Friday, November 16, 2018

Harga Diri Rendah? Pahami Dahulu Mengapa Kita Perlu Harga Diri, Bukan Gengsi

Pernahkah kamu mendengar bahwa seringkali, seseorang merasa enggan melakukan sesuatu yang ‘katanya’ untuk mempertahankan harga dirinya? Misalnya, ada seorang senior yang tidak mau meminta maaf kepada juniornya. Atau seseorang yang rela melakukan sesuatu yang ‘katanya’ untuk mempertahankan harga dirinya. Seperti seorang laki-laki lanjut usia yang memilih menjadi pedagang kali lima daripada menjadi pengemis. Ya, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang rela kalau harga dirinya dijatuhkan. Namun benarkah kedua kasus tersebut dilakukan karena harga diri? Atau jangan-jangan, hanya karena gengsi?

Ditinjau dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, gengsi dan harga diri memiliki makna yang berbeda,

gengsi/geng·si/ /géngsi/ n 1 sanak keluarga (orang-orang yang masih ada hubungan keturunan); asal turunan: tidak ada -- nya yang tinggal di sini; ia terlalu membanggakan ketinggian -- nya; 2 kehormatan dan pengaruh; harga diri; martabat: tindakannya hanya untuk menjaga – nya

harga, kehormatan (diri): tahu akan -- dirinya; kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri;


Hemat penulis, esensi gengsi berbeda dengan harga diri. Seseorang yang gengsi cenderung bertindak hanya untuk menjaga kebanggaan dirinya seperti kehormatan, pengaruh, dan martabat. Tindakannya juga dilakukan berdasarkan penilaian orang lain. Seperti kasus senior yang enggan minta maaf kepada junor tersebut. Senior merasa kedudukannya lebih tinggi, minta maaf kepada juniornya sekalipun mungkin Ia salah membuatnya takut diremehkan oleh orang lain. Atau, seorang lulusan sarjana yang enggan menjadi pedagang Bakso hanya karena merasa bahwa lulusan sarjana seharusnya bekerja sebagai pegawai kantoran. Ia takut dicemooh oleh teman-temannya.

Sedangkan, harga diri adalah keseluruhan pendapatmu tentang dirimu sendiri, mencakup bagaimana perasaan tentang kemampuan dan keterbatasanmu. Harga diri didasarkan pada kesadaran akan nilai yang seseorang berikan kepada dirinya sendiri.

Seperti kasus seorang laki-laki lanjut usia yang memilih untuk tetap bekerja tersebut. Ia merasa bahwa selama Ia masih mampu menghidupi dirinya sendiri, maka Ia lalukan daripada mengemis meminta belas kasihan orang lain. Tindakan seseorang yang mempunyai harga diri didasarkan pada nilai dirinya sendiri, bukan penilaian orang lain.

Pandangan diri
Image: Pandangan diri [Pixabay]

Seorang Ahli asal Kanada, Morris Rosenberg, mendefinisikan harga diri sebagai sikap seseorang terhadap diri sendiri. Sedangkan menurut Adler dan Stewart, harga diri dianggap sebagai ukuran seberapa banyak seseorang menilai, menyetujui, mengapresiasi, menghadiahi atau menyukai dirinya sendiri. Ketika memiliki harga diri yang tinggi, kamu merasa baik tentang diri sendiri dan melihat bahwa kamu layak mendapat respek dari orang lain. Ketika kamu memiliki harga diri yang rendah, kamu memberi sedikit nilai pada diri sendiri, kamu sangat mungkin terus-menerus khawatir bahwa kamu tidak cukup baik. Lalu, bagaimana karakteristik seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi dan mengapa seseorang memilikinya?

Bagaimana karakteristik seseorang yang memiliki harga diri tinggi?


Dilansir dari situs Positive Psychology Program, seseorang dengan harga diri yang tinggi memiliki sikap sebagai berikut:

  1. Terbuka dengan Kritikan
    Seseorang dengan harga diri yang tinggi dapat menangani sebuah kritik tanpa tersinggung. Dengan pengetahuan yang ia pelajari dan kembangkan, ia sadar nilai dalam dirinya tidak tergantung pada pendapat orang lain. Ia juga cenderung mau mengakui kesalahan.
     
  2. Terbuka dengan Perasaan
    Orang-orang dengan harga diri yang tinggi mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Mereka tidak takut untuk menunjukkan rasa ingin tahu mereka, mendiskusikan pengalaman, ide, dan peluang dengan lawan bicara mereka. Selain itu, mereka berusaha mengenal dan menerima berbagai macam emosi baik positif maupun negatif, mau mengungkapkan perasaan mereka seperti suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Mereka juga merasa nyaman dengan memberi dan menerima pujian dari orang lain.
     
  3. Menikmati Hidup
    Aspek-aspek lucu dalam hidup dapat dinikmati oleh seseorang dengan harga diri yang tinggi. Mereka tidak tinggal di masa lalu, dengan kata lain fokus pada masa depannya. Mereka menikmati keseimbangan antara bekerja, bermain dan beristirahat.
     
