loading...

Saturday, December 8, 2018

Begini Pengaruh Otak Terhadap Tingkat Kepuasan Manusia

Apakah kamu pernah bertanya, kenapa sih manusia itu jarang puas? Barangkali itu hal yang berlaku umum dimana hampir semua orang merasa bahwa ia akan terus menerus mencari apa yang memuaskannya di dalam hidup. Terlepas bahwa dalam kondisi temporer bahwa ia pasti menemukan kepuasan, setelah itu ternyata manusia tidaklah berhenti disana. Cenderung setelah itu, manusia merasa “lupa” bahwa ia pernah puas dan terus-menerus mencari segala hal yang memuaskannya.

Kepuasan tentu berarti luas. Bisa dikatakan, kepuasan yang bernilai material-lah yang dapat mewakili secara umum, misalnya kesehatan, kebercukupan bahan makanan, dan kekayaan. Bila dengan memilikinya orang-orang merasa puas, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kesemuanya itu merupakan faktor kebahagiaan. Benarkah ada korelasi antara tingkat kepuasan dengan kebahagiaan? Lalu, bagaimana biologi dan psikologi dapat mengaitkan satu faktor dengan yang lainnya?

Bagian otak old brain atau reptilian brain


Pernahkah kamu mendengar istilah ‘otak tua’ atau ‘otak reptil’? Ya, ternyata istilah itu benar-benar ada. Otak tua merupakan bagian otak yang disebut inti pusat yang bentuknya mirip pada semua vertebrata (spesies bertulang belakang), termasuk manusia. Disebut sebagai otak tua karena proses evolusinya dapat ternyata dapat ditelusuri kembali sejak 500 juta tahun ke struktur paling primitif yang dapat ditemui pada spesies non-manusia.

Bagian struktur utama dari inti pusat ini adalah medulla, pons, dan serebelum. Selain itu penampang utama yang mendukung diantaranya formasi retikular, thalamus, dan hipotalamus. Sepertinya beberapa istilah otak di atas tidak begitu asing, kan? Nah, bagian otak mana yang mengatur tingkat kepuasan manusia? Ternyata, ia adalah hipotalamus.

Bagian otak yang berukuran seruas jari ini terletak tepat dibawah thalamus. Walaupun sangat kecil, hipotalamus memegang peran sangat penting untuk menjaga suhu tubuh sekaligus memonitor jumlah nutrisi di dalam sel. Dalam kasus menjaga suhu tubuh, hal ini disebut homeostasis yaitu proses dimana hipotalamus bekerja untuk menjaga suhu lingkungan di dalam tubuh tetap seimbang. Selain itu, hipotalamus juga memegang tanggungjawab untuk meregulasi perilaku bagi kebertahanan hidup dasar dari manusia, seperti makan, perlindungan diri, juga kebutuhan seksual.

Kepuasan
Image: Kepuasan [pixabay]

Beranjak dari biologi menuju psikologi, sifat dari kerja hipotalamus berupa homeostasis tadi sangat berhubungan dengan teori kebutuhan defisit atau D-needs yang diciptakan oleh psikolog Abraham Harold Maslow. Dalam teorinya, Maslow menyebut bahwa empat kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan cinta dan rindu, serta kebutuhan harga diri ternyata diatur oleh cara kerja homeostasis yang dipegang oleh hipotalamus ini.

Maslow memberikan pandangan bahwa bila orang merasa kekurangan sesuatu, maka ia akan merasa defisit dan merasa sangat membutuhkannya. Tetapi bila sesuatu itu sudah didapatkan, maka orang tidak akan merasakan apa-apa lagi. Contoh paling mudah adalah ketika kita merasa haus. Bila kita sangat haus, tentu saja kita membutuhkan air minum. Akan tetapi, setelah kita minum dan dahaga kita hilang, maka kita tidak membutuhkan lagi air minum sampai rasa haus itu datang lagi.

Begitulah pengibaratan kerja dari homeostatis yaitu sebagai pengatur suhu, dimana fungsi kerjanya akan selesai bila suhu yang dibutuhkan tercapai -untuk kemudian bekerja lagi bila suhunya bergejolak. Maslow memperluas cakupannya pada teori D-needs karena sifatnya yang berupa insting (instinctold), yang artinya sudah ada pada manusia sejak ia lahir. Dengan kata lain, insting sangat berkaitan dengan fungsi ‘otak tua’ yang sudah dijelaskan.

Lalu, bagaimana kita menakar kepuasan?


