loading...

Tuesday, July 31, 2018

Pernah Merasakan Dejavu? Ini Penyebab dan Penjelasannya

Pernahkah kamu mengalami dejavu? Keadaan dimana kamu merasa familiar dengan keadaan disekitarmu, seolah-olah kamu pernah mengalami kejadian yang sama persis seperti di masa lalu. Menurut Brown, sekitar dua pertiga penduduk memiliki setidaknya satu pengalaman dejavu dalam hidup mereka. Mungkin, kamu salah dari mereka yang pernah mengalaminya, bahkan tidak hanya sekali.

“Déjà vu involves a strong feeling that an experience is familiar, despite sensing or knowing that it never happened before. Most people have experienced déjà vu at some point in their life, but it occurs infrequently, perhaps once or twice a year at most.”
- Krishna KumariChalla, Founder, Science Communication Network at Sci-Art Lab

(Dejavu melibatkan perasaan yang kuat sebuah pengalaman familiar, meskipun merasakan atau mengetahui bahwa pengalaman itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Kebanyakan orang pernah mengalami dejavu dalam kehidupan mereka, tetapi jarang, mungkin sekali, atau paling banyak dua kali dalam setahun)

Kata dejavu berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘already seen’ (telah melihat atau telah menyaksikan). Pencetus kata ‘déjà vu’ pertama kali pada tahun 1876 adalah Emile Boirac, seorang psikolog berkebangsaan Prancis.

Ia menuliskan istilah tersebut dalam bukunya yang berjudul ‘L'Avenir des Sciences Psichyques’. Dejavu merupakan sebuah fenomena di mana seseorang mengalami fantasi seolah-olah ia sudah pernah melihat pada masa lampau suatu peristiwa yang sedang dialaminya pada hari ini.

Seorang psikoterapis dari Indonesia, Indra Majid, memaparkan bahwa dejavu merupakan gejala gangguan mental pada memori atau daya ingat. Menurutnya, dejavu masuk kedalam kategori paramnesia, yakni suatu ingatan palsu. Ketika merasakan dejavu, individu mengalami ingatan palsu terhadap pengalaman baru, merasa sangat mengenali sistuasi baru yang sesungguhnya belum pernah dikenalnya.

Berikut penyebab orang mendapatkan fenomena dejavu

Kali ini, fenomenaharimu akan membantu kamu memahami mengapa seseorang bisa mengalami dejavu.

#1. Gangguan Akses Memori

Hal ini dicetuskan oleh seorang psikolog terkemuka, Sigmund Freud. Ia menyimpulkan bahwa fenomena dejavu terjadi akibat adanya gangguan akses memori pada otak manusia, yakni terjadinya lompatan memori alam pikiran bawah sadar ke wilayah alam pikiran sadar manusia.

Manusia memiliki alam pikiran bawah sadar yang komposisinya lebih dominan dibandingkan dengan alam pikiran sadar. Setiap sesuatu yang dirasakan manusia baik oleh indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan pengecap, terekam ke dalam memori jangka panjang manusia yang terletak di wilayah alam bawah sadar. Informasi tersebut tidak secara sadar diingat oleh manusia.


Gangguan mengakses memori pada pikiran manusia tersebut menyebabkan terjadinya lompatan-lompatan memori dari alam bawah sadar ke alam pikiran sadar manusia. Pada saat itulah manusia merasa kalau peristiwa atau keadaan yang sedang dialami, sudah pernah ia alami sebelumnya.

#2. Perhatian terpecah

Ketika perhatian seseorang terfokus pada informasi yang dianggapnya lebih penting, ia cenderung mengabaikan informasi lain yang didapat oleh panca indera sehingga perhatiannya terpecah. Ketika ia sudah tidak begitu fokus pada informasi yang tadinya dianggap lebih penting, maka semua informasi yang sebelumnya terabaikan oleh pikiran sadar, mulai direkam dan disimpan pada pikiran bawah sadar.

Semua informasi mengenai sesekeliling yang tersimpan akan ‘terpanggil keluar’ sehingga sesorang merasa lebih familiar. Dalam teori yang dipaparkan oleh Aalan Brown ini, disimpulkan bahwa dejavu tidak berhubungan dengan kejadian dimasa lalu dalam rentang waktu yang lama, tetapi informasi tersebut adalah informasi baru yang tepanggil keluar, yaitu ketika pikiran seseorang sedang rileks.

#3. Proses Ganda

Robert Efron menganalisa bahwa fenomena dejavu tidak hanya sebatas pada pikiran bawah sadar, tetapi lebih mendalam pada analisis fungsi otak manusia. Informasi yang masuk ke otak melewati lebih dari satu jalur (jalur ganda). Lobus temporal (salah satu dari empat lobus dalam otak) yang terletak pada otak sebelah kiri bertanggung jawab menyaring informasi yang masuk.

Informasi yang masuk pertama langsung diproses oleh lobus temporal, sedangkan informasi kedua yang masuk akan tertunda karena berputar melewati otak sebelah kanan lebih dulu. Jika tertundanya lebih lama dari waktu normalnya, otak akan mencatat informasi yang salah dengan menganggapnya sebagai informasi peristiwa dimasa lalu yang telah pernah terjadi sebelumnya.

Sesaat sebelum mengalami dejavu

Kamu dan temanmu berdiskusi di sebuah restoran tentang masalah yang rumit. Pikiran kalian fokus pada permasalahan diskusi, tanpa disadari, sejak mulai masuk restoran, kalian mulai merekam keadaan restoran. Namun karena manusia memiliki alam pikiran bawah sadar yang komposisinya lebih dominan dibandingkan dengan alam pikiran sadar, keadaan restoran hanya terekam dalam pikiran bawah sadar kalian. Ditambah dengan adanya penundaan pada proses ganda penerimaan informasi.

Dejavu
Image: Deja Vu [Pixabay]

Saat berhenti diskusi dan mulai merasa rileks sambil menyantap makanan, tiba-tiba kalian merasakan sensasi seolah-olah keadaan di restoran sekarang ini sudah pernah dialami sebelumnya. Pada saat itu, terjadi lompatan-lompatan dari memori bawah sadar ke wilayah pikiran sadar (teori gangguan akses memori). Kalian merasakan dejavu dari peristiwa yang kalian kira memang pernah terjadi dimasa lalu yang padahal, itu adalah kilasan informasi yang direkam panca indera kalian beberapa menit lalu.

Pikiran sadar kalian hanya tidak menyadarinya karena terfokus pada diskusi tadi yang dianggap lebih penting. Informasi tentang keadaan di restoran ‘terpanggil keluar’ karena kamu dan temanmu telah merasa rileks, seperti teori yang dipaparkan dalam perhatian terpecah.

Dikutip dari DiVa Portal, fenomena dejavu ini tampaknya sedikit lebih sering terjadi pada sore dan malam hari. Dejavu merupakan kebalikan dari Jamais Vu, dimana individu merasa asing terhadap sisuasi yang justru pernah dikenalnya.

Referensi:
Fikri, Mumtazul. 2014. Psikologi Belajar Berbasis Pedagogis. Banda Aceh: Nourhas Publishing
KumariChalla, Krishna. Is deja vu phenomenon is real or an imagination it has nothing concerned with reality?. Quora
Majid, Indra. Gejala Gangguan Psikologis: Memahami Ciri Gangguan Mental Pada Manusia. psikoterapis
Redgård, Rickard. Scientific Theories on the Déjà Vu Phenomenon. School of Humanities and Informatics. University of Skövde, Sweden. [diva-portal]

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."