loading...

Saturday, December 15, 2018

Standar Impianmu Terlalu Tinggi? Menjelang Tahun Baru, Yuk Revisi!

Tidak terasa, kita sudah mencapai bulan Desember di pengujung tahun 2018 ini. Saat ini, beberapa diantara kita mungkin punya warisan catatan keinginan, cita-cita, atau target apapun itu yang dibuat di awal tahun. Bagaimana, sudah ditinjau ulangkah? Bagaimana, apakah mayoritas dari daftar keinginan itu sudah tercapai? Kamu mungkin sudah susah payah ya untuk berusaha mencapainya, saya ucapkan selamat atas pencapaiannya :)

Tidak jarang, beberapa orang memang menargetkan peningkatan kualitas hidupnya dari tahun ke tahun ; entah itu dari yang cuma berdoa sambil lalu hingga sampai mencatat dan mewujudkannya dengan penuh waktu. Dalam video yang dipublikasikan oleh akun Youtube Yes Theory, sebanyak 40% orang akan berkemungkinan besar mencapai mimpinya ketika mereka menuliskannya. Nah, saya percaya kalau kamu adalah bagian dari orang-orang yang menuliskan target dan mimpimu. Well done!

Checklist
Image: Checklist [Pixabay]


Sekarang, tentu dalam aktualisasinya, pencapaian itu tidak berjalan mulus dan sempurna. Selain banyak tantangan, kita juga menghadapi banyak distraksi di sepanjang tahun. Beberapa hal yang tak masuk dalam daftar yang kita tulis itu seringkali dikerjakan dalam prioritas mendadak sehingga menjadikan daftar utama menjadi tertunda. Belum lagi soal aspek psikologis manusia seperti naik-turunnya mood, terjangkit malas, hingga melarikan diri dari rutinitas. Semua itu menjadi hal-hal yang membuat target dan mimpi kita tak semuanya tercapai. Kita tentu tahu itu bahwa itu masalah biasa dalam hidup, sebagaimana tak ada yang sempurna, bukan?

Mungkin tak cukup sampai disitu. Kamu mesti bisa mendeterminasi apa saja penyebab targetmu jadi mandek di suatu waktu. Barangkali teori dari Vilvredo Pareto atau yang dikenal dengan Hukum Pareto dapat membantumu untuk mewujudkan target selanjutnya. Mudahnya begini, menurut Pareto, ada angka 20% dari prioritas utama kita yang mesti kita kerjakan untuk mencapai angka 80% dari kesuksesan/kepuasan kita. Nah, jadi fenomena yang ada bila dikaitkan ke teori itu adalah kita mesti mendahulukan prioritas kita yang paling genting dan penting sebesar 20%, untuk nantinya dapat membantu kita merasa mencapai 80% dari keseluruhan target. Masuk akal? Ini tentu hanya soal prioritas. Bahwa benar, dari keseluruhan daftar target yang kita buat tidak semuanya penting. Dari sedikit yang paling terpenting, bila itu sudah dilakukan dan terwujud, maka rasanya seakan dapat mewakili keberhasilan target yang tidak terlalu penting.

Akan tetapi, ternyata ada permasalahan lain lagi yang mungkin terasa. Pernahkah bertanya apakah standar yang kita tetapkan dalam daftar target itu terasa terlalu tinggi sehingga kita bahkan tak mampu mencapainya? Mungkin bukan kamu saja yang merasa seperti itu, ketika sudah merencanakan lalu bekerja keras tetapi hasil tak kunjung maksimal. Apakah betul kita hanya membutuhkan penambahan kuantitas target demi ingin selalu meningkat, atau kita cukup mengoptimalkan target yang sederhana dengan menambah kualitasnya? Mungkin itu yang seringkali kita lupa, bahwa ajang awal tahun kita gunakan hanya untuk berlomba-lomba menuliskan sebanyak mungkin target tanpa mengukur dulu kemampuan diri kita sejauh mana.

