loading...

Saturday, August 31, 2019

Bagaimana Agar Anak Bersikap Terbuka Pada Orang Tuanya

Memiliki anak yang bersikap terbuka dan jujur adalah dambaan setiap orang tua, kan? Dimana anak menganggap orang tuanya adalah tempat yang aman dan nyaman ketika mereka ingin berbagi cerita, meminta bantuan dan bertanya banyak hal. Namun untuk mewujudkannya bukanlah hal yang mudah. yang seringkali terjadi adalah kebalikannya, dimana semakin beranjak dewasa, anak justru menjadi semakin tertutup, jangankan untuk bercerita lebih dulu, ketika ditanya oleh orang tuanya pun mereka enggan menjawab dengan jujur.

Lalu bagaimana ya agar anak bersikap terbuka kepada orang tuanya? Hmm... Sebelum membahas solusinya, mari kita coba cari tahu lebih dulu kenapa ya mereka menjadi tertutup pada orangtuanya.

Anak Agresif
Gambar. Anak Agresif [Pixabay]

Kenapa Anak Menjadi Tertutup Kepada Orang Tuanya?


Setiap dari kita pernah menjadi anak, barangkali kamu pernah mengalami dimana kamu merasa enggan bercerita pada orang tuamu sendiri. Takut tidak didengar, takut dihakimi, takut dimarahi. Beberapa hal dibawah ini bisa menjadi pemicu anak bersikap tertutup pada orang tuanya,

#1 Pernah Dipermalukan Ketika Berbuat Salah
Setelah anak melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak, ada beberapa orang tua yang secara tidak sadar menghilangkan kepercayaan anak pada mereka sendiri. Misalnya anak menumpahkan minuman di restoran dengan tidak sengaja, lalu orang tua memarahinya didepan banyak orang. Barangkali, tujuannya adalah agar membuat anak malu sehingga jera melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Namun hal tersebut justru membuat mereka tidak mempercayai orang tua sebagai seseorang yang aman untuk membantu mereka belajar dari kesalahan. Padahal melakukan kesalahan adalah bagian alami dari pertumbuhan mereka, yang mana akan memberi kesempatan anak untuk belajar. Semakin dewasa, mereka justru akan berpikir bahwa sebaiknya tidak bercerita apa pun jika apalagi jika melakukan kesalahan karena takut akan dipermalukan lagi.

#2 Dibohongi Demi Kebaikan
Saat kamu kecil dan akan disuntik, pernah tidak orang tuamu mengatakan bahwa disuntik itu tidak sakit, seperti digigit semut saja? Padahal kenyataannya tidak begitu, tetap saja ada rasa sakit yang kita rasakan. Hal itu memang wajar karena secara naluri, orang tua akan berusaha meminimalisir rasa sakit anak-anak mereka termasuk memberitahu bahwa sebuah suntikan tidak akan menyakitkan. Meskipun kebohongan orang tua tersebut terlihat sepele dan demi kebaikan anak-anaknya, justru hal tersebut akan berdampak tidak baik untuk jangka panjang, loh! Karena merasa dibohongi, kepercayaan mereka kepada orang tua akan berkurang. Lebih baik mengatakan apa adanya seperti, “Disuntik memang akan terasa sakit, tapi tidak lama, Ibu yakin kamu kuat, Nak.”

#3 Berkata Kasar dan Menghukum Secara Fisik
Ada sebagian orang tua yang sering berkata kasar dan menghukum secara fisik ketika anak tidak patuh. Misalnya, anak beberapa kali tidak mau membereskan mainannya, lalu orang tua langsung berkata, “Dasar pemalas! Bereskan dulu mainannya!”

Bahkan menghukumnya tiap kali ia tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah seperti menjewer atau mencubitnya. Hal tersebut dapat menghilangkan kepercayaan mereka.

“Aggressive tone and body language can leave children and teens feeling less willing to confide in their parents.”

(Nada dan bahasa tubuh yang agresif dapat membuat anak-anak dan remaja merasa kurang bersedia untuk mempercayai orang tua mereka.”)

Bagaimana Cara Agar Anak Terbuka Pada Orang Tuanya?


#1 Buat Obrolan Ringan Setiap Hari
Kunci keterbukaan antara anak dan orang tua berawal dari adanya komunikasi yang intens, baik didalam maupun diluar rumah. Sebagai yang lebih dewasa, mulailah membuka obrolan dengan mereka, agar anak tahu bahwa kita sebagai orang tua peduli dengan apa yang terjadi pada hidup anak. Namun mulailah dengan membagikan apa yang kamu rasakan, bukan memulainya dengan pertanyaan, misalnya, “Saya hari ini merasa sangat senang ditempat kerja, bagaimana dengan harimu disekolah, Nak?” Berikanlah respon yang positif agar mereka mau bercerita lebih lanjut tentang kesehariannya.

Dan juga, cari tahu kapan anak-anak kemungkinan besar bisa diajak berbicara, misalnya setelah makan bersama, sebleum tidur, di dalam mobil atau di waktu-waktu lainnya. Manfaatkanlah waktu tersebut untuk memperkuat kepercayaan antara orang tua dan anak.

