loading...

Saturday, November 24, 2018

Hidup Susah Dan Merasa Cobaan Selalu Datang Tanpa Henti? Pahami Perspektif Syukur Ini

Pernahkah muncul pertanyaan dalam benak pembaca seperti ‘kenapa saya sepertinya tidak puas’ akan banyak hal? Sepertinya, mungkin bukan hanya kamu sendiri yang berpikir seperti itu. Sebagian orang yang merasa bekerja dan berjuang untuk sesuatu yang ia harapkan, akan merasakannya ketika sudah sampai di puncak. Juga, pertanyaan seperti ‘saya harus melakukan apalagi?’ dan banyak hal yang senada dengan itu. Coba rasakan, apakah itu gejala kurang bersyukur terhadap apa yang sudah kita dapatkan selama ini?

Bersyukur
Image: Bersyukur [Pixabay]


Ada istilah yang cukup mewakili pada gejala seperti ini yang disebut ‘stres mikroskopik’, yaitu gejala stress yang disebabkan oleh tekanan/tuntutan yang sebenarnya tercipta bukan karena faktor lingkungan ekstern, melainkan intern. Salah satu pemicunya adalah persepsi merasa ‘kekurangan’ atas segala sesuatu yang tak seseorang miliki, meski ia sendiri tidak tahu apakah ia membutuhkannya atau tidak.

Memang, hal ini dapat berasal dari orang lain yang ia kagumi, misalnya, memiliki kemampuan atau keistimewaan yang tak ia miliki. Meskipun sebenarnya perbandingan itu relatif, tetapi seringkali perasaan seperti itu menipu kita dan membuat kita seringkali stres bahkan ketika tak ada yang kita perlu khawatirkan sama sekali.

Apakah kamu berdomisili di daerah desa atau kota kecil yang sepi? Atau kamu justru tinggal di kota besar nan sumpek? Nah, tidak jarang bahwa orang-orang merasa bosan ketika tinggal di daerahnya dan merasa ingin sekali merasakan bagaimana nadi kehidupan di daerah lain. Orang kota memimpikan hening dan nyamannya udara desa, sedangkan orang desa memimpikan riuh dan ramainya suasana kota. Tidakkah itu justru membuat masalah baru bila kita tak menyadari untuk terus membandingkan? Padahal belum tentu juga kamu cocok bila pindah di daerah itu, begitupun orang lain untuk pindah ke daerah kamu. Begitulah contoh sederhana, dan mestilah banyak sekali kasus kehidupan lain yang begitu mendera pikiran kita.

Psikolog asal Amerika Serikat, Abraham Harold Maslow, sudah menangkap gejala seperti ini dalam kajian psikologinya yang bersifat humanistik. Ia mengembangkan teorinya yang disebut ‘hierarki kebutuhan’ atau dikenal dengan Segitiga Maslow, yang secara lugas digambarkan dalam enam stase dari bawah ke atas ;  

  • a) Physiological needs, yaitu kebutuhan mendasar akan makan, minum, dan hubungan seksual,
  • b) Safety needs, yaitu kebutuhan akan rasa aman, stabil, dan terlindungi,
  • c) Belonging needs, yaitu kebutuhan akan rasa dicintai, dimiliki, dan berhubungan dengan perasaan lainnya,
  • d) Esteem needs, yaitu kebutuhan akan pengakuan dan harga diri, termasuk soal status, kemuliaan dan kehormatan,
  • e) Self-Actualization, yaitu kebutuhan akan hasrat mewujudkan potensi diri dan keinginan untuk menjadi kita yang ‘sebenarnya’ dan apa yang kita bisa. 

Dari penjabaran teori di atas, maka kita dapat mengelompokkan dasar-dasar kebutuhan yang sedang kita masuki. Berbagai motif dan keinginan juga dapat didasari oleh bagian apa yang ingin kita penuhi. Itulah kenapa, kita tidak dapat menyimpulkan secara dangkal apa itu definisi rasa bersyukur ketika sebenarnya masih ada fase yang harus kita penuhi. Apakah kamu paham dan mengerti di fase apa kamu kini berada dan fase apa yang kamu belum capai?



Bisa jadi disanalah sebab dari perasaan resah dan kekurangan itu tadi. Bila dicocokkan dengan kasus orang desa dan orang kota sebelumnya, maka bisa jadi mereka merasakan keresahan di fase safety needs, yang mengacu pada perasaan nyaman dan terlindungi di tempat mereka tinggal.

