loading...

Monday, June 3, 2019

Jodoh, Ditunggu Atau Dikejar?

Tidak terasa, Hari Raya Idul Fitri 1440 H tinggal menghitung hari. Berbagai tradisi seperti mudik, memakai baju baru, makan ketupat hingga bagi-bagi THR menjadi khas tersendiri saat lebaran. Sampai-sampai, pertanyaan ‘kapan menikah’ juga seolah menjadi tradisi karena sering sekali terlontar khususnya pada momen berkumpul di hari lebaran. Mereka yang masih lajang, baik laki-laki maupun perempuan mungkin merasa kikuk juga mendapat pertanyaan semacam itu, datang dari orang tua, keluarga besar, teman-teman yang sudah lama tak berjumpa hingga tetangga rumah. Bagi kamu yang lajang, sudah siapkah menanggapi pertanyaan semacam itu?

Jodoh
Gambar. Jodoh [Pixabay]

“Santai saja, toh jodoh kan sudah diatur oleh Tuhan,” Hmm... alih-alih berkata bahwa Tuhan telah mengatur segalanya termasuk jodohmu, apakah datangnya jodoh cukup ditunggu saja?

Menunggu Jodoh Bukan Berarti Berdiam Diri


Jodoh memang telah diatur oleh Tuhan. Mungkin kamu pernah mendengar bahwa jodoh akan datang diwaktu yang tepat, kadang kedatangannya dengan cara unik yang tak disangka-sangka oleh manusia. Namun, bukan berarti kita hanya menunggu kedatangannya dengan berdiam diri. Logikanya, kalau ada seseorang yang malas-malasan, menunggu dengan berdiam diri saja dirumah berharap jodoh akan mengetuk pintu rumah dengan sendirinya, apakah mungkin? Mungkin saja jika memang orang tuanya berinisiatif menjodohkan anaknya. Namun tak semua orang tua punya melakukannya. Segalanya memang telah diatur oleh Tuhan, namun sebagai manusia kita tetap wajib berupaya semaksimal mungkin.

Terlalu Mengejar Jodoh Membuatmu Tidak Objektif


Kalau menunggu bukanlah solusi, apakah sebaiknya kita mengejar jodoh? Hmm... sebagai makhluk sosial pada dasarnya kodrat manusia memang membutuhkan orang lain, salah satunya yaitu kebutuhan untuk membersamai dan dibersamai oleh pasangan hidup. Menurut penulis, kebutuhan tersebut sebenarnya tidak serta merta membuat seseorang tergesa-gesa ingin bertemu jodohnya, namun di era digital sekarang ini, kita mudah sekali terprovokasi oleh postingan-postingan di media sosial seperti foto-foto penikahan dan seruan tentang jodoh. Akibatnya kita jadi merasa seperti dikejar-kejar ‘deadline’ untuk segera mengakhiri masa-masa sendiri.

Dikutip dari laman Life Hack, mengejar jodoh bisa mengurangi kemampuanmu dalam bersikap objektif tentang orang yang kamu temui. Jika objektifitas berkurang, kamu jadi tidak bisa membedakan siapa orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupmu. Karena kamu terlalu ‘ngoyo’ mencari jodoh, kamu jadi terlalu mudah berasumsi bahwa kalau ada seseorang yang bersikap baik dan mengistimewakanmu adalah jodohmu.

Asumsi itu muncul bukan karena kamu merasa benar-benar serasi dengannya, tapi karena kamu memang mendambakan sosok jodoh, siapa pun yang datang ya kamu anggap berjodoh denganmu. Maka lahirlah istilah bahwa ‘cinta itu buta’, karena mengejar jodoh dapat membuat kita tidak bisa menilai secara sehat tentang orang lain. Keburukan perangai dianggap wajar, Segala perbedaan dimaklumi. Sehingga tak jarang berujung pada ketidakharmonisan hubungan dalam jangka waktu yang lama. Semakin besar harapan kepada orang yang kita inginkan sebagai jodoh, semakin besar risiko kekecewaan yang akan dihadapi ketika kamu merasa tak semuanya sesuai harapan.