  4. Ketegasan Diri Sendiri
    Ketegasan pada diri sendiri berarti menampilkan kesesuaian antara apa yang dilihat, didengar, dikatakan dan dilakukan. Orang-orang dengan harga diri yang tinggi bertindak tegas tanpa merasa bersalah. Mereka tidak menerima begitu saja upaya orang lain untuk memanipulasi dirinya. Mereka mampu menilai dan menerima orang lain dengan bijak, tanpa mencoba mengubahnya.

Contohnya, seorang siswa berprestasi telah gagal dalam ujian yang sangat sulit. Dia memiliki harga diri yang tinggi, dia mungkin akan menutupi faktor-faktor yang membuatnya gagal seperti tidak belajar cukup keras. Namun Ia tidak akan menyimpulkan bahwa dia bodoh dan menganggap dirinya akan gagal juga dalam semua tes yang akan datang.

Memiliki rasa harga diri yang tinggi juga sehat, membimbingnya untuk menerima kenyataan, berpikir kritis tentang mengapa ia gagal, dan pemecahan masalahnya bukan dengan mengasihani diri sendiri atau menyerah.

Apa peran harga diri seseorang dalam kehidupannya?


Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Gambar: Teori Hirarki Maslow

Menurut Teori Hierarki Kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow, Self-Esteem (Harga Diri) merupakan salah satu dari 7 tingkat kebutuhan dasar manusia. Harga diri dibutuhkan setelah manusia dapat memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa memiliki dan kasih sayang. Dalam teori ini, kebutuhan harga diri lebih fokus pada ukuran penghargaan eksternal (dari luar), seperti rasa hormat, status, pengakuan, pencapaian, dan prestise. Ia menyatakan bahwa agar seseorang mencapai aktualisasi diri, kebutuhan mereka akan harga diri dan penghargaan dari orang lain harus terpenuhi.

Harga diri membantu seseorang memiliki ‘pondasi’ dalam hidup. Judgement kita terhadap diri sendiri akan berdampak setiap saat dan pada setiap keputusan yang diambil. Tanggapan kita terhadap setiap peristiwa, dalam menghadapi tantangan dibentuk sebagian oleh siapa dan apa yang kita pikirkan tentang diri kita, seberapa tinggi harga diri akan sangat berpengaruh pada keberlangsungan hidup dan kebahagiaan.

Itu sebabnya para ahli mengatakan harga diri memiliki nilai 'survival', membantu seseorang bertahan dan berkembang di dunia. Ibaratnya, harga diri ikut bersamamu kemana pun kamu pergi. Harga diri membantumu melakukan apa yang perlu dilakukan untuk mencapai apa yang  diinginkan Sederhananya, kita semua memiliki harga diri karena kita perlu berpikir bahwa diri kita itu baik, bahwa kita layak dan penting.

If we do not believe in ourselves — neither in our efficacy nor in our goodness (and lovability) — the world is a frightening place.

- Nathaniel Branden, A Writer.
(Jika kita tidak percaya pada diri kita - baik dalam keberhasilan kita maupun kebaikan kita (dan ketertarikan) - dunia adalah tempat yang menakutkan.)



Referensi:
Ackerman, Courtney dan Amba Brown. Self-Esteem in Psychology: a Definition, Examples, Books (+TED Talks). 2018. positivepsychologyprogram
Branden, Nathaniel. Our Urgent Need for Self-Esteem. nathanielbranden

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Sunday, November 11, 2018

Gugup Atau Grogi Berbicara Di Depan Umum? Pahami Efek Spotlight Ini

Pernahkah kamu merasa gugup bila diminta berbicara di depan kelas, diminta bernyanyi di acara perpisahan angkatan, atau bahkan ketika menyatakan perasaan ke lawan jenis? Ya, kamu tidak sendiri karena tentu saja hampir semua orang mengalaminya. Perasaan gugup itu ternyata adalah salah satu bagian reaksi normal dari tubuh kita ketika menghadapi hal yang baru atau hal yang takut kita lakukan. Beberapa orang dapat menguasainya, sementara sebagian yang lain tidak.

Hans Eysenck, seorang psikolog, mengatakan bahwa gangguan kegugupan itu nyata ada di setiap manusia, hanya saja bisa berbeda kadarnya dan cara mengatasinya. Ia mengistilahkan hal itu dengan kata ‘neurotisisme’ yang secara harfiah berarti gangguan kegugupan yang disebabkan reaksi otot syaraf. Orang yang mengalaminya disebut dengan neurotik. Gejala umumnya tentu saja kepanikan.

Hanya saja menurut Hans, orang yang bergejala neurotik itu sebenarnya lebih menanggapi rasa paniknya, dibandingkan dengan hal yang ditakutinya tersebut. Nah, berkaca dari kasus di atas, maka sebagian orang yang merasa gugup itu seringkali disebabkan karena ‘Ia jadi lebih gugup karena menyadari bahwa ia gugup’, bukan karena sudah menghadapi apa yang ia harus lakukan.