Paul Thagard, dalam tulisannya yang dipublikasikan Psychology Today, mengatakan bahwa kita berkemungkinan untuk menurunkan standar target dan impian kita bila orang lain yang memilikinya juga gagal untuk mewujudkannya. Terdengar aneh? Mungkin bagi orang yang skeptis akan menyangka bahwa ini adalah langkah mundur untuk mewujudkan target. Tetapi menurut Paul, langkah menurunkan standar ini adalah sebuah proses yang masuk akal untuk merevisi target personal kita agar selalu berjalan sesuai dengan realitas dan kemampuan yang kita miliki.

Ada sebuah teori yang disampaikan oleh seorang psikolog Amerika yaitu Carl Rogers, yang berkenaan dengan fenomena tidak sesuainya target impian kita terhadap realitas yang kita punya. Hal ini disebut olehnya sebagai ketidaksebidangan (incongruity), yaitu ketika adanya perbedaan penilaian dari penerimaan kita sendiri sesuai realitas (real self)  terhadap penerimaan kita terhadap keinginan masyarakat, norma, budaya, atau yang lebih luas (ideal self).

Menurut Rogers, definisi ideal self ini merupakan sesuatu yang tidak riil, sesuatu yang tak pernah bisa dicapai, dan standar-standar itu takkan bisa kita penuhi. Kenapa begitu? Karena real self merupakan gambaran tentang “saya sebagaimana adanya”, sedangkan ideal self merupakan gambaran tentang “saya sebagaimana seharusnya”. Tampak jelas kan perbedaannya?

Standar impian dengan pertimbangan faktor intrinsik dan ekstrinsik


Nah, dari sini kita hal itu bisa kita perbesar kedalam faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Yang pertama yaitu faktor intrinsik, bisa jadi hal yang membuat kita menulis target impian yang tinggi karena kita terperangkap ‘narsisme’, yaitu ketika kita sibuk meyakinkan orang lain kalau kita mampu padahal sejatinya kita benci untuk mengakui bahwa kita belum mampu mencapainya. Selain itu, hal teknis seperti tidak konsisten dan takut gagal juga membuat hal itu jadi benalu dalam diri meskipun kita sudah menuliskan target yang begitu tinggi.

Sedangkan yang kedua yaitu faktor ekstrinsik, seperti terlecut oleh capaian prestasi orang lain yang bahkan belum tentu sama bidangnya dengan kita. Begitu juga soal timeline hidup orang lain yang seakan lancar saja, sehingga kitapun ingin menyerupainya padahal kita tak pernah tahu seberapa besar kemampuan juga usaha keras orang lain itu untuk mencapainya. Satu lagi, kadang kita merasa terlecut untuk menargetkan impian lebih tinggi karena melihat orang lain yang sudah melakukannya terlihat bahagia. Padahal, kita sendiri sebenarnya kalau semua orang punya caranya masing-masing untuk menjadi bahagia, iya kan? Begitulah, faktor ideal self yang sudah dijelaskan diatas sangat berhubungan dengan penilaian kita terhadap masyarakat, sementara kita sering lupa sejauh mana realitas diri yang kita punya.

Karenanya, yuk revisi target impian kita! Sesuaikanlah dengan kapabilitas yang kamu punya untuk saat ini, agar hidupmu dapat terjalani dengan mindset berupa real self, bukan karena tekanan masyarakat yang menginginkan kamu menjadi sosok ideal. Bermimpilah dengan jalanmu sendiri, karena kamu memiliki realitas yang berbeda dengan orang lain. Selamat menghadapi tahun yang baru dengan impianmu dan tetap semangat ya!

Walaupun ambisimu besar, langkah pertamamu haruslah dimulai dari yang terkecil
– Yes Theory

Recommended post:
Referensi :
[1] Boeree, C. George. 2010. Personality Theories. Yogyakarta : Prismasophie
[2] Thagard, Paul. 2018. When All Else Fails, Lower Your Standards. Psychology Today : psychologytoday
[3] Yes Theory (Youtube) : youtube


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."