loading...

Tuesday, November 20, 2018

Ini Cara Orangtua Memberikan Permainan Anak Selain Memberikan Gadget


Halo, Ayah dan Bunda!

Zaman sudah banyak berganti, begitupun tren cara mendidik anak pun semakin berubah. Kalau dulu orangtua kita masih berkutat dengan cara parenting tradisional yang berhubungan dengan mitos dan budaya, maka sekarang sudah banyak sekali metode parenting yang menggunakan teknologi. Contohnya buku panduan mengasuh anak, di zaman sekarang sudah bisa berganti dengan video streaming di Youtube. Bisa dikatakan hampir segala sarana pendukung parenting sudah menggunakan bantuan teknologi, terlebih gadget yang kita pegang sehari-hari.

Tentunya ada hal positif dan negatif dari penggunaan gadget itu sendiri. Tetapi semakin kesini, gejala kecanduan gadget sudah merambah ke masyarakat kita, terutama orangtua yang nantinya secara langsung akan merugikan proses tumbuh kembang anaknya. Sadarkah Ayah dan Bunda akan gejala ini? Seringkali ‘orangtua baru’ saat ini memberikan akses gadget pada anaknya yang masih terlalu kecil. Agak miris melihatnya, dimana sepatutnya anak diberikan perhatian yang nyata dibandingkan dialihkan perhatiannya pada gadget.

Anak Bermain Gadget
Image: Anak Bermain Gadget [Pixabay]
 
Sejatinya ada pola yang hampir tak berubah dalam mengasuh anak. Hal itu ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan kejiwaan, terutama soal orangtua dan anak. Sebagai seorang manusia, makhluk yang tingkat evolusinya paling lambat di muka bumi, ternyata masih membutuhkan cara-cara ‘lama’ untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam mendidik anak.

Meskipun teknologi senantiasa berubah dan melaju cepat, manusia mesti paham bahwa itu hanyalah sekadar alat dan media untuk membantu. Terutama, bila orangtua sendiri memahami bahwa mendidik anak tidak sama dengan membuatnya seperti robot.

Mengasuh anak juga tidak gampang sebagaimana kelihatannya. Dimulai dari kondisi kejiwaan orang tua yang siap untuk memiliki dan mengasuh anak, para orang tuapun hendaknya mengetahui ilmu untuk mengasuh anak tersebut berdasarkan tingkatan usia dan cara menyesuaikannya. Bila salah asuh, maka anak tersebut bisa jadi akan terhambat perkembangannya sehingga ada ketidaknormalan dalam proses pendewasaannya.

Bagaimana perkembangan anak menurut ahli?


Jean Piaget, seorang psikolog perkembangan anak yang berasal dari Swiss, mengelompokkan tahapan perkembangan anak melalui empat tahapan kognitif yang mesti diketahui orang tua. Untuk anak yang berkategori balita (bawah lima tahun), ada tiga teori awal yang harus dipahami. Mengerucut pada usia anak yang berusia 0 hingga 2 tahun, tahapan pertama yang akan dilalui bernama tahap sensorimotor. Pada tahapan ini, bayi sedang membangun pemahaman mengenai dunianya dengan mengoordinasikan pengalaman-pengalaman yang bersifat sensorik seperti melihat dan mendengar dengan tindakan-tindakan fisik dan motorik. Contohnya, ketika bayi seringkali mengemut jari-jarinya ketika selesai menyusui.

Sementara untuk anak berusia 2 hingga 7 tahun, tahap kedua yang akan dilalui adalah tahap praoperasi, yaitu ketika anak mulai melukiskan dunia yang ia lihat melalui kata-kata dan gambar-gambar, melampaui hubungan sederhana antara informasi sensoris dan tindakan fisik. Contohnya, anak akan mulai mampu menggambar dengan pola sederhana dan mulai pandai memilah-milih warna yang ia sukai. Tahapan ini akan mengantarkan ke peningkatan yang selanjutnya bernama tahap operasi ketika anak-anak nantinya dapat melakukan operasi yang melibatkan objek dan juga dapat bernalar secara logis, sejauh dapat diterapkan pada contoh yang spesifik dan konkret.

