loading...

Saturday, February 2, 2019

Cara Terbaik Menyikapi Hoax

Membaca judul diatas, sepertinya ini adalah pertanyaan kita bersama yang sangat berhubungan dengan banyak sekali kejadian yang terjadi di masyarakat. Mungkin juga sebagian dari kita sudah mendengar apa itu hoaks, bahkan tanpa sengaja mungkin pernah menjadi bagian dari pelaku atau korban hoaks. Tidak hanya di media massa, bahkan hoaks pun banyak menyebar di kalangan akademisi. Tetapi, kita tentu masih bingung bagaimana cara menyikapi hoaks agar tak menjadi pelaku maupun korban?

Mari kita mulai dengan memahami lebih jauh apa itu hoaks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoaks memiliki arti yaitu berita bohong. Sementara dalam Kamus Oxford, hoaks berarti penipuan yang membahayakan. Nah, dari pengertian itu tentu kita tahu persis bahwa hoaks sungguh berbahaya, terlebih di saat ini banyak sekali saluran-saluran informasi yang sulit diverifikasi kebenarannya sehingga mengakibatkan kesimpangsiuran di masyarakat. Sebenarnya, kenapa sih fenomena hoaks ini muncul?

Surat kabar
Image: surat kabar [pixabay]


Dilansir dari Elsevier, Max Goldman yang merupakan seorang ahli pengembangan dari senseaboutscience.org memaparkan alasan kenapa orang-orang menyebarkan hoaks karena sebagian besarnya ingin mengambil perhatian dari orang di sekitarnya. Kabar yang aneh dan sensasional akan membuat orang-orang banyak membicarakannya dan tentu saja dapat menjadi keuntungan bagi penyebar hoaks. Bentuk yang paling banyak mengambil atensi saat ini tentu saja penyalahgunaan gambar atau video yang dimanipulasi sedemikian rupa hingga menimbulkan kegegeran di media sosial hingga cepat menyebar karena sifatnya yang viral. Bila sudah seperti itu, biasanya penyebar hoaks akan mendapat keuntungan dari sorotan media konvensional yang memiliki banyak pengikut.

Apakah fenomena hoaks dapat dikatakan baru ada sejak era media sosial? Tentu tidak, dengan asumsi bahwa terjadinya misinformasi akan berpotensi terjadi dikarenakan beberapa faktor, diantaranya karena lebih kuatnya opini yang terlanjur berkembang, fakta yang tidak tergali secara lebih dalam, serta tidak adanya klarifikasi yang dapat meluruskan hoaks tersebut. Salah satu contoh hoaks di era sebelum media sosial terdokumentasi pada tahun 1686 di Inggris Raya, dimana terdapat selebaran surat kabar yang mengajak masyarakat Inggris untuk menonton pertunjukan memandikan singa di Menara London -dan hal itu tidak pernah terjadi.

Boleh jadi, sejak jaman dulu juga sebenarnya banyak sekali hoaks yang menyebar di masyarakat dan sangat berpengaruh besar karena minimnya akses informasi dan sarana pendukungnya. Orangtua kita dahulu mungkin masih mengandalkan siaran radio dan membaca koran untuk menerima informasi, hanya sebagian kecil yang memiliki akses ke siaran televisi. Tentu pada masa itu agak sulit untuk mengonfirmasi apakah berita yang diterima itu hoaks atau tidak dikarenakan minimnya akses juga sedikitnya sumber alternatif berita lain yang isinya dapat dibandingkan, selain juga karena ada faktor saluran informasi yang dibatasi dan dikontrol pada era sebelum reformasi.

Apakah kamu tahu hoaks paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia? Salah satunya adalah sejarah dari Surat Perintah Sebelas Maret atau dikenal dengan Supersemar, yakni sebuah surat sakti yang kabarnya dikeluarkan oleh Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966 yang menginstruksikan Mayjen Soeharto (yang kelak menjadi presiden) untuk “mengambil alih situasi keamanan yang buruk” pasca terjadinya pemberontakan G-30S PKI. Sampai saat ini, dokumen asli dari Supersemar tidak pernah tersimpan di Lembaga Arsip Nasional RI hingga menimbulkan banyak spekulasi dan berkembangnya teori konspirasi baik dari para sejarawan, ahli hukum, hingga masyarakat biasa. Hal ini berefek pada banyaknya sumber berita yang tidak jelas kebenarannya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan akibat terlalu banyaknya opini publik tentang peristiwa tersebut.

Kembali ke pertanyaan di awal, bagaimana cara kita untuk menyikapi banyaknya informasi hoaks yang ada di sekeliling kita? Pertama-tama, mulailah dengan memahami konteks informasi. Bila itu berbentuk berita, maka usahakan kita mampu untuk mengidentifikasi linimasa waktunya. Bila sudah sesuai, maka kemudian kita mesti melihat seperti apa bentuk berita yang disampaikan. Lebih lanjut, kita mesti tahu kredibilitas si penyampai berita, apakah dari sumber terpercaya atau sumber yang tidak jelas asalnya? Disitulah kecerdasan kita dalam memahami konteks berita akan diuji karena tak semua berita yang benar sesuai fakta akan naik ke permukaan dan mudah diterima. Hal itu disebabkan karena bentuk informasi yang viral biasanya bersifat bombastis, nyeleneh, dan lebih mengambil atensi publik sehingga berefek mengubur fakta sesungguhnya dari berita itu sendiri.

Selain itu, kita juga mesti memahami fenomena bias konfirmasi, dimana kita patut menghindari informasi yang hanya mendukung pendapat yang kita sukai secara pribadi dan mengabaikan alternatif fakta yang lain. Oleh karena itu, lebih baik bila kita menelusuri aneka pemberitaan yang lain sebagai pembanding, seperti membaca portal berita yang lebih beragam selain dari yang seringkali kita baca agar informasi yang kita miliki dapat lebih berimbang. Bila sudah begitu, maka biasanya kita akan lebih mudah menyaring informasi mana yang paling akurat.

Apabila kita mengetahui suatu hoaks dari sebuah informasi, maka ada baiknya kita melaporkannya agar dapat diklarifikasi oleh yang berwenang. Contohnya, seperti yang dilakukan oleh Dinas Kominfo provinsi Jawa Barat yang meluncurkan akun Instagram @jabarsaberhoaks dimana para pembaca media sosial dapat melaporkan hoaks apa saja yang mereka temui di media sosial untuk nantinya dapat diklarifikasi. Hal ini adalah langkah baik dari hadirnya pemerintah dalam mengurangi potensi buruk dari hoaks yang disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Juga dalam hal ini, pembaca informasi yang cerdas juga diwadahi untuk berpartisipasi dalam memberantas hoaks yang banyak berseliweran di media sosial maupun media konvensional.

Nah, apakah kamu sudah termasuk pembaca informasi yang cerdas? Maka, hindarilah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, pahami konteksnya lebih dulu lalu kemudian laporkan hoaks pada pihak yang berwenang. Yuk, berantas hoaks bersama-sama!

“Mari jadikan Jawa Barat damai, kondusif, dan dijauhi dari berita yang meresahkan dan memecah-belah”

- Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat

Recommended post:


Referensi:
Hilten, Lucy Goodchild van. 2015. Science hoaxes: Why do we fall for them – and who benefits?. [Elsevier]
Liputan6. 2017. Darimana asal usul hoax?. [Liputan6]
Wikipedia. April Fools' Day. [Wikipedia]
Wikipedia. Surat Perintah Sebelas Maret. [Wikipedia]
Instragram @jabarsaberhoaks

Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."