loading...

Saturday, January 19, 2019

[Proxemics] Memahami Pesan Dibalik Jarak Antar Manusia

Barangkali kita pernah bertanya, kenapa sih manusia menciptakan jarak? Salah satu pengaruhnya karena memang kita berlaku sebagai homo socius, manusia yang bersosial. Tetapi apakah kita menyadari bahwa kita sendirilah yang menciptakan jarak? Ya, karena kita memiliki persepsi terhadap orang maupun lingkungan yang kita hadapi.

Meskipun setiap orang berbeda-beda dalam merespon persepsi lingkungan terluarnya, pada dasarnya manusia akan menuruti ‘arus besar’ yang tercipta di sekitarnya (semisal budaya dan kultur lokal) yang membentuk persepsinya terhadap ruang yang lebih besar. Bisa dikatakan, semakin besar ruang dan jarak yang dihadapi, maka nantinya akan menjadi representasinya sendiri, baik itu negatif maupun positif.

"Budaya tidak dapat dibuat, melainkan berevolusi seperti manusia."
-Edward T. Hall]

Bila kita mencitrakan diri kita sebagai orang Indonesia, apa yang terlintas dalam benak kamu? Tentu saja contohnya semacam persepsi yang sudah diwariskan turun-temurun, positifnya seperti sifatnya ramah dan terbuka, negatifnya adalah suka menggosip dan tidak tepat waktu. Apakah kamu merasa relate dengan persepsi itu?

Begitu juga dengan jarak, sebab ia sangat bergantung dari persepsi. Manusia cenderung membuat jarak yang benar-benar menjadi pembatas atas interaksi yang ia buat. Ternyata, hal tersebut sudah dikaji dan menjadi ilmiah berkat adanya penelitian yang dapat diadaptasikan ke dalam angka dan sifatnya kuantitatif sehingga orang-orang dapat mengerti apa definisi jarak itu sesungguhnya. Ilmu itu bernama Proxemic, yaitu sebuah studi yang mempelajari persepsi manusia terhadap jarak dan ruang dalam pengaruhnya terhadap berkomunikasi. Salah satu penggagasnya yaitu Edward T. Hall, seorang antropolog asal Amerika Serikat.

Menurut kajian dalam ilmu Proxemic, jarak atau ruang memiliki fungsi yang dibutuhkan oleh manusia. Yang pertama yaitu soal keamanan, dimana kita harus meyakini bahwa setiap orang tidak akan menyerang kita dengan mengejutkan. Yang kedua, yaitu soal komunikasi dimana dengan jarak tertentu akan membantu kita untuk berkomunikasi sesuai yang kita butuhkan. Yang ketiga, yaitu soal afeksi dimana dengan jarak yang disepakati seseorang untuk menjalin keakraban. Yang keempat yaitu soal ancaman, dimana kita suatu kali dapat memproteksi diri kita sendiri dari ancaman atau memilih untuk mengancam dan mengganggu ruang yang dimiliki seseorang.

Proxemics
Image: Variasi jarak antar manusia [Pixabay]

Mari kita kupas satu persatu soal fungsi dengan zonasi jarak yang digagas oleh Edward T. Hall berdasarkan penelitiannya yang dilakukan di Amerika Utara. Yang pertama, bersifat paling luas yaitu zona publik (berjarak >3 meter), disini umumnya kita sebagai manusia dapat memahami dan melihat jelas wajah, tubuh, dan intonasi bicara orang lain seperti contohnya ketika sedang menghadiri perkuliahan di aula umum, atau khutbah shalat Jum’at yang ada di masjid. Dengan jarak seperti ini, kita dapat merasa bahwa orang-orang yang berbicara di depan panggung atau mimbar dapat mempengaruhi kondisi psikologis kita meskipun tidak signifikan sebab sifatnya yang konvergen atau menyebar, juga karena tidak bersifat eksklusif. Jadi, zona publik ini dapat dikatakan sebagai zona jarak dan persepsi antar manusia yang paling umum dan biasa.

