Saturday, October 27, 2018

Kenali Beberapa Pemicu Sifat Hasad, Penyakit Iri Hati Pada Manusia

Pernahkah kamu merasa iri hati? Sebuah emosi dimana kamu menginginkan apa yang orang lain miliki. Melihat tetanggamu bisa membeli mobil baru, kamu bertanya pada diri sendiri, “Kenapa dia bisa membeli mobil sedangkan saya tidak?” Melihat teman semasa sekolahmu lolos ke tahap akhir beasiswa S2 sedangkan kamu gagal di tahap awal, kamu merasa tidak senang, diam-diam mengharapkan ia juga akan gagal, sama sepertimu. Meski seringkali manusia berusaha mengelak bahwa tidak merasa iri hati, nyatanya itu adalah beberapa contoh dari emosi iri hati yang seringkali dirasakan..

Rasa iri hati disebabkan oleh ketidakpuasan dengan citra diri (self-image), pandangan dan penilaian kamu tentang diri sendiri. Ketika iri, kamu merasa buruk karena membandingkan diri dengan seseorang yang kamu anggap saingan. Kamu berfikir bahwa ‘jika saya memiliki apa yang kamu miliki, maka saya akan bahagia." Seringkali, iri hati diidentikkan dengan cemburu. Namun, dilansir dari website Good Therapy, rasa iri berbeda dengan rasa cemburu.

Tetangga
Image: Tetangga [Pixabay]


Saat cemburu kamu hanya melibatkan dirimu sendiri karena merasa terancam kehilangan sesuatu yang kamu miliki, biasanya konteksnya adalah sebuah hubungan. Emosi cemburu berfokus pada apa yang kamu miliki. Sedangkan iri hati adalah antara kamu dan orang lain, yaitu kamu menginginkan apa yang orang lain miliki. Emosi iri hati berfokus pada apa yang orang lain miliki.

Kita seharusnya senang ketika orang lain berhasil dan mendapat kebahagiaan, tetapi seperti yang kita lihat, otak kita sering kali tidak bekerja seperti itu. Jadi, ada apa dibalik rasa iri hati dan bagaimana cara kerjanya di otak kita? Berikut Fenomena Harimu rangkum rahasia dibalik iri hati dikutip dari berbagai sumber.

#1 Iri Hati dipicu oleh Perasaan Rendah Diri


Iri hati  lebih dipicu oleh faktor internal daripada faktor eksternal. Individu lebih mungkin mengalami iri jika mereka memiliki harga diri yang rendah atau percaya bahwa mereka kurang dalam beberapa hal, terlepas dari apa yang sebenarnya mereka miliki. Rasa iri berkembang ketika individu membandingkan diri mereka dengan orang lain dan menemukan bahwa diri mereka lebih rendah.

Proses ini adalah proses alami, meskipun membandingkan diri dengan orang lain dapat mengarah pada timbulnya emosi lainnya yang dapat menyebabkan rasa sakit. Rasa sakit karena iri tidak disebabkan oleh keinginan atas milik orang lain, tetapi oleh perasaan rendah diri dan frustrasi yang disebabkan oleh perasaan memiliki kekurangan dalam diri seseorang.

#2 Objek dari Rasa Iri berubah Seiring Waktu


Sebuah penelitian terhadap 1600 orang yang berusia 18-80 tahun oleh para peneliti UC San Diego yang diterbitkan pada 2015 menemukan bahwa kaum muda lebih mungkin merasa iri daripada orang setengah baya atau lanjut usia, dan jauh lebih mungkin iri pada teman sebaya daripada kepada mereka yang di luar kelompok usia mereka. Bertrand Russell, seorang filsuf dan ahli matematika ternama Britania Raya menyatakan,

'Pengemis tidak iri pada miliader, mereka akan iri pada pengemis lain yang lebih sukses.'

Para peneliti juga menemukan bahwa orang-orang cenderung iri pada gender mereka sendiri, dan apa yang memicu rasa iri berubah seiring waktu; orang muda lebih iri dengan kesuksesan dalam hubungan, sementara yang lebih tua lebih iri dengan uang dan penghargaan profesional. Iri hati bergeser dengan status kita saat kita menjadi lebih mapan dan prioritas kita berubah.