#2 Fokus dan Tanggapi dengan Empati, Bukan Kemarahan
Ketika anak bercerita tentang hal remeh sekali pun, sebaiknya tinggalkan aktivitas lainnya dan fokuslah pada anak. Atau bisa juga memberi penjelasan, “Ibu dengarkan kamu cerita tapi sambil memasak tidak apa-apa ya?”

Lalu, sebelum memberi respon, biarkan mereka menyelesaikan apa yang ingin mereka sampaikan, jangan memotong pembicaraan. Saat merespon, ulangi apa yang kamu dengar dari mereka, dengan itu mereka akan merasa bahwa kamu benar-benar mendengarkan dan hadir untuk mereka.

Jika mereka membicarakan sesuatu yang membuatmu ingin marah, tahanlah sebentar saja. Lebih fokuslah pada perasaan anak ketika berbicara dengan mereka, bukan perasaanmu. Bantu mereka untuk mengenali emosi yang mereka alami dan bagaimana cara mengatasinya.

#3 Pahami Kapan Harus Merespon dan Kapan Hanya Mendengarkan
Seringkali, memberikan solusi tanpa diminta akan membuat anak merasa bahwa sosok orang tuanya terlalu menggurui, tidak bisa dijadikan sebagai sahabat. Untuk itu, bertanyalah pada mereka apakah yang mereka butuhkan dalam obrolan. Hanya sekedar ingin didengar, ingin mendapat nasehat ataukah ingin orang tuanya membantu mereka dalam menyelesaikan masalah?

Ketika berpendapat, tanyakan kepada mereka apakah mereka setuju dengan pendapatmu. Selain memberikan kepercayaan pada anak, hal tersebut dapat membuat mereka memiliki pola pikir yang kritis dan kreatif.

#4 Percayakan Mereka dalam Mengambil Keputusan
Selama konsekuensinya tidak berbahaya, jangan selalu merasa bahwa kamu harus turun tangan setiap kali mereka mengalami kesulitan. Misalnya saat anak bingung harus bagaimana menanggapi teman mainnya yang mau menang sendiri. Atau saat anak akan masuk sekolah, berilah mereka kesempatan untuk memiliki pilihan, bukan hanya harus menuruti kemauan orang tuanya. Hal ini akan berdampak pada kemampuannya mengambil keputusan saat ia telah dewasa. Tahukah kamu, fase Quarter Life Crisis yang dialami oleh banyak orang salah satunya dikarenakan mereka tidak dibiasakan mengambil keputusan sendiri sejak dini, sehingga merasa kaget ketika sudah tidak ada lagi campur tangan orang terdekatnya dalam memutuskan sesuatu.

Rekomendasi:
Referensi:
American Psychological Association. ___. Communication tips for parents. [apa]
Babakhan, Jen. ___. 11 Things Parents Say that Ruin Their Kids’ Trust. [rd]
Scott, Emily. 2017. How to Become a Safe Place for Your Children: Communication Tips for Openness and Trust. [renewedhopeparenting]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, August 17, 2019

Silaturahmi Memperbanyak Rezeki? Kok Bisa?

Menurutmu, seberapa penting sih memiliki banyak kenalan?

Mereka adalah orang-orang yang mungkin baru sekali kamu temui, entah kamu mengenalnya saat di acara seminar, di perjalanan, di tempat umum atau hanya melalui media sosial. Kamu mungkin menganggap adanya mereka ya hanya lewat saja, toh kalian juga akan sulit untuk bertemu lagi. Tali silaturahmi kalian terputus begitu saja.

Kenalan memang orang yang tidak kamu tahu dengan baik, tapi tahukah kamu, menurut penelitian seorang sosiolog, adanya kenalan justru cenderung lebih berpengaruh daripada teman-teman dekatmu?

Ikatan
Gambar. Ikatan [Pixabay]


Penelitian yang dilakukan pada tahun 1973 oleh Nick Granovetter tersebut berjudul “The Strength of Weak Ties”. Granovetter membagi interaksi sosial menjadi dua jenis ikatan: strong ties (ikatan yang kuat) dan weak ties (ikatan yang lemah). Ikatan yang kuat adalah hubunganmu dengan orang-orang yang kamu kenal baik. Mereka adalah orang-orang yang nomor kontaknya tersimpan di ponsel misalnya keluarga dan teman. Kalau kamu menghubungi mereka, mereka tidak terkejut karena memang kalian dekat. Sedangkan ikatan yang lemah adalah hubunganmu dengan orang yang baru kamu kenal. Kamu mungkin menyimpan kontak atau kartu nama mereka, namun mereka akan terkejut ketika kamu menghubunginya.

