loading...

Saturday, March 16, 2019

Mana yang lebih sukses, si Early Birds atau si Night Owl?

Sebagian besar dari kita mungkin belum terlalu menyadari fungsi dan perspektif lain dari Matahari. Semenjak sekolah, kita tentu berfokus pada fungsi matahari dari sisi biologi, yaitu kaitannya sebagai salah satu sumber abiotik yang mempengaruhi ekosistem biotik di bumi. Atau, dari sisi geografi seperti bagaimana matahari memengaruhi cuaca dan iklim di seluruh penjuru dunia. Hanya sedikit yang kita ketahui tentang fungsi matahari dari sisi etnologi, dimana matahari dipandang berbeda dari kebudayaan manusia di tiap daerah seperti contohnya pada suku Inca di Peru yang memiliki festival pemujaan terhadap matahari. Juga, dari sisi religi seperti pengaruh besar matahari sebagai inti dari ajaran agama Shinto di Jepang.

Bagaimana, menarik kan? Matahari sebagai bintang utama yang diorbit oleh anggota tata surya ternyata memiliki banyak fungsi, kiasan, sekaligus makna yang dipahami oleh manusia dari berbagai jaman. Yang sangat berhubungan dengan manusia tentu aspek antropologi dan aspek psikologi, tentang bagaimana manusia memandang matahari secara tidak langsung sebagai acuan waktu untuk melakukan sesuatu yang memengaruhi hidupnya. Terlebih, hal itu akan multikompleks bila mengkaji pandangan dan budaya manusia yang dianugerahi matahari berlimpah (iklim tropis) bila dibandingkan dengan yang sedikit sinar matahari (iklim subtropis.)

Pergantian siang dan malam yang disebabkan oleh matahari cukup krusial dan menjadi pembeda dalam bagaimana manusia memulai aktivitasnya. Menyadur dari Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 73, disana dijelaskan bahwa Allah menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat bergantian terus-menerus agar manusia bersyukur. Pada dasarnya, hal itu mengacu pada fungsi sinar matahari sebagai jam baku aktivitas manusia sejak masa prasejarah bahkan hingga kini. Tetapi setelah munculnya era listrik, perilaku dan aktivitas manusia berubah jauh hingga ‘menabrak’ jam biologis berdasar matahari yang sudah berlaku sejak dulu. Apakah itu berhubungan dengan psikologis manusia saat ini?

Early Birds vs Night Owl Secara Psikologis Pelakunya


Kembali ke judul, apakah ada hubungannya antara pergeseran aktivitas manusia yang saat ini berada di dikotomi pagi dan malam? Sudah banyak penelitian tentang hal ini terutama yang secara gamblang membagi karakter orang berdasarkan kebiasaannya beraktivitas saat pagi atau malam. Bila terbiasa memulai aktivitas saat pagi maka asosiasinya adalah seperti burung perkutut yang sibuk berkicau di saat pagi hari, sedangkan asosiasi sebaliknya adalah si burung hantu yang membelalak ketika malam hari.

Tempat Tidur
Image: Tempat Tidur [Pixabay]

Seperti yang dipublikasikan oleh Stolarski dalam Frontier in Psychology, hal tersebut diistilahkan sebagai chronotypes, dimana sebagian besar orang yang memiliki salah satu kesamaan atau ketertarikan akan berkumpul dan membuat persepsi akan perkumpulannya tersendiri. Meski bukan dianggap sebuah komunitas, orang-orang yang aktif di pagi hari akan menyamakan persepsinya terhadap aktivitas maupun kebiasaannya ketika pagi hari, bahkan hingga nanti soal pilihan karir, begitupun terjadi sebaliknya pada orang-orang yang aktif di malam hari. Apabila seseorang belum punya kecenderungan untuk lebih sering aktif pada pagi atau malam hari, dapat disebut bahwa ini tipe chronotypes yang netral.

Ada pula anggapan bahwa chronotypes ini dipengaruhi oleh gen, seperti yang dijabarkan oleh Michael J. Berus dalam Psychology Today, bahwa genetika seseorang cukup berpengaruh pada ritme dan siklus jam biologis tubuh. Disebutkan dalam penelitiannya bahwa 60% dari populasi umum memiliki varian DNA yang disebut adenin (A), dan 40% lainnya memiliki varian DNA yang disebut guanin (G). Sebagaimana tiap individu memiliki dua set kromosom DNA, maka ada perkombinasi dimana 48% dari populasi memiliki gen kombinasi A-G, 36% dari populasi memiliki gen A-A dan 16% dari populasi memiliki gen G-G. Setelahnya dijabarkan bahwa pemilik gen A-A memiliki cenderung bertipe sebagai early birds dan pemilik gen G-G cenderung bertipe sebagai night owl, sedangkan pemilik gen kombinasi A-G masuk dalam kondisi tidak berkecenderungan ke salah satunya.

Meski tampak sangat berbeda dari sudut pandang genetika, sebenarnya dua tipe chronotypes ini bukanlah tipe manusia yang memiliki fisik dan kejiwaan yang otomatis berbeda. Pada dasarnya, itu hanya mewarnai karakter manusia tersebut saat ia memilih berkecenderungan dan terbiasa untuk kapan memulai aktivitasnya sehingga akhirnya dapat memengaruhi sifat individunya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Vinita Mehta dalam Psychology Today, ada tiga perbedaan mendasar antara dua tipe chronotypes ini.