#3 Media Sosial Membuat Mudah Iri Hati


Di masa sekarang dimana orang-orang ‘pamer’ keberhasilan, perjalanan, pernikahan, anak-anak, dan pencapaian lainnya di media sosial mendorong kita untuk membandingkan diri kita dengan siapa pun. Terlepas dari apapun tujuan mereka memperlihatkannya di dunia maya, orang-orang yang melihat pencapaian dan pengalaman teman-teman mereka di facebook dan instagram lebih mudah untuk merasa iri hati dan bertanya-tanya mengapa dia tidak memiliki kesuksesan dan kebahagiaan yang sama seperti mereka.

#4 Semakin Iri, Semakin Besar Rasa Sakit


Setidaknya, kita disebut mengalami iri hati apabila ada hal-hal berikut.
  • Pertama, kita dihadapkan dengan seseorang yang memiliki kualitas unggul, baik dalam prestasi atau kepemilikan suatu barang.  
  • Kedua, kita ingin kualitas itu untuk diri kita sendiri dan berharap orang lain tidak memilikinya. 
  • Ketiga, kita merasa sakit karenanya. Keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain tersebut disertai dengan rasa sakit.

Iri hati bisa membuat kita sakit secara fisik dan kejiwaan. Sebuah penelitian yang menarik terungkap pada tahun 2009, di mana para ilmuwan melakukan pemindaian otak subjek. Mereka diminta untuk membayangkan diri mereka dalam situasi sosial di mana dihadapkan dengan orang-orang yang patut ditiru (teman-teman yang kaya atau berkuasa).

Para ilmuwan menemukan, New York Times melaporkan bahwa ketika orang-orang mengaku merasa iri, daerah otak yang menyebar rasa sakit fisik terangsang: semakin tinggi subyek meraskan iri hati, semakin melebar kelenjar rasa sakit di otak. Dengan kata lain, otak sebenarnya mencatat rasa sakit fisik ketika kita berada dalam situasi iri hati, sama seperti ketika kita merasa sedih atau mengalami penolakan sosial.

#5 Iri bisa Menjadi Evaluasi Diri


Dilansir dari website bustle, iri hati tidak sepenuhnya buruk. Pada dasarnya, iri hati adalah menginginkan apa yang orang lain miliki, ketika iri kita membandingkan diri dengan orang lain, kita punya keinginan bersaing dengan mereka.

Iri hati terbagi dua macam, iri hati jahat dan iri hati jinak. Iri hati yang jahat menimbulkan keinginan agar orang lain tidak memiliki sesuatu yang kita ingin miliki. Ada keinginan negatif untuk menghilangkan sesuatu yang orang lain miliki.

Sedangkan, iri hati yang jinak, cenderung hanya ingin mendapatkan sesuatu atau mecapai prestasi yang dimiliki orang lain, tanpa ada niat jahat terhadap orang tersebut. Rasa iri yang jinak memotivasi kita untuk berusaha untuk mendapatkan juga apa yang dimiiki orang lain, bahkan agar mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik.

Juga dilansir dari website Good Therapy, pengalaman iri dapat memotivasi, misalnya, iri mendorong individu untuk mencapai dan memperoleh lebih banyak, itu bisa berguna dalam mengejar karir atau kesuksesan pendidikan.

Demikian pula, peneliti percaya bahwa iri hati mungkin memiliki tujuan evolusioner, karena membuat orang ingin dan akhirnya berusaha untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan. Seperti pernyataan Richard Smith dalam buku The Evolutionary Psychology Of Envy,

“Envy has played an important role in humans' quest for the resources necessary for successful survival and reproduction over the course of evolutionary time"

(Iri hati berperan penting dalam pencarian manusia menggali sumber daya yang diperlukan untuk kelangsungan hidup yang lebih sukses dan reproduksi selama masa perkembangan hidupnya.)

Namun, bukan berarti rasa iri dibenarkan. Tidak perlu iri hati untuk bisa mengevaluasi diri.


Referensi
Thorpe, JR. Why Do We Envy Others? 7 Things To Know About The Psychology Of Feeling Green. 2016. Bustle 
Envy. 2016. goodtherapy
Burton, Neel. Psikologi dan Filsafat dari Envy. 2014. psychologytoday


Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

loading...