loading...

Saturday, May 18, 2019

Menyesuaikan Diri Terhadap Perubahan

Layaknya sebuah surat yang ditujukan untukmu, saya menuliskan ini untuk diri saya sendiri. Lihat kan, di sekeliling kita banyak sekali perubahan. Boleh jadi, dalam lima tahun terakhir ini banyak sekali perubahan signifikan, seperti contohnya di jalanan hari ini banyak sekali berkeliaran armada ojek online berjaket hijau yang sibuk mengantar penumpang dan mengantar makanan. Perhatikan, lima tahun kebelakang mungkin kita hanya terheran-heran akan fenomena ini lalu mulai biasa beradaptasi dengan itu semua. Segalanya jadi lebih cepat dan mudah, meski di lain sisi kita tidak tahu kalau banyak pula sistem transportasi lain yang terlupakan bahkan tergantikan.

Gedung
Gambar. Gedung [Pixabay]


Itu hanya contoh kecil, diantaranya masih banyak perubahan lain yang sangat mengubah kita. Bisa jadi, tidak sepenuhnya mengubah secara keseluruhan, tetapi pasti ada setiap pembaruan yang terjadi. Sebagai orang yang menatap setiap pembaruan itu, kita selalu bisa beradaptasi dengan baik karena memang begitulah sifat evolutif yang ditawarkan di tiap generasi. Mau tidak mau, orang-orang tua kita pun sekarang mulai belajar mengoperasikan handphone untuk sekadar memesan ojek online yang lebih praktis dibandingkan harus tetap naik transportasi umum yang belum memadai.

Sekarang begini, pernahkah kamu mendengar sebuah pepatah yang mengatakan “orang biasa terbingung-bingung melihat perubahan, sedangkan orang sukses berhasil membuat perubahan” ? Kurang lebih, begitulah kiranya keadaan kita saat ini. Kalau mau berpikir lebih dalam, mungkin kita yang sudah bersekolah tinggi sebenarnya tahu bahwa perubahan besar-besaran akan terjadi lewat prediksi dan fenomena yang membawa ke arah tersebut. Akan tetapi, apakah kita termasuk ke dalam kumpulan orang yang membuat perubahan? Belum tentu, kalau tidak dikatakan hanya sebagai orang yang bisa beradaptasi saja. Kita tentu mesti bertanya, apa sesuatu yang sudah kita perbuat yang akan menuju pada perubahan itu?

Rhenald Kasali, dalam bukunya yang berjudul Disruption, mengatakan bahwa fenomena perubahan yang banyak terjadi di luar sana mestinya memberikan stimulus agar kita dapat melakukan setidaknya tiga langkah besar yang dapat membuat kita ikut membuat perubahan. Apakah kamu mulai tertarik? Mari kita bahas.

Langkah Perubahan Pertama


Yaitu kemampuan membaca sinyal perubahan (signal of change). Hampir setiap perubahan pasti memberi sinyal sebelum terjadi. Ibaratnya pada setiap bencana alam yang akan terjadi, pasti ada tanda-tanda alam yang mengawalinya seperti perubahan cuaca, temperatur, hingga berpindahnya hewan-hewan menuju ke pemukiman penduduk. Dari sana, tentu kita memahami bahwa selalu ada tanda awal yang tidak sepenuhnya dipahami orang lain dan menganggapnya sebagai pengabaian atau justru sebagai musuh yang mengganggu.

Beberapa orang yang memiliki visi ke depan dianggap sebagai orang yang ‘bercanda’ dan berbicara sesuatu yang tidak relevan. Meski bisa jadi benar bahwa sekarang realitasnya belum sempurna terjadi, tapi gejalanya sudah bisa ditangkap bahkan secara tak sadar sedang dijalani. Contohnya adalah gejala industrialisasi E-Sports yang masih dianggap bukan lahan yang menarik untuk dibahas sebagai rencana strategis bangsa dalam debat pemilihan calon presiden beberapa saat lalu. Setelah dikaji, industri penunjang E-Sports seperti industri teknologi informasi dan industri kreatif juga berada di jalur perkembangan yang pesat sehingga saling berkolaborasi menciptakan ‘economy pie’ yang potensinya sangat besar. Bukankah kita menyangka bahwa dulu main game hanya sekadar memuaskan keinginan, sekarang bahkan bisa jadi lahan bisnis yang besar bahkan diperlombakan di ajang olahraga resmi?