  • Yang pertama ialah tentang kepribadian, dimana orang yang beraktivitas saat malam lebih cenderung memiliki persona ‘gelap’ bila dibadingkan dengan orang yang beraktivitas pagi. ‘Gelap’ disini dapat diartikan memiliki bawaan yang dipengaruhi oleh kondisi yang mendukung saat malam hari, seperti sikap melankolisme. Oleh dorongan sikap melankolisme itu, puisi atau lagu romantis biasanya lebih cocok dibuat juga didengar saat malam hari.
     
  • Yang kedua adalah mengenai kreativitas, dimana menurut studi bahwa orang yang beraktivitas  saat malam cenderung lebih kreatif dan memiliki nilai tinggi dari sisi fleksibilitas, kestabilan, dan orisinalitas. Hal ini tentu didukung oleh suasana malam hari yang cenderung tenang, sehingga menyebabkan pikiran dapat lebih fokus dan tidak tegang.
     
  • Sementara yang ketiga adalah mengenai ketepatan waktu, dimana orang yang beraktivitas saat pagi lebih cenderung tepat waktu dibandingkan yang beraktivitas saat malam. Hal itu tentunya dapat dimaklumi sebab di waktu pagi orang-orang memiliki atmosfer bekerja yang cepat dan enerjik, juga kebanyakan dari kita sudah terbiasakan untuk datang tepat waktu saat bersekolah di pagi hari.

Maka, kembali ke pertanyaannya, siapakah yang lebih sukses? Tentu dari kita memiliki argumen masing-masing sesuai dengan kecenderungan chronotypes yang kita miliki. Jawaban paling tepat dan masuk akal adalah untuk menjawab bagaimana menjadi sukses itu ketika kita mengetahui pole position kita berada dimana dan akan sangat bergantung pada pilihan karir yang kita inginkan. Pada dasarnya, sukses adalah bauran hasil dari sikap konsisten sekaligus kerja keras, sedangkan warna kepribadian seseorang akan melengkapi bagian besar dari proses menjadi sukses tersebut.

Oleh karena itu, meski berbeda cara pandang dan kebiasaan, si Early Birds maupun si Night Owl dapat menemukan kesuksesan dengan caranya masing-masing, tergantung darimana ia bisa memosisikan peran dan karirnya di kehidupan. Bila sudah menemukan kecenderungan lebih aktif di pagi hari, maka temukanlah karir yang mendorong kamu untuk produktif di pagi hari, begitupun juga sebaliknya. Di jaman yang serba-modern ini, segala alternatif pekerjaan sudah sangat banyak sehingga tak ada alasan bagi kita untuk tidak sukses dengan warna kepribadian yang kita miliki.

“Tidak ada rahasia dari kesuksesan. Itu adalah hasil dari persiapan, kerja keras, dan belajar dari kesalahan.”

- Colin Powell

Recommended Post:

Sumber :
[1] Jocz, P., Stolarski, M., & Jankowski, K. S. (2018). Similarity in chronotype and preferred time for sex and its role in relationship quality and sexual satisfaction. Frontiers in Psychology, 9, 443.
[2] Breus, Michael J. 2012. Early Bird or Night Owl? It’s In Your Genes. [Psychologytoday]
[3] Mehta, Vinita. 2015. 3 Key Differences Between Evening and Morning People. [Psychologytoday]

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, March 9, 2019

Kehilangan Motivasi? Lakukan Hal Termudah Ini Untuk Mengembalikan Motivasi

Pernah tidak sih kamu merasa tidak semangat dengan hidupmu? Bosan menjalani rutinitas hidupmu yang begitu-begitu saja, sedih dengan masalah hidup yang datang bertubi-tubi, atau lelah dengan perjuanganmu mengejar impian yang tak kunjung mencapai garis finishnya. Hal-hal tersebut bisa disebabkan karena kamu kehilangan motivasi. Dalam kehidupan, hal itu wajar saja. Bahkan, orang se-optimis apapun pernah merasakannya. Kehilangan motivasi membuat semangat seseorang menurun bahkan bisa sampai pada titik terendah, tidak bergairah melakukan apa pun. Ibaratnya kalau menurut peribahasa, ‘Hidup segan, mati tak mau’, alias putus asa.

Image: Loss of Motivation [Pixabay]

Apa yang biasanya kamu lakukan kalau sedang kehilangan motivasi? Tidur dan bermalas-malasan seharian dan berharap hari esok motivasimu sudah muncul kembali? Jangan, ya! Pada dasarnya, kehilangan motivasi adalah hal yang bisa diatasi selama kamu punya kemauan dan upaya untuk mengatasinya. Mungkin, beberapa tips yang Fenomena Harimu rangkum dibawah ini bisa kamu coba lakukan,

#1 Kembalikan Motivasi dengan Menonton Film


Saat kamu sedang kehilangan motivasi, cobalah untuk menonton film. Dilansir dari website Exporing Your Mind, film dapat membantu menemukan kekuatan untuk menghadapi masalahmu. Bahkan, ahli psikoterapi dan ahli film mengembangkan manfaat menonton film untuk terapi psikologi. Banyak manfaat yang bisa kamu rasakan dengan menonton film.

Pertama, menonton film membuatmu rileks. Pikiranmu teralihkan pada kegiatan menonton sehingga mengurangi kecemasan tentang hidupmu.

