loading...

Saturday, February 9, 2019

Psikologis Kakak Beradik Terhadap Lingkungan Keluarga

Untukmu yang terlahir bukan sebagai anak tunggal alias mempunyai saudara baik kakak maupun adik, pernahkah kamu merasakan pertentangan yang lebih dari sekedar bertengkar karena berebut mainan sewaktu kecil? Misalnya sebagai anak sulung, kamu merasa memikul tanggung jawab yang berat sebagai kakak, yang dituntut menjadi panutan adikmu. Atau sebagai anak bungsu, kamu merasa kurang dihargai karena tidak mendapatkan kepercayaan untuk menjalani banyak hal, sebesar yang orangtuamu berikan pada kakakmu. Tetapi dibalik itu, kakak atau adikmu sekaligus menjadi orang yang paling menguatkanmu ketika kamu lemah.

Image: Saudara Kandung [Pixabay]

Nyatanya, hubungan antar saudara tidak sesederhana bertengkar karena berebut remote televisi kemudian akur dan bermain bersama kembali. Hubungan saudara adalah hal yang kompleks, seperti yang disampaikan Jeffrey Kluger ketika menjadi pembicara di TED Talk,

“There may be no relationship that effects us more profoundly, that's closer, finer, harder, sweeter, happier, sadder, more filled with joy or fraught with woe than the relationship we have with our brothers and sisters.”
–Jeffrey Kluger.

(Mungkin tidak ada hubungan yang memengaruhi kita lebih dalam, lebih dekat, lebih baik, lebih sulit, lebih manis, lebih bahagia, lebih sedih, lebih terisi oleh sukacita atau dukacita daripada hubungan yang kita miliki dengan saudara-saudari kita.)

Secara umum, kita tahu bahwa cara orang tua mendidik akan memengaruhi kepribadian dan perilaku kita, tetapi menurut Psikolog bernama Dorothy Rowe, kita sering mengabaikan kalau hubungan adik-kakak juga ikut memberi pengaruh. Ya, dalam pandangan psikologi, istilah ‘Sibling Bond’ atau ikatan kakak-adik bisa menjadi ikatan yang penuh kasih sayang dan menguatkan, tetapi bisa juga menjadi ikatan yang menyebabkan kebencian dan persaingan. Hal itu disebabkan oleh adanya fenomena urutan kelahiran dan favoritisme diantara orang tua dan anak. Berikut Fenomena Harimu rangkum beberapa fenomena yang sering terjadi dalam ikatan kakak-adik.

Fenomena Persaingan Saudara Kandung


Dibalik hubungan kedekatan antar saudara terdapat perselisihan yang terjadi secara alami. Neil Bush, saudara kandung dari presiden Amerika yang ke 46, George W Bush menyatakan bahwa Ia kehilangan kesabaran karena seringkali dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Mungkin, kita juga pernah mengalami hal yang sama, dibandingkan dalam hal prestasi, misalnya.

Setelah dilahirkan, kita cenderung melakukan apa saja untuk menarik perhatian orang tua kita, menentukan apa ‘nilai jual’ terkuat kita yang dapat menarik perhatian kedua orang tua. Para ilmuwan menyebut hal ini sebagai proses ‘identifikasi’. Kita mengidentifikasi diri sebagai anak yang lucu, anak yang cantik, anak yang cerdas atau anak berprestasi misalnya dengan menjadi seorang atlet. Sayangnya, kadang-kadang orang tua mencemari proses identifikasi anaknya. Misalnya hanya anak yang berprestasi yang diberi apresiasi oleh mereka sehingga perselisihan akan terjadi antar saudara.

Kabar baiknya, perselisihan yang terjadi dirumah, secara tidak langsung mengajarkan cara menghindari konflik dan penyelesaian konflik. Kita belajar kapan harus membela diri, kapan harus mundur. Kita juga belajar tentang cinta, kesetiaan, kejujuran, berbagi, perhatian, juga kompromi. Hal-hal tersebut akan sangat berguna untuk menghadapi kehidupan di masa mendatang, ketika sudara kandung bahkan tidak tinggal bersama lagi.

Fenomena Urutan Kelahiran (Birth Oder + Parenting = Behaviour)


Dr. Kevin Leman, seorang psikolog sekaligus penulis buku The Birth Order Book: Why You Are the Way You Are (Revell) yang memelajari urutan kelahiran sejak 1967, percaya kalau rahasia perbedaan kepribadian dipengaruhi oleh urutan kelahiran dan bagaimana cara orang tua memperlakukan mereka.

