loading...

Monday, June 3, 2019

Cara Terbaik Menyikapi [Bukan Mengatasi] Gangguan Panik

Hampir setiap orang pasti pernah merasakan kepanikan. Dalam proses biologis, tubuh manusia sebenarnya secara normal memberikan respon atas segala pengaruh baik itu dari dalam maupun luar tubuhnya. Mengacu pada proses evolusi, kepanikan juga merupakan salah satu dampak dari bentuk pertahanan diri secara psikologis. Hanya saja, sebagian orang terlahir dengan takaran rasa panik yang lebih besar daripada orang lain, bahkan secara saintifik bisa dibuktikan.

Pada masalah tertentu, bagi orang biasa kebanyakan mungkin dapat dihadapi dengan tidak terlalu panik, tetapi bagi sebagian orang yang paniknya berlebihan bahkan gejala itu bisa dianggap keterlaluan hingga dapat terasa ‘menyerang’ lewat fisik maupun psikisnya. Apakah salah satu dari sebagian orang itu adalah kamu? Kalau memang betul bahwa dari sebagian orang itu salah satunya adalah kamu, jangan berkecil hati.

Kamu hanya perlu tahu bagaimana cara menyikapi panikmu. Tetapi, pertanyaan selanjutnya yang muncul tentu saja “bagaimana cara menyikapi paniknya, sementara sebelum masalah itu diselesaikan malah diambil alih duluan oleh serangan rasa panik?” Kalau begitu, langkah terdekat agar kamu dapat mengenalinya adalah dengan mengetahu apa saja gejalanya, kapan ia biasanya muncul, dan bagaimana cara menyikapinya. Mari kita mulai.

Panik
Gambar. Panik [Pixabay]

Menurut kajian psikolog, serangan rasa panik itu dialami oleh setidaknya satu diantara lima orang di dunia ini dalam hidupnya. Yang terdata, kasus serangan panik itu sudah menimpa lebih dari 65 juta orang di Amerika Serikat saja, belum ditambah dari negara lain. Pada umumnya, gejala serangan panik itu adalah semacam turunan dari rasa takut yang persepsional, dan terlihat dari gejala fisik seperti naiknya jumlah detak jantung, berkeringat, gemetaran, suhu badan panas dingin, pusing, bahkan bisa lebih dari itu. Meski itu adalah bagian gejala umum dari banyak penyakit, ternyata serangan panik bukan dikategorikan sebagai penyakit. Ia hanyalah salah satu bagian yang memancing reaksi fisik akibat mekanisme psikis yang belum terkontrol dengan baik.

Kalau kita bertanya, kapan rasa panik itu muncul? Tentu saja, ada dua kondisi yakni diketahui (expected) dan tidak diketahui (unexpected). Kondisi panik yang diketahui biasanya merujuk pada pengalaman sebelumnya bahwa bila melakukan suatu hal maka dapat menyebabkan panik, misalnya ketika kita ditinggal sendirian di tengah keramaian konser, diminta untuk maju mempresentasikan laporan di depan kelas, atau ketika mengetahui deadline suatu pekerjaan sudah hampir mepet.

Lain lagi dengan kondisi panik yang muncul oleh sebab yang tidak diketahui, biasanya ini yang sangat aneh dan sulit dijelaskan karena dalam kondisi tertentu tetiba merasa panik, entah karena merasa adanya ‘keterbatasan, atau ketidakmampuan’ ketika mengerjakan sesuatu. Nah, kedua kondisi ini biasanya mengakibatkan ekses fisik yang sudah dijelaskan sebelumnya sehingga membuat gejala panik itu justru terasa lebih menyerang diri dibandingkan permasalahan yang muncul itu sendiri.

Menurut psikolog, ada dua respon yang biasanya selalu kita ambil ketika berhadapan dengan rasa panik yaitu dengan cara lawan-atau-lari (fight-or-flight). Ketika kita memilih untuk ‘melawan’ panik, akan sangat terasa membebani psikis dan justru dapat mengakibatkan ekses fisik yang membahayakan. Sementara, bila kita memilih ‘melarikan diri’ dari panik, justru rasa panik itu akan membesar layaknya bola salju yang menggelinding dari ketinggian puncak. Dua cara ternyata itu bukanlah cara yang terbaik untuk menghadapi panik. Lantas apa?

