loading...

Sunday, January 27, 2019

[Hawthorne Effect] Yang Diharapkan Karyawan Di Tempat Kerjanya

Jika kamu adalah seorang karyawan atau pegawai, bagaimana sikapmu ketika atasan sedang mengawasimu saat bertugas? Kamu melaksanakan tugas-tugas dengan baik seperti hari-hari biasanya saat kamu sedang tidak diawasi atasan, atau kamu saat itu bekerja dengan lebih baik karena merasa ada ‘tuntutan’ untuk bersikap baik di depan atasanmu itu?

Dalam ilmu psikologi, ada sebuah fenomena dimana seseorang cenderung mengubah perilaku mereka ketika sadar kalau mereka sedang diamati, fenomena tersebut dikenal dengan istilah ‘Hawthorne Effect’. Gillespie mendefinisikannya sebagai berikut,

It is the tendency of people being observed, as part of a research effort, to behave differently than they otherwise would.

– Gillespie.

(Kecenderungan orang yang diamati, sebagai bagian dari penelitian, adalah berperilaku berbeda dari yang seharusnya.)

Perubahan perilaku tersebut biasanya mengarah pada hal yang positif. Ketika kamu bekerja lebih keras dan kinerjamu lebih baik karena kamu sadar sedang dinilai oleh orang lain, bisa jadi kamu mengalami fenomena tersebut.

Fenomena Hawthorne Effect pada Penelitian Industri


Penamaan istilah pada fenomena Hawthorne Effect bukan diambil dari nama penelitinya, melainkan nama tempat dimana eksperimen dilakukan. Tahun 1924 dan 1932, seorang profesor di Harvard Business School bernama Elton Mayo melakukan penelitian di perusahaan listrik Western Electric’s Hawthorne Works. Ia meneliti bagaimana perubahan pada kondisi fisik tempat kerja berpengaruh pada kinerja karyawan perusahaan itu.

Penelitiannya yang paling terkenal pada kondisi fisik tempat kerja adalah mengenai  tingkat cahaya dalam gedung, bahwa apakah menambah atau mengurangi cahaya akan membuat kinerja karyawan menjadi lebih baik. Hasilnya, produktivitas karyawan meningkat, tidak hanya saat cahaya ruangan ditingkatkan (lebih terang), tetapi juga ketika cahaya ruangan dikurangi (lebih gelap). Tapi, apakah produktivitas karyawan terus meningkat setelah itu? Sayangnya, tidak. Produktivitas karyawan kemudian menurun setelah penelitian sudah selesai dilakukan.

Pekerja
Image: Pekerja [Pixabay]

Tahun 1955, Henry A. Landsberger mencoba menganalisis eksperimen Mayo tersebut. Ia meneliti produktivitas karyawan di suatu perusahaan dari aspek psikologis, berupa waktu istirahat dan jam kerja. Ketika waktu istirahat dihilangkan dan jam kerja justru diperpanjang, produktivitas karyawan bukannya menurun, malah meningkat. Kenapa ya? Sejak itu, kesimpulan dalam sebuah penelitian dinilai menjadi bias. Mengapa hampir semua perubahan yang dilakukan dalam rangka mengambil kesimpulan pada penelitian menyebabkan kinerja meningkat? Secara logika, bukankah karyawan seharusnya merasa tertekan dan kinerjanya cenderung menurun ketika tidak diberi waktu istirahat sedikitpun?

Dari penelitian tersebut, Landsberger mengambil kesimpulan bahwa ada sebuah fenomena dibalik hasil penelitian-penelitian tersebut yaitu Hawthorne Effect. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa hal tentang Hawthorne Effect

#1 Mengubah Perilaku Karena Merasa Diperhatikan

Dalam pekerjaan, orang-orang seringkali bekerja lebih keras dan kinerjanya akan lebih baik ketika sadar bahwa mereka sedang menjadi perhatian. Mereka sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh peneliti sehingga menuntut diri mereka untuk melakukan yang terbaik (kasarnya, berpura-pura baik). Terlepas dari serangkaian perubahan yang sengaja diciptakan untuk meneliti mereka.

#2 Mengubah Perilaku karena Merasa Istimewa

Orang-orang yang menjadi bagian dari penelitian, merasa menjadi orang yang istimewa karena terpilih menjadi objek penelitian, dan mereka senang dengan itu. Mereka secara halus akan mengubah perilaku mereka di depan peneliti. Seringkali, jawaban-jawaban yang mereka berikan ketika ditanya oleh peneliti pun bukan jawaban yang natural, alias dilebih-lebihkan.