Dan tahukah kamu, muara dari perasaan gugup akan membuat kita melakukan tingkah yang tidak normal dari biasanya, agak semacam sulit terkendali hingga kadung membuat kesalahan. Efek gema dari kegugupan ini adalah ‘gugup kuadrat’ karena kita merasa bahwa setiap orang menyadari kegugupan kita lalu bereaksi terhadap kegugupan itu, lalu semakin memuncak pada rasa gugup yang lebih besar disebabkan karena terjadinya kesalahan yang akhirnya benar terjadi. Selepas itu, kita jadi merasa bahwa orang lain dapat ‘menghukum’ kita dengan tertawaan ada nyinyiran mereka atas kesalahan yang kita lakukan.

Nah, fenomena psikologis ini dinamakan ‘The Spotlight Effect’ yaitu sebuah efek bias ketika kita merasa bahwa kita sedang berada dalam sorotan lampu utama dari orang-orang di sekitar kita. Kita merasa bahwa orang-orang melihat kita dari segala sisi manapun sehingga kita merasa gugup dan tentu saja membuat ‘tersiksa’ karena takut mengekpresikan diri kita sendiri.

Image: The Spotlight Effect [Pixabay]
 
Dapatkah kamu menganalogikannya dengan tepat? Ya, bayangkan saja kita berada di sebuah panggung dan dicahayai oleh lampu sorot yang besar di tengah panggung sementara sekitar panggung menjadi gelap. Disanalah kegugupan itu ‘mengerjai’ kita karena semua orang yang seakan menonton kita disana menyimpan respon tidak mengenakkan ; tertawaan, godaan, hingga cemoohan. Buat orang yang gugup, ternyata efek gema itu membuatnya jauh lebih gugup bila dibandingkan soal kewajiban berbicara di atas panggung.

Bagaimana kegugupan diri sendiri terhadap orang lain?


Thomas Gilovich dkk. dalam jurnalnya yang diterbitkan oleh American Psychological Association, mendeterminasi hasil penelitiannya bahwa sebenarnya orang yang merasa gugup karena melakukan kesalahan disebabkan karena kegugupan di awal ternyata tidak mengalami efek seburuk itu. Intinya, respon orang lain yang kita kira akan jauh lebih ‘mengerikan’ ternyata tidak terjadi bahkan bila hanya setengahnya.

Menariknya, Thomas Gilovich dkk. mengatakan bahwa banyak hal yang membuat persepsi kita jadi berlebihan terhadap respon orang lain itu disebabkan karena pengaruh self-as-target bias, yaitu bias yang terjadi disebabkan karena kita sudah mengira bahwa orang lain akan berpandangan negatif terhadap diri kita sebelum hal negatif itu telah benar terjadi.

Thomas Gilovich dkk. juga mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa kita terperangkap dalam bias egosenstris. Apakah kamu pernah merasa bahwa seakan seluruh dunia melihatmu karena kesalahan yang kamu lakukan? Ya. Mungkin pernah. Nyatanya, itu adalah ego pribadi yang cakupannya sempit. Kita bukanlah satu titik acuan yang dunia harus ikuti, bukan?

Memposisikan diri sendiri menjadi pendengar/penonton ketika show up


Katakanlah, kenyataannya yang sebenarnya ada ialah kita bukan siapa-siapa di dunia ini yang akan jadi sepenting itu. Lalu, kenapa kita harus melulu takut salah padahal banyak juga orang lain yang melakukan kesalahan? Pun, belum tentu juga kan apa yang kita lakukan itu salah secara objektif? Karena seringkali perasaan salah itu muncul karena kita terlalu sering berkaca pada subjektivitas orang lain yang mengatakan bahwa itu salah.

Implikasi negatifnya, ego itu dapat menjadi jeruji pembatas disebabkan karena kita cenderung akan berlaku sebagaimana kita merasa bahwa hal itu patut dalam pandangan orang lain. Lama kelamaan, hal itu akan perlahan membuat diri kita terbatasi hingga akhirnya kita justru tidak melakukan apa-apa. Hal yang baru, mengejutkan, sensasional, selalu dianggap salah karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Alhasil, kita jadi takut untuk tampil beda karena takut dianggap berbeda.

Ah, tentu saja kita tahu bahwa kita seringkali melakukan kesalahan karena disebabkan hal kecil seperti rasa gugup. Bahayanya, kita bukan saja takut melakukan kesalahan, tetapi lebih takut apabila orang lain senantiasa mengingat kesalahan itu. Seringkali, itu membuat kita menjadi terbebani dan merasa tidak melakukan hal yang terbaik karena terpenjara oleh persepsi tadi.

Nyatanya, we got too overwhelmed. Tak ada yang menyimpan terlalu banyak memori sekelebat yang mampir dalam benak, walaupun itu sebuah kesalahan fatal. Memang, orang mungkin akan secara aktual akan melihat dan memparafrasekan tentang kita pada apapun yang mereka lihat, tapi tak ada yang sejatinya terlalu ‘peduli’ terhadap kesalahan dan sesuatu yang berbeda dari kita. 

Kita hanya terkena gaung persepsi yang seakan-akan menakuti kita bahwa orang lain akan ingat hal memalukan itu seumur hidupnya. Padahal, rasa gugup itu sendiri normal dan terjadi pada semua orang. Sering kita sadari pula bahwa kita bisa ‘memaafkan’ kesalahan orang lain yang disebabkan karena rasa gugupnya. Mudah sekali, bukankah kita akan cepat lupa akan hal itu?