Membedakan ikatan yang lemah dan ikatan yang kuat


Berikut beberapa indikator yang bisa kamu gunakan untuk membedakannya,
  1. Usia hubungan. Apakah kamu mengenalnya sudah lama? Jika lama, ikatan kalian adalah ikatan yang kuat
     
  2. Intensitas pertemuan. Seberapa sering kamu mengabiskan waktu dengannya? Jika sering, ikatan kalian adalah ikatan yang kuat
     
  3. Keterikatan emosional. Apakah kamu peduli dengannya? Jika peduli, ikatan kalian adalah ikatan yang kuat
     
  4. Kekerabatan, walaupun kamu jarang bertemu sepupumu, kamu masih memiliki ikatan yang kuat dengannya karena adanya ikatan keluarga

Sederhananya, Granovetter menyebut keluarga dan teman sebagai ikatan kuat dan kenalan sebagai ikatan lemah. Lalu kenapa ikatan lemah justru lebih berpengaruh?

Kekuatan dibalik ikatan lemah


Seringkali kita lebih fokus membangun ikatan yang kuat dengan keluarga dan teman. Baik karena mereka satu sekolah, satu komunitas, satu tempat kerja, dan satu wilayah. Hal ini wajar karena semakin baik kita mengenal seseorang dan semakin erat hubungannya, diri kita semakin merasa berharga. Namun, ketika kamu dan temanmu memiliki ikatan yang kuat, biasanya kalian memiliki banyak kesamaan, mulai dari gagasan yang dimiliki, kebiasaan yang dilakukan, informasi yang didapat sampai orang-orang sekitar yang dikenal.

Hal tersebut membuat kamu menjadi kurang informasi tentang ‘dunia luar’, tentang hal-hal penting yang terjadi diluar lingkaran pertemananmu. Untuk itulah ikatan yang lemah menjadi sangat dibutuhkan bagi seseorang agar bisa memperoleh banyak informasi dari ‘dunia yang berbeda’ (lingkaran pertemanan yang berbeda).

Contoh nyatanya, kamu mungkin pernah menerima informasi penting seperti lowongan pekerjaan dan peluang bisnis justru dari kenalanmu. Merekalah yang memberi informasi yang tidak kamu dapatkan dari keluarga dan teman-temanmu. Karena memang informasi yang ada dilingkaran pertemananmu begitu terbatas. Granovetter menganalogikan ikatan lemah sebagai ‘jembatan’ yang menghubungkan kamu dengan akses informasi yang tidak kamu dapatkan dari orang-orang terdekat. Penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang baru pindah bekerja, menerima informasi tentang peluang kerja baru dari kenalan mereka, bukan dari keluarga dan teman dekat.

Silaturahmi pada keluarga, teman, dan kenalan dapat memperbanyak rezeki


Masalahnya, ikatan yang lemah tidak serta merta menguntungkan jika kamu tidak mempertahankan dan mengembangkannya. Untuk itulah, kamu perlu menjaga silaturahmi baik dengan teman dekatmu atau juga kenalanmu. Saya yakin kamu pernah mendengar bahwa menjalin silaturahmi dapat memperbanyak rezeki, kan? Bahwa dengan mengunjungi sanak saudara atau kerabat dekat, pintu-pintu rezeki akan terbuka. 

"Someone who loves a neighbor allows him to be as he is, as he was, and as he will be."   
- Michel Quoist


Logikanya, ketika kamu bertemu dengan orang lain dan mengobrol, ada pertukaran informasi yang terjadi melalui obrolan itu. Mungkin awalnya hanya sekedar bertanya kabar, tapi kemudian pembicaraannya menjadi lebih luas, kamu mendapat informasi tentang peluang yang bisa kamu manfaatkan dalam berbisnis, lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasimu, juga mendapat kenalan lain dari kenalanmu tersebut. Dari situlah pintu-pintu rejeki terbuka.

Inti dari silaturahmi adalah menjaga hubungan baik. Ingatlah bahwa rejeki bukan hanya tentang uang. Wawasan baru yang kamu dapatkan dari obrolan adalah rezeki. Berada di lingkaran pertemanan yang baik adalah rejeki. Kesehatan yang membuatmu bisa menjalin silaturahmi dengan banyak orang adalah rejeki. Infomasi tentang peluang bisnis dan pekerjaan adalah rejeki.

Antara ikatan kuat dan lemah, keduanya penting


Meskipun ikatan lemah dapat memberi nilai yang lebih besar, tetap ikatan kuatlah yang memberikan rasa persahabatan, kenyamanan dan keamanan. Baik ikatan kuat maupun lemah, keduanya sama-sama penting bagimu dalam berinteraksi sosial. Hanya saja, fungsi mereka berbeda. Ibaratnya, menjaga ikatan yang kuat berperan dalam menjalin silaturahmi ditingkat lokal, sedangkan menjaga ikatan yang lemah berperan dalam menjalin silaturahmi di tingkat yang lebih luas atau global. Memiliki orang-orang terdekat yang memiliki kesamaan persektif memang penting, namun kita juga membutuhkan banyak kenalan untuk bertukar informasi dan membawa perspektif baru ke kehidupan kita agar semakin bijaksana dalam berpikir dan bertindak.