Kedua, ketika kamu menangis karena film yang menyedihkan, emosi yang terpendam dalam dirimu muncul. Juga ketika kamu tertawa dan bahagia saat menonton. Hal tersebut berpegaruh baik pada kesehatan fisik dan mentalmu.

Ketiga, menonton film membuatmu memikirkan kembali pikiran negatifmu, kamu dapat menemukan perspektif baru dari karakter tokoh yang berbeda dan alur cerita yang menginspirasi. Hal itu membantu kamu merenung dan mengubah sikap.

#2 Coba untuk Meminum Teh atau Kopi


Teh dan kopi adalah dua minuman yang sangat populer di seluruh belahan dunia. Tidak sedikit dari kita yang memulai mengawali hari dengan meminum teh atau kopi. Bukan tanpa alasan, selain baik untuk kesehatan fisik, teh dan kopi memang bermanfaat untuk kesehatan mental.

Pertama, minum teh dapat membantu kamu bersantai, mengurangi kecemasan dan insomnia khususnya teh chamomile yang terkenal karena khasiatnya yang menenangkan.

Tea? It’s like a hug in a cup!“ –Simon Baker
(Teh? Teh seperti sebuah pelukan dalam cangkir!)
–Simon Baker, aktor asal australia dan direktur televisi.

Kopi pun sama, bahkan dengan hanya mencium aroma kopi, bisa membuatmu tenang.

Kedua, penelitian pada partisipan menunjukkan 20% kadar hormon stres dapat berkurang karena meminum teh hitam, setelah meminum 4 cangkir teh setiap hari selama 1 bulan.

Minum kopi ketika merasa tegang atau rendah dapat meningkatkan mood kamu secara instan dan membuat segalanya menjadi lebih baik.

Ketiga, minum teh dapat meningkatkan suasana hati, fungsi kognitif dan kinerja fisik menurut penelitian di Nutrition Bulletin pada tahun 2008, khususnya pada teh hijau. Begitu juga ketika kamu meminum kopi seperti kopi hitam, dapat merangsang sistem saraf pusat dan meningkatkan produksi dopamin dan serotonin yang dapat meningkatkan suasana hatimu.

#3 Berolahragalah


Setiap orang sudah tahu kalau olahraga bermanfaat untuk kesehatan fisik. Tapi tahukah kamu bahwa olahraga juga secara positif memengaruhi kesehatan mental?

Pertama, terlibat dalam aktivitas fisik seperti olahraga atau sekedar berjalan cepat dapat memicu zat kimia otak yang membuat kamu merasa lebih bahagia dan santai.

Kedua, ketika kamu aktf secara fisik, pikiran kamu teralihkan dari stres sehari-hari, kamu jadi terhindar dari pikiran-pikiran negatif yang membuatmu kehilangan motivasi hidup. Dan pada saat yang sama, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membuat kamu lebih rileks dan optimis setelah melakukan latihan keras. Hal ini dapat membantu mengembalikan motivasi hidupmu yang hilang.

#4 Pantik Motivasimu dengan Membaca Buku


Ketika kamu kehilangan motivasi, cobalah untuk membaca sebuah buku. Pilihlah buku-buku yang menghibur seperti novel. Dilansir dari situs Life Hack, seberapa pun stres yang kamu hadapi baik karena pekerjaan maupun hubungan pribadi, semuanya akan hilang begitu saja ketika kamu hanyut dalam sebuah kisah pada novel yang kamu baca.

Layaknya menonton sebuah film, membaca juga bisa menginspirasimu lewat karakter dan alur ceritanya. Atau kamu juga bisa membaca bacaan ringan seperti artikel, artikel yang menarik dapat mengalihkan perhatian, membuatmu rileks dari rutinitas sehari-hari yang membosankan. Apalagi, jika kamu memilih untuk membaca buku-buku self help yang isinya dapat membawa kedamaian dan ketenangan batin yang luar biasa, sehingga motivasimu bisa kembali muncul bahkan akan lebih kuat.

#5 Monitoring Aktifitasmu dengan Menulis di Buku Harian


Terakhir, hal yang bisa coba kamu lakukan adalah dengan mengekpresikan apa yang kamu rasakan dalam buku harian. Tuliskan semua yang mengganggu pikiranmu seperti rasa lelahmu, kebosanan dan kekhawatiran yang membuat kamu kehilangan motivasi. Jika kamu tidak suka menulis, tidak masalah. Ingatlah bahwa tujuan kamu menuliskannya bukan untuk dibaca orang lain melainkan untuk dirimu sendiri.

Tulislah dengan jujur, tak perlu memerhatikan ejaan dan susunan kalimat yang akan membuatmu justru malas menuliskannya. Tulislah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu dan rasakanlah manfaatnya. Bila kamu takut tulisan itu terbaca orang lain, seusai meluapkan emosimu dalam tulisan, buanglah, karena sekali lagi, tujuanmu bukan untuk membuat cerita agar disukai banyak orang, tetapi hanya untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang membuatmu kehilangan motivasi.

I write to clear my own mind, to find out what I think and feel.” –V.S. Pritchett
(Saya menulis untuk menjernihkan pikiran, untuk menemukan apa yang kupikir dan rasakan.)
–V.S. Pritchett, penulis.