Barangkali kasarnya, no one care of us. Kenapa begitu? karena sebenarnya setiap orang akan selalu mengkhawatirkan dirinya sendiri, bukan orang lain. Anehnya, kita selalu merasa bahwa kita takut atau ragu karena merasa terus-menerus dilihat orang lain padahal sejatinya orang lain pun tidak terlalu peduli (karena lebih memedulikan dirinya sendiri, yang juga punya rasa takut dan ragu). See?

It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have done them better. The credit belongs to the man who is actually in the arena, ..."

– Theodore Roosevelt.

“Ini bukan tentang kritik dari seseorang yang akan terhitung, juga bukan orang lain yang menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang menghadapi tantangan, atau saat dimana mereka merasa dapat menunjukkannya dengan lebih baik. Pujian sesungguhnya adalah milik seseorang yang sebenarnya bertarung di dalam arena.” Theodore Roosevelt.


Referensi:
[1] Gilovic, Thomas. Victoria Husted Medvec. Kenneth Savitsky. 2000. The Spotlight Effect in Social Judgement : An Egocentric Bias in Estimate of the Salience of One’s Own Actions And Appearance. Journal of Personality and Social Psychology, vol.78, No.2, 211-222  : American Psychological Association, Inc.
[2] Dr. C. George Boeree. 2004. Personality Theories : Primashophie Jogjakarta.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."

Saturday, October 27, 2018

Kenali Beberapa Pemicu Sifat Hasad, Penyakit Iri Hati Pada Manusia

Pernahkah kamu merasa iri hati? Sebuah emosi dimana kamu menginginkan apa yang orang lain miliki. Melihat tetanggamu bisa membeli mobil baru, kamu bertanya pada diri sendiri, “Kenapa dia bisa membeli mobil sedangkan saya tidak?” Melihat teman semasa sekolahmu lolos ke tahap akhir beasiswa S2 sedangkan kamu gagal di tahap awal, kamu merasa tidak senang, diam-diam mengharapkan ia juga akan gagal, sama sepertimu. Meski seringkali manusia berusaha mengelak bahwa tidak merasa iri hati, nyatanya itu adalah beberapa contoh dari emosi iri hati yang seringkali dirasakan..

Rasa iri hati disebabkan oleh ketidakpuasan dengan citra diri (self-image), pandangan dan penilaian kamu tentang diri sendiri. Ketika iri, kamu merasa buruk karena membandingkan diri dengan seseorang yang kamu anggap saingan. Kamu berfikir bahwa ‘jika saya memiliki apa yang kamu miliki, maka saya akan bahagia." Seringkali, iri hati diidentikkan dengan cemburu. Namun, dilansir dari website Good Therapy, rasa iri berbeda dengan rasa cemburu.

Tetangga
Image: Tetangga [Pixabay]


Saat cemburu kamu hanya melibatkan dirimu sendiri karena merasa terancam kehilangan sesuatu yang kamu miliki, biasanya konteksnya adalah sebuah hubungan. Emosi cemburu berfokus pada apa yang kamu miliki. Sedangkan iri hati adalah antara kamu dan orang lain, yaitu kamu menginginkan apa yang orang lain miliki. Emosi iri hati berfokus pada apa yang orang lain miliki.

Kita seharusnya senang ketika orang lain berhasil dan mendapat kebahagiaan, tetapi seperti yang kita lihat, otak kita sering kali tidak bekerja seperti itu. Jadi, ada apa dibalik rasa iri hati dan bagaimana cara kerjanya di otak kita? Berikut Fenomena Harimu rangkum rahasia dibalik iri hati dikutip dari berbagai sumber.

#1 Iri Hati dipicu oleh Perasaan Rendah Diri


Iri hati  lebih dipicu oleh faktor internal daripada faktor eksternal. Individu lebih mungkin mengalami iri jika mereka memiliki harga diri yang rendah atau percaya bahwa mereka kurang dalam beberapa hal, terlepas dari apa yang sebenarnya mereka miliki. Rasa iri berkembang ketika individu membandingkan diri mereka dengan orang lain dan menemukan bahwa diri mereka lebih rendah.

Proses ini adalah proses alami, meskipun membandingkan diri dengan orang lain dapat mengarah pada timbulnya emosi lainnya yang dapat menyebabkan rasa sakit. Rasa sakit karena iri tidak disebabkan oleh keinginan atas milik orang lain, tetapi oleh perasaan rendah diri dan frustrasi yang disebabkan oleh perasaan memiliki kekurangan dalam diri seseorang.

#2 Objek dari Rasa Iri berubah Seiring Waktu


Sebuah penelitian terhadap 1600 orang yang berusia 18-80 tahun oleh para peneliti UC San Diego yang diterbitkan pada 2015 menemukan bahwa kaum muda lebih mungkin merasa iri daripada orang setengah baya atau lanjut usia, dan jauh lebih mungkin iri pada teman sebaya daripada kepada mereka yang di luar kelompok usia mereka. Bertrand Russell, seorang filsuf dan ahli matematika ternama Britania Raya menyatakan,

'Pengemis tidak iri pada miliader, mereka akan iri pada pengemis lain yang lebih sukses.'