Apakah sebetulnya rasa syukur itu mutlak? Dalam artian, apakah dengan memiliki rasa syukur itu kita merasa tidak perlu untuk mencapai apa-apa lagi? Tentu tidak diartikan seperti itu. Bila kamu merasa sudah memenuhi kebutuhan primer seperti sudah memiliki pekerjaan sehingga bisa memenuhi kebutuhan makan dan minum, tentu sah-sah saja bila nanti akan naik tingkat ke fase memikirkan pasangan hidup. Bentuk rasa syukur bisa saja dapat kita lalui dengan perlahan dalam prosesnya, bukan berarti dengan rasa syukur itu menghambat kita untuk terus mengeksplorasi. Apakah kamu setuju?

Mencapai rasa tidak membutuhkan apapun di dunia


Maslow, dalam teorinya juga mengemukakan teori kebutuhan defisit atau D-needs (deficit needs). Maksudnya adalah jika kamu merasa kekurangan sesuatu dari empat fase A, B, C, dan D di atas maka kamu akan merasa membutuhkan sesuatu tersebut. Akan tetapi, bila kamu sudah dapat memenuhinya maka kamu tidak akan merasa apa-apa lagi. Dengan kata lain, kebutuhan yang sudah terpenuhi tersebut tidak dapat memberikan motivasi untuk dikejar. 

Ketika kamu merasa lapar, kamu tentu akan berusaha untuk memenuhinya dengan mencari makan. Ketika sudah merasa kenyang, maka kamu sudah tidak merasakan apa-apa lagi, hingga nantinya akan merasa lapar di waktu yang akan datang.

Sementara, fase E yang merupakan fase aktualisasi diri dinamakan Maslow sebagai B-needs (being needs). Menurut Maslow, kebutuhan ini akan selalu berkembang bila kita terus menerus mewujudkan potensi diri, juga dapat menjadi penyempurna ketika kamu dapat menjadi ‘apa yang kamu mau’. Tentu saja, tidak semua orang dapat mencapai ke fase aktualisasi diri ini karena sebagian besarnya masih berkutat untuk memenuhi D-needs nya.

Biasanya, orang yang sudah dalam fase B-needs ini merupakan orang yang dapat berlaku bijaksana, berbicara soal moral, dan sudah keluar dari motif-motif individual. Maslow mencontohkan dalam penelitiannya dari nama-nama tokoh terkenal yang menurutnya sudah berhasil mengaktualisasikan dirinya seperti Abraham Lincoln, Albert Einstein, Eleanor Roosevelt, dan lain-lain.

Jadi, pelajaran yang dapat kita ambil adalah sisi psikologi humanistik adalah bila kamu merasa jenuh dengan apa yang ada miliki sekarang dan menginginkan untuk mencari hal lain yang dapat memenuhinya, maka bisa jadi kamu sedang berada di fase A, B, C dan D yang diistilahkan sebagai D-needs di atas. Bukan berarti kita tidak dapat bersyukur, tetapi manusia akan terus berproses untuk memenuhi apa yang tergambar oleh teori Maslow hingga ke tingkatannya yang tertinggi.

Apakah harus menjadi kaya terlebih dahulu kemudian akan bersyukur?


Tentu saja tidak seperti itu, memang seolah-olah begi mereka yang bergelimang harta akan mudah memenuhi semua fase diatas. Kemudian bagaimana bagi mereka yang kekurangan materi? Bagi mereka yang terlihat kurang bermateri tentu bisa mendapatkan rasa syukut itu dengan cara membandingkan kondisi dirinya saat ini dengan kondisi terburuk sebelumnya atau kondisi terburuk orang lain.

Bisa juga dengan bergantung pada Dzat yang akan menjamin semua fase kebutuhannya. Jika orang sudah percaya atau yakin, bahkan data lapangan pun akan sulit menggoyahkan pandangannya sekalipun data kurang berpihak padanya.



Kemudian, sampai sini akan didapat point-point yang membuat orang sulit bersyukur:
  1. Kita sedang berproses menuju fase "selanjutnya" dalam teori hierarki maslow.
  2. Kita tidak cukup yakin terhadap Dzat yang akan memenuhi semua fase kebutuhan hidupmu
  3. Sudut pandang kita dalam membandingkan kondisi diri sendiri, masa lalu, dan lingkungan sekitarmu tidak cukup baik.
Lalu, bagaimana definisi bersyukur menurut yang kamu pahami? Semoga kita termasuk orang-orang yang mudah bersyukur dan terus termotivasi untuk mengejar kehidupan yang diimpikan.

"Janganlah mencoba menjadi orang sukses. Jadilah orang yang bernilai."
– Albert Einstein

Referensi :
[1] Dr. C. George Boeree. 2004. Personality Theories : Primashophie Jogjakarta

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."