loading...

Saturday, May 25, 2019

Sedih dan Ingin Menangis? Kesedihan Jangan Ditahan!

Setiap orang di dunia ini ingin bahagia, termasuk kamu, kan? Mustahil ada orang yang ingin hal-hal menyedihkan terjadi dalam hidupnya. Tapi nyatanya, kehidupan memang tak selalu membahagiakan, ada saat-saat dimana kamu menghadapi permasalahan hidup yang membuatmu merasa sedih bahkan seringkali sampai menangis. Karena tak ingin diketahui orang lain, mungkin kita sering menahan kesedihan, menahan air mata agar tak jatuh di hadapan orang lain, takut dianggap lemah dan cengeng. Tak jarang kita juga tidak jujur pada diri sendiri, menyangkal perasaan sedih yang kita alami. Merasa malu pada diri sendiri jika menangisi kejadian-kejadian menyedihkan. Hmm.... Apakah menahan kesedihan adalah hal yang baik?

Kesedihan
Gambar. Kesedihan [pixabay]

Menurut penelitian yang dilakukan oleh David Barlow dan Steven Hayes, salah satu penyebab utama dari banyaknya masalah psikologis adalah kebiasaan menahan emosi, salah satunya emosi kesedihan. Kok bisa? Dirangkum dari laman Psych Central, berikut Fenomena Harimu jelaskan mengapa emosi kesedihan tidak boleh ditahan:

#1 Menahan kesedihan berarti menahan bahagia


Menahan kesedihan berarti memaksakan diri selalu merasa baik-baik saja disaat mengalami hal yang menyedihkan. Padahal, kesedihanmu tidak hilang begitu saja hanya karena kamu tidak mengakuinya, loh. Justru, saat kamu menahan perasaan sedih, kemampuan kamu untuk merasakan bahagia juga jadi berkurang. Ketika kamu menemui hal yang menyenangkan, kamu jadi tidak secara secara reflek merasa bahagia. Perasaan bahagiamu jadi tertahan karena kamu sebelumnya mencoba menahan perasaan sedih.

#2 Menahan kesedihan membuat masalah lain muncul


Ketika kamu merasa bisa menangani kesedihan dengan cara menahannya, mungkin kamu akan merasa kuat untuk sementara waktu. Namun, suatu saat perasaan sedih itu akan mencari cara agar terluapkan dari dirimu, ibaratnya ia mencari jalan agar bisa keluar dari dalam dirimu secara paksa, dan mungkin jadi kamu tidak dapat mengatasinya. Perasaan sedih yang tidak selesai akan membuat kamu justru bereaksi berlebihan atas hal-hal yang seharusnya mudah kamu atasi. Misalnya, kamu jadi gampang marah karena hal-hal sepele, lalu sedih dan menangis tanpa sebab.

#3 Menahan kesedihan membuat hal buruk berkembang dan berbahaya


Alih-alih berharap kesedihan akan hilang, hal itu justru berbahaya. Menahan kesedihan memberimu keuntungan jangka pendek yang dibayar dengan rasa sakit jangka panjang. Ketika kamu menghindari emosi kesedihan, kamu layaknya orang yang sedang stres lalu memutuskan untuk meminum minuman keras. Mungkin minuman itu bekerja, tapi esoknya ketika kesedihanmu datang lagi, kamu minum lagi, begitu seterusnya. Bagi pecandu alkohol dan pecandu narkoba, mengindari perasaan menyedihkan atau menyakitkan adalah kebiasaan yang tidak aneh, mereka mencari zat yang dapat menghilangkan rasa sakit mereka secara instan. Pada akhirnya, zat tersebut merusak diri mereka sendiri. Tidak hanya merusak kondisi psikologis, tapi juga psikis mereka. Menahan perasaan menyakitkan akan menimbulkan yang lebih menyakitkan dari perasaan itu sendiri.

4# Menahan kesedihan membuatmu kehilangan hidup


Ya, mengenai emosi, perlu kamu pahami bahwa emosi adalah bagian alami dari pengalaman hidup manusia. Ketika kamu menghindari emosi salah satunya kesedihan, kamu kehilangan sebagian dari apa yang membuat kamu utuh sebagai manusia. Kamu juga seperti membangun tembok di sekeliling, menghalangi kamu berhubungan nyata dengan orang lain. Tiak peduli seberapa banyak dan pedulinya orang-orang disekelilingmu, lama-lama kamu akan cenderung merasa terisolasi dan selalu kesepian.

Ekspresi Kesedihan Mengarah Pada Kekuatan


Entah bagaimana, dalam budaya kita, mengalami kesedihan sering disamakan dengan menjadi lemah tidak tak produktif, seolah-seolah ketika kita merasa sedih selama satu menit itu adalah berbahaya. Mungkin banyak juga dari kita yang berpikir ada yang salah dengan diri kita ketika sedih, kita jadi cemas, merasa konyol karena merasa sedih karena suatu hal yang kecil. Pada akhirnya kita berupaya menyingkirkan kesedihan itu secara paksa, tidak merasa perlu untuk bercerita pada siapa pun.

Sayangnya, memendam kesedihan seorang diri justru akan membuat kesedihan kita itu ‘tumbuh’ dan berubah menjadi depresi. Padahal, Ketika kita mulai merasa nyaman dengan kesedihan kita yang kecil, itu membuat kita akan dapat menangani kesedihan-kesedihan lain yang lebih besar. Jika kita berani mengakui kesedihan kita dengan bercerita kepada orang yang tepat, kesedihan yang kita rasakan akan berkurang meskipun mereka hanya sekadar mendengarkan. Berani jujur pada diri sendiri dan orang lain akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah.

Jadi, mengatasi kesedihan agar tidak berkepanjangan bukan berarti menahannya, ya! Jika kamu sedang sedih, nikmatilah sesaat rasa sedih itu, biarkan ia terluapkan dari dalam dirimu. Jika kamu membutuhkan telinga orang lain untuk didengar, berbagilah kepada seseorang yang kamu percaya.

Cry. Forgive. Learn. Move on. Let your tears water the seeds of your future happiness.

― Steve Maraboli

(Menangis. Memaafkan. Belajar. Berpindah. Biarkan air matamu menyirami benih kebahagiaan masa depanmu.)

Jika dirasa perlu menangis maka menangislah! Biarkan air matamu jatuh membawa pergi kesedihan dari dalam dirimu.

Rekomendasi:

Referensi :
Russell, Candyce Ossefort. 2018. Are You Sad? Express It: You’ll Feel Better (And More Alive). [Medium]
Smith, Kurt. 2019. Why you should express your sadness. [Psychcentral]


Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."