Para peneliti juga menemukan bahwa orang-orang cenderung iri pada gender mereka sendiri, dan apa yang memicu rasa iri berubah seiring waktu; orang muda lebih iri dengan kesuksesan dalam hubungan, sementara yang lebih tua lebih iri dengan uang dan penghargaan profesional. Iri hati bergeser dengan status kita saat kita menjadi lebih mapan dan prioritas kita berubah.

#3 Media Sosial Membuat Mudah Iri Hati


Di masa sekarang dimana orang-orang ‘pamer’ keberhasilan, perjalanan, pernikahan, anak-anak, dan pencapaian lainnya di media sosial mendorong kita untuk membandingkan diri kita dengan siapa pun. Terlepas dari apapun tujuan mereka memperlihatkannya di dunia maya, orang-orang yang melihat pencapaian dan pengalaman teman-teman mereka di facebook dan instagram lebih mudah untuk merasa iri hati dan bertanya-tanya mengapa dia tidak memiliki kesuksesan dan kebahagiaan yang sama seperti mereka.

#4 Semakin Iri, Semakin Besar Rasa Sakit


Setidaknya, kita disebut mengalami iri hati apabila ada hal-hal berikut.
  • Pertama, kita dihadapkan dengan seseorang yang memiliki kualitas unggul, baik dalam prestasi atau kepemilikan suatu barang.  
  • Kedua, kita ingin kualitas itu untuk diri kita sendiri dan berharap orang lain tidak memilikinya. 
  • Ketiga, kita merasa sakit karenanya. Keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain tersebut disertai dengan rasa sakit.

Iri hati bisa membuat kita sakit secara fisik dan kejiwaan. Sebuah penelitian yang menarik terungkap pada tahun 2009, di mana para ilmuwan melakukan pemindaian otak subjek. Mereka diminta untuk membayangkan diri mereka dalam situasi sosial di mana dihadapkan dengan orang-orang yang patut ditiru (teman-teman yang kaya atau berkuasa).

Para ilmuwan menemukan, New York Times melaporkan bahwa ketika orang-orang mengaku merasa iri, daerah otak yang menyebar rasa sakit fisik terangsang: semakin tinggi subyek meraskan iri hati, semakin melebar kelenjar rasa sakit di otak. Dengan kata lain, otak sebenarnya mencatat rasa sakit fisik ketika kita berada dalam situasi iri hati, sama seperti ketika kita merasa sedih atau mengalami penolakan sosial.

#5 Iri bisa Menjadi Evaluasi Diri


Dilansir dari website bustle, iri hati tidak sepenuhnya buruk. Pada dasarnya, iri hati adalah menginginkan apa yang orang lain miliki, ketika iri kita membandingkan diri dengan orang lain, kita punya keinginan bersaing dengan mereka.

Iri hati terbagi dua macam, iri hati jahat dan iri hati jinak. Iri hati yang jahat menimbulkan keinginan agar orang lain tidak memiliki sesuatu yang kita ingin miliki. Ada keinginan negatif untuk menghilangkan sesuatu yang orang lain miliki.

Sedangkan, iri hati yang jinak, cenderung hanya ingin mendapatkan sesuatu atau mecapai prestasi yang dimiliki orang lain, tanpa ada niat jahat terhadap orang tersebut. Rasa iri yang jinak memotivasi kita untuk berusaha untuk mendapatkan juga apa yang dimiiki orang lain, bahkan agar mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik.

Juga dilansir dari website Good Therapy, pengalaman iri dapat memotivasi, misalnya, iri mendorong individu untuk mencapai dan memperoleh lebih banyak, itu bisa berguna dalam mengejar karir atau kesuksesan pendidikan.

Demikian pula, peneliti percaya bahwa iri hati mungkin memiliki tujuan evolusioner, karena membuat orang ingin dan akhirnya berusaha untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan. Seperti pernyataan Richard Smith dalam buku The Evolutionary Psychology Of Envy,

“Envy has played an important role in humans' quest for the resources necessary for successful survival and reproduction over the course of evolutionary time"

(Iri hati berperan penting dalam pencarian manusia menggali sumber daya yang diperlukan untuk kelangsungan hidup yang lebih sukses dan reproduksi selama masa perkembangan hidupnya.)

Namun, bukan berarti rasa iri dibenarkan. Tidak perlu iri hati untuk bisa mengevaluasi diri.


Referensi
Thorpe, JR. Why Do We Envy Others? 7 Things To Know About The Psychology Of Feeling Green. 2016. Bustle 
Envy. 2016. goodtherapy
Burton, Neel. Psikologi dan Filsafat dari Envy. 2014. psychologytoday


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Monday, October 15, 2018

Sudah Menikah Namun Tidak Kunjung Kaya, Mengapa?

Perihal pernikahan memang hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Apalagi ditengah maraknya pernyataaan di media sosial yang ditujukan untuk para jomblowan-jomblowati agar menyegerakan menikah, salah satu yang digembor-gemborkan adalah bahwa menikah bisa membuat kaya. Namun, pernahkah pertanyaan semacam ini terlintas dipikiranmu,

“Jika menikah memang dapat membuat kaya, mengapa ya banyak pasangan yang sudah menikah namun hidupnya tetap susah?”