Recommended post:

Referensi:
___. 2016. Film Therapy: The Benefits of Watching Movies. [exploringyourmind]
___. 2015. 5 great mental benefits of drinking tea. [Mentalandbodycare
TNN. 2018. Health benefits of black coffee. [timesofindia.indiatimes]
Watson, Kathryn. 2016. The Top 7 Mental Benefits of Sports. [Healthline]


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Saturday, February 23, 2019

Ingin Menghilangkan Rasa Takut? Pahami Dahulu Mengapa Rasa Takut Itu Ada

Pernahkah kamu mendengar bahwa bahwa rasa takut merupakan suatu emosi alami yang tertanam dalam tubuh manusia? Kamu boleh saja percaya atau tidak, tetapi nyatanya hal itu bisa jadi awal mula caramu memahami rasa takut. Menurut Andreas Olsson dalam tulisannya yang dipublikasikan oleh Nature Neuroscience, mengatakan bahwa rasa takut merupakan respon yang muncul ke permukaan akibat dari kebutuhan ‘survive’ terhadap keadaan. Menurutnya, rasa takut ini sudah ada sejak manusia awal memulai evolusi, berkembang seiring dengan penyempurnaan organ-organ hingga saat ini. Dapat dikatakan, manusia memahami rasa takutnya ketika sudah melihat keadaan sekitar, bisa jadi sebabnya dari kekurangan sesuatu atau kehilangan sesuatu.

Seringkali orang membandingkan rasa takut dengan rasa berani. Pertanyaannya, kalaulah takut itu alami, apakah rasa berani itu juga alami? Kalau pendapat saya, berani itu justru sebuah respon dari rasa takut dan tentang bagaimana caranya untuk menghadapi sekaligus mengatasi rasa takut. Sebab, bila kita sedang tidak mengalami ketakutan, apakah kita tiba-tiba jadi berani? Mungkin tidak. Nah, bagaimana pendapatmu?

Image: Sembunyi [pixabay]

Takut juga bersifat multidimensi, sebagaimana kita memahaminya dari persepsi di kepala yang berbeda-beda. Dari sana, psikolog mengelompokkannya ke dalam ketakutan yang sifatnya rasional dan irasional (yang lebih dikenal sebagai fobia). Meski sifatnya universal, fobia ternyata memiliki banyak jenis dan bersifat individualistis sebab hanya akan diketahui bila psikolog mengetahui gejala dari tiap orang dan mencatatnya hingga jadi sebuah istilah umum. Dalam sebuah survei yang diadakan oleh Gallup pada 2015, terdapat 10 jenis ketakutan yang umum diketahui pada warga Amerika Serikat, diantaranya adalah serangan teroris, laba-laba, kematian, kegagalan, perang, aksi kriminal, kekerasan rasial, kesendirian, masa depan, dan perang nuklir. Tentu kamu bisa membedakan dong, mana yang rasional dan mana yang irasional?

Yang menarik, justru kita sebagai masyarakat awam ternyata sulit membedakan apa itu takut dan apa itu cemas. Meski memiliki irisan yang cukup mirip, ada perbedaan mendasar antara ketakutan dan kecemasan. Takut lebih condong pada respon kita terhadap hal yang mengancam di depan mata, sedangkan cemas lebih cenderung pada respon kita terhadap hal yang mengancam tetapi belum terjadi. Contohnya, bila kita sedang berada di hutan lalu bertemu dengan ular maka itu bisa disebut dengan ketakutan. Tetapi apabila kita sedang memikirkan hasil ujian yang belum kunjung keluar maka itu bisa disebut sebagai kecemasan.

Apakah ketika kita takut atau cemas, segalanya dapat terlihat pada ekspresi kita? Joe Navarro, sebagaimana dipublikasikan di Psychology Today, menyatakan bahwa bahasa tubuh atau mikro-ekspresi seringkali jadi pembahasan terkait bagaimana mendeterminasi ketakutan seperti gestur muka, kerlingan mata, menggigit bibir, menggaruk kepala, hingga menjejakkan kaki secara berlebihan. Tetapi menurut Navarro, hal itu kurang relevan disebabkan respon takut menuntut gerakan yang begitu cepat (biasanya kurang dari seperempat detik) sehingga tidak dapat dilihat secara seksama. Menurutnya lagi, akan lebih tepat bila menggunakan metode tersebut untuk mempelajari kepribadian seseorang.

Tingkatan Rasa Takut, Seperti Apa?


Karl Abrecht, dalam bukunya yang berjudul Practical Intelligence:The Art and Science of Common Sense, menyebutkan bahwa rasa takut merupakan reaksi standar biologis yang dimiliki manusia, yang datang dari antisipasi kita terhadap kejadian yang akan datang atau dari sebuah pengalaman. Dari sana, ia mengelompokkan sejumlah lima ‘ketakutan mendasar’ atau feararchy yang dimiliki oleh manusia, yang dijelaskan dari paling dasar menuju paling tinggi yaitu :

  1. Kepunahan. Menurut Karl, ketakutan ini dapat dikatakan sebagai sikap ‘takut mati’. Contohnya, ketika kita dihadapkan pada rasa panik ketika sedang berada pada pesawat yang tinggal landas. 
     