#1 Anak Sulung

Anak pertama menjadi eksperimen pertama kedua orang tuanya, diasuh dengan penuh perhatian dan ketat dengan aturan, menyebabkan secara alami anak sulung akan menjadi anak yang perfeksionis. Ia berusaha selalu membuat senang orang tuanya. Ia cenderung ambisius dan mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai seseorang yang berprestasi. Anak sulung lebih cenderung untuk mengambil posisi kepemimpinan. Dalam survei pada 2007 terhadap 1.582 kepala eksekutif, 43% melaporkan bahwa mereka adalah anak pertama. Namun, tidak selalu benar bahwa anak yang pertama kali lahir dari rahim ibunya akan secara otomatis tumbuh menjadi seorang pemimpin.

#2 Anak Tengah

Menurut seorang terapis bernama Meri Wallace, anak tengah sering merasa ditinggalkan dan merasa seperti, “Yah, aku bukan yang tertua, juga bukan yang termuda. Siapalah aku?”

Berada diantara seorang kakak dan adik, membuat anak tengah memiliki sifat pemberontak. Kalau menurut Kluger, anak tengah adalah sebuah ‘teka-teki’, seringkali kepribadian mereka sulit diartikan karena mungkin adalah campuran dari perilaku kakak dan adiknya. Saat dewasa, anak tengah adalah seseorang yang fokus pada hubungan, ia dapat menjadi negosiator hebat yang dapat mendamaikan antar pihak yang berbeda.

#3 Anak Bungsu

Anak bungsu cenderung menjadi yang paling semangat dan mencintai kebebasan. Ibaratnya, mereka adalah yang dilahirkan untuk ‘menulis ulang peraturan’. Mereka cenderung lebih pemberontak daripada anak tengah, lebih lucu, intuitif dan kharismatik. Karena sikap dan pembawaannya itu, anak bungsu saat dewasa mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang artis, seniman bahkan komedian.

Fenomena Anak Favorit Orang Tua


Sebagai editor senior di majalah TIME, Kluger pernah mengutip sebuah penelitian bahwa 70% Ayah dan 65% Ibu memiliki ‘anak favorit’ setidaknya pada salah satu anak. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap pilih kasih pada anak yang menjadi favoritnya masing-masing. Hal itu disebut dengan favoritisme. Favoritisme bukanlah sepenuhnya kesalahan orang tua, itu terjadi secara alami. Pada umumnya, seorang Ayah cenderung menjadikan anak perempuan terakhir sebagai favoritnya. Sedangkan seorang Ibu cenderung menjadikan anak laki-laki pertama sebagai yang paling disukainya.

Entah bagaimana, jika anak yang berbeda lawan jenis dengan orang tuanya, misal anak perempuan dengan Ayahnya dan mereka mirip secara temperamen, akan membuat Ayahnya lebih mencintainya daripada anak yang lain. Ayah yang seorang pengusaha, akan menyukai putrinya yang berpandangan kuat tentang dunia dan mempunyai ketertarikan pada bisnis. Juga seorang Ibu yang sensitif, akan menyukai putranya yang seorang penyair dibandingkan anak lainnya.

Menurut Kluger, ikatan saudara adalah cinta abadi. Orang tua kita meninggalkan kita terlalu cepat, sedangkan pasangan dan anak-anak kita datang terlambat. Saudara kandung adalah satu-satunya yang bersama kita dalam seluruh perjalanan hidup kita. Karena itu jika kita memiliki saudara kandung dan tidak memanfaatkan ikatannya adalah kebodohan utama. Jika hubungan kita dengan kakak/adik rusak dan perlu diperbaiki, maka perbaikilah. Jika hubungannya baik-baik saja, maka  buatlah hubungan kita dengan mereka menjadi lebih baik lagi. Gagal melakukannya adalah seperti memiliki ribuan hektar lahan pertanian subur tapi  tidak pernah menanamnya. Hidup ini singkat, terbatas, dan itu dimainkan untuk disimpan. Saudara kandung mungkin salah satu dari panen terkaya pada waktu yang kita miliki di sini.

“Life is short, it's finite, and it plays for keeps. Siblings may be among the richest harvests of the time we have here.”

–Jeffrey Kluger

(Hidup ini singkat, terbatas, dan harus siap dengan segala konsekuensinya. Saudara kandung mungkin salah satu dari panen terkaya pada waktu yang kita miliki di sini.)

Recommended post:

Referensi:
Kluger, Jeffrey. 2011. The Sibling Bond. [TED]
Voo, Jocelyn. __. How Birth Order Affects Your Child's Personality and Behavior. [Parents]
Greenwood, Chelsea. 2018. Firstborn children are more likely to be CEOs, and other things your birth order can predict about your future. [Businessinsider]

Penulis FH Widya
Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."