Perhatikan orang-orang disekelilingmu, apakah mereka semua yang sudah menikah, sekarang menjadi kaya, atau dengan kata lain, kekayaan dan pendapatanmu semakin meningkat? Jika kamu adalah pasangan yang telah menikah, apakah kekayaan dan pendapatanmu sekarang jauh lebih meningkat daripada saat kalian masih sendiri?

Ketika kamu dan pasanganmu telah melangkah menuju bahtera rumah tangga namun masih sangat kesulitan dalam finansial, hal pertama yang bisa dilakukan adalah introspeksi, mungkin selama ini ada hal-hal yang salah dan perlu diperbaiki dalam kehidupan pernikahan kalian.

Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa kesalahan yang kemungkinan besar menjadi sebab mengapa pasangan yang sudah menikah tidak juga kaya,

kesalahan menikah
Image: Kesalahan Menikah [pixabay]


#1 Kesalahan Sebelum Menikah


  • Salah Niat

    Dalam buku ‘You Are What You Think’ yang ditulis oleh Abdul Azis Khafia, niat merupakan bagian yang membentuk kekuatan hati. Siapapun yang memiliki niat, ia akan memiliki energi untuk mewujudkannya. Untuk itu, niat menikah yang salah akan berpengaruh besar terhadap kekuatan dan energi dalam memperjuangkan kehidupan pernikahan.

    Jika tujuanmu menikah hanya untuk mengejar kekayaan, kamu mudah stres dan tak pernah merasa puas. Kamu bisa saja melakukan segala cara agar mendapat lebih banyak uang, serta menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak perlu. Niat yang salah menjauhkanmu dari kebaikan-kebaikan dalam kehidupan berumah tangga.

    Untuk itu, niatkanlah menikah sebagai ibadah, sebagai upaya untuk mencapai ridha Pencipta dengan lebih banyak berbuat kebaikan bersama, saling mengasihi dan membahagiakan. Ingatlah bahwa kehidupan di dunia ini sementara. Jangan jadikan perihal duniawi seperti kekayaan sebagai tujuan utama.

  • Salah Persepsi

    Dalam buku ‘Nikah Aja Biar Kaya’ karya Nafi’ah Al Ma’rab, dikatakan bahwa kaya bukan hanya soal materi tapi juga mental. Lemahnya ekonomi rumah tangga, salah satu penyebabnya bisa jadi karena tidak bersyukur. Harta benda yang begitu banyak kita miliki namun tak pernah disyukuri, rasanya tidak berarti apa-apa. Habis begitu saja.

    Mungkin kita pernah melihat keluarga yang dulunya hidup dalam kegemilangan ekonomi, namun tidak lama mereka jatuh, kehidupannya berubah 180 derajat. Diantara mereka ada yang stres sampai bunuh diri. Mereka memiliki persepsi yang salah tentang harta. Pandanglah harta sebagai sarana atau alat untuk lebih banyak berbuat kebaikan. Jangan memandang harta sebagai kekayaan pribadi yang dihabiskan untuk kepentingan sendiri. Semakin banyak harta yang kamu dapatkan, semakin banyak kebaikan yang harus kamu dan pasanganmu lakukan. 

  • Salah Pilih

    Telah disinggung di artikel sebelumnya bahwa kekayaan seseorang yang meningkat setelah menikah tidak lepas dari faktor ‘dengan siapa ia menikah’. Maka, sangat penting bagi kita untuk menetapkan kriteria pasangan sebelum menikah.

    Menurut Nasarudin Latif dalam buku ‘Ilmu Perkawinan: Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga’ secara psikologis seseorang yang mendapat pasangan sesuai dengan keinginannya akan sangat membantu dalam proses sosialisasi menuju tercapainya kebahagiaan keluarga.

    Proses mencari jodoh memang tidak bisa dilakukan secara asal-asalan dan soal pilihan jodoh sendiri merupakan setengah dari suksesnya perkawinan. Namun, lebih baik tidak langsung menyimpulkan bahwa kamu salah pilih pasangan. Ingatlah bahwa tidak ada pasangan yang 100% ideal. 

#2 Kesalahan Setelah Menikah


  • Tidak Dewasa

    Kedewasaan adalah salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu pernikahan, salah satunya dalam hal finansial. Ilmu Psikologi memandang kedewasaan sebagai suatu fase pada kehidupan manusia yang menggambarkan telah tercapainya keseimbangan mental dan pola pikir dalam setiap perkataan dan perbuatan.

    Pasangan yang telah dewasa adalah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga, tahu bagaimana cara bijak menyikapi masalah-masalah yang timbul, serta mengetahui, memahami dan memenuhi hak dan kewajiban satu sama lain. 

