loading...

Sunday, November 11, 2018

Gugup Atau Grogi Berbicara Di Depan Umum? Pahami Efek Spotlight Ini

Pernahkah kamu merasa gugup bila diminta berbicara di depan kelas, diminta bernyanyi di acara perpisahan angkatan, atau bahkan ketika menyatakan perasaan ke lawan jenis? Ya, kamu tidak sendiri karena tentu saja hampir semua orang mengalaminya. Perasaan gugup itu ternyata adalah salah satu bagian reaksi normal dari tubuh kita ketika menghadapi hal yang baru atau hal yang takut kita lakukan. Beberapa orang dapat menguasainya, sementara sebagian yang lain tidak.

Hans Eysenck, seorang psikolog, mengatakan bahwa gangguan kegugupan itu nyata ada di setiap manusia, hanya saja bisa berbeda kadarnya dan cara mengatasinya. Ia mengistilahkan hal itu dengan kata ‘neurotisisme’ yang secara harfiah berarti gangguan kegugupan yang disebabkan reaksi otot syaraf. Orang yang mengalaminya disebut dengan neurotik. Gejala umumnya tentu saja kepanikan.

Hanya saja menurut Hans, orang yang bergejala neurotik itu sebenarnya lebih menanggapi rasa paniknya, dibandingkan dengan hal yang ditakutinya tersebut. Nah, berkaca dari kasus di atas, maka sebagian orang yang merasa gugup itu seringkali disebabkan karena ‘Ia jadi lebih gugup karena menyadari bahwa ia gugup’, bukan karena sudah menghadapi apa yang ia harus lakukan.

Dan tahukah kamu, muara dari perasaan gugup akan membuat kita melakukan tingkah yang tidak normal dari biasanya, agak semacam sulit terkendali hingga kadung membuat kesalahan. Efek gema dari kegugupan ini adalah ‘gugup kuadrat’ karena kita merasa bahwa setiap orang menyadari kegugupan kita lalu bereaksi terhadap kegugupan itu, lalu semakin memuncak pada rasa gugup yang lebih besar disebabkan karena terjadinya kesalahan yang akhirnya benar terjadi. Selepas itu, kita jadi merasa bahwa orang lain dapat ‘menghukum’ kita dengan tertawaan ada nyinyiran mereka atas kesalahan yang kita lakukan.

Nah, fenomena psikologis ini dinamakan ‘The Spotlight Effect’ yaitu sebuah efek bias ketika kita merasa bahwa kita sedang berada dalam sorotan lampu utama dari orang-orang di sekitar kita. Kita merasa bahwa orang-orang melihat kita dari segala sisi manapun sehingga kita merasa gugup dan tentu saja membuat ‘tersiksa’ karena takut mengekpresikan diri kita sendiri.

Image: The Spotlight Effect [Pixabay]
 
Dapatkah kamu menganalogikannya dengan tepat? Ya, bayangkan saja kita berada di sebuah panggung dan dicahayai oleh lampu sorot yang besar di tengah panggung sementara sekitar panggung menjadi gelap. Disanalah kegugupan itu ‘mengerjai’ kita karena semua orang yang seakan menonton kita disana menyimpan respon tidak mengenakkan ; tertawaan, godaan, hingga cemoohan. Buat orang yang gugup, ternyata efek gema itu membuatnya jauh lebih gugup bila dibandingkan soal kewajiban berbicara di atas panggung.

Bagaimana kegugupan diri sendiri terhadap orang lain?


Thomas Gilovich dkk. dalam jurnalnya yang diterbitkan oleh American Psychological Association, mendeterminasi hasil penelitiannya bahwa sebenarnya orang yang merasa gugup karena melakukan kesalahan disebabkan karena kegugupan di awal ternyata tidak mengalami efek seburuk itu. Intinya, respon orang lain yang kita kira akan jauh lebih ‘mengerikan’ ternyata tidak terjadi bahkan bila hanya setengahnya.

Menariknya, Thomas Gilovich dkk. mengatakan bahwa banyak hal yang membuat persepsi kita jadi berlebihan terhadap respon orang lain itu disebabkan karena pengaruh self-as-target bias, yaitu bias yang terjadi disebabkan karena kita sudah mengira bahwa orang lain akan berpandangan negatif terhadap diri kita sebelum hal negatif itu telah benar terjadi.

