loading...

Wednesday, December 12, 2018

[Diderot Effect] Alasan Membeli Karena Ingin Bukan Karena Butuh

Pernah tidak sih, kamu membeli suatu barang yang sebetulnya tidak begitu kamu butuhkan? Atau bahkan, tidak hanya satu tetapi banyak barang. Misalnya, suatu hari kamu pergi ke mall dimana rencana awalmu hanya mau membeli sepatu baru, karena sepatumu yang lama sudah tidak layak pakai lagi. Kamu menemukan sepatu berwarna biru yang cocok dan segera membelinya. Kemudian membeli baju, tas juga jam tangan yang warnanya serasi dengan sepatu biru itu. Padahal sebetulnya kamu tidak begitu memerlukan barang-barang selain sepatu itu. Kira-kira kenapa ya kamu terdorong untuk membeli barang-barang lainnya?

Supermarket diderot effect
Image: Supermarket Diderot Effect [Pixabay]

Jika kamu berpikir bahwa dorongan membeli barang-barang itu dikarenakan faktor eksternal berupa kecerdasan penjual mendisplay barang sehingga menarik minatmu, atau karena adanya diskon yang membuatmu tergiur, kamu benar. Namun dalam pandangan psikologi, ada sebuah faktor internal dalam diri kita yang menyebabkan kita termotivasi untuk membeli barang-barang tambahan diluar kebutuhan utama, hal tersebut dikenal dengan istilah ‘Diderot Effect’.

Seorang filsuf, penggagas efect diderot


Seorang filsuf asal Prancis bernama Denis Diderot hidup dalam kemiskinan sepanjang hidupnya, meskipun tidak kaya ia dikenal sebagai salah satu penggagas dan penulis Encyclopedie, saat itu merupakan salah satu ensiklopedia paling komprehensif. Tahun 1765, kondisi finansial Diderot berubah membaik sejak Ratu Rusia, Catherine the Great menawarkan membeli perpustakaan Diderot seharga 1000 Poundsterling Inggris.

Tak lama setelah itu, Diderot mendapat hadiah mantel mahal dari temannya. Ketika melihat kondisi rumahnya, secara spontan ia membandingkan mantel dengan perabotan di rumahnya, ia merasa mantel itu terlalu bagus dikelilingi perabotan rumahnya yang usang. Ia sesuatu yang mengganjal pikirannya,

All is now discordant. No more coordination, no more unity, no more beauty..

– Denis Diderot
(Semuanya sekarang terlihat janggal. Tidak ada lagi koordinasi, tidak ada lagi kesatuan, tidak ada lagi keindahan.)

Berawal dari kejanggalannya itu, ia terdorong untuk membeli beberapa barang baru untuk mengganti perabotan rumahnya yang sudah usang. Ia mendekor rumahnya dengan patung-patung indah, membeli karpet baru dari Damaskus, meja dapur baru, cermin baru, dan kursi baru yang terbuat dari kulit untuk mengganti kursi lamanya yang terbuat dari jerami. Semuanya perabotannya telah disesuaikan dengan keindahan mantel barunya agar terlihat serasi.

Tak lama setelah itu Diderot menyesal karena ia justru terlilit hutang. Ia menulis penyesalannya dalam sebuah esai berjudul ‘Regrets for my Old Dressing Gown’

“Aku adalah pemilik mantel tua. Aku menjadi budak dari mantel yang baru”

Secara sederhana, efek diderot dapat diartikan bahwa ketika kita memiliki barang baru, akan mengarahkan kita untuk membeli lebih banyak barang baru lainnya. Pada akhirnya, kita membeli barang-barang yang sebelumnya tidak terlalu kita butuhkan. Diderot juga berpendapat, dewasa ini pembelian suau barang bukan lagi bertujuan secara fungsional, tetapi lebih dari itu, merupakan peluang untuk mengekspresikan diri.

Misalnya dalam membeli busana, tujuannya bukan lagi untuk sekedar menutupi tubuh, namun untuk mengekspresikan diri, menujukkan identitas. Kita memilih busana berdasarkan apa yang paling cocok dengan diri kita, apa yang kita ingin orang lain menilai tentang diri kita. Begitu juga saat membeli barang-barang lainnya seperti kendaraan dan perabotan rumah tangga. Itu artinya, pembelian suatu barang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, tapi memuaskan keinginan.

Bagaimana mengantisipasi efek dedirot?


Dalam hidup, kita memiliki kecenderungan alami untuk memenuhi dan memperbanyak. Kita jarang untuk menyederhanakan, menghilangkan, atau mengurangi. Kecenderungan alami kita selalu menambah, meningkatkan, dan membangun. Membeli barang baru memang bisa menimbulkan kepuasan dan kesenangan pribadi. Namun, ketika kita membeli sesuatu secara berlebihan, akan berdampak buruk salah satunya bagi kesehatan finansial kita. Kita perlu belajar untuk mengontrol pembelian. Berikut Fenomena Harimu paparkan beberapa tipsnya,

  1. Beli Satu, Berikan Satu
    Setiap kali kamu membeli sesuatu yang baru, sumbangkan sesuatu yang lama. Misalnya setelah kamu membeli TV baru, daripada memindahkan TV lama ke ruangan lain dan tidak begitu terpakai, berikan saja TV lamamu kepada orang lain. Atau setelah kamu membeli baju, sumbangkan baju-baju lamamu yang masih layak pakai. Hal ini untuk mencegah jumlah barang dirumahmu bertambah atau bertumpuk.
     
  2. Berhenti Berlangganan
    Terlalu banyak berlangganan email dari perusahaan komersial dapat memicu keinginan untuk terus berbelanja. Untuk itu, berhentilah berlangganan katalog dari mereka. Juga berhentilah mengikuti terlalu banyak akun-akun online shop di media sosial seperti facebook dan instagram. Dan untuk mencegah kamu membeli barang di mall karena tergiur diskon dan harga promo, carilah tempat selain mall ketika kamu mengadakan pertemuan dengan orang lain.
     
  3. Paksa Diri
    Keinginan untuk berbelanja tidak hanya datang dari berlangganan email dan media sosial. Lingkungan pertemanan juga seringkali membuat kita tergiur untuk membeli sesuatu, misalnya karena rasa tidak enak kita terpaksa membeli sesuatu dari teman kita yang menawarkan dagangannya. Memang tidak ada salahnya, tetapi akan menjadi masalah ketika sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Sesuaikan dengan skala prioritas kebutuhanmu.

    Tidak ada cara yang lebih ampuh selain memaksa diri kita untuk tidak selalu menuruti segala keinginan. Ingatlah bahwa keinginan tidak pernah ada batasnya
    . Setelah satu keinginan terpenuhi, selalu ada keinginan baru dan lebih tinggi lagi. Yang perlu kamu sadari, keinginan bukanlah sesuatu yang harus selalu kamu penuhi, keinginan hanyalah pilihan. Utamakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bukan memuaskan keinginan. Vivienne Westwood, seorang perancang busana dan pengusaha asal Inggris, berpesan pada kita semua,

“Buy less. Chose well. Make it last.”

-Vivienne Westwood

(Beli lebih sedikit. Pilih dengan baik. Bertahanlah.)

Recommended post:

Referensi:
Clear, James. The Diderot Effect: Why We Want Things We Don’t Need — And What to Do About It. jamesclear
Becker, Joshua. Understanding the Diderot Effect (and How To Overcome It). becomingminimalist
Regrets for my Old Dressing Gown, or A warning to those who have more taste than fortune. marxists

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."