Yuval Noah Harari, dalam bukunya berjudul Sapiens, menjelaskan salah satu parameter yang dapat diukur pada kepuasan adalah bagian dari kesejahteraan subjektif (subjective well-being), yaitu kebahagiaan yang didapat karena perasaan nikmat atau kepuasan jangka panjang dari yang orang alami sepanjang hidupnya.

Walaupun definisi puas atau nikmat dari tiap orang berbeda-beda, tapi yang tak dapat dielakkan adalah  hal ini sangat berkorelasi dengan performa dari kebugaran fisik kita, terutama fungsi otak sebagai penerjemahnya sehingga menimbulkan sensasi yang memuaskan. Bila otak kita sehat dan berfungsi baik, maka sebenarnya kita akan dapat mencapai kepuasan dan merasa berbahagia.

Harari menyebutnya dengan istilah kebahagiaan kimiawi, yaitu ketika kesejahteraan subjektif itu ternyata ditentukan oleh sistem kompleks saraf, neuron, sinapsis, hingga berbagai zat kimiawi di dalam tubuh seperti serotonin, dopamine, dan oksitosin. Menurut Harari, kepuasan itu datang pada manusia karena lonjakan rasa nikmat di dalam tubuh mereka.

Ia mengibaratkan dalam contoh kasus ketika manusia mendapatkan kenaikan jabatan di pekerjaannya. Orang itu dapat melompat kegirangan sebenarnya tidak bereaksi terhadap jabatan itu, melainkan karena bereaksi terhadap hormon yang melonjak dari dalam tubuhnya, juga sinyal listrik yang menyambar pada bagian otaknya. Hingga begitu, maka orang itu merasakan bahwa betapa bahagianya naik jabatan karena fisik -terutama otaknya- berfungsi dengan baik.

Apakah segalanya terasa masuk akal sekarang? Itulah sebabnya otak ternyata mampu mengatur kebahagiaan kita, bahkan hal yang sifatnya tak terukur seperti jatuh cinta. Bila dijelaskan secara kebahagiaan kimiawi, perasaan jatuh cinta diterjemahkan oleh otak dalam bentuk stimulus dopamine dan serotonin di dalam tubuh. Hal ini banyak berkaitan dengan teori D-needs yang disebutkan Maslow, dimana manusia mencari apa yang menurutnya kurang sehingga suatu saat ia merasa puas karena tubuhnya memberi sinyal bahwa hal itu sudah tercukupi.
 

Merasa puas dengan apa yang sudah kita miliki jauh lebih penting daripada memperoleh lebih banyak hal daripada apa yang kita inginkan.
-Yuval Noah Harari.


Lalu, bagaimana kita dapat mengambil inti dari permasalahan ketidakpuasan manusia ini? Coba kamu pikirkan, bahwa sebenarnya pemuasan segala hal akan menemui batasnya. Bila kita lapar, kita tentu akan mencari makan -akan tetapi bila kita sudah tidak lapar, maka kita tentu saja berhenti makan. Karenanya, ada batas tertentu dari tubuh kita yang menakar rasa puas. Meskipun diberikan asupan terus-menerus, bila sudah melewati tingkat kepuasan itu maka sebenarnya kita sudah tidak merasakan apa-apa sampai apabila hal itu berkurang dan hilang.

Tentu akan sama pengibaratannya dengan apa yang kita cari di dunia ini sebagai objek kepuasan dan kebahagiaan. Memiliki uang banyak, gelar tinggi, dapat berkeluarga, hingga memiliki posisi penting memang dapat memberikan rasa puas dan bahagia. Tetapi bila sudah mencapai tingkat tertentu bahkan melebihinya, maka hal itu cenderung tidak berarti apa-apa.

Oleh karenanya, kepuasan itu betul subjektif menurut apa yang kita butuhkan. Begitulah sepatutnya kita tak membandingkan yang kita miliki terhadap orang lain, karena tentu saja respon tubuh kita berbeda dalam memberikan maknanya.

Harari juga menuliskan, bahwa para nabi, penyair dan filsuf sudah menyadari sejak ribuan tahun yang lalu tentang apa arti dari kebahagiaan dalam definisi rasa syukur. Berfokuslah terhadap apa yang kita butuhkan dan yang kita sudah miliki, bukan dengan terus-menerus menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang hanya kita inginkan. Bersyukurlah, lalu berbahagialah.


Referensi :
[1] Sternberg, Robert J. 2008. Psikologi Kognitif, Edisi Keempat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
[2] Boeree, C. George. 2010. Personality Theories. Yogyakarta : Prismasophie
[3] Harari, Yuval Noah. 2014. Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta : Kelompok Penerbit Gramedia (KPG)

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."