  2. Mutilasi. Kita akan merasa takut bila kita kehilangan salah satu bagian penting dari tubuh atau disebabkan karena hilangnya fungsi organ tersebut. Pemaknaan dari ketakutan jenis ini dapat tergambar ketika kita bergidik ngeri saat melihat binatang yang organ tubuhnya terputus ketika terlindas kendaraan. Atau bisa juga berbentuk sebagai penyakit yang dapat menghilangkan fungsi organ, seperti penderita diabeters akut yang harus rela diamputasi.
     
  3. Kehilangan otonomi. Takut jenis ini merupakan ketakutan terhadap adanya anggapan pihak luar dapat mengontrol apa yang terjadi pada tubuh kita, baik secara fisik maupun psikologi. Dalam film, agak cukup mengerikan bila kita melihat adanya fenomena ‘zombie’ dimana tubuh manusia dikendalikan oleh virus jahat. Sementara secara psikologis, dapat terasa ketika misalnya kita suatu kali merasa bahwa hidup kita dikendalikan oleh penguasa dan aparat.
     
  4. Pemisahan/Penolakan. Disini terlihat bahwa ketakutan yang lebih bersifat psikologis dibandingkan fisik. Contoh paling mudah ketika kita merasa takut ditinggalkan orang tua di keramaian saat masih kecil, atau takut ditinggalkan kekasih. Lebih jauh lagi, ada ketakutan yang timbul karena terjadinya penolakan pada masyarakat sehingga dapat menyebabkan diri merasa terisolasi dan mengalami penurunan mental. Contohnya, dapat terlihat pada beberapa kasus orang yang dipasung.
     
  5. Ego-death. Menurut Karl, inilah ketakutan paling puncak yang dapat dirasakan oleh manusia sadar, yang disebabkan oleh rasa malu dan ketidakpercayaan pada diri sendiri. Orang yang terjangkit takut ini biasanya merasa dirinya ‘kehilangan arah’, sehingga takut bila tidak dihargai seperti kasus integritas (tidak dipercayai lagi bila sudah melakukan kesalahan), perasaan tidak dicintai,  hingga pengabaian kemampuan.

Menurut Karl, ketakutan bisa menjadi dasar emosi dimana kemarahan dapat mengemuka. Bila ketakutan sudah direspon oleh kemarahan, maka sejatinya ia sudah menjadi kelainan (disorder) sehingga dapat menimbulkan penyakit atau depresi. Seringkali, orang yang takut menderita penyakit tertentu malah lebih rentan terkena penyakit tersebut disebabkan oleh pola pikirnya sendiri, apalagi bila mudah tersinggung dan marah.


“Satu-satunya hal yang mesti kita takuti, adalah ketakutan itu sendiri”
– Franklin Roosevelt, US President.

Salah satu cara terbaik untuk meredakan rasa takut yaitu dengan menghadapi ketakutan itu sendiri. Bisa jadi, yang membuat hidup lebih berat sebenarnya ketika kita takut disebabkan ketakutan kita sendiri. Aneh bukan? Seperti saat kita memulai sebuah pidato, kita cenderung takut bahwa orang lain akan mengejek kita bila kita melakukan kesalahan sehingga menjadikan kita menjadi takut salah dalam pembawaan. Apa yang terjadi justru benar, kita jadi salah betulan meskipun hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Tentu, apabila gejala ketakutan itu sudah sangat mengkhawatirkan, maka ada baiknya langsung menghubungi psikiater agar dapat dilakukan penanganan.

Maka bisa jadi sebuah pepatah itu benar, ketika dikatakan bahwa ‘hadapilah ketakutanmu, sehingga nantinya kau tahu bahwa tak perlu ada yang ditakutkan’.

Recommended post:

Sumber :
[1] Olsson, A.; Phelps, E.A. (2007). "Social learning of fear". Nature Neuroscience. 10 (9): 1095–102. doi:10.1038/nn1968. PMID 17726475.
[2] Lyons, Linda. 2005. What Frightens America's Youth?. [gallup]
[3] Albrecht, Karl. "Practical Intelligence: the Art and Science of Common Sense." New York: Wiley, 2007.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, February 16, 2019

Hal Yang Wajib Kamu Ketahui Mengenai Motivasi

Ketika kamu tertarik membaca tulisan ini, barangkali kamu sedang merasa ‘kekurangan’ motivasi ketika menjalani pekerjaan dan karirmu. Ya, tentunya itu bukan gejala yang aneh ditengah banyak sekali tuntutan yang mesti dikerjakan sekaligus dicapai dalam pekerjaan. Atau, siapa tahu apa yang kamu kerjakan dengan susah payah saat ini justru berlawanan dengan passionmu? Lalu mesti bagaimana, sedangkan setir sudah terlalu kaku untuk sekadar diputar, apalagi dibanting. Mau tak mau, seringkali memang kita mesti menyelesaikan apa yang kita kerjakan.

Rasanya tidak cuma kamu sendiri yang mengalami ini, kok. Tetapi, yang sukses diluaran sana bukanlah orang yang selalu memiliki nasib beruntung berada tepat di jalur yang dia inginkan, melainkan orang yang sejatinya bisa bertahan. Tidak jarang di beberapa pekerjaan yang berat dan menantang, masih ada orang yang melakukannya dengan sikap yang sangat baik dan bertanggungjawab. Bagaimana bisa? Kalau saya mengatakan itu dari motivasi tentu bukanlah sebuah rahasia. Nah, yang muncul dari permukaan saat ini adalah ‘apa sih rahasia dari motivasi?’ yang tentunya sering orang ingin kupas isinya daripada hanya sekedar arti kulitnya.