Setelah melihat penjabaran tahapan perkembangan dari psikolog Jean Piaget diatas, orangtua mesti memahami bahwa mengasuh anak balita mesti disesuaikan dengan tahapan perkembangannya. Oleh karena itu, dibutuhkan juga banyak alat peraga yang dapat menjadi sarana perkembangan itu sendiri. Jangan melulu bergantung ke gadget ya, Ayah dan Bunda. Nah, berikut adalah beberapa contoh cara yang jauh lebih baik diberikan pada anak balita dibandingkan gadge:

Permainan untuk anak selain gadget


#1 Mainan bongkar pasang

Mainan yang dimaksud adalah yang dapat menstimulus sensorik seperti Lego atau Play-Dough. Keuntungan yang didapatkan oleh balita ketika memainkan permainan ini adalah permukaan mainannya yang cukup kasar dan cocok untuk menstimulus sensorik bayi sehingga menciptakan daya imajinasi dan kreativitas. Tentu saja, dibutuhkan bimbingan orang tua ketika memainkan mainan ini karena bisa berpotensi terkena bagian sensitif pada anak seperti mata dan mulutnya.

Permainan Anak
Image: Permaian Anak [Pixabay]

Dibandingkan gadget yang memiliki permukaan halus pada layarnya, hal itu akan mengakibatkan turunnya sensitivitas si anak dan secara tidak langsung cahaya dan radiasi yang terkandung pada gadget akan mengganggu fisiologis si anak yang belum memiliki sistem imun seperri orang dewasa.

#2 Buku bergambar

Ada mainan yang berbentuk seperti buku, namun sebenarnya terbuat dari kain dan busa. Mainan jenis ini tentu dapat mengasah sensor visual dari anak, terlebih bila buku bergambarnya bersifat full colour. Dalam masa awal perkembangannya, fungsi mata bayi belum sempurna, oleh karena itu dibutuhkan stimulus yang baik agar seluruh bagian mata dapat berfungsi dengan baik.

Bila dibandingkan dengan gadget yang memiliki cahaya yang terlalu terang, mata anak dapat terganggu karena pertumbuhannya yang belum sempurna, sehingga berpotensi dapat menjadikan gejala penyakit mata seperti minus dan silindris pada usia muda.

#3 Story Telling

Tentu Ayah dan Bunda tahu, kalau anak seringkali bermain dengan berkata-kata sendiri. Bila lebih dari itu, bisa disebut gejala tantrum dimana anak bahkan bisa berteriak-teriak ketika bermain. Oleh karenanya, orangtua dapat memberikan alternatif dengan menceritakan tokoh-tokoh dalam alam permainannya agar ia jadi lebih tenang. Bisa pula dengan membacakan kisah di buku-buku anak agar semakin terasah imajinasinya.

Cara ini dapat menjadi cara terbaik pada orangtua untuk memberikan pendekatan sesuai dengan kepribadian si anak. Sisihkanlah waktu dalam keseharian untuk bercerita dan berdialog dengan anak, tentu saja itu akan mempererat hubungan kedua belah pihak.

Dibandingkan dengan memberikan anak akses pada gadget, tentu itu akan menjadikan kesenjangan dalam kedekatan orangtua dan anak.

Meski begitu, kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya kehadiran gadget dan teknologi. Bila digunakan dan diawasi dengan benar, maka gadget sesekali dapat membantu kita untuk mengefektifkan waktu, terutama di saat-saat sibuk. Perhatikan dengan baik penggunaannya, agar si anak dapat berkembang sebagaimana mestinya.

"Jangan mempermudah keseharian anak, bila tak ingin mempersulit masa depannya:
– Alissa Wahid, praktisi parenting




Referensi
[1] Santrock, John W. 2012. Perkembangan Masa Hidup, Edisi Ketigabelas Jilid 1 : Penerbit Erlangga, Jakarta.
[2] Nithy, Theva. Mainan bayi 0 - 6 bulan untuk membantu tumbuh kembangnya. theasianparent


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."