loading...

Sunday, April 28, 2019

Bagaimana Seseorang Dapat Merasakan Jatuh Cinta

Jatuh cinta itu rumit. Kalimat ini saya mulai sebab hampir tidak ada rumusan pasti yang dapat menjelaskan cinta, apalagi soal jatuh cinta. Bisa dikatakan, segala hal tentang cinta adalah berupa simbol-simbol abstrak terpisah yang dapat dirangkai oleh siapapun untuk menjadi “persamaan”nya sendiri. Bahkan, bila merujuk pada seorang ahli yang mendeskripsikan cinta pun sejatinya itu muncul menurut sudut pandangnya sendiri, bisa jadi berbeda betul dengan apa yang kita alami. Sebab, cinta bukanlah suatu koefisien yang dapat disepakati. Di lain sisi, menjabarkan rasa cinta yang abstrak ini justru akan membuka banyak sudut pandang lain yang akan mengayakan khazanah pemikiran kita.

Jatuh CInta
Gambar: Jatuh Cinta [Pixabay]


Sebagaimana diketahui, rasa jatuh cinta agaknya hanya bisa dijelaskan oleh manusia. Bisa jadi, istilah jatuh cinta hanya dapat dimengerti oleh manusia sebagai bahasa alami non-verbal yang begitu universal. Agaknya, semua makhluk terlihat memberi dan merasakan cintapun sebab manusialah yang memberikan persepsi terhadapnya. Seperti contohnya, induk kucing menyusui dan menjilati anaknya, kita anggap itu sebagai perilaku mencintai. Semestinya, kucing tidak mengerti apa itu definisi cinta sebab perbuatan itu hanyalah dorongan naluri berupa afeksi. Dan, bilapun benar bahwa itu memang salah satu dorongan untuk mencintai, maka perbedaannya adalah makhluk lain tidak pernah menyatakan cinta seperti yang dilakukan oleh manusia. Mereka mencintai hanya dengan melakukan, tidak dengan menyatakan secara verbal. Kadang, kita sendiri merasa bahwa orang lain yang kita kasihi itu belum sepenuhnya cinta pada kita bila Ia belum menyatakannya, bukan?

Sebenarnya, perasaan cinta pada diri kita bila dijelaskan dari sisi sains tentu tidak jauh berbeda dengan doronga naluri makhluk hidup lain meskipun tentu saja manusia akan memiliki sisi yang paling kompleks. Menurut Helen Fischer, seorang antropolog biologis, dilansir dari Elsevier mengungkapkan bahwa rasa cinta merupakan sebuah adiksi yang menyenangkan sekaligus penting bagi umat manusia. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan pemindaian otak menggunakan teknologi fMRI (functional magnetic resonance imaging) diketahui bahwa perasaan cinta mengaktifkan bagian otak yaitu nucleus accumbens dan ventral tegmental area (VTA) yang secara langsung bertanggung jawab atas distribusi dopamine yang menyebabkan meningkatkan energi, motivasi, dan kelekatan terhadap orang yang dicintai, mirip seperti terkena perilaku adiksi.

Menurut Fischer, perasaan romantis dari mencintai dapat mempengaruhi kebiasaan individual kita. Bahkan, diketahui dari hasil pemindaian otak akan muncul reaksi berbeda bila kita memaknai cinta seperti pada situasi sedang jatuh cinta atau justru ketika cintanya ditolak. Senada dengan itu, mengalami cinta yang romantis adalah sebuah mekanisme untuk manusia dapat mengenali dan memahami bagaimana caranya mendapatkan pasangan yang dapat dicintainya seumur hidup. Hal itu berkaitan dengan naluri bertahan hidup manusia sejak zaman dulu untuk bertahan hidup dan memberi pengaruh pada orang lain, khususnya pasangan yang ia cintai.