Thomas Gilovich dkk. juga mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa kita terperangkap dalam bias egosenstris. Apakah kamu pernah merasa bahwa seakan seluruh dunia melihatmu karena kesalahan yang kamu lakukan? Ya. Mungkin pernah. Nyatanya, itu adalah ego pribadi yang cakupannya sempit. Kita bukanlah satu titik acuan yang dunia harus ikuti, bukan?

Memposisikan diri sendiri menjadi pendengar/penonton ketika show up


Katakanlah, kenyataannya yang sebenarnya ada ialah kita bukan siapa-siapa di dunia ini yang akan jadi sepenting itu. Lalu, kenapa kita harus melulu takut salah padahal banyak juga orang lain yang melakukan kesalahan? Pun, belum tentu juga kan apa yang kita lakukan itu salah secara objektif? Karena seringkali perasaan salah itu muncul karena kita terlalu sering berkaca pada subjektivitas orang lain yang mengatakan bahwa itu salah.

Implikasi negatifnya, ego itu dapat menjadi jeruji pembatas disebabkan karena kita cenderung akan berlaku sebagaimana kita merasa bahwa hal itu patut dalam pandangan orang lain. Lama kelamaan, hal itu akan perlahan membuat diri kita terbatasi hingga akhirnya kita justru tidak melakukan apa-apa. Hal yang baru, mengejutkan, sensasional, selalu dianggap salah karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Alhasil, kita jadi takut untuk tampil beda karena takut dianggap berbeda.

Ah, tentu saja kita tahu bahwa kita seringkali melakukan kesalahan karena disebabkan hal kecil seperti rasa gugup. Bahayanya, kita bukan saja takut melakukan kesalahan, tetapi lebih takut apabila orang lain senantiasa mengingat kesalahan itu. Seringkali, itu membuat kita menjadi terbebani dan merasa tidak melakukan hal yang terbaik karena terpenjara oleh persepsi tadi.

Nyatanya, we got too overwhelmed. Tak ada yang menyimpan terlalu banyak memori sekelebat yang mampir dalam benak, walaupun itu sebuah kesalahan fatal. Memang, orang mungkin akan secara aktual akan melihat dan memparafrasekan tentang kita pada apapun yang mereka lihat, tapi tak ada yang sejatinya terlalu ‘peduli’ terhadap kesalahan dan sesuatu yang berbeda dari kita. 

Kita hanya terkena gaung persepsi yang seakan-akan menakuti kita bahwa orang lain akan ingat hal memalukan itu seumur hidupnya. Padahal, rasa gugup itu sendiri normal dan terjadi pada semua orang. Sering kita sadari pula bahwa kita bisa ‘memaafkan’ kesalahan orang lain yang disebabkan karena rasa gugupnya. Mudah sekali, bukankah kita akan cepat lupa akan hal itu?

Barangkali kasarnya, no one care of us. Kenapa begitu? karena sebenarnya setiap orang akan selalu mengkhawatirkan dirinya sendiri, bukan orang lain. Anehnya, kita selalu merasa bahwa kita takut atau ragu karena merasa terus-menerus dilihat orang lain padahal sejatinya orang lain pun tidak terlalu peduli (karena lebih memedulikan dirinya sendiri, yang juga punya rasa takut dan ragu). See?

It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have done them better. The credit belongs to the man who is actually in the arena, ..."

– Theodore Roosevelt.

“Ini bukan tentang kritik dari seseorang yang akan terhitung, juga bukan orang lain yang menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang menghadapi tantangan, atau saat dimana mereka merasa dapat menunjukkannya dengan lebih baik. Pujian sesungguhnya adalah milik seseorang yang sebenarnya bertarung di dalam arena.” Theodore Roosevelt.


Referensi:
[1] Gilovic, Thomas. Victoria Husted Medvec. Kenneth Savitsky. 2000. The Spotlight Effect in Social Judgement : An Egocentric Bias in Estimate of the Salience of One’s Own Actions And Appearance. Journal of Personality and Social Psychology, vol.78, No.2, 211-222  : American Psychological Association, Inc.
[2] Dr. C. George Boeree. 2004. Personality Theories : Primashophie Jogjakarta.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."