Yang kedua yaitu zona sosial (berjarak 1,5-3 meter), disini umumnya kita dapat merasakan secara jelas penggambaran sosok orang yang cukup dekat dengan kita. Ini juga jarak yang cocok pada pertemanan sebaya, relasi, atau kolega. Kondisi psikologis dapat berefek cukup signifikan karena jarak yang sudah cukup menyempit, contohnya seperti kita mengikuti perkemahan pramuka atau rapat kerja di kantor. Disini, pembicaraan kita soal hal penting jadi cukup memungkinkan meski belum bisa untuk tempat berbagi rahasia.

Yang ketiga yaitu zona personal (berjarak 0,5-1,5 meter), disini umumnya kita akan dapat merasakan atau menyentuh teritori orang lain, dan mengartikan secara verbal dari interaksi yang dilakukan. Singkatnya, pada zona inilah kita dapat menjadi orang lain sebagai teman dekat, seperti contohnya ketika sedang berkumpul dengan teman satu geng atau keluarga besar. Kondisi psikologis yang dirasa tentu signifikan sebab di jarak ini kita dapat menjangkau orang lain secara fisik dan merupakan jarak yang cukup aman untuk berbagi rahasia.

Yang keempat dan terakhir yaitu zona intim (berjarak <0,5 meter), disini merupakan jarak terdekat yang dapat dirasakan oleh manusia, sebab sifatnya yang mampu mengakomodasi sentuhan fisik dan jiwa sekaligus. Bisa dikatakan, jarak ini adalah jarak yang membutuhkan ‘kepercayaan’ yang tinggi sehingga sangat berpengaruh paling signifikan terhadap kondisi psikologis seperti contohnya pada keluarga inti (antara orangtua dan anak) atau pada pasangan yang terkasih. Jarak inilah yang menjadi satu-satunya cara memahami dengan jelas bagaimana kondisi emosi seseorang, juga jarak yang paling aman untuk berbagi rahasia.

Nah, dari penjabaran teori komunikasi menurut Hall di atas, apakah menurutmu teori  jarak dan ruang berpengaruh terhadap komunikasi di zaman sekarang? Seperti yang kita tahu bahwa jarak dan ruang sudah dapat dirintangi dengan teknologi, yang asalnya berjauhan bisa jadi berdekatan karena sudah saling terhubung lewat media sosial. Apakah teori itu masih relatable?

Menurut artikel yang ditulis oleh Chhavi Shrivastava dipublikasikan di Medium, bahwa proxemic di dalam media sosial juga mengadaptasikan hal yang sama. Dalam berbagai jenis media sosial di masa kini, ada beberapa pilihan media sosial yang diperuntukkan untuk membuat zonasi jarak juga pada aktivitas follow-memfollow. Tentu saja, semakin dekat kita dengan seseorang, maka semakin eksklusif pilihan media sosial yang digunakan, misalnya lewat direct message personal atau grup kecil.

Pada akhirnya, manusia memang menciptakan jarak dan ruang sesuai dengan kebutuhannya, terutama untuk berkomunikasi. Di lain hal, jarak dan ruang justru dipangkas dengan kehadiran teknologi, tetapi naluri manusia jelas takkan pernah terganti. Dengan jarak dan ruang, begitupun persepsi, manusia secara ‘sehat’ dapat mengelompokkan yang mana yang terbaik untuk lingkungan psikologisnya. Bagaimana menurutmu, apakah kamu juga melakukan zonasi jarak yang sama di kehidupan nyata maupun di media sosial?

Recommended post:

Referensi:
[1] Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi : Edisi 3, Richard West, Lynn H. Turner. 2008. Salemba Komunika, Jakarta.
[2] Shrivastava, Chhavi. 2017. 7. Social media proxemics, anyone??. Medium

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."