Monday, August 13, 2018

Mengapa Kita Berfikir Orang Lain Lebih Sukses?

Di era digital ini, adakah diantara kamu yang tidak memiliki satupun akun di media sosial? Entah itu Facebook, Twitter, Path, atau Instagram. Hampir setiap dari kita pasti memilikinya.

Apa yang kamu rasakan ketika melihat pencapaian teman-temanmu yang mereka bagikan di lini masa media sosial? Mungkin banyak dari kita yang merasakan emosi positif seperti ikut bahagia, terinspirasi serta menjadikannya sebuah motivasi.

Namun pernahkah kamu sekaligus merasakan emosi negatif seperti rendah diri? Kamu jadi membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupanmu. 

Seperti saat kamu melihat unggahan teman-temanmu di media sosial mengenai kesuksesan mereka dalam karir, perjalanan mereka keliling dunia kebahagiaan mereka dalam percintaan, sedangkan sampai saat ini kamu belum meraihnya, apakah kamu pernah berfikir bahwa teman-temanmu jauh lebih sukses daripada dirimu?

Donnalynn Civello, seorang pelatih intuisi kehidupan di Amerika, berbicara  dengan kliennya mengenai fenomena tersebut,

Klien    : “Facebook membuat saya merasa sangat sedih tentang hidup saya. Saya  pikir saya melakukannya dengan baik, lalu saya melihat semua hal menakjubkan yang dilakukan orang lain, saya jadi berpikir, 'Tuhan, saya seorang pecundang', ”

Donna    : “Mengapa kamu membandingkan dirimu dengan orang lain? Kamu tidak menjalani hidup mereka, kamu menjalani hidupmu.”

Klien    : “Saya tahu, tetapi hal itu tidak banyak membantu, saya tetap membandingkan diri saya dengan mereka ketika melihat semua kesuksesan mereka. Itu membuat saya gelisah."

Mengapa kita bisa berpfikir seperti itu?


Dirangkum dari berbagai sumber, inilah alasan mengapa media sosial seringkali membuat kita berfikir kalau orang lain lebih sukses daripada diri kita,


#1. Keinginan Membandingkan (Teori Perbandingan Sosial)

Dalam teori ini, perbandingan sosial menjadi bagian alami dan penting bagi manusia. Meski kita tahu kalau menggunakan media sosial dapat membuat kita tidak nyaman, gelisah atau tertekan, kita masih saja melihat-lihat unggahan orang lain seperti di facebook atau instagram, kita penasaran apakah orang-orang telah meraih sesuatu yang kita harapkan untuk kita raih pula. Ada keinginan dalam diri manusia untuk mengukur kemajuan, membandingkan kesuksesan dirinya dengan yang lain.


Thomas Mussweiler, seorang profesor perilaku organisasi di London Business School menyatakan bahwa mengaitkan informasi tentang orang lain dengan diri kita adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari,

"Inevitably, we relate information about others to ourselves,"

Pada dasarnya, hal ini merupakan cara yang sehat untuk mengukur kemajuan kita dalam kehidupan, menjadi motivasi bagi diri untuk lebih maju lagi. Tapi sayangnya akan menjadi masalah ketika kita membandingkan ‘versi diri kita’ dengan ‘versi orang lain’ yang dianggap jauh lebih sempurna, jauh lebih sukses daripada diri kita.

Yang merugikan adalah membuat perbandingan yang terlalu jauh jangkauannya, misalnya seorang akuntan yang membandingkan pencapaian dirinya dengan pencapaian seorang CEO.


#2. Melihat Apa yang Memang Ingin diperlihatkan Orang Lain

Media sosial digunakan sebagai platform agar kita tetap terhubung dengan orang-orang yang dekat dan yang jauh, seperti dengan keluarga dan teman. Mengunggah sesuatu mulai dari apa yang sedang kita rasakan sampai pada akhinnya menjadi platform untuk berbagi momen yang paling berarti, luar biasa dan unik.

Hal tersebut bukan hanya didorong oleh keinginan untuk ‘disukai’ tapi juga karena kita berfikir orang-orang akan mencari akun kita seperti mantan pacar, rekan kerja baru ataupun teman lama.

Orang lain lebih sukses
Image: like on social media [pixabay]

Kita ingin membuat mereka semua menjadi terkesan. Tentu kita tidak akan mengunggah sesuatu yang memperlihatkan kekurangan atau kemunduran yang kita alami dalam hidup, bukan?

Apa yang diunggah oleh seseorang, itulah yang ia ingin perlihatkan kepada teman-temannya di media sosial. Ini berhubungan dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan (Teori Hierarki Kebutuhan Manusia).


Mengingat media sosial fungsinya memang sebagai tempat untuk berbagi informasi. Tidak heran kalau media sosial dijadikan tempat untuk pamer atau menunjukkan pencapaian yang selama ini telah diraih.

Ketika kamu melihat kesuksesan yang diraih orang lain di media sosial, kamu berisiko membandingkan kehidupanmu yang tampaknya dangkal dengan orang-orang yang hidupnya tampaknya mengagumkan, yang dapat membuat kita merasa rendah diri.



#3. Ketidakstabilan Diri

Seberapa berpengaruhnya media sosial bukan dari berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk itu, namun bagaimana kita menggunakannya secara bijak.

"Ketika kami menggunakan media sosial hanya untuk melihat postingan orang lain secara pasif, kebahagiaan kami menurun," kata Emma Seppaelae, penulis buku The Happines Track: How To Apply The Science of Happiness to Accelerate Your Success.

Menurutnya, hal tersebut membuat kita lupa untuk menikmati hidup. Tetapi jika kita menggunakannya untuk berkontribusi, berbagi, dan berinteraksi maka dapat memiliki efek sebaliknya.


Referensi:
Civello, Donnalynn. 3 Ways to Conquer Social Media Envy and Manifest Your Own Success. 2017. observer
Friedlander, Jamie. Why Social Media Is Ruining Your Self-Esteem—and How to Stop It. 2016. success
Rebecca Webber, 2017. The Comparison Trap. psychologytoday


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."
 

loading...