loading...

Saturday, October 5, 2019

Kenapa Kamu Suka Membicarakan Orang Lain?

Seberapa sering sih kamu membicarakan orang lain? Entah tentang kebaikannya, keburukannya atau apapun yang berhubungan dengan orang tersebut. Saat sedang mengerjakan tugas kelompok bersama teman sekolahmu misalnya. Atau saat kamu sedang reuni dengan teman kuliah yang sudah lama tidak bertemu, juga ketika kamu sedang mengerjakan sebuah proyek bersama rekan kerja. Kenapa ya, membicarakan orang lain seolah tidak pernah luput dari aktivitas sehari-hari? Barangkali, awalnya kalian memang tidak berniat untuk membicarakan orang lain, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan ‘gosip’. Awalnya kalian hanya ingin berdiskusi tentang suatu hal yang penting. Tapi kenapa ya, ada saja seseorang yang menjadi topik pembicaraan dalam diskusi tersebut?

Konferensi
Gambar. Konferensi [pixabay]

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Social Psychology and Personality Science di Universitas California memperkirakan bahwa setiap orang rata-rata menghabiskan 52 menit perhari untuk membicarakan orang lain. Menurutnya, membicarakan orang lain juga tidak selalu hal yang negatif. Wah, wah! Padahal, dalam anggapan umum di masyarakat, membicarakan orang lain adalah hal yang buruk. Cukup bertentangan, bukan?

Alasan psikologis mengapa suka membicarakan orang lain

Berikut beberapa alasan psikologis dibalik membicarakan orang lain,

#1 Membicarakan orang lain adalah naluri
Menurut Mark Leary, PhD seorang profesor psikologi dan ilmu saraf menyatakan bahwa membicarakan orang lain adalah naluri atau kebutuhan dasar manusia untuk hidup secara berkelompok. Ibaratnya, itu adalah cara kita sebagai manusia untuk menjalin ikatan dengan orang lain. Ada dorongan kuat dalam diri manusia untuk mengetahui tentang kehidupan orang lain. Kita perlu menggali informasi tentang orang-orang di sekitar kita. Bahkan, membicarakan orang lain adalah cara untuk bisa bertahan hidup. Misalnya, rekan kerjamu membicarakan tentang atasan kalian yang akan memberhentikan beberapa karyawan termasuk kamu, kamu jadi bisa bersiap-siap untuk mencari sumber penghasilan yang lain.

#2 Membicarakan orang lain sebagai cara berbagi informasi
Membicarakan orang lain tidak selalu identik dengan menyebarkan desas-desus yang jahat. Kamu sedang berbagi informasi ketika membicarakan tentang sepupumu yang akan menikah bulan depan. Kamu sedang berbagi informasi ketika mengabarkan sahabatmu telah pindah rumah pada orang lain yang bertanya. Kamu sedang berbagi informasi ketika memberi tahu tetanggamu bahwa adikmu akan tampil di sebuah pertunjukan seni nanti malam.

#3 Membicarakan orang lain tidak selalu negatif.
Dalam penelitian Social Psychology and Personality Science diatas, dinyatakan bahwa membicarakan orang lain tidak selalu bersifat negatif. Ada tiga kategori dalam membicarakan orang lain,

  • Pertama, 75% manusia membicarakan orang lain dengan netral, artinya ia tidak memihak orang yang sedang dibicarakan ataupun orang yang ia ajak bicara. Sifatnya hanya berbagi informasi saja. Misalnya berbagi kabar tentang kabar terbaru dari teman-teman dalam sebuah lingkaran pertemanan. Tujuannya hanya untuk bertukar informasi, barangkali akan berguna bagi satu sama lain.
     
  • Kedua, 15% manusia membicarakan orang lain dengan negatif. Misalnya membicarakan keburukan orang lain, hal-hal yang akan menyakitkan jika didengar oleh orang yang dibicarakan tersebut. Termasuk membicarakan tentang hal yang tidak benar atau mengada-ada, jatuhnya akan menjadi fitnah. Tujuannya untuk membuat orang yang dibicarakan terkesan buruk dimata  orang lain.
     
