan ilmu?

Jika memang hal tersebut yang manjadikan alasan kamu no action, then setidaknya rencanakan sejelas-jelasnya. Time framming and mapping. Menekan harga ketika eksekusi ide dapat dilakukan riset atau survey terkait dengan ide yang akan dibangun. Apakah ide tersebut sesuai dengan khalayak yang dibutuhkan?

Ide, Rencana dan Aksi
Image. Ide, Rencana dan Aksi [Pixabay]

Orang yang sukses akan menemui kegagalan, begitupun sebaliknya. Tidak ada orang yang menjalani hidupnya lancar bak air yang mengalir didalam pipa paralon yang lurus dan panjang. Yang membedakan mereka yang terlihat sukses bagi kita dengan kesuksesan sementara adalah konsistensi mereka untuk terus belajar dan bertumbuh.

Recommended post:

Referensi:
Ide Saja Tidak Cukup, Butuh Kesiapan Lebih sebelum Menghadap ke Investor. dailysocial
Ditkoff, Mitch. 2010. 50 Awesome Quotes on the Power of Ideas. ideachampions

Penulis FH Rijal
Penulis konten: Rijal
"Anak teknik yang juga belajar psikologi, suka hal yang berkaitan dengan komputer, dan seorang ambivert."

Wednesday, November 28, 2018

Kenapa Sering Mengantuk Padahal Tidur Cukup?

Pernahkah kamu merasa lesu dan mengantuk di pagi atau siang hari, padahal di malam harinya kamu sudah tidur dengan cukup? Matamu terasa berat, sering sekali menguap dan semangatmu dalam menjalani hari jadi menurun. Hal itu sangat mengganggu, bukan? Membuat kamu mudah kehilangan fokus pada kegiatan belajar atau pekerjaanmu dikantor.

Bagi kamu yang memang sering tidur larut malam ataupun karena jam kerja yang terlalu panjang, mengalami gejala diatas yang disebut Tired All the Time’ (TATT) atau lelah sepanjang waktu adalah hal yang normal. Namun bagi kamu yang mengalami gejala tersebut padahal sudah tidur dengan cukup, kamu perlu memahami mengapa kamu tetap merasa lelah sepanjang waktu. Bisa jadi, waktu tidurmu justru melebihi dari yang kamu butuhkan.

sleeping fox
Image: Sleeping fox [Pixabay]

Seberapa lama kah waktu tidur idealmu?


Menurut data yang dirilis oleh National Sleep Foundation, kebutuhan waktu tidur pada manusia disesuaikan dengan usianya. Penelitian dalam skala internasional ini membutuhkan lebih dari dua tahun untuk diselesaikan.

Tabel: Kategori Usia Terhadap Waktu Tidur Ideal


Dilihat dari kategori usiamu, sudah sesuaikah kebiasanmu tidurmu dengan waktu yang direkomendasikan diatas? Kalau belum, kamu perlu mengubah kebiasaanmu dari sekarang. Kalau sudah sesuai namun kamu masih sering merasa lelah sepanjang waktu, mungkin beberapa hal dibawah ini yang menjadi sebabnya.

#1 Mudah mengantuk penyebab psikologis


  • Gelisah
    Seringkali, kejadian sehari-hari dalam hidup membuat kita mudah mengkhawatirkan sesuatu. Bahkan hal-hal positif dan menyenangkan seperti pindah rumah, menikah juga bisa menjadi pemicu kegelisahan. Karena kita seringkali khawatir sesuatu yang akan terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi. Apalagi hal-hal yang sudah pasti menyebabkan kegelisahan seperti kehilangan sesuatu, kemunduran atau putusnya hubungan juga bisa membuat kamu merasa lelah sepanjang waktu, bukan karena jam tidur yang kurang atau berlebihan.
     
  • Depresi
    Dalam istilah medis disebut dengan ‘depresssive disorder’. Gejala depresi yang paling umum adalah sering merasa sedih, putus asa dan tidak berharga. Hal tersebut membuat kamu merasa lelah sepanjang waktu, tidak peduli berapa banyak waktu tidur yang dihabiskan, tidak peduli seberapa sering kamu beristirahat. Umumnya, orang-orang tidak menyadari kalau mereka sebenarnya depresi, bukan karena kurang tidur.