Di era kemajuan teknologi ini, silaturahmi tidak harus bertemu secara langsung. Jarak bukan lagi alasan putusnya tali silaturahmi. Kamu bisa mengubungi kerabat via telfon, video call, dan aplikasi media sosial. Influencer media sosial adalah contoh dari seseorang yang memanfaatkan teknologi digital dalam networking mereka seperti facebook, instagram dan twitter. Kekuatan dari ikatan lemah antara influencer dan followersnya. terbentuk secara alami. Perspektif yang sama mengubungkan mereka dalam suatu lingkaran pertemanan. Influencer menyebar informasi melalui jaringan followers yang mereka punya, yang pada akhirnya followers juga menerima feedback dari influencer tersebut. Mereka mungkin tidak pernah bertatap muka secara langsung atau hanya sesekali, tapi ikatan mereka terjalin karena media sosial. Kamu juga bisa memanfaatkan media sosialmu untuk memperluas networkingmu. Situs seperti Linkedin dan instagram bisa kamu manfaatkan untuk meningkatkan personal brandingmu.

Rekomendasi:

Referensi
Rouse, Margaret. 2017. Weak Tie Theory. [whatis.techtarget]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, August 3, 2019

Hal Yang Perlu Kamu Ketahui Mengenai Quarter Life Crisis Pranikah

"Kok hidup saya begini-begini aja, ya? Coba kalau udah nikah pasti lebih bahagia.”
“Usia hampir seperempat abad, kok rasanya belum siap nikah, ya?”

Pernah berbicara semacam itu ke diri sendiri? Terutama ketika kamu telah memasuki usia 20 tahun. Memasuki usia 20 tahun, manusia dihadapkan pada berbagai keputusan-keputusan hidup yang lebih kompleks yang membuatnya rentan mengalami ‘gejolak’ dalam diri. Diantaranya seseorang merasa bingung dengan hidup yang sedang dijalani, cemas dengan apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Fenomena ini dikenal dengan istilah Quarter Life Crisis (QLC). Pernah mengalaminya?

Quarter Life Crisis
Gambar. Quarter Life Crisis [Pixabay]


Menurut psikolog Atwood dan Scholtz, quarter life crisis adalah gejolak yang timbul sebagai masa transisi dari fase remaja ke fase dewasa, biasanya muncul di usia 18-29 tahun. Karena di usia 18, biasanya kita telah selesai menjalani kewajiban belajar di sekolah dan dianggap bisa mengambil keputusan-keputusan yang lebih besar tanpa intervensi orang tua. Rasa cemas dan bingung yang dialami bukan hanya tentang karir, finansial dan relasi, namun juga tentang menikah. Dan menurut Cyrus William, puncak quarter life crisis biasanya akan terjadi di usia 25 tahun.

As a culture, we all think that age 25 is the best stage of our life –these folks are happy, they’re doing everything they want and it’s a great time of life,”

–Cyrus Williams, anggota American Counseling Association (ACA)

Penyebab Quarter Life Crisis Pranikah

 
 #1 Streotip Masyarakat
Dalam pandangan (streotip) masyarakat kita, jika sudah lulus sekolah atau kuliah, lalu bekerja, selanjutnya ya menikah. Di usia 18 tahun rata-rata sudah lulus dari sekolah tingkat atas, dan lulus dari kuliah rata-rata diusia 22 tahun. Setelah itu, seseorang dianggap telah memasuki fase yang tepat untuk segera menikah. Ibaratnya, memang mau apa lagi? Pandangan masyarakat kita bahkan menganggap bahwa wanita lebih baik menikah sebelum 25 tahun, sedangkan laki-laki sebelum 30 tahun. Selebihnya dianggap ‘terlambat’ menikah. Hmm... Setujukah kamu?

#2 ‘Perlombaan’ Di Media Sosial
Sadar tidak, sih? Media sosial seolah sebuah ajang perlombaan untuk memperlihatkan kebahagiaan, salah satunya dalam hal pernikahan. Punya pacar dan akan menikah, memperlihatkan foto berdua. Setelah menikah, upload foto mesra bersama pasangan disertai caption yang mendayu-dayu. Hamil, memosting foto tespack dan hasil USG. Menyusui, memosting hasil memompa asi dan lainnya. Seakan-akan dunia harus tahu bahwa dia sedang melakukan apa, dimana dan sedang bahagia.

Ditambah dengan maraknya akun-akun provokatif yang mengampanyekan orang-orang agar segera menikah, termasuk para selebgram yang hobi memperlihatkan sisi indah dari pernikahan. Hal ini memicu kegalauan bagi yang melihatnya, apalagi yang sedang memasuki usia fase quarter life crisis. Berpikir bahwa hidupnya akan lebih indah jika menikah juga.

Saya rasa, kedua hal diatas menjadi faktor terbesar yang menyebabkan seseorang mengalami quarter life criris pranikah, lalu, bagaimana cara kita agar tidak berlama-lama di fase tersebut?