  • Ketiga, 10% manusia membicarakan orang lain dengan positif. Biasanya berupa pujian atau sanjungan tentang orang yang dibicarakan. Misalkan membicarakan tentang tokoh yang kita kagumi, tentang teman yang menginspirasi. Tujuannya untuk memotivasi diri sendiri dan orang yang kita ajak bicara.

Kesimpulan tersebut hasil dari menganalisis pembicaraan sehari-hari 467 orang selama periode tertentu secara tersembunyi.

#4 Ekstrover lebih sering membicarakan orang lain
Salah satu hasil penelitian tersebut, bahwa seseorang dengan kepribadian ekstrover cenderung lebih sering membicarakan orang lain daripada seseorang dengan kepribadian introver. Wajar saja mengingat ekstrover senang sekali berbincang dengan orang lain, bahkan itulah caranya memeroleh energinya kembali yakni dengan berbagi cerita dan berdiskusi tentang banyak hal.

#5 Perempuan lebih sering membicarakan orang lain
Saya rasa, kita semua hampir sudah memahami bahwa perempuan lebih banyak berbicara daripada laki-laki. Seperti yang dikutip dari buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps karangan Allan dan Barbara Pease, bahwa untuk berkomunikasi, perempuan perlu menyampaikan 20.000 kata perhari. Wajar jika mereka lebih sering membicarakan orang lain. Baik dengan tujuan tertentu ataupun hanya untuk melepaskan apa yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.

Membicarakan orang lain, mencerminkan kepribadianmu


Kepribadian kita tercermin saat kita membicarakan orang lain? Kok bisa?
Gossip doesn’t only teach us about the person who’s the subject of the conversation, but also about the person doing the talking.
– Mark Leary

Jadi begini, menurut Leary, membicarakan orang lain tidak hanya mengajarkan kepada kita tentang orang yang menjadi topik dalam pembicaraan, tapi juga tentang orang yang kita ajak bicara. Apakah ia adalah seseorang yang bisa kita percaya untuk menjaga rahasia, bagaimana sikapnya ketika membicarakan orang lain, serta kita bisa memahami bagaimana pandangannya terhadap banyak hal.

Eits, bukan berarti setelah membaca artikel ini kamu mendapat pembelaan bahwa tidak apa-apa membicarakan keburukan orang lain, ya! Bagaimana pun, membicarakan orang lain apalagi yang sifatnya negatif dapat merusak suatu hubungan. Pikirkan dulu baik buruknya. Misalnya begini, rekan kerjamu bercerita padamu bahwa ia ingin resign karena beberapa alasan. Lalu dengan mudahnya kamu membicarakannya kepada rekan kerja lainnya bahkan pada atasanmu. Hal tersebut bisa membuat ia marah padamu karena kamu tidak memberinya waktu untuk memberitahu sendiri pada orang lain termasuk atasan, apalagi jika ia sebelumnya telah memintamu untuk menjaga rahasia.

Ketika kamu dengan mudahnya membuka rahasia seseorang pada orang lain, ketika kamu dengan mudahnya membicarakan keburukan orang lain entah itu hal yang benar atau mengada-ada, hanya akan menunjukkan bahwa kamu memiliki kepribadian yang buruk, tidak dapat dipercaya dan lawan bicara yang tidak menarik.

But at heart, sharing information about other people is important,
– Mark Leary
(Tetapi pada dasarnya, berbagi informasi tentang orang lain adalah penting.)

Tinggal bagaimana kamu mengambil sikap: membicarakan orang lain bisa menyatukan, juga memecahkan.

Rekomendasi:

Referensi:
Travers, Mark. 2019. The Truth About Gossip. psychologytoday[com]
Lauriello, Samantha. 2019. A Psychologist Explains Why People Gossip—and the Reason Might Surprise You. health[com]
Allan dan Barbara Pease. 2005. Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Jakarta: Ufuk Pres.

Penulis konten: Widya
"Introvert. Belajar memahami dengan menjadi pendengar. Belajar mengerti dengan menjadi pembaca. Belajar berbagi dengan menjadi penulis."

1 komentar:

❤️ banget sama tulisannya! Membicarakan orang lain ngga cm negatifnya aja ternyata ☺️ ��

Balas October 11, 2019 at 7:49 PM