#3 Peningkatan Kinerja Bersifat Sementara

Baik pada penelitian yang dilakukan Mayo maupun Landsberger, kinerja karyawan meningkat terus hanya dalam masa penelitian itu berlangsung. Ketika penelitian telah selesai, kinerja karyawan mulai menurun. Landsberger mendefinisikan Hawthorne Effect ini sebagai peningkatan jangka pendek dalam sebuah penelitian.

#4 Hawthorne Effect Menjadi Pertimbangan dalam Penelitian

Efek ini banyak dibahas dalam buku psikologi, terutama dalam psikologi industri dan organisasi. Efek ini nyataya juga menjadi pertimbangan besar dalam penelitian medis. Akan menjadi masalah besar ketika hasil penelitian medis menjadi bias, menjadi diragukan kevalidannya. Hawthorne Effect ini dianggap menimbulkan respon terapi yang berlebihan, lebih tinggi dibanding respon yang sebenarnya dirasakan oleh pasien.

Dilansir dari Alomedika, salah satu studi uji klinis dari American College of Rheumatology (ACR) mengalami bias tersebut. Kesimpulan dari uji klinis yang dilakukan kepada 246 pasien Artitis Rematik (AR) bahwa selama penelitian berlangsung, perbaikan nyeri terjadi sebesar 51,7%, sedangkan setelah penelitian selesai, menjadi menurun hingga 39,7%. Hal tersebut terjadi diperkirakan karena adanya Hawthorne Effect dimana pasien merasa istimewa dan diperhatikan sehingga memberi respon yang berlebihan.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai peneliti jika ingin meminimalisir terjadinya Hawthorne Effect dalam penelitian? Hmm... beberapa cara ini yang bisa kamu lakukan,

Pertama, kamu bisa menerapkan teknik obsevasi naturalistik, dimana kamu bersikap seolah-olah objek penelitian tidak sedang diteliti. Teknik ini dapat minimalisir kesadaran mereka sebagai orang yang istimewa dan yang terpilih dalam penelitianmu.

Kedua, nyatakan kepada mereka sebagai objek penelitian bahwa tanggapan mereka dalam penelitian ini bersifat rahasia atau anonim. Dengan itu, mereka mungkin akan lebih sedikit mengubah perilaku, mereka tidak perlu berlebihan dan berpura-pura dalam meberikan respon karena mereka merasa tidak akan dinilai dari respon yang mereka berikan. Mungkin, kedua cara itu bisa membantumu mendapatkan kesimpulan yang tidak bias dan lebih valid dalam penelitian.

Atau, jika kamu ingin mengetahui perubahan mana yang bisa diterapkan ditempat kerjamu tanpa melakukan penelitian sendiri, kamu bisa mengambil beberapa contoh dari survey-survey yang telah dilakukan orang lain. Berikut Fenomen Harimu rangkum beberapa hal yang diharapkan pekerja agar termotivasi dan lebih produktif bekerja, dilansir dari website Forbes dan The Balance Careers,

  1. Lingkungan kerja fleksibel (menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan seperti mendukung sistem kerja jarak jauh, penetapan hari libur dan cuti)
  2. Tujuan bekerja jelas (tidak hanya untuk digaji tapi juga untuk berkontribusi pada masyarakat)
  3. Pemberian rasa hormat (kepercayaan untuk melakukan tugas tanpa selalu diawasi.
  4. Pemberian apresiasi (pengakuan berupa pujian atas prestasi di depan umum dan pemberian penghargaan)
  5. Adanya budaya mentoring (pengembangan pengetahuan dan keterampilan berupa pelatihan-pelatihan, juga diberikan kesempatan untuk menjadi mentor bagi yang lain).

Recommended post:

    Referensi:
    Cherry, Kendra. 2018. The Hawthorne Effect and Behavioral Studies. [verywellmind]
    Shuttleworth, Martyn. 2009. Hawthorne Effect. [explorable]
    [Goodtherapy]
    Darmawan, Josephine. Waspadai Efek Hawthorne. [Alomedika]
    Serna, Lucian. 2017. Is Hawthorne Effect Merely a Behavior Alteration?. [luckscout]
    Heathfield, Susan M. 2019. What Employees Want From Their Workplace. [thebalancecareers]
    Kohll, Alan. 2018. What Employees Really Want At Work. [forbes]



    Penulis FH Widya
    Penulis konten: Widya
    "Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti denga