Rahasia Motivasi
Image: Rahasia Motivasi

Motivasi, sebagaimana definisi sebuah benda, akan mengalami pengaruh dari dalam maupun dari luar. Ibarat perangkat lunak, motivasi akan selalu bergantung kualitasnya pada faktor instrinsik dan ekstrinsik yang dialami dari perspektif manusia. Kalaulah bisa dikatakan, motivasi itu sudah tertanam secara alami pada diri manusia selama ia merasa harus merespon dorongan ‘suara hati’nya maupun tekanan dari lingkungan sekitarnya. Dua faktor yang niscaya ini tentu tak bisa seimbang sewaktu-waktu, sebagaimana bentuk keadaan tiap orang yang berbeda-beda. Toh, ada saja orang yang melakukan pekerjaannya dengan senang hati tanpa diminta karena ia menyenanginya, dan ada juga orang yang baru akan berjuang setelah ia merasa tertekan atas pengaruh lingkungan pekerjaannya.

Lalu, bagaimana bila kita sedang berada dalam sisi yang tidak menguntungkan? Taruhlah apa yang sedang kita kerjakan sekarang tidak didukung oleh dorongan intrinsik sedangkan faktor ekstrinsik menekan begitu besar. Oleh karena itu, kita lazim mengalami bentuk reward dan punishment dalam pekerjaan sebab tak semua orang dapat senantiasa bekerja dengan sepenuh hati. Sebuah penghargaan diberikan ketika pekerjaan itu selesai dengan baik, begitupun sebuah hukuman diberikan bila terjadi hal yang sebaliknya. Lalu, apakah itu adalah solusi terbaik untuk menjaga motivasi?

Dilansir dari TED Talks, ada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Sam Glucksberg, seorang professor psikologi dari Universitas Princeton yang menguji seberapa besar faktor reward dan punishment dapat memotivasi sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan. Cara yang ia lakukan yaitu membagi dua kelompok, yaitu kelompok pertama diarahkan untuk mengerjakan sesuatu tanpa hadiah maupun hukuman, sedangkan kelompok kedua diberikan penghargaan berupa uang 5 dolar bila menyelesaikannya dalam waktu cepat dan diantaranya yang paling cepat akan diberikan uang 20 dolar. Apa yang terjadi? Ternyata yang terjadi pada kelompok kedua mereka mengerjakannya 3,5 menit lebih lama daripada kelompok yang pertama.

Bagaimana mungkin kekuatan insentif ternyata memperlama pekerjaan? Pada pekerjaan yang sifatnya mekanistis/birokratif hal ini bisa sesekali bekerja, tetapi untuk pekerjaan yang membutuhkan nalar hal ini menjadikan hasilnya lebih buruk. Kenapa? Karena pekerjaan yang sifatnya mekanistis/birokratif cenderung memiliki solusi tetap sehingga fokus kita tertuju kesana. Tetapi, untuk pekerjaan yang membutuhkan nalar maka hadiah tersebut justru tidak membuat kita fokus dan mengabaikan solusi yang lebih luas.

Maka, kita tentu bertanya-tanya bila sebuah bentuk hadiah dan hukuman tak mampu untuk mengatrol motivasi, maka adakah cara lain? Viktor E Frankl, seorang psikolog kenamaan dari Austria menulis dalam bukunya Man’s Search For Meaning, bahwa cara yang jarang orang ketahui untuk meningkatkan motivasi yaitu dengan memberi makna pada setiap pekerjaan yang kita lakukan. Hal ini ia sebutkan dalam ajarannya yaitu logoterapi, yang diartikan sebagai pencarian menuju makna (will to meaning).

Tentu saja, setiap bagian pekerjaan yang kita lakukan di dunia ini akan menuntut pengorbanan, baik fisik maupun psikis. Tak jarang, ada perasaan menderita bila kita melakukan hal yang kita tidak senangi. Bila sudah sampai pada pertanyaan ‘untuk apa semua yang saya lakukan ini?’,menurut Frankl kita sudah menuju pada tahapan kehampaan eksistensial, dimana kita beranjak pada pemikiran supra-makna dan makin berkonflik dengan naluri kita untuk keluar dari penderitaan tersebut. Tak jarang, banyak orang yang berani keluar dari karir yang ia bertahun-tahun hanya untuk mencari sesuatu yang kurang di dalam hidupnya.

Hal ini disebut oleh Frankl sebagai fenomena noodinamika, dimana sewaktu-waktu dalam upaya pencarian makna hidup itu manusia mengalami ketegangan batin, dengan kata lain bisa dilihat pada naik turunnya motivasi dalam diri manusia. Tetapi menurut Frankl, hal itu merupakan sebuah hal normal dan merupakan prasyarat bagi tercapainya kesehatan mental. Maka, kita tak usah risau bahwa sewaktu-waktu motivasi kita terhambat di tengah jalan, sebagaimana itu adalah proses untuk kesehatan mental kita sendiri.

Beranjak dari situ, Frankl juga menulis bahwa untuk menemukan makna salah satu jalannya yaitu dengan menjalani penderitaan dengan berani. Bahwa apapun pekerjaan yang kita lakukan takkan dijalani dengan mudah, bahkan ketika jalan yang kita tuju sudah sesuai dengan yang kita inginkan. Kuncinya, adalah jalani saja walaupun berat sebab disitulah kita bisa menemukan makna dari apa yang kita kerjakan. Inilah dorongan intrinsik yang nantinya akan kembali menaikkan motivasi kita.