Agar Terbebas Dari Fase Quarter Life Crisis Pranikah


Jika kamu beranggapan bahwa solusi agar keluar dari fenomena ini adalah dengan segera menikah, saya rasa tidak selalu benar. Pemahamanmu perlu diperluas lagi agar tidak sempit. Berikut beberapa tips agar kamu bisa terbebas dari quarter life crisis pranikah,

#1 Pahami bahwa menikah bukan pelarian

Kalau kamu berpikir bahwa dengan menikah masalah-masalah hidupmu akan selesai, kamu salah. Menikah tidak hanya tentang kamu dan pasangan, namun tentang keluargamu, keluarganya, lingkunganmu dan lingkungannya. Menyatukan pemikiran kamu dan pasangan saja tidak selalu mudah dan terkadang menimbulkan masalah, apalagi banyak orang? Menikahlah karena kamu memang telah siap dan berani menerima segala konsekuensinya, bukan karena ingin lari dari masalah.

#2 Kenali diri sendiri secara utuh
Sebelum memutuskan akan menikah, kenali dirimu sendiri. Apakah kamu tipe orang yang sangat mudah beradaptasi dengan orang lain atau sebaiknya, bagaimana caramu memperbaiki suasana hati dan lainnya. Karena dengan memahami karaktermu sendiri, kamu akan lebih mudah memahami karakter seperti apa yang kamu butuhkan sebagai pasanganmu, tidak sembarangan menerima orang yang datang hanya karena kamu ‘kebelet’ nikah dan jadi tidak objektif dalam memilih.

#3 Hindari akun-akun provokatif
Orang-orang dibalik akun-akun provokatif tidak bertanggung jawab jika pernikahanmu tidak seindah unggahan-unggahan mereka, loh. Follow lah akun-akun yang lebih edukatif dan informatif. Memberikanmu banyak wawasan dalam persiapannya, bukan ‘baper’nya. Pelajari tentang kehidupan pernikahannya, bukan sekedar menikahnya. Pahamilah bahwa setiap orang mempunyai zona waktunya masing-masing, tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

#4 Maksimalkan peran ‘mumpung’ masih sendiri
Alih-alih ingin segera punya pasangan dengan tujuan beribadah, saling membahagiakan dan saling menasehati, jadi lupa bahwa ada orang tua yang harus kamu bahagiakan lebih dulu, ada adik dan kakak yang harus kamu bimbing, ada keluarga besar yang harus kamu prioritaskan. Memang, dengan menikah, tidak membuatmu serta merta meninggalkan mereka. Namun pahamilah bahwa prioritasmu setelah menikah akan bergeser. Maksimalkan peranmu sebagai anak, sebagai adik, sebagai kakak, sebagai manusia yang beperan dalam masyarakat. Pelajari banyak ilmu ‘mumpung’ masih sendiri untuk memperkaya pengetahuan, pemahaman dan pengalamanmu.

#5 Jangan terjebak perspektif orang lain
Orang lain boleh beranggapan misalnya menikah di usia 23 tahun adalah yang paling ideal, bahwa jika menikah sebelum 23 tahun maka dianggap terlalu cepat dan setelah 23 dianggap terlambat. Jangan terjebak perspektif orang lain karena kamu lebih tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri. Jika memang menurutmu menikah sebelum itu adalah waktu yang tepat dan kamu telah siap, kenapa tidak? Jika menurutmu menikah diatas 25 tahun adalah waktu yang tepat karena kamu juga merasa belum menemukan seseorang yang tepat sebagai pasangan hidup, kenapa tidak?

Menikah bukan tentang usia. Dan bisa dipastikan, kita tidak akan pernah lepas dari komentar-komentar orang lain bahkan setelah kita menikah. Jadi, hiduplah berdasarkan perspektifmu sendiri, berdasarkan apa yang kamu yakini benar dan baik untukmu, selama tidak melanggar ketentuan agama dan menyakiti orang lain.

Rekomendasi:

Referensi :
___. ___. Understanding the quarter-life crisis. [bradley.edu]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, July 13, 2019

Tips Terbaik Gaya Hidup Minimalis

Berbicara tentang gaya hidup, ada yang sedang dielu-elukan dikalangan milennial: gaya hidup minimalis. Katanya, menerapkan gaya hidup minimalis akan membuat manusia jauh lebih bahagia. Memangnya seperti apa sih?

Kalau kamu mengetikkan kata ‘minimalis’ di pencarian google, hasil teratas yang akan banyak kamu temukan adalah tentang konsep desain rumah yang identik dengan warna putih, sedikit barang namun terkesan mahal. Merambah sebagai konsep gaya hidup, minimalis juga masih tentang menyedikitkan barang-barang yang tidak begitu diperlukan. Konsep tersebut menjadi tren seiring dengan larisnya buku berjudul ‘The Life-Changing Magic of Tidying Up’, seni berbenah ala Jepang yang ditulis oleh Marie Kondo.