#2 Mudah mengantuk penyebab fisik


  • Dehidrasi
    Dehidrasi membuatmu merasa sering pusing dan merasa benar-benar kelelahan. Karena dehidrasi mengacaukan volume darah pada tubuh, membuat kerja jantung menjadi kurang efisien sehingga menyebabkan kelelahan sepanjang waktu.
     
  • Penyakit
    Bisa jadi, masalah yang membuatmu merasa lelah sepanjang waktu adalah sesuatu yang lebih serius seperti anemia dan sleep apnea. Anemia memnyebabkan tubuh terasa lemah dan sesak napas, biasanya disebakan oleh kekurangan zat besi atau kehilangan darah. Sleep apnea adalah gangguan tidur serius dimana pernapasan sering berhenti selama tidur. Bisa karena penyumbatan pada saluran pernapasan ataupun oleh tidak stabilnya pusat kendali pernapasan. Akibatnya, otak gagal memberi sinyal untuk otot bernapas. Sleep apnea ditandai dengan gejala mendengkur, bangun mendadak disertai sesak napas, sakit kepala di pagi hari, dan insomnia.

#3 Mudah mengantuk penyebab gaya hidup


  • Kurang Gerak
    Kebanyakan dari kita menganggap bahwa kelelahan berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan. Nyatanya itu tidak selalu benar. Di akhir pekan, kamu berencana beristirahat penuh dengan tidak melakukan aktivitas apapun. Sayangnya hal tersebut tetap bisa membuatmu merasa lelah karena justru tubuhmu kurang gerak.

    Menurut Science Alert, melakukan olahraga ringan beberapa kali dalam seminggu dapat membuat lebih berenergi. Gerakan teratur membantu tubuh bekerja lebih baik secara keseluruhan, dan seiring berjalannya waktu hal itu akan membuat pola tidurmu sesuai dengan yang kamu butuhkan.
     
  • Bermain Ponsel Sebelum Tidur
    Kalau kamu punya kebiasaan bermain ponsel tepat sebelum tidur, baik memantau lini masa media sosial, bermain game ataupun sekedar berkirim pesan, ada baiknya kamu menghentikan kebiasanmu burukmu itu. Cahaya biru yang dipancarkan ponsel ataupun alat elektronik lain seperti televisi dapat memicu hormon ‘bangun’, menyebabkan kamu tetap bangun dan susah untuk segera tidur. Ritme sirkadian kamu menjadi terganggu. Kamu jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak yang membuatmu lelah keesokan harinya.
Bagaimana pun, tidur yang berkualitas sangat kita butuhkan. Selain berdampak pada kesehatan, kualitas tidur mempengaruhi kefokusan, kreativitas, kesuksesan serta kebahagiaan juga kesejahteraan.

“The best bridge between despair and hope is a good night’s sleep.”
― Matthew Walker,

(Jembatan terbaik antara putus asa dan harapan adalah tidur malam yang nyenyak).
― Matthew Walker dalam buku Why We Sleep: Unlocking the Power of Sleep and Dreams

Setelah membaca artikel ini, semoga kamu bisa mengetahui penyebabnya dan tidak lagi merasa lelah sepanjang waktu, ya!



Referensi
How Much Sleep Do We Really Need? sleepfoundation
Booth, Jessica. 11 Reasons You Might Be Tired, Even After Sleeping Well. bustle
goodreads
Samiadi, Lika Aprilia. Apa itu Sleep Apnea? hellosehat


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, November 24, 2018

Hidup Susah Dan Merasa Cobaan Selalu Datang Tanpa Henti? Pahami Perspektif Syukur Ini

Pernahkah muncul pertanyaan dalam benak pembaca seperti ‘kenapa saya sepertinya tidak puas’ akan banyak hal? Sepertinya, mungkin bukan hanya kamu sendiri yang berpikir seperti itu. Sebagian orang yang merasa bekerja dan berjuang untuk sesuatu yang ia harapkan, akan merasakannya ketika sudah sampai di puncak. Juga, pertanyaan seperti ‘saya harus melakukan apalagi?’ dan banyak hal yang senada dengan itu. Coba rasakan, apakah itu gejala kurang bersyukur terhadap apa yang sudah kita dapatkan selama ini?