Ternyata cara terbaik adalah dengan ‘menyikapi’ panik itu sendiri. Bagian dari ‘menyikapi’ disini adalah membiasakan diri untuk mengontrol persepsi buruk akan sesuatu yang diperkirakan yang akan terjadi -padahal belum tentu terjadi, sehingga akhirnya dapat mengontrol pula ekses fisik yang dapat memperburuk situasi. Mari jawab dengan jujur, apakah kamu selama ini merasa panik karena memang permasalahan yang dihadapi itu sulit diatasi, atau karena reaksi panik itu sendiri yang membuatnya menjadi terasa lebih buruk? Bisa jadi muncul dari keduanya, tetapi yang seringkali memperburuk situasi adalah ketakutan kita akan rasa panik, bukan karena respon normal kita akan suatu masalah.

Coba pikirkan, anggap saja diri kamu itu sebagai sebuah radar. Sebagai mekanisme pertahanan, radarmu itu selalu menyala dan memberitahu hal apa saja yang menjadi ancaman. Bila radarmu itu melakukan seluruh pemindaian pada segala hal yang mengancam dan tidak mengancam, bukankah itu akan cepat membuat radarmu menjadi rusak? Begitulah keadaan tubuhmu ketika dalam situasi ‘melawan’ (fight) tadi. Tetapi akan berbahaya pula jika kamu tidak menyalakan radarmu, maka kemungkinan adanya hal mengancam akan semakin besar, pun begitulah jika keadaan tubuhmu dalam situasi ‘melarikan diri’ (flight).

Hal terbaik adalah mengalibrasi ulang radarmu, dengan mengetahui dan memplot variabel yang mengancam dan mengabaikan variabel bukan ancaman. Dengan begitu, radarmu akan berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya, itulah ketika tubuhmu dalam situasi ‘menyikapi’ rasa panik yang datang tersebut. 

Perbuatan ‘menyikapi’ rasa panik juga bisa dilakukan dengan afirmasi positif. Ketika kamu sudah tahu bahwa gejala panik mulai menyelimuti pikiran hingga tubuhmu, tekankan pada pikiran bahwa itu adalah reaksi normal dan bisa dikendalikan, terutama bila rasa panik itu muncul berdasarkan pengalaman sebelumnya yang sama persis. Pada dasarnya, kebanyakan yang kita takutkan itu tidak terjadi -sebab kalaupun terjadi, itu sejatinya dimulai dari pikiran kita yang menganggap itu berpotensi terjadi. 

Selain itu, untuk meminimalisasi gejala panik yang membesar, kamu juga bisa mengambil latihan kontrol diri. Ini akan bekerja untuk pekerjaan yang sifatnya expected, seperti contoh mempresentasikan laporan di depan kelas tadi. Cara paling mudahnya, ya latihan berbicara di hadapan orang secara terus-menerus. Lama kelamaan, perasaan nervous yang berujung anxiety tadi bisa berkurang bahkan hilang.

Satu hal lagi yang penting untuk mengurangi pengaruh gejala panik yang besar itu adalah dengan mengadopsi gaya hidup sehat. Untuk kategori gejala panik yang sudah berskala menengah, ada baiknya untuk terus berolahraga dan mengonsumsi panganan yang sehat. Misalnya, mulailah tekuni yoga untuk mengontrol nafas serta detak jantung sehingga efek rasa panik yang mengakibatkan sesak nafas akan sangat turun drastis. Apabila badanmu sehat, bukan tidak mungkin bahwa gejala panik yang mempengaruhi tubuh dapat berkurang secara signifikan. Adapun bila gejala panik tersebut sudah lama dan menahun, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental.

Bagaimanapun, lebih baik mencegah daripada mengobati. Tahukah, hampir sebagian besar dari banyak penyakit dan gangguan pada tubuh berasal dari otak (pikiran, persepsi) dan perut (metabolisme). Oleh karena itu, penting untuk kita ‘menyikapi’ gejala panik lewat pikiran kita sendiri, serta berpola hidup sehat agar segalanya dapat terkendali dengan baik.

Quotes :
“Menghadapi gejala yang tidak normal dengan reaksi ketidaknormalan, adalah sesuatu yang normal”
-Viktor E Frankl, Psikolog

Rekomendasi:

Referensi :
Barlow, D. H. (2002). Anxiety and its disorders: The nature and treatment of anxiety and panic (2nd ed.). New York, NY: Guilford Press
Emamzadeh, Arash. 2018. Managing Panic Attacks: The Technique of Riding the Wave. [psychologytoday]


Penulis FH Widya Penulis konten: Fikri
"Otak bukanlah pengingat yang baik. Karenanya, menulislah."