Sebuah contoh, ketika kamu sedang malas mengerjakan skripsi, maka cara terbaik untuk terus menjaga motivasi adalah menyadari bentuk tanggungjawabmu disana dan menjalani setiap langkahnya walau berat. Seringkali akan muncul ‘tenaga baru’ yang tak disangka-sangka bila sudah menjalani fase malasnya. Maka, untukmu yang sedang mengalami penurunan motivasi, cobalah untuk berpikir bahwa ini adalah proses yang akan membuatmu jadi lebih baik di masa depan. Pepatah mengatakan, takkan ada jalan pintas untuk sebuah pengalaman. Jadi, bagaimana kalau mulai sekarang atur mindsetmu untuk berjuang saja sepenuh hati? Semoga tak hanya hasil yang kamu dapatkan, melainkan makna besar dibalik itu yang akan menjadikan hidupmu lebih bernilai.
Tetap semangat ya!

“Perhatian utama manusia bukan untuk mencari kesenangan atau menghindari kesediahan, tetapi menemukan makna dalam hidupnya.”

-Viktor E Frankl.

Recommended post:

Referensi:
[1] Dan Pink, The Puzzle of Motivation. TED Talks. [ted]
[2] Frankl, Victor E. 2017. Man’s Search For Meaning. Mizan Media Utama : Bandung.

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, February 9, 2019

Psikologis Kakak Beradik Terhadap Lingkungan Keluarga

Untukmu yang terlahir bukan sebagai anak tunggal alias mempunyai saudara baik kakak maupun adik, pernahkah kamu merasakan pertentangan yang lebih dari sekedar bertengkar karena berebut mainan sewaktu kecil? Misalnya sebagai anak sulung, kamu merasa memikul tanggung jawab yang berat sebagai kakak, yang dituntut menjadi panutan adikmu. Atau sebagai anak bungsu, kamu merasa kurang dihargai karena tidak mendapatkan kepercayaan untuk menjalani banyak hal, sebesar yang orangtuamu berikan pada kakakmu. Tetapi dibalik itu, kakak atau adikmu sekaligus menjadi orang yang paling menguatkanmu ketika kamu lemah.

Image: Saudara Kandung [Pixabay]

Nyatanya, hubungan antar saudara tidak sesederhana bertengkar karena berebut remote televisi kemudian akur dan bermain bersama kembali. Hubungan saudara adalah hal yang kompleks, seperti yang disampaikan Jeffrey Kluger ketika menjadi pembicara di TED Talk,

“There may be no relationship that effects us more profoundly, that's closer, finer, harder, sweeter, happier, sadder, more filled with joy or fraught with woe than the relationship we have with our brothers and sisters.”
–Jeffrey Kluger.

(Mungkin tidak ada hubungan yang memengaruhi kita lebih dalam, lebih dekat, lebih baik, lebih sulit, lebih manis, lebih bahagia, lebih sedih, lebih terisi oleh sukacita atau dukacita daripada hubungan yang kita miliki dengan saudara-saudari kita.)

Secara umum, kita tahu bahwa cara orang tua mendidik akan memengaruhi kepribadian dan perilaku kita, tetapi menurut Psikolog bernama Dorothy Rowe, kita sering mengabaikan kalau hubungan adik-kakak juga ikut memberi pengaruh. Ya, dalam pandangan psikologi, istilah ‘Sibling Bond’ atau ikatan kakak-adik bisa menjadi ikatan yang penuh kasih sayang dan menguatkan, tetapi bisa juga menjadi ikatan yang menyebabkan kebencian dan persaingan. Hal itu disebabkan oleh adanya fenomena urutan kelahiran dan favoritisme diantara orang tua dan anak. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa fenomena yang sering terjadi dalam ikatan kakak-adik.

Fenomena Persaingan Saudara Kandung


Dibalik hubungan kedekatan antar saudara terdapat perselisihan yang terjadi secara alami. Neil Bush, saudara kandung dari presiden Amerika yang ke 46, George W Bush menyatakan bahwa Ia kehilangan kesabaran karena seringkali dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Mungkin, kita juga pernah mengalami hal yang sama, dibandingkan dalam hal prestasi, misalnya.

Setelah dilahirkan, kita cenderung melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang tua kita, menentukan apa ‘nilai jual’ terkuat kita yang dapat menarik perhatian kedua orang tua. Para ilmuwan menyebut hal ini sebagai proses ‘identifikasi’. Kita mengidentifikasi diri sebagai anak yang lucu, anak yang cantik, anak yang cerdas atau anak berprestasi misalnya dengan menjadi seorang atlet. Sayangnya, kadang-kadang orang tua mencemari proses identifikasi anaknya. Misalnya hanya anak yang berprestasi yang diberi apresiasi oleh mereka sehingga perselisihan akan terjadi antar saudara.

Kabar baiknya, perselisihan yang terjadi dirumah, secara tidak langsung mengajarkan cara menghindari konflik dan penyelesaian konflik. Kita belajar kapan harus membela diri, kapan harus mundur. Kita juga belajar tentang cinta, kesetiaan, kejujuran, berbagi, perhatian, juga kompromi. Hal-hal tersebut akan sangat berguna untuk menghadapi kehidupan di masa mendatang, ketika sudara kandung bahkan tidak tinggal bersama lagi.