Menariknya, dalam penelitiannya Fischer mengaitkan aspek biologis secara hormonal dengan aspek psikologis secara sikap dan kepribadian seseorang dalam mencintai. Menurutnya ada empat sikap yang sangat terkait dengan empat hormon yang dominan dalam merespon perasaan cinta, yaitu dopamine, serotonin, testosteron, dan estrogen. Empat kutub tersebut dapat dijabarkan :

  1. Seseorang yang dominan dengan hormon dopamine yang berkaitan dengan sikap pengambilan resiko, pencari sensasi dan rasa penasaran, serta berenergi tinggi dapat disebut sebagai kepribadian “penjelajah” ;
     
  2. Seseorang yang dominan dengan hormon serotonin yang berkaitan dengan sikap konformitas akan norma sosial, tidak ingin bersinggungan, mengikuti aturan, serta menghargai keharmonisan dapat disebut dengan kepribadian “pembangun” ;
     
  3. Seseorang yang dominan dengan hormon testosterone yang berkaitan dengan sikap analitis, logis, langsung, keras kepala, serta skeptic dapat disebut dengan kepribadian “pemimpin”
     
  4. Seseorang yang dominan dengan hormon estrogen yang berkaitan dengan sikap empati, sangat baik dalam pergaulan, serta intuitif dan dipercaya dapat disebut dengan kepribadian “perunding”.

Dari sisi holistiknya, tentu itu tidaklah cukup untuk menjelaskan dimensi arti jatuh cinta yang sesungguhnya. Berangkat dari sisi sains, dorongan mencintai disebabkan oleh hormon dan reaksi otak tentu saja tidak serta-merta membedakan manusia dengan hewan sekalipun. Dibutuhkan pendekatan secara psikologis, sosial, bahkan budaya untuk memahami kenapa manusia bisa merasa jatuh cinta. Mengutip tulisan Noam Shpancer yang dilansir dari Psychology Today, ternyata yang mempengaruhi kita dalam mencari pasangan hidup adalah peran dalam kehidupan sosial.

Menurut Shpancer, beberapa hal yang disumbangkan oleh berkembangnya lingkungan sosial yang memengaruhi perasaan cinta, diantaranya adalah kepribadian dan karakter. Untuk lebih mudah merasakan jatuh  cinta, karakter yang paling berpotensi memberikan ketertarikan pada lawan jenisnya adalah karakter yang cerdas dan mampu bergaul, serta memiliki ambiensi hangat dan ceria. Ada juga asas similaritas, dimana kita cenderung mudah mencintai orang yang berkarakter mirip dengan kita. Hal itu disebabkan karena kita dapat lebih mudah berkomunikasi, mengerti, memahami, sekaligus memercayai orang yang kita ingin cintai.

Semakin lama, lapis-lapis sosial itu semakin kompleks dan memengaruhi kita, seperti contohnya tentang pandangan fisik (tentang warna kulit dan ras tertentu), kemapanan, tingkat pendidikan, kedudukan sosial di masyarakat, hingga pilihan agama. Bisa jadi juga ada pengaruh budaya lainnya yang sifatnya sangat khusus dan lokal, yang hanya bisa dipahami oleh budaya masyarakat tertentu. Itulah kenapa, soal cinta-mencintai yang semestinya universal malah cenderung rumit bila dikaitkan dengan kultur dan budaya yang mengikutinya. Terlebih, ditambah soal mitos-mitos pelarangan misalnya seperti suku ini tidak boleh berpasangan dengan suku itu, begitupun soal suku tertentu dianggap lebih baik dari suku lainnya.

Meski begitu, berbagai macam rumusan maupun teori tentang cinta-mencintai tidak menjadikan itu sebagai aturan baku. Manusia dikaruniai akal pikir untuk memahami dari mana perasaan cintanya itu ditinjau dari sisi saintifik maupun sosial, namun mestinya menjadikan hal tersebut sebagai asumsi yang dapat membantu. Setelahnya, yang menentukannya tentu saja pilihan dan cara kita sendiri dalam memaknai rasa cinta, juga menjatuh-cintakan diri pada sosok yang menurut kita ialah yang paling baik dan cocok terlepas dari berbagai paradigma sosial yang ada.

Agaknya ada satu benang merah yang bisa dilihat dari rumitnya perasaan cinta, yaitu kita bisa memilih dan memaknai cinta itu dengan kesadaran yang kita miiliki secara penuh sebagai seorang manusia. Selamat jatuh cinta!

“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”

- Sudjiwo Tedjo

Rekomendasi:

Referensi :
Levine, David. 2014. Anthropologist and love expert Helen Fisher on the mysteries of love. [Elsevier]
Shpancer, Noam. 2014. Laws of Attraction: How Do We Select a Life Partner? [Psychologytoday]



Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."