loading...

Saturday, February 23, 2019

Ingin Menghilangkan Rasa Takut? Pahami Dahulu Mengapa Rasa Takut Itu Ada

Pernahkah kamu mendengar bahwa bahwa rasa takut merupakan suatu emosi alami yang tertanam dalam tubuh manusia? Kamu boleh saja percaya atau tidak, tetapi nyatanya hal itu bisa jadi awal mula caramu memahami rasa takut. Menurut Andreas Olsson dalam tulisannya yang dipublikasikan oleh Nature Neuroscience, mengatakan bahwa rasa takut merupakan respon yang muncul ke permukaan akibat dari kebutuhan ‘survive’ terhadap keadaan. Menurutnya, rasa takut ini sudah ada sejak manusia awal memulai evolusi, berkembang seiring dengan penyempurnaan organ-organ hingga saat ini. Dapat dikatakan, manusia memahami rasa takutnya ketika sudah melihat keadaan sekitar, bisa jadi sebabnya dari kekurangan sesuatu atau kehilangan sesuatu.

Seringkali orang membandingkan rasa takut dengan rasa berani. Pertanyaannya, kalaulah takut itu alami, apakah rasa berani itu juga alami? Kalau pendapat saya, berani itu justru sebuah respon dari rasa takut dan tentang bagaimana caranya untuk menghadapi sekaligus mengatasi rasa takut. Sebab, bila kita sedang tidak mengalami ketakutan, apakah kita tiba-tiba jadi berani? Mungkin tidak. Nah, bagaimana pendapatmu?

Image: Sembunyi [pixabay]

Takut juga bersifat multidimensi, sebagaimana kita memahaminya dari persepsi di kepala yang berbeda-beda. Dari sana, psikolog mengelompokkannya ke dalam ketakutan yang sifatnya rasional dan irasional (yang lebih dikenal sebagai fobia). Meski sifatnya universal, fobia ternyata memiliki banyak jenis dan bersifat individualistis sebab hanya akan diketahui bila psikolog mengetahui gejala dari tiap orang dan mencatatnya hingga jadi sebuah istilah umum. Dalam sebuah survei yang diadakan oleh Gallup pada 2015, terdapat 10 jenis ketakutan yang umum diketahui pada warga Amerika Serikat, diantaranya adalah serangan teroris, laba-laba, kematian, kegagalan, perang, aksi kriminal, kekerasan rasial, kesendirian, masa depan, dan perang nuklir. Tentu kamu bisa membedakan dong, mana yang rasional dan mana yang irasional?

Yang menarik, justru kita sebagai masyarakat awam ternyata sulit membedakan apa itu takut dan apa itu cemas. Meski memiliki irisan yang cukup mirip, ada perbedaan mendasar antara ketakutan dan kecemasan. Takut lebih condong pada respon kita terhadap hal yang mengancam di depan mata, sedangkan cemas lebih cenderung pada respon kita terhadap hal yang mengancam tetapi belum terjadi. Contohnya, bila kita sedang berada di hutan lalu bertemu dengan ular maka itu bisa disebut dengan ketakutan. Tetapi apabila kita sedang memikirkan hasil ujian yang belum kunjung keluar maka itu bisa disebut sebagai kecemasan.

Apakah ketika kita takut atau cemas, segalanya dapat terlihat pada ekspresi kita? Joe Navarro, sebagaimana dipublikasikan di Psychology Today, menyatakan bahwa bahasa tubuh atau mikro-ekspresi seringkali jadi pembahasan terkait bagaimana mendeterminasi ketakutan seperti gestur muka, kerlingan mata, menggigit bibir, menggaruk kepala, hingga menjejakkan kaki secara berlebihan. Tetapi menurut Navarro, hal itu kurang relevan disebabkan respon takut menuntut gerakan yang begitu cepat (biasanya kurang dari seperempat detik) sehingga tidak dapat dilihat secara seksama. Menurutnya lagi, akan lebih tepat bila menggunakan metode tersebut untuk mempelajari kepribadian seseorang.

Tingkatan Rasa Takut, Seperti Apa?


Karl Abrecht, dalam bukunya yang berjudul Practical Intelligence:The Art and Science of Common Sense, menyebutkan bahwa rasa takut merupakan reaksi standar biologis yang dimiliki manusia, yang datang dari antisipasi kita terhadap kejadian yang akan datang atau dari sebuah pengalaman. Dari sana, ia mengelompokkan sejumlah lima ‘ketakutan mendasar’ atau feararchy yang dimiliki oleh manusia, yang dijelaskan dari paling dasar menuju paling tinggi yaitu :

  1. Kepunahan. Menurut Karl, ketakutan ini dapat dikatakan sebagai sikap ‘takut mati’. Contohnya, ketika kita dihadapkan pada rasa panik ketika sedang berada pada pesawat yang tinggal landas. 
     