  • Sikap dan kebiasaan yang salah dalam mengelola keuangan

    Dilansir dari dream.co.id, inilah beberapa kesalahan dalam mengelola keuangan yang membuat kamu tidak juga kaya,
    1. Penghasilanmu meningkat, tetapi anggaran belanja juga meningkat
    2. Kamu hanya fokus ke masa sekarang, tidak ke masa depan
    3. Kamu berpikir belum waktunya untuk menabung dan berinvestasi
    4. Kamu tidak melakukan pencatatan keuangan
    5. Kamu tidak punya skala prioritas, mudah tergiur untuk membeli barang- barang baru yang tidak begitu diperlukan
    6. Tidak memiliki perencanaan keuangan yang jelas
     
  • Kurang komunikasi

    Seberapa benar pun niat, sikap, kedewasaan dan perencanaan keuangan yang telah disusun, rumah tangga tidak akan bisa sukses tanpa komunikasi. Dalam proses pembagian peran dan tanggung jawab keluarga, yang terpenting adalah komunikasi. Sejak awal berkeluarga, tentukan siapa yang akan mengelola keuangan keluarga, tunjuk siapa yang akan menjadi manager keuangan keluarga.

    Berbagilah dengan pasanganmu, peran dan tanggung jawab apa saja yang kalian sepakati bersama. Kesepakatan ini perlu untuk menghindari terjadinya konflik dan tumpang tindih. Dalam pelaksanaanya, tentu tidak akan selalu berjaan mulus. Untuk itu, diperlukan keterbukaan dengan pasangan agar tidak saling curiga. |

    Diperlukan kesabaran yang luas untuk berkompromi. Misalnya, ada tugas suami yang suatu ketika tidak bisa dihandle, maka istri bisa menggantikannya, atau sebaliknya.

Jika kamu dan pasangan telah berusaha maksimal namun kekayaanmu belum juga meningkat. Atau jika kamu telah berupaya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin menjadi sebab kamu dan pasangan masih sulit dalam finansial. Bersabarlah, tetaplah berpikir positif bahwa mungkin Tuhan hanya sedang mengujimu. Setiap manusia di dunia tidak lepas dari ujian, bukan? Jangan biarkan harapan dan impianmu dan pasangan untuk lebih sejahtera dalam finansial hilang begitu saja!

Hope is important because it can make the present moment less difficult to bear. If we believe that tomorrow will be better, we can bear a hardship today.
~ Thich Nhat Hanh

(Harapan itu penting karena bisa membuat sesuatu tidak terlalu sulit untuk ditanggung.  Jika kita percaya bahwa besok akan lebih baik, kita dapat menanggung kesulitan hari ini.)


Referensi:
Briscoe, Krishann. 2013. 25 Marriage Quotes to Encourage You During Tough TImes In Your Marriage. Babble
Khafia, Abdul Azis. You Are What You Think’. 2016. Jakarta: PT Grasindo.
Latif, Nasarudin. Ilmu Perkawinan: Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga. 2001. Bandung: Pustaka Hidayah.
AL-HUKAMA. The Indonesian Journal of Islmaic Law Volume 06, Nomor 02, Desember 2016. Ghufron, Muh. Maknda Kedewasaan dalam Perkawinan. Academia
Ramdania. 2015. Ini 8 Alasan kenapa anda tetap misikin. dream 
Al Ma’rab, Nafi’ah. Nikah Aja Biar Kaya. 2018. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

Friday, October 5, 2018

Manfaat Menikah Membuat Mereka Lebih Kaya dan Sukses, Bagaimana?

‘Menikahlah, maka kamu akan kaya!’

Sering kamu mendengar seruan semacam itu? Bahwa katanya, pernikahan adalah gerbang menuju kekayaan. Bahwa dengan menikah, kekayaan seseorang akan meningkat. Lalu, setujukah kamu dengan pernyataan-pernyataan semacam itu?

Menikah merupakan salah satu keputusan terbesar dalam hidup. Dan tidak bisa dipungkiri, perihal finansial berperan penting baik menjadi sebab atau akibat dari menikah. Maksudnya, kemapanan dalam finansial seringkali menyebabkan seseorang mantap untuk menikah, dan seringkali menikah mengakibatkan finansial seseorang meningkat. Seperti pernyataan Pamela Smock, seorang profesor sosiologi di University of Michigan,

“The evidence shows that getting married increases wealth and income,”
- Pamela Smock
(Bukti menunjukkan bahwa menikah meningkatkan kekayaan dan pendapatan.)

Penelitian yang Menunjukkan Bahwa Menikah Meningkatkan Kekayaan dan Pendapatan


#1 Penelitian Jay Zagorsky

Pada tahun 1985 hingga 2000, Jay Zagorsky dari Ohio University pernah melakukan penelitian yang melibatkan 9.000 orang. Hasilnya, Ia membuktikan setidaknya dua hal,

Pertama, pernikahan membuat seseorang lebih kaya daripada sekedar menggabungkan kekayaan kedua pasangan tersebut. Bahwa setiap orang yang menikah, rata-rata memperoleh jumlah kekayaan dua kali lipat, bahkan bisa empat kali lipat.

Kedua, pernikahan menjadi faktor yang menjadikan kekayaan seseorang meningkat, sekitar 4% setiap tahun.