Gaya Hidup Minimalis
Gambar. Gaya Hidup Minimalis [Pixabay]

Awalnya saya kira, menerapkan gaya hidup minimalis adalah hanya tentang seni berbenah barang seperti yang menjadi fokus pada buku Marie Kondo tersebut. Nyatanya tidak hanya itu, terinspirasi dari serial Podcast Subjective berjudul ‘Hidup Minimalis: 7 Hal Penting Dalam Hidup Yang Perlu Lo Kurangin’ milik Iqbal Hariadi di Spotivy, saya terinspirasi untuk membagikan pengetahuan yang didapat melalui tulisan ini, bahwa gaya hidup minimalis tidak melulu tentang barang, namun tentang banyak hal.

“Jika kamu punya sedikit opsi dalam hal apapun, kamu lebih mudah untuk fokus ke hal yang spesifik yang paling penting.”
– Iqbal Hariadi, penulis dan influencer.


Berikut 7 hal yang dirangkum dari isi podcast tersebut,

#1 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi aplikasi


Hal pertama yang perlu dikurangi dalam menerapkan gaya hidup minimalis ada pada ponsel kita sendiri. Coba hitung, berapa kali kita mengecek ponsel dalam sehari? Berapa lama kita menghabiskan waktu dengan ponselmu? Bahkan, ponsel mungkin menjadi benda yang terakhir kali kita pegang sebelum tidur dan pertama kali kita cari saat bangun tidur. Iya, kan?

Semakin canggih teknologi, ponsel menawarkan media penyimpanan yang semakin besar, ditunjang dengan beragam aplikasi yang bisa diunduh sangat mudah. Hal itu menyebabkan kita kalap mengunduh berbagai aplikasi. Namun, coba cek, apakah semua aplikasi yang ada pada ponsel benar-benar kita gunakan?

Berilah jeda 2 minggu misalnya, jika ada aplikasi yang sama sekali digunakan, hapuslah, sedikitkan pilihan aplikasi. Simpanlah yang hanya benar-benar kita butuhkan dan menunjang aktivitas.

#2 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi notifikasi


Satu ponsel bisa memuat beragam akun media sosial mulai dari Facebook, Instagram, Path, Pinterest, twitter, WhatsApp, Line hingga Youtube. Alih-alih tak mau ketinggalan informasi, kita mengaktifkan notifikasi semua akun tersebut di ponsel. Temanmu mengunggah instagram stories, notifikasi muncul, temanmu menyukai foto yang baru saja kamu unggah, notifikasi muncul dan ponselmu terus berbunyi. Duh, hal itu bisa membuat kamu tidak fokus beraktivitas! Selalu ingin membuka ponsel untuk sekadar mengecek tiap notifikasi. Dalam podcastnya, Iqbal Hariadi menghimbau agar hanya mengaktifkan notifikasi yang sangat penting saja misalnya pada WhatsApp. Selebihnya, matikan. Mengurangi notifikasi berarti kita mengurangi gangguan yang muncul dari ponsel yang sering membuat susah fokus. Mengurangi notifikasi juga berati mengurangi jumlah grup seperti di WhatsApp, Line, Telegram dan lainnya.

#3 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi scroll tanpa tujuan


Pernah tidak sewaktu lagi bosan, kamu membuka instagram, scrolling lini masa dari atas hingga terus kebawah. Tidak terasa tahu-tahu sudah lebih dari 3 jam. Pertama kamu melihat unggahan teman yang sedang liburan di pantai, kedua kamu membaca berita tentang politik, ketiga melihat informasi terbaru tentang artis korea dan begitu seterusnya. Sadar tidak sih, saat itu otak kamu terlalu banyak menerima informasi yang berlainan? Loncat dari hal yang satu ke hal lainnya tanpa jeda. Setelah membaca tulisan ini, tetapkan tujuan sebelum membuka media sosial. Apa informasi yang ingin kamu dapat? Hentikan scrolling setelah informasi itu sudah kamu dapat. Waktumu bisa digunakan untuk melakukan hal lain yang lebih produktif.

#4 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi pakaian


Pertanyaan tentang, “Hari ini mau pakai baju apa ya?” adalah pertanyaan yang cukup memakan waktu, berpikir terlalu lama di depan lemari baju hanya untuk menentukan pilihan, bayangkan kalau kamu melakukannya setiap hari, berapa banyak waktu yang telah kamu habiskan? Tips sederhana dari saya agar tidak perlu berpikir setiap hari, rencanakan untuk seminggu kedepan tentang baju apa yang akan kamu kenakan, mulai dari atasan hingga bawahan. Letakkan di satu tempat secara berurutan.

Dan yang paling penting, sekali waktu sempatkanlah berbenah. Buka lemarimu lalu renungkan apakah semua baju benar-benar masih sering kamu pakai? Jika ada pakaian yang sama sekali tidak dipakai lagi, keluarkan. Baju-baju yang masih layak pakai bisa kamu sumbangkan. Yang tidak layak pakai bisa kamu buang.