Bersyukur
Image: Bersyukur [Pixabay]


Ada istilah yang cukup mewakili pada gejala seperti ini yang disebut ‘stres mikroskopik’, yaitu gejala stress yang disebabkan oleh tekanan/tuntutan yang sebenarnya tercipta bukan karena faktor lingkungan ekstern, melainkan intern. Salah satu pemicunya adalah persepsi merasa ‘kekurangan’ atas segala sesuatu yang tak seseorang miliki, meski ia sendiri tidak tahu apakah ia membutuhkannya atau tidak.

Memang, hal ini dapat berasal dari orang lain yang ia kagumi, misalnya, memiliki kemampuan atau keistimewaan yang tak ia miliki. Meskipun sebenarnya perbandingan itu relatif, tetapi seringkali perasaan seperti itu menipu kita dan membuat kita seringkali stres bahkan ketika tak ada yang kita perlu khawatirkan sama sekali.

Apakah kamu berdomisili di daerah desa atau kota kecil yang sepi? Atau kamu justru tinggal di kota besar nan sumpek? Nah, tidak jarang bahwa orang-orang merasa bosan ketika tinggal di daerahnya dan merasa ingin sekali merasakan bagaimana nadi kehidupan di daerah lain. Orang kota memimpikan hening dan nyamannya udara desa, sedangkan orang desa memimpikan riuh dan ramainya suasana kota. Tidakkah itu justru membuat masalah baru bila kita tak menyadari untuk terus membandingkan? Padahal belum tentu juga kamu cocok bila pindah di daerah itu, begitupun orang lain untuk pindah ke daerah kamu. Begitulah contoh sederhana, dan mestilah banyak sekali kasus kehidupan lain yang begitu mendera pikiran kita.

Psikolog asal Amerika Serikat, Abraham Harold Maslow, sudah menangkap gejala seperti ini dalam kajian psikologinya yang bersifat humanistik. Ia mengembangkan teorinya yang disebut ‘hierarki kebutuhan’ atau dikenal dengan Segitiga Maslow, yang secara lugas digambarkan dalam enam stase dari bawah ke atas ;  

  • a) Physiological needs, yaitu kebutuhan mendasar akan makan, minum, dan hubungan seksual,
  • b) Safety needs, yaitu kebutuhan akan rasa aman, stabil, dan terlindungi,
  • c) Belonging needs, yaitu kebutuhan akan rasa dicintai, dimiliki, dan berhubungan dengan perasaan lainnya,
  • d) Esteem needs, yaitu kebutuhan akan pengakuan dan harga diri, termasuk soal status, kemuliaan dan kehormatan,
  • e) Self-Actualization, yaitu kebutuhan akan hasrat mewujudkan potensi diri dan keinginan untuk menjadi kita yang ‘sebenarnya’ dan apa yang kita bisa. 

Dari penjabaran teori di atas, maka kita dapat mengelompokkan dasar-dasar kebutuhan yang sedang kita masuki. Berbagai motif dan keinginan juga dapat didasari oleh bagian apa yang ingin kita penuhi. Itulah kenapa, kita tidak dapat menyimpulkan secara dangkal apa itu definisi rasa bersyukur ketika sebenarnya masih ada fase yang harus kita penuhi. Apakah kamu paham dan mengerti di fase apa kamu kini berada dan fase apa yang kamu belum capai?



Bisa jadi disanalah sebab dari perasaan resah dan kekurangan itu tadi. Bila dicocokkan dengan kasus orang desa dan orang kota sebelumnya, maka bisa jadi mereka merasakan keresahan di fase safety needs, yang mengacu pada perasaan nyaman dan terlindungi di tempat mereka tinggal.

Apakah sebetulnya rasa syukur itu mutlak? Dalam artian, apakah dengan memiliki rasa syukur itu kita merasa tidak perlu untuk mencapai apa-apa lagi? Tentu tidak diartikan seperti itu. Bila kamu merasa sudah memenuhi kebutuhan primer seperti sudah memiliki pekerjaan sehingga bisa memenuhi kebutuhan makan dan minum, tentu sah-sah saja bila nanti akan naik tingkat ke fase memikirkan pasangan hidup. Bentuk rasa syukur bisa saja dapat kita lalui dengan perlahan dalam prosesnya, bukan berarti dengan rasa syukur itu menghambat kita untuk terus mengeksplorasi. Apakah kamu setuju?