#2 Data BLS America

Menurut data BLS (Bureau of Labor Statistics) Amerika yang diamati para penulis Atlantik, pasangan menghabiskan rata-rata 6,9% dari pendapatan tahunan mereka untuk kesehatan mereka, sementara pria lajang hanya menghabiskan 3,9% dan wanita lajang menghabiskan 7,9%. Untuk tempat tinggal, pasangan menghabiskan rata-rata 23,9% dari pendapatan tahunan mereka, dibandingkan dengan pria lajang yang menghabiskan 30,3% dan wanita lajang yang menghabiskan 39,8%. Dengan menggabungkan sumber daya dan membagi biaya, orang yang sudah menikah memiliki kelebihan pada semua jenis pengeluaran sehari-hari yang dapat menghasilkan penghematan besar.

Setelah menikah mereka menggabungkan pendapatan dan berbagi biaya. Misalnya biaya dalam membeli peralatan rumah tangga, mereka hanya perlu membeli satu mesin cuci, satu kendaraan untukdigunakan berdua, sisanya digunakan untuk keperluan lain, hal tersebut memungkinkan mereka membangun kekayaan lebih cepat daripada yang masih lajang atau bercerai, karena pendapatan seseorang yang masih lajang tidak digabung dengan pendapatan pasangan untuk membiayai sesuatu.

#3 Penelitian W. Bradford Wilcox dan Robert Lerman

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh W. Bradford Wilcox, direktur National Marriage Project di University of Virginia, dan Robert Lerman, seorang profesor ekonomi di American University, menunjukkan bahwa pria mendapat gaji yang lebih besar ketika mereka menikah dibandingkan dengan rekan mereka yang masih lajang.

Menurut hasil studi, pria sudah menikah yang berusia antara 28-30 tahun berpenghasilan sekitar $ 15,900 lebih per tahun dalam pendapatan perorangan dibandingkan dengan rekan seusianya yang lajang, sementara pria sudah menikah antara 44-46 tahun menghasilkan $ 18.800 lebih banyak daripada pria lajang pada usia yang sama.

Pernikahan
Image: Pernikahan [Pixabay]

Selain membagi biaya, faktor yang menyebabkan kekayaan pasangan bisa meningkat adalah pasangan dapat membagi tanggung jawab dengan cara yang menguntungkan secara finansial. Misalnya, pria yang sudah menikah dapat bekerja 12 jam dalam sehari untuk menyenangkan atasannya, agar dipromosikan. Ia dan istrinya membagi tugas rumah tangga agar kehidupan mereka lebih maju secara finansial.

Dan kekayaan seseorang yang meningkat setelah menikah tidak lepas dari faktor ‘dengan siapa ia menikah’, Banyak pria dan wanita yang dipelajari dalam penelitian Zagorsky merasa bahwa mereka perlu memiliki keamanan finansial untuk menikah, seperti pekerjaan yang stabil atau tabungan yang cukup untuk mengadakan pernikahan dan resepsi.

Wanita menginginkan pria yang memiliki jenis pekerjaan yang membuat pria menjadi pencari nafkah utama. Seringkali, faktor latar belakang pendidikan, religiusitas, kemapanan dalam tanggung jawab dijadikan pertimbangan penting dalam memilih pasangan hidup yang akan dinikahi.

Bagaimana bisa? Begini, logika sederhananya, menurut Ahmad Rifai Rifan dalam bukunya yang berjudul ‘Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk’, kita hidup di dunia ini sudah dijatah rezekinya oleh Tuhan. Namun rezeki tersebut bisa terhalang oleh beberapa hal seperti rasa malas atau gengsi. Setelah menikah, kita dituntut agar bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Nah, tuntutan tanggung jawab menafkahi itulah yang akan menghapus rasa malas dan gengsi. Kita akan berusaha sangat keras karena sudah ada keluarga yang sedang menanti nafkah dari kita.

Menurut Zagorsky, tentu saja peningkatan kekayaan karena pernikahan hanya berlaku untuk pernikahan yang berhasil. Penelitiannya menemukan bahwa pasangan yang bercerai kekayaan mereka cenderung turun drastis, hal tersebut membuat mereka lebih buruk daripada mereka yang masih lajang dan belum pernah menikah. Untuk itu, Zagorsky berpesan,

 “Jika kamu ingin benar-benar meningkatkan kekayaan, menikahlah dan pertahankan!

Tidak hanya menikah, namun pertahankan juga pernikahannya. Namun, Zagorsky menyatakan bahwa tujuan menikah agar kaya adalah ide yang buruk. Jadi, alangkah lebih baik jika tujuan utamanya bukan untuk kaya, namun untuk cinta dan kebahagiaan. Kebahagiaan merayakan cinta dalam pernikahan salah satunya akan mengarah pada kekayaan finansial pasangan.

Kebahagiaan bisa meningkatkan produktifitas, lebih kreatif dan tentunya tanggung jawab yang lebih besar setelah menikah.


Referensi:
Allison Linn. 2016. Why married people tend to be wealthier: It's complicated. today
Landes, Luke. 2018. Does Getting Married Increase Wealth and Income?. consumerismcommentary
Rachel Gillett. 2016. 7 Ways Being Married Makes You More Successful. businessinder
Rif'an, Ahmad Rifa'i , Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk. 2011. Jakarta: Elexmedia Komputindo


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

loading...