  2. Mutilasi. Kita akan merasa takut bila kita kehilangan salah satu bagian penting dari tubuh atau disebabkan karena hilangnya fungsi organ tersebut. Pemaknaan dari ketakutan jenis ini dapat tergambar ketika kita bergidik ngeri saat melihat binatang yang organ tubuhnya terputus ketika terlindas kendaraan. Atau bisa juga berbentuk sebagai penyakit yang dapat menghilangkan fungsi organ, seperti penderita diabeters akut yang harus rela diamputasi.
     
  3. Kehilangan otonomi. Takut jenis ini merupakan ketakutan terhadap adanya anggapan pihak luar dapat mengontrol apa yang terjadi pada tubuh kita, baik secara fisik maupun psikologi. Dalam film, agak cukup mengerikan bila kita melihat adanya fenomena ‘zombie’ dimana tubuh manusia dikendalikan oleh virus jahat. Sementara secara psikologis, dapat terasa ketika misalnya kita suatu kali merasa bahwa hidup kita dikendalikan oleh penguasa dan aparat.
     
  4. Pemisahan/Penolakan. Disini terlihat bahwa ketakutan yang lebih bersifat psikologis dibandingkan fisik. Contoh paling mudah ketika kita merasa takut ditinggalkan orang tua di keramaian saat masih kecil, atau takut ditinggalkan kekasih. Lebih jauh lagi, ada ketakutan yang timbul karena terjadinya penolakan pada masyarakat sehingga dapat menyebabkan diri merasa terisolasi dan mengalami penurunan mental. Contohnya, dapat terlihat pada beberapa kasus orang yang dipasung.
     
  5. Ego-death. Menurut Karl, inilah ketakutan paling puncak yang dapat dirasakan oleh manusia sadar, yang disebabkan oleh rasa malu dan ketidakpercayaan pada diri sendiri. Orang yang terjangkit takut ini biasanya merasa dirinya ‘kehilangan arah’, sehingga takut bila tidak dihargai seperti kasus integritas (tidak dipercayai lagi bila sudah melakukan kesalahan), perasaan tidak dicintai,  hingga pengabaian kemampuan.

Menurut Karl, ketakutan bisa menjadi dasar emosi dimana kemarahan dapat mengemuka. Bila ketakutan sudah direspon oleh kemarahan, maka sejatinya ia sudah menjadi kelainan (disorder) sehingga dapat menimbulkan penyakit atau depresi. Seringkali, orang yang takut menderita penyakit tertentu malah lebih rentan terkena penyakit tersebut disebabkan oleh pola pikirnya sendiri, apalagi bila mudah tersinggung dan marah.


“Satu-satunya hal yang mesti kita takuti, adalah ketakutan itu sendiri”
– Franklin Roosevelt, US President.

Salah satu cara terbaik untuk meredakan rasa takut yaitu dengan menghadapi ketakutan itu sendiri. Bisa jadi, yang membuat hidup lebih berat sebenarnya ketika kita takut disebabkan ketakutan kita sendiri. Aneh bukan? Seperti saat kita memulai sebuah pidato, kita cenderung takut bahwa orang lain akan mengejek kita bila kita melakukan kesalahan sehingga menjadikan kita menjadi takut salah dalam pembawaan. Apa yang terjadi justru benar, kita jadi salah betulan meskipun hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Tentu, apabila gejala ketakutan itu sudah sangat mengkhawatirkan, maka ada baiknya langsung menghubungi psikiater agar dapat dilakukan penanganan.

Maka bisa jadi sebuah pepatah itu benar, ketika dikatakan bahwa ‘hadapilah ketakutanmu, sehingga nantinya kau tahu bahwa tak perlu ada yang ditakutkan’.

Recommended post:

Sumber :
[1] Olsson, A.; Phelps, E.A. (2007). "Social learning of fear". Nature Neuroscience. 10 (9): 1095–102. doi:10.1038/nn1968. PMID 17726475.
[2] Lyons, Linda. 2005. What Frightens America's Youth?. [gallup]
[3] Albrecht, Karl. "Practical Intelligence: the Art and Science of Common Sense." New York: Wiley, 2007.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."