Mencapai rasa tidak membutuhkan apapun di dunia


Maslow, dalam teorinya juga mengemukakan teori kebutuhan defisit atau D-needs (deficit needs). Maksudnya adalah jika kamu merasa kekurangan sesuatu dari empat fase A, B, C, dan D di atas maka kamu akan merasa membutuhkan sesuatu tersebut. Akan tetapi, bila kamu sudah dapat memenuhinya maka kamu tidak akan merasa apa-apa lagi. Dengan kata lain, kebutuhan yang sudah terpenuhi tersebut tidak dapat memberikan motivasi untuk dikejar. 

Ketika kamu merasa lapar, kamu tentu akan berusaha untuk memenuhinya dengan mencari makan. Ketika sudah merasa kenyang, maka kamu sudah tidak merasakan apa-apa lagi, hingga nantinya akan merasa lapar di waktu yang akan datang.

Sementara, fase E yang merupakan fase aktualisasi diri dinamakan Maslow sebagai B-needs (being needs). Menurut Maslow, kebutuhan ini akan selalu berkembang bila kita terus menerus mewujudkan potensi diri, juga dapat menjadi penyempurna ketika kamu dapat menjadi ‘apa yang kamu mau’. Tentu saja, tidak semua orang dapat mencapai ke fase aktualisasi diri ini karena sebagian besarnya masih berkutat untuk memenuhi D-needs nya.

Biasanya, orang yang sudah dalam fase B-needs ini merupakan orang yang dapat berlaku bijaksana, berbicara soal moral, dan sudah keluar dari motif-motif individual. Maslow mencontohkan dalam penelitiannya dari nama-nama tokoh terkenal yang menurutnya sudah berhasil mengaktualisasikan dirinya seperti Abraham Lincoln, Albert Einstein, Eleanor Roosevelt, dan lain-lain.

Jadi, pelajaran yang dapat kita ambil adalah sisi psikologi humanistik adalah bila kamu merasa jenuh dengan apa yang ada miliki sekarang dan menginginkan untuk mencari hal lain yang dapat memenuhinya, maka bisa jadi kamu sedang berada di fase A, B, C dan D yang diistilahkan sebagai D-needs di atas. Bukan berarti kita tidak dapat bersyukur, tetapi manusia akan terus berproses untuk memenuhi apa yang tergambar oleh teori Maslow hingga ke tingkatannya yang tertinggi.

Apakah harus menjadi kaya terlebih dahulu kemudian akan bersyukur?


Tentu saja tidak seperti itu, memang seolah-olah begi mereka yang bergelimang harta akan mudah memenuhi semua fase diatas. Kemudian bagaimana bagi mereka yang kekurangan materi? Bagi mereka yang terlihat kurang bermateri tentu bisa mendapatkan rasa syukut itu dengan cara membandingkan kondisi dirinya saat ini dengan kondisi terburuk sebelumnya atau kondisi terburuk orang lain.

Bisa juga dengan bergantung pada Dzat yang akan menjamin semua fase kebutuhannya. Jika orang sudah percaya atau yakin, bahkan data lapangan pun akan sulit menggoyahkan pandangannya sekalipun data kurang berpihak padanya.



Kemudian, sampai sini akan didapat point-point yang membuat orang sulit bersyukur:
  1. Kita sedang berproses menuju fase "selanjutnya" dalam teori hierarki maslow.
  2. Kita tidak cukup yakin terhadap Dzat yang akan memenuhi semua fase kebutuhan hidupmu
  3. Sudut pandang kita dalam membandingkan kondisi diri sendiri, masa lalu, dan lingkungan sekitarmu tidak cukup baik.
Lalu, bagaimana definisi bersyukur menurut yang kamu pahami? Semoga kita termasuk orang-orang yang mudah bersyukur dan terus termotivasi untuk mengejar kehidupan yang diimpikan.

"Janganlah mencoba menjadi orang sukses. Jadilah orang yang bernilai."
– Albert Einstein

Referensi :
[1] Dr. C. George Boeree. 2004. Personality Theories : Primashophie Jogjakarta

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."