Fenomena Urutan Kelahiran (Birth Oder + Parenting = Behaviour)


Dr. Kevin Leman, seorang psikolog sekaligus penulis buku The Birth Order Book: Why You Are the Way You Are (Revell) yang memelajari urutan kelahiran sejak 1967, percaya kalau rahasia perbedaan kepribadian dipengaruhi oleh urutan kelahiran dan bagaimana cara orang tua memperlakukan mereka.

#1 Anak Sulung

Anak pertama menjadi eksperimen pertama kedua orang tuanya, diasuh dengan penuh perhatian dan ketat dengan aturan, menyebabkan secara alami anak sulung akan menjadi anak yang perfeksionis. Ia berusaha selalu membuat senang orang tuanya. Ia cenderung ambisius dan mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai seseorang yang berprestasi. Anak sulung lebih cenderung untuk mengambil posisi kepemimpinan. Dalam survei pada 2007 terhadap 1.582 kepala eksekutif, 43% melaporkan bahwa mereka adalah anak pertama. Namun, tidak selalu benar bahwa anak yang pertama kali lahir dari rahim ibunya akan secara otomatis tumbuh menjadi seorang pemimpin.

#2 Anak Tengah

Menurut seorang terapis bernama Meri Wallace, anak tengah sering merasa ditinggalkan dan merasa seperti, “Yah, aku bukan yang tertua, juga bukan yang termuda. Siapalah aku?”

Berada diantara seorang kakak dan adik, membuat anak tengah memiliki sifat pemberontak. Kalau menurut Kluger, anak tengah adalah sebuah ‘teka-teki’, seringkali kepribadian mereka sulit diartikan karena mungkin adalah campuran dari perilaku kakak dan adiknya. Saat dewasa, anak tengah adalah seseorang yang fokus pada hubungan, ia dapat menjadi negosiator hebat yang dapat mendamaikan antar pihak yang berbeda.

#3 Anak Bungsu

Anak bungsu cenderung menjadi yang paling semangat dan mencintai kebebasan. Ibaratnya, mereka adalah yang dilahirkan untuk ‘menulis ulang peraturan’. Mereka cenderung lebih pemberontak daripada anak tengah, lebih lucu, intuitif dan kharismatik. Karena sikap dan pembawaannya itu, anak bungsu saat dewasa mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang artis, seniman bahkan komedian.

Fenomena Anak Favorit Orang Tua


Sebagai editor senior di majalah TIME, Kluger pernah mengutip sebuah penelitian bahwa 70% Ayah dan 65% Ibu memiliki ‘anak favorit’ setidaknya pada salah satu anak. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap pilih kasih pada anak yang menjadi favoritnya masing-masing. Hal itu disebut dengan favoritisme. Favoritisme bukanlah sepenuhnya kesalahan orang tua, itu terjadi secara alami. Pada umumnya, seorang Ayah cenderung menjadikan anak perempuan terakhir sebagai favoritnya. Sedangkan seorang Ibu cenderung menjadikan anak laki-laki pertama sebagai yang paling disukainya.

Entah bagaimana, jika anak yang berbeda lawan jenis dengan orang tuanya, misal anak perempuan dengan Ayahnya dan mereka mirip secara temperamen, akan membuat Ayahnya lebih mencintainya daripada anak yang lain. Ayah yang seorang pengusaha, akan menyukai putrinya yang berpandangan kuat tentang dunia dan mempunyai ketertarikan pada bisnis. Juga seorang Ibu yang sensitif, akan menyukai putranya yang seorang penyair dibandingkan anak lainnya.

Menurut Kluger, ikatan saudara adalah cinta abadi. Orang tua kita meninggalkan kita terlalu cepat, sedangkan pasangan dan anak-anak kita datang terlambat. Saudara kandung adalah satu-satunya yang bersama kita dalam seluruh perjalanan hidup kita. Karena itu jika kita memiliki saudara kandung dan tidak memanfaatkan ikatannya adalah kebodohan utama. Jika hubungan kita dengan kakak/adik rusak dan perlu diperbaiki, maka perbaikilah. Jika hubungannya baik-baik saja, maka  buatlah hubungan kita dengan mereka menjadi lebih baik lagi. Gagal melakukannya adalah seperti memiliki ribuan hektar lahan pertanian subur tapi  tidak pernah menanamnya. Hidup ini singkat, terbatas, dan itu dimainkan untuk disimpan. Saudara kandung mungkin salah satu dari panen terkaya pada waktu yang kita miliki di sini.

“Life is short, it's finite, and it plays for keeps. Siblings may be among the richest harvests of the time we have here.”

–Jeffrey Kluger

(Hidup ini singkat, terbatas, dan harus siap dengan segala konsekuensinya. Saudara kandung mungkin salah satu dari panen terkaya pada waktu yang kita miliki di sini.)

Recommended post:

Referensi:
Kluger, Jeffrey. 2011. The Sibling Bond. [TED]
Voo, Jocelyn. __. How Birth Order Affects Your Child's Personality and Behavior. [Parents]
Greenwood, Chelsea. 2018. Firstborn children are more likely to be CEOs, and other things your birth order can predict about your future. [Businessinsider]

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."