Langkah Perubahan Kedua


Yaitu bersiap untuk pertempuran kompetitif (competitive battles). Konteksnya disini tentu saja bertempur dalam segala mekanisme ekonomi yang digunakan, apakah itu berpemahaman ekonomi bebas, ekonomi berbagi, atau justru ekonomi defensif yang menutup diri dari perubahan. Begitupun senjata pertempuran itu sangat bervariasi, dimulai dari eksplorasi SDA, hingga pengembangan SDM, teknologi, dan pemasaran. Yang memahami ini semua tentu saja yang ‘sedang berperang’ yaitu seperti pemilik usaha kecil, perusahaan, hingga konglomerasi baik di tingkat lokal maupun internasional. Semakin kompetitif sebuah persaingan usaha, semakin banyak alternatif kualitas yang dapat dipilih oleh konsumen namun sekaligus dapat mematikan nadi bisnis para pesaing yang tak siap.

Inilah yang disebut oleh Rhenald Kasali sebagai fenomena disruptif, yaitu segala yang tergerus oleh perkembangan sekaligus kompetisi yang memaksa pelakunya untuk terus memikirkan pembaruan demi terjaganya stabilitas bisnis yang dimiliki. Ketika tahun 2000-an awal, kita sebagai pengguna internet sangat awam dengan mesin pencari Yahoo namun tak lama setelahnya tumbang oleh Google hingga saat ini. Dulu mungkin kita kenal dengan aplikasi Vimeo atau Snapchat, lalu setelahnya tumbang karena fiturnya diperbarui dengan sangat baik di Instagram. Begitupun televisi sebagai media mainstream yang menayangkan acara musik seperti MTV sekarang bangkrut dan tergerus oleh layanan musik streaming seperti Spotify. Apakah kita sebagai penggunanya merasakan juga perubahan yang sangat cepat itu? Meski banyak dicontohkan banyak sekali lini bisnis yang tumbang, akan selalu ada yang bisa bertahan, contohnya seperti Kompas-Gramedia yang kehilangan oplah koran dan majalah cetak namun menggantinya dengan media berita online dan bisnis surveyor yaitu Litbang Kompas.

Langkah Perubahan Ketiga


Adalah pemilihan rencana strategis (strategic choices). Pada akhirnya, untuk mempertahankan stabilitas bisnis yang ada tentu perusahaan harus mengambil langkah mempertajam (reshape) atau membuat hal baru (create). Masih ingat kan, ketika Facebook yang menukik tajam pamornya lalu melakukan langkah pintar dengan mengakuisisi Instagram dan Whatsapp? Atau yang belum lama ini terjadi di armada ojek online Uber yang diakuisisi oleh Grab? Begitulah, beberapa langkah seperti akuisisi dan joint-venture menjadi langkah perusahaan untuk berubah sekaligus berakselerasi lebih cepat.

Kalaulah memiliki ide yang orisinal sekaligus potensial, maka langkah create tentu bisa diambil seperti contohnya seperti Kitabisa.com yang benar-benar mengadopsi fenomena crowfunding di luar negeri menjadi media yang sekarang terkenal sebagai media crowfunding sekaligus untuk menyumbang dan berbagi dengan pendekatan kultur dan budaya Indonesia. Tentu saja, langkah strategis untuk membuat hal baru ini akan membutuhkan modal yang besar sekaligus kesiapan SDM yang mumpuni. Salah satu kunci menaklukkannya yaitu kolaborasi. ‘If you can’t beat them, join them’ begitulah kira-kira ungkapan untuk berkolaborasi demi menciptakan sesuatu yang benar-benar baru dalam persaingan bisnis.

Nah, sekalipun kita sekarang masih menjadi orang yang ‘bingung’ akan banyaknya perubahan sekaligus menjadi yang selalu mencoba beradaptasi, tentu saja suatu saat kita akan menjadi orang yang ikut dalam kompetisi ini, entah sebagai pekerja atau pemilik bisnis. Bisa jadi, kita juga akan menjadi orang yang tergantikan apabila kualitas diri sebagai SDM tidak diperbarui dan ditingkatkan. Boleh jadi, beberapa fenomena masa depan sudah memberi tanda-tanda. Pertanyaan lanjutan tentu akan sampai pada kita semua, siapkah kita untuk selalu memperbarui diri?


“Milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi. Entah bagaimana mereka tahu apa yang kamu benar-benar kamu inginkan.
-Steve Jobs

Rekomendasi:

Referensi :
Kasali, Rhenald. 2017. Disruption. Penerbit Kompas Gramedia : Jakarta.


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."