Bukan Menunggu, Bukan Juga Mengejar


Seringkali, jodoh justru datang ketika seseorang tidak menunggu juga tidak mengejar. Saat kamu tidak mencari seseorang untuk dicintai, saat itulah seseorang cenderung hadir. Kok bisa? Ketika kamu fokus untuk memantaskan diri, tidak hanya membuat kamu menjadi seseorang yang lebih baik, namun juga membuat kamu menjadi sosok idaman sebagai pasangan hidup. Dalam dirimu jadi terpancar kepercayaan diri yang dapat menarik hati seseorang. Dua manusia yang jatuh cinta karena takdir lebih mengesankan daripada karena mencari-cari pasangan hidup.

Bersabar dalam memantaskan diri adalah kunci untuk menemukan orang yang tepat. Karena sekali lagi, mengejar jodoh membuat kamu rentan jatuh cinta pada orang yang salah. Biarkan segalanya berjalan secara natural, nikmati saja masa-masa sendirimu dengan bahagia. Diri kamu yang santai, percaya diri dan selalu terlihat positif akan menarik perhatian lawan jenis.

Selesaikan Urusan Dengan Dirimu Sendiri


Ada yang lebih penting daripada sekedar memikirkan apakah jodoh harus ditunggu atau dikejar, yaitu menyesaikan urusan dengan diri sendiri.

“Untuk setiap orang yang merencanakan hidup bersama dengan orang lain, selesaikanlah urusanmu terhadap dirimu sendiri terlebih dahulu.”

– Kurniawan Gunadi


Menyelesaikan urusan dengan diri sendiri paling tidak berarti kita telah selesai dengan tiga hal berikut,

Pertama, selesai dengan masa lalu. Artinya kamu sudah berhasil mengikhlaskan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Termasuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kamu tidak lagi punya dendam dan luka yang masih mengaga karena kejadian menyakitkan yang pernah dialami di masa lalu. Kamu fokus ke masa depanmu, fokus pada bagaimana agar hidupmu kedepannya jauh lebih bahagia, lebih bermakna.

Kedua, selesai dengan impian pribadi. Selesai dengan impian bukan berarti kamu tak boleh lagi punya impian. Ketika sudah mempunyai pasangan, kamu bukan lagi mementingkan dirimu sendiri. Ingin travelling sendirian ke luar kota dan keluar negeri, ingin fokus menyelesaikan pendidikan, mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan skill, melatih kepekaan sosial dengan menjadi volunteer, membeli sesuatu yang telah lama diidamkan dan keinginan lainnya, sebaiknya kamu realisasikan dulu selagi masih sendiri. Karena prioritas hidup kamu akan bergeser setelah kamu memiliki pasangan nanti. Juga, manfaatkanlah masa sendirimu untuk belajar banyak hal, menggali potensi, memaksimalkan kemampuan dengan berprestasi.

Ketiga, selesai dengan ego. Kalau kamu belum bisa mengendalikan emosi, mudah marah, mudah tersinggung atas hal-hal kecil, mudah kecewa dan putus asa pada keadaan, tidak menerima pendapat orang lain,  bisa jadi kamu memang belum selesai dengan dirimu sendiri. Belajarlah untuk bisa mengelola emosimu. Pahamilah dulu dirimu sendiri, karena itu adalah kunci untuk bisa memahami orang lain terutama pasanganmu nanti.

Jadi, sebelum menginginkan jodoh datang, sudahkah kamu memantaskan diri dan selesai dengan dirimu sendiri?

Rekomendasi:

Referensi:
Spain, Kara. ____.  Why You Only Find Love When You Stop Looking For It. [Lifehack]

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."