#5 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi belanja


Ditengah munculnya berbagai market place yang memudahkan belanja secara online membuat manusia menjadi konsumtif. Memang, terkadang bagi sebagian orang, berbelanja bisa membuat senang. Walaupun rasa senang tersbut hanya dirasakaan sesaat. Terlalu banyak membeli barang-barang juga bisa membuat rumah makin sesak. Kadar kebahagiaan seseorang bisa menurun jika melihat rumah yang penuh dengan barang. Belum lagi, tawaran-tawaran cashback yang menggiurkan setelah gajian. Tips dari Iqbal, kurangilah belanja. Setelah ada pemasukan, langsung alokasikan untuk dana kebaikan misalnya zakat, setelah itu alokasikan untuk membayar hutang jika ada, masukkan ke tabungan dan sisanya baru untuk belanja.

#6 Gaya Hidup Minimalis: Kurangi komplen


Untuk hal yang satu ini lebih kepada pola pikir. Ibaratnya, hidup hanya ada dua pilihan: 0 atau 1. Setiap kita pasti punya masalah dalam hidup, tapi pilihannya hanya ada dua: komplen atau cari solusi. Contoh sederhananya, misalnya skripsi kamu tidak kelar-kelar, kamu bisa saja menyalahkan dosen yang sulit ditemui dan referensi yang tidak memadai dari kampus. Tapi pilihan ada ditanganmu: terus fokus pada masalah tersebut atau berusaha lebih keras untuk menyelesaikannya. Atau misalnya kamu fresh graduate yang masih menganggur, kamu bisa saja menyalahkan sistem perekrutan di Indonesia yang masih kental dengan praktik nepotisme dan suap, atau kamu memilih untuk berikir lebih kreatif dengan mengambil job freelance, berdagang, mendirikan start up ataupun usaha lainnya.

Pilihan untuk menerapkan gaya hidup minimalis dan lebih bahagia ada ditanganmu, kan? Semoga tulisan ini bisa membantu.

Rekomendasi:

Referensi :
Spotivy. Podcast Subjective. Iqbal Hariadi. 2018. ‘Hidup Minimalis: 7 Hal Penting Dalam Hidup Yang Perlu Lo Kurangin’


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, June 29, 2019

Percaya Diri dan Sombong, Apa Bedanya?

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saya rasa setiap orang sepakat bahwa percaya diri merupakan sikap positif yang sangat penting untuk dimiliki. Termasuk kamu, kan? Percaya diri merupakan modal utama yang akan mengantarkan seseorang mencapai kesuksesan hidup, baik dalam pendidikan, karir maupun bermasyarakat. Berbagai konten mengenai pentingnya sikap percaya diri serta cara untuk meningkatkannya tersebar luas di banyak website, media sosial, juga di buku-buku.

Bahkan, banyak sekali lembaga yang menyelenggarakan seminar dan pelatihan kepercayadirian yang biayanya relatif mahal. Namun terkadang, memiliki sikap percaya diri yang berlebihan justru mengarah kepada sikap sombong. Misalnya dalam berkompetisi, alih-alih meyakinkan diri untuk memenangkan sebuah perlombaan, malah jadi menyepelekan finalis lain, menganggapnya tak ada yang lebih baik dari dirinya.

There is a really great difference between confidence and pride. When you re confident, it s like, I can do this. But when you re proud, it s like Only I can do this.

- Aakanksha Kesarwani


(Ada perbedaan yang sangat besar antara percaya diri dan bangga/sombong. Ketika kamu percaya diri, rasanya seperti, "Saya bisa melakukan ini." Tetapi ketika kamu bangga/sombong, itu seperti "Hanya saya yang bisa melakukan ini.")
Aakanksha Kesarwani

Agar sikap percaya diri tidak kebablasan menjadi sikap sombong, bagaimana ya cara membedakannya? Hmm... Berikut Fenomena Harimu rangkum perbedaan percaya diri dan sombong,

Percaya Diri Atau Sombong
Gambar. Percaya Diri [Pixabay]

#1 Perbedaan dalam Ucapan


Perbedaan paling mendasar dapat dilihat dari cara seseorang dalam berkata. Orang yang sombong berkata kalau Ia paling unggul diantara yang lain, dalam artian berkata kalau orang lain lebih rendah darinya, entah status sosialnya, entah kemampuannya, entah ilmunya. Semua yang ada pada diri orang lain dibilang tak jauh lebih baik daripada apa yang ada pada dirinya. Biasanya, sebenarnya sikap sombong tersebut justru hanya untuk menutupi perasaan rendah diri mereka saat berhadapan dengan orang lain. Mereka gemar mengkritik orang lain bahkan didepan umum. Mereka merasa lebih baik kalau mereka bebicara dengan nada merendahkan. Sedangkan orang yang percaya diri tidak ingin menyinggung perasaan orang lain termasuk merendahkannya melalui ucapan. Mereka justru bisa melihat bahwa potensi yang ada pada orang lain dan membantu mereka dalam mengembangkannya.

#2 Perbedaan dalam Sikap


Sikap orang percaya diri dan orang sombong tentu berbeda. Orang sombong menganggap Ia selalu lebih baik. Biasanya tercermin dari sikapnya yang tak mau mendengarkan orang lain, termasuk menerima masukan dan kritik. Kalau menemui kesulitan atau keadaan yang tidak diinginkan, mereka mudah menyalakan orang lain, bukannya introspeksi diri. Orang percaya diri tidak begitu, Ia mungkin mengkritik dan memberi masukan tapi dengan bahasa yang tidak menyakiti, tidak juga didepan umum. Mereka menganggap bahwa orang lain sama baiknya dengan dirinya. Ketika berbuat salah, mereka tak sungkan untuk meminta maaf. Melakukan kesalahan bukanlah hal yang memalukan bagi mereka.

#3 Perbedaan dalam Memandang Diri Sendiri


Selain memiliki kelebihan, setiap orang memiliki kekurangan, bukan? Namun yang terpenting adalah bagaimana cara seseorang mengatasi kekurangan tersebut. Nah, bagi yang sombong, jangankan mengatasi kekurangan, mengakui kekurangannya pun mereka tidak mau. Mereka cenderung keras kepala, merasa bahwa mereka sempurna tanpa cela. Sedangkan bagi yang percaya diri, kekurangan bukanlah sesuatu yang harus ditutupi. Mereka lebih fokus ke bagaimana cara mereka mengatasi kekurangan tersebut. Mereka tak mudah dipatahkan semangatnya, bukan karena sombong tapi karena merasa nyaman dengan diri sendiri.

#4 Perbedaan dalam Berkomunikasi


Kalau kamu mengobrol dengan orang yang memiliki sikap sombong, mereka biasanya akan mengoceh tentang dengan siapa mereka berteman, orang-orang hebat yang mereka kenal, keunggulan-keunggulan mereka bahkan ketika kamu tidak bertanya. Mereka melakukannya bukan untuk memotivasi dan berbagi pengalaman, tapi untuk menunjukkan pada orang lain kalau mereka yang terhebat dan selalu bisa dibanggakan. Sikap sombong membuatnya selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan, padahal mungkin ilmunya kurang, namun gengsi. Sedangkan sikap percaya diri membuat seseorang tidak perlu malu jika memang tak bisa selalu menjawab semua pertanyaan. Ada kalanya ilmu mereka memang belum cukup untuk menjawab suatu pertanyaan.

#5 Perbedaan dalam Bermasyarakat


Merasa malas tidak sih kalau berhadapan dengan orang sombong? Dicaci maki, disalahkan, direndahkan, dipandang sebelah mata tidak enak bukan? Berhubungan dengan mereka berpotensi membuat kita sakit hati. Mereka cenderung hanya mementingkan diri sendiri. Biasanya orang-orang jadi enggan berhubungan dengannya, Ia bisa kehilangan kesetiaan dari timnya.

Sementara itu, orang-orang akan senang berhubungan dengan orang yang percaya diri. Aura positif mereka terpancar dari caranya berbicara, bersikap dan bermasyarakat. Karena menghargai orang lain, orang lain juga lebih menghargai mereka. Sikap percaya diri membuat seseorang tidak akan mengorbankan hubungan pertemanan dan persaudaraan hanya untuk membuat mereka sukses.

#6 Perbedaan dalam Kontak Mata


Dalam berkomunikasi secara langsung, kontak mata adalah hal penting. Sikap percaya diri membuat seseorang melakukan kontak mata dengan lawan bicara, kamu akan dibuat seolah-olah pembicaraan kamu begitu penting dan didengar. Biarpun saat itu kamu tak hanya sedang berdua dengannya. Sedangkan, orang yang sombong cenderung tak melakukan kontak mata pada lawan bicara, ia lebih sering melihat ke arah yang lain, bukan padamu. Kamu jadi merasa tak dihargai jika berbicara dengan mereka, merasa tak didengar karena tatapan mata mereka kemana-mana, tidak fokus pada lawan bicaranya, bahkan seringkali memotong pembicaraan.

Adanya perbedaan antara sikap sombong dan percaya diri berasal dari sesuatu yang menjadi akar dari sikap tersebut. Kesombongan seperti mekanisme pertahanan yang ada pada pikiran alam bawah sadar seseorang agar tak dikritik. Sedangkan kepercayadirian berasal dari optimisme dan mental yang sehat, bukan karena takut dikritik, tapi karena mereka memang berpikiran positif. Kalau menurutmu, apalagi yang membedakan sikap sombong dan percaya diri?

Perlu kamu ingat bahwa tulisan ini tak bertujuan untuk menghakimi orang lain apakah Ia percaya diri atau sombong. Tapi, tulisan ini untuk mengoreksi diri kita sendiri, menjadi bahan evaluasi untuk kita agar tidak memiliki sikap percaya diri berlebihan yang telah kelewat batas menjadi sikap sombong

Rekomendasi:

Referensi :
Houston, Jennifer. 2014. Ways to Tell the Difference Between Being Arrogant and Being Confident. [womanitely]
Gallo, Carmine. 2010. 10 ways to tell if you’re confident